Gloomy
Casts :
- Johnny
- Jaehyun
- Jeno
- Taeyong
- Hansol
- Doyoung
- Yuta
- Ten
- Taeil
- Renjun
Part 10
Hansol duduk di salah satu ruangan yang tidak begitu luas, ruangan yang benar-benar terlihat hampa, hanya ada meja dan bangku yang sekarang dia duduki saat ini. Jika menoleh kearah kanan Hansol melihat sebuah kaca yang lebih mirip jika disebut jendela dengan ukuran yang lumayan besar, hanya saja kaca dari jendela tersebut sangat gelap bahkan Hansol dapat melihat pantulan dirinya di kaca itu. Kali ini Hansol melihat di setiap sudut ruangan yang terdapat CCTV disana, mungkin itu adalah sebagian CCTV yang dapat Hansol lihat, karena tanpa Hansol sadari masih ada beberapa kamera CCTV yang tersembunyi disana.
Hansol sudah duduk selama kurang lebih lima belas menit di ruangan ini, dengan tangannya yang masih terborgol dipangkuannya. Suara pintu yang terbuka membuatnya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah seseorang yang baru saja masuk ke ruangan ini sambil membawa beberapa map dan juga sebuah laptop ditangannya. Orang tersebut duduk di bangku didepan Hansol, meletakkan map dan laptopnya diatas meja, menyalakan laptop tersebut dan mengetik sesuatu yang Hansol tak tau apa.
"tuan Ji Hansol, kita bertemu lagi, aku rasa aku tidak perlu mengenalkan diri lagi. Tapi untuk tata krama aku akan mengenalkan diriku lagi, aku Moon Taeil senang bertemu denganmu kembali"
Hansol tak mengatakan apapun untuk membalas salam dari orang yang bernama Moon Taeil yang ada didepannya ini. Dia benar, ini bukan pertama kali Hansol bertemu dengannya, bahkan sebelumnya Hansol pernah berada diruangan ini untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Mungkin kali ini statusnya bukan lagi saksi, melainkan tersangka.
"aku akan langsung ke inti dari pembicaraan kita karena aku tak suka berbasa basi. Semua dari pembicaraan kita akan terekam" Taeil menunjuk ke salah satu CCTV yang ada di ruangan tersebut "didengar dan disaksikan oleh orang yang ada dibalik jendela itu" lalu Taeil menunjuk kearah jendela dengan kaca yang sangat gelap disamping kirinya.
"harap jawab pertanyaanku dengan jelas, dan kumohon kerja samanya"
Hansol mengangguk singkat menandakan dia mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan Taeil tadi. Taeyong, Yuta, Ten dan juga Doyoung orang yang berada dibalik jendela memperhatikan Taeil dan Hansol dengan seksama. Jika Hansol dan Taeil tidak bisa melihat mereka berempat dari balik kaca yang sangat gelap, berbanding terbalik dengan Taeyong, Yuta, Ten dan juga Doyoung, mereka dapat dengan jelas melihat Taeil dan Hansol melalui kaca jendela itu. Ten satu-satunya orang yang duduk didepan meja memperhatikan layar-layar komputer didepannya yang menampilkan rekaman CCTV memperlihatkan Hansol dan Taeil yang tengah terduduk dari beberapa sudut dan sisi. Sementara tiga orang sisanya lebih memilih berdiri dan memperhatikan langsung dua orang yang sedang berada di ruang introgasi tersebut melalui jendela.
"Yuta, aku bersumpah akan mentraktirmu jika memang dugaanmu itu benar" Taeyong tanpa mengalihkan perhatiannya dari jendela berkata pada Yuta sambil melipat kedua tangannya didadanya.
Taeyong tidak tau apa yang sedang merasuki Yuta saat ini. Dalam kasus kali ini Yuta cukup gesit dan sangat teliti, setelah Ia menangkap Kun bersama dengan Ten di apartementnya. Dan terimakasih karena pengakuan Kun mereka akhirnya bisa menangkap Hansol. Taeyong tidak tau Yuta dapat darimana alamat apartement Kun itu, karena Yuta berhasil menemukannya sebelum Ia, Taeil dan Doyoung. Taeyong harus berikan apresiasi yang besar untuk Yuta kali ini, Ia benar-benar luar biasa.
