Gloomy
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Jeno
- Taeyong
- Hansol
- Doyoung
- Yuta
- Ten
- Taeil
- Renjun
Part 7
Renjun dan Mark kini duduk berhadapan dikantin sekolah yang masih sepi karena jam pelajaran masih berlangsung, hanya ada mereka berdua yang duduk di kantin tersebut. Renjun duduk tertunduk dengan kakinya yang terus bergerak, tangannya juga saling bertautan, Ia benar-benar panik sepertinya, baru saja tertangkap basah oleh Mark dengan apa yang baru saja dilakukannya.
"Renjun, aku butuh penjelasanmu, apa yang baru saja kau lakukan?" Mark membuka suaranya.
"memangnya apa yang kau lihat?" masih dengan menundukkan wajahnya Renjun membalas pertanyaan Mark dengan balik bertanya padanya.
"perlukah aku jelaskan? Aku melihatmu berada dikelas tadi membuka tas Jeno dan mengambil sesuatu disana, apa masih belum jelas?"
Renjun diam, keringat dingin mulai mengalir didahinya. Ia bingung harus mengatakan apa kepada Mark, dari semua orang yang ada di sekolah ini, kenapa harus Mark, teman baik Jeno yang memergokinya? Ia bahkan akan merasa lebih baik jika guru saja yang memergokinya daripada salah satu dari ketiga teman baik Jeno.
"Mark, bisakah kau merahasiakan ini?" ucap Renjun pelan "maafkan aku, tapi aku tidak bisa memberi penjelasan lebih padamu, anggaplah kau melihatku mencuri, tapi kumohon jangan tanya padaku apa alasannya" Renjun menatap Mark sekilas kemudian kembali tertunduk.
Mark mengerutkan keningnya mendengar perkataan Renjun tadi, Ia menghembuskan napasnya kemudian mengatupkan kedua tangannya dan menaruhnya didepan dada 'Tuhan, aku bukanlah seorang pencuri, aku hanya akan meminjamnya, aku akan mengembalikannya jika bisa atau aku akan mengatakan kepadanya nanti jika aku yang mengambilnya, aku hanya ingin membantu hyungku maka ampunilah aku ya Tuhan' Ia meniru apa yang dilakukan Renjun saat berdoa dikelas sesaat sebelum 'mencuri'
Renjun mengangkat kepalanya melihat Mark dengan pose berdoanya dan menatapnya bingung.
"apakah itu yang seorang pencuri lakukan sebelum melakukan pencurian?"
"huh?"
Mark tersenyum kepada Renjun "tadinya aku ke kelas untuk mengambil botol minumku yang tertinggal dan kemudian aku melihatmu, aku sempat kaget saat melihat apa yang kau lakukan tadi, aku bahkan bingung apa yang harus kulakukan, apakah menghentikanmu atau membiarkanmu? tapi melihatmu berdoa tadi aku jadi lucu sendiri, mana mungkin ada seorang pencuri yang berdoa sebelum melakukan pencurian hahaha" Ia tertawa dan membuat Renjun semakin menatapnya bingung.
"akhirnya aku membiarkanmu, aku membiarkanmu melakukannya karena sejujurnya aku penasaran juga kenapa kau melakukan itu? Aku melihat setiap gerak-gerikmu bahkan mengikutimu sampai kau bertemu seseorang diluar sekolah tadi, apakah itu hyungmu?"
Renjun mengangguk menjawab pertanyaan Mark.
"apa maksud dari 'aku hanya ingin membantu hyungku' dalam doamu itu?"
"maaf Mark tapi aku tidak bisa mengatakannya" ucap Renjun pelan, Ia ingat hyungnya pernah mengatakan untuk tidak boleh mengatakan apapun kepada teman-temannya.
"baiklah aku tak akan bertanya lebih jauh lagi"
"Mark, bisakah kau merahasiakannya? Aku tau suatu saat nanti Jeno pasti akan tau, tapi biarkan dia tau itu dari mulutku sendiri"
Mark tersenyum dan kemudian mengangguk
"benarkah?" ucap Renjun senang
"apapun alasannya mencuri bukanlah sesuatu yang baik, tapi ya aku akan merahasiakannya, aku tau kau pasti punya alasan tersendiri kenapa kau melakukannya, tenang saja dari awal juga aku tak berniat untuk melaporkanmu, aku hanya ingin tau alasan dibalik kau melakukan ini, namun melihat kau tidak ingin menjawabnya jadi ya sudahlah"
"maafkan aku Mark"
Mark menepuk bahu Renjun pelan "tak perlu minta maaf padaku, maaf itu seharusnya kau ucapkan kepada Jeno, aku tidak berjanji akan membantumu nanti jika dia tau"
"aku tau, dan aku sudah bersiap menghadapinya jika itu terjadi, terimakasih Mark, kau mau merahasiakannya untukku"
"tenang saja aku tak akan memberitau kepada siapapun termasuk Jaemin dan Haechan, perlukah kita melakukan pinky swear agar kau yakin?" Mark mengangkat jari kelingkingnya.
"aku cukup percaya padamu Mark, tapi sepertinya pinky swear terlalu girly untuk kita" ucap Renjun ragu yang kemudian disambut tawa oleh Mark.
.
.
.
Taeil duduk dimeja kerjanya yang penuh dengan tumpukan berkas, sesekali berdiri dan berjalan ke arah papan kaca, menulis kronologi kejadian beradasarkan prediksinya, kemudian kembali kemejanya lagi, membaca berkas lagi, menulis di papan kaca lagi, begitu terus sampai Ia rasa kronologi yang Ia buat masuk akal. Ia menghembuskan napasnya lelah dan memijat pelan kepalanya, benar-benar lelah. Mungkin Ia menyuruh anggotanya untuk kerja di lapangan, ini bukan berarti Ia bersantai di kantor, Ia terkadang pergi keluar berusaha mencari bukti, mencari saksi mata, bahkan berkali-kali pergi ke lingkungan rumah Johnny memeriksa semua cctv yang ada dilingkungan tersebut, namun hasilnya masih nihil.
"sedang apa hyung?" suara seseorang berhasil menyadarkan Taeil dari fokusnya di papan tulis yang penuh dengan tulisannya.
"Yuta, kenapa kau disini? seharusnya kau dan Ten sedang bertugas bukan?"
"aku sudah selsai bertugas, aku mengikuti kemaaaaaaaana pun Johnny dan Hansol pergi" ucap Yuta dengan berlebihannya, Ia bahkan merentangkan tangannya lebar-lebar saat mengucapkan kata 'kemana'.
"itu kan sudah tugasmu bodoh, dan sekarang kau membiarkan Ten sendiri?"
"hmm.." angguk Yuta santai
"ck..tega sekali"
Yuta teringat tujuan awalnya kembali ke kantor saat ini, Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka galery ponsel tersebut "hyung apa kau tau orang ini? Sepertinya Ia sangat dekat dengan Hansol. Mungkin saja kan Johnny dan kedua anaknya juga mengenal orang ini" Yuta menunjukkan ponselnya kepada Taeil memperlihatkan hasil foto yang Ia ambil di kedai kopi. Foto Hansol dan seseorang yang ditemuinya.
Taeil memperhatikan foto itu dengan seksama bahkan melakukan zoom untuk memperjelasnya.
"aku tidak tau, selama aku menyelidiki kasus ini aku belum pernah melihat dirinya di daftar relasi keluarga Seo itu, mungkinkah bodyguardnya?"
Taeil mengambil salah satu map yang ada dimejanya, yang berisikan data-data bodyguard yang dulu pernah bekerja dirumah Johnny. Ia membuka halamannya satu persatu sambil membandingkan foto yang ada di ponsel Yuta dengan foto-foto orang yang ada di map itu.
"tidak ada, dia bukan bodyguard disana" ucapnya setelah membuka data terakhir.
"lalu siapa?" tanya Yuta heran, Ia mengambil ponselnya dari tangan Taeil dan memperhatikan foto itu sekali lagi "saudara Hansol kah?"
"entahlah" Taeil mengangkat kedua bahunya kemudian kembali berdiri didepan papan kaca memperhatikan hasil tulisannya lagi "cari tau saja jika kau penasaran" ucapnya pada Yuta tanpa mengalihkan perhatiannya.
"untuk apa aku mencari tau, kalau ternyata orang ini tidak ada hubungannya dengan kasus ini percuma saja"
"itu dia fungsinya bodoh" Taeil memukul kepala Yuta dengan seenaknya menggunakan spidol yang ada di tangannya yang disambut rintihan oleh sang empunya "kau mencari tau untuk mengetahui orang itu ada hubungannya dengan kasus ini atau tidak"
"baiklah baiklah, aku mengerti" ucap Yuta sambil mengelus kepalanya yang baru saja jadi korban spidolnya Taeil.
.
.
.
Sekarang adalah jam istirahat sekolah, seperti biasa, Jeno akan menghabiskan waktu istirahatnya di basecamp nya alias atap sekolah, ditemani bekal dan juga buku gambarnya. Memasang earphone ditelinganya dan mendengarkan musik, sambil menikmati bekalnya.
PING!
Ponsel Jeno berbunyi menandakan ada pesan masuk
From: Appa
'Jeno, lihat apa yang Appa beli, buku yang kau perebutkan dengan Hyungmu itu, Appa sudah membelikannya untukmu jadi jangan berebut lagi dan jangan cemberut lagi kalau melihat Appa, jangan ngambek lagi oke, Appa jadi tidak bisa melihat eyesmile mu jika kau cemberut terus, saranghae~'
Jeno tersenyum melihat pesan dari Appa nya itu, disertai dengan foto selfie Johnny –Appa nya- sambil memegang buku novel yang dimaksud.
To: Appa
'gomawo Appa, saranghae~'
Setelah membalas pesan Appa nya, Jeno meraih buku gambar dan pensilnya, membukanya mencari halaman yang masih kosong, ingatkan Jeno untuk meminta Jaehyun menemaninya membeli buku gambar baru karena buku gambarnya ini sudah hampir penuh. Jeno mengerutkan keningnya setelah menemukan sesuatu yang janggal dari buku gambarnya ini.
"dimana gambar orang itu?" Jeno kembali membuka halaman buku gambarnya satu persatu, bahkan Ia memastikan setiap halaman tidak menempel satu sama lain. Membukanya sekali lagi dan masih tak menemukan gambar yang Ia maksud.
Jeno melepaskan earphonenya dari telinganya, mencabut earphone tersebut dari ponselnya, Ia kemudian menekan speed dial angka 2 yang langsung menghubungkannya dengan Hyung nya.
'halo'
"Jaehyun hyung, apa kau melihat gambarku?" tanpa membalas sapaan 'halo' dari Hyung nya, Jeno langsung bertanya kepada Jaehyun.
'gambar? Gambar yang mana? Yang ada dibuku gambarmu itu?'
"iya, gambar orang itu gambar itu tak ada, apa kau mengambilnya?"
'tidak aku tidak mengambilnya, bahkan aku tak menyentuh buku gambarmu dari kemarin, kenapa gambarnya bisa tidak ada?'
"aku juga tidak tau Hyung"
'dengar Jeno, kau tidak boleh kehilangan gambar itu, carilah dengan baik, jangan sampai ada orang lain yang melihat, kau mengerti? Nanti sampai rumah aku akan mencari, siapa tau aja kau lupa' Jeno bisa mendengar suara Hyung nya yang berubah jadi tegas saat mengatakan hal itu, Ia menunduk masih dengan ponsel ditelinganya.
"baiklah Hyung aku akan mencarinya" ucap Jeno lesu, kemudian memutuskan sambungannya dengan Hyung nya.
Ia berpikir dengan sejenak, mengingat-ingat kapan terkhir Ia menyentuh buku gambarnya dan siapa saja yang melihatnya. Sambil membolak balik halaman buku gambar itu, Jeno terus berpikir, Ia tidak mau sampai rumah nanti dimarahi Appa nya atau Hyung nya jika masih tidak menemukan gambar itu. Sebenarnya Appa dan Hyung nya masing-masing memiliki salinan dari gambarnya itu tapi jika gambarnya hilang pasti mereka berdua akan mengintrogasi Jeno nanti dirumah.
"mungkinkah?" seketika Jeno menutup buku gambarnya teringat akan sesuatu "Renjun? Mungkinkah dia? Tidak mungkin, Ia bukan orang seperti itu"
Ia berdiri berjalan mondar mandir ditempatnya sambil menggigit kuku nya, berpikir ulang, seingatnya orang yang pernah menyentuh buku gambarnya itu hanya Appa nya, Hyung nya, dan juga Renjun. Ia belum pernah menunjukkan buku gambarnya kepada orang lain bahkan ketiga temannya Mark, Jaemin dan Haechan, Hansol saja tidak pernah menyentuh buku gambar Jeno. Ya, cuma Renjun orang lain yang pernah menyentuh buku gambarnya itu.
"tidak, tidak mungkin dia, tidak mungkin" Jeno menggelengkan kepalanya.
Jeno berjalan kearah pintu keluar atap sekolahnya, meninggalkan buku gambar serta kotak bekalnya disana, bahkan ponselnya juga Ia tinggalkan. Berjalan kearah kelas mencari seseorang, karena tidak menemukannya, Ia berjalan kearah kantin, tempat yang selama ini sangat Ia benci karena terlalu ramai dan berisik. Mengedarkan pandangannya dan, ketemu, orang yang dicarinya sedang duduk disana bersama ketiga temannya. Jeno berjalan menghampiri meja yang diduduki empat orang itu. Jeno disambut oleh pandangan heran dari Mark, Jaemin dan Haechan ketika Ia sampai karena ini pertama kalinya Jeno mau menginjakkan kakinya di kantin, sementara Renjun menatapnya dengan takut-takut.
"hey Jeno, wah tumben banget mau kesini ayo duduk" Haechan menyapa Jeno, bahkan Ia menggeser dirinya menyediakan tempat untuk Jeno duduk.
"Renjun bisakah kita bicara?" Jeno dengan teganya mengabaikan Haechan, matanya tertuju langsung kepada Renjun.
"bicara apa?" tanya Renjun pelan, sejujurnya tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin saat melihat Jeno datang tadi.
"tidak disini" Jeno dengan seenaknya menarik paksa tangan Renjun dan menyeretnya keluar dari tempat duduknya.
"tunggu, tapi Renjun belum selsai makan" Mark yang sedaritadi memperhatikan Jeno dan Renjun dengan was-was seketika menahan tangan Renjun berusaha menariknya kembali untuk duduk ditempatnya lagi.
Jeno berbalik, memisahkan tangan Mark dan Renjun dengan paksa, bahkan menatap Mark tidak suka. Tanpa mengatakan apapun Jeno kembali menarik Renjun keluar dari kantin. Renjun sempat menoleh kearah Mark dengan tatapan sendunya.
"dia itu kenapa? Mengerikan sekali" Jaemin yang daritadi hanya diam akhirnya membuka suaranya.
"entah, aku juga baru pertama kali melihatnya seperti itu" jawab Haechan.
Sementara Mark, satu-satunya yang mengetahui masalah, kembali duduk ditempatnya tanpa mengatakan apapun, sebenarnya Ia sedikit terkejut juga mendapatkan tatapan seperti itu dari Jeno, ini pertama kalinya Ia melihat Jeno dengan tatapan seperti itu dan menurutnya itu sangat menakutkan. Ia hanya berharap Renjun baik-baik saja, Ia sudah mengatakan kepada Renjun dari awal jika Ia tidak bisa membantunya ketika Jeno tau nanti.
.
.
.
Jeno dan Renjun berdiri berhadapan diatap sekolah, Renjun terus menunduk, Ia tidak ingin dan tidak berani menatap Jeno saat ini.
"kau tau ini kan, Renjun?" Jeno mengangkat buku gambarnya yang berada ditangan kanannya.
Renjun melihatnya dan mengangguk, menjawab pertanyaan Jeno dengan diam.
"kau tau, ada halaman yang hilang di buku gambarku, dan seberapa kerasnya aku mencari aku tidak bisa menemukan satu gambar yang seharunya ada di buku ini" Jeno membuka halamannya satu persatu dihadapan Renjun.
"aku heran kenapa hanya gambar itu yang hilang, bukan buku ini, kau mengerti maksudku?"
Renjun lagi-lagi menjawab pertanya Jeno dengan diam, Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"itu artinya ada yang dengan sengaja merobek salah satu halaman di buku ini, apa kau tau? selama ini hanya Hyung, Appa, dan kau yang pernah menyentuh buku ini"
"lalu?" Renjun bertanya pada Jeno tanpa menatap lawan bicaranya.
"apa kau yang merobeknya? kau yang mengambil gambarnya?" Jeno bertanya langsung kepada Renjun yang ada dihadapannya yang menundukkan kepalanya.
"apa kau baru saja menuduhku?"
"aku benci mengakui ini. Tapi, ya, aku menuduhmu, aku mencurigaimu, karena hanya kau, orang selain Hyung dan Appa yang pernah melihat dan menyentuh buku ini"
Renjun menelan ludahnya, Ia tidak tau harus mengatakan apa saat ini, jantungnya daritadi terus berdebar sangat kencang, serta keringat dingin yang terus membasahi telapak tangannya yang saling bertautan dibalik tubuhnya.
"Renjun jawab aku!" Jeno kehilangan kesabarannya, menunggu jawaban Renjun yang daritadi hanya diam tertunduk didepannya.
"aku tidak melakukannya"
"katakan sekali lagi!"
"aku tidak melakukannya"
"kau tidak berbohong kan?"
"tidak"
"kau berbohong, jika kau tidak berbohong seharusnya kau menatap lawan bicaramu"
Hening. Tidak ada suara lagi yang terdengar setelah itu baik dari mulut Jeno ataupun Renjun, hanya hembusan angin yang terdengar, membelai rambut kedua pemuda itu, dan membuat dasi yang dikenakan mereka sedikit berkibar.
"aku tanya padamu sekali lagi, apakah kau yang merobek gambar itu?" Jeno memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.
"aku…" Renjun memberanikan diri mengangkat kepalanya yang tertunduk kemudian menatap Jeno, hanya sebentar karena beberapa detik kemudian Ia tertunduk kembali "tidak melakukannya" jawabnya dengan pelan.
Ya Jeno benar, Renjun telah berbohong dan itulah alasannya kenapa Renjun tak berani menatap Jeno saat ini, bahkan sekarang Renjun hampir menangis, Ia merasa bersalah, Ia melakukan dua kesalahan kepada Jeno hari ini. Pertama, Ia mengambil gambar sketsa Jeno, dan yang kedua, Ia telah berbohong pada Jeno. Mungkin jika Renjun ada diposisi Jeno, Ia tidak akan memberikan maaf dengan mudah.
"aku tidak tau kau benar-benar merobeknya atau tidak, karena aku juga tidak memiliki bukti apapun, tapi satu yang harus kau kau tau, gambar itu sangat-sangat penting bagiku, Hyung ku, dan juga Appa ku. Maafkan aku tapi kau satu-satunya orang yang ku curigai, jika memang ternyata bukan kau pelakunya aku minta maaf karena sudah menuduhmu" Jeno berbalik berjalan menjauhi Renjun, mengambil kotak bekalnya, serta ponselnya yang tadi Ia tinggal, kemudian berjalan kearah pintu keluar.
Jeno meraih knop pintu, namun sebelum membuka pintu itu Jeno berbalik memandang Renjun yang masih terdiam ditempatnya "bisakah kau, kembali duduk di tempat asalmu? Karena aku ingin duduk sendiri lagi" setelah mengucapkan itu Jeno benar-benar keluar dan pergi meninggalkan Renjun sendirian.
Renjun menangis, ya dia menangis, meneteskan air matanya yang langsung dihapusnya dengan telapak tangannya "maafkan aku Jeno"
.
.
.
Suasana makan malam kediaman keluarga Seo hari ini sedikit terlihat tidak baik. Jika biasanya Johnny dan Jaehyun selalu menggoda sang maknae rumah alias Jeno, kali ini mereka hanya makan dalam diam, tidak ada percakapan apapun yang terjadi. Jeno bahkan terlihat hanya mengaduk-aduk makanannya, Hansol bisa menghitung berapa suapan yang masuk ke dalam mulut Jeno tadi, setelahnya piring itu diabaikan olehnya. Sementara Johnny dan Jaehyun makan seperti biasanya.
"Jeno, apa makanannya tidak enak? Kau mau dibuatkan sesuatu yang lain? Atau susu? Kau hanya makan tiga suap" Hansol memecahkan keheningan diantara mereka.
Jeno menggelengkan kepalanya "tidak Hyung, aku tidak mau"
"yasudah jika tidak mau"
Keadaan setelah itu kembali hening tanpa ada satu pun yang bicara. Hansol hanya menebak, sepertinya Jeno dan Jaehyun sedang bertengkar. Dua bersaudara itu memang sangat dekat, tapi jangan salah, jika mereka sudah bertengkar, bahkan Johnny saja tidak bisa berbuat apapun. Hansol ingat Jaehyun pernah melemparkan vas bunga dihadapan Jeno hingga pecah saat sang adik tidak sengaja menghilangkan gelang pemberian mendiang ibunya, dia ingat Jeno bahkan tidak ingin bertemu dengan Jaehyun selama tiga hari karena itu, Ia lebih memilih menginap dirumah teman-temannya, sehari dirumah Mark, lalu dirumah Jaemin dan terakhir dirumah Haechan, bahkan Hansol sampai kewalahan membujuk Jeno untuk pulang. Setelah berhasil membujuknya pulang pun Jeno tidak ingin tidur dikamarnya yang berdekatan dengan kamar Jaehyun, Ia lebih memilih tidur bersama Johnny, Appa nya. Butuh waktu hingga hampir seminggu untuk Johnny membujuk Jaehyun agar ingin memaafkan Jeno. Hansol bersumpah, Ia tidak ingin melihat kaka beradik itu bertengkar lagi, karena itu lebih mengerikan dibandingkan Johnny yang sedang murka dengan karyawan-karyawannya.
"Hansol hyung maafkan aku, tapi aku ingin berbicara dengan dua putraku ini" Johnny meletakan sendok dan garpunya setelah selsai makan, dan secara halus mengusir Hansol dari ruang makan itu.
"baiklah, lagipula aku sudah selsai, aku kembali ke kamar, selamat malam" Hansol yang mengerti maksud Johnny langsung berdiri dari tempat duduknya dan kembali ke kamarnya.
"malam Hyung"
Setelah kepergian Hansol, suasana diruang makan itu semakin dingin. Tak ada satupun diantara ketiganya membuka pembicaraan bahkan setelah lima belas menit berlalu. Johnny yang berada di tengah-tengah Jaehyun dan Jeno yang duduk bersebrangan di meja makan hanya memperhatikan keduanya dalam diam, Jeno yang masih mengaduk-aduk makanannya dan Jaehyun yang sepertinya juga terlihat tidak napsu makan, Ia bisa mengunyah makanannya selama lima menit.
"Jeno, apa benar yang dikatakan Hyung mu padaku tadi?" kesabaran Johnny sudah habis, Ia akhirnya membuka suaranya, menatap anak bungsunya, Jeno.
"Jaehyun mengatakan padaku tadi tentang gambarmu itu, kau menghilangkannya?" lanjut Johnny.
"aku tidak tau Appa, aku..." Jeno dengan ragu menatap Johnny dengan tatapan memelasnya, berharap mereka tidak membahas masalah ini.
"sudah jelas kau menghilangkannya" Jaehyun seketika membanting kedua sendok dan garpunya diatas piringnya menimbulkan suara dentingan yang nyaring, nada bicaranya memang tidak tinggi tapi sangat mengerikan.
"tapi Hyung..."
"sudah berapa kali aku bilang untuk memisahkan gambar itu dari buku gambarmu hah?"
"aku tau tapi..."
"dasar ceroboh" Jaehyun menatap Jeno geram, membuat Jeno memutuskan kontak matanya dengan Jaehyun, Ia tertunduk. Hyung nya yang sedang marah itu memang lebih mengerikan daripada Appa nya yang memarahinya.
"sudah hentikan!" Johnny menghentikan Jaehyun dan Jeno, lebih tepatnya Ia tidak ingin membiarkan Jaehyun mengamuk dan membuat piring-piring dihadapannya pecah belah. "Jeno katakan padaku apa yang sebenarnya tejadi, jelaskan mengapa gambar itu bisa hilang?" Johnny menggeser kursinya mendekati Jeno, memegang kedua bahu anaknya dan menatapnya tepat dimata hitamnya.
"aku tidak tau Appa, aku benar-benar tidak tau, aku baru menyadarinya saat jam istirahat sekolah tadi, saat aku membuka buku gambarku gambar itu sudah tidak ada" jelas Jeno menatap Appa nya dengan mata yang berkaca-kaca.
"apa ada yang menyentuh buku gambarmu?"
Jeno membeku, membulatkan matanya saat Johnny bertanya seperti itu, matanya mulai melirik ke kiri dan ke kanan menghindari tatapan mata Appa nya.
"kau tidak melupakan bahwa gambar itu hanya kita bertiga yang boleh tau kan Jeno? kau tidak melanggarnya kan?" Jaehyun sambil bersandar dikursinya melipat kedua tangannya didadanya.
Ini lah alasan Johnny tidak melibatkan Hansol dalam masalah ini, karena memang Ia tidak ingin Hansol mengetahui masalah yang satu ini. Tidak ada seorangpun yang tau tentang sketsa yang Jeno buat, termasuk Hansol. Ia dan kedua anaknya sudah membuat keputusan untuk tetap menyimpan gambar sketsa itu, sketsa wajah seorang pembunuh yang menghancurkan kehidupan keluarga mereka. Jika Hansol tau mungkin saja Ia akan menyerahkan sketsa itu kepada polisi sehingga memudahkan polisi untuk mencari orang tersebut, karena selama ini Hansol yang selalu membujuknya untuk menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada polisi dan Johnny tidak ingin itu terjadi, karena Johnny ingin menangkap pembunuh itu dengan tangannya sendiri dan bebas melakukan hukuman apapun kepadanya nanti.
Setelah mendapatkan pertanyaan mengitimidasi dari Hyung dan Appa nya Jeno masih terdiam tidak menjawabnya, Ia tidak mungkin menjawab dengan jujur bahwa Renjun telah melihat gambarnya. Ia sudah bisa menebak salah satu dari mereka entah Hyung nya atau Appa nya akan menghampiri Renjun nanti dan membuat Renjun ada diposisinya seperti saat ini, tidak, Jeno tidak ingin itu terjadi.
"JAWAB JENO!" Jaehyun geram, Ia menggebrak meja makan dengan kedua tangannya yang terkepal, membuat Jeno terkejut "katakan padaku jika kau tidak pernah menunjukkan gambarmu itu pada orang lain"
"a...aku..." tubuh Jeno gemetar, Ia bingung harus menjawab seperti apa.
"Jaehyun kau membuatnya ketakutan, bisahkah kau sedikit mengontrol emosimu?"
"siapa yang melihatnya? Mark? Jaemin? Atau...Haechan?" Jaehyun tidak mempedulikan kata-kata Johnny, Ia terus mencecar Jeno dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin mebuat Jeno terintimidasi.
"tidak hyung"
"atau temanmu itu, siapa namanya? Ren...Renjun?"
Jeno membulatkan matanya, Ia tidak percaya Hyung nya mengingat Renjun, padahal mereka berdua hanya bertemu sekali saat di cafe.
"Tidak Hyung!" Jeno seketika bangkit dari tempat duduknya, menatap Hyung nya tidak percaya dan sedikit takut kemudian pandangannya beralih menatap Johnny "Appa, aku tidak tau apa yang terjadi, aku tidak tau mengapa gambar itu tidak ada di buku gambarku, aku benar-benar tidak tau apa pun Appa, mengertilah padaku" setelah mengatakan itu Jeno pergi meninggalkan ruang makan, kembali ke kamarnya, Ia tidak ingin berada lama-lama disana dan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkannya yang dia sendiri tidak tau jawabannya, karena memang dia tidak tau pasti sebenarnya siapa yang telah mengambil gambarnya itu.
Johnny mengehembuskan napasnya, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sudah lama situasi seperti ini tidak terjadi antara dirinya dan kedua anaknya, situasi yang paling Ia benci.
"Jaehyun, Appa tau kau mewariskan sikap emosianmu itu dariku, tapi bisakah kau menahannya dihadapan Jeno? dia itu adikmu, kau membuatnya ketakutan tadi, kau mau membuatnya pergi dan menginap dirumah teman-temannya lagi seperti waktu itu?"
"Appa, ini mencurigakan, bagaimana bisa gambar itu hilang? Siapa yang mengambilnya? dan kenapa? Kenapa harus gambar itu yang diambil? Bukankah Appa sepemikiran denganku?" lagi-lagi Jaehyun mengabaikan perkataan Johnny, Ia malah balik bertanya.
"aku tau, aku akan mencari latar belakang teman-teman Jeno nanti"
"aku harap Appa melakukannya secepatnya" Jaehyun bangkit dari tempat duduknya, berjalan meninggalkan ruang makan.
"Jaehyun" panggilan Johnny menghentikan langkah Jaehyun membuatnya kembali menoleh dan menatap Appa nya "kau harus minta maaf pada Jeno"
"Iya Appa, aku tau" setelah itu Jaehyun benar-benar meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
Matahari pagi mulai menyambut kota, mengiringi setiap kegiatan orang-orang dalam memulai kehidupan mereka. Udara yang sejuk membuat setiap orang merasa sedikit semangat untuk menyambut pagi dan memulai aktivitas keseharian mereka. Tak terkecuali orang-orang yang berada dikediaman keluarga Seo. Johnny, Jaehyun, Jeno, dan Hansol sudah sibuk dikamar mereka masing-masing untuk bersiap melakukan aktivitas, setelah beres dengan penampilan mereka, mereka mulai keluar dari kamarnya masing-masing dan berkumpul di meja makan. Kecuali maknae rumah, Jeno yang masih sibuk dengan seragam sekolah dan sepatunya.
"good morning" Johnny menyapa Jaehyun dan Hansol yang sedang sibuk menyiapkan sarapan, Ia duduk dimeja makan dan meminum kopi yang sudah disediakan.
"morning Dad" sambut Jaehyun kepada Appa nya, sambil menggulung kimbab ditangannya.
"kau membuat kimbab? Untuk sarapan?"
"tidak, ini untuk bekal Jeno"
"ooh.."
"here, our breakfast menu" Hansol meletakan beberapa pancake diatas meja, menyediakannya untuk Johnny yang sepertinya sudah tidak sabar menyantap makan paginya.
"wow...pancake, thank you Hyung"
"your welcome" Hansol kemudian duduk, bergabung bersama Johnny, menyantap sarapan paginya. Disusul dengan Jaehyun yang sepertinya sudah selsai dengan urusan kimbabnya.
"dimana Jeno?" Johnny mulai menyadari bahwa anak bungsunya itu tidak ada bersama mereka.
"sepertinya Ia masih dikamar" jawab Hansol sekenanya.
"Appa aku berangkat" Jeno yang menjadi bahan pembicaraan seketika muncul, Ia berlalu begitu saja tanpa melangkahkan kakinya ke ruang makan, bergabung bersama Johnny, Jaehyun dan Hansol.
"Jeno, kau tidak sarapan?" tanya Johnny kepada Jeno, sedikit berteriak karena anaknya itu sudah berlalu menuju pintu rumah.
"tidak" sahut Jeno dari pintu utama rumah, sepertinya Ia benar-benar ingin melewatkan makan paginya, Ia masih tak ingin bertemu dengan Appa dan Hyung nya karena kejadian semalam.
"kalian bertengkar yah?" Hansol memandang Johnny dan Jaehyun bergantian, tidak biasanya Jeno melewatkan sarapan paginya, bahkan diantara mereka berempat Jeno lah yang selalu merengek untuk cepat-cepat dibuatkan sarapan, minimal segelas susu.
"Hyung bisakah kau berikan ini padanya, Ia tidak pernah makan di kantin, bisa-bisa Jeno melewatkan makan siang jika tidak membawa bekalnya" bukannya menjawab pertanyaan Hansol, Jaehyun malah menyerahkan kotak bekal yang berisi kimbab itu kepada Hansol.
"kau belum minta maaf padanya?" tanya Johnny heran, yang disambut gelengan kepala dari Jaehyun.
"tidak, kau harus memberikannya sendiri, dan minta maaf padanya sekarang!" Johnny dengan tegas dan mengambil kembali kotak bekal yang ada ditangan Hansol dan menyerahkannya kepada Jaehyun.
"baiklah...baiklah...Appa, Hyung aku pergi dulu" Jaehyun bangkit, menyampirkan ransel dibahunya menghampiri kuklas dan mengambil sekotak susu lalu pergi meninggalkan ruang makan.
"mereka bertengkar?"
"ya bisa dikatakan begitu" jawab Johnny santai "Hansol hyung bisakah kau membantuku?"
"apa?"
"tolong cari tau latar belakang teman-temannya Jeno"
"untuk apa?"
"aku hanya ingin tau, orang seperti apa teman-temannya Jeno itu"
"baiklah" Hansol mengangguk.
.
Jaehyun sedikit berlari saat melihat Jeno sudah berada di halaman depan "Jeno tunggu" teriaknya dari jauh membuat Jeno menoleh dan berhenti melangkah.
"kau melupakan ini" Jaehyun mengulurkan kotak bekal yang ada ditangan kanannya dihadapan Jeno "kau juga tidak boleh meninggalkna sarapanmu" Jaehyun juga mengulurkan tangan kirinya yang menggenggam sekotak susu.
Jeno hanya memandang Hyung nya itu diam, sebenarnya Ia masih sedikti takut bertemu dengan Hyung nya ini, Ia membiarkan tangan Jaehyun menggantung dengan kotak bekal dan susu yang digenggamnya tanpa berniat untuk mengambilnya.
Melihat itu, Jaehyun dengan paksa meraih tangan Jeno dan menyerahkan apa yang dibawanya kepada Jeno "aku tau kau masih marah padaku, maafkan aku yah atas kejadian semalam"
"Hyung..."
"aku tak akan menyalahkanmu soal gambar itu, maafkan aku"
"aku tidak marah padamu Hyung, aku hanya takut bertemu denganmu" Jeno tertunduk, bahkan sekarang Ia masih takut untuk menatap Jaehyun.
Jaehyun tersenyum, mengusap kepala adiknya pelan "Hyung benar-benar minta maaf, Hyung tidak bermaksud, jadi Jeno jangan takut lagi denganku, aku kan bukan hantu kau mengerti?"
Jeno mengangguk, Ia tersenyum memperlihatkan mata bulan sabitnya yang lucu membuat Jaehyun gemas dan mencubit pipinya sekilas.
"ayo berangkat, Hyung akan mengantarmu" Jaehyun merangkul Jeno berjalan beriringan menuju tempat mobilnya terpakir.
"Hyung"
"hmm?" Jaehyun menghentikan langkahnya dan memandang adiknya yang ada disampingnya.
"nanti antar aku beli buku gambar baru, buku gambarku sudah hampir penuh, hanya tersisa beberapa halaman yang kosong yang bisa ku pakai"
"tentu saja, aku akan mengantarmu nanti"
.
.
.
Gangnam district, salah satu daerah elite di kota Seoul, dimana berdiri berbagai macam apartement mewah, real estate yang berkelas, dan masih banyak lagi. Jaehyun melangkahkan kakinya berjalan tanpa arah mengelilingi Gangnam, Ia bukanlah orang tersesat, toh Gangnam merupakan daerah rumahnya yang sudah pasti Jaehyun tau dan hapal betul daerah ini. Ia hanya melakukan kebiasaannya setelah pulang kuliah, menelusuri setiap sudut kota tanpa ada yang terlewatkan sekalipun, mengetuk pintu rumah satu persatu dengan alasan ingin bertanya alamat dan juga memasuki setiap gedung apartement yang ada tanpa terlewat sedikitpun, bahkan Ia selalu membuat daftar apartement yang berdiri disetiap jalan, berharap bertemu seseorang yang selama ini dicarinya. Ya, Ia mencari seseorang yang selama ini Ia anggap sebagai buronan.
Sudah banyak district di kota Seoul ini yang Jaehyun kunjungi, Jung district, Dongdaemun district, Seocho district, Yongsan district, dan sekarang Gangnam district daerah rumahnya, tapi tetap saja Ia tidak bisa menemukan orang itu. Jaehyun tau Appa nya mungkin akan melakukan ini jauh lebih baik dari pada apa yang di lakukannya sekarang, karena Appa nya itu punya banyak relasi, Ia tau kalau dirinya hanya membuang-buang waktunya melakukan hal tak berguna ini. Namun, Jaehyun percaya bahwa dunia ini sebenarnya tidak lah luas, dunia itu hanyalah sebesar genggaman tanganmu, kau tak akan pernah menyangka akan menemukan orang yang kau cari di dunia yang kau anggap luas ini. Jaehyun pernah membaca berita orang-orang yang sudah lama terpisah kemudian bertemu lagi setelah sekian lamanya, itu membuatnya termotivasi untuk tidak menyerah, Ia hanya butuh waktu, biarkan waktu yang akan menjawab pencariannya ini. Biarkan Jaehyun dan Johnny –Appa nya- melakukan cara mereka masing-masing untuk mencari orang yang selama ini membawa mimpi buruk untuk mereka.
"gedung terakhir" ucapnya sambil mencoret salah satu list di buku note yang Ia pegang, menatap gedung apartement yang ada didepannya ini. Pandangannya menelusuri gedung tersebut dari lantai dasar hingga lantai atas. Menghembuskan napasnya berat lalu melangkah masuk ke dalam gedung apartement tersebut.
"permisi" Jaehyun menghampiri salah satu security yang sedang berjaga dilantai dasar.
"ya? Ada apa anak muda?"
"aku ingin bertanya, apa benar orang ini tinggal di apartement ini?" Jaehyun mengambil kertas yang terlipat di kantong jaketnya, kertas hasil scan gambar sketsa yang Jeno buat dan kemudian menunjukkanya kepada security tersebut.
"ah orang ini, maksudmu tuan Kun?"
Jaehyun terkejut mendengar jawaban orang dihadapannya ini "si..siapa namanya tadi?"
"Kun, dia orang kebangsaan China yang pernah tinggal disini?"
"orang China?"
Security tersebut mengangguk "walaupun dia orang China bahasa Korea nya lumayan lancar, kalau boleh saya tau, anda siapanya tuan Kun?"
"ah...aku...aku...hanya seseorang yang ingin bertemu dengannya" jawab Jaehyun kikuk.
