Disclaimer : I do not own Naruto

Warning : OOC. Ficlet.

Words : 1.302


Knot.

By VikaKyura.

- Rain -


Ino dan kakak lelakinya, terpaut usia lima tahun.

Uchiha Sasuke adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki gadis itu. Oleh karenanya, hanya mereka berdua yang kini sedang berdiri di depan dua pusara berbeda nama yang terletak di tengah pusat pemakaman Kota itu. Mereka telah selesai berdoa.

Hari ini adalah hari peringatan kematian kedua orang tua mereka.

Ino memandang lekat-lekat nama yang tertera pada dua batu nisan di depannya.

Uchiha Fugaku dan Uchiha Layla.

Nama Papa dan Mamanya. Lebih tepatnya, papa tiri dan mama kandungnya.

Ino tidak tahu siapa ayah biologisnya. Yamakana Layla -nama lengkap mamanya sewaktu masih gadis -, berkata bahwa ayahnya meninggal saat Ino masih berada dalam kandungan. Setelah itu sang mama membesarkan Ino sebagai single parent sampai si gadis menginjak usia tiga tahun. Barulah kemudian seorang duda anak satu menikahi janda cantik itu.

Namun Ino tidak pernah merasa seperti memiliki ayah tiri. Sepanjang ingatannya, Fugaku selalu memperlakukan ibunya dengan baik dan menyayangi gadis itu seperti anak sendiri. Begitu pun sang kakak tiri bawaan sang ayah, yang waktu itu masih merupakan bocah laki-laki berumur 8 tahun, juga selalu menerima dan menjaganya seolah Ino kecil adalah adiknya sendiri. Baru ketika itu, Ino merasa bahwa ia memiliki keluarga.

Keluarga yang lengkap dan hidupnya bahagia.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Hanya berselang sekitar tujuh tahun saja, Ino bisa merasa memiliki keluarga yang utuh. Saat dirinya masih duduk di bangku kelas 5 SD dan Sasuke berada di tingkat akhir sekolah menengah pertamanya, ayah dan ibu mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Ino yang saat itu masih belia harus merasakan kehilangan yang amat sangat. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Ino terus menangis sambil memanggil nama ayah ibunya. Namun kedua orang tuanya tetap bungkam. Tak pernah ada sahutan yang terdengar.

Satu-satunya orang yang merengkuhnya saat itu adalah . . kakaknya.

'Jangan khawatir, Ino. Sampai kapan pun, aku akan menjagamu.'

Di hari yang diguyur hujan itu, di depan gundukan tanah makam kedua orang tuanya . .

Sang kakak berkata seperti demikian . . sambil memeluk tubuh adiknya yang gemetaran.

Sedetik kemudian Ino dewasa mengerjap, ketika ia merasakan tepukan di lengannya. Gadis itu menoleh. Ditatapnya seorang lelaki yang kini sedang memandang ke arahnya.

"Ayo." Ajak Sasuke untuk pergi.

Ino mengangguk. Ia sempat memandangi lagi kedua batu nisan yang dipahat tinggi itu, lalu membalik badan. Si gadis mulai melingkarkan satu tangannya di lengan sang kakak. Ia meremas jemari Sasuke kuat-kuat. Lalu dirasakan gadis itu, puncak kepalanya ditepuk pelan.

Ino mendongak. Dilihatnya paras tampan sang kakak sudah berubah jauh lebih dewasa sekarang, jika dibanding dengan wajah anak lelaki umur 15 tahun yang ada dalam bayangannya tadi.

Lelaki dingin bertampang stoik itu tidak sedang balas memandang Ino, alih-alih tatapannya sedang diarahkan ke depan. Tetapi Ino tersenyum, lalu kembali menurunkan pandangannya. Kepala pirangnya disandarkan pada lengan atas Sasuke. Si lelaki balik meremas jemarinya.

Mereka tidak memiliki pertalian darah, tetapi lelaki itu selalu menepati janjinya . . selama hampir sepuluh tahun ini.

Untuk selalu menjaganya . .

Bahkan sampai saat ini Sasuke masih rutin memberikan kecupan perpisahan di setiap pagi, sebagai pengganti ciuman yang dulu selalu diberikan sang ibu kepadanya.

Mungkin awalnya hanya sebuah kewajiban untuk menenangkan batin seorang gadis kecil yang ditinggal sang bunda. Demi menepati sebuah janji. Namun akhirnya berubah menjadi kebiasaan mereka. Entahlah.

Tetapi batin Ino penasaran.

Sebenarnya, apa anggapan Sasuke tentangnya? Adik? Hanya sebatas itukah . .

Sasuke memang tak pernah memperlakukannya lebih dari itu. Interaksi yang terjalin diantara mereka hanyalah sebatas hubungan antara seorang kakak yang overprotektif pada adiknya yang kekanakan dan manja.

Itu menurut Ino. Tapi . . benarkah demikian? Apakah interaksi di antara mereka wajar?

Ino mengeratkan gandengannya. Tatapannya berubah sendu. Apakah salah, jika ia menaruh rasa pada saudara tak sedarahnya itu?

Apakah salah, jika si gadis terus menginginkan untuk memonopoli lelaki yang sudah menjaganya itu?

Ino mengharapkan sebuah jawaban, atau ia akan terus terjebak.

x x x

Ino tidak bisa tidur. Itu yang selalu terjadi di setiap malam hari peringatan kematian orang tuanya. Matanya terpejam, tapi batin dan hatinya tidak. Seolah semua kepedihan dan kesedihan yang selama ini dipendamnya meluap sekaligus di malam yang sendu itu.

Bayangan-bayangan mengenai kehidupannya di masa lalu kembali memenuhi otaknya. Kebahagiaan yang tiba-tiba terenggut. Luka yang membekas. Kehidupan bersama sang kakak setelah orang tua mereka meninggal.

Setiap kali Ino merasa down seperti demikian, ia pasti selalu mendatangi kakak tirinya itu. Minta dinyamankan. Entah mengapa, lelaki itu selalu berhasil menenangkan dirinya.

Seperti halnya malam ini.

Dengan agak ragu, Ino terus mondar mandir di depan pintu kamar Sasuke. Tetapi ia tidak segera mengetuk pintu tersebut atau pun memanggil nama sang kakak untuk menemuinya.

Alih-alih Ino merasa bimbang. Tentu saja. Ia sudah bukan anak kecil ingusan atau remaja belasan tahun lagi. Ia sudah dewasa. Ino sudah menginjak 20 tahun sekarang.

Ia sudah tidak sepolos dulu. Ino tidak bisa terus-terusan menemui sang kakak untuk minta ditentramkan. Sudah cukup selama sepuluh tahun ke belakang ia terus menyusahkan Sasuke untuk menemaninya di malam-malam seperti ini.

Tapi jika tetap sendirian pun gadis itu tidak akan bisa. Ino ingin mempunyai teman bicara. Meluapkan emosinya. Ia harus datang pada siapa lagi?

Gadis itu menggeleng. Setelah berusaha untuk menguatkan hati, Ino memutuskan untuk mencoba mengatasi malam ini sendiri. Belakangan ini, sang kakak menjadi lebih disibukkan oleh pekerjaan. Ino tidak boleh mengganggu. Sudah cukup ia menjadi beban.

Alhasil, Ino hanya berniat untuk menyandarkan punggungnya sesaat di pintu kamar Sasuke, berharap bisa menyerap energi positif yang dipancarkan lelaki itu. Lalu segera pergi.

Ceklek.

Namun saat itu juga, pintu kamar Sasuke dibuka dari dalam.

Ino melonjak, segera menegakkan dirinya dan berbalik mundur menjauhi pintu. Ia terkejut. Sasuke kini telah muncul dibalik pintu itu.

Mereka saling bertukar pandang untuk sejenak.

"Umm," Ino merasa perlu mulai berkata, "Apa kakak masih bekerja?"

"Ya." jawab Sasuke tanpa jeda.

"Oh . . " Ino baru akan mengatakan kalimat perpisahan, ketika Sasuke berkata. "Jika kau sedang ingin menangis, lalukan lebih cepat. Jangan membuatku menunggu terlalu lama."

Ino melebarkan matanya. Ia tak bisa berkata untuk menyanggah. Sasuke tahu . . lelaki itu selalu tahu. Aquamarine si gadis sudah mulai berkaca-kaca. Sejurus kemudian, tubuhnya tumbang ke dalam pelukan Sasuke.

"Huweeeee. . Onii-chan . ." lirih Ino.

Sasuke merengkuhnya, lalu mengusap lembut kepala pirang gadis itu. "Kau masih saja cengeng, Ino."

.

.

Malam sudah semakin larut.

"Cepat tidur, besok aku harus berangkat kerja pagi-pagi."

Tetapi Ino masih betah terjaga. Ia malah menjejalkan wajahnya di batang leher Sasuke, semakin merapatkan tubuhnya kepada lelaki itu. "Nii-chan apa kau benar-benar berhati batu? Memangnya kau tidak merasa sedih? Stoik juga pasti ada batasnya."

Sasuke mendesah pelan. Tentu ia merasakan hal itu, ia juga manusia biasa. Namun sebagai lelaki dewasa, tak mungkin ia akan berlarut dalam kesedihan yang sama kadarnya dan diulang setiap tahun seperti yang dilakukan Ino saat ini. Ia bukan wanita.

Sasuke hanya membenamkan wajahnya di rambut pirang adiknya itu. "Kau saja yang terlalu perasa, Ino."

Kini keduanya sedang berbaring di atas kasur sambil saling mendekap. Ino baru saja berhenti terisak setelah belasan menit terus mengucurkan air mata. Mencurahkan kegalauannya. Mangeluarkan isi hatinya. Melunturkan emosinya. Membasahi dada Sasuke.

Dan Sasuke tahu, hanya ini cara yang selalu bisa meredam perasaan negatif adiknya itu. Ino selalu minta ditemani tidur saat emosinya sedang tidak stabil seperti ini.

"Makanya hibur aku." Gumam Ino.

"Berhenti bersikap manja dan cepatlah tidur." Akhirnya Sasuke mendikte. "Atau kukembalikan kau ke kamarmu."

Ergh, Ino meringis. "Oke aku tidur." Ujar gadis itu cepat. "Tapi nyanyikan dulu lagu nina bobo."

Sasuke mendengus. "Jangan meminta hal yang tidak mungkin. Tidur atau-"

"Canda." Ino memotong, disertai dengan kekehan. Kakaknya itu memang pribadi yang dingin dan stoik, tapi Ino suka sekali sifatnya.

Sementara Sasuke kini berasumsi. Jika sudah bisa terkikik begitu, berarti si gadis sudah baik-baik saja sekarang.

"Selamat tidur, onii-chan." Bisik Ino, sambil meringsut terakhir kali untuk menyamankan diri ke dalam pelukan kakaknya.

"Hn." Respon Sasuke pendek.

Kemudian lelaki itu menarik selimut sebatas leher adiknya. Menangkup tubuh mungil Ino dengan lembut, menjaganya entah dari apa. Memungkas pergerakan mereka di malam itu.

-TBC-


Kakak rasa suami LOL

Terimakasih untuk fav, alert dan reviewnya :) :)

Balasan review secara keseluruhan.

Fanfic ini disusun oleh kumpulan ficlet. Setiap chapternya berhubungan dengan cerita yang mengalir. Tiap cerita bisa dianggap selesai meski ada tulisan TBC di akhir sebagai pertanda fic ini belum komplit.

Disini SasuIno memang bersaudara karena pernikahan kedua orang tua mereka seperti yang diceritakan di atas, tapi keduanya ga punya hubungan darah. Jadi cerita ini tidak sepenuhnya incest, ya?

Sasu suka ngga sama ino? Belum dijelaskan. lol. yang pasti sasu sayang sama adiknya. Untuk info perasaan sasu silahkan ikuti chapter selanjutnya karena pasti semuanya terungkap. Untuk interaksi sasuino disini, vika juga dibikin greget sendiri XD

Makasih banyak buat semua semangat dan dukungan yang diberikan. Pasti Vika akan berusaha tulis lanjutan cerita ini.

Btw karena ini ficlet, vika mencoba untuk meminimalisir wordnya. (Jadi maaf banget ga bisa balesin review satu-satu)

Thanks for reading. Review lagi yaa.

Updated : 19.12.2016