Gloomy

Casts :

- Johnny

- Jaehyun

- Jeno

- Taeyong

- Hansol

- Doyoung

- Yuta

- Ten

- Taeil

- Renjun


Part 9

Jaehyun dan Taeyong menunggu didepan ruang gawat darurat, didalam sana Jeno sedang mendapatkan pertolongan dari para team medis. Dalam hati Taeyong mengutuk dirinya yang terlambat menemukan Jaehyun dan Jeno, jika saja Ia dan Doyoung dapat mengejar mereka bertiga mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Ia juga masih belum mendapatkan kabar dari Doyoung yang mengejar pelaku, Taeyong berharap Doyoung bisa menangkapnya, Taeyong sekali lagi mengutuk dirinya sendiri yang tidak membawa senjatanya, begitu juga dengan Doyoung. Jika mereka membawa senjata mereka, mungkin mereka bisa menembak kaki si pelaku agar tidak bisa lari. Taeyong sudah menghubungi Taeil dan anggota teamnya yang lain untuk untuk siaga di daerah Myeongdong dan sekitarnya.

Taeyong berdiri bersandar ditembok, dalam hati berdoa semoga Jeno baik-baik saja. Didepannya ada Jaehyun yang duduk tertunduk, air matanya juga tak berhenti mengalir, dengan telapak tangan dan baju nya yang berlumuran darah. Taeyong sudah memberikannya sebotol air mineral namun tak sedikitpun Jaehyun menyentuhnya, botol air mineral itu malah dibiarkan begitu saja disampingnya. Taeyong juga sudah kehabisan cara bagaimana untuk menenangkan Jaehyun, Ia menyerah, satu-satunya orang yang bisa menenangkannya mungkin hanya Johnny.

"Jaehyun!"

Taeyong dan Jaehyun menoleh kesumber suara, mereka melihat Johnny dan Hansol yang baru saja tiba, dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak baik. Dasi yang sudah tidak pada tempatnya, kemeja yang kusut berantakan, rambut yang sudah tak beraturan dan napas mereka yang terengah-engah, bahkan mereka berdua berlari saat menghampiri Jaehyun. Taeyong membungkukkan badannya sopan kepada dua orang yang baru datang ini.

"Jaehyun apa yang terjadi? Ada apa dengan Jeno?" Johnny langsung berlutut dihadapan Jaehyun memperhatikan kondisi anak sulungnya yang mengerikan.

"Appa...hiks...Appa...Appa...hiks.." Jaehyun tidak bisa berkata apapun, tangisnya malah semakin menjadi saat dia melihat Johnny. Jaehyun hanya bisa menangis sambil memanggil Appa seperti anak kecil yang baru saja ditemukan oleh Appa nya.

Sebenarnya tanpa bertanya pun Johnny sudah tau apa yang terjadi pada Jeno, Taeyong yang mengabarkannya melalui telepon sudah menjelaskannya secara detail, Johnny hanya ingin memastikan dengan bertanya lagi kepada Jaehyun, namun melihat Jaehyun yang seperti ini Johnny jadi percaya dengan apa yang dikatakan Taeyong melalui telepon tadi. Johnny menghapus air mata Jaehyun dengan kedua tangannya, setelah itu Ia memegang kedua telapak tangan Jaehyun yang berlumuran darah, Ia tidak peduli dengan lengan kemeja putihnya yang akan ternodai dengan darah. Johnny bersumpah akan membunuh siapapun yang telah menumpahkan darah anaknya itu. Ia memeluk Jaehyun dan mengusap punggungnya dengan penuh sayang menenangkan anak sulungnya, walaupun dirinya juga sama gelisah nya dengan Jaehyun, Ia juga takut akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Jeno nanti. Johnny bisa mendengar suara tangisan Jaehyun yang pilu, membuat hatinya semakin mencelos. Johnny ingat, Jaehyun tidak menangis saat pemakaman Eomma nya berlangsung, Ia lah yang kala itu memeluk Jeno yang menangis tak karuan, Jaehyun berusaha tegar dihadapan Jeno agar bisa menjadi sandaran untuknya, tapi kali ini Jaehyun menumpahkan air matanya, biarkan Ia untuk kali ini menjadi seseorang yang bersandar.

Johnny terus mengelus punggung Jaehyun sampai dirasa tangisan Jaehyun sudah mereda, Ia mendekatkan bibirnya ketelinga Jaehyun dan membisikkan sesuatu kepadanya "kita akan membalasnya Jae, aku berjanji"

Johnny melepas pelukannya, menghapur air mata Jaehyun dan menggenggam kedua telapak tangannya dengan erat.

"kau dengar apa yang ku katakan tadi?" Jaehyun mengangguk sebagai balasannya.

"maka dari itu berhentilah menangis, kau tidak boleh kelihatan lemah, kau mengerti?" Jaehyun lagi-lagi mengangguk mengerti menjawab pertanyaan Johnny.

Hansol dan Taeyong yang berdiri memperhatikan kedua bapak anak itu hanya terdiam tak mengatakan apapun. Hansol diam-diam mengepalkan kedua telapak tangannya yang disembunyikan di balik kantong celananya, ketahuilah bukan hanya Johnny dan Jaehyun yang marah dan khawatir dengan kejadian ini, Hansol juga merasakan hal yang sama seperti mereka berdua.

"wali dari Jeno-ssi?" seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat, membuat Johnny berdiri dan menghampiri dokter tersebut.

"saya Appa nya"

"bersyukurlah, jika terlambat sedikit mungkin kami tidak bisa menyelamatkannya, dia kehabisan banyak darah, tapi kami sudah menanganinya. Dan luka tusuknya tidak mengenai organ penting jadi jangan khawatir"

Johnny, Jaehyun, Hansol dan juga Taeyong menghembuskan napas lega saat mendengar ucapan dokter tadi.

"untuk perkembangan lebih lanjutnya kita akan menunggu sampai dia sadar. Kalau begitu saya permisi"

"terimakasih dok" Johnny membungkukkan badannya kepada dokter tersebut.

Taeyong merasakan ponsel didalam kantong jaketnya bergetar, Ia meraih ponsel tersebut dan melihat layar ponselnya yang menampilkan nama Doyoung memanggilnya, Ia melangkah menjauhi Jaehyun, Johnny dan Hansol agar pembicaraannya dengan Doyoung tidak terdengar.

"kenapa? Kau berhasil menangkapnya?" Taeyong langsung mencecar Doyoung dengan pertanyaan saat Ia menganggkat panggilan tersebut.

'tidak Hyung, aku kehilangannya'

"bagaimana bisa? Kau tidak menemukan jejaknya sama sekali?"

