Gloomy
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Jeno
- Taeyong
- Hansol
- Doyoung
- Yuta
- Ten
- Taeil
- Renjun
Part 8
Johnny sedang disibukkan dengan tumpukkan pekerjaannya, dia selalu teliti membaca setiap detail proposal atau hasil kerjaan karyawan-karyawannya, dia tidak mau asal memberikan tanda tangan, berkerja dengan seenaknya bukanlah tipenya. Biasanya Hansol yang akan membantunya, memberikan saran mana proposal yang harus dipilih, mana pekerjaan karyawan yang sekiranya belum lengkap dan masih harus direvisi lagi, dan kerjaan-kerjaan lainnya, namun kali ini Hansol disibukkan dengan permintaannya untuk menyelidiki latar belakang teman-teman Jeno, maka dari itu Johnny harus rela kerja sendiri untuk hari ini. Padahal Johnny akan lebih semangat jika Hansol menemaninya, paling tidak melihatnya duduk di sofa ruang kerjanya saja Ia sudah senang.
Tok...tok..tok...
Suara ketukan pintu menginterupsi Johnny, membuatnya mengalihkan perhatiannya.
"masuk" ucapnya sedikit berteriak agar orang yang mengetuk pintu mendengar.
Pintu tersebut terbuka, Johnny tersenyum melihat siapa yang datang, orang yang seharian ini memenuhi pikirannya. Ji Hansol.
"kau sudah datang Hyung? cepat sekali"
"ya begitulah, ini bukan tugas yang sulit menurutku" Hansol menghampiri sofa yang ada diruang kerja Johnny dan duduk disana, menyandarkan dirinya di sofa empuk itu, melepaskan rasa lelah sejenak.
Johnny bangun dari singgah sananya dan menghampiri Hansol, duduk di sofa terdekat dengannya "bagaimana hasilnya Hyung?"
"sejujurnya aku mencari latar belakang seluruh teman-teman sekelas Jeno, namun ada 4 orang yang dekat dengannya, kau mau mendengarkan yang empat orang itu saja atau semua teman-teman sekelasnya?" Hansol mulai membuka Ipad yang daritadi berada ditangannya, menyentuhkan jari-jarinya dilayar Ipad tersebut.
"maksudmu Mark, Jaemin, dan Haechan?"
Hansol mengangguk.
"lalu yang satunya lagi siapa? Aku cuma mengenal mereka bertiga saja" Johnny sudah tidak asing lagi dengan ketiga temannya Jeno itu, toh orang tua mereka bertiga terkadang suka bergabung dalam project yang Johnny buat, bisa diibaratkan orangtua Mark, Jaemin dan Haechan merupakan partner kerja Johnny.
"sudah kuduga, kau pasti akan penasaran dengan temannya yang satu ini, karena sejujurnya aku juga seperti itu"
Johnny bersandar pada sofa, duduk menyilangkan kedua kakinya, menunggu penjelasan Hansol.
"kau akan terkejut jika mendengarkannya"
"jangan buat aku penasaran Hyung, cepat katakan"
"baiklah" Hansol menyentuh Ipad nya lagi, jari-jarinya menari disana mencari file yang sudah dikumpulkannya. "namanya Renjun, dia satu kelas dengan Jeno, dan merupakan salah satu peringkat terbaik dikelas, dia dan Jeno selalu kejar-kejaran dalam perigkat, posisi pertama dan kedua selalu diraih olehnya dan Jeno"
"siapa yang peringkat pertama?"
"Jeno, namun pernah sekali Renjun berada di peringkat pertama menggeser posisi Jeno, tapi untuk semester ini Jeno masih lebih unggul"
Johnny tersenyum mendengar penjelasan Hansol tadi "that's my boy, he is so smart I'm so proud"
"aku dengar mereka berdua pernah duduk sebangku, tapi cuma sehari, setelah itu mereka duduk terpisah lagi"
"kenapa? Mereka bertengkar?"
"entah" Hansol mengangkat kedua bahunya.
Hansol kembali terfokus pada Ipadnya lalu melanjutkan topik pembicaraan mereka "ayahnya merupakan seorang dokter, dan dia merupakan dokter yang hebat dan menjadi andalan di rumah sakit tempat Ia bekerja, Ia merupakan kepala rumah sakit disana, dan ibunya adalah seorang perbankan, dan dia memiliki seorang Hyung. Kau akan terkejut ketika mengetahui siapa Hyungnya Johnn"
"siapa Hyungnya?"
"Hyung nya bekerja di kepolisisan"
"Apa?" Johnny menegakkan badannya saat mendengar fakta tersebut.
"namanya Doyoung, apa kau ingat? Seseorang yang menanyakan kesaksianmu dan juga anak-anakmu, termasuk aku. Dialah orangnya"
Johnny terdiam sejenak, Ia mencoba mengingat-ingat "ah iya aku ingat, jadi dia Hyung nya Renjun?"
Hansol mengangguk "ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan latar belakang teman-temannya Jeno? dan secara kebetulan salah satu anggota keluarga mereka merupakan polisi yang sampai sekarang masih menangani kasusmu itu"
"tidak ada apa-apa Hyung" Johnny bangkit dari sofa dan kembali ke meja kerjanya, mulai membuka berkas-berkas yang tadi sempat tertunda untuk dikerjakan.
"kau menutupi sesuatu dariku yah?" Hansol menatap Johnny curiga.
"tidak Hyung" ucap Johnny pelan, tanpa mengalihkan perhatiannya dari proposal yang sedang Ia baca 'maafkan aku Hyung, aku tidak bisa memberitaumu untuk urusan yang satu ini' batinnya.
