Gloomy

Casts :

- Johnny

- Jaehyun

- Jeno

- Taeyong

- Hansol

- Doyoung

- Yuta

- Ten

- Taeil

- Renjun


Part 6

Tak terasa Taeyong sudah menghabiskan waktunya hampir seharian dirumah mewah ini, tugas kelompoknya memang sudah selsai namun Johnny menahannya pulang untuk makan siang bersama, menikmati menu masakan buatan Hansol dan Jaehyun. Satu lagi yang membuat Taeyong terkejut adalah ternyata Jaehyun pandai memasak dan bahkan masakannya sangat enak, tak kalah dengan masakan ala restaurant. Selsai makan Jeno mengajaknya bermain hoverboard dihalaman depan rumah bersama Jaehyun yang juga ikut mengajarinya. Ini pertama kalinya untuk Taeyong masuk ke lingkungan rumah mewah ini, menghabiskan waktu bersama keluarga Johnny Seo dan Taeyong tidak pernah menyangka jika mereka benar-benar akan welcome padanya, bahkan Jaehyun mulai sedikit bisa berinteraksi dengan baik bersamanya. Bermain bersama Jeno dan Jaehyun tertawa bersama dan bersenang-senang, Taeyong merasa seperti kawan lama untuk mereka. Taeyong juga sempat mengobrol dengan Johnny dan Hansol bertukar wawasan, mengetahui sejarah awal bagaimana perusahaan yang dibangun oleh ayahnya Johnny berdiri hingga perusahaan itu diwariskan padanya, bagaimana Hansol yang tenyata ikut andil dalam suksesnya perusahaan tersebut, Taeyong bahkan sampai mengetahui bahwa Hansol memiliki sedikit saham perusahaan itu. Jika saja Taeyong sedang tidak menjalankan misinya, mungkin Taeyong akan bercerita banyak mengenai pengalaman dibidangnya, menangkap kriminal, dan menyeidiki kasus, hanya saja Taeyong tak bisa. Satu yang disayangkan oleh Taeyong, Johnny sama sekali tidak bercerita tentang istrinya, Ia bercerita banyak tentang bagaimana persahabatannya dengan Hansol yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri, tetapi Ia tidak bercerita bagaimana Ia bertemu dengan istrinya, menikah dengannya dan kenapa istrinya itu meninggal, jangankan bercerita menyebut nama nya pun tidak.

.

Taeyong, Jaehyun dan Jeno sekarang sedang duduk dibawah pohon rindang halaman rumah, berteduh melepaskan lelah setelah bermain hoverboard. Benar-benar melelahkan tapi sangat menyenangkan.

"Taeyong hyung, nanti main lagi kesini yah" Jeno berkata pada Taeyong dengan mata bulan sabitnya yang sangat menggemaskan, membuat Taeyong tersenyum melihatnya.

"jika ada waktu aku akan main kesini lagi, apa teman-temanmu sering datang kesini juga?"

"ya hampir setiap minggu dan mereka sangat berisik" Jaehyun menjawab pertanyaan Taeyong yang sebenarnya ditujukan pada Jeno, sementara Jeno melirik hyungnya sebal mendengar jawaban hyungnya itu.

"Mark, Jaemin dan Haechan itu memang berisik tapi mereka sangat menyenangkan, hyung saja yang membosankan"

Taeyong tertawa mendengar Jeno yang mengatakan bahwa Jaehyun adalah orang yang membosankan, Jeno itu benar sangat sangat benar malah, Jaehyun itu sangat membosankan, seperti patung berjalan, namun menghabisakan seharian penuh bersama Jaehyun hari ini membuatnya sedikit merubah pandangannya. Jaehyun itu memang sangat kaku dan bahkan sedikit angkuh, hanya saja jika kau bersabar sedikit kau akan mengetahui sisi lain dari Jaehyun yang tidak akan pernah kau sangka sebelumnya.

Taeyong melirik jam ditangannya, pukul 4 sore, dia melebarkan matanya tak menyangka jika dia benar-benar sudah menghabiskan waktu yang sangat lama dirumah ini. Ia merasakan handphone yang ada disaku celananya bergetar menandakan ada pesan masuk.

From: Yuta

"kau masih lama? Sesulit itukah tugasnya?"

Taeyong mengutuk dirinya sendiri, Ia lupa jika Ten dan Yuta menunggunya disana, dan ini sudah lebih dari lima jam Ia berada disini, mereka berdua pasti mati kebosanan disana.

"sepertinya aku harus pulang, hari sudah sore" Taeyong bangkit dari tempatnya, menepuk bokongnya membersihkan rumput yang menempel dicelananya, diikuti dengan Jeno dan Jaehyun.

"yaah sayang sekali hyung" Jeno terlihat sangat kecewa setelah Taeyong mengatakan Ia harus pulang.

"lain kali aku akan main kesini lagi, itu juga jika kau mengijinkan" Taeyong menatap Jaehyun, menandakan bahwa perkataannya barusan itu tertuju padanya. Sementara Jaehyun yang ditatap tidak mengatakan Ya atau Tidak.

Setelah mengambil ranselnya dan berpamitan pada Johnny dan Hansol, Taeyong berjalan kearah pagar ditemani Jaehyun yang mengantarnya. Taeyong membuka pagar besi tersebut dan melangkahkan kakinya keluar namun sebelum benar-benar keluar, Taeyong menatap Jaehyun yang ada disampingya itu.

"terimakasih yah untuk hari ini, aku tidak pernah merasakan bahwa mengerjakan tugas akan semenyenangkan ini, dan juga terimakasih untuk makan siangnya, masakanmu itu benar-benar luar biasa" Taeyong mengacungkan dua jempolnya dengan mata berbinarnya.

"hmm.." Jaehyun hanya membalasnya dengan gumaman singkat.

Taeyong sedikit kecewa dengan respon Jaehyun tadi, namun Ia tetap memberikan senyumannya, Taeyong berbalik dan melangkah menjauhi Jaehyun keluar dari rumah tersebut, Ia sempat mengatakan sampai jumpa padanya. Baru berjalan lima langkah, Jaehyun memanggil Taeyong.

"Taeyong"

"ya?" Taeyong yang dipanggil, berbalik dan memandang Jaehyun yang berdiri didepan pagar rumahnya.

"datanglah lagi jika kau ingin, rumah ini terbuka untukmu, dan terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini" Jaehyun tersenyum tulus pada Taeyong, membuatnya tertegun.

Taeyong membalas senyuman tulus Jaehyun dengan senyum terbaik yang dimilikinya, Ia melambaikan tangannya lalu berbalik dan benar-benar berjalan menjauhi rumah tersebut, Taeyong sempat mendengar suara pagar tertutup menandakan Jaehyun yang sudah masuk kembali kerumahnya. 'kau seharusnya memanggilku dengan sebutan Hyung juga sama seperti Jeno' batinnya.

.

.

.

Setelah sepuluh menit Taeyong berjalan akhirnya Ia sampai di tempat mobil Yuta terparkir, masih ditempat yang sama saat mereka datang tadi. Taeyong membuka pintu mobil tersebut dan duduk dibelakang melepas ranselnya dan bersandar disana, sekarang rasa lelah itu benar-benar terasa.

"kau lama sekali hyung, hampir seharian, tugas macam apa sih yang kau kerjakan?" Ten memberikan sebotol minum pada Taeyong yang langsung disambut olehnya dan meminum hampir setengah isi dari botol itu.

"sebenarnya tugasku sudah selsai dari tadi siang"

"lalu?" Yuta menyalakan mesin mobilnya dan memakai sabuk pengamannya, diikuti oleh Ten yang juga memasang sabuk pengamannya, setelah itu Ia menancapkan gas meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor.

"aku diajak makan siang dulu, lalu menghabiskan waktu bersama mereka ber empat, terutama Jaehyun dan Jeno, kalian bahkan tak akan menyangka aku mencoba menaiki sebuah hoverboard"

"sadar umur Tae" Yuta hanya menggelengkan kepalanya mendengar cerita Taeyong tadi.

"diam kau Nakamoto" Taeyong menatap Yuta sinis melalui kaca mobil. Sepertinya Ia terlalu sensitif jika berurusan dengan umur. Lagipula kenapa Yuta malah membahas umur? mereka sebaya dan umur mereka belum menginjak 30 tahun mereka itu masih 26 tahun tapi gaya bicaranya itu seperti mereka sudah terlalu tua untuk hanya menaiki sebuah hoverboard.

"apa tidak ada yang mencurigakan hyung?" Ten bertanya kepada Taeyong.

"tidak, mereka normal-normal saja, seperti keluarga pada umumnya, benar-benar seperti keluarga yang tidak memiliki masalah"

"bagaimana dengan Hansol?" kali ini Yuta yang bertanya, bahkan Yuta sempat melirik Taeyong dari kaca mobil.

"kenapa dengan Hansol?" tanya Taeyong heran.

"tidak apa-apa, hanya saja dia kan bukan bagian dari keluarga itu, dia mungkin punya hubungan sangat dekat dan erat, namun tetap saja kan dia itu orang asing" jelas Yuta.

"dia itu benar-benar sudah seperti bagian dari keluarga tersebut, seperti seseorang yang sangat dibutuhkan disana, bisa diibaratkan keluarga itu tidak akan lengkap tanpa Hansol"

"benar-benar tidak ada yang mencurigakan darinya Tae?"

"tidak ada, memang kenapa sih?"

"tidak apa-apa" Jawab Yuta singkat.

"dasar aneh, kalau bertanya berilah gagasan dari pertanyaanmu itu Nakamoto Yuta" Taeyong menatap sebal Yuta melalui kaca mobil, sementara Yuta hanya fokus mengemudi.

Taeyong membuka ranselnya mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya kemudian Ia menunjukkan lembar kertas tersebut kepada Ten.

"kau bisa tebak siapa yang ada digambar ini Ten?"

Ten memperhatikan lembar kertas yang berisikan sebuah sketsa yang ditunjukkan oleh Taeyong "ini kau" Ten menunjuk ke salah satu objek yang ada disketsa tersebut "dan ini Jaehyun?"

"tepat sekali, jika kau bisa menebaknya berarti gambar ini 85% mirip dengan yang asli"

"siapa yang menggambarnya hyung? Sangat bagus, dan mirip menurutku"

"Jeno, kalian sudah tau kan tentang Jeno yang menggambar sketsa wajah yang diduga pembunuhnya itu dalam buku gambarnya?"

Yuta dan Ten mengangguk atas pertanyaan Taeyong.

"jika kau mengatakan gambar ini mirip berarti gambar sketsa yang diduga pembunuhya itu juga bisa jadi semirip ini" Taeyong memperhatikan kertas yang berisikan gambar sketsa yang ada ditangannya itu "aku harap Renjun berhasil mengambil gambar itu dari Jeno"

.

.

.

Pukul 06.00 pagi

Renjun keluar dari kamarnya, Ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, Ia berjalan menuju dapur, duduk dimeja makan menunggu hyungnya, yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya, roti panggang dengan segelas susu. Renjun dan Doyoung memang hanya tinggal berdua di sebuah apartement, mengingat kedua orangtua nya sibuk bekerja membuat Doyoung tidak tega meninggalkan Renjun sendirian dirumah mereka, jadilah Renjun tinggal bersama hyungnya.

"good morning" Doyoung menyapa adiknya yang sudah duduk di meja makan menunggunya, meletakkan beberapa roti panggang dan berbagai macam selai diatas meja, juga dua gelas susu untuk mereka berdua.

"morning hyung"

"apa kau sudah mengerjakan tugasmu? Buku-bukumu sudah kau siapkan semua kan? Jangan sampai ada yang tertinggal seperti kemarin"

"sudah hyung" Renjun mengambil roti tawar panggang dan mengoleskan selai kacang diatasnya.

"bagus" Doyoung mengambil kotak bekal yang sejak tadi pagi Ia siapkan lalu memasukkannya kedalam tas ransel milik Renjun "itu bekal untukmu yah" ujarnya.

Keduanya kemudian sibuk dengan sarapan mereka masing-masing, bahkan Doyoung memakan rotinya diruang tengah sambil menyiapkan beberapa berkas yang harus Ia bawa dan juga memasukkan laptop kedalam tasnya.

"hyung" masih berada di meja makan, Renjun memanggil Doyoung, membuat Doyoung menoleh kearah meja makan dan menghentikan aktifitasnya.

"hm?"

"apa aku harus benar-benar mengambil gambarnya Jeno itu?" tanya Renjun ragu tanpa menatap hyungnya yang berjalan mendekat kearahnya.

"memangnya kenapa?" Doyoung duduk dimeja makan, mengambil kursi terdekat dengan Renjun.

"apa tugasmu dan teman-temanmu akan lebih mudah jika aku mengambil gambar Jeno itu?" Doyoung menganggukkan kepalanya atas pertanyaan Renjun tadi.

"apakah sulit? Hyung tidak akan memaksamu Renjun"

"aku hanya sedikit ragu, Jeno saja terlihat sedikit tidak suka saat aku melihat dan menanyakan gambar itu, apalagi jika nanti aku mengambilnya"

Doyoung tersenyum kepada Renjun, Ia jadi merasa bersalah telah melibatkan adiknya seperti itu "aku tidak memaksamu, jika kau tidak bisa ya tidak usah, jangan memaksakan diri, oke" Doyoung mengusap kepala Renjun, membuat Renjun sedikit cemberut karena hyungnya itu sudah membuat rambutnya yang tertata rapi jadi berantakan kembali "ayo selsaikan sarapanmu, kita berangkat, nanti kau kesiangan" Doyoung beranjak dari tempatnya, mengambil ranselnya dan kunci mobilnya, diikuti Renjun yang juga berdiri dari tempatnya sambil merapikan rambutnya kembali.

.

.

.

SOPA

Doyoung menghentikan mobilnya tepat didepan gerbang sekolah Renjun "sudah sampai, seperti kemarin, hyung akan menunggumu disana yah"

"hmm..." Renjun mengangguk dan memakai ranselnya "hyung" sebelum keluar dari mobil Renjun memanggil Doyoung ragu.

"ya kenapa?"

"apa kau benar-benar membutuhkannya? Gambar itu"

Mendengar pertanyaan yang sama dari Renjun membuat Doyoung menghembuskan nafasnya berat, membuatnya benar-benar merasa bersalah kepada adiknya ini "dengar Renjun" Doyoung memegang kedua bahu adiknya dan menatapnya "jika kau ragu dan tidak mampu jangan lakukan, aku dan teman-temanku tidak pernah memaksamu, mengerti? Jadi jangan membebankan dirimu" Renjun mengangguk "nah sekarang cepat masuk sebelum bel sekolah berbunyi"

"baiklah sampai jumpa hyung" Renjun melambaikan tangannya kepada Doyoung, turun dari mobil dan memasuki gerbang sekolahnya menuju kelasnya.

Sepanjang perjalanannya menuju kelas Renjun hanya berjalan menunduk menatap lantai di bawahnya, pikirannya benar-benar bercabang sejak kemarin. Ia ingin sekali membantu hyungnya itu, tapi disisi lain Ia juga takut menghadapi Jeno nanti jika Ia tau Renjun berniat meminta gambarnya. Meminta? Tidak mungkin Jeno dengan mudah memberikannya, dalam kata lain Renjun mau tidak mau harus diam-diam mengambilnya alias mencuri.

"ahhh aku harus bagaimana ya tuhan" Renjun mengacak rambutnya frustasi.

"kau kenapa?"

"huh?" Renjun terkejut mendengar suara seseorang disampingnya, Ia melebarkan matanya saat mengetahui siapa yang ada disampingnya ini, orang yang membuat pikirannya kacau, Jeno. "kau sejak kapan ada disini?"

"aku berjalan disampingmu daritadi apa kau tidak sadar? Rupanya lantai dibawah itu lebih menarik yah" Jeno tersenyum dan berjalan mendahului Renjun menuju kelasnya.

Renjun tersadar dari terkejutannya dan berlari menyusul Jeno yang sudah berada beberapa langkah darinya "hey Jeno, aku boleh duduk disampingmu lagi kan?" tanya Renjun saat Ia berhasil menyusul Jeno. Jeno hanya mengangguk menjawab pertanyaan Renjun.

Sesampainya dikelas Jeno dan Renjun langsung disambut dengan trio berisik kelas mereka, Mark, Haechan, Jaemin

"yo brother, welcome" Mark dengan logat Canadanya yang khas sekali.

"jadi sekarang dua orang terpintar dikelas kita duduk semeja nih? Aaaah tidak adil sekali" Haechan menarik bangku terdekat dan duduk disamping meja Jeno dan Renjun.

Jeno hanya diam saja menanggapi perkataan Haechan tadi sementara Renjun hanya tersenyum canggung. Well, Renjun belum terbiasa menghadapi tiga orang ini jadi maklum saja.

"akhirnya kau dapat teman sebangku yang selama ini kau ing...aaw~" Jaemin mengaduh dan mengusap kepalanya saat tiba-tiba Jeno dengan seenaknya menjitak kepalanya, Jeno menatap Jaemin dengan was-was sambil menggelengkan kepalanya "wow ternyata seorang Jeno bisa memukul juga" ucap Jaemin. Mereka bertiga, Jaemin, Mark dan Haechan saling pandang dan kemudian tertawa.

"congratulations bro" masih dengan tawa nya, Mark menepuk pundak Jeno.

Renjun daritadi hanya terdiam melihat keempat orang ini, Ia tidak mengerti apa maksud dari pembicaraan keempat sekawan ini. Ia melirik Jeno dengan pandangan bingungnya dan Jeno hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi Renjun. 'orang setenang dan tidak banyak bicara seperti Jeno kenapa bisa berteman sama mereka sih?' batinnya.

.

.

.

Jaehyun dan Taeyong sedang duduk di salah satu bangku kantin, menghabiskan makan siang mereka, tak lupa dengan tatapan heran dan aneh dari orang-orang disekitar mereka. Dari tadi pagi Jaehyun dan Taeyong memang sudah menjadi pusat perhatian, bagaimana tidak, sekarang seorang Jaehyun yang mendapat julukan ice prince yang kemana-mana selalu sendiri dan tak mempedulikan keberadaan orang disekitarnya itu sekarang selalu ditemani Taeyong. Diperpustakaan, dikelas, dan sekarang dikantin, dimana ada Jaehyun disitu ada Taeyong. Banyak yang berbisik menanyakan siapa Taeyong sebenarnya? bagaimana bisa Ia dengan mudahnya dekat dengan Jaehyun? Tak sedikit juga dari mereka mengagumi perpaduan mereka yang pas, keduanya sama-sama tampan dan enak dipandang, benar-benar cocok dijadikan pusat perhatian.

Taeyong memperhatikan sekelilingnya dan menghembuskan napasnya, Ia lelah juga lama-lama jadi pusat perhatian seperti ini, benar-benar membuatnya menjadi tidak nyaman.

"Jae, apa kau selalu makan sendirian dikantin ini?"

"hm" Jaehyun mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanannya.

"kau tidak bosan makan sendirian?"

"tidak"

"tentu saja tidak, kau lebih suka sendirian kan? aku yakin kau juga merasa terganggu makan denganku, padahal yah, menghabiskan makan siang bersama teman-teman itu sangat menyenangkan loh, berbagi makanan dan bercerita dengan teman-teman, atau jika kau mau usil kau bisa merebut bekal temanmu, hhh aku jadi rindu masa SMA, aku bahkan pernah dihukum guru gara-gara itu"

Jaehyun menahan tawanya mendengar ucapan Taeyong yang panjang lebar barusan.

"kenapa? Jika ingin tertawa, tertawa saja, kenapa kau menahannya?"

Jaehyun menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya kemudian kembali menyantap makanannya.

"Jae kenapa kau meyembunyikan senyumanmu itu ketika dikampus? Kau bisa tersenyum dengan lebar dan bahkan tertawa jika sedang bersama Jeno, tapi kenapa dikampus tidak? Jangan ge-er yah tapi senyummu itu sangat manis loh, sayang sekali orang-orang dikampus ini tidak pernah melihatnya"

Jaehyun kembali mengangkat kepalanya mendengar Taeyong berbicara seperti itu, Ia menatap Taeyong diam, beberapa detik kemudian Jaehyun melengkungkan bibirnya membuat suatu senyuman yang indah dan menampilkan lesung pipinya yang sangat menawan itu membuat orang disekitar mereka berbisik heboh, bahkan hampir ada yang ingin berteriak, ini berlebihan memang, tapi begitulah keadaannya. Satu kantin itu heboh dengan hanya melihat senyuman seorang Jaehyun, percayalah ini merupakan pertama kalinya semua orang dikantin itu kecuali Taeyong, melihat Jaehyun tersenyum jadi wajar saja dengan reaksi mereka yang sedikit berlebihan itu.

'oh tidak apa kau lihat itu? Dia tersenyum'

'Oh my god aku baru tau kalau dia mempunyai lesung pipi yang sangat cute'

'ya tuhan aku tidak salah lihat kan? Dia tersenyum'

'yaampun bagaimana ini? Dia terlihat semakin tampan ketika tersenyum seperti itu'

'yaampun bisa-bisa aku tidak bisa tidur jika melihat senyumnya tiap hari seperti itu, apakah orang didepannya itu baik-baik saja?'

'akhirnya, akhirnya seorang Jaehyun bisa tersenyum, senyumnya sangat manis, oh tidak bagaimana ini, aku seharusnya mengabadikannya di ponselku tadi'

Dan masih banyak lagi, perkataan orang-orang disekitar mereka membuat Taeyong tersenyum dan bahkan ingin tertawa, mereka seperti melihat fenomena langka yang baru saja terjadi.

"lihat, sepertinya orang-orang menyukai senyumanmu itu"

"terimakasih"

"untuk apa?"

"karena telah mengatakan senyumku manis"

"hey sudah kukatakan yah, jangan ge-er"

"lalu apakah aku tidak boleh mengucapkan terimakasih juga?"

"tidak juga siiih"

Taeyong melihat Jaehyun yang hampir menyelsaikan makan siangnya, Ia pun dengan cepat menghabiskan makan siangnya, Ia sudah risih lama-lama berada disini, Ia idak terbiasa menjadi pusat perhatian dan Ia tidak suka karena itu membuatnya tidak nyaman, Ia kan bukan seorang idol atau aktor yang terbiasa dengan perhatian seperti itu. Taeyong memasukan suapan terakhirnya.

"Jae apa kau sudah selsai?" Jaehyun mengangguk menjawab pertanyaan Taeyong "kalau begitu ayo cepat pergi dari sini"

"baiklah" Jaehyun mengambil ranselnya, meraih ponsel yang ada disamping piring makannya lalu beranjak berdiri, diikuti dengan Taeyong.

Taeyong dan Jaehyun berjalan beriringan sepanjang koridor, masih ada waktu satu jam lagi untuk menunggu dosen datang, mereka memutuskan untuk duduk di taman belakang, tempatnya tidak terlaru ramai, hanya ada sekitar sepuluh orang termasuk mereka berdua yang ada disini, letaknya memang sangat jauh dari gedung utama kampus, itu sebabnya tempat ini sedikit sepi, mungkin mahasiswa disana malas untuk hanya sekedar berjalan ke taman ini, dan itulah mengapa Jaehyun menyukai tempat ini dan spot favoritenya adalah dibawah satu-satunya pohon rindang yang ada di taman itu, sepertinya orang-orang disana sudah mengetahui bahwa tempat itu adalah spot Jaehyun jadi Taeyong tak sedikitpun melihat orang-orang itu duduk dibawah pohon. Taeyong dan Jaehyun duduk dibawah pohon dan bersandar dibatang pohon yang kokoh, Jaehyun mulai mengeluarkan novelnya, novel yang sempat menjadi bahan rebutan dengan adiknya, Jeno.

"apa kau selalu menghabiskan waktumu disini?"

"hm..ini adalah tempat yang paling sepi dikampus" jawab Jaehyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari novelnya.

"dasar introvert" ucap Taeyong sarkastis.

Mendengar Taeyong berkata seperti itu Jaehyun menoleh dan menatap Taeyong tidak suka.

"jangan menatap ku seperti itu, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, jadi jangan marah"

"terserah kau saja" Jaehyun kembali membaca novelnya tidak peduli dengan omongan Taeyong tadi, toh Taeyong memang tidak salah juga.

Lima menit berlalu, mereka asik dengan dunia mereka sendiri Jaehyun dengan novelnya sedangkan Taeyong sudah menutup matanya, Ia tidak tertidur hanya terlalu nyaman dengan suasana yang teduh dan menenangkan, sekarang Taeyong mengerti kenapa Jaehyun suka dengan tempat ini, tempat ini memang nyaman dan menenangkan.

"ah iya" Taeyong seketika membuka matanya teringat akan sesuatu, membuat Jaehyun sedikit terkejut dan memandang Taeyong heran. "Jaehyun aku punya suatu pertanyaan untuk mu"

"apa?"

"tutup bukumu dan dengarkan aku" Taeyong mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Jaehyun dan mengambil novel yang ada ditangan Jaehyun lalu menutupnya "jawab pertanyaannya baik-baik, jawab sesuai dengan keinginanmu, jangan terlalu berpikir jawab saja sesuai logika mu, oke"

"pertanyaan seperti apa?"

"bayangkan jika kau sedang menginap disuatu hotel dilantai 10, kemudian ketika kau berada di balkon kau tidak sengaja melihat seorang pembunuh sedang membunuh korbannya, pembunuh itupun kemudian melihatmu lalu dia mendekatkan jarinya kewajahnya dan membuat suatu gestur, menurutmu gestur apa yang dibuat oleh pembunuh tersebut?"

Jaehyun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Taeyong "apa kau sedang bermain teka-teki?"

"sudah jawab saja"

Jaehyun berpikir sejenak, kemudian menjawab "gesturnya menunjukkan dia sedang menghitung dilantai mana aku berada dan akan membunuhku, karena tidak mungkin kan dia membiarkanku begitu saja, maka dari itu sebelum Ia menemukanku aku akan lari, aku tidak akan dengan bodohnya terbunuh olehnya"

Taeyong terkejut dengan jawaban Jaehyun, Ia tidak menyangka bahwa Jaehyun akan menjawabnya seperti itu. Dia ingat pernah menanyakan hal ini pada Doyoung dan dijawabnya dengan 'tentu saja pembunuh itu akan meletakkan jari telunjuknya dibibirnya menandakkan kita untuk diam, atau tidak melaporkannya' tapi jawaban macam apa yang diberikan Jaehyun ini? Mengerikan sekali.

"bagaimana jika kau berada disituasi dimana rumahmu dirampok, kemudian kau melihat ada beberapa pisau didapur yang bisa kau gunakan untuk membunuh perampok tersebut. Satu pisau sangat tajam dan akan membuat perampok tersebut langsung mati, dan satu pisau lagi tidak terlalu tajam dan bahkan sedikit berkarat, pisau mana yang akan kau gunakan?" tanya Taeyong sekali lagi.

Jaehyun lagi-lagi heran dengan pertanyaan yang diberikan Taeyong, namun dia tetap berpikir untuk memberikan jawaban.

"tentu saja aku akan menggunakan pisau yang tidak tajam dan berkarat, karena itu akan menyiksanya, sangat disayangkan jika perampok itu langsung mati jika aku menggunakan pisau yang tajam" jawab Jaehyun dengan santainya.

Taeyong membeku dengan jawaban Jaehyun, Ia tidak menyangka dan benar-benar diluar dugaan. Ini dia yang Taeyong takutkan dari seorang introvert seperti Jaehyun apalagi dengan latar belakang keluarganya yang sedikit suram karena kasus ibunya itu. Pertanyaan Taeyong tadi adalah pertanyaan yang sering diajukan oleh teman-teman psikiaternya di kepolisian kepada para tersangka pembunuh berantai, untuk membuktikan psikologi mereka atau lebih tepatnya membuktikan apakah orang tersebut memiliki jiwa psikopat atau tidak dan jawaban Jaehyun tadi menandakan suatu hal yang tidak baik. Sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan serupa namun Taeyong tak ingin menanyakannya lagi, Ia takut Jaehyun akan menjawabnya dengan jawaban yang mengerikan seperti tadi.

"sebenarnya pertanyaan apa sih yang kau ajukan? Aneh sekali" ucapan Jaehyun menyadarkan Taeyong dari lamunannya.

"tidak, hanya iseng saja"

"ayo ke kelas, lima belas menit lagi kelas akan dimulai" Jaehyun mengambil novelnya yang ada digenggaman Taeyong, memasukannya kedalam ransel dan kemudian berdiri, Ia melihat Taeyong dibawahnya yang sepertinya kembali melamun. Melihat itu Ia mengulurkan tangannya, menyadarkan Taeyong dari lamunannya "sampai kapan kau akan melamun terus Taeyong? nanti kita terlambat"

"eh? Ah iya" Taeyong tersadar dari lamunannya, kemudian meraih tangan Jaehyun dan berdiri dengan bantuan Jaehyun yang menariknya, membersihkan bokongnya yang kotor karena duduk dibawah pohon tadi. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.

Sepanjang perjalanan, Taeyong masih terdiam dengan pikirannya sendiri, Ia masih sedikit terkejut dengan jawaban Jaehyun tadi. Ingatkan Taeyong untuk berdiskusi dengan Taeil untuk cepat-cepat mencari pembunuh ibunya Jaehyun itu, karena Taeyong tidak mau Jaehyun atau Johnny yang menemukan pembunuh itu lebih dulu itu akan menjadi hal buruk. Taeyong melirik Jaehyun yang ada disampingnya 'aku akan menemukan pembunuh itu lebih dulu darimu Jae' batin Taeyong.

.

.

.

Yuta sedang memakan ramennya di salah satu convenience store, duduk didepan jendela besar menghadap langsung dengan jalan raya yang ada didepannya. Tangannya memang aktif menyuapi ramen kedalam mulutnya sesekali mengambil kimchi dengan sumpitnya, namun matanya tak lepas dari cafe disebrang jalan sana, memperhatikan empat orang yang sedang berdiskusi, lebih tepatnya Yuta hanya memperhatikan dua orang diantara keempatnya, Johnny dan Hansol. Kali ini Yuta tidak didampingi oleh Ten, mereka berdua memang sudah berjanji untuk membagi tugas dan sialnya Yuta kebagian tugas untuk mengikuti mereka kemanapun saat mereka keluar kantor karena kalah bermain batu gunting kertas tadi dan Ten tetap stay digedung kantor Johnny berjaga disana dengan alasan 'kalau saat mereka pergi ada suatu yang mencurigakan disini bagaimana?' ciih..apanya yang mencurigakan? Bilang saja malas, namun sebagai orang yang lebih tua dari Ten, Ia mengalah.

Ramennya sudah habis, Yuta membuka botol air mineralnya dan meneguk isinya hingga menyisakan setengah, matanya benar-benar tidak pernah teralihkan dari Johnny dan Hansol.

Terlihat keempat orang disebrang sana mulai berdiri dan saling menjabat tangan.

"apakah sudah selsai?" Yuta menutup botol air mineralnya dan mengambil jaketnya yang terletak diatas kursi disampingnya, bersiap-siap untuk pergi. Berjalan keluar dari toko tersebut masih memperhatikan dua orang targetnya.

"huh? mereka berpisah?" Yuta melihat Johnny dan Hansol yang berpisah, Johnny yang masuk kedalam mobilnya dan pergi dari cafe itu, mengemudi sendiri meninggalkan Hansol yang masih berdiri didepan cafe.

Yuta merogoh saku jaketnya dan mengambil ponselnya men dial nama Ten.

'halo'

"halo Ten. Johnny dan Hansol berpisah, aku rasa Johnny kembali ke kantornya, katakan padaku ketika Johnny sudah sampai disana, sementara aku akan mengikuti Hansol"

'baiklah, aku akan mengabarimu nanti hyung'

Sambungan terputus. Yuta kembali memperhatikan Hansol yang mulai berjalan meninggalkan cafe, mengambil arah yang berlawanan dengan Johnny tadi.

Hansol terus berjalan dan masih tanpa sepengetahuannya diikuti oleh Yuta, mereka berdua terpisahkan dengan jalan raya. Yuta bahkan tak mengalihkan pandangannya dari Hansol yang ada disebrang sana takut kehilangan jejak karena banyaknya pejalan kaki disekitarnya.

"mau kemana dia?" heran Yuta

Kini Hansol dan Yuta berada dipersimpangan jalan berdiri di tengah-tengah kerumunan menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.

"Hansol hyung" Yuta menoleh kearah seseorang yang berada disampingnya melambaikan tangan kepada Hansol yang berada disebrang sana.

'apakah Ia ingin bertemu dengan orang ini?' batinnya.

Lampu hijau menyala menandakan penyebrang jalan untuk bisa menyebrang dengan aman, Hansol mengambil langkahnya menyebrangi jalan, tapi tidak dengan orang disamping Yuta ini, Ia terlihat menunggu Hansol menghampirinya, 'benar, dia ingin bertemu dengan orang ini' Yuta mengambil jarak, berjalan beberapa langkah menjauhi orang tersebut.

"bagaimana kabarmu?" Hansol menyapa orang tersebut ketika Ia sudah berhadapan dengannya.

"baik hyung. Ayo kita ke kedai kopi favorite ku, bicara disana lebih enak"

"baiklah"

Hansol dan orang itu berjalan menuju kedai kopi yang dimaksud, sementara Yuta masih menunggu di persimpangan jalan, menunggu kedua orang itu berjalan jauh darinya untuk menjaga jarak aman, setelah dirasa sudah jauh Yuta kembali mengikuti kedua orang tersebut.

Hansol dan orang yang memanggilnya hyung itu memasuki salah satu kedai kopi dan duduk disana ditemani dua cangkir kopi yang mereka pesan, saling mengobrol dan terlihat sedikit akrab. terkadang percakapan mereka terlihat sangat serius terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka, bahkan Hansol sesekali memajukan tubuhnya, membisikkan sesuatu kepada lawan bicaranya agar orang yang berada disekitarnya tidak mendengar.

Yuta yang memperhatikan dari luar mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera, lalu mengambil beberapa gambar kedua orang tersebut.

"dia siapa sih?" tanya nya heran.

.

.

.

