Gloomy
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Jeno
- Taeyong
- Hansol
- Doyoung
- Yuta
- Ten
- Taeil
- Renjun
Part 5
"Hyung!" Taeyong dan Doyoung masuk keruangan salah satu devisi di kantor polisi Seoul dan membuat sedikit keributan dengan langkah kaki mereka yang sangat cepat serta suara mereka yang memanggil ketua team mereka Taeil yang sedang asik membaca beberapa berkas perkara dibalik mejanya. Dipanggil seperti itu Taeil memasang wajah kesalnya, Ia mengangkat kepalanya mengalihkan pandangannya yang semula terfokus pada berkas-berkas di depannya beralih menatap kedua anak buahnya itu.
"kalian berisik sekali, bisa santai dikit tidak sih? Mengganggu saja"
"ini penting hyung"
"apa?"
"tadi pada saat diperjalanan Renjun sedikit bercerita mengenai Jeno" Doyoung memulai ceritanya, Ia duduk dikursi didepan meja Taeil diikuti Taeyong yang duduk disampingnya.
"lalu?" Taeil menutup map yang ada didepannya dan mulai mendengarkan Doyoung dengan seksama.
"Pada saat jam makan siang Jeno menghabiskan waktunya diatas atap sekolah dan..."
"langsung ke intinya saja, buang hal-hal yang tidak penting" potong Taeil
"baiklah, intinya Jeno itu senang menggambar, tepatnya gambar sketsa, Renjun sempat melihat isi buku gambarnya, bahkan Renjun mengatakan bahwa sketsa yang dibuat Jeno sangatlah mirip"
"dan?"
"ada satu sketsa yang kami curigai" kali ini Taeyong yang bersuara, Ia geram mendengar Doyoung yang berkata terlalu bertele-tele menurutnya. Taeil mengalihkan pandangannya dari Doyoung dan menatap Taeyong.
"sketsa wajah yang Renjun tidak ketahui siapa, Jeno hanya menuliskan kata killer pada sketsa tersebut, aku dan Doyoung yakin bahwa sketsa itu adalah sketsa wajah pembunuhnya hyung" Doyoung mengangguk dengan perkataan Taeyong barusan.
Taeil terdiam, Ia menopang dagu dan terlihat berfikir, mengetuk-ngetukkan pulpennya dengan meja. "apa yang membuat kalian yakin kalau sketsa itu adalah sketsa pembunuhnya?" tanya Taeil kepada kedua orang dihadapannya.
"karena Jeno mengatakan bahwa orang yang ada di sketsa tersebut adalah seseorang yang ingin Ia temui" jawab Doyoung
"bagaimana kalau itu hanya gambar orang biasa?
"tidak hyung" Taeyong menegaskan "diumurnya yang sekarang Jeno bisa dikatakan masih terlalu lugu, jika saja Jaehyun, mungkin Ia tidak akan menuliskan killer pada gambar tersebut, Ia akan menyimpannya dengan baik terpisah dari buku gambarnya, sementara Jeno menggambarnya menuliskan kata killer disitu dan bahkan Ia mengatakan pada Renjun bahwa seseorang itu adalah orang yang ingin Ia temui, sudah dipastikan kalau itu adalah pembunuhnya hyung. Anak seusianya akan menuliskan atau menggambarkan apapun yang tidak bisa dilupakannya, dalam kasus ini Jeno pintar menggambar, maka dari itu Ia menuangkan perasaannya lewat gambar, dan Ia menggambar sktesta wajah seseorang yang tak bisa dilupakannya, bahkan Ia mempertegas dengan menuliskan kata killer disitu"
Taeil mengangguk mendengar penjelasan Taeyong. Taeyong adalah salah satu profiler terbaik dalam teamnya, dalam setiap kasus, profile yang dibuatnya hampir akurat, maka dari itu Taeil sedikit mempercayai Taeyong walaupun prediksi Taeyong belum tentu benar.
"oke, aku mengerti, lalu apa rencana kalian?"
"aku sudah meminta Renjun untuk mengambil gambar tersebut"
"kau ingin membuatnya menjadi seorang pencuri?"
"yaampun hyung, mana mungkin aku menjerumuskan adikku jadi seorang pencuri, ini keterpaksaan" Doyoung menatap Taeil kesal.
"terserah dengan recana kalian, asal jangan buat Jeno curiga saja, bagaimana denganmu Taeyong?"
"singkat cerita, besok aku akan kerumah Jaehyun untuk mengerjakan tugas"
"benarkah? Wow kau selangkah lebih maju dari Yuta dan Ten, kau bisa melihat kehidupan mereka sehari-hari dan melihat kondisi rumah mereka sekarang, besok hari Sabtu, berarti Johnny dan Hansol ada dirumah kan? Kau benar-benar beruntung"
"yah begitulah, cabut kata beruntung karena aku mau tidak mau juga harus mulai belajar ekonomi hyung"
"hahaha tidak apa, kau itu pintar Tae, itulah alasanku memilihmu"
"Terimakasih" ucap Taeyong dengan penegasaan didalam kata terimakasih tersebut.