"jangan menyesal Tae, aku akan memilih restaurant mahal. Kita lihat dan jangan sampai kau mencabut kata-katamu itu"
"aku seorang laki-laki, mana mungkin mencabut kata-kata yang sudah kuucapkan"
"Taeyong Hyung, jangan hanya Yuta Hyung saja yang mendapatkan traktiran, aku juga mau"
"diam kau Ten, ini pula belum tentu Yuta benar"
"baiklah aku akan memulai" sebuah speaker kecil yang mengeluarkan suara Taeil yang berasal dari ruang introgasi mengalihkan perhatian mereka.
Kembali ke ruang introgasi dimana Taeil mulai menjalankan tugasnya untuk mengintrogasi Hansol sebagai tersangka.
"Tuan Ji Hansol, sudah berapa lama kau mengenal Johnny Seo dan keluarganya?" Taeil mulai bertanya pada Hansol yang ada didepannya, kali ini Ia duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya, menatap Hansol yang tertunduk seperti sedang berpikir.
Hansol mencoba memutar kembali ingatannya bersama Johnny, dari awal Ia bertemu dengannya, berkenalan dengannya, menjadi sahabat dekatnya, menghabiskan hampir setiap waktunya bersama, berada di satu sekolah yang sama walaupun Johnny adalah juniornya, memasuki universitas yang sama, Johnny yang memberinya bunga pada saat wisuda begitu pula dengan dirinya yang juga memberi bunga kepada Johnny saat lelaki itu di wisuda. Sampai Hansol menyaksikan pernikahannya dan secara tidak langsung pula turut andil dalam memperhatikan masa pertumbuhan kedua anak Johnny –Jaehyun dan Jeno-. semua kenangan itu seakan kembali terputar dalam otaknya.
"25 tahun atau lebih, aku mengenalnya pada saat kami masih berada di sekolah menengah"
"bagaimana kau bisa mengenalnya?"
"dia adalah anak dari sahabat baik mendiang ayahku. Aku bahkan lebih dulu mengenal ayahnya karena Johnny lahir dan besar di Amerika dan baru kembali ke Korea pada saat Ia lulus sekolah dasar" Hansol menjawab pertanyaan Taeil dengan jelas mencoba untuk bekerjas sama dengan baik, menjalani proses introgasi ini agar berjalan dengan lancar. Hansol bahkan menjawab pertanyaan tersebut dengan nada yang sangat tenang mencoba membawa suasana yang baik.
"sudah sangat lama rupanya kau mengenal Johnny, kalau begitu..."Taeil membuka map yang ada diatas meja, dan mengeluarkan selembar foto disana lalu menggeser foto tersebut sampai berada didepan Hansol agar Hansol dapat melihatnya dengan jelas "apa kau mengenal orang ini?"
Hansol dengan hanya lirikan sekilas saja sudah pasti tau siapa orang yang ada didalam foto tersebut.
"ya aku mengenalnya, dia adalah Kun sepupu ku"
"kami baru saja menangkapnya, dan menetapkannya sebagai tersangka pembunuhan atas istrinya Johnny, dan dia tidak menyangkal tuduhan tersebut. Saat di introgasi Kun mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan pada kami. Dia berkata bahwa kaulah yang memerintahnya untuk melakukan pembunuhan itu, maka dari itu kami menangkapmu dan mengintrogasimu disini, apa kau ingin menyangkal tuduhan tersebut. Tuan Ji Hansol?"
Hansol terdiam sejenak. Jadi Kun sudah tertangkap? Ia tidak tau itu. Bodoh, sudah berapa kali Hansol bilang untuk pulang ke kampung halamannya di China, begini kan jadinya. Jika sekali saja Kun menurut mungkin mereka berdua tidak akan tertangkap seperti ini. Ada sedikit rasa khawatir dibenak Hansol, bagaimana keadaan Kun saat ini? Biar bagaimanapun semua ini terjadi karena dirinya.
