Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. Ficlet.
Words : 1.751
Knot.
By VikaKyura.
- Dusk -
"Aku pu-"
"Selamat datang."
Belum juga melangkahkan kaki untuk memasuki rumah, ucapan Sasuke keburu dipotong oleh sambutan adiknya. Kini Ino sedang berdiri di ambang pintu dengan senyuman super manis terpatri di mulutnya.
Sasuke menaikkan alis.
"Selamat datang, nii-chan." Ino mengulang. "Sini kubawakan tasmu." Gadis itu meraih tas yang sedang ditenteng lelaki itu.
"Kau mau minum kopi?" tanya si gadis, sudah mengerti kebiasaan sang kakak.
Sasuke hanya mengangguk sambil tetap menatap adiknya datar.
Ino tersenyum. "Kalau begitu, kau duduk saja di sofa. Biar kubuatkan kopi favoritmu." Gadis itu mendorong tubuh Sasuke sampai ke ruang tengah.
Sang kakak hanya mengikuti dalam bengong. Jarang sekali si adik sengaja menyambutnya begini. Apalagi dengan bersikap manis seperti demikian. Sasuke menatap gadis itu curiga. Pasti ada sesuatu yang sedang direncanakannya.
Beberapa menit berlalu.
Ino memandangi Sasuke yang kini sedang menyeruput cangkirnya untuk mencicipi rasa kopi yang tadi dibuatkan adiknya. Dilihatnya, kini lelaki itu mulai mengecap-kecapkan mulutnya.
"Bagaimana?" tanya si gadis harap-harap cemas.
Sasuke menyimpan kembali cangkir itu di meja. "Lumayan." Timpalnya datar.
Ino menggembungkan pipinya. Hanya lumayan, eh? Padahal ia sudah membuat kopi itu sesuai dengan tutorial ala barista profesional yang diunggah di media sosial. Tapi beda tangan pasti beda rasa, memang. Ia tidak bisa jadi pro hanya dalam semalam. Apalagi Ino memang amatiran. Ia tak begitu suka minum kopi.
Tetapi si gadis menelan kejengkelannya hanya dalam hati, alih-alih masih memasang tampang manis.
"Biar kuambilkan camilan." Ujar Ino, segera beranjak dan berjalan menuju meja kabinet dapur.
Sigh.
Ino mendesah dalam. Ia hanya menatap hambar kaleng camilan, sama sekali tak ada niatan untuk merogoh isinya. Manik birunya digeser untuk memandang dua lembar kertas yang sedang dijepit di bawah kaleng tersebut.
Jadi kapan waktu yang tepat untuk membicarakan ini, eh? Ino bertambah gusar.
Sementara Sasuke masih memandang sosok gadis yang sedang memunggunginya itu. Benar-benar aneh, kelakuan si adik sore ini. Pasti gadis itu sedang ada maunya.
"Ino."
Yang dipanggil melonjak. Gadis itu membalik badan. Kini ia mendapati Sasuke sudah berdiri di depannya. Refleks, Ino segera menyembunyikan lembaran tadi di belakang punggungnya.
Tetapi Sasuke terlanjur menyadari. Ia menyimpan cangkir kosong ke atas meja kabinet, sambil melongok ke arah si gadis. "Apa itu?" tanyanya.
"Hm?" Ino pura-pura tidak tahu.
"Kertas apa itu yang sedang kau sembunyikan di belakang punggungmu?" ulang Sasuke.
Ah. Sasuke memang jeli sekali.
"Ini . ."
Ino menelan ludah. Menimbang-nimbang sejenak, sebaiknya ia menunjukkan kertas itu atau tidak. Akhirnya si gadis menghela nafas menyerah. Ia tidak akan pernah bisa menyembunyikan apa pun dari sang kakak jika lelaki itu sudah terlanjur penasaran. Maka ditariknya lembaran tersebut.
"Ini selebaran info untuk field trip." Ungkap Ino, menyodorkan dua kertas yang sudah rikes tersebut. "Aku perlu izin kakak supaya bisa ikut."
Sasuke mengerutkan dahi. Diambilnya kertas tersebut lalu dicermati. "Ini untuk tambahan nilai kuliahmu?"