.
.
.
Hansol sedang duduk didepan meja yang dipenuhi beberapa layar yang menampilkan sudut-sudut ruangan rumah mewah milik Johnny dalam satu ruangan yang didepan pintunya tertuliskan cctv room, Ia berkali-kali meng klik tombol mouse yang membuat layar tersebut memutarkan vidio-vidio aktivitas yang terekam didalam rumah. Jaehyun yang sedang membaca buku di ruang tamu, Jeno yang bermain hoverboard di halaman belakang, Johnny yang sedang bekerja diruang kerjanya, dan mendiang istri Johnny yang sedang menyiapkan makanan didapur bersama para maidnya, para bodyguard yang terlihat berkeliling disekitar pekarangan rumah, bahkan Hansol melihat dirinya didalam vidio tersebut yang sedang mengambil satu botol wine dalam gudang penyimpanan wine. Semua terekam dalam cctv, semuanya, sebelum cctv tersebut dirusak seseorang yang entah siapa dan bagaimana. Dua jam sudah Hansol memfokuskan dirinya pada layar-layar yang ada didepannya, tidak ingin melewati sedetikpun kejadian yang ada didalam rumah tersebut, sudah tak terhitung berapa kali Hansol mengulang vidio tersebut namun tak ada tanda-tanda orang asing atau apapun yang berusaha merusak cctv rumah mewah tersebut.
Hansol terlalu serius dengan kegiatannya sampai Ia tak menyadari seseorang sudah berdiri diambang pintu sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di dada "kau serius sekali hyung" mendengar suara tersebut Hansol langsung menoleh, menatap seseorang yang menginterupsinya.
"aku hanya terlalu penasaran John"
Johnny menghampiri Hansol dan duduk di kursi tepat disamping Hansol, dan melihat layar-layar yang ada didepannya.
"entah kenapa, semua cctv benar-benar rusak sehari sebelum kejadian, bahkan aku tak menemukan tanda-tanda apapun, lihat ini" Hansol mengarahkan mousenya mengklik tanda play yang ada dilayar, memutarkan vidio yang bisa dianggap hanya pemandangan keseharian biasa didalam rumah dan beberapa detik kemudian vidio tersebut berubah menjadi layar hitam dan tak menampilkan apapun "selsai, rekaman cctv benar-benar berakhir sampai sini, aku bahkan sudah menonton rekaman beberapa hari sebelum kejadian, memeriksa blackbox yang ada dimobilmu dan Jaehyun, tapi nihil"
"mereka cerdik sekali, benar benar tak meninggalkan jejak rupanya" Johnny tersenyum sinis
"ya begitulah" Hansol menyandarkan dirinya pada sandaran kursi dan memijit kepalanya pelan, Ia benar-benar pusing setelah selama dua jam lebih hanya memandang layar komputer.
"kau sudah bekerja keras hyung, terimakasih" Johnny menepuk bahu Hansol pelan dan memberikan senyum terbaiknya untuk orang kepercayaannya yang satu ini, yang sudah Ia anggap sebagai keluarga sendiri.
"apa kau masih belum menyerah? perang ini benar-benar sulit Johnn, kita bahkan tak mengetahui musuh kita sendiri"
"sampai mati pun aku tak akan menyerah" Johnny meraih mouse dan mulai mengambil alih atas layar-layar yang ada didepannya, melihat keseharian keluarganya yang sempat terekam disana, Ia tersenyum saat melihat kedua anaknya Jaehyun dan Jeno yang terlihat sedang asik bermain di halaman rumah, Johnny beralih ke layar yang lain, ekspresinya berubah saat melihat satu sosok wanita yang sedang mengurus beberapa tanaman yang ada di halaman belakangnya dibantu oleh beberapa orang maid disana.
Melihat ekspresi Johnny yang tidak bisa dijelaskan saat melihat mendiang istrinya tersebut membuat Hansol bertanya "apa kau tidak ingin mencari penggantinya?" Johnny terdiam atas pertanyaan Hansol barusan "sudah satu tahun berlalu, apa kau tidak ingin mencari penggantinya?" lanjut Hansol.
Johnny masih memandang layar didepannya, menatap layar-layar tersebut dengan pandangan kosong. Pertanyaan Hansol tadi benar-benar tak terduga baginya, Ia tidak menyangka bahwa pertanyaan tersebut akan keluar dari mulut Hansol. Baginya Hansol adalah orang terdekatnya, teman, sahabat, orang kepercayaan yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri dan...cinta pertamanya.
Ya, Hansol adalah cinta pertama Johhny jauh sebelum Johnny menikah dengan mendiang istrinya. Ia dan Hansol yang sudah saling mengenal di bangku sekolah, belajar bersama, bermain bersama, menghabiskan waktu bersama, berjuang meraih gelar sarjana bersama, saling berbagi suka dan duka, Johnny sangat bergantung pada Hansol begitupula sebaliknya. Anak dari sahabat ayahnya ini begitu spesial bagi Johnny, sangat spesial sampai Johnny tidak ingin terpisah dengannya.