Hansol tidak bertanya lebih jauh lagi, sejujurnya Ia sedikit tidak puas dengan jawaban Johnny. Ia tau Johnny bukanlah seseorang yang melakukan sesuatu tanpa sebab, pasti ada sesuatu yang melatar belakangi Johnny sehingga Ia ingin menyelidiki latar belakang teman-teman Jeno. Namun, Hansol menahannya, mungkin saja Johnny hanya tidak ingin Ia ikut campur.
Hansol dan Johnny akhirnya kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, Johnny dengan segudang berkas yang harus di tandatangani dan Hansol yang masih duduk di sofa ruang kerja Johnny setelah ditahan oleh Johnny untuk kembali ke ruangannya dengan alasan Johnny hari ini tidak ingin sendirian, dan terpaksa Hansol mengerjakan tugasnya disini. Hansol meneliti berkas-berkas sebelum ditandatangani, Ia kadang memberi tanda silang yang sangat besar pada pekerjaan karyawan-karyawan kantor lalu mengembalikannya untuk direvisi. Para karyawan disana sering sekali mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang harus direvisi, bahkan karyawan baru pernah sampai menangis melihat hasil kerja mereka yang penuh dengan coretan-coretan atasan mereka itu, mereka selalu memandang Johnny sebagai atasan yang kejam karena dengan seenaknya mencoret-coret pekerjaan mereka untuk direvisi kembali. Mereka tidak tau saja kalau Hansol lah pelaku utama yang dengan seenaknya mencoret-coret pekerjaan mereka, dan seharusnya mereka bersyukur Hansol masih berbaik hati hanya mencoretnya, jika saja itu Johnny, mungkin Ia akan merobeknya dan melemparnya tepat di wajah karyawan yang mengerjakan pekerjaan itu.
Satu jam berlalu, Johnny dan Hansol masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Johnny dan Hansol adalah tipe work holic, yang akan selalu fokus jika dihadapkan dengan pekerjaan.
Drrt...drrt...drrtt...
Ponsel Johnny bergetar tanda panggilan masuk, baru saja Johnny ingin mematikan ponselnya namun Ia mengurungkan niatnya saat tau siapa yang menelponnya.
"halo Jae"
'Appa...'
"hmm...wae? tumben sekali kau menelpon di jam segini, apa ada sesuatu?"
Hansol menghentikan pekerjaannya, Ia memperhatikan Johnny yang sedang menelpon dengan Jaehyun putra sulungnya.
'aku hampir menemukannya Appa, hampir'
Johnny mengerutkan keningnya, sedikit heran dengan nada suara Jaehyun yang tidak bisa dijelaskan. Hansol yang melihatnya seperti itu membuat gesture dengan mulutnya yang mengucapkan kata 'wae' tanpa suara, yang hanya dibalas Johnny dengan mengangkat kedua bahunya tanda Ia juga tidak tau.
"apa?" Johnny bertanya pada Jaehyun meminta penjelasan lebih.
'orang itu Appa, pembunuh sialan itu, aku hampir menemukannya, dia ada di Seoul'
"APA?" Johnny seketika bangkit dari tempat duduknya, membuat Hansol semakin terheran dengan sikapnya itu "katakan sekali lagi Jae"
'aku hampir saja menemukan pembunuh sialan itu, dia ada di Seoul!'
"dimana? Di daerah mana?"
'Gangnam, hahahaha bodohnya kita yang mencarinya bahkan sampai keujung dunia, ternyata selama ini Ia sangat dekat dengan kita' Johnny mendengar Jaehyun yang tertawa mengerikan disebrang sana.
"Jae, kita bicarakan lagi dirumah, aku akan pulang lebih awal"
'hmm..baiklah aku akan menunggumu Appa, sampai jumpa'
Sambungan telepon terputus, Johnny meletakan ponselnya diatas meja dan menyanggah tubuhnya dengan kedua tangannya, masih terkejut dengan apa yang baru saja di katakan Jaehyun tadi.
"kenapa? Jaehyun kenapa? Dia bilang apa? Apa dia baik-baik saja? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Hansol langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan saat sambungan telepon antara Johnny dan Jaehyun terputus. Melihat ekspresi Johnny Ia hanya sedikit khawatir, khawatir Jaehyun mengabarkan sesuatu yang buruk.
"Jaehyun, dia...hampir menemukan orang itu Hyung"
"siapa?"
"pembunuh sialan itu"
"APA? BAGAIMANA BISA?" Hansol tidak kalah terkejutnya dengan Johnny, Ia bahkan berjalan menghampiri meja kerja Johnny "apa Ia melihatnya? Ia bertemu dengannya?"
"aku juga tidak tau, aku akan bicara dengannya nanti dirumah, sepertinya waktu menjawab pencarian kita Hyung" Johnny tersenyum penuh arti, Ia memang belum menemukannya namun Ia merasa hanya tinggal selangkah lagi untuk dia bisa menemukan orang itu. Baru mendengar kabar seperti ini saja Ia sudah merasa puas apalagi jika Ia berhasil menemukannya nanti.
.
.
.
Suasana diruang rapat salah satu kantor kepolisian terasa begitu sunyi, empat orang yang sedang berkumpul disana duduk ditempat mereka masing-masing tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Taeil sibuk membaca map yang ada ditangannya, Yuta dengan laptopnya, sementara Ten dan Doyoung hanya sibuk dengan handphone mereka masing-masing. Sepertinya mereka menunggu seseorang sebelum rapat mereka dimulai.
"maaf aku terlambat" Taeyong, orang yang di tunggu seketika membuka pintu, membuat empat orang yang ada di dalam ruangan menoleh kearahnya. Taeyong duduk disalah satu kursi yang masih kosong, disamping Doyoung.