"bagaimana keadaannya? Apa Kun baik-baik saja?" bukannya menjawab pertanyaan Taeil, Hansol malah balik bertanya padanya.
"dia baik-baik saja, kami sudah menahannya. Kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau ingin menyangkal tuduhan tersebut?"
Hansol menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawabannya.
"berarti kau mengakui, bahwa kau telah memerintahkan Kun untuk membunuh istrinya Johnny?"
Kali ini Hansol mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Taeil tadi.
Mendengar jawaban Hansol tersebut Taeil mulai menegakkan tubuhnya kembali, mengetik beberapa kalimat di laptopnya yang berisikan bahwa Hansol baru saja mengakui perbuatannya.
"kau baru saja mengakui perbuatanmu. Berikan alasanmu kenapa kau melakukan itu, bukankah kau terlalu jahat untuk melakukan perbuatan seperti itu kepada Johnny, seseorang yang sudah mengenalmu lebih dari 25 tahun itu?"
Hansol tersenyum tipis ketika Taeil mengatakan bahwa dirinya terlalu jahat pada Johnny.
"apakah kau akan menerima alasan yang tidak masuk akal?"
"aku sering mendengar alasan tak masuk akal dari para tersangka yang melakukan suatu kejahatan, jadi sekarang katakan apa alasanmu"
Hansol terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Taeil, membuat Taeil, Taeyong, Yuta, Doyoung dan juga Ten ikut terdiam juga menunggu jawaban Hansol. Taeyong bahkan sudah menggigit kukunya menahan rasa penasaran dengan jawaban yang akan Hansol berikan.
"aku melakukannya karena...karena aku mencintainya"
Waktu seakan terhenti saat Hansol memberikan jawabannya. Baik Taeil dan ketiga temannya yang lain diam mematung saat mendengar jawab Hansol, terlalu terkejut dengan alasan yang diberikan olehnya. Terkecuali Yuta yang malah menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"wow..daebak, Yuta Hyung dugaanmu benar" Doyoung, orang pertama yang kembali tersadar dari keterkejutannya.
"see..dugaanku benar. Taeyong jangan lupakan janjimu, aku tak ingin mendengarnya lagi, karena aku sudah tau apa yang akan dikatakan Hansol setelahnya, jadi aku pergi dulu, aku akan menanyakan kesaksian Jaehyun dan Johnny. Annyeong" Yuta menepuk sebelah bahu Taeyong sebelum dia berlalu pergi keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Taeyong yang masih terdiam merutuki dirinya yang membuat perjanjian bodoh.
.
"kau bilang kau mencintainya, tapi kenapa kau melakukannya? Apakah kau mendapatkan keuntungan dengan membunuh istrinya Johnny?" Taeil kembali tersadar dari lamunannya, menatap Hansol yang ada didepannya yang masih terlihat tenang setelah pengakuannya itu.
"sudah habis kesabaranku menyaksikan kebersamaan Johnny dengan istrinya. Aku lebih dulu mengenal Johnny tapi kenapa wanita itu merebutnya? Memiliki Jaehyun dan Jeno sebagai keturunannya, aku sudah tak tahan lagi melihat senyum bahagianya diatas penderitaanku"
"kau mengerikan sekali Hansol-ssi, kau bahkan tidak terlihat menyesal telah membunuhnya"
"tak pernah sedikitpun aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan, mungkin jika waktu bisa diputar aku akan melakukan hal yang sama. Aku menikmatinya, menikmati dimana Johnny sangat membutuhkanku, sangat bergantung padaku. Jaehyun yang selalu mencariku disaat Ia membutuhkan pertolongan, membantunya menyelsaikan masalah dan memberikan saran padanya. Jeno yang selalu mencariku disaat Ia kesulitan dengan tugas sekolahnya, menemaninya bermain disaat Jaehyun dan teman-temannya tak ada. Aku merasa sangat dibutuhkan oleh mereka saat wanita itu tidak ada. Dan aku sangat menikmati itu, mereka yang selalu menganggap keberadaanku sangatlah penting"
Taeil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Hansol akan memberikan jawaban yang seperti ini. Alasan yang sangat sepele menurut Taeil untuk seseorang melakukan sebuah pembunuhan.
