Gloomy
Casts:
- Johnny
- Jaehyun
- Jeno
- Taeyong
- Hansol
- Yuta
- Ten
- Doyoung
- Renjun
- Other NCT's Members
Part 3
Jeno berjalan keluar kamarnya membawa bantalnya menuju kamar yang ada didepannya.
Tok…tok..tok Ia mengetuk pintu kamar tersebut.
"hyung, aku boleh masuk tidak?"
"masuklah" sahut orang yang ada di dalam kamar tersebut, Jeno kemudian membuka pintu, hal pertama yang Ia lihat adalah hyungnya, Jaehyun, yang sedang membaca buku dikasurnya, Jaehyun bersandar di kepala kasur sambil memangku buku dan menggunakan kacamatanya, Jaehyun memang menggunakan kacamata namun Ia hanya menggunakannya saat membaca atau pada saat belajar.
"sepertinya mode manja Jeno sedang kambuh yaaah? Sini" Jaehyun menepuk tempat disebelahnya mengisyaratkan Jeno untuk tidur disampingnya.
"aku tidak manja" Jeno cemberut, "aku hanya sedang tidak ingin tidur sendiri" Jeno berjalan menuju tempat yang Jaehyun maksud, Ia meletakan bantalnya dan mengambil posisi senyaman mungkin untuk tidur.
"hyung sedang baca apa?"
"novel, appa belum pulang?"
"sepertinya belum"
"padahal tadi Hansol hyung bilang appa ingin makan bersama" Jaehyun membalik lembar pada bukunya menuju halaman berikutnya.
"mungkin appa lembur lagi" Jeno terdiam sebentar, Ia memperhatikan hyungnya yang ada disampingnya yang sedang asik membaca, Ia ingin sekali bertanya namun Ia ragu.
"katakan saja" ucap Jaehyun tanpa mengalihkan fokusnya dari buku.
"huh?"
"apa yang ingin kau tanyakan?" Seperti bisa membaca pikiran Jeno, Jaehyun bertanya padanya, kini Ia menutup bukunya dan beralih memandang adiknya.
"hmm…Sebenarnya aku selalu ingin menanyakan hal ini padamu hyung" ucap Jeno ragu.
"apa?"
"jika suatu saat nanti kau bertemu dengan orang itu, apa yang akan kau lakukan?" Jaehyun mengerutkan keningnya bingung dengan pertanyaan Jeno, Ia berpikir sebentar sampai Ia tau siapa yang dimaksud orang itu oleh Jeno.
"entahlah" Jaehyun mengangkat kedua bahunya.
"jika aku bertemu dengannya suatu saat nanti, aku hanya ingin bertanya kenapa Ia membunuh eomma" Ucap Jeno pelan, Ia memandang langit-langit kamar Jaehyun.
'jika aku bertemu dengannya aku ingin membunuhnya, sama seperti Ia membunuh eomma, aku ingin Ia merasakan sakit yang sama seperti yang kita rasakan' batin Jaehyun, tentu saja Jehyun tidak ingin Jeno mendengarnya, Ia selama ini menyimpan dendam yang sangat besar, dendam yang sampai sekarang belum bisa Ia balas, bagaimana bisa, jika orang yang dimaksud saja sampai sekarang Jaehyun masih belum bisa menemukannya, sekedar nama saja Jaehyun tidak tau.
"aku mengantuk"
"tidurlah, besok pagi hyung yang akan mengantarmu sekolah" Jaehyun menutup bukunya, Ia mengelus rambut Jeno dan menepuk-nepuk bahu Jeno.
Ini dia yang Jeno suka, perlakuan hyung nya ini bisa membuatnya dari tidak bisa tidur menjadi sangat mengantuk, jika sedang tidak bisa tidur Jeno akan pergi ke kamar hyungnya atau kekamar appa nya, atau terkadang Hansol yang akan menemaninya, mereka pasti akan mengelus Jeno, kadang bersenandung untuknya sampai Jeno tertidur, jika eomma nya masih hidup eommanya yang akan menemani Jeno dikamarnya. Bagi Jaehyun, Johnny dan Hansol , Jeno adalah anak manja, Ia adalah maknae dalam rumah ini. Jaehyun, Johnny dan Hansol tidak masalah memperlakukan Jeno seperti anak kecil dan memanjakannya, hanya saja Jeno tidak ingin dibilang anak manja, aneh bukan?