"kau darimana saja Hyung?" tanya Ten pada Taeyong.
"Gangnam, mengikuti Jaehyun"
"oooh..." Ten mengangguk mengerti dengan jawaban singkat Taeyong.
"baiklah, semua anggota team sudah disini, kita mulai rapatnya" Taeil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri podium, berdiri disana memimpin rapat.
"aku hanya ingin mengatakan, bahwa hari ini team kita mengalami sedikit kemajuan, berkat Renjun adiknya Doyoung" ucap Taeil, membuat semua orang yang ada disana menoleh kearah Doyoung "berkat dia, kita berhasil mendapatkan sketsa wajah dari pembunuhnya, kita berhutang padanya"
"benarkah?" Taeyong sedikit antusias saat mendengar penjelasan Taeil tadi.
Taeil mengangguk, Ia mengambil selembar kertas yang ada di dalam mapnya, kemudian berjalan mendekati papan kaca yang ada diruangan tersebut, menempelkan gambar sketsa itu disana agar anggota teamnya dapat melihatnya.
Taeyong dan Ten sepertinya yang paling penasaran dan antusias dengan wajah pelakunya, sementara Doyoung dan Yuta hanya santai menanggapi Taeil.
"wow daebak, Doyoung ingatkan aku untuk mentraktir Renjun, aku akan membelikannya apapun" ucap Taeyong kepada Doyoung.
"kau tidak ingin mentraktir Hyung nya sekalian?" Doyoung menunjuk dirinya sendiri.
"tidak terimakasih"
"dan..."Taeil mulai membuka suaranya lagi, membuat semua anggota teamnya kembali terfokus padanya "berkat gambar ini, aku menyimpulkan satu pelaku lagi"
"apa maksudmu Hyung?" Ten menopang dagunya dengan tangan kanannya, memandang Taeil dengan tatapan heran, begitu juga dengan Taeyong.
"orang ini, sudah dapat dipastikan adalah pembunuhnya, tapi ada satu orang lagi yang harus kita curigai, yaitu..." Taeil mengeluarkan selembar foto dan menempelkannya dipapan kaca, bersebelahan dengan gambar sketsa yang sebelumnya sudah ditempelnya.
"APA?" Taeyong, Ten dan Doyoung berteriak bersamaan saat melihat foto siapa yang baru saja ditempel oleh Taeil.
"kau gila Hyung, kenapa kau mencurigainya? Hey Yuta ada apa dengan reaksimu itu? sepertinya kau sudah mengetahui semuanya?" Taeyong menatap Yuta curiga.
"jelas saja dia tidak penasaran Tae, karena ini merupakan prediksi Yuta"
Yuta menautkan kedua tangannya, dan meletakkannya diatas meja, menatap Taeyong, Ten, dan Doyoung satu persatu "apa kau tau kenapa kita harus mencurigainya? karena..."
Yuta menjelaskan segala prediksinya, pendapatnya, semua gagasannya kepada teman-temannya. Memberikan alasan mengapa dan bagaimana, menjelaskan semuanya secara terperinci. Taeyong, Doyoung dan Ten mendengarkannya dengan ekspresi antara tidak percaya dan setuju dengan gagasan yang Yuta berikan, bahkan Taeyong yang merupakan seorang profiler handal dapat mengerti dan sependapat dengan Yuta.
"Itu baru prediksiku, aku juga sudah berdiskusi dengan Taeil Hyung dan dia menyutujuinya, kita tidak menetapkannya sebagai tersangka juga, hanya mencurigainya saja" selsai dengan penjelasannya Yuta menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"bagaimana? Sudah jelas?" Taeil menyadarkan Taeyong, Doyoung dan Ten dari lamunan mereka.
"jadi kau akan memprediksi ini sebagai pembunuhan berencana Hyung?"
"hmm...itu baru dugaanku saja" Taeil mengangguk menjawab pertanyaan Taeyong.
"sialnya, dugaanmu itu terkadang benar Hyung"
Taeil membereskan kertas-kertas diatas meja yang berantakan, menyusunnya dan merapikannya "nah rapat kita cukup sampai disini, kalian akan tetap menjalankan misi kalian seperti biasa, aku akan mencari beberapa bukti untuk memperkuat dugaan ini, dan aku akan menunjukkan sketsa wajah pembunuh tersebut kepada devisi lain dan meminta bantuan. Apa ada yang ingin ditanyakan?"
Semua anggota teamnya menggelengkan kepala bertanda tidak ada pertanyaan, sepertinya mereka sudah mengerti segala perintah yang diberikan Taeil.
"baiklah kalau tidak ada aku duluan, masih banyak yang harus ku kerjakan" Taeil keluar dari ruangan rapat tersebut meninggalkan anggota teamnya.
"hey Yuta, kau hebat jika memang dugaanmu itu benar"
Yuta hanya tersenyum penuh kebanggaan dengan perkataan Taeyong barusan.
.
.
.
Johnny dan Jaehyun duduk berdampingan dibalkon kamar Johnny, dibatasi dengan meja bundar kecil yang cukup untuk meletakkan sebotol wine dan juga dua gelas untuk mereka masing-masing. Angin malam bisa dikatakan berhembus sangat kencang dan dingin menusuk tulang, namun kedua bapak anak itu sepertinya tidak keberatan jika dingin memeluk tubuh mereka.
