Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. One-shot.
Semua informasi murni ditulis untuk kepentingan cerita. Tak ada maksud untuk menyinggung dan menjelekkan pihak mana pun.
Words : 2.275
Knot.
By VikaKyura.
- Dewfall -
"Kakak?"
Ino menemukan siluet sang kakak, sedang berada di antara kerumunan pengunjung pameran seni yang digelar di sebuah aula gedung megah.
Sasuke membalik badan. Ia segera melebarkan onyxnya. "Ino? Kenapa kau berada di sini?"
Si gadis mengerjap. Ternyata lelaki itu benar kakaknya.
"Kunjungan lapangan. Aku sedang mengumpulkan materi untuk pembahasan." Jawab Ino. "Lalu, sedang apa kakak berada di sini?"
"Uchiha-san~"
Tiba-tiba suara seorang perempuan memanggil nama marga lelaki itu dengan sok akrab. Perempuan bersurai pink tersebut menyeruak muncul dari balik kerumunan dan segera menghampiri Sasuke.
"Aku sudah mendapat apa yang kita cari- eh?" Perempuan itu berhenti saat ia mendapati sosok seorang gadis berambut pirang panjang tengah berdiri di hadapan lelaki yang datang bersamanya.
Ino melebarkan aquanya. Kakaknya datang ke sini ditemani seorang wanita? Urusan pekerjaan kah? Atau . .
Dilihat Ino, manik hijau si perempuan mulai memicing ke arahnya. Dagu runcingnya terangkat. Emerald itu bergerak pelan dari bawah ke atas, menelusuri penampilan Ino dengan teliti seakan tak mau ada satu jengkal pun yang terlewat. Kini perempuan bertubuh langsing itu mengerutkan dahi.
"Siapa gadis ini?" Ada nada sinis terselip di nada bicara si perempuan.
Tak ada yang menyahut. Kini Ino balik menilik penampilan perempuan itu lekat-lekat.
"Uchiha-san apa kau mengenalnya?" Perempuan itu menoleh pada Sasuke, kembali bernada manis.
Sasuke mengangguk, membuat si perempuan mengernyit.
"Kau siapa?" Ino bertanya. Senyuman yang tak kalah manis kini terukir menghiasi bibirnya. "Apa hubunganmu dengannya?" tanyanya pada si perempuan, sambil mengedikkan kepala ke arah Sasuke.
Perempuan berambut pink itu tersentak, seolah mendapat heart attack saat akhirnya ia menyadari bahwa gadis berambut pirang di depannya memiliki visual yang sangat cantik. Merasa terancam, ia segera berdehem.
"Aku Haruno Sakura. Kekasihnya Uchiha-san." Deklarasi perempuan itu. "Jadi kau siapa?"
Ino mengerjap. Meski dalam hati ia melonjak kaget, gadis itu tetap menata dirinya. Wajahnya masih mematri senyuman.
Berakting adalah keahlian Ino.
"Ah," Ia menoleh anggun ke arah sang kakak. "Benar itu?"
Sasuke tak menjawab atau pun menyangkal. Ia hanya diam saja sambil menarik nafas lelah. Lelaki itu menduga adiknya akan segera menjerit untuk mengatainya curang. Sebab selama ini Sasuke telah melarang Ino pacaran.
Tetapi Ino hanya menatapnya datar. Sedetik kemudian si gadis berucap sendiri, "Sepertinya benar."
Ino kembali menoleh ke arah Sakura. Ia tersenyum lagi. "Kalau begitu, selamat."
Setelah berucap demikian, Ino melirik Sasuke sekilas sambil melambai cantik. "Sampai ketemu sore nanti ya." ujarnya, sengaja dimanis-maniskan. Tak perlu basa-basi lagi, ia segera berbalik pergi.
Sementara Sakura melebarkan mata. "S-sore? Hei! Memangnya kau siapa?"
Didengar Ino, suara perempuan itu masih memanggil penasaran. Kini sedikit disertai geraman. Tapi si gadis mengabaikan. Ia tidak mau peduli. Ino tetap melangkah ke depan, segera menyembunyikan diri di antara pengunjung yang berlalu lalang. Berbaur bersama keramaian. Ino meremas jemarinya kuat-kuat.
"Siapa itu, Uchiha-san? Apa dia kenalanmu?" Sakura bertanya lagi.
Sasuke masih memandang ke arah tempat adiknya menghilang. Ia membuang nafas. "Hn."
Lalu, tanpa merasa perlu berkata apa pun, lelaki itu segera membalik badan dan melangkah pergi.
Sakura hanya menatapnya bengong. Ia segera mengejar. "Tunggu aku, Uchiha-san!"
.
.
Ino tak pernah menduga bahwa kakaknya yang dingin dan stoik itu benar-benar mempunyai pacar.
Selama ini ia hanya berspekulasi saja, tetapi berusaha mati-matian menyangkal.
Sebenarnya, wajar saja bila seorang Uchiha Sasuke mempunyai satu, dua atau lima pacar. Bahkan puluhan mantan. Atau bahkan istri simpanan. Itu sangat wajar. Karena kakaknya adalah lelaki dewasa yang tampan. Amat sangat tampan malah. Ino yakin penampilan rupawannya saja sudah mampu menarik perhatian semua wanita, membuat mereka kegilaan dan berusaha menempel seperti ngengat. Apalagi jika sudah kecantol dengan sifat dinginnya itu.
Ino saja sampai terjebak dalam perasaan, seperti ini.
Gadis itu memandang tajam gelas minumannya.
Ia mendadak mengingat sosok perempuan yang mengaku sebagai pacar kakaknya itu. Dan sang kakak tidak menyanggah pula. Ino segera menirukan gaya perempuan itu saat mendelik mengamatinya dari bawah ke atas. Ino membusungkan dada. Dagunya diangkat. Eskpresinya diketuskan. Safir birunya bergulir congkak. Alisnya dinaikkan. Bibirnya ditarik ke samping.
Ino mempraktekannya pada botol minuman di meja.
Heh.
Gadis itu mendenguskan tawa meremehkan.
Jadi tipe kakaknya yang seperti itu toh. Yang berdada rata? Yang berbokong tepos? Yang berbadan kurus? Yang ber-make up cetar?
Ino berdecak sambil mengangkat gelasnya. Ia memainkan gelas kaca itu. Memutar-mutarnya sebentar, lalu kemudian meneguk isinya sampai habis.
Ino menggeleng dengan kepala sempoyongan. Ia tak percaya dengan perempuan pilihan kakaknya itu.
Brak.
Si gadis menyimpan gelasnya keras-keras di meja. Kepalanya tersungkur lunglai di sana.
"Hiks." Rupanya cekukannya belum juga hilang.
"Huweeeeek."
Sedetik kemudian, ia kembali merengek.
Seharusnya Ino sudah menyiapkan hati. Tapi tetap saja kini ia menggalau.
Hiks. Kali ini ia terisak.
Jika sudah begini, apa yang akan Ino lakukan dengan hatinya yang malang ini? Ia tidak akan bisa rela.
Ino masih belum bisa menerima kenyataan tentang Sasuke yang ternyata sedang memadu kasih dengan perempuan lain. Lantas, apa yang akan terjadi pada dirinya?
Ino mendecak sebal.
Jadi yang seperti itu tipe kakaknya? Pantas saja selama ini Sasuke tak pernah tampak bernafsu kepadanya. Ternyata ia sama sekali bukan tipe lelaki itu. Penampilannya sungguh berkebalikan dari sang pacar.
Tangan gadis itu mulai menangkup sepasang buah dadanya yang berukuran cukup besar. Haruskah Ino melakukan operasi pengecilan payudara? Lalu menepuk-nepuk bokong montoknya. Atau operasi peneposan pantat? Kemudian Ino menelusurkan jemarinya di sepanjang garis wajahnya.
"Kheh." Gadis itu tiba-tiba tertawa. Apa ia juga harus mengoperasi struktur wajahnya yang sudah cantik dari lahir ini supaya tampak biasa-biasa saja?
"Tapi uang darimanaaaaa?" Kepala pirangnya kembali tersungkur ke atas meja.
"Huweeeee." Ino meraung lagi sambil menggebrak-gebrak brutal meja kedai. "Apa yang kau hiks, lihat dari perempuan itu?" Lirihnya. "Aku seratus kali lipat lebih bagus darinya kan! Hiks."
Gadis itu menjeduk-jedukkan dahinya ke ujung meja.
Teuchi, nama bapak pemilik kedai yang sedang dikunjungi Ino tersebut, memandang horor ke arah gadis itu dari balik meja stannya. Tak biasanya gadis cantik yang selalu bersikap manis dan anggun itu bersikap liar seperti demikian.
Ia segera menarik lengan putrinya. Mereka sedang sama tercengang.
"Ayame, apa yang kau berikan pada Ino-chan? Sudah kubilang jangan pernah memberi gadis itu minuman memabukkan!" tanya Teuchi panik. "Kau ingin kita dimurkai oleh Sasuke-kun?"
Ayame menggeleng cepat-cepat. "Aku tidak memberinya minuman beralkohol kok!" koreksinya.
Teuchi menautkan alis. "Lantas kenapa sekarang Ino-chan bertingkah seperti orang mabuk?"
Ayame menggeleng lagi. "Tidak tahu. Daritadi aku hanya memberinya botol air mineral itu. Sumpah." Perempuan pelayan kedai tersebut menunjuki botol-botol yang sedang berserakan di meja Ino.
Teuchi hanya bisa bengong sambil mengucurkan keringat. "Dia bisa mabuk hanya karena minum air biasa?" Ia mengerjap.
Sedetik kemudian, Teuchi bergeleng. Ia sempat melirik jam dindingnya. Sudah hampir jam enam sore. Gadis itu harus segera pulang, atau kakaknya bisa marah. Mereka juga bisa kena semprot. Lagipula, jika dibiarkan saja, Ino bisa semakin menganggu pelanggan kedainya yang lain. Gadis itu pasti tidak akan senang jika sadar dirinya yang sedang bertingkah seperti ini ditontoni orang-orang.
Pria paruh baya itu berjalan menghampiri meja lesehan tempat Ino duduk. Diikuti putrinya.
"Ino-chan? Apa kau sedang bertengkar dengan kakakmu lagi?" tanya Teuchi pada gadis yang sudah menjadi pelanggan tetapnya itu.
Ino mendongak. "Pamaaann. Nee-san!" Lirihnya, segera menangkup kaki Ayame. Ia menggeleng.
"Lantas kenapa kau sampai seperti ini?" Ayame ikut bertanya, jelas syok. Ia berjongkok. Refleks tangannya menepuk-nepuk kepala si gadis.
"Kakakku punya pacar, hiks." Ungkap Ino sesenggukan.
"Eh?" Teuchi dan putrinya berpandangan.
"Bagaimana nasibku sekarang, nee-san?" Ino mulai mengucurkan air mata.
Kedua orang di depannya hanya mengerjap panik.
"Bukannya bagus jika Sasuke-kun punya pacar?" tanya Ayame polos. "Jika mereka menikah, kau jadi bisa mempunyai saudara perempuan kan, Ino-chan." Ia mencoba menenangkan.
Namun itu kesalahan besar.
Si gadis membuka aquamarinenya lebar-lebar.
"Huweeeeeeeeeek." Ino malah semakin meraung. Ia menggeleng. "Itu tidak bagus!" Sanggahnya. "Jika nii-chan punya pacar, mereka pasti akan menikah ya? Hiks." Cekukannya kambuh. Air matanya melinang. "Jika mereka menikah maka aku pasti akan diusir dari rumah!" Gadis itu masih terisak. "Aku malah jadi tidak punya siapa-siapa lagi." Gumamnya. "Jika nii-chan menikah . . dia pasti akan meninggalkanku." Curhat gadis itu.
Kemudian Ino menangis hebat. Ia terus bicara dan terisak bersamaan untuk beberapa menit selanjutnya. Membuat dua orang pemilik kedai itu semakin uring-uringan.
.
.
"Ino."
Sebuah suara bariton yang sudah sangat familiar itu tiba-tiba memanggil dari arah belakang.
Ino melebarkan mata. Ia segera menghentikan isakannya. Ia hapal sekali siapa pemilik suara itu. Si gadis memutar duduknya.
"K-kakak . ."
Sasuke sedang menatap lurus ke arahnya. Sang kakak masih mengenakan setelan formal kerjanya. Jelas sekali ia baru pulang bekerja.
Lelaki itu melangkah maju dan menghadap ke arah dua orang pemilik kedai yang sedang tampak mendesah lega. Ia membungkukkan kepala. "Maaf telah merepotkan kalian." Rupanya salah satu dari mereka telah menghubungi lelaki itu barusan tadi.
Teuchi dan Ayame hanya bisa mengangguk kaku sambil menelan ludah.
Sasuke membalik ke arah Ino, lalu segera meraih satu lengan gadis itu. "Ayo pulang."
Ino segera menggeleng. Ia pasti akan dimarahi karena sudah melanggar jam malam.
Onyx sang kakak meruncing, mencermati penampilan berantakan adiknya. Rambut pirangnya acak-acakan. Pakaiannya kusut. Pipi dan matanya memerah. Gadis itu sedang cekukan. Sasuke merengut. Penampilan seperti ini menandakan gadis itu sedang menggalau.
Tetapi biasanya Ino selalu menolak untuk terlihat kucel seperti itu terutama saat ia berada di luar rumah.
Dan gadis itu tidak pernah terang-terangan menangis di depan umum.
Diliriknya gelas dan botol minuman di atas meja.
Kemudian tanpa banyak bicara lagi, Sasuke membungkuk untuk merengkuh tubuh gadis itu. Dan mulai menggendongnya. Ino memekik.
"Jangan membuatku cemas." Bisiknya, kini telah mendekap tubuh gadis itu.
Ino terpaku untuk sesaat. Setelahnya, kedua safir biru itu kembali tergenang. Si gadis segera melingkarkan kedua lengannya untuk mendekap leher Sasuke erat-erat. Wajahnya diredamkan pada pundak lebar lelaki itu. "Maafkan aku." Lirih Ino.
Sasuke mulai melangkah ke luar kedai. Senja sudah meninggalkan kota. Lelaki itu terus berjalan sambil menggendong tubuh adiknya untuk pulang ke apartemen mereka yang berjarak sekitar satu kilometer di depan.
Keduanya tidak saling bicara lagi.
.
.
"Kau tidak sedang mabuk, kenapa bertingkah seperti ini?"
Itu pertanyaan pertama yang dilontarkan Sasuke sesaat setelah mereka tiba di rumah, dengan nada jelas marah.
Ino mengalihkan pandang. Tentu saja ia tidak mabuk. Lebih tepatnya patah hati. Mabuk cinta ternyata bisa lebih menyedihkan.
"Tentu saja tidak. Kau pasti sudah merebusku di air mendidih jika berani menyentuh alkohol." Gumam si gadis, berusaha tidak menatap mata kakaknya.
"Lantas kenapa sekarang kau uring-uringan seperti ini?" tanyanya, masih dengan nada dingin. "Tadi itu memalukan."
Ino tidak menyahut. Ia mengaku salah. Tapi semua ini salah Sasuke juga. Lelaki itu yang telah membuat kondisi hati dan mentalnya oleng seperti ini.
Ino terisak satu kali, mencoba bertahan untuk tidak menjatuhkan air dari matanya lagi.
Sasuke merangkum kedua pipi gadis itu, membuat Ino mendongak. "Kenapa kau menangis?"
Si gadis menatap wajah tampan lelaki itu sejenak. Nafasnya mulai berat. "Jika kakak menikah, nanti aku hidup dengan siapa?" Ino balik bertanya tanpa basa-basi. Tangis mulai mengucur lagi di pipinya.
Sasuke tercengang. Mengapa adiknya tiba-tiba mempermasalahkan mengenai hal itu?
Sedetik kemudian Sasuke merengut. Jemarinya mulai menyeka air mata di pipi si gadis. "Siapa yang bilang aku akan menikah?"
"Kau sudah mempunyai pacar sekarang. Cepat atau lambat kau pasti akan menikah." Sahut Ino.
"Meski begitu kau masih bisa hidup denganku." Ujar si lelaki.
Ino mulai kembali terisak. Hatinya kembali terasa sakit. Jadi ia tidak menyangkal punya pacar, huh?
Si gadis menggeleng. "Di saat itu kakak pasti akan meninggalkanku." Gumamnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu." Janji Sasuke.
"Kenapa?" tuntut Ino.
Lelaki itu menyahut. "Tidak ada alasan untukku berbuat seperti itu."
Ino segera mengoreksi. "Tentu saja ada. Seperti halnya kau harus punya alasan untuk tetap tinggal bersamaku." Si gadis mengambil jeda sebentar, membasahi tenggorokannya yang kering. "Untuk hidup bersama keluarga lah yang tidak membutuhkan alasan. Tapi untuk tinggal bersama orang lain pasti diperlukan alasan." Ungkapnya.
Sasuke menautkan alis. "Apa yang sedang kau coba katakan?"
"Apa yang selama ini mengikatmu? Kewajiban? Janji?" Si gadis menelan ludah. Ia memindahkan pandang lagi. "Kau tidak harus terus terikat pada janjimu untuk menjagaku."
Sasuke kembali memalingkah wajah Ino, suaranya menajam. "Apa yang kau maksud?"
"Kita bahkan tidak benar-benar bersaudara." Ino melanjutkan.
Sasuke melebarkan onyxnya. Lalu ia menatap tajam gadis di depannya itu. Ekspresinya berubah.
"Jika kau sadar akan hal itu, maka tidak seharusnya kau terus-terusan menyusahkanku seperti ini." Ujar si lelaki, tiba-tiba terdengar sangat dingin.
Ino memandang Sasuke dengan aqua yang membulat. Dilihatnya, sang kakak kini sedang menusukkan sepasang onyx itu padanya. Ekspresinya serius, hampir menakutkan. Semarah-marahnya sang kakak, Ino tak pernah melihatnya seperti itu.
"Kita memang bukan saudara kandung." Ujar Sasuke sangat dingin. "Maka berhenti bersikap manja. Kau sudah bukan anak kecil lagi!" Pungkas lelaki itu.
Sasuke melepaskan wajah Ino secara kasar. Kemudian ia segera memutar badan dan melangkah pergi. Meninggalkan Ino sendiri.
Gadis itu tercengang. Ia belum pernah dibentak seperti itu oleh Sasuke.
Jadi dirinya benar-benar telah menyusahkan, eh? Ino sudah tidak bisa menahan isakannya lagi.
Sejak awal, mereka memang tidak pernah terikat. Ino hanya orang lain yang secara kebetulan dihubungkan dengan lelaki itu selama hampir 17 tahun ini. Namun dengan bodohnya, selama ini Ino telah bertindak seenaknya dan semaunya saja. Menganggap lelaki itu sebagai satu-satunya keluarga.
Begitu egoisnya Ino akan perasaannya, sampai-sampai ia lupa diri dan berusaha mengekang sang kakak. Bukan gadis itu yang selama ini dikukung, namun lelaki itulah . . yang telah terbebani.
Ino menengadahkan wajahnya ke atas, mencoba untuk membendung cairan bening yang sedari tadi telah melapisi safirnya untuk tidak tumpah lebih banyak lagi.
Ino menarik kuat nafasnya yang sedang tersendat, berusaha supaya mengenyahkan isakannya.
Kenapa selama ini Ino besar kepala?
Berharap Sasuke akan melihatnya sebagai seorang wanita. Nyatanya, ia hanya akan terus dianggap sebagai adik manja yang menyusahkan di mata sang kakak.
'Tapi aku tidak mau sendirian. Aku takut jika sendirian. Aku sama sekali tidak berdaya . . jika tidak ada kakak . .' lirih hati kecilnya.
-TBC-
Hatiku teriris.
Well, chapter ini agak panjang. Setelah kemarin dimanis-manis, sekarang disambar petir.
Thanks for caring. Review lagi yaaa~
Updated : 10/01/17