'aku benar-benar tidak bisa mengejarnya Hyung, maafkan aku, aku akan mengecek semua CCTV di sekitar Myeongdong, Taeil Hyung juga sudah bertindak, begitupula dengan Yuta Hyung dan Ten, aku yakin dia tidak akan jauh dari sini'

"hmm...aku mengerti"

'bagaimana kabar Jeno? dia baik-baik saja?'

"untuk saat ini dia baik-baik saja"

'syukurlah'

"tunggu aku, aku akan bergabung dengan kalian"

'baiklah Hyung, sampai jumpa'

Taeyong dan Doyoung mengakhiri sambungan mereka, setelah itu Taeyong kembali menghampiri Johnny, Jaehyun dan Hansol dan langsung berpamitan kepada mereka, memanjatkan doanya agar Jeno cepat sadar dan pulih kembali yang dibalas dengan ucapan terimakasih oleh Johnny. Taeyong sempat melirik Jaehyun sekilas yang sepertinya masih dalam keadaan shock. Taeyong membungkuk kepada Johnny dan Hansol dan kemudian mengambil langkahnya untuk pergi dari sana.

"Taeyong" baru berjalan lima langkah, suara Jaehyun yang memanggilnya menghentikannya, membuatnya menoleh kembali menatap Jaehyun yang masih terduduk.

"terimakasih, aku bersyukur secara kebetulan kau menemukanku dan Jeno saat itu, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika tidak ada kau disana, sekali lagi terimakasih"

Taeyong tersenyum "sama-sama" jawabnya 'aku malah merasa bersalah kepadamu karena terlambat menemukamu, jika tidak, ini mungkin tidak akan pernah terjadi' batinnya.

Taeyong kemudian berbalik melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, berlalu meninggalkan Jaehyun, Johnny dan Hansol, untuk kembali ke kantornya atau bergabung bersama teman-temannya yang lain mencari tersangka utama atas kejadian ini.

.

.

.

Kun terbangun dari tidurnya, Ia terduduk dan memijat lehernya yang terasa kaku, seharian berlari badannya jadi terasa lelah dan pegal bahkan saat sampai apartementnya Kun langsung merebahkan dirinya di sofa lalu ketiduran. Jangan lupakan semua luka lebam yang ada di sekujur tubuhnya yang disebabkan oleh Jaehyun, juga ujung bibirnya yang sobek, meninggalkan bekas darah kering disana, membuat badannya semakin terasa remuk. Ia melirik jam dinding melihat jarum jam yang menunjukkan waktu pukul satu dini hari, rupanya Ia sudah tertidur lumayan lama.

Kun berjalan ke dapur, mengambil segelas air dan menengguknya tanpa tersisa, juga mengambil kotak obat untuk mengobati luka-lukanya, dengan telaten Ia mengobati dirinya sendiri, Ia bahkan sempat meminum obat penghilang rasa sakit. Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang sedang menekan passcode pintu apartementya, Kun tersenyum tipis, Ia sudah bisa menebak siapa yang datang, karena memang hanya orang itu yang mengetahui dimana Ia tinggal dan berapa kode pintu apartementnya.

Suara langkah kaki semakin mendekati pendengaran Kun sampai seseorang berdiri didepannya.

"kau datang lebih cepat dari yang kuduga Hyung" Kun, tanpa menoleh sedikitpun kepada orang yang ada didepannya, Ia masih dengan telaten mengobati luka yang ada di ujung bibirnya.

"kenapa kau melakukkannya?"

"aku terpaksa, dia yang memulai"

"sudah kukatakan jangan sentuh dua anak itu"

"mereka hampir membunuhku, oh bukan mereka, melainkan Jaehyun, anak itu kuat juga ternyata, lihat apa yang dilakukannya padaku Hyung" Kun akhirnya menoleh menatap lawan bicaranya, menunjukkan luka di ujung bibirnya dengan jari telunjuknya kepada orang tersebut "ini hanya sebagian kecil, masih ada yang lebih parah dari ini"

Orang yang ada di hadapan Kun mengepalkan kedua tangannya, Ia menghampiri Kun dan dengan seketika memukulnya dengan sangat kuat, membuat luka di ujung bibir Kun semakin parah, bahkan darah segar kembali mengalir dari situ. Kun merasakan cengkraman yang sangat kuat di kerah bajunya, memaksanya untuk berdiri kembali.

"KAU YANG HAMPIR MEMBUNUHNYA! KAU HAMPIR MEMBUNUH JENO" teriak orang itu geram tepat di depan wajahnya.

"sebegitu berartinya mereka untukmu Hyung?" Kun menanggapi orang didepannya ini dengan santai dan tenang "apa kau tidak lihat aku? Aku yang notaben nya adalah sepupumu ini juga hampir mati. Apa mereka tau? Apa mereka tau seberapa besar kau sangat peduli pada mereka dan sangat menyayangi mereka? Mereka tidak tau kan Hyung? kau menyedihkan sekali, Hansol Hyung"

Hansol, orang yang mencengkram kerah baju Kun dengan seketika melepaskannya, menundukkan dirinya, mencerna kata-kata yang baru saja dikeluarkan oleh Kun tadi. Benar sekali, mereka mungkin tidak akan pernah menyadari seberapa besar Ia mencintai Johnny dan bahkan menyayangi kedua anaknya, Kun benar, dia memang sangat bodoh dan juga menyedihkan.

"sudah berapa kali ku katakan untuk kembali ke China, jika kau menurutiku kau mungkin tidak akan bertemu mereka dan menyebabkan hal ini terjadi" Hansol berjalan kearah wastafel untuk mencuci tangannya kemudian menarik Kun untuk duduk dan setelah itu membantunya mengobati luka-lukanya, termasuk luka yang baru saja Ia ciptakan di ujung bibirnya.

"aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi disana Hyung, satu-satunya keluarga yang ku punya hanya kau, walaupun kau hanyalah sepupuku. Jika kau disini mengapa aku harus pergi jauh kesana? Aku harus bergantung pada siapa? Aku hanya bisa bergantung padamu Hyung, jadi jangan suruh aku pergi lagi, aku akan melakukan apapun yang kau mau tapi jangan suruh aku pergi"

Hansol menghembuskan napasnya berat. Kun benar, Ia memang satu-satunya keluarga yang dia miliki begitu pula bagi Hansol, Kun adalah satu-satunya orang yang berstatus keluargnya. Tidak ada lagi yang bisa diandalkan kecuali bergantung pada satu sama lain. Setidaknya Hansol masih sedikit beruntung memiliki Johnny dan kedua anaknya Jaehyun dan Jeno, Ia jadi tidak merasa kesepian, tapi berbeda dengan Kun. Kun hanya punya Hansol dalam hidupnya, tak ada yang bisa diandalkannya kecuali Hansol.

"Hyung.."

"hmm..kenapa?" Hansol merapikan semua obat-obatan yang baru saja digunakannya, memasukkannya ke kotak obat dan menyimpannya kembali ke tempatnya.

"tadi ada seorang polisi yang mengejarku"

"APA?" Hansol membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kun.

"aku tidak tau mengapa mereka bisa menemukanku, aku rasa orang yang menemukan Jeno dan Jaehyun dan membawa mereka ke rumah sakit adalah seorang polisi juga. Sepertinya selama ini dua anak itu diawasi oleh mereka Hyung"

Hansol terdiam sejenak, orang yang menemukan Jaehyun dan Jeno seingatnya adalah Taeyong teman kampus Jaehyun, tidak mungkin jika dia seorang polisi.

"lalu bagaimana? Dia tidak mengikutimu sampai sini kan?"

Kun menggelengkan kepalanya "tidak Hyung, tapi aku rasa cepat atau lambat mereka akan menemukanku"

"pergilah dari sini Kun, kali ini kumuhon ikuti saranku untuk pergi, agar mereka tidak bisa menemukanmu"

"kau juga harus pergi dari rumah itu Hyung"

"apa maksudmu?"

"karena Jaehyun" Kun terdiam sejenak, menatap Hansol lekat-lekat sebelum Ia melanjutkan ucapannya "dia sudah mengetahuinya, dia sudah mengetahui segalanya"

"ba..bagaimana bisa dia..." Hansol tergagap, Ia bahkan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia lebih terkejut mendengar kabar yang ini dibandingkan kabar seorang polisi yang sempat mengejar Kun tadi.

"aku yang memberitahunya Hyung. cepat atau lambat mereka pasti akan tau juga dengan apa yang telah kita lakukan, kau mungkin bisa menutupinya, tapi itu tidak akan selamanya Hyung, akan ada saat dimana mereka mengetahui segalanya dan aku rasa inilah saatnya. Pergilah dari rumah itu Hyung, mereka mungkin akan membunuhmu nanti"

"aku tidak masalah jika memang harus mati di tangan mereka, toh aku memang pantas mendapatkannya" Hansol bangkit dari tempatnya, berdiri dan berjalan menuju pintu keluar hendak meninggalkan Kun. Ia meraih knop pintu, namun sebelumnya Ia berbalik menatap Kun yang masih duduk terdiam di tempatnya "pergilah dan tinggalkan tempat ini sebelum polisi menemukanmu"

"Hyung" panggilan Kun mengurungkan niat Hansol untuk membuka pintu "jika aku mendengar kabar salah satu dari mereka, entah Johnny atau Jaehyun membunuhmu. Maka aku tidak akan sungkan membunuh mereka juga Hyung" ucap Kun dengan nada dinginnnya.

Hansol tidak mempedulikan perkataan Kun tadi, Ia tidak mengatakan apapun, membuka pintu yang ada didepannya dan berjalan keluar dari apartement Kun meninggalkan Kun sendirian disana.

"aku anggap diam mu itu sebagai persetujuan Hyung" Kun dengan seringainya yang mengerikan dibalik wajah malaikatnya.

.

.

.

Johnny membuka matanya, Ia merasakan pundaknya yang terasa berat, sepertinya posisi tidurnya membuat badannya pegal-pegal. Johnny menegakkan badannya memijat bahunya yang terasa berat. Semalaman Ia menjaga Jeno disamping tempat tidurnya sampai Ia ketiduran, Ia melirik anaknya itu yang sepertinya belum juga sadar. Johnny meraih tangan Jeno menggengamnya dengan kedua tangannya dan menempelkannya di keningnya menutup mata sambil berdoa agar anaknya ini cepat sadar dan membuka kedua matanya.

"Jeno, cepatlah bangun, buka kedua matamu, jangan membuat aku dan Hyung mu khawatir seperti ini kumohon"

Walaupun dokter mengatakan Jeno baik-baik saja, Johnny tetap saja belum bisa merasa tenang karena anaknya ini belum juga membuka matanya. Johnny ingin sekali mendengar anak ini memanggil dirinya dan bisa melihat senyumnya lagi untuk menghilangkan kekhawatirannya. Johnny bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Ia menemani Jeno semalaman disini sendirian, meninggalkan pekerjaanya di kantor, menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada Hansol. Johnny juga menyuruh Jaehyun untuk pulang mengingat kondisi anaknya yang satu itu bisa dibilang tidak baik, Jaehyun bisa jatuh sakit nanti jika memaksa untuk menemani Jeno, Ia mengantar Jaehyun pulang dan memastikan Jaehyun tertidur lalu kembali lagi ke rumah sakit menemani Jeno. sebenarnya Johnny sudah menyuruh Hansol untuk mengantar Jaehyun pulang namun Jaehyun menolak, Ia sempat heran juga kenapa Jaehyun bersikap seperti itu kepada Hansol, bahkan Jaehyun sempat mengatakan untuk tinggal di hotel terdekat saja daripada pulang ke rumah bersama Hansol. Johnny sempat ingin bertanya kenapa Jaehyun bersikap seperti itu kepada Hansol, namun Ia mengurungkan niatnya mengingat Jaehyun yang masih shock dengan kejadian yang menimpa dirinya dan Jeno.

Tok..tok..tok..

Suara ketukan pintu membat Johnny yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh kearah sumber suara. Ia melihat pintu geser itu terbuka perlahan dan kemudian tersenyum setelah tau siapa yang datang.

"Annyeonghaseyo" tiga orang yang baru saja datang membungkukkan badan mereka sopan untuk menyapa Johnny.

"oh Mark, Haechan dan Jaemin. Annyeong..apa kabar? Ayo masuk" Johnny mempersilahkan ketiga orang itu masuk dan duduk di sofa yang tersedia.

"kami mendengar kabar bahwa Jeno dilarikan ke rumah sakit, maka dari itu kami kemari, berhubung sekarang sedang libur, jadi kami menyempatkan diri. Oh iya ini, maaf yah kami hanya bisa membawa ini" Mark menyerahkan sekeranjang buah dan juga sebuket bunga kepada Johnny yang diterima dengan senang hati "semoga Jeno cepat sembuh" lanjut Mark. Haechan dan Jaemin mengangguk, semua yang ingin mereka katakan sudah diwakilkan oleh Mark.

"terimakasih yah"

"apakah Jeno belum bangun?" Jaemin yang melihat Jeno yang masih tertidur bertanya pada Johnny.

"dia bahkan belum terbangun dari kemarin"

"oh iya, dimana Jaehyun Hyung? aku tidak melihatnya" kali ini Haechan yang bertanya kepada Johnny. Ia sedaritadi melihat sekeliling mencari Jaehyun, setidaknya Ia bisa menghiburnya dengan candaan-candaan yang terkadang dapat membuat Jaehyun kesal.

Johnny dan Jaehyun memang sudah tidak asing lagi dengan ketiga teman Jeno ini, Mark, Jaemin dan Haechan. Mengingat ketiganya hampir setiap minggu bermain dirumah mereka, bahkan pernah menginap disana. Jaehyun terkadang menyambut mereka dengan ekspresi tidak suka apalagi dengan Haechan yang selalu saja menjahilinya. Tapi itu bukan berarti Jaehyun membenci mereka, toh terkadang Ia juga suka ikut bermain bersama mereka bertiga. Jadi jangan aneh jika Mark, Jaemin dan Haechan sudah tidak merasa canggung lagi dengan Johnny dan Jaehyun.

"Jaehyun ada dirumah, aku menyuruhnya pulang agar beristirahat" Johnny menjawab pertanyaan Haechan yang disambut dengan anggukan serta mulutnya yang berbentuk O bertanda Ia mengerti.

Ponsel Johnny yang berada di atas meja bergetar menandakan ada pesan masuk. Johnny mengambil ponselnya dan membaca pesan tersebut.

From: Jaehyun

'Appa, bisakah kau pulang? Aku ingin bicara denganmu, bagaimana dengan Jeno? apa dia sudah sadar?'

Bukannya langsung membalas pesan Jaehyun, Johnny malah menelpon Jaehyun sebagai balasannya.

"kenapa Jae? Bisakah kau bicarakan sekarang saja? Jeno belum sadar, apa kau ingin kesini?" Johnny langsung mencecar Jaehyun dengan pertanyaan saat Ia sudah tersambung dengan Jaehyun.

'tidak bisa Appa, aku ingin bicara dengamu langsung'

"tapi Jae..."

'Appa bilang ingin membalasnya bukan? Aku sudah menemukannya Appa, aku sudah menemukan pembunuh itu. Maka, cepatlah pulang dan berikan balasanmu' Jaehyun memotong ucapan Johnny, suara dingin yang dikeluarkan Jaehyun membuat Johnny sedikit merinding mendengarnya apa lagi mendengar apa yang baru saja dikatakan Jaehyun.

"apa maksudmu Jae?"

'pulanglah Appa, kau akan mengetahuinya nanti, setelah itu kita bisa menemani Jeno lagi'

Jaehyun memutuskan sambungan secara sepihak, membuat Johnny tidak bisa melanjutkan pertanyaannya. Johnny terdiam sejenak, Ia bingung apa yang harus Ia lakukan sekarang, Ia tidak bisa meninggalkan Jeno sendirian tapi disisi lain Ia juga penasaran dengan apa maksud dari perkataan Jaehyun tadi.

"Johnny samchon, kenapa?" Mark yang melihat Johnny melamun saat memutuskan sambungan dengan Jaehyun itu bertanya pada Johnny membuat Johnny tersadar dari lamunannya.

"ah..tidak apa. Oh iya apa kalian tidak memiliki acara lain?"

"tidak, kami benar-benar sedang free hari ini" Mark menjawab pertanyaan Johnny. Jaemin dan Haechan mengangguk menyetujui jawaban Mark.

"kalau begitu bisakah kalian menemani Jeno? sepertinya aku harus pulang sebentar"

"tidak masalah, bahkan jika itu sampai malam pun kami akan menemaninya"

"benarkah?" Johnny bangkit dari tempatnya, mengambil jaket, dompet serta kunci mobilnya "aku benar-benar minta maaf dan minta tolong pada kalian untuk menemani Jeno sebentar"

Melihat Johnny berdiri membuat Mark, Haechan dan Jaemin juga berdiri dari tempat mereka. Johnny menghampiri Jeno, Ia mengelus kepalanya dengan lembut mendekatkan bibirnya ketelinga Jeno sambil berbisik "cepatlah bangun, Appa sangat menyayangimu" setelah itu Johnny mengecup kening Jeno.

"aku titip Jeno pada kalian yah. Sampaikan salamku pada orang tua kalian"

"baiklah, kami akan menjaganya. Hati-hati dijalan yah" Mark, Jaemin dan Haechan membungkukkan badan mereka sopan.

Johnny mengangguk dan memberikan senyumnya sekilas kepada ketiga teman Jeno itu, lalu melangkahkan kakinya kearah pintu. Johnny bahkan berlari menuju tempat mobilnya terparkir, Ia benar-benar tidak sabar untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jaehyun.

.

.

.

Doyoung, Taeyong dan Taeil menatap layar komputer mereka masing-masing, memperhatikan vidio rekaman CCTV yang terputar dengan serius. Meneliti setiap gerakan dari vidio yang terputar dengan teliti tanpa melewatkannya sedetikpun. Taeyong sudah memutar berkali-kali vidio dari tempat dan sisi yang berbeda begitu pula dengan Doyoung dan Taeil.

"Ketemu!" teriakan Taeyong seketika membuat Taeil dan Doyoung terlonjak kaget, mereka berdua kemudian bangkit dari tempat mereka dan menghampiri Taeyong, melihat ke layar komputer yang ada didepan Taeyong "ini dia" Taeyong menunjuk seseorang yang sedang bersembunyi dibalik tumpukkan box, tempat yang sempit dan penuh dengan box-box kosong milik para pedagang itu memudahkannya untuk bersembunyi, sayangnya Ia tetap saja tertangkap kamera CCTV. Mereka bertiga kemudian melihat Doyoung dalam vidio tersebut yang menoleh kesana-kemari seperti sedang mencari seseorang sambil berlari. Setelah Doyoung melewati tempat persembunyiannya orang itu keluar dan kemudian berlari dari tempat tersebut.

"bodoh sekali, aku tidak tau kalau dia bersembunyi disitu" keluh Doyoung saat dia menyadari betapa bodohnya dia.

"sekarang cari kemana arah Ia berlari, aku yakin kita pasti bisa menemukannya" Taeil kembali ketempat duduknya, Ia kemudian kembali fokus dengan komputer yang ada didepannya, begitupula dengan Doyoung.

"cepat temukan! kita akan langsung memberitahu Yuta dan Ten yang ada di daerah Myeongdong setelah menemukannya. Kita harus mengangkapnya hari ini!"

Taeyong dan Doyoung mengangguk mengerti, mereka kembali kepada komputer mereka dan melanjutkan pekerjaan mereka, mempersempit area pencarian mereka. Tinggal selangkah lagi untuk mereka menemukan pelaku, selangkah lagi dan mereka bisa menangkap pelaku tersebut dan menyelsaikan pekerjaan mereka.

.

.

.

Johnny memarkirkan mobilnya didepan rumahnya, segera turun dari mobil mewahnya itu dan langsung masuk ke rumahnya. Dengan kaki panjangnya Ia mengambil langkah besar-besar, langsung melewati halaman rumah dan masuk begitu saja, tidak memberikan tanda-tanda seperti 'aku pulang' atau sebagainya utuk menyapa orang yang ada di dalam rumah. Ia dibuat terheran dengan keadaan rumahnya yang gelap karena seluruh jendela yang tertutup oleh korden membuat cahaya tidak dapat masuk, bahkan semua lampu tidak dinyalakan.

"apa yang dilakukan Jaehyun gelap-gelapan begini?" Johnny mencari remote control yang selalu digunakannya untuk mengatur pencahayaan rumah. "sial dimana remote controlnya?" Johnny mencari disekililingnya setelah Ia tidak menemukan remote control itu ditempatnya.

"Jaehyun, kau dimana?" Johnny menyerah, Ia lebih memilih mencari Jaehyun daripada menghabiskan waktunya mencari remote control tak berguna.

"Jaehyun"

"Appa..."

Baru saja Johnny mau melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua untuk ke kamar Jaehyun, suara Jaehyun yang memanggilnya membuatnya menoleh. Johnny berbalik, berjalan perlahan sambil mencari dimana Jaehyun. Sungguh, ini masih sekitar jam 10 pagi tapi kondisi rumahnya bisa segelap ini hanya karena korden sialan yang menutupi seluruh jendela rumahnya membuat cahaya tak bisa masuk. Lagipula kenapa anaknya ini tidak membuka korden rumahnya sih?

"kau dimana?"

"aku disini, Appa"

Johnny menoleh kearah sumber suara. Ia bisa melihat Jaehyun yang sedang berdiri menghadapnya di dalam ruang keluarga. Johnny sedikiti menyipitkan matanya, menerka-nerka apa yang ada di genggaman tangan Jaehyun. Seketika Ia melebarkan kedua matanya saat tau Jaehyun sedang menggenggam sebilah pisau di tangannya tersebut.

"apa yang kau lakukan disitu Jae, kemarilah"

"tidak, Appa saja yang kesini"

"aku tidak bisa, disana...disana sangat sesak"

Johnny dan Jaehyun tidak bersuara lagi setelah itu, hanya detik jarum jam yang terdengar. Mereka berdua saling pandang dari arah yang berjauhan dalam suasana yang gelap. Johnny sedikit mengantisipasi apa yang akan Jaehyun lakukan dengan pisau yang ada ditangannya itu, Ia takut Jaehyun akan terluka karena pisau tersebut, jangan buat dia tambah stress jika memang itu terjadi, sekarang saja Jeno masih belum sadar karena luka tusuk itu.

Klik!

Seketika lampu yang ada di seluruh ruangan menyala, Johnny sedikit menyipitkan matanya menyesuaikan pencahayaan yang tiba-tiba masuk ke indra penglihatannya itu. Kali ini Ia bisa melihat Jaehyun dengan jelas. Disitu rupanya, remote control yang dicarinya ternyata ada ditangan Jaehyun.

"Appa, kau bilang kau akan membalasnya bukan? Membalas orang yang telah membunuh Eomma dan juga melukai Jeno"

"hmm..." Johnny mengangguk menjawab pertanyaan Jaehyun, Ia masih berdiri ditempatnya, enggan melangkahkan kakinya ke ruang keluarga dimana Jaehyun berdiri.

"siapapun orangnya Appa tetap akan membalasnya?"

"ya.."

"benarkah? Appa pasti akan melakukannya kan? berjanjilah padaku siapapun itu orangnya Appa tetap akan melakukannya. Melakukan sesuai dengan apa yang Appa rencanakan dari awal"

"bukankah aku sudah pernah berjanji padamu? kita akan membalasnya Jae. Bahkan akan melakukan hal yang lebih menyakitkan daripada apa yang telah dia lakukan"

Jaehyun tersenyum tipis mendengar jawaban Johnny, sepertinya Ia sudah mendengar apa yang ingin Ia dengar dari mulut Johnny, Appa nya.

"kau sudah berjanji Appa, maka jangan sampai kau mengingkarinya"

"sekarang kemarilah, katakan padaku apa makasud dari perkataanmu di telepon tadi"

"bersabarlah Appa, sebentar lagi orang itu datang"

Johnny menautkan alisnya tidak mengerti maksud dari perkataan Jaehyun. Apa tadi dia bilang? Sebentar lagi orang itu datang? Siapa?

.

.

.

Seseorang melangkahkan kakinya perlahan setelah Ia turun dari mobilnya, berjalan kearah pagar rumah mewah milik Johnny. Ia berhenti sejenak dan melirik kearah sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari rumah itu. Mobil sang pemilik rumah, 'ternyata Johnny ada di rumah, aku kira hanya Jaehyun' batinnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya sebelum membuka pagar rumah tersebut dan berjalan masuk ke pekarangan rumah yang sangat luas. Banyak hal yang dipikirkannya sehingga Ia tidak ingat untuk menutup pagar itu kembali.

Orang tersebut mengambil langkahnya perlahan, berjalan menelusuri halaman rumah sambil melihat ke sekeliling 'mungkin ini akan jadi yang terakhir kali aku melihat halaman rumah ini' batinnya. Saat sampai di depan pintu utama rumah tersebut, Ia menghentikan langkahnya, menghembuskan napasnya berat dan dengan ragu membuka pintu rumah tersebut mengambil langkahnya perlahan utuk masuk kedalam.

Suasanya sunyi dan sepi menyambutnya saat melangkah masuk ke rumah tersebut, jika matahari bersinar sangat cerah di luar sana, didalam sini hanya beberapa lampu yang menyala, seperti suasana malam, bahkan korden rumah tersebut tak terbuka begitupula dengan jendelanya. Dari sini orang tersebut bisa melihat ruangan yang paling terang, ruang tengah. Langkah ragu-ragunya membawanya keruang tengah tersebut, sepertinya pemilik rumah sedang berada disana.

"dia datang"

Suara yang sudah lama Ia kenali menyambutnya, membuat langkahnya terhenti. Dua orang yang berdiri berjauhan, satu berdiri di ruang tengah dan satunya lagi berdiri di dalam ruang keluarga yang tak jauh dari ruang tengah itu, memandangnya.

"Hansol Hyung?"

"hai Johnny, bagaimana keadaan Jeno?" orang yang dipanggil Hansol tersebut menyapa salah satu diantara keduanya, Johnny.

"dia baik-baik saja, terakhir aku melihatnya dia belum juga sadar. Sekarang Ia bersama dengan Mark, Jaemin dan Haechan"

Jaehyun, orang yang berada diruang keluarga tersenyum sinis mendengar percakapan Johnny dan Hansol "lucu sekali, siapa yang hampir membunuhnya kemarin dan sekarang siapa yang menanyakan keadannya"

Johnny dan Hansol menoleh kearah Jaehyun. Hansol sedikit terkejut setelah Ia sadar dengan apa yang ada di genggaman tangan Jaehyun, sudah lama Ia mengenal Jaehyun, bahkan Hansol menjadi salah satu orang yang menyaksikan pertumbuhannya. Baginya Jaehyun itu adalah anak yang manis dengan senyum malaikat yang meneduhkan. Namun, kali ini Jaehyun yang disana terlihat sangat mengerikan, seperti seorang grim reaper dengan senyum sinis pembawa mautnya dan juga senjata eksekusi ditangannya. Melihat Jaehyun dengan mode menyeramkannya membuat telapak tangan Hansol berkeringat dingin. Hansol jauh-jauh datang kesini karena Jaehyun yang mengirim pesan padanya untuk cepat pulang, sesampainya di rumah Ia malah diberikan sambutan mengerikan seperti ini oleh Jaehyun. Apa kabar dengan Johnny? Dia yang daritadi berhadapan dengan Jaehyun yang seperti itu tidak takut kah? Ah Hansol lupa, Johnny adalah ayah dari Jaehyun, mana mungkin Ia takut menghadapi anaknya sendiri. Mungkin Jaehyun belum memberitaukan segalanya kepada Johnny sehingga Johnny masih bisa menyapanya dengan ramah, jika saja Johnny tau segalanya bisa jadi sosok Johnny yang ada di depannya ini akan lebih mengerikan dibanding Jaehyun.

"Jaehyun, apa maksudmu?"

"Appa, kau bilang ingin membalasnya bukan? Tadi sudah ku katakan aku sudah menemukannya, orang yang selama ini kita cari. Hansol Hyung, apa ingin mendengarnya juga?"

Johnny kembali menoleh kearah Hansol. Sungguh tak ada satupun kata dari mulut Jaehyun yang Ia mengerti. Jaehyunnya ini sedang bermain teka-teki atau apa sih?

"Jaehyun, bisakah kau bicara lebih jelas, kau membuatku bingung. Apa sesungguhnya yang..."

"aku ingin mendengarnya" suara Hansol memotong perkataan Johnny. Hansol berjalan melewati Johnny, mendekat kepada Jaehyun yang berada di ruang tengah.

"Hansol Hyung?" Johnny menautkan kedua alisnya melihat Hansol yang menghampiri Jaehyun ke ruang tengah, sekarang apa yang harus Ia lakukan? Tetap berdiri disini? Atau ikut melangkah menghampiri Jaehyun sama seperti Hansol? Ia ingin, tapi kakinya ini seakan terpaku ditempatnya, Ia bisa pergi kemana saja mengelilingi semua ruangan yang ada dirumah ini tapi tidak dengan ruang keluarga. Ruangan itu benar-benar meninggalkan trauma yang sangat besar baginya dan juga kedua anaknya, bahkan ruangan itu sudah setahun belakangan hanya seperti ruang penghias dirumahnya tanpa ada satupun yang mau masuk kedalam sana. Johnny sedikit aneh, bagaimana bisa Jaehyun melangkahkan kakinya kesana dan berdiam diri diruangan tersebut? Setaunya Jaehyun dan Jeno memiliki trauma yang sama sepertinya sehingga tidak mau lagi menginjakkan kakinya disana.

"Appa, kau tidak ingin mendengarnya juga?"

"katakan saja, aku akan mendengarnya dari sini"

"bagaimana bisa Appa membalasnya jika melangkahkan kaki ke ruangan ini saja Appa tidak mampu. Appa, jangan kalah sebelum berperang. Lihat, aku saja bisa menginjakkan kaki ku kembali disini"

Kata-kata Jaehyun tadi sedikit menusuk hati Johnny, dengan kata lain Johnny sedikit teremehkan dengan perkataan Jaehyun barusan. Tapi itu membuatnya sedikit termotivasi, sedikit demi sedikit Ia mencoba untuk bergerak, selangkah demi langkah mencoba menghampiri Jaehyun dan Hansol yang berada di ruang keluarga. Ruangan yang setahun belakangan ini membuatnya trauma.

Dan disinilah Johnny sekarang, berdiri bersama Jaehyun dan Hansol di ruang keluarga. Dadanya sedikit sesak sejak Ia melangkah ke ruangan ini. Sepertinya traumanya itu masih melandanya. Ia memperhatikan Jaehyun yang terlihat baik-baik saja, apakah Jaehyun merasakan hal yang sama sepertinya juga? Apa Jaehyun sudah tak merasakan betapa sesaknya ruangan ini?

"Jaehyun, letakkan dulu pisau itu, kau bisa terluka nanti"

"Appa, sudah berapa lama mengenal Hansol Hyung?"

Bukannya menuruti apa yang Johnny katakan, Jaehyun malah bertanya kepada Johnny petanyaan yang membuat Johnny dan juga Hansol saling pandang dengan tatapan heran dan bingung mereka.

"sekitar 25 tahun" jawab Johnny.

"lebih" lanjut Hansol.

"sudah lama sekali rupanya, kalau begitu apakah Appa mengenal seluruh keluarga Hansol Hyung?"

"tentu saja, aku mengenal dekat mendiang kedua orang tua Hansol Hyung, kakek mu dulu adalah sahabat dari ayahnya Hansol Hyung"

"oooh..." Jaehyun mengangguk mengerti mendengar jawaban Johnny.

Hansol yang hanya mendengar Jaehyun dan Johnny diam-diam jantungnya berdetak sangat kencang. Ia bisa menebak, apa yang selanjutnya akan Jaehyun katakan.

"kalau begitu sekarang Appa tanya padanya, apakah dia mengenal Kun?" tepat sekali, dugaan Hansol memang benar, Jaehyun pasti akan mengatakan ini.

"apa maksudmu Jae?"

"Appa harus bertanya padanya, bukan padaku"

Johnny memandang Hansol dengan tatapan penuh tanda tanya nya. Hansol menghindari pandangan mata Johnny, matanya melirik kesana kemari dan terlihat gelisah. Keringat dingin ditangannya semakin menjadi bahkan jantungnya sepertinya sudah tidak bisa di kontrol lagi. Apa yang harus Ia lakukan sekarang? Sepertinya hari ini memang sudah ajalnya, dua orang didepannya ini memang sepertinya adalah malaikat maut yang diturunkan oleh Tuhan untuk menjemputnya. Jaehyun yang melihat tingkah gelisah Hansol hanya tersenyum sinis memandangnya. Ia menunggu jawaban seperti apa yang akan Hansol berikan.

"Hansol Hyung, kau mengenal Kun?"

"Kun...ng...dia..dia..." Hansol tak bisa berkata apapun. Hansol memang sudah melakukan dosa yang sangat besar kepada Johnny dan keluarganya ini, tapi dia masih punya sisi manusiawi dimana dia juga masih sayang nyawanya dan takut mati. Ia tak mungkin mengatakan dengan terang-terangan bahwa Kun adalah sepupunya dan dialah dalang dari segalanya, tak mungkin Hansol sebodoh dan senekat itu untuk mengatakannya.

Jika Johnny menunggu jawaban Hansol dengan rasa penasarannya maka Jaehyun menunggu jawaban Hansol dengan amarah yang semakin membuncah. Tangannya yang memegang sebilah pisau itu makin mengepal dengan kuat, Jaehyun menatap Hansol dengan tatapan elangnya. Hansol sungguh beruntung, jika saja Jaehyun tak menahan diri mungkin pisau ditangan Jaehyun itu sudah menancap dengan sempurna di dadanya.

"apakah ini pertanyaan yang sangat sulit? Hansol Hyung?" Jaehyun mulai mengeluarkan suaranya kembali "kau tinggal menjawab tidak tau jika kau tidak kenal dengan dia dan menjawab ya jika kau mengenalnya, simple saja, tapi kenapa kau memakan waktu hanya untuk menjawab pertanyaan semudah itu?"

Jaehyun meraih tangan kanan Johnny, memindahkan pisau yang ada ditangannya ke tangan Johnny tersebut, membuat Johnny bertambah bingung dengan tingkah laku Jaehyun ini.

"Appa, sepertinya Hansol Hyung tidak bisa mengatakannya secara langsung maka akan ku jelaskan"

"Jae kumuhon jangan membuatku seperti orang bodoh dengan semua perkataanmu yang tidak jelas"

"Appa, dengarkan aku baik-baik" Jaehyun menatap Johnny dengan serius "Kun, adalah orang yang kita lihat pada malam itu yang dengan teganya membunuh Eomma didepan mata kita, benar dialah pembunuhnya, tapi..."

"tapi?"

"orang ini" Jaehyun menunjuk Hansol dengan jari telunjuknya, membuat Hansol menahan napasnya seketika "dialah dalang dari segalanya Appa, DIA adalah sepupu pembunuh sialan itu. Temanmu ini, temanmu selama lebih dari 20 tahun inilah sesungguhnya pembunuhnya"

"apa maksudmu Jae?"

"jika kau ingin membalasnya, dialah orang yang tepat untuk mendapatkannya Appa" Jaehyun mengarahkan tangan Johnny yang menggenggam pisau itu tepat di dada Hansol.

"tidak" Johnny melepaskan genggaman tangannya membuat pisau yang digenggam tersebut jatuh begitu saja di lantai, Ia takut pisau yang dipegangnya dapat melukai Hansol "jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal Jae. Hansol Hyung, maafkan apa yang baru saja Jaehyun katakan tadi, mungkin pikirannya sedang kacau karena Ia teralu memikirkan Jeno" Johnny kini menatap Hansol yang hanya terdiam tak mengatakan apapun.

"Appa tidak percaya padaku?"

"kembali ke kamarmu Jae, sepertinya kau sedang lelah"

"sudah kuduga, Appa tidak akan percaya padaku, Appa tidak akan bisa melakukannya jika orang itu adalah Hansol Hyung kan? kalau begitu aku saja yang melakukannya"

Jaehyun seketika menarik kerah baju Hansol dan kemudian memukul rahangnya dengan keras membuat Hansol terhuyung.

"aarrgh..." Hansol mulai merasakan panas dan nyeri yang luar biasa di area rahangnya hanya karena satu pukulan dari Jaehyun.

"JAEHYUN APA YANG KAU LAKUKAN?" Johnny menarik tangan Jaehyun yang sudah terkepal dan akan melayangkan pukulan keduanya.

"MINGGIR" Jaehyun dengan tidak sopannya mendorong Johnny dengan kuat dan membuat Johnny terjatuh. Seketika Ia lupa bahwa dia baru saja dengan kasarnya berkata 'minggir' kepada Appa nya sendiri. "Appa tak akan bisa melakukannya, maka aku yang akan menggantikannya"

Jaehyun kembali menghampiri Hansol. Ia melayangkan pukulan bertubi-tubi padanya, menendangnya, menghantam nya ke arah dinding, memukulnya lagi. Hansol benar-benar menerima segala pukulan dan tendangan itu dari Jaehyun tanpa memberikan perlawanan, darah segar sudah mengalir dari ujung bibirnya dan jangan lupakan kepalanya yang bocor karena sempat menghantam dinding tadi. Seketika Ia teringat dengan Kun, jadi ini yang Kun rasakan saat menerima pukulan dari Jaehyun? Hansol merasakan Jaehyun yang menarik kerah bajunya dengan kuat dan seketika mendorongnya dengan kuat pula, membuatnya jatuh kebelakang menghantam guci yang juga ikut pecah bersamaan dengan tubuhnya yang terjatuh.

"aaarghh..." pecahan guci tersebut menusuk-nusuk punggungnya. Hansol berdoa dalam hati semoga pecahan itu tidak tertancap dipunggungnya.

"JAEHYUN HENTIKAN!" Johnny menghentikan Jaehyun sebelum Jaehyun benar-benar membunuh Hansol, Ia menarik anak sulungnya itu dan mendorongnya menjauh dari Hansol "astaga Hansol Hyung" Ia membantu Hansol untuk berdiri.

"kumohon maafkan Jaehyun, aku akan..."

"Johnny" Hansol dengan suara pelannya dan berusaha menahan rasa sakit itu memotong ucapan Johnny "semua yang dikatakan Jaehyun adalah benar, Jaehyun mengatakan yang sesungguhnya. Aku lah...aku lah dalang dari semuanya. Aku yang mengutus Kun untuk membunuh istrimu. Aku lah pembunuh sebenarnya yang kau cari John" Hansol meneteskan air matanya.

"Hyung..." Johnny sangat terkejut dengan apa yang baru saja Hansol katakan. Seketika badannya lemas, tangannya yang berada di lengan Hansol yang baru saja membantu Hansol berdiri pun seketika jatuh begitu saja.

"maafkan aku"

"tidak mungkin..." Johnny mundur beberapa langkah menjauhi Hansol, lututnya yang lemas membuatnya tak mampu menopang berat tubuhnya, Johnny menumpukkan badannya pada sofa yang ada didekatnya. Semakin lama tubuhnya semakin merosot kelantai terduduk disana masih tak percaya dengan apa yang Hansol katakan tadi. Matanya mulai berair.