Johnny melirik Jaehyun yang duduk tenang disampingnya, menyilangkan kedua kakinya disana, menggesekkan kedua telapak tangannya, sudah hampir satu jam mereka berada disini dan minum bersama, sepertinya Jaehyun sudah mulai kedinginan. Johnny masuk kedalam kamarnya, mengambil blanket dan sebuah syal rajut berwarna biru. Setelah itu Ia kembali ke balkon, melebarkan blanket tersebut dan menutupi kaki serta kedua telapak tangan Jaehyun agar angin malam tak langsung mengenai tubuhnya, lalu Johnny melingkarkan syal biru tersebut dileher Jaehyun agar anak sulungnya ini merasa hangat, Johnny berlutut dihadapan Jaehyun agar memudahkannya memakaikan syal dileher Jaehyun. Setelah itu Johnny tersenyum dan mengacak rambut kecoklatan Jaehyun, membuat Jaehyun sedikit cemberut. Ia jadi teringat saat dimana Jaehyun kecil dulu yang selalu senang menyambut musim dingin dan selalu meminta Appa nya atau Eomma nya memakaikannya syal saat akan keluar rumah dan bermain salju dihalaman rumahnya. Itu dulu, sekarang Jaehyun nya ini sudah dewasa, Johnny sudah tidak bisa mencubit kedua pipinya yang chubby dengan lesung pipinya itu.
"syal ini buatan Eomma mu, kau suka warna biru kan? seharusnya itu diberikan pada saat ulang tahun mu nanti"
"benarkah?"
"hmm..." Johnny mengangguk, Ia berdiri dan kembali duduk di tempatnya.
Jaehyun mengelus syal tersebut, merasakan kelembutan dan kehangatannya, sambil membayangkan Eomma nya "Appa, aku merindukannya, aku merindukan Eomma"
"aku juga, asal kau tau, aku selalu merindukan Eomma mu, aku juga selalu dihantui perasaan bersalah kepadanya"
Jaehyun menautkan alisnya, menatap Appa nya bingung "kenapa?"
"karena aku tak bisa menghentikan kejadian itu, aku terlalu lemah untuk melindunginya, aku tak bisa berbuat apa-apa untuknya, bahkan sampai sekarang aku tidak bisa menemukan pembunuhnya" Johnny tersenyum miris, dalam hati mentertawakan dirinya yang bodoh.
"itu bukan salahmu Appa" Jaehyun menuangkan wine kedalam gelas Johnny dan juga gelasnya. Mengajak Johnny untuk bersulang.
Johnny mengangkat gelasnya dan menyambut gelas Jaehyun, menciptakan dentingan kecil, lalu meminum wine nya.
"aku selalu menunggu saat dimana aku bisa minum bersama anakku, jika Jeno sudah cukup umur nanti mari kita minum bersama"
"tentu saja. Aku, Appa, Jeno dan juga Hansol Hyung, sepertinya akan sangat menyenangkan"
Johnny mengangguk kemudian menengguk wine yang ada di gelasnya, menghabiskan isinya sampai tak tersisa.
"sekarang jelaskan padaku, maksud dari telepon mu tadi sore, kau bertemu dengannya?"
Jaehyun meletakkan gelasnya kembali diatas meja, menatap Appa nya dengan serius.
"tidak, aku tidak bertemu dengannya"
"lalu?"
"tadi sore aku mencarinya di salah satu apartement didaerah Gangnam, aku menanyakan kepada security dan menunjukkan gambar wajahnya"
Johnny mendengarkan Jaehyun dengan seksama, Ia bahkan sudah meletakkan gelasnya diatas meja, dan mengubah posisi duduknya sedikit lebih dekat dengan Jaehyun.
"dan security tersebut mengenalinya, mengatakan dia pernah tinggal di apartement itu" lanjut Jaehyun.
"benarkah?"
"hmm..." Jaehyun mengangguk "sungguh sial, dia bilang orang itu baru saja pindah kemarin, tapi biarpun begitu ada sedikit kabar baik"
"apa?"
"aku sekarang tau siapa nama pembunuh sialan itu"
"benarkah? Siapa? Siapa namanya?" Johnny terdengar sedikit antusias.
"Kun, namanya adalah Kun. Appa kau tidak perlu lagi menyuruh orang-orangmu mencarinya di luar Seoul bahkan di luar negeri sekalipun, security itu bilang, Kun masih berada Seoul"
"selangkah lagi Jae, tinggal selangkah lagi kita pasti menemukannya"
"hmm...Appa benar, aku tidak akan menyerah, sampai aku menemukannya"
"aku juga"
Setelah itu Johnny dan Jaehyun kembali mengisi gelas mereka dan menghabiskan satu botol wine. Menikmati acara minum mereka ditengah angin malam yang semakin dingin, namun sepertinya tak ada satupun dari mereka ingin beranjak dari balkon kamar Johnny.
"Appa, apa kau melihat Jae..." Jeno seketika masuk kedalam kamar Johnny, langkahnya terhenti saat melihat pemandangan Johnny dan Jaehyun yang sedang duduk bersama di balkon, Ia langsung cemberut seketika dan menghampiri keduanya "Hyung, aku mencarimu daritadi ternyata kau disini"
"kau mencariku? Kenapa?"
"aku bosan, aku ingin mengajakmu main Wii, tapi kau malah bersembunyi disini"
Johnny terkekeh pelan melihat Jeno yang merengut "jangan cemberut jelek tau, duduklah"
"dimana?" Jeno mengedarkan pandangannya, di balkon ini hanya ada dua kursi dan keduanya sudah ada yang punya, lalu Jeno harus duduk dimana?
"disini" Johnny seketika menarik tangan Jeno dan membuatnya duduk diatas pangkuannya.
"ih Appa, aku bukan anak kecil lagi tau"
"bagiku kau masih kecil"
"apa aku tidak berat?"