"Ya." Ino mengangguk.
Sasuke merengut. "Kertas ini terakhir dikumpulkan besok." Ujarnya, melihat tanggal yang tertera di sana.
Ino menggigit bibir bawahnya. Ia mengangguk lagi.
Sasuke kembali mendongak. "Lantas, kenapa kau malah menyimpannya, meremasnya, dan tidak segera menunjukkannya padaku?" ia mengangkat kertas yang sudah tampak lecek itu.
"Err, aku fikir kau tidak akan mengizinkan." duga Ino. "Jadi kusimpan saja. Pernah juga kucoba buang ke tempat sampah. Tapi kuambil lagi karena butuh." Ia mengaku.
Sasuke merengut lagi. "Kenapa tidak kuizinkan?"
Ino mengedikkan bahu. "Karena tempatnya di luar kota dan harus menginap. Firasatku, nii-chan akan melarang."
Tentu saja Ino mengatakannya bukan tanpa alasan. Kakaknya yang super protektif itu bahkan melarangnya untuk keluar malam tempo hari. Apalagi ini.
Sasuke menimbang sejenak. "Jika ini kepentingan kuliah, aku tidak akan melarang." Ujarnya. Tapi kentara setengah hati.
Sontak Ino melebarkan mata. "Jadi?" tanyanya, tiba-tiba bersemangat. "Aku boleh ikut?"
"Hn." sang kakak bergumam. "Tapi kau harus janji untuk selalu berada dalam pantauan dosenmu."
Ino segera membuka mulutnya untuk membentuk seringaian lebar. "Serius?"
Sasuke mengangguk. "Asal kau tidak keluyuran malam dan tidak lupa untuk selalu menghubungik-"
"Yattaaa!" gadis itu bersorak.
Ino segera melangkah ke depan dan mengalungkan kedua lengannya di leher sang kakak. Merengkuh Sasuke ke dalam pelukannya. "Kenapa sore ini kau baik sekali~?" senandungnya.
Lalu Ino kembali menegakkan diri. Ditatapnya Sasuke lekat-lekat dengan mata berbinar. Kemudian ia mulai menangkup kedua belah rahang sang kakak.
"Aw, kalau begini kan ketampananmu jadi naik lima tingkat!" puji gadis itu, masih menyeringai.
Sasuke hanya menaikkan alis sambil memandang gadis itu datar. Kalau sedang ada maunya saja . . ia sampai dipuji-puji.
"Aku tak akan pernah melupakan kebaikanmu ini seumur hidup." Ucap gadis itu.
Agak lebay memang, karena Ino terlampau senang. Tapi mau bagaimana lagi, ini pertama kalinya Sasuke mengizinkan sesuatu yang Ino minta -meski dengan berat hati- tanpa perlu ada perdebatan dulu. Barangkali, Sasuke merasa bersalah atas larangannya tempo hari. Jadi ini dianggapnya sebagai penebusan, eh? Entahlah.
Sasuke hanya mengangguk-angguk malas.
Ino terkekeh. "Aaah aku mencintaimu onii-chan~~" Ujarnya manja. "Sini kucium,"
Lalu gadis itu berjinjit.
Cup. Ia mulai mendaratkan sebuah kecupan singkat di sebelah pipi Sasuke.
Cup. Tak lupa dengan sebelah pipi Sasuke yang lain. Lalu . .
Mu~~aaachhh. Ino menekankan bibirnya pada mulut Sasuke.
Setelah lumayan lama, gadis itu menarik lagi wajahnya. Dan segera memandang Sasuke yang kini . . sedang tampak tercengang menatapnya?
" . . . "
Ino mengerjap sekali.
Lalu sesaat kemudian, sebuah senyum super manis bertengger di mulutnya. "Hehe. Terimakasih ya, nii-chan." Ucap Ino senang.
Sasuke hanya berkedip dua kali, menatap senyum cerah sang adik. Lalu lelaki itu mengangkat kaku satu tangannya untuk mengelus puncak kepala Ino. "Kau tak perlu sesenang itu. Seperti tak pernah diberi izin olehku saja." Imbuhnya, berusaha terdengar datar.
Ino mendenguskan tawa. "Memang begitu kenyataannya kan?"
Sekali lagi Ino melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu. "Pokoknya terimakasih," gumamnya. "Kakak sudah tidak bisa menarik izin ini lagi ya."
Setelah memberi lelaki itu pelukan singkat, si gadis segera meraih kembali kertasnya sebelum kemudian berlari-lari ceria untuk memasuki kamar.
Ia sempat memberikan kiss bye pada kakak tercintanya, lalu bersorak lagi. "Yeaayyy~"
Sementara Sasuke, masih berdiri tertegun di pojokan ruang tengah. Hanya memandangi gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.
.
.
Blam.
Ino segera merapatkan punggungnya pada daun pintu yang telah tertutup rapat.
WHAT THE ****!
Sedetik selanjutnya, gadis itu ambruk lemas ke atas lantai. Manik birunya dipejamkan rapat. Ekspresi cerianya berubah menjadi horor. Ino membenamkan wajah ayunya di kedua telapak tangannya. Dadanya berdetak riuh. Nafasnya mendadak berat.
Astaga. Astaga. ASTAGA!
Apa yang sudah ia lakukan barusan? Safir birunya mengerjap-kerjap lebar. Karena terlalu terbawa suasana . . . Tadi ia . .
Tadi Ino sampai kelepasan mencium bibir kakaknya!
Arrrrggghh.
Ino meremas kedua sisi kepalanya. Lalu turun untuk menangkup dadanya.
Hal bodoh apa yang barusan ia lakukan? Ino sungguh khilap. Ia menjitaki dahinya saat mereka-ulang kejadian tadi.
Bagaimana Ini? Gadis itu panik. Ia menggigit-gigit kukunya. Tadi Ino tidak sedang mencuri-curi kesempatan. Benaran deh. Ia memang betul-betul kelepasan.
Ino just can't help it. Sasuke yang biasanya kelewat protektif dan otoriter itu, benar-benar mengizinkannya pergi. Meski kentara sekali ia mengizinkan dengan berat hati. Fufu. Gemas kan. Jadi ingin Ino cium rasanya.
Ukh, gadis itu menepuk pipinya. Ia mendesah lemah.
Tapi, wajah tercengang Sasuke sesaat setelah ia cium tadi . . terbersit lagi di benaknya. Gadis itu langsung tersungkur dengan dahi ditempel pada lutut.
Bodohnya. Ino menjeduk-jedukan dahinya itu.
Secinta-cintanya ia pada sang kakak, seharusnya Ino lebih bisa menahan diri. Bagaimana pun, mereka masih berstatus saudara.
Tapi . . tapi . . tapi . . Omong-omong bibir kakaknya itu terasa lembut dan hangat sekali. Ino terlena, pipinya sampai merona.
Harum khas kopi yang masih tertinggal di mulut lelaki itu . . Rasa kopi yang masih menempel di bibirnya . . Ino tak pernah tahu bahwa minuman keruh itu bisa terasa selezat ini bila dicicipi lewat mulut kakaknya. Rasanya jadi ingin . . melumat-lumat bibir Sasuke saja.
Hn?
AARRGH! Ino bangkit berdiri sekaligus.
Ia mengacak-acak rambutnya. Hal nista apa yang ia fikirkan barusan?!
Ino sudah tidak tahu lagi apakah ia harus merutuk atau malah kesenangan atas kelakuannya itu. Ia sedang dirugikan sekaligus diuntungkan oleh kekhilapannya tersebut.
Apakah sekarang Sasuke akan menganggapnya sebagai adik mesum? Apa Ino akan dipecat sebagai adik?
Ino menggeretakkan gigi-giginya.
Apa setelah ini sang kakak akan ilfil padanya? Ino meringis sambil menangkup mulut.
Namun sedetik kemudian, satu tangannya mengkacak pinggang. Tangan yang lain masih diangkat untuk meremas puncak kepalanya.
Ino menggeleng. Tidak, tidak. Kakaknya yang so cool itu tidak akan berpikiran demikian. Batinnya berusaha menyangkal.