Masih dalam posisi bersandar di kepala kasur, Jaehyun terus mengelus Jeno sampai Ia rasa Jeno sudah pulas, Ia membagi selimutnya dengan Jeno, menyelimuti tubuh Jeno hingga bahu, lalu kembali membaca bukunya.
Hansol memarkirkan mobilnya didalam garasi rumah, Ia ingin sekali cepat-cepat keluar dari mobil ini, daritadi Ia sangat pusing mendengar ocehan seseorang yang ada disebelahnya.
"ini salahmu hyung, seharusnya aku sudah ada di rumah dari tadi"
"kenapa aku meng iyakan ajakan para pemegang saham itu? Aku jadi tidak bisa makan bersama kedua anakku"
"Harusnya kau meng cancel jadwal ku itu hyung"
"kalau mereka sudah tidur gimana? Aku jadi tidak bisa bertemu dengan mereka"
Seperti itu terus sampai Hansol bosan, Johnny terus mengoceh menyalahkan dirinya yang menyuruhnya untuk bertemu dengan para pemegang saham, sebenarnya pertemuan tersebut bisa saja hanya berlangsung selama dua jam, namun para pemegang saham tersebut memaksa Johnny untuk makan malam bersama, jadilah Johnny menghabiskan waktu lebih dari tiga jam bersama mereka, dan membuatnya pulang larut malam.
"sudahlah aku pusing mendengar ocehanmu mu terus, aku kan tidak tau kalau mereka akan mengajak mu makan malam juga" Hansol membuka sabuk pengamannya "jangan salahkan aku, aku hanya mengikuti jadwalmu, soal pemaksaan makan malam itu, aku tidak bertanggung jawab" dia membuka pintu mobilnya dan keluar, diikuti Johnny yang mukanya masih saja ditekuk.
Johnny memasuki rumahnya, Ia melonggarkan dasinya dan membuka jasnya, Hansol mengikuti dibelakangnya, Hansol sudah hapal, pasti Johnny akan melihat ruang bermain anaknya, ruangan yang terdapat berbagai macam jenis game didalamnya, wii, playstation, ada juga billiard dan masih banyak lagi. Melihat ruangan itu kosong, Johnny langsung menuju lantai dua, kamar anaknya, Ia membuka pintu kamar Jeno dan tidak menemukan Jeno didalammnya, akhirnya Ia beralih membuka pintu kamar Jaehyun. Ia menemukan Jaehyun dan Jeno sudah tertidur, Jaehyun masih pada posisi bersandarnya dan memangku bukunya, sepertinya Ia ketiduran saat membaca buku.
"tuh kan hyung mereka sudah tertidur" Johnny menatap Hansol sebal. Ia masuk ke kamar Jaehyun, sementara Hansol hanya berdiri diambang pintu.
"sudah kukatakan jangan salahkan aku" ucap Hansol.
Johnny mengambil buku Jaehyun dan melepas kacamata yang dikenakannya lalu meletakan kedua barang tersebut di meja nakas disamping kasur, Ia membenarkan posisi tidur Jaehyun dan memposisikan bantalnya senyaman mungkin lalu menyelimuti tubuhnya. Johnny memperhatikan kedua anaknya, pupus sudah harapannya untuk makan bersama.
"sebagai gantinya kau harus menemaniku minum hyung" Johnny mematikan lampu kamar tersebut lalu keluar dan menutup pintu kamar Jaehyun.
"kau masih saja menyalahkanku, baiklah baiklah aku akan menemanimu minum, kau puas?" ucap Hansol sebal.
Pukul 06.00 pagi
Kantor polisi Seoul sudah terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, ada yang seharian berada didepan komputer mereka tanpa tidur demi melihat rekaman cctv untuk mencari pelaku kejahatan, ada pula yang sibuk dengan berkas-berkas perkara yang belum terselsaikan. Tak begitu berbeda dengan situasi disuatu ruangan kantor tersebut, beberapa pria sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menjalankan misi mereka yang sudah direncanakan kemarin, Team Alpha, ya team mereka memang diberi nama Team Alpha oleh ketua polisi Seoul karena memang tugas mereka adalah menyelsaikan kasus-kasus dengan tingkat kesulitan yang tinggi, kasus yang sulit untuk dipecahkan oleh detektif biasa. Taeyong, Yuta, dan Ten sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menjalankan misi mereka, karena memang mereka lah yang akan turun langsung ke lapangan untuk menjalankan misi tersebut, Yuta dan Ten mempersiapkan segalanya, makanan, pakaian, obat-obatan yang diperlukan, bantal dan bahkan selimut untuk menghangatkan diri. Bukan, mereka bukan ingin pergi berlibur, hanya saja barang-barang tersebut memanglah sangat penting untuk mereka, mengingat mereka mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari 24 jam didalam mobil, demi mengawasi seseorang, mereka rela mengganti kasur mereka yang nyaman dan tidur didalam mobil hanya untuk tugas.