"kau yakin tidak menyesalinya? Jika kau berpikir lebih jauh kau akan sangat..sangat..sangat menyesali perbuatan yang telah kau lakukan. Pertama, kau membuat sepupumu sendiri terlibat dengan kasus ini, membuatnya ikut terseret dan merusak kehidupannya. Kedua, kau juga merusak kehidupan keluarga Johnny, mungkin kau melihat mereka tersenyum didepanmu, sangat membutuhkanmu dan terlihat bahagia. Tapi kau tak tau kau hampir membuat Jaehyun menjadi seorang pembunuh yang hampir membunuh Kun sepupumu dan juga dirimu, membuat Jaehyun menjadi anak yang sangat tertutup dan tak memiliki seorang teman. Kau membuat Jeno yang masih diusia yang sangat muda kehilangan kasih sayang ibunya yang seharusnya masih dibutuhkan diusianya saat ini,dan membuat Johnny merasa bersalah atas kematian istrinya membuatnya jadi seorang pendendam, dan menghancurkannya saat mengetahui fakta bahwa dirimulah, orang kepercayaannya orang yang telah dikenalnya 25 tahun lebih itu yang telah melakukan semuanya. Kau menghancurkan kepercayaan mereka, membuat mereka merasa sangat kecewa terhadap dirimu. Apa kau tak pernah berpikir sejauh itu?"
Hansol terdiam sejenak, Ia menatap Taeil yang ada di hadapannya. Kata-kata Taeil yang mengatakan bahwa Ia baru saja menghancurkan kepercayaan Johnny terhadapnya dan membuat Johnny dan kedua anaknya kecewa kepada dirinya terngiang-ngiang di benaknya. Hansol tak pernah terpikir sejauh itu, tak pernah terpikir olehnya suatu saat Johnny akan mengetahui segala perbuatannya, dan tak pernah terpikirkan olehnya apa yang akan Johnny rasakan ketika mengetahui fakta bahwa dirinya lah yang berniat untuk membunuh istrinya. Sungguh, Hansol tak pernah memikirkan itu semua. Bayangan akan kekecewaan Johnny kepadanya membuatnya merasa takut, apa yang harus dilakukannya jika Johnny tak ingin bertemu lagi dengannya nanti? Hansol tak bisa sehari saja tak melihat wajahnya. Kedua mata Hansol mulai berair ketika memikirkan hal tersebut.
Taeil menghembuskan napasnya melihat reaksi Hansol. Dari situ Taeil tau Hansol tak pernah berpiki panjang atas semua tindakan yang diambilnya.
"aku rasa kau tak pernah berpikir sejauh itu Hansol-ssi. Dan aku berharap kau menyesal atas semua perbuatanmu. Aku akan menyerahkan kasus ini kepada kejaksaan, mereka yang akan menindak lanjuti semuanya" Taeil mulai merapikan semua berkas-berkas yang ada di mejanya dan menutup laptopnya.
"kau tau, jika saja kau tidak melakukan pembunuhan ini kau masih bisa tetawa bersama keluarga Johnny Seo. Kau hanya dibutakan oleh rasa cintamu itu terhadapnya, membuat kau ingin memilikinya. Hansol-ssi cinta itu tak harus saling memiliki, sangat disayangkan padahal kalian terlihat saling melengkapi, tapi kau merusak segalanya. Penyesalan memang selalu datang terakhir" Taeil bangkit dari tempat duduknya, membungkukan badannya sopan kepada Hansol lalu keluar dari ruang introgasi. Meninggalkan Hansol yang meneteskan air matanya tepat setelah Taeil menutup pintu.
.
Taeyong, Doyoung, dan Ten yang masih memperhatikan dibalik jendela tersbut masih terdiam tak mengatakan apapun.