Ia menyukainya, mungkin lebih tepatnya mencintainya, hanya saja Johnny terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya, Ia takut Hansol meninggalkannya jika Ia mengetahui perasaan Johnny yang sebenarnya. Lebih baik Johnny memendam perasaannya menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya dibandingkan Ia harus terpisah dengan Hansol, Ia tidak bisa.
Sampai suatu saat ayahnya menjodohkannya dan menikahkannya dengan seorang wanita, dengan dilatar belakangi kerja sama bisnis, saat itulah Johnny merasa sangat hancur. Ia kehilangan kesempatannya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Hansol. Johnny sempat ingin membantah, namun Ia adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya dan sangat menghormati ayahnya maka dari itu Ia tidak bisa menolak pernikahan tersebut. Di tahun pertama pernikahannya dengan istrinya, ayahnya meninggal dunia, disitulah terbesit niatan Johnny untuk menceraikan istrinya, lalu menyatakan perasaan yang terpendamnya kepada Hansol dan hidup bersamanya, namun niat tersebut sirna setelah Johnny tau bahwa istrinya tersebut telah mengandung Jaehyun, dari situlah Johnny berusaha belajar untuk mencintai istrinya, menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anaknya, dan sedikit demi sedikit mencoba melupakan Hansol, cinta pertamanya. Bukankah cinta pertama tak akan terupakan?
"hey Johnny" Hansol menepuk pelan bahu Johnny menyadarkannya dari lamunannya.
"huh?"
"kau melamun, maafkan aku atas pertanyaanku tadi, aku tak bermaksud"
"tidak apa hyung" Johnny memutar kursinya menghadap Hansol dan menatap Hansol lekat-lekat "belum terbesit dibenakku untuk mencari penggantinya hyung, aku sudah sangat bersyukur ada kau disini yang membantuku mengurus kedua anakku, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika tidak ada kau"
Hansol tersenyum "bukankah dari dulu kau itu memang selalu membutuhkanku, aku bahkan masih ingat pada masa sekolah dulu kau hampir menangis saat ingin ku tinggalkan ke Amerika untuk satu minggu"
"hahaha itu dulu hyung" Johnny tertawa dengan perkataan Hansol yang mengingatkannya pada masa sekolahnya dulu, Ia bangkit dari tempat duduknya dan menepuk bahu Hansol "daripada menanyakanku untuk mencari pengganti mendiang istriku, aku rasa aku yang pantas bertanya, kapan kau akan mencari pendamping hidupmu hyung?" Hansol tertegun mendengar pertanyaan Johnny tadi, Ia memutuskan kontak matanya dengan Johnny beralih mentap layar-layar komputer "aku memang membutuhkanmu disini hyung, tapi jangan merasa terbebani, jika kau menemukan orang yang tepat untukmu, menikahlah dan berikan Jaehyun dan Jeno seorang adik perempuan agar mereka bisa di panggil oppa oleh anakmu itu" Johnny tersenyum kepada Hansol sebelum keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Hansol yang masih terdiam disana dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Jika ingin egois, Johnny ingin Hansol lah yang menggantikan posisi mendiang istrinya tersebut, namun Ia tidak bisa memutuskan hal itu sendiri, ada Jaehyun dan Jeno kedua anaknya. Ia harus memprioritaskan pendapat kedua anaknya itu dibandingkan pendapatnya sendiri.
Sementara disisi lain, Hansol masih terdiam diruangan cctv yang penuh dengan layar-layar diatas meja dedepannya, duduk tertunduk disana 'bagaimana jika orang yang tepat itu adalah kau? Kau orang yang tepat menurtutku, Johnny' batinnya, Ia hampir menangis dan mengusap dadanya pelan merasakan rasa sakit dihatinya.
Johnny dan Hansol tak menyadari jika mereka sama-sama merasa tersakiti karena perasaan mereka sendiri yang tak pernah diungkapkan oleh keduanya. Mereka yang selalu merasa bahwa perasaan mereka bertepuk sebelah tangan.
.
.
.
Yuta memarkirkan mobilnya jauh dari bangunan mewah yang sudah terlihat beberapa meter dari tempat Ia memarkirkan mobil tersebut.
"hey Yuta kenapa parkir disini? Ini jauh sekali, aku harus jalan kaki kesana?" Taeyong yang duduk di kursi belakang mengeluarkan protesannya pada Yuta.
"hey bodoh, ada banyak cctv disekitar rumah itu, aku tidak mau suatu saat mereka penasaran denganmu dan melacak nomor polisi mobil ini, misi kita bisa hancur" Yuta menoleh kebelakang dengan tatapan menyebalkannya.
"Yuta hyung benar, kemarin saja kita sebisa mungkin menghindari cctv yang ada disekitar rumah itu" kali ini Ten yang duduk didepan, samping pengemudi mengeluarkan suaranya.
"lalu itu apa?" Taeyong menunjuk tiang listrik yang terpasang cctv tak jauh dari mobil Yuta.
"cctv yang itu milik pemerintah bodoh" Yuta dengan seenaknya memukul kepala Taeyong, yang disambut dengan rintihan Taeyong dan tawa Ten "aku heran kenapa kau dinobatkan sebagai orang terpintar di team kami oleh Taeil hyung" Yuta menggelengkan kepalanya.
"karena aku memang pintar" Taeyong memakai ranselnya "dan jangan seenaknya memukulku" Taeyong memukul kepala Yuta sebagai balasan dan setelahnya bergegas keluar dari mobil sebelum Yuta membalasnya lagi. Yuta mengusap kepalanya dan menatap Taeyong dengan tatapan kesal, lebih kesal lagi karena Ia belum sempat membalas pukulan Taeyong karena Taeyong dengan sigap keluar dari mobilnya.
Ten membuka jendela mobil dan berkata kepada Taeyong "kami tunggu disini ya hyung"
"hmm...akan ku kabari jika sudah selsai"
.
.
.
Taeyong berjalan mendekati rumah mewah tersebut, dari jauh Ia sudah bisa melihat bangunan rumah tersebut yang dipagari oleh tembok yang terlihat sangat kokoh. Daerah ini memang bisa dikatakan salah satu daerah elite di Seoul, rumah-rumah yang berdiri disana terbilang sangat mewah dan berkelas, namun diantara beberapa bangunan rumah yang ada disekitarnya, rumah Jaehyun dianggap paling dominan dan sangat mencolok bagi Taeyong.
Butuh hampir sepuluh menit bagi Taeyong untuk sampai didepan rumah ini. Dan disinilah Ia, didepan pagar besi yang kokoh rumah Jaehyun, Taeyong menarik napas dan menghembuskannya sebelum Ia menekan bell interkom yang ada disana.
Ting...tong...
Taeyong menekan bell tersebut menunggu jawaban dari penghuni rumah. Tak kunjung mendapat sahutan pada bell pertama, Taeyong menekan tombol bell itu lagi.
Ting...tong...
"siapa?" Taeyong mendengar sahutan seseorang dari bell interkom tersebut, Ia berdiri tepat didepan kamera agar sang penghuni bisa melihat wajahnya.
"annyeonghaseyo, aku Taeyong temannya Jaehyun, aku datang kesini untuk mengerjakan tugas bersama"
"temannya Jaehyun?"
"ya, Lee Taeyong imnida"
"Jaehyun, apa kau mengundang temanmu?" Taeyong tau pertanyaan seseorang yang ada disebrang sana barusan bukanlah untuknya, maka dari itu Taeyong menunggu.
"biarkan dia masuk hyung, dia memang temannya Jaehyun hyung" Taeyong mendengar suara Jeno.
"baiklah silahkan masuk"
"terimakasih"
Cklek~
Pagar yang tadinya terkunci tersebut terbuka saat sambungan dari bell interkom terputus, mempersilahkan Taeyong masuk. Taeyong sempat melihat pagar tersebut terkunci kembali saat Ia menutupnya.
"wow daebak" Taeyong membuka mulutnya lebar, tercengang dengan pemandangan didepannya.
Ini pertama kalinya bagi Taeyong melihat rumah bak istana, baru berjalan beberapa langkah Taeyong disambut dengan kolam berbentuk bundar yang dikelilingi air mancur ditengah-tengah halaman rumah yang luas tersebut. Ditengah-tengah kolam tersebut terdapat patung kuda yang menambahkan kesan klasik disana seakan mengatakan Selamat Datang bagi para tamu yang datang. Beberapa pohon rindang juga membuat rumah tersebut terasa teduh dan nyaman, serta bunga-bunga yang ditanam disana menghiasi halaman rumah tersebut dengan sangat cantik. Taeyong berani bersumpah lahan parkir gedung kantornya kalah luas dengan halaman rumah mewah ini. Taeyong bahkan menghabiskan waktu hampir lima menit untuk sampai ke gedung utama rumah tersebut. Sampai didepan pintu rumah tersebut Taeyong disambut oleh seseorang. 'itu Hansol' batin Taeyong, Ia menghampiri Hansol dan membungkuk dengan sopan.
"annyeonghaseyo, Lee Taeyong imnida"
"anyeonghaseyo, Ji Hansol imnida, ayo silahkan masuk" Hansol mempersilahkan Taeyong masuk, Ia berjalan didepan Taeyong yang masih sibuk mengedarkan pandangannya kesekeliling rumah. Setelah dibuat kagum dengan halaman rumah yang super luas, kini Taeyong terkagum dengan interior rumah tersebut. Sederhana namun tetap tak meninggalkan kesan bahwa semua barang dan interior yang ada di rumah tersebut berharga selangit, nuansa krem dan coklat yang dipadukan benar-benar memberi kesan yang meneduhkan. Hiasan-hiasan yang terpajang dirumah itupun tidak terlalu mencolok tapi tetap bisa mempercantik rumah tersebut, sepertinya pemilik rumah sangat menyukai segala sesuatu yang sederhana dan tak berlebihan. Taeyong sempat melihat satu ruangan yang terisi berbagai macam permainan didalamnya, bisa Taeyong tebak mungkin ruangan itu adalah ruang bermain Jaehyun dan Jeno.