Sementara Taeyong sedang memasukkan beberapa buku kedalam tasnya, tempat pensil, dan Ipad, setelah dirasa cukup dengan ranselnya, Taeyong merapikan pakaiannya, dan mengikat sepatunya dengan benar.
"Bagaimana? Aku sudah terlihat seperti mahasiswa belum?" Taeyong mengenakan ranselnya, memutar badannya seakan Ia baru saja membeli baju baru dan mencobanya di fitting room, serta menunjukkan sepatu converse birunya kepada teman-temannya.
"hmmm…Lumayan lah Tae, tidak buruk" Yuta mengamati Taeyong dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu mengacungkan kedua jempolnya "bagaimana jika kau menggunakan kacamata sebagai pelengkap?" lanjutnya.
"tidak..tidak…aku tidak mau terlihat seperti kutu buku"
"lagipula kau tidak cocok jadi seorang kutu buku Tae" Taeil menghampiri Taeyong dan memberikan selembaran kertas kepadanya.
"apa ini hyung?" Taeyong membaca isi dari lembaran yang barusan Taeil berikan kepadanya.
"itu adalah jadwal kuliah mu, aku menyesuaikannya dengan jadwal Jaehyun, dia adalah mahasiswa fakultas ekonomi jurusan akuntansi, jadi selama misi ini kau akan jadi mahasiswa ekonomi Tae"
"aku pikir aku hanya perlu memantau di sekitar kampusnya saja, jadi aku akan masuk kekelas juga hyung?"
"tentu saja, untuk apa aku menyuruhmu membawa peralatan tulis dan buku jika kau tidak masuk kelas, aku sudah minta ijin kepada rektorat dan dosen bersangkutan, jadi kau tidak perlu khawatir, dosen-dosen yang mengajar akan memperlakukanmu sama dengan mahasiswa lainnya"
"ya tuhan….aku lebih baik mengawasi di dalam mobil seharian daripada harus ikut belajar"
"sudah tidak usah banyak mengeluh, jalani saja tugas mu" Taeil menepuk pundak Taeyong sebelum kembali ke mejanya.
"Annyeonghaseyo….selamat pagi semua" Doyoung yang baru saja tiba menyapa teman-temannya, kali ini Ia tidak datang sendiri, Ia bersama seseorang yang daritadi membuntutinya di belakang tubuhnya. "Renjun ucapkan salam kepada semua ahjussi disini" Doyoung menarik Renjun untuk berdiri disampingnya.
"Annyeonghaseyo, Renjun imnida" Renjun dengan sopan membungkuk 90° kepada ahjussi yang dimaksud Doyoung.
"Annyeong…jadi kau yang namanya Renjun, sukurlah kau tidak seperti hyungmu, dan satu lagi kami bukan ahjussi, umur kami tidaklah jauh berbeda dengan hyungmu jadi kau bisa memanggil kami hyung saja" Taeyong memberi senyuman kepada Renjun yang setalah itu memberi tatapan membunuh kepada Doyoung yang dengan seenaknya memanggil mereka ahjussi.
"apa maksudmu tidak sama seperti ku? Dia itu adik kandungku"
"setidaknya Renjun lebih manis daripada dirimu" Yuta menghampiri Renjun dan mengulurkan tangannya "Annyeong…aku Yuta"
"Annyeonghaseyo Yuta hyung" Renjun menyambut tangan Yuta.
"Aku Ten" kali ini Ten yang mengulurkan tangannya, yang kemudian di balas oleh Renjun.
"dan aku Taeyong"
"ah jadi kau Taeyong hyung, Doyoung hyung bilang kau adalah orang yang paling menyebal….hmmp" Belum selsai Renjun mengatakan kalimatnya Doyoung sudah membekap mulut Renjun dan menampilkan cengiran tak berdosanya.