Ino mengakui ini memang bukan pertama kalinya mereka berciuman di bibir. Gadis itu merona lagi.
Tapi terakhir kali mereka melakukan itu . . sudah lama sekali. Saat ia SD? Atau awal-awal SMP, barangkali? Ino tidak ingat, yang jelas ketika dirinya masih bocah ingusan. Sebagai ungkapan rasa sayang kakak-adik saja. Wajar kan? Errgh, entahlah.
Tapi kini, mereka sudah sama-sama dewasa . . Rasanya Ino tidak bisa memikirkan alasan apa pun lagi jika sampai Sasuke bertanya mengapa ia melakukan hal itu.
Tidak, tidak. Ino kembali menggeleng. Kakaknya tidak akan bertanya. Pasti yang tadi tidak akan dihitung.
Anggap saja ciuman seperti tadi memang wajar dilakukan sebagai ungkapan rasa sayang antar saudara. Tapi . . Ino menepuk jidatnya. Apa sepasang saudara yang sudah beranjak dewasa begini masih melakukannya? Lagipula, Ino bahkan sangsi interaksi seintim itu akan dilakukan oleh dua orang yang bersaudara kandung.
Ino mendesah dalam. Ia kembali menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Nafasnya masih menderu. Padahal ciuman tadi . . hanya sebatas tempelan singkat di bibir saja. Bahkan lelaki dewasa seperti Sasuke mungkin tak akan menganggapnya.
Tapi hanya begitu saja . . Ino sudah dibuat sebegitu uring-uringannya. Apalagi kalau ciuman betulan. Gadis itu menepuk-nepuk mukanya. Ternyata luarannya saja yang tampak nakal. Dari dalam, Ino masih bocah.
Hhhhh.
Si gadis mendongak untuk menatap datar langit-langit kamarnya, mencoba menenangkan hati.
Ah, ternyata ia memang benar-benar menyukai kakaknya . .
"Ino?"
Si gadis melonjak ketika mendengar panggilan itu dari arah luar. Benar-benar melonjak kaget. Rupanya Sasuke sedang mengetuk pintunya sekarang.
"Y-ya?" Ino segera menjawab.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sasuke.
Ino meringis. Sekarang ia sedang merutuk, karena sudah kelepasan mencium kakaknya sendiri. Tapi tidak mungkin ia bilang begitu.
Karena tidak mendapat jawaban, Sasuke berkata lagi. "Ayo mulai menyiapkan makan malam."
Hm . . Ino menghela nafas berat. Sejenak kemudian, gadis itu mulai bergeleng-geleng. Ah entahlah. Jika Sasuke sampai tahu tentang perasaannya . . Itu malah bagus bukan? Dalam dua detik, Ino memutuskan untuk bersikap polos sambil memasang wajah tanpa dosa saja. Tubuhnya sudah berhenti gemetaran. Ia melengkungkan senyum riang seperti sebelumnya.
Aktingnya patut diacungi jempol.
"Ya, aku keluar." Ucapnya, akhirnya membuka pintu.
Keduanya saling berpandangan sebentar.
"Jadi, kakak mau makan apa?" tanya Ino, mulai melangkah menuju dapur.
Sasuke mengikuti disampingnya. "Apapun yang kau masak pasti kumakan." Sahut lelaki itu.
Ino terkekeh. "Selalu saja jawaban itu."
Lalu keduanya melakukan aktivitas sore seperti biasa. Menghabiskan senja mereka dengan menyantap makan malam yang menyenangkan.
Hanya berdua saja.
-TBC-
Kakak adik rasa pacaran? Emaaang~ lol
Perasaan Sasuke ke Ino hanya sebatas kakak ke adek? Mereka terjebak dalam status brotherhood? Jawabannya . . ada di chapter2 selanjutnya, silahkan dibaca saja XD
Vika juga berharap sasuino real, tapi . . yasudahlah yah cuma bisa nelen ludah~
Oya perhatian, disini Ino manja gemesin cuma ke kakaknya aja XD
Makasih buat support/fav/alert/reviewnya.
Updated : 28.12.2016