"cinta itu memang kejam" suara Ten memecah keheningan diantara ketiganya.
Taeyong masih terdiam ditempatnya, pikirannya melayang kepada Johnny, Jaehyun dan Jeno. ia pernah seharian menghabiskan waktunya bersama keluarga itu. Melihat betapa bahagianya mereka saat bersama membuat Taeyong merasa miris mengetahui fakta dibalik kebahagiaan itu yang sangat menyedihkan. Taeil benar, Hansol hanya dibutakan oleh perasaan cintanya membuatnya ingin memiliki dan rasa ingin memilikinya menghancurkan segalanya.
"Taeyong Hyung, kau tidak ingin menyusul Yuta Hyung yang sedang menanyakan kesaksian Johnny dan Jaehyun?" suara Doyoung menyadarkan Taeyong dari lamunannya.
"tidak, aku belum siap bertemu dengan Jaehyun, pasti dia sedang bingung dengan siapa diriku sebenarnya, ini bukan waktu yang tepat untukku bertemu dengannya"
.
.
.
Jeno bersandar pada kasurnya, aroma rumah sakit lama-lama membuatnya mual. Jika bergerak sedikit Ia bisa merasakan sedikit rasa sakit dibagian perutnya yang terluka. Ia sedikit memajukan bibirnya karena kesal dengan Appa dan Hyungnya. Bagaimana tidak kesal, saat pertama kali Ia membuka mata, orang pertama yang dilihatnya adalah ketiga temannya bukan Appa atau pun Hyung nya. Mark yang memanggil dokter dan suster untuk memeriksa keadaannya, mereka bertiga setia menemani Jeno sampai jam 7 malam, Jeno yang menyuruh mereka untuk pulang, karena besok pagi mereka harus sekolah dan juga Jeno sedang ingin sendiri. Jeno tidak ingin rasa kesalnya dilampiaskan kepada ketiga temannya itu. Sungguh, jika Jeno melihat Appa dan Hyungnya nanti mungkin Ia akan menangis karena rasa kesalnya, mereka berdua bahkan tak menghubungi Jeno, paling tidak jika mereka benar-benar sibuk tidak bisakah mereka menelpon Jeno? Hansol Hyung juga tak menunjukkan batang hidungnya, dimana orang yang selalu siaga disaat Appa dan Hyung nya tak ada itu?
PING!
Jeno langsung menoleh kearah ponselnya saat benda persegi itu berbunyi menandakan pesan masuk, Ia harap itu Appa atau Hyung nya. Jeno meraih ponselnya yang ada di meja nakas disamping kasurnya dengan sedikit meringis karena rasa sakit di perutnya saat Ia bergerak.
From: Renjun
'Jeno apa kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu? Aku dengar kau masuk rumah sakit, aku harap kau baik-baik saja'
Jeno tertegun saat membaca pesan dari Renjun. Ia jadi mengingat kejadian diatap sekolah beberapa waktu lalu saat Ia menuduh Renjun yang telah mengambil gambarnya.
PING!
Ponsel tersebut berbunyi kembali saat Jeno ingin meletakkan benda persegi itu kembali ketempatnya.
From: Renjun
'aku sungguh khawatir padamu, aku tau kau masih marah padaku, maafkan aku. Cepatlah sembuh agar kau bisa kembali berkumpul bersama teman-temanmu, mereka tidak seberisik seperti biasanya saat kau tidak ada dan itu membuat suasana kelas sedikt aneh dan aku harap kita bisa duduk sebangku lagi Jeno'
Jeno sedikit tersenyum saat membaca pesan Renjun. Sungguh Ia ingin sekali membalasnya tapi mengingat dirinya yang memperlakukan Renjun secara kasar saat di atap sekolah membuatnya mengurungkan niat tersebut, Ia merasa tidak pantas untuk membalas pesan lelaki manis tersebut. Seharusnya dirinya lah yang meminta maaf pada Renjun. Jeno kembali meletakkan ponselnya diatas meja, mungkin setelah dia sembuh nanti Jeno akan meminta maaf secara langsung kapada Renjun.