Taeyong mendelik menatap Doyoung, Ia ingin sekali memukulnya, tapi Ia tahan mengingat didepannya ada anak dibawah umur dan juga anak tersebut adalah adik nya Doyoung, 'berterimakasih lah pada Renjun karena hari ini kau selamat Doyoung!' batin Taeyong.
"sudah cukup hentikan, aku tidak ingin melihat adegan Tom and Jerry dipagi hari, okey" Taeil menarik Taeyong menjauh dari Doyoung dan Renjun.
"nah Renjun aku Taeil, aku adalah ketua Team Alpha" Taeil mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Renjun. "pasti hyungmu sudah menceritakan semuanya padamu kan kenapa kau ada disini?" Renjun mengangguk.
"apa kau berteman dengan Jeno?"
"aku memang sekelas dengannya tapi aku sama sekali belum pernah bicara dengannya, apa yang seperti itu bisa disebut teman?"
"hmm….tidak juga siih, yasudah mulai hari ini bertemanlah dengannya, aku tidak menyuruhmu mengawasi Jeno, aku hanya ingin kau berteman dengannya, jika ada sesuatu yang mencurigakan kau bisa mengatakannya pada hyungmu, hyungmu akan mengawasi kalian dari jauh setiap hari"
"Itu namanya mengawasi Hyung" sambung Ten.
"Terserah laah…Jangan membuatnya curiga yaah, bertemanlah secara natural okey"
"ya, aku akan berusaha semampuku" Renjun mengangguk.
"nah baiklah semua, mulai hari ini misi kalian dimulai, semangat yaaah" Taeil menepuk tangannya dan memberi semangat kepada anggota teamnya.
Dan setelah itu anggota teamnya bergerak menuju tempat mereka masing-masing, Doyoung mengantar Renjun sampai sekolah dan akan terus menunggu sampai Renjun pulang kembali, Ten dan Yuta menuju rumah Johnny, mereka memulai pengawasan mereka mulai dari Johnny berangkat kekantornya hingga kembali kerumah, sementara Taeyong menuju universitas dimana Jaehyun menghadiri kuliahnya.
Taeyong sudah berdiri di depan salah satu fakultas di Konkuk University,didepannya tertusil Fakultas Ekonomi. Taeyong menarik nafasnya dalam-dalam Ia mengumpulkan tekadnya lalu berjalan masuk, persis seperti mahasiswa baru yang siap mengawali awal kehidupan dikampus, namun catat, Taeyong bukanlah mahasiswa baru Ia hanya Mahasiswa baru palsu.
Didalam fakultas tersebut terdapat tiga gedung, satu untuk jurusan akuntansi, satu untuk jurusan manajemen dan satu lagi untuk jurusan perbankan. Masing-masing gedung tersebut hanya diberi nama gedung A, B, dan C. 'sial yang mana gedung untuk jurusan akuntansi?' Batinnya. Tidak mau tersesat, Taeyong bertanya kepada salah satu mahasiswa yang sedang asik membaca buku dibangku taman.
"ah..permisi, aku ingin bertanya padamu"
"ya silahkan" mahasiswa yang sedang asik membaca buku mengalihkan fokusnya kepada Taeyong.
"apa kau tau dimana gedung untuk jurusan akuntansi?"
"kau mahasiswa baru ya? Atau mahasiswa pindahan?"
Taeyong mengangguk "Aku mahasiswa pindahan" jawabnya, dan tentu saja itu adalah bohong.
"Gedung A, kau masuk saja ke gedung A, itu adalah gedung untuk jurusan akuntansi" mahasiswa tersebut menunjuk arah dimana gedung A berada.
"oh jadi gedung A yah, terimakasih"
"sama-sama"
Taeyong baru saja ingin melangkah pergi sebelum iya bertanya kembali kepada mahasiswa tersebut. "apa kau mahasiswa akuntansi?"
"ya, aku mahasiswa akuntansi semester 5"
"kalau begitu, apa kau mengenal Jaehyun?"
"Jaehyun? Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengannya, bahkan mahasiswa jurusan manajemen dan perbankan pun tau, kau bilang kau mahasiswa pindahan kenapa kau mengenalnya?" tanya mahasiswa itu curiga.
"aaah…hmmm…noona ku adalah alumni disini, Ia baru saja di wisuda beberapa bulan yang lalu, Ia sering bercerita tentang Jaehyun" jawab Taeyong dengan alasan palsunya.
"pasti noona mu salah satu admirer Jaehyun yah?"
"hmmm…Bisa dibilang begitu"
"mungkin semua mahasiswa disini mengenalnya, tapi percayalah, tidak ada satu pun dari mereka berteman dekat dengannya, dia berada di level yang berbeda"
"maksdumu?" Tanya Taeyong bingung.
"Dia pintar, kaya dan tampan, tidak ada satupun yang berani mendekatinya, sekalipun kau mencoba kau tidak akan bisa, sikapnya sangat dingin dan tertutup, maka dari itu Ia di juluki Ice Prince"
'Ini akan sedikit lebih sulit' batin Taeyong, Ia terdiam sebentar berpikir apa yang harus Ia lakukan. "nah itu dia orangnya" mahasiswa itu menunjuk kearah belakang Taeyong. Ia menoleh kebelakang, dari jauh Taeyong melihat pria tinggi sedang berjalan disepanjang koridor, Ia menggunakan ransel hitam dengan kaos putih yang dilapisi kemeja biru tua, jeans hitam serta sepatu adidas birunya melengkapi penampilan kasualnya, dari jauh Taeyong bisa melihat bahwa pria itu mengenakan earphone sambil asik memainkan smartphonenya, Jaehyun, okey Taeyong akui Doyoung benar, Ia lebih tampan daripada di foto, bahkan Ia melihat orang-orang disekitarnya memperhatikan dirininya walaupun Jaehyun terlihat tidak peduli.
"Kau lihat sendiri, Ia itu seperti es berjalan, menyapa orang-orang pun tidak, mungkin bisa dibilang Ia tidak kenal seseorang untuk disapa" lanjut mahasiswa itu "aku ada kelas, apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" mahasiswa itu memasukan buku yang ada di tangannya lalu berdiri.
"tidak, terimakasih yah atas infonya" Taeyong membungkuk sedikit dan dibalas oleh mahasiswa tersebut lalu mahasiswa itu pergi meninggalkan Taeyong.
Taeyong duduk di bangku yang baru saja mahasiswa tadi tempati, Ia berpikir keras bagaimana Ia menjalankan misinya, niat Taeyong Ia ingin berteman dengan Jaehyun, mendengar penjelasan mahasiswa tadi, dan melihat sikap Jaehyun yang sangat cuek barusan membuat percaya dirinya sedikit berkurang 'aku berhadapan dengan manusia es, bagaimana ini? Kalau seperti ini jelas saja tugas Yuta dan Ten sangatlah lebih mudah dariku' batin Taeyong.
"aaarghh…" Taeyong mengacak rambutntya frustasi "okey, Lee Taeyong, kau tidak boleh menyerah sebelum berperang, SEMANGAT…!" Taeyong berdiri dan mengepalkan kedua tangannya, setelah mengumpulkan semangatnya Ia dengan mantap berjalan menuju gedung A dan menjalankan misinya.
Doyoung berhenti didepan School of Performing Arts Seoul atau yang lebih dikenal SOPA, Ia mengantar Renjun sampai gerbang sekolah. Renjun melepas sabuk pengamannya, dan bersiap turun dari mobil.
"ingat yah Renjun, se natural mungkin, okey" Doyoung mengingatkan Renjun sekali lagi.
"hmm..aku akan berusaha, aku pergi ya hyung" Renjun turun dari mobil dan memakai ranselnya.
Doyoung membuka kaca mobilnya "hyung akan menunggu sampai kau pulang sekolah, disebelah sana yah" Ia menunjuk tempat tak jauh dari halte bus, ya tugas Doyoung memang mengawasi Renjun dari kejauhan. Doyoung akan menunggu Renjun dari masuk sekolah hingga pulang.
"okey, aku masuk hyung" Renjun melambaikan tangannya, dan masuk ke sekolahnya.
Renjun berjalan disepanjang koridor menuju kelasnya, Ia merasa hari ini tidak seperti biasanya, Ia selalu semangat jika berangkat sekolah namun hari ini berbeda, ada sesuatu yang harus Ia lakukan, dan menurutnya ini sedikit sulit, ya berteman dengan Jeno adalah hal yang sulit bagi Renjun, Ia sebenarnya tidak tau pasti apa yang diinginkan hyungnya dan teman-teman team nya itu, hyung nya hanya memberi dia tugas untuk mendekati Jeno, mungkin dalam arti lain apapun yang Jeno lakukan Ia harus lapor kepada hyungnya itu. Renjun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum Ia masuk kedalam kelasnya.
Renjun melihat Jeno sedang asik ngobrol dengan teman-temannya, lebih tepatnya sih hanya mendengarkan Mark, Haechan dan Jaemin yang ribut sekali, mereka berkumpul di meja paling belakang, tempat duduk Jeno. Diantara teman-temannya Jeno adalah yang paling pendiam, disaat ketiga temannya sedang berisik, Jeno hanya bisa sedikit tertawa atau hanya tersenyum saja melihat tingkah teman-temannya, Ia hanya bicara jika ditanya saja atau seperlunya, itu lah mengapa selama ini Renjun tidak pernah bicara dengan Jeno, menurut Renjun, Jeno itu sangat membosankan. Renjun duduk di bangkunya dan meletakan ranselnya diatas meja. Renjun melirik empat sekawan itu yang masih asik dengan dunia mereka sendiri.
"teman-teman Kim ssaem datang" teriak seseorang yang berlari masuk dari luar, membuat semua murid yang ada dikelas kembali ke tempat duduknya masing-masing, Mark yang tadinya duduk diatas meja langsung melompat dan kembali ketempatnya yang sebangku dengan Haechan, sementar Jaemin kembali ketempat duduk yang berada di depan Jeno. Renjun mengambil kesempatan ini, Ia membawa ranselnya dan duduk tepat disamping Jeno, membuat Jeno melirik kearahnya bingung, bahkan Jaemin yang duduk didepannya menoleh dan menatap Renjun dengan tatapan aneh.
"kau duduk sendiri kan? Ijinkan aku duduk disampingmu" ucap Renjun pelan, Jeno melirik Jaemin sekilas dan mengangkat kedua bahunya, akhirnya Jaemin kembali memfokuskan dirinya kedepan.
Hari ini jadwal pertama adalah pelajaran matematika, Kim ssaem terkenal sangat tegas dan selalu memberi hukuman kepada siapapun yang melanggar peraturan dikelasnya, hukuman akan lebih kejam lagi ketika kalian tidak mengerjakan tugas. Semua murid mengeluarkan buku matematika mereka, Renjun membuka ranselnya, Ia mencari buku matematikanya 'tunggu, dimana bukuku?' batinnya, Ia terus memeriksa ranselnya mencari buku paketnya.
"oh my god, jangan bilang tertinggal, bagaimana ini?" Renjun mulai gelisah, Ia melirik kedepan melihat Kim ssaem yang sedang bersiap mengabsen murid-muridnya, jika Ia dipanggil dan ketahuan tidak membawa buku habislah dia.
Melihat Renjun yang gelisah Jeno menyerahkan buku paketnya kepada Renjun "ini pakai punyaku"
"huh?" Renjun menatap Jeno bingung.
"pakai saja, kau tidak ingin dihukum kan?"
"tapi nanti kau yang kena hukuman"
Jeno memberikan buku paketnya kepada Renjun, Ia meletakannya diatas meja tepat didepan Renjun lalu kembali fokus kedepan, Renjun terdiam Ia bingung harus melakukan apa, jika Ia meminjam buku Jeno maka yang akan terkena hukuman adalah Jeno bukan dirinya.
"Jeno" Kim ssaem memanggil nama Jeno
"hadir ssaem" Jeno mengangkat tangannya.
"dimana buku paketmu?" pertanyaan Kim ssaem tadi membuat seluruh murid menoleh kebelakang dan memandang Jeno, termasuk Jaemin, Mark dan Haechan.
"tertinggal ssaem" balas Jeno.
"kau tau kan kalau kau harus selalu membawa buku paketmu saat pelajaranku, apa kau sudah mengerjakan tugasmu?"
"sudah ssaem"
"baiklah karna kau tidak membawa buku paketmu, poinmu akan kukurangi 10"
"ya ssaem, aku tak akan mengulanginya lagi"
Kim ssaem kemudian kembali mengabsen muridnya satu persatu, dan semua murid kembali memfokuskan diri kedepan, sementara Mark, Haechan dan Jaemin masih memandang Jeno penuh tanda tanya, ini pertama kalinya seorang Jeno melanggar peraturan dan mendapat hukuman, dipandang seperti itu oleh temannya, Jeno hanya memandang teman-temannya sambil bertanya "apa?" tanpa mengeluarkan suaranya, Mark, Haechan dan Jaemin hanya menggeleng dan kembali memfokuskan diri kedepan.
"maafkan aku, kau jadi kena hukuman" ucap Renjun sepelan mungkin agar Kim ssaem tidak mendengar, Ia merasa bersalah kepada Jeno.
Jeno hanya tersenyum dan berkata "tidak apa-apa" dan itu semakin membuat Renjun merasa bersalah, Renjun tertunduk dia bingung apa yang harus Ia lakukan untuk membalas Jeno nanti.
"Tugasmu?"
"huh?" Renjun mengangkat kepalanya dan menatap Jeno "ah, tugasku, aku mebawanya kok" Ia menunjukan buku tugasnya.
Jeno tersenyum sekilas lalu kembali memfokuskan dirinya kedepan, memperhatikan Kim ssaem yang memulai pelajaranya. Renjun tidak menyangka jika Jeno yang pendiam ternyata sangat baik, pantas saja Mark, Haechan dan Jaemin mau berteman dengannya walaupun Ia irit bicara.
Taeyong daritadi hanya membuat coretan-coretan tidak jelas dibukunya, Ia sekarang sedang duduk dibangku paling belakang kelas, Ia benar-benar bosan, jika saja bukan karena tugas Ia tidak ingin melakukan ini, seorang dosen didepannya sedang menjelaskan materi tentang perpajakan dan Taeyong berani bersumpah tak ada satupun yang Ia mengerti, sebenarnya Ia tidak harus mengerti juga, toh Ia bukan mahasiswa sungguhan di kelas ini, namun tetap saja Taeyong merasa muak dan bosan mendengar penjelasan seorang dosen didepannya yang sedang menjelaskan pasal-pasal tentang perpajakan. Taeyong melirik Jaehyun yang berada tiga bangku setelahnya disamping kanannya, Jaehyun terlihat fokus pada materi yang sedang di terangkan dosen tersebut sambil membuat catatan-catatan dibukunya yang dianggap penting, Taeyong baru tau kalau Jaehyun mengenakan kaca mata saat sedang belajar, sejauh ini Taeyong hanya memperhatikan Jaehyun, Ia belum berani berbicara dengannya, Ia perlu mengenali Jaehyun lebih jauh sebelum benar-benar mendekatinya.
"baiklah sampai sini dulu materi kita, minggu depan kita akan lanjut ke materi berikutnya" dosen yang ada didepannya menutup perkuliahan dan membuat Taeyong bernapas lega.
"akhirnya" Taeyong meregangkan tangannya, Ia memasukan buku-bukunya. Ia melihat Jaehyun yang sudah memasukan barang-barangnya dan bersiap pergi. "okey, aku tak bisa begini terus" Taeyong memantapkan dirinya untuk memulai misinya ini, melihat Jaehyun yang berdiri dan berjalan keluar kelas, Taeyong bersiap dan mengikuti Jaehyun. Taeyong memperhatikan Jaehyun seharian ini dan itu membuat Taeyong mengerti bahwa Ia tidak peduli dengan orang disekitarnya, maka dari itu Taeyong harus mencoba cara ekstrim untuk mendekati Jaehyun.
Taeyong berada dibelakang Jaehyun, Ia masih setia mengikutinya dari jauh, dari belakang Taeyong melihat Jaehyun mengeluarkan smartphone nya dari saku celananya 'ini dia kesempatanku' Taeyong memantapkan dirinya, kemudian Ia berlari dan dengan sengaja menabrakan dirinya dengan Jaehyun, membuat ponsel yang ada di tangan Jaehyun terjatuh, bahkan ponsel tersebut sempat terinjak oleh Taeyong.
"Ya tuhan, maafkan aku" Taeyong mengambil ponsel Jaehyun yang terjatuh dan diinjak olehnya itu "oh tidak bagaimana ini layarnya pecah" Taeyong memasang ekspresi sepanik mungkin, dan mentap Jeehyun dengan perasaan bersalah.
Jaehyun tidak membalas apapun, Ia mengambil ponselnya dari tangan Taeyong dan melihat layarnya yang retak, Jaehyun menghela napasnya lalu menatap Taeyong tajam.
"aku terburu-buru, maafkan aku" bohong Taeyong "aku akan memperbaikinya, aku benar-benar minta maaf" lanjut Taeyong
"tidak usah" Jaehyun dengan ketus membalas Taeyong dan berlalu meninggalkannya.