"tuan Kun terkenal sangat baik, dia sangat ramah dan murah senyum, semua security disini mengenalnya seperti itu"
"sangat baik yah" Jaehyun tersenyum tipis, senyum yang sangat memuakkan.
"oh iya anak muda, ada urusan apa kau mencarinya?"
"hanya ingin membalas sesuatu yang pernah dilakukannya, aku bahkan sudah mencari hampir diseluruh daerah di Seoul, karena hanya gambar ini satu-satunya yang bisa kuandalkan, aku saja tidak tau namanya"
"kau ingin balas budi yah?" tanya security tersebut.
"hahaha...ya katakanlah balas budi" ucap Jaehyun asal 'mungkin lebih tepatnya balas dendam' batinnya.
"tuan, apa dia masih tinggal disini?"
"sayang sekali, dia baru saja pindah kemarin"
"apa? Kemana?"
"aku tidak tau, dia hanya mengatakan padaku bahwa dia akan pindah di tempat lain yang masih berada di daerah Seoul, dia hanya tinggal selama sebulan disini"
"begitu yah, sayang sekali, seandainya aku datang kemarin mungkin aku bisa bertemu dengannya. Kalau begitu terimakasih yah tuan, maaf menganggu, aku permisi" Jaehyun membungkukkan badannya sopan.
"iya sama-sama"
Jaehyun berjalan keluar dari apartement tersebut, langkah kakinya sedikit berat, Ia masih sedikit terkejut dengan kenyataan orang yang selama ini dicarinya pernah tinggal di apartement ini. Ia menghentikan langkahnya dan memandang kertas yang ada ditangannya, melihat wajah itu membuatnya semakin muak. Jaehyun meremas kertas yang ada ditangannya, menyalurkan emosinya lewat kertas tersebut.
"aaarrrghhh..." membanting kertas yang ada ditangannya menginjak-injaknya dan berteriak geram "aku kurang selangkah rupanya. Kun, jadi namanya Kun, setidaknya aku akhirnya mengetahui nama orang itu. Apa tadi katanya? Dia orang baik? Katakanlah dia orang baik, bahkan terlalu baik untuk membunuh seseorang" Jaehyun tersenyum sinis mengingat perkataan security tadi.
Jaehyun mengambil smartphone yang ada di kantong celananya, menekan speed dial angka 1 yang langsung terhubung dengan Appa nya.
Sementara jauh dari tempat Jaehyun berdiri, tanpa Jaehyun sadari ada seseorang yang terus memperhatikan dirinya, selalu mengikutinya kemanapun Ia melangkah. Ia sedang duduk bersandar didalam mobil memperhatikan Jaehyun yang sedang menghubungi seseorang melalui telepon.
"Jaehyun, sepertinya kau tidak akan menyerah sampai kau menemukannya"
Taeyong terus memperhatikan Jaehyun yang jauh berada didepannya, masih melakukan panggilan dengan seseorang, sejujurnya Taeyong mulai lapar tapi Ia tidak bisa pergi begitu saja, Ia harus mengawasi Jaehyun sampai Jaehyun pulang dan masuk rumah.
Sejak hari pertama memulai misinya Taeyong sudah tau, bahwa selama ini Jaehyun memang mencari orang yang membunuh ibunya. Taeyong bahkan pernah mengikuti Jaehyun saat Ia mencari oran tersebut didaerah Jung district, Taeyong sampai pulang larut malam karena itu.
"aaah...aku lelah" Taeyong meregangkan kedua tangannya, Ia benar-benar pegal dan sudah merasa lapar, namun Ia tetap harus bertanggung jawab dengan tugasnya ini, Ia tidak bisa begitu saja meninggalkan tugasnya.
Taeyong meraih sandwich yang sudah Ia sediakan, membuka bungkusnya dan melahapnya, ini sudah sandwich yang ke dua dan Ia belum juga merasa kenyang, Ia butuh nasi. Taeyong masih memperhatikan Jaehyun yang masih terhubung dengan seseorang di ponselnya. Jaehyun mengakhiri panggilannya, Ia memasukan kembali ponsel tersebut kedalam kantong celananya, mengambil kertas yang sempat diinjak-injak olehnya, menghampiri seseorang yang sedang merokok dan meminjam pemantik lalu membakar kertas tersebut.
Setelah memastikan kertas tersebut sudah berubah menjadi abu, Jaehyun melangkahkan kakinya pergi ketempat Ia memarkirkan mobilnya. Taeyong langsung bersiap menyalakan mesin mobilnya, bersiap mengikuti Jaehyun kembali, bahkan Ia meletakan sandwich yang belum habis itu begitu saja di kursi penumpang disampingnya.
PING!
Belum sempat Taeyong menginjak gas, ponsel nya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ia meraih ponselnya yang ada di kursi penumpang tepat di dekat sandwich yang baru saja Ia makan.
From: Taeil Hyung
'kembali ke kantor, kita ada rapat'
Pesan Taeil tersebut mengurungkan niat Taeyong utuk mengikuti Jaehyun lagi, Ia memilih mematuhi ketua team nya kembali ke kantor dan berharap rapatnya kali ini menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
-TBC-
Annyeonghaseyo~
Star kembali, btw chapter yg ini panjang banget, ngeditnya aja sampe berkali kali, mumpung idenya keluar semua jadilah lah panjang begitu. walaupun udah di edit tapi maafkan Star klo masih ada yg typo yah, maaf juga klo updatenya lama, star akan usahain lagi untuk fast update, star lagi ada project bareng temen-temen shawol nih soalnya, tugas juga numpuk, belum lagi acara kelas hhh...pusing deh, yaudah daripada banyak curcol. selamat membaca, dan terimakasih atas review, fav dan follownya. Annyeong ~
-100BrightStars-