"silahkan duduk" setelah sampai diruang tamu, Hansol mempersilahkan Taeyong duduk.
"terimakasih" Taeyong duduk disalah satu sofa empuk yang ada diruang tamu tersebut.
"Jaehyun masih dikamarnya nanti akan kupanggilkan, kau mau minum apa? Teh atau jus?"
"teh saja sudah cukup, terimakasih yah"
"baiklah tunggu sebentar yah"
Hansol meninggalkan Taeyong dan bergegas kedapur. Taeyong masih mengedarkan pandangannya memperhatikan seisi rumah tersebut Ia bahkan bisa menemukan beberapa kamera cctv yang terpasang diberbagai sudut, 'rumah ini sepi sekali, tidak ada pengawal atau maid kah?' batinnya. Ia menoleh kesamping kirinya dan melihat satu ruangan yang dibiarkan gelap, walau begitu Taeyong bisa melihat terdapat Home Theater dengan TV LCD yang lumayan besar, lengkap dengan sofa dan beberapa barang yang menampilkan kesan kekeluargaan, Taeyong bisa menebak bahwa ruangan itu pasti ruang keluarga.
"wow kita kedatangan tamu"
Taeyong terlonjak kaget mendengar suara seseorang, Ia langsung berdiri tegap saat tau pemilik suara tersebut.
"a-annyeonghaseyo" Taeyong dengan kaku membungkukkan badannya. Dalam hati Taeyong mengutuk dirinya sendiri, Ia itu seorang detektif yang handal tapi kenapa sikapnya sekarang seperti bertemu calon mertua saja.
"haha tidak usah sungkan, silahkan duduk, oh iya kau temannya Jaehyun?"
"ya aku temannya Jaehyun, Lee Taeyong imnida" melihat lawan bicaranya itu duduk disalah satu sofa membuat Taeyong kembali duduk ditempatnya.
"wah ini langka, Jaehyun tidak pernah membawa temannya kerumah, aku Johnny appanya Jaehyun"
"benarkah? Aku hanya datang untuk mengerjakan tugas bersama, kebetulan aku dan Jaehyun satu kelompok, senang bisa bertemu denganmu Tuan, maaf jika kedatanganku mengganggu keluargamu di hari Sabtu ini"
"tidak..tidak..tentu saja tidak, aku malah senang setidaknya aku tau Jaehyun itu punya teman, apa kau sudah ditawari minum?"
"sudah, tadi Hansol-ssi yang menawarkan minum untukku"
Taeyong memperhatikan Johnny sekilas, diumurnya yang hampir menginjak 40 tahun Johnny masih terlihat berkarisma bagi Taeyong, sangat ramah dan menyenangkan jika diajak bicara, berbeda sekali dengan anak-anaknya Jaehyun dan Jeno, terutama Jaehyun yang sedingin es itu, diajak bicara saja susah. Johnny sangat tinggi bahkan saat berdiri tadi Tayong sempat mengukur tinggi badannya hanyalah sebahu pria tersebut. Sekarang Taeyong tau Jaehyun dan Jeno mendapatkan gen tinggi dari appanya, Taeyong jadi iri, bahkan tinggi badannya hampir sama dengan anak sekolah menengah seumuran Jeno.
"ini minumnya" Hansol datang dan meletakkan secangkir teh diatas meja didepan Taeyong.
"terimakasih"
"dimana Jaehyun?" tanya Johnny kepada Hansol.
"tadi aku sudah memanggilnya, dia masih ada dikamarnya bersama dengan Jeno, sedang beretengkar memperebutkan buku yang kau belikan semalam, lain kali jika kau membelikan buku, belilah dua untuk masing-masing anakmu yang maniak buku itu"
"dasar kutu buku" Johnny mengelengkan kepalanya.
Taeyong melongo mendengar percakapan Johnny dan Hansol barusan, bukan karena topik permasalah antara Jaehyun dan Jeno yang memperebutkan sebuah buku, melainkan cara mereka berbicara satu sama lain. Jika tak salah ingat Hansol adalah tangan kanan Johnny yang menjabat sebagai sekertarisnya, namun melihat kedua orang tersebut berbicara dengan bahasa informal membuat Taeyong terkejut, sama sekali tidak ada kesan atasan dan bawahan, Taeyong tau ini bukan dikantor tapi bukankah setidaknya Hansol sebagai bawahannya Johnny menjaga sikapnya? Bahkan Hansol dengan seenaknya duduk di sofa setelah meletakkan cangkir teh.
"hyuuuung...kau curang sekali, mengalahlah padaku, aku juga ingin membacanya"
Johnny, Hansol dan Taeyong menoleh kearah tangga kesumber suara, melihat Jaehyun dan Jeno yang merengek dibelakangnya menuruni anak tangga. Jaehyun memegang beberapa buku dan sebuah macbook ditangannya, sementara Jeno memegang buku gambar ditangan kanannya. Jeno masih setia membuntuti Jaehyun dan memohon padanya untuk meminjamkan buku yang baru saja dibeli appanya tersebut.