Jaehyun kembali meraih pisau yang tergeletak begitu saja dilantai, Ia bangkit dan berjalan mendekat kearah Hansol. Apa yang baru saja Ia lakukan kepada Hansol tadi kembali di ulangnya, memukul, menendang dan menghantamnya ke dinding dan Hansol dengan suka rela menerima segalanya tanpa perlawanan. Pukulan terakhir Jaehyun membuat Hansol tergeletak begitu saja. Jaehyun mendekati Hansol, berlutut diatas tubuh Hansol dan menggengam pisau dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Hansol yang melihat itu seketika menutup matanya, mungkin sedetik kemudian pisau itu akan menancap didadanya.

Lima detik berlalu, Hansol tak merasakan apapun, Ia memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Jaehyun dengan mata berkaca-kacanya masih berada diatas tubuhnya dengan posisi yang siap untuk menikamnya.

"Hansol Hyung...kenapa...kenapa kau melakukannya?" satu tetes air mata berhasil lolos, Jaehyun sudah tidak bisa membendungnya lagi, air matanya mengalir begitu saja membasahi dada Hansol yang berada dibawahnya "kenapa Hyung? kenapa harus Hyung yang melakukannya? Kenapa?"

Hansol tak menjawab apapun Ia hanya bisa menangis.

Jaehyun, Johnny dan Hansol tak mengatakan apa-apa lagi, hanya air mata dari ketiganya yang mewakili perasaan mereka saat ini. Jaehyun bahkan sudah melempar pisau yang ada ditangannya kesembarang arah dan menyingkir dari tubuh Hansol. Mana mungkin Ia akan sanggup membunuh Hansol. Hansol adalah orang didunia ini yang mengajarkannya bagaimana cara mengucapkan kata 'Hyung' Jaehyun pertama kali mempraktekan kata itu padanya. Hansol yang menemaninya saat belajar berjalan selain Appa dan Eommanya, orang yang pertaman kali mengajarinya membaca, orang yang mengantarnya ke sekolah dasar selain Eommanya, orang yang juga menemaninya untuk pertama kali merasakan alkohol saat usianya beranjak 20 tahun bersama Appa nya. Baginya Hansol adalah keluarganya, orang yang sangat berarti dalam hidupnya, tidak mungkin Jaehyun tega membunuhnya, seberapa keras pun keinginan Jaehyun untuk membalas dendamnya semuanya seakan runtuh saat mengetahui fakta bahwa Hansol lah pelaku yang sesungguhnya.

Johnny? Jangan tanya bagaimana perasaannya sekarang. Mungkin perasaannya saat ini lebih sakit daripada apa yang Jaehyun rasakan. Hansol? Perasaannya sudah hancur, jujur saja Hansol lebih baik terbunuh di tangan dua orang ini dibanding merasakan perasaan yang sangat menyakitkan seperti ini.

"jangan bergerak" suara seseorang menginterupsi ketiganya, membuat ketiganya menoleh kearah sumber suara.

Jaehyun, Johnny dan Hansol melihat lima orang yang mengarahkan senjata apinya kearah mereka. Bisa ditebak orang itu adalah polisi karena Johnny, Hansol dan Jaehyun mengenali dua diantara mereka, Taeil dan Doyoung. Tidak bukan hanya dua tapi tiga karena mereka juga melihat Taeyong disana.

Taeil menurunkan senjatanya mendekati Hansol dan mengeluarkan borgol. Ia meraih kedua tangan Hansol dan memborgolnya "tuan Ji Hansol, anda merupakan tersangka utama dari pembunuhan berencana. Kami akan meminta keterangan anda di kantor polisi, silahkan beri penjelasan anda disana dan mohon kerjasamanya, anda bisa memanggil pengacara untuk membela diri" Taeil kemudian menarik Hansol secara perlahan dan membantunya berdiri menuntunnya untuk ikut ke kantor polisi.

"tuan Johnny dan Jaehyun kami juga membutuhkan kalian sebagai saksi jadi mohon ikut kami" kali ini Yuta yang menuntun Jaehyun dibantu dengan Ten yang menuntun Johnny. Jaehyun sempat melirik Taeyong sekilas dan setelahnya mengikuti Yuta yang ada didepannya.

Taeyong bukannya mengikuti teman-temannya Ia malah berjalan kearah ruang keluarga tersebut. Melihat ke sekeliling ruangan tersebut yang sangat berantakan, bahkan Ia melihat pecahan guci di pojokan ruangan. Pandangannya terhenti pada sebuah pisau yang tergeletak dilantai. Taeyong berjalan mendekati pisau tersebut dan mengambilnya menggunakan sarung tangan agar sidik jarinya tak tertempel disana. Ia mengingat keadaan Hansol yang babak belur tadi sudah bisa ditebak apa yang baru saja terjadi diruangan ini "syukurlah aku tidak terlambat, pisau ini mungkin akan berlumuran darah jika itu terjadi" Taeyong kemudian membawa pisau tersebut untuk dijadikannya sebagai barang bukti. "semoga ini cepat berakhir" ucapnya.

-TBC-


Annyeonghaseyo~

Star kembali setelah hampir lebih dari dua minggu ff ini gak di update, maafkan Star karena telat banget, karena mau menghadapi uas jadi banyak tugas. Star juga bingung pas nulis bagian Hansol, Jaehyun dan Johnny itu, klo aneh maafkan Star yaaahh part itu merupakan bagian tersulit menurut Star. oh iya siapa yang sudah menebak kalau pelaku utamanya itu adalah Hansol? selamat, kalian semua benar yeaaaaayyy...untuk para JohnSol shipper maafkan Star jangan marah sama Star yaaah huhuhu...dan untuk yang menunggu Renjun harap bersabar, Star selsaikan dulu masalah Johnny, Jaehyun dan Hansol ini Star juga kangen kok sama degem yang satu itu hehehe. ini udah lebih dari 6000 words loooh panjang banget yah? semoga reader gak bosen membacanya.

Oh iya siapa yang terharu liat Johnny debut? Star terhuraaaaa akhirnya abang Johnny debut juga yeeeaaayyyyy...

Star ingin mengucapkan terimakasih untuk semua reader yang sudah membaca dan juga mengikuti ff aneh ini, dan terimakasih yang sangat besar untuk kalian yang me review, berkat review kalian Star jadi semangat. dan juga buat yang Fav dan Follow terimakasih banyak. Star akan berusaha yang terbaik untuk chapter kedepannya. oh iya mungkin Star akan update lagi sedikit lebih lama karena uas sudah menanti, harap sabar menunggu untuk chapter berikutnya yah. Akhir kata, selamat membaca sampai ketemu di chapter depan. Annyeong~

-100BrightStars-