Tepat setelah Jeno meletakkan kembali ponselnya, suara pintu geser terdengar membuat Jeno memandang kearah pintu tersebut dan memasang wajah kecewanya saat tau siapa yang datang.
"Jeno my baby, kau sudah sadar" Johnny yang baru saja melangkah masuk langsung menghampiri Jeno saat tau putranya itu sudah sadar, diikuti oleh Jaehyun yang ada di belakangnya.
Jeno malah membuang mukanya enggan menatap Appa dan Hyung nya yang sedaritadi ditunggu-tunggu itu. Jangan lupakan rasa kesal Jeno yang merasa diabaikan oleh dua orang ini. Johnny yang hendak memeluk Jeno berhenti seketika saat melihat Jeno yang tak ingin memandangnya. Johnny saling bertatapan dengan Jaehyun yang juga terlihat bingung dengan sikap Jeno yang terlihat tidak senang dengan kedatangan mereka.
"why baby? Kau marah padaku?" dengan perlahan Johnny duduk dipinggir kasur Jeno dan memandang anaknya yang masih enggan untuk meliriknya itu.
"aku kira Appa dan Hyung sudah melupakanku. Tak ada satupun dari kalian yang ada disampingku saat aku membuka mata tadi, kalian menyebalkan" Jeno dengan mata berkaca-kacanya akhirnya menatap Johnny yang ada didepannya.
"hey jangan menangis, maafkan kami yaah, sungguh kami tak bermaksud, ada sesuatu sehingga kita tidak bisa menemanimu tadi" Johnny mengacak rambut Jeno dan mengusap kedua mata anaknya itu sebelum airmatanya benar-benar jatuh.
"memangnya kalian kemana?"
Johnny dan Jaehyun saling pandang atas pertanyaan Jeno. Mereka tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa mereka baru saja dari kantor polisi. Mereka sempat ditanyai kesaksian mereka oleh seorang polisi bernama Yuta. Karena sebuah pisau yang terdapat sidik jari mereka, beruntung pisau tersebut tak melukai siapapun, jika tidak mungkin salah satu dari mereka sudah ditahan. Dan masalah Hansol, mana mungkin keduanya sanggup mengatakan itu pada Jeno. mereka berdua saja sekarang masih terkejut dengan kenyataan pahit itu, mereka tidak ingin Jeno yang masih sakit mengetahuinya juga.
"anak kecil tidak boleh tau"
"Hyung..." Jeno terlihat semakin kesal dengan jawaban Jaehyun.
"sepertinya, anak Appa ini terlihat baik-baik saja yah. Buktinya sifat manjanya mulai terlihat lagi"
"aku tidak manja Appa, dan aku tidak baik-baik saja, masih terasa sedikit sakit disini" Jeno menunjuk kearah perutnya yang terdapat luka tusuk "dimana Hansol Hyung? dia tidak datang kesini? Apa dia tidak menghawatirkanku? Aku juga belum melihatnya daritadi, aku merindukannya. Appa, apa Hansol Hyung sedang bekerja? Suruh lah dia untuk kesini aku benar-benar ingin melihatnya"
Johnny dan Jaehyun kembali terdiam membuat Jeno bingung dengan keduanya. Bukannya menjawab pertanyaan Jeno, Johnny malah memeluk Jeno dengan hati-hati agar luka tusuknya tak terasa sakit, memeluk Jeno dalam diam, tanpa Jeno sadari Appa nya itu sedang meneteskan air matanya. Jeno yang bingung, melihat kearah Jaehyun yang malah melihat kearah lain.
"Appa, kenapa sih? kau tidak menjawab pertanyaanku"
"dia sedang sibuk, nanti kau akan bertemu dengannya" Johnny diam-diam menghapus airmatanya. Melepas pelukan Jeno dan tersenyum memandang anaknya.
"hhh...padahal aku sangat ingin bertemu dengannya"
Johnny tersenyum miris, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jeno nