Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. Ficlet.
Words : 1.899
Knot.
By VikaKyura.
- Outset -
"Nii-chan, bangun."
Ino menepuk pelan pundak kakaknya yang masih tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Tapi sang kakak masih tertidur pulas.
Sebenarnya gadis itu tidak tega membangunkan Sasuke yang sedang terlelap senyaman ini. Terlebih, Ino tahu kakaknya memang telah bekerja lembur semalaman tadi. Namun bagaimana lagi, lelaki itu harus berangkat kerja pagi ini.
"Nii-chan . ." panggilan si gadis semakin melemah.
Bukannya terus menggoyang tubuh Sasuke supaya bangun, kini Ino malah berangsur menurunkan badannya sendiri sampai lututnya menyentuh lantai. Tangannya menangkup pinggiran kasur. Setelah lelah memanggil-manggil terus kakaknya tanpa ada sahutan, ia jadi ingin memanjakan mata sekarang. Menikmati pemandangan indah di hadapannya. Ekspresi yang sedang terlukis di wajah tampan sang kakak saat ini, damai sekali.
Ino senang menatapnya.
Tapi jika sudah bangun, otot-otot wajah lelaki itu akan langsung berubah kaku. Menyebabkan mukanya selalu berekspresi datar.
Ino terkikik pelan. Jadi geli sendiri.
Gadis itu memang bebas keluar masuk kamar kakaknya, karena sengaja tidak dikunci. Begitu pula sebaliknya. Sesekali ia bertugas membangunkan Sasuke jika lelaki itu sudah menghabiskan malam dengan bergadang. Berkencan dengan tugas pekerjaannya seperti semalam tadi.
Ino masih betah memandangi wajah tampan kakaknya yang sedang tertidur lelap entah memimpikan apa.
Ah, Sasuke yang matanya sedang terpejam tidak sadarkan diri itu sungguh menggemaskan~
Uhh, Ino bisa tergoda jadinya. Ingin rasanya ia mengambil foto wajah tidur kakaknya itu, terus dijadikan wallpaper ponselnya. Tapi nanti Sasuke bisa marah. Lelaki itu tidak suka fotonya diambil tanpa izin, apalagi dipajang-pajang pula. Lagian, saat ini Ino sedang tidak punya waktu untuk mencuri-curi foto begitu.
Gadis bersurai pirang panjang itu mulai membelai lembut puncak kepala Sasuke. Biarkan saja lelaki itu tidur sebentar lagi apa?
Ergh, si gadis langsung bergidik. Kalau sampai terlambat kerja, Sasuke bisa menyalahkannya dan menuduhnya tidak membangunkan.
Sesaat selanjutnya Ino menepukkan tangan. Ia dapat ide. Gadis itu menyeringai. Cara pamungkas yang akan dilakukannya sebentar lagi selalu berhasil mengusik Sasuke dari tidurnya.
Ino mulai bangkit. Kini ia membungkukkan setengah badan, menyondongkan kepalanya ke arah Sasuke.
"Onii-chan bangun, sudah siang . ." desisnya, sengaja berbisik manja sambil nafasnya meniup pelan telinga si lelaki.
Dilihat safir birunya, pundak Sasuke mulai berdenyut. Ino terkekeh lagi.
Ia menunggu sebentar. Tapi kakaknya itu masih belum juga membuka mata.
Ino mengerutkan pelipisnya. Ia mulai menggelitiki wajah sang kakak dengan memainkan daun telinga dan memampatkan hidung lelaki itu. Tetapi Sasuke hanya menepis tangannya malas.
Hm. Lama-lama Ino tambah gemas juga. Akhirnya, gadis itu mulai meraih kedua belah kepala Sasuke, lalu mendaratkan sebuah ciuman dalam di sebelah pipi mulus kakaknya.
"Mmmmmmmch!" Bibirnya sengaja menekan kuat-kuat dan lama-lama pipi lelaki itu.
Ino mendongak, kembali menunggu kakaknya membuka mata. Tetapi Sasuke hanya bergumam tidak jelas. Membuat gadis itu cemberut. Apa perlu cium di bibir supaya bangun, huh? Ino segera menggeleng. Seperti dalam dongeng saja. Akhirnya ia hanya bisa mencubit-cubit gemas bibir kakaknya. Berharap lelaki itu akan terusik dan bangun untuk memelototinya. Si gadis tertawa kecil saat membayangkannya.
Tetapi bukan itu yang terjadi. Sasuke hanya merespon dengan menangkup balik kepala Ino untuk tetap menahan wajah gadis itu di sisi kepalanya.
"Hnnn, Nii-chan bangun! Kau akan marah padaku kalau sampai terlambat masuk kerja!" keluhnya teredam wajah sang kakak.
Gadis itu mendesah. Kakaknya masih belum bangun juga.
Apa yang terjadi padanya sih, sampai susah dibangunkan begini? Apa semalam Sasuke minum-minum sambil lembur? Ah, itu tidak mungkin. Kakak tercintanya bukan pemabuk. Lagipula tidak tercium bau alkohol, yang ada hanya aroma khas lelaki kakaknya yang biasa.
Malah Ino yang bisa dibuat mabuk kepayang hanya karena kelamaan mencium wangi tubuh kakaknya itu. Fufu.
Hm. Lama-lama Ino kesal juga karena terus diabaikan. Kali ini suaranya dinaikkan beberapa oktaf. "Kakak! Cepat bangu-"
"Berisik." gumam Sasuke, tiba-tiba menangkap lengan Ino.
Eh? Si gadis terkesiap saat merasakan dirinya ditarik sampai tubuhnya ambruk ke atas kasur, bergabung dengan kakaknya, menindih tubuh Sasuke.
Ino memekik saat Sasuke mulai mendekap badannya erat.
"Kau mengganggu tidurku." Tambah si lelaki. Tetapi matanya masih terpejam.
"H-hey!" Segera saja Ino meronta. Sambil merona, tentu saja. Ia berusaha untuk melepaskan diri dan kembali bangkit dari posisi tengkurapnya. "K-kak, kau bangun? Cepat siap-siap ini sudah sia- eekkh!"
Ucapan Ino terhenti saat ia merasakan Sasuke meringsut dan menempelkan wajahnya di batang leher gadis itu. Saat ini pinggang dan punggung si gadis sedang dipeluk kuat oleh sang kakak layaknya guling saja.
"Hmm," Sasuke hanya merespon dengan gumaman.
Ino mendesah dalam. Rasanya nikmat. Eh? Gadis itu menjedukkan dahinya ke kepala Sasuke. Menahan kerasionalannya.
"Nii-chan jangan malah lanjut tidur!" rengeknya. "Yasudah. Kalau telat, kau baru tahu rasa." Dengusnya. Padahal dalam hati ia kesenangan.
Ino memang suka dipeluk-peluk manja begini oleh kakaknya. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menikmati. Apalagi berblushing ria. Lagipula jangan geer dulu, palingan tubuhnya hanya sedang dianggap sebagai pengganti guling saja. Dipikir-pikir, Sasuke memang selalu memperlakukannya seperti anak kecil begini. Apa lelaki itu tidak pernah melihatnya sebagai wanita dewasa tulen?
Sesaat kemudian, dengusan Ino hilang diganti dengan rengutan. "Tapi kau hanya akan menggerutu padaku jika sampai terlambat. Huuuuuu." Jemari gadis itu mulai menjambaki rambut raven sang kakak.
Tetapi Sasuke malah semakin menyusupkan kepalanya.
"Mmm," Ino bergidik geli. Ia berusaha menarik mundur kepala sang kakak. "Jangan bergerak begitu, aku jadi geli." gumamnya.
Sasuke hanya menarik nafas dalam-dalam, malah menghisap aroma tubuh Ino. "Kau wangi sekali," gumamnya.
"Tentu saja, aku kan sudah mandi!" Ujar si gadis, merona lagi. Ia bisa bebas tersipu sekarang, karena Sasuke tidak sedang melihat. "Makanya cepat ba-"
"Harumnya enak, seperti aromaterapi. ." gumaman lelaki itu semakin melemah. "Membuatku tak mau bangun."
"Geezz." Ino memutar mata. Jika sudah senyaman ini, ia tahu kakaknya akan kembali tidur. "Memangnya aku lilin relaksasi apa?" Ketusnya. Padahal Ino suka didekap erat dan diendus-endus begitu.
Tapi badan si gadis sedang menindih Sasuke sekarang. Bisa-bisa lelaki itu pegal-pegal bahkan sampai tak bisa bernafas. Sekali lagi, Ino mencoba meringsut untuk melepaskan diri. Tapi Sasuke malah mendekapnya lebih erat. Lelaki itu berguling ke samping dengan membawa tubuh adiknya. Masih menyamankan kepalanya di pundak Ino.
Si gadis menghela nafas untuk ke sekian kalinya. Ia berhenti memberontak, alih-alih balik memeluk erat kepala Sasuke sekarang. Sengaja menekukkan kepala lelaki itu ke bagian dadanya. Menyusupkan wajah Sasuke di antara gunung kembarnya. Dirasakannya, si lelaki mulai meringsut nyaman.
Ino mesem-mesem. Di sana enak kan? Kalau kau ingin kenyamanan, biar kuberikan. Batin gadis itu jahil, sambil membelai-belai rambut hitam kakaknya.
Oke, posisi mereka sudah nyaman sekarang. Ino juga sudah lupa dengan tujuannya untuk membangunkan. Bukan salahnya jika Sasuke tidak bangun, kan? Ia sudah berusaha mengusik sang kakak selama lebih dari lima belas menit, tapi tidak ada hasilnya.
Gadis itu mulai menenggelamkan wajahnya di rambut hitam lelaki itu. Balik mengendus Sasuke. Menikmati wangi sampo berbau maskulin yang dipakainya.
Akhirnya mereka hanya saling meringkuk untuk beberapa menit selanjutnya. Ino dapat mendengar bunyi irama nafas Sasuke yang semakin santai dan teratur. Nampaknya si lelaki telah benar-benar kembali tertidur.
Suara nafas sang kakak membuat Ino merasa damai. Jadi seakan sedang dinyanyikan saja. Pelupuk mata si gadis mulai memberat.
"Kak, kau akan melonjak kaget jika tahu ini sudah jam berapa . ." gumam Ino. Entah mengapa ia jadi ikutan mengantuk. Rasanya nyaman sekali setiap kali Sasuke bermanja-manja padanya seperti ini.
Pada akhirnya, Ino ikutan tertidur juga.
.
.
Setelah kenyang tidur, Sasuke mulai terbangun.
Perlahan, ia menolehkan lehernya ke arah jendela. Tirai kamarnya mulai menerawang karena tertabrak sinar hangat mentari. Di luar sana, hari pasti sudah tidak pagi lagi.
Kemudian, lelaki itu merasakan hembusan nafas dan segera mendongak. Memandang ke arah wajah adiknya yang sedang tertidur pulas. Sasuke menaikkan pelipisnya. Entah dari kapan gadis itu mulai ikut terlelap juga.
Sasuke merenggangkan dekapannya, lalu sedikit meregangkan lengannya. Ia menghela nafas puas. Ah. Nyaman sekali tidurnya, terimakasih pada Ino. Lelaki itu menyeringai kecil. Adiknya selalu sukses menghilangkan penat mau pun lelahnya. Sesekali, Sasuke memang sengaja ingin dipeluk manja oleh adiknya itu, seperti saat ini. Tertutama setelah ia bergadang karena lembur seperti semalaman tadi. Sekarang, baterainya sudah terisi penuh lagi.
Jarum jam terus berdetak.
Perlahan Ino mulai membuka manik birunya saat ia merasakan jembelan pelan di sebelah pipinya.
Samar-samar, wajah tampan Sasuke yang sedang memandangnya mulai muncul. Lelaki itu masih terbaring menyamping menghadap si gadis. Satu tangan sedang menumpu kepalanya, tangannya yang lain sedang memainkan pipi adiknya.
Sang kakak tengah menyeringai tampan.
"Hmm . . ?" Ino bergumam, mulai mengucek mata.
"Kau tahu ini sudah jam berapa?" tanya Sasuke. Masih mengelus-elus pipi si adik.
"Mana kutahu." Jawab Ino malas. Ia meringsut ke depan, hendak memeluk kakaknya lagi.
Sasuke menghela nafas. "Kau seharusnya membangunkanku kenapa malah ikut tidur?"
Ergh. Suara berat khas bangun tidur milik Sasuke itu sukses membuat si gadis mengerjap. Sontak ia menahan nafas. Gadis itu kembali teringat pada misinya sebelum ini, untuk membangunkan kakaknya.
Ino segera mendongak dengan ekspresi ngeri. Refleks satu tangannya terangkat untuk menangkup wajah Sasuke tepat di bagian muka, lalu mendorong kepala lelaki itu menjauh dari wajahnya sendiri.
"Bukan salahku! Kau yang tidur pulas sekali!" sanggahnya segera.
Sasuke tetap bertahan untuk tidak terdorong mundur. Ia meraih tangan adiknya lagi, seraya kembali menyondongkan kepalanya mendekati wajah Ino. "Kita jadi melewatkan sarapan kan." Tekannya.
Si gadis melebarkan mata. Seharusnya, bukan hanya sarapan saja yang dilewatkan Sasuke. Berarti, hari sudah siang sekarang?
Ino mulai panik. "Kau membolos kerja?" tanyanya, ngeri. Sadar ini setengah salahnya karena telah menyerah begitu saja.
Tetapi Sasuke hanya menggeleng santai. "Aku libur hari ini." ujarnya kalem.
"Ha?" Ino langsung memberengut. "Terus untuk apa aku berusaha membangunkanmu berkali-kali tadi?"
"Salahmu tidak bertanya." Jawab sang kakak enteng sambil menepuk pelan pipi adiknya. Ia menyeringai tipis.
Sontak saja Ino mendengus keras.
Puk!
Gadis itu melemparkan bantal ke arah kepala Sasuke dengan cukup kasar.
Huh. Bilang-bilang dong kalau libur! Sia-sia kan Ino sudah panik pagi-pagi tadi?
Tetapi Sasuke bisa menangkap bantal itu dengan satu tangannya, dan mulai bangkit. "Ayo buat makanan, aku lapar." Ajaknya, hendak turun dari ranjang.
Tetapi Ino hanya memandangnya datar, lalu malah menggulingkan diri ke arah lain. "Malas ah." Gumamnya. "Aku mau tidur lagi saja."
Sasuke menahan kekehan, gemas melihat tingkah ngambek adiknya. Lantas lututnya kembali memijak kasur, seraya ia merangkak ke arah gadis itu.
Ditumpunya satu tangan tepat di depan wajah si adik. Sasuke menyondongkan badan seraya menekukkan kepalanya.
Chu.
Sang kakak memberikan jatah ciuman pagi di pipi adiknya.
Huh. Ino berusaha untuk mempertahankan rengutannya. Kalau sudah begini, dicium Sasuke pun rasanya tidak akan membuat Ino menjadi segar.
Belum menarik kepalanya, si lelaki melongok ke arah wajah gadis yang sedang memunggunginya itu. Ino masih terlihat malas, dan nampak tidak berniat untuk bangun. Gadis itu sedang cemberut.
"Kalau begitu," Sasuke mulai berbisik tepat di telinga adiknya. "Hari ini ayo makan siang di luar."
Ugh, Ino mengernyitkan kening.
"Aku akan menraktirmu apa saja." Tambah Sasuke.
Ah. Godaan sang kakak semakin meningkat saja levelnya.
Akhirnya Ino menghembuskan nafas menyerah. Ia mulai menggulingkan kepala, kini menatap onyx sang kakak. Dilihat Sasuke, gadis itu tengah menyeringai sekarang.
"Oke. Tapi habis itu kita nonton ya?" pinta si gadis. Amarahnya gampang dibeli ternyata.
Pelipis Sasuke berkedut. "Hn." Jawabnya, mengiyakan saja. Daripada adiknya ngambek lagi.
Ino semakin menyeringai senang.
"Jadi, cepat bangun dan siap-siap." Kali ini Sasuke menarik Ino untuk bangkit dari posisi tidurnya, sembari mulai membawa tubuhnya sendiri untuk beranjak berdiri.
Ino menurut saja. "Nii-chan juga. Jangan lupa mandi dulu." Komentarnya, mengingatkan.
Sasuke hanya merespon dengan anggukan malas.
Ino terkikik.
Asyik. Si gadis bersorak dalam hati. Tentu saja Ino tak mau menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. Kencan, eh? Gadis itu menganggapnya demikian. Ia menyeringai senang.
Ah. Sasuke. Memang. Menggoda. Sekali.
Jadi ingin Ino miliki.
-TBC-
LOL. Bukan adegan ranjang ya.
Muahahaha. Interaksi kakak-adik macam apa ini, makin bejad? Janganlah diturutin, apalagi dipraktekin *PLAK/
Tenanglah, status saudara tanpa ikatan darah mah masih bisa ditabrak kan ya wkwk
Pov sasu nanti pasti muncul di beberapa chap depan, adegan *uhum* rate Mnya juga mungkin (?) bakal ada XD yg sabar aja yaaa
oiya, ini ficlet. Jadi ga bakalan dipanjangin lagi ehehehe sebagai gantinya diusahain apdet cepet aja wookeey
btw, fict lain yg kalian tagih udah dilanjut koook XD
Makasih repiyu2nya bikin gemeeesss~ silakan review lagi biar vika tambah gemes :)
Updated : 03/01/17
Happy New Year!