Taeyong tidak menyerah, Ia terus mengikuti Jaehyun "tapi aku merusaknya, aku akan memperbaikinya, atau aku akan menggantinya dengan yang baru" tidak ada balasan dari Jaehyun.
Jaehyun memasuki salah satu kelas dan tentu saja Taeyong masih setia mengikutinya sambil terus mengucapkan kata maaf dan memaksakan diri untuk memperbaiki ponsel Jaehyun yang rusak, Jaehyun duduk di bangku paling belakang, Ia melirik sekilas Taeyong yang juga duduk disebelahnya.
"aku akan bertanggung jawab dengan ponselmu itu, apa ponselmu masih berfungsi? Setidaknya sampai aku menggantinya kau masih bisa berkomunikasi menggunakan ponselmu itu" Taeyong masih berusaha dan Jaehyun masih tetap tak merespon.
"hey..." Taeyong menepuk pundak Jaehyun. "Ayolah aku merasa tidak enak padamu"
"hhh…Sudah kukatakan, tidak usah, kau tidak perlu memperbaiki atau menggantinya, puas?" balas Jaehyun kesal.
"tapi…" belum selsai Taeyong mengatakan kalimatnya, seorang dosen masuk ke kelas membuat Ia mengurungkan niatnya.
Kelas yang kedua hari ini adalah akuntansi pemerintahan, dan demi dewa Taeyong lebih muak daripada materi perpajakan yang sebelumnya, dalam hati Ia mengutuk Taeil karena menyuruhnya untuk mengikuti perkuliahan juga. Ia lebih baik mengawasi seseorang berhari hari didalam mobil daripada harus menyamar jadi mahasiswa dan mengikuti perkuliahan seperti ini. Taeyong masih setia mendengarkan dosen didepannya meskipun apapun yang dikatakan dosen tersebut tak Ia mengerti.
"baiklah untuk materi ini, saya ingin minggu depan kalian mencari kasus tentang konsep Value For Money dan mempresentasikannya didepan" ucap dosen itu. "satu kelompok terdiri dari dua orang, dan saya yang akan menentukan kelompok nya" lanjut dosen tersebut, Ia mulai menyebutkan nama-nama dan menentukan kelompok. Taeyong mulai panik, bagaimana bisa Ia membuat suatu presentasi, Ia kan bukan mahasiswa sungguhan disini.
"dan Jaehyun" dosen tersebut memanggil nama Jaehyun. "kau akan sekelompok dengan orang disampingmu"
"what?" Taeyong membulatkan matanya, Ia melirik Jaehyun sekilas yang masih memasang muka datarnya.
"kau, siapa namamu?" dosen itu menunjuk Taeyong.
"Lee Taeyong imnida" ucap Taeyong pelan.
"okey, Taeyong kau sekelompok dengan Jaehyun" ucap dosen tersebut.
Taeyong tidak tau Ia harus berekspresi seperti apa, sebenarnya Ia bersyukur dengan Ia sekelompok dengan Jaehyun Ia tidak akan sekelompok dengan mahasiswa lain dan membuat identitasnya ketauan, Ia juga bisa mendekati Jaehyun dengan mudah. Taeyong tersenyum tipis 'keberuntungan ada dipihakmu, Lee Taeyong' batinnya.
Sementara disisi lain 'keberuntungan tidak memihakku' batin Jaehyun.
-TBC-
Annyeonghaseyo...aku kembali lagi dengan ff absurd, gaje, dan aneh ini, meskipun begitu ada beberapa orang yang me review aku jadi merasa bertanggung jawab untuk meneruskan ff ini. ada yang bertanya kenapa eommanya dibunuh dan siapa pembunuhnya, nanti kalian akan tau koq siapa pembunuhnya dan mengapa. terimakasih kepada reader yang sudah me review atau bahkan menanti ff gak jelas ku ini, review kalian menambah semangatku loh hehehe...aku mungkin akan menurunkan rating ff ini dari M menjadi T, awalnya aku ingin membuat ff ini kejam dan penuh kesadisan tapi gak jadi, aku gak tega sama cast nya huhuhu...aku akan berusaha untuk meng update ff ini seminggu sekali, tapi gak janji juga yah soalnya tugas numpuk. sekali lagi terimakasih buat para reader. especially buat kalian yang me review, selamat membaca
-100BrightStars-