"tidak"
"yasudah kalau begitu" Jeno mengalungkan sebelah tangannya di leher Johnny, sejujurnya Ia merasa senang juga diperlakukan seperti ini oleh Appa nya. Ia hanya gengsi saja mengakuinya. "Appa aku ingin mencobanya juga"
"apa?"
"itu" Jeno menunjuk kearah meja dimana terletak sebotol wine yang sudah kosong disana dan juga dua gelas milik Johnny dan Jaehyun.
"No! Kau belum cukup umur" Jaehyun menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, memberi gesture larangan kepada adik nya Jeno.
"oh ayolaah...seteguk saja Hyung, yah boleh yah Appa?" Jeno menatap Johnny yang memangkunya, memasang wajah aegyo nya berharap Appa nya meng Iya kan permintaannya.
Johnny menggeleng, Ia sebenarnya gemas sendiri melihat Jeno yang merajuk seperti ini, tapi Ia tetap menolak permintaan Jeno "tidak, benar kata Hyung mu, kau belum cukup umur, tunggu sampai umurmu sudah 20 tahun oke"
"hhh...masih lama"
"hahaha..." Johnny dan Jaehyun tertawa mendengar protesan Jeno, membuat Jeno semakin kesal.
Dan malam itu mereka menghabiskan waktu mereka bersama, bercanda dan tertawa bersama, dengan Johnny dan Jaehyun yang sesekali menggoda Jeno dan membuatnya kesal, banyak bercerita tentang keseharian mereka diluar rumah, sesekali Johnny menasihati kedua anaknya. Waktu terus bergulir dan malam semakin larut, Johnny mulai merasakan Jeno yang berada dipangkuannya ini menyandarkan kepalanya di bahunya, matanya mengerjap sepertinya sudah merasakan kantuk, Jaehyun juga sesekali mulai menguap. Akhirnya Johnny menyuruh kedua anaknya itu untuk masuk dan kembali ke kamar mereka masing-masing, namun ditolak oleh Jeno karena Ia ingin malam ini tidur bersama Appa nya, yang tentu saja disetujui oleh Johnny, sementara Jaehyun kembali ke kamarnya sendiri.
Keluarga mereka hampir saja sempurna. Sempurna, seandainya saja ada sosok yang berperan sebagai ibu diantara mereka.
.
.
.
"Appa, tumben mau mengantarku kesekolah, kenapa?" pertanyaan yang sama ditanyakan oleh Jeno berkali-kali pagi ini. Ia berada di tengah-tengah Johnny dan Hansol. Duduk di kursi penumpang di belakang, namun Ia tidak ada niatan untuk duduk bersandar, Ia terus saja berada di tengah-tengah antara Johnny dan Hansol menanyakan hal yang sama, Hansol yang sedang mengemudi saja sudah pusing mendengarnya.
"Jeno, kau membuatku terdengar seperti seorang Appa yang jahat, yang tidak pernah mau mengantar anaknya ke sekolah"
"kau memang tidak pernah mengantarku ke sekolah. Selalu saja Jaehyun Hyung yang melakukannya atau terkadang Hansol Hyung. bahkan saat pertemuan orangtua saja Hansol Hyung yang datang. Apakah Appa tau? Setiap Hansol Hyung datang ke pertemuan orangtua murid dia selalu mendapatkan pertanyaan 'Apakah kau Appa nya Jeno?' seperti itu, iya kan Hansol Hyung?" Jeno menoleh kearah Hansol yang sedang mengemudi.
"hahaha iya benar, mereka selalu mengiraku sebagai Appa mu"
"lama-lama aku juga akan salah mengira kalau Hansol Hyung itu orangtuaku yang sesungguhnya" ucap Jeno meledek Johnny.
"yasudah kau bisa menganggapnya sebagai orangtuamu juga kalau kau mau"
"mana mungkin, Hansol Hyung itu kan adalah Hyungku"
Johnny tersenyum, padahal Johnny berharap Jeno akan mengatakan 'yasudah kalau begitu jadikan dia orangtuaku, sebagai pengganti Eomma mungkin' namun jawaban Jeno barusan diluar ekspektasi Johnny.
"sejujurnya yah, Hansol Hyung itu sudah tidak pantas jadi Hyung mu, dia saja lebih tua dariku, masa kau memanggilku Appa tapi memanggilnya Hyung"
"diam kau Johnn! jangan bahas umur yah, kita cuma beda setahun"
"lalu aku harus memanggilnya apa? Samchon? atau Haraboji? Hahahaha"
Johnny dan Jeno tertawa puas meledek Hansol. Hansol bahkan menjitak kedua bapak anak itu saat mereka berhenti di lampu merah. Perjalanan mereka diiringi dengan tawa diantara ketiganya. Percayalah, jika mood Johnny sedang baik Ia akan mengeluarkan candaan-candaan yang dapat membuat mood orang-orang disekitarnya juga membaik.
Mereka akhirnya sampai, Hansol berhenti didepan gerbang sekolah Jeno. Jeno juga sudah menyampirkan ranselnya dikedua bahunya, berpamitan kepada Johnny dan Hansol. Namun saat melihat seseorang didepan sana Jeno mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil, membuat Johnny dan Hansol bingung.
"kenapa?" Johnny memandang Jeno yang tidak menjawab pertanyaannya, Ia akhirnya menoleh kearah Jeno memandang. Tak jauh dari mobil mereka berhenti, didepan sana terlihat seseorang yang berseragam sama seperti Jeno baru saja turun dari mobil, melambaikan tangannya pada seseorang didalam mobil, sampai mobil tersebut berlalu meninggalkannya. Hansol juga mengikuti arah pandang Jeno dan kemudian Ia menatap Johnny. Inilah alasan kenapa Johnny ingin mengantar Jeno kesekolah, Ia sebenarnya ingin bertemu dengan Renjun atau lebih tepatnya Hyungnya, Doyoung.
"Jeno, kau tidak mau masuk? Nanti kau terlambat" Johnny menyadarkan Jeno.
"ah iya...Appa, Hyung aku masuk dulu yah sampai jumpa" Jeno turun dari mobil melambaikan tangannya pada Johnny dan Hansol dan kemudian masuk ke sekolahnya.
"jadi itu yang namanya Renjun?" tanya Johnny kepada Hansol, yang dibalas anggukan oleh Hansol.
"sepertinya orang yang didalam mobil itu Doyoung, apa kau ingin menemuinya?"
"tidak, kita langsung ke kantor saja"
Hansol kemudian kembali menginjak gas nya, pergi meninggalkan sekolah Jeno menuju kantor mereka. Johnny dan Hansol sempat melihat Doyoung yang berhenti tak jauh dari sekolah, dan karena itu mereka berdua hari ini mengetahui bahwa selama ini mereka diawasi oleh polisi. Terutama Johnny, sekarang Ia tau siapa orang yang telah mengambil gambar sketsa Jeno dan mengapa. 'jadi mereka sudah melihat wajah Kun juga? Kalau begitu aku harus menemukannya lebih cepat dari mereka' batinnya.
.
.
.
Taeyong dan Doyoung kini sedang berada di daerah Myeongdong, salah satu daerah pusat perbelanjaan yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Taeyong yang menggunakan topi nya sehingga dapat menyamarkan wajahnya dan Doyoung dengan masker yang menutupi wajahnya. Berjalan beriringan dan memfokuskan pandangan mereka pada dua orang pemuda yang berada tak jauh di depan mereka, mengikuti langkah dua pemuda itu dan menjaga jarak mereka agar tak di curigai, sesekali berhenti saat dua pemuda itu mampir di salah satu toko.
Pada saat pulang kuliah tadi Jaehyun mengatakan pada Taeyong bahwa Ia ingin menemani adiknya mencari buku gambar baru, dan mendengar itu disinilah Taeyong sekarang, diam-diam mengikuti Jaehyun dan Jeno mengelilingi Myeongdong ditemani Doyoung yang memaksa untuk ikut. Sebenarnya Taeyong itu lelah, tapi Ia ingat Taeil Hyung selalu menyuruhnya untuk tetap mengawasi Jaehyun sampai Ia masuk rumah. Ia juga membiarkan Doyoung untuk ikut, anggap saja untuk menemaninya sehingga dia tidak akan merasa bosan.
"katanya cuma beli buku gambar, tapi lihat sudah berapa kantong belanjaan yang mereka tenteng, ckckck" Taeyong menggelengkan kepalanya heran. Awalnya dia berpikir Jaehyun dan Jeno hanya akan mampir ke toko buku, namun dugaannya salah, mereka berdua juga mampir ke toko sepatu, toko baju, toko mainan, dan toko-toko lainnya.
"mereka punya banyak uang Hyung, suka-suka mereka lah mau beli apa juga, daripada uangnya cuma disimpan doang"
"iya juga siiih" Taeyong menyetujui pernyataan Doyoung.
Mereka berdua kembali memfokuskan diri mereka kepada Jaehyun dan Jeno, Myeongdong itu ramai, jika sedetik saja mereka tidak fokus bisa-bisa Taeyong dan Doyoung kehilangan dua kakak beradik itu.
.
"Hyung aku lapar" Jeno mengeluh kepada Jaehyun, Ia mulai merasa lapar dan juga lelah.
"aku juga, kau mau makan apa?"
"Teokbokki, aku sudah lama tidak makan itu Hyung"
"baiklah, kita cari kedai Teokbokki" tangan kanan Jaehyun merangkul bahu Jeno, mengajak adiknya mencari kedai Teokbokki terdekat. Sementara tangan kirinya penuh dengan paper bag belanjaan mereka, bahkan Jaehyun juga mengambil dua paper bag yang di genggam oleh Jeno, membiarkan adiknya jalan dengan santai tanpa beban.
Jaehyun dan Jeno menghampiri sebuah truck yang menjual Teokbokki, mereka memesan dua porsi Teokbokki dan juga fishcake soup. Dengan sabar menunggu pesanan mereka, melihat truck ini dikelilingi banyak pembeli yang beberapa diantara mereka juga belum dilayani oleh sang Ahjumma penjual Teokbokki tersebut.
"Ahjumma, satu porsi Teokbokki yah" seseorang yang baru saja datang, berdiri disamping Jaehyun juga memesan Teokbokki, membuat Jaehyun menoleh kearahnya.
Jaehyun seketika menjatuhkan semua paper bag yang ada ditangannya, membuat Jeno menoleh dan menatapnya bingung.
"kenapa Hyung?"
Jaehyun tidak menjawab pertanyaan Jeno, Ia bahkan tidak sedikitpun menoleh kearah Jeno, pandangannya terpaku pada orang disampingnya ini, yang baru saja datang dan memesan Teokbokki. Jeno yang heran dengan tingkah Hyung nya kemudian mengikuti arah pandang Jaehyun. Ia melebarkan kedua matanya saat tau siapa yang ada di samping Hyung nya itu. Reaksinya tak jauh berbeda dengan Jaehyun, keduanya sama-sama membeku ditempat, bukan hanya keduanya melainkan orang yang membuat Jaehyun dan Jeno terdiam ini pun sama-sama tak mengeluarkan sepatah katapun.
Orang asing itu mundur beberapa langkah, tanpa mengalihkan pandangannya dari Jaehyun dan Jeno.
Sementara Doyoung dan Taeyong yang masih memperhatikan kedua kakak beradik itu mulai merasakan feeling yang aneh. Posisi mereka terlalu jauh, situasi disekitar mereka juga bertambah ramai.
"Hyung kita terlalu jauh, sebaiknya kita mendekat aku merasakan sesuatu yang buruk" Doyoung berjalan mendahului Taeyong, menerobos kerumunan orang dan mendekati dua kakak beradik itu, diikuti Taeyong dibelakangnya.
Doyoung dan Taeyong berhenti setelah berada beberapa meter dari Jaehyun dan Jeno. sekarang mereka berdua bisa melihat situasi disekitar Jaehyun dan Jeno dengan jelas. Doyoung dan Taeyong melebarkan kedua matanya saat melihat siapa orang yang sedang berhadapan dengan kedua kakak beradik itu.
"Taeyong Hyung, orang itu!"
"Kun" Jaehyun dengan suara pelannya menyebut nama orang asing itu, membuat orang yang dipanggil Kun itu sedikit terkejut.
Dengan seketika Kun mengambil langkah seribunya, berlari menjauhi Jaehyun dan Jeno yang juga ikut berlari mengejarnya. Mereka bertiga tidak mempedulikan teriakan sang Ahjumma penjual Teokbokki yang memanggil mereka karena pesanan mereka yang sudah jadi. Jaehyun bahkan meninggalkan semua barang belanjaannya.
"OH SHIT! Doyoung cepat kejar mereka" Taeyong yang melihat mereka berlari seketika mengikuti mereka, berlari menerobos kerumunan orang, tak peduli dengan protesan serta makian yang didapatinya, begitupula dengan Doyoung, Ia melepas masker di wajahnya dan membuangnya begitu saja.
Taeyong berusaha sekuat tenaganya utuk mengejar tiga orang tersebut, dia dan juga Doyoung terus berlari, memandang lurus kedepan takut kehilangan jejak mereka, situasi yang ramai ini benar-benar menyulitkan mereka berdua.
"Ahh..." Taeyong menabrak seseorang, membuat dia dan orang yang ditabraknya terjatuh.
"Hyung kau tidak apa-apa?" Doyoung mengulurkan tangannya dan membantu Taeyong berdiri.
"hey Tuan, apa kau tidak punya mata hah? Kenapa kau berlari di tempat keramaian seperti ini?" orang yang di tabrak Taeyong itu seketika menarik kerah baju Taeyong dan berteriak kesal kepadanya. Doyoung dengan sigap memisahkan keduanya.
Taeyong dengan tenang mengeluarkan kartu identitasnya, menunjukannya kepada orang yang ditabraknya itu dan menatapnya tajam "kau mengganggu pekerjaanku Tuan, bisakah kau minggir?" ucap Taeyong dengan nada dingin.
Orang yang menabrak Taeyong tersebut seketika melepaskan cengkramannya dari kerah baju Taeyong saat membaca kartu identitas Taeyong yang merupakan seorang polisi, kemudian Ia membungkukkan badannya sembilan puluh derajat "Maafkan saya Tuan" orang tersebut kemudian pergi meninggalkan Taeyong dan Doyoung.
Taeyong mengedarkan pandangannya mencari tiga orang yang dikejarnya tadi.
"kita kehilangan mereka Hyung"
"sial, cari sampe ketemu, aku yakin mereka tidak akan jauh dari sini"
Taeyong dan Doyoung kembali berlari mencari Jaehyun, Jeno, dan Kun.
.
.
.
Kun terus berlari tak tentu arah, Ia sesekali menoleh kebelakang melihat Jaehyun dan Jeno yang masih mengejarnya, bahkan jarak mereka bertiga bisa dibilang tidak terlalu jauh. Kun berbelok ke salah satu gang dan sialnya itu adalah jalan buntu. Jalan ini benar-benar sempit dengan tembok disisi kiri dan kanan, tidak ada jalan keluar untuk Kun. Ia menoleh ke belakang, disana sudah berdiri Jaehyun dan Jeno dengan napas mereka yang terengah-engah.
Jaehyun dan Jeno mendekati Kun yang berdiri diujung jalan.
"hai Jaehyun, lama tak berjumpa" Kun tersenyum dengan senyum malaikatnya menyapa Jaehyun dan Jeno ramah yang dibalas seringaian oleh Jaehyun. Kun kemudian melirik Jeno yang berada disamping Jaehyun "apa kabar anak manis?"
Jaehyun menggeser tubuhnya, memunggungi Jeno melindungi adiknya itu.
"setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu lagi, Kun"
"wow..daebak, kau mengetahui namaku. hey kau seharusnya memanggilku dengan sebutan Hyung agar terdengar lebih sopan"
"cih...aku tidak sudi bersikap sopan dengan orang sepertimu"
"bagaimana kabar Appa mu? Dia tidak gila kan ditinggal oleh Eomma mu?"
"BRENGSEK!"
Jaehyun mencengkram kerah baju Kun dengan kedua tangannya, menghantamnya ke tembok, memukulnya tanpa ampun, menendangnya, tak memberikan Kun kesempatan untuk melawan.
"Hyung hentikan!" Jeno menarik Jaehyun memisahkannya dari Kun yang sepertinya sudah tak berdaya "kau bisa membunuhnya Hyung"
Jaehyun melebarkan kedua matanya tak percaya dengan perkataan Jeno tadi "Jeno, lihat baik-baik orang itu" Jaehyun menunjuk Kun yang berusaha untuk berdiri "dia orang yang membunuh Eomma, kau dengar aku? DIA ORANG YANG MEMBUNUH EOMMA!"
Kun tersenyum sinis, mengusap ujung bibirnya yang sobek akibat pukulan Jaehyun "ya benar aku yang membunuhnya, tapi apa kau tau? aku hanya menjalankan perintah saja anak manis"
"apa maksudmu?" Jaehyun kembali mendekati Kun, kembali mencengkram kerah bajunya.
Kun mendekatkan bibirnya ke telinga Jaehyun membisikkan sesuatu, sesuatu yang membuat Jaehyun melebarkan kedua matanya, cengkraman tangannya di kerah baju Kun pun melemah.
"bagaimana? kau percaya padaku?" tanya Kun setelah membisikkan sesuatu kepada Jaehyun, Ia tersenyum puas melihat reaksi Jaehyun.
"tidak, aku tidak percaya padamu" Jaehyun menggelengkan kepalanya.
"Hyung, kenapa? Apa yang dikatakannya?" Jeno yang berada beberapa langkah dibelakang Jaehyun bertanya kepadanya.
"apakah Jeno ingin mendengarnya juga? Haruskah aku memberitaumu juga?" Kun berjalan, hendak mendekati Jeno namun langkahnya ditahan oleh Jaehyun.
"jangan coba-coba mendekatinya. Sekarang katakan padaku kalau kau berbohong"
"aku tidak berbohong. Kau tau? Prinsip hidupku adalah untuk tidak melakukan suatu kebohongan"
"berhenti bicara omong kosong" Jaehyun, sekali lagi memukul Kun dengan kepalan tangannya yang kuat, membuatnya terhuyung kebelakang.
"cih.." Kun meludah, mengeluarkan air liurnya yang sudah tercampur dengan darah "sudah habis kesabaranku" Ia merogoh sesutu di kantong dalam jaketnya, mengeluarkan sebuah pisau lipat, membukanya memperlihatkan ujung pisau yang runcing, mengacungkan pisau itu kearah Jaehyun "sepertinya kau memang tidak suka diajak bicara baik-baik yah"
Kun melangkah mendekati Jaehyun dengan pisau ditangannya, berniat menikamnya. Jeno yang melihat itu pun mendekati Hyung nya, dengan sigap berdiri di depan Jaehyun menjadikan dirinya sebagai perisai untuk Hyung nya. Hingga akhirnya...
"Aah!" pisau yang berada ditangan Kun tertancap dengan sempurna di perut Jeno.
"JENO!"
Kun menarik pisaunya kembali, ekspresinya sama terkejutnya dengan Jaehyun, sasaran utamanya bukanlah Jeno. Tangannya yang memegang pisau pun bergetar.
Jeno memegang perutnya yang terluka, menahan rasa sakit akibat luka tusukan itu. Tubuhnya terhuyung lemas dan hampir terjatuh jika saja tidak ditahan oleh Jaehyun.
"Jeno...Jeno...apa kau mendengarku?" Jaehyun mendekap tubuh adiknya, tangan yang satunya Ia gunakan untuk menekan perut Jeno yang terluka, mencoba menghentikan darah yang mengalir.
Kun melangkah mundur, berlari pergi meninggalkan Jaehyun dan Jeno yang sekarat, keluar dari gang sempit itu.
"Jeno...hiks" Jaehyun menangis, Ia mendekap Jeno lebih erat, Ia bisa merasakan tangan Jeno yang meremas kaos dibagian dadanya.
"Hyu...Hyung sa..sakiit" Jeno menyalurkan rasa sakitnya dengan mencengkram kaos Jaehyun dengan erat.
"bertahanlah Jeno...hiks..bertahanlah kumohon"
"Jaehyun"
Jaehyun menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya, dengan matanya yang berair Ia bisa melihat Taeyong menghampirinya.
"ASTAGA! APA YANG TERJADI?" Taeyong yang melihat Jeno dalam dekapan Jaehyun dengan sigap meghampiri keduanya, berlutut dan kedua tangannya langsung membantu Jaehyun menutupi luka tusuk dibagian perut Jeno.
"kumohon...hiks...kumohon selamatkan dia" Jaehyun dengan air matanya yang mengalir, menatap Taeyong dan memohon padanya.
Cengkraman tangan Jeno pada kaos Jaehyun melemah, pandangannya juga sudah mulai mengabur. Jaehyun semakin mendekap Jeno dengan erat di dadanya, air matanya mengalir semakin deras.
"Taeyong kumohon hiks...aku tidak ingin kehilangan dia"
Ya, Jaehyun tidak ingin untuk kedua kalinya kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya. Jangan biarkan Jaehyun merasakannya untuk kedua kalinya.
-TBC-
Annyeonghaseyo~
Bertemu lagi dengan Star hahaha...gak tau deh chapter ini lebih panjang dari chapter sebelumnya, semoga reader gak bosan bacanya yah. bahkan Star udah hapus beberapa part tapi tetep aja panjang. maafkan juga jika bagian Jaehyun, Jeno dan Kun itu rada maksa dan feel nya gak dapet karena Star juga bingung banget harus mendeskripsikannya bagaimana, Star aja mikirnya seharian buat bagian yg itu wkwkwk...udah seharian masih aja jelek yah, ah sudahlah namanya juga baru belajar, ya gak? btw terimakasih buat para readers yang memberikan Review, Fav dan Follownya gara-gara itu Star jadi semangat bahkan pas liat reviewnya Star jadi senyum-senyum sendiri kyk orang gila wkwkwk...Star akan berusaha untuk di chapter yang berikutnya. selamat membaca, Annyeong~
-100BrightStars-