"kau bisa membacanya setelahku Jeno"
"ayolah hyung, kau pelit sekali siiih"
"sudah..sudah jangan berebut terus, nanti appa belikan lagi yah, appa tidak tau kalau kau juga menginginkannya Jeno" Johnny akhirnya bersuara, biar bagaimanapun ini salahnya yang hanya membelikan satu buku Private seriesnya karya James Patterson, buku yang awalnya hanya iseng dibelinya karena Ia mendengar bahwa buku tersebut best seller, Ia tidak menyangka kedua anaknya tersebut malah berebut untuk membaca buku itu.
"kau dengar itu Jeno? Appa akan membelikannya untukmu" Jaehyun menoleh kearah Jeno yang memasang wajah cemberutnya, Jaehyun memang akan selalu mengalah pada Jeno, apapun, tapi tidak untuk buku. "jangan cemberut terus, jelek tau" Jaehyun mengacak rambut Jeno dan mencubit pipinya sekilas sebelum Ia berjalan mendekat kearah Johnny, Hansol dan Taeyong.
"apa kau sudah menyiapkan bahan materinya?" tanya Jaehyun kepada Taeyong.
"sudah, aku bahkan mencari beberapa contoh kasus yang sesuai dengan materi tersebut"
"baguslah aku juga sudah mencari beberapa bahan, sebaiknya kita kerjakan dimana yah? hmm..." Jaehyun mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang enak dan sesuai untuk mengerjakan tugas, sebenarnya Ia selalu mengerjakan tugas dikamarnya, namun kali ini Ia mengerjakan tugas dengan seseorang dan Ia tidak ingin ada orang asing memasuki kamarnya kecuali keluarganya.
"bagaimana jika disana? ruangan itu terlihat nyaman" Taeyong menunjuk kearah ruang keluarga yang dibiarkan gelap. Jaehyun, Johnny, Jeno dan bahkan Hansol terdiam melihat kearah mana Taeyong menunjuk. Taeyong tersenyum tipis melihat reaksi orang-orang tersebut 'jadi disitu rupanya' batinnya.
Sebenarnya Taeyong hanya mengetes saja bagaimana mereka akan bereaksi, dia memang mengetahui bahwa kejadian pembunuhan yang terjadi adalah di ruang keluarga, melihat salah satu ruangan yang dibiarkan gelap tersebut membuat Taeyong menyimpulkan bahwa disitulah tempatnya, dan ternyata tebakannya benar.
"bagaimana jika kalian kerjakan di Gazebo dihalaman belakang saja, tempat itu cukup nyaman?" Hansol memecahkan keheneningan diantara mereka.
"memangnya kenapa jika disana, aku lihat tempat itu juga nyaman?" Taeyong bertanya dengan nadanya yang dibuat sepolos dan sepenasaran mungkin.
"hanya terlihat nyaman, sebenarnya tempat itu sangat sesak" Johnny menjawab pertanyaan Taeyong dengan senyum terpaksanya.
"dihalaman belakang saja" Jaehyun akhirnya bersuara dengan tampang datarnya, setelah mengatakan itu Jaehyun berjalan meninggalkan ruang tamu menuju halaman belakang, diikuti oleh Jeno dibelakangnya.
"baiklah, kalau begitu aku permisi dulu yah Tuan" Taeyong membungkukkan badannya sopan lalu berjalan mengikuti Jaehyun dan Jeno menuju halaman belakang.
Sepeninggalan Jaehyun, Jeno dan Taeyong. Hansol dan Johnny masih terdiam diruang tamu "ya setidaknya tempat itu pernah terasa nyaman" Johnny tersenyum pahit memandang kearah sebuah ruangan yang meninggalkan kesan yang indah dan juga buruk baginya.
.
.
.
"waah.." Taeyong lagi-lagi dibuat tercengang, setelah halaman depan dan isi rumah kini Taeyong terkagum dengan halaman belakang rumah Jaehyun. Tidak terlalu luas seperti halaman depan namun tetap sangat indah, tanaman bunga mawar aneka warna tertanam disana dengan hamparan rumput yang hijau, benar-benar sangat indah. Kini Taeyong menyusuri jalan setapak mengikuti Jaehyun dan Jeno didepannya, bejalan menuju satu-satunya gazebo yang ada dihalaman tesebut. Gazebo putih yang ditengah-tenaghnya terdapat sebuah meja dikelilingi beberapa matras untuk duduk, terdapat beberapa pot-pot bunga yang cantik menggantung di gazebo tersebut.
Mereka bertiga kini sudah duduk mengelilingi meja, Jaehyun mulai membuka macbooknya begitu juga Taeyong yang mengeluarkan macbooknya dari ranselnya.
"hyung aku ikut duduk disini tidak apa kan? Aku tidak akan mengganggu kok"
"tidak apa" Jaehyun tersenyum kearah Jeno dan kembali terfokus dengan macbooknya.