Renjun kini sedang berdiri disamping mejanya dan Jeno, kelasnya kosong karena sekarang adalah jadwal olahraga dan itu artinya teman-temannya sedang berada dilapangan, bahkan Renjun sekarang mengenakan seragam olahraganya, lalu mengapa dia disini?

Dengan alasan sakitnya Renjun minta ijin kepada guru olahraganya dan meninggalkan lapangan, kembali ke kelasnya dan disnilah Ia sekarang, berdiri disamping mejanya dengan perasaan was-was.

Ia mengatupkan kedua tangannya dan meletakannya didepan dada sembari berdoa

"Tuhan, aku bukanlah seorang pencuri, aku hanya akan meminjamnya, aku akan mengembalikannya jika bisa atau aku akan mengatakan kepadanya nanti jika aku yang mengambilnya, aku hanya ingin membantu hyungku maka ampunilah aku ya Tuhan"

Usai berdoa dan menyebut kata Amin, Renjun meraih ransel Jeno mencari buku gambar yang selalu dibawanya, membuka halaman demi halaman mencari gambar yang dimaksud. Setelah ketemu, dengan tangan gemetar Ia merobek halaman tersebut, melihat kesekelilingnya memastikan tak ada yang melihatnya. Menutup buku gambar itu dan kembali meletakannya ke dalam tas Jeno.

"maafkan aku Jeno, aku akan mengatakan pada hyung nanti untuk mengembalikan gambarnya setelah pekerjaannya selsai" ucapnya sambil menatap meja kosong yang diujungnya tertempel nama 'Jeno'

Renjun berjalan ke luar sekolah menghampiri hyungnya, Doyoung. Ia mengetuk kaca mobil Doyoung.

Doyoung membuka kaca mobilnya "Renjun? Kenapa kau kesini? Bukankah ini belum waktunya jam pulang?" tanya Doyoung heran.

"ini hyung" Renjun menyerahkan selembar kertas kepada Doyoung.

"apa ini?" Doyoung menerima lembar kertas tersebut dan memperhatikannya "astaga, kau melakukannya? Kau mengambilnya? Bagaimana bisa?"

"hyung katakan padaku bahwa aku bukanlah seorang pencuri, kaukan seorang polisi" Renjun berucap pelan sambil tertunduk.

Melihat itu Doyoung membuka pintu mobilnya turun dari mobil tersebut dan berdiri dihadapan adiknya itu.

"kau bukan pencuri Renjun, kau hanya meminjamnya, aku akan mengembalikannya nanti setelah aku selsai, aku berjanji. Terimakasih yah kau sudah bekerja keras" Doyoung mengacak rambut Renjun dan memberikan senyumannya.

"benar yah, kau janji akan mengembalikannya?"

Doyoung mengangguk "ya aku janji, sudah sana kembali ke kelas, gomawo adikku yang yang manis" Doyoung mencubit kedua pipi Renjun.

"hyuuuung...sakit tau" Renjun mengelus pipinya yang dengan seenaknya dicubit oleh hyungnya itu sambil mempout kan bibirnya.

.

Setelah bertemu dengan hyungnya tadi Renjun kembali ke kelasnya, masih ada sekitar lima belas menit sampai jam pelajaran olahraga selsai, itu tandanya kelasnya pasti masih kosong.

Ia berjalan sepanjang koridor mengambil jalan yang tak terlihat langsung dari lapangan agar teman-temannya tak melihatnya dan ketauan berbohong bahwa dirinya berada di kelas karena tidak enak badan.

"Renjun" seseorang memanggil Renjun, membuat Renjun sedikit terkejut dan menoleh kebelakang.

"Mark?"

"apa yang kau lakukan tadi? Katanya kau sakit, aku melihatmu, melihat apa yang kau lakukan dikelas tadi, bisa kau jelaskan padaku?" Mark menghampiri Renjun yang berdiri tegang didepannya.

Renjun panik, menghindari tatapan mata Mark yang ada didepannya yang perlahan berjalan mendekatinya.

'ya tuhan, bagaimana ini?'

-TBC-


Annyeonghaseyo~

Star kembali. akhirnya...akhirnya setelah sekian lama, akirnya ff ini bisa di update juga. sejujurnya tadi nya aku mau menghapus ff gak jelas ini tapi berhubung ini ff pertama aku, jadi gak jadi deh. kalo diliat, lumayan banyak yang baca ff ini walaupun reviewnya sedikit, tapi gpp aku bukan author yang akan memaksa para reader untuk memberikan reviewnya. dengan dilanjutkannya ff ini berarti aku menghargai para readers yang membaca atau mungkin menunggu dan dengan diberikannya review berarti readers yang memberikan reviewnya itu menghargai tulisanku, terimaksih saranghae~ aku pgn cepet cepet nyelsain ff ini untuk project berikutnya, semoga ff yang berikutnya akan lebih baik lagi dari ini, karena yang satu ini masih tahap belajar jadi maklumlah kalau aneh hehehe. sekian dari Star, selamat membaca Annyeong~

-100BrightStars-