Mendapat persetujuan dari hyungnya itu Jeno mulai membuka buku gambarnya, Taeyong yang melihat buku gambar tersebut jadi teringat kata-kata Renjun, bahkan Taeyong memperhatikan lembar demi lembar buku halaman tersebut saat Jeno membuka nya mencari halaman yang kosong dan Ia melebarkan matanya saat sekilas melihat gambar sketsa wajah close up 'mungkinkah itu?' batinnya.
"bisakah kau kirimkan materi yang telah kau susun itu ke email ku? Aku akan menggabungkannya dengan punyaku" suara Jaehyun barusan menyadarkan Taeyong dan mengalihkan pandangannya dari buku gambar Jeno.
"tentu saja"
Taeyong melakukan apa yang diminta Jaehyun tadi. Mereka mulai serius mengerjakan tugas mereka, mendiskusikan hasil makalah yang mereka buat dan setelahnya membuat powerpoint untuk di presentasikan. Jaehyun bahkan sempat memuji kelengkapan materi yang Taeyong kumpulkan, dalam hati Taeyong berterimakasih kepada noonanya yang sudah membantunya mencari beberapa bahan dan mengajarinya semalam suntuk. Setelah hampir dua jam berlalu akhirnya mereka selsai dengan tugas mereka, Jaehyun dan Taeyong menutup macbook mereka masing-masing.
"kau sudah tau kan bagian yang akan kau presentasikan nanti?" tanya Jaehyun.
"sudah, aku akan memahaminya lebih dalam lagi nanti malam" Taeyong meregangkan badannya yang terasa kaku, Ia benar-benar kembali kepada masa kuliahnya yang dipenuhi tugas. Taeyong sekilas melirik Jeno yang masih asik dengan buku gambarnya. "sepertinya Jeno sangat suka menggambar yah"
Jeno menoleh sekilas kearah Taeyong lalu kembali terfokus kepada buku gambarnya, melengkapi sentuhan terakhir dari sketsa yang Ia buat "hanya sekedar hobi" ucapnya sambil tetap menggoreskan pensilnya diatas buku gambar.
Jaehyun memperhatikan adiknya tersebut sambil menopang dagunya "kali ini apa yang kau gambar?"
"nah selsai" Jeno tersenyum puas melihat hasil karyanya kemudian Ia menunjukkan hasil gambarnya itu kepada hyungnya "aku gambar ini"
Jaehyun dan bahkan Taeyong tediam melihat hasil gambar Jeno. Ia membuat sketsa mereka berdua yang sedang serius mengerjakan tugas, gambar yang benar-benar sangat akurat, terlihat sketsa Jaehyun dan Taeyong yang duduk berdampingan dengan dua buah macbook masing-masing didepan mereka dan beberapa buku. Jika diilustrasikan, sketsa tersebut menggambarkan Jaehyun dan Taeyong yang sedang membaca buku yang dipegang oleh Jaehyun.
"aku tidak pernah melihatmu berinteraksi dengan temanmu hyung, makanya aku mengabadikannya" Jaehyun tertegun dengan perkataan Jeno, lalu tersenyum kepadanya.
"gambarmu selalu yang terbaik" Jaehyun memuji Jeno yang disambut dengan senyuman senang yang membuat matanya berbentuk seperti bulan sabit, sangat cute.
"Taeyong hyung, apa kau menyukainya?" kali ini Jeno beralih menatap Taeyong.
Taeyong mengangguk "ya, aku menyukainya, kau benar-benar berbakat"
"jika kau ingin aku kan membuat scan nya dan memberikannya padamu"
"wah benarkah, aku akan sangat senang jika kau mau"
"tunggu disini yah hyung" Jeno beranjak dari tempatnya, membawa buku gambarnya dan kembali masuk kedalam rumah, sepertinya Jeno benar-benar akan scanning hasil gambarnya tersebut untuk Taeyong.
Sementara menunggu Jeno, Taeyong beralih menatap Jaehyun yang sedang merapikan bukunya. Taeyong juga memasukan macbooknya dan buku-buku yang dibawanya kedalam tas ranselnya. Setelah itu hening, tidak ada pembicaraan apapun.
"rumahmu luas sekali Jae" Taeyong memecah keheningan diantara mereka "kau hanya tinggal berempat saja?"
"ya begitulah"
"wah rumah sebesar ini hanya ditinggali oleh empat orang? Aku tidak bisa membayangkan, apa tidak ada semacam bodyguard yang menjaga rumahmu ini atau maid yang membersihkan rumahmu?"
"ada, tapi mereka hanya datang saat rumah ini kosong"
"ooohh..." Taeyong mengangguk mengerti, Ia memang daritadi sangat penasaran karena Ia tidak melihat semacam pengawal atau maid dirumah sebesar ini. Tidak mungkin bukan keempat orang laki-laki mau mengurus rumah yang bak istana ini sendiri, melihat halaman depan dan belakang yang rapi dan bersih saja Taeyong merasa mustahil jika keempat orang itu yang membersihkan atau mengurus tanamannya.
"Tadi Jeno bilang ini pertama kalinya Ia melihatmu bersama seorang teman yah? Bahkan appa mu juga tadi bilang begitu, aku orang pertama yang kau ajak kerumahmu ini"
"hm.." Jaehyun hanya bergumam menanggapi pertanyaan Taeyong.
"kau itu tertutup sekali Jae, kau benar-benar membangun tembok yang sangat kokoh untuk orang-orang disekitarmu, apa kau tidak merasa kesepian?"
Jaehyun terdiam dengan pertanyaan Taeyong, kesepian? Bahkan Jaehyun tidak tau apa maksud dari kata kesepian tersebut, selama ini Ia memiliki Jeno adiknya yang selalu bersamanya, appa nya yang pengertian padanya dan eomma nya yang saat masih hidup selalu memperhatikannya, bahkan Hansol yang terkadang membantunya atau mendengar keluh kesahnya. Hanya empat orang itu yang selama ini melengkapi hidup Jaehyun dan Jaehyun merasa cukup. Ia bukan tidak ingin berteman dengan orang lain, Ia hanya tidak bisa. Jaehyun tidak ingin ada orang lain merusak kehidupannya yang dirasanya sudah cukup dan memuaskan, dan kejadian buruk yang menimpa keluarganya yang merenggut nyawa eommanya itu membuat Jaehyun semakin tak ingin berkenalan atau berinteraksi dengan orang asing. Termasuk Taeyong, jika bukan karena keterpaksaan, Jaehyun tak ingin mengajak Taeyong masuk kedalam rumahnya ini.
"jika kau melihat keluar, banyak sekali yang ingin menjadi temanmu itu Jae, bukankah manusiawi jika kita itu membutuhkan teman?"
"aku tidak ingin, dan tidak butuh"
"kenapa?" Taeyong betanya lagi pada Jaehyun, Ia ingin mengetahui Jaehyun lebih jauh lagi, memahami kepribadiannya.
"karena suatu saat mereka akan mengganggu kehidupanku"
"aku tau memang terkadang ada teman yang tak terduga yang akan menghianati atau mengecewakanmu, aku pernah merasakannya, tapi jika kau berada di zona amanmu terus menerus kau tidak akan merasakan bagaimana kehidupan yang sesungguhnya, bagaimana rasanya bersenang-senang dengan orang lain, jatuh cinta dan bahkan tersakiti, semua perasaan manusiawi itu, kau tak akan pernah merasakannya jika kau menutup diri" Taeyong menatap Jaehyun tepat dimanik mata hitamnya.
"karena aku adalah orang pertama, bagaimana jika kau mencobanya, bertemanlah dengan ku Jae" Taeyong mengulurkan tangannya, sementara Jaehyun hanya menatap uluran tangan Taeyong tanpa membalasnya.
"apa maksudmu?"
"bertemanlah denganku, aku akan berusaha untuk jadi teman yang menyenagkan untukmu" Taeyong meyakinkan Jaehyun, masih setia mungulurkan tangannya.
Sementara Jaehyun menatap Taeyong ragu, ini memang bukan pertama kalinya Jaehyun melihat seseorang yang mengajaknya berteman, hanya saja cara Taeyong sangatlah spesial baginya. Taeyong yang mengatakan akan menjadi teman yang menyenangkan baginya, merasakan bagaimana kehidupan yang sesungguhnya, membuat hati Jaehyun tergerak sedikit untuk membuka diri. Bolehkah Jaehyun mencobanya? Dengan ragu Jaehyun mengangkat tangannya dengan perlahan menyambut uluran tangan Taeyong yang disambut senyuman manis dari bibir Taeyong.
"kau temanku Jae" ucapnya.
'ya bertemanlah denganku maka aku akan merubah sifat tertutupmu itu, sifat tertutup yang akan membawamu kepada sesuatu yang buruk' batin Taeyong.
Dan mulai saat ini Taeyong akan berusaha merubah seorang Jaehyun yang dingin menjadi Jaehyun yang hangat dan murah senyum sama seperti Jaehyun ketika berinteraksi dengan Jeno. Taeyong ingin merubah sifat tertutup Jaehyun yang suatu saat nanti akan membawanya kepada hal-hal yang buruk baginya. Diluar dari misinya, Taeyong secara pribadi ingin Jaehyun menjadi lebih baik dari Jaehyun yang sekarang.
.
.
.
TBC
Annyeonghaseyo~
Star kembali membawakan ff ini setelah sekian lama tak dilanjut karena UTS, akhirnya ada waktu untuk update juga. hey..hey..bagaimana perasaan kalian melihat Jaehyun berambut blonde? aaakkh...aku teriak-teriak gak jelas sendiri pas liat rambut dia blonde, Jaehyun si dongsaeng rasa oppa huhuhu...yep aku noona buat Jaehyun tapi aku masih bisa manggil Taeyong oppa kok muehehehe...yasudah sekian curhatan saya, selamat membaca buat para readers, maafkan saya jika banyak typo dan terimakasih buat para reviewers yang sudah memberikan reviewnya di ff yang gak jelas ini I Love You :)
-100BrightStars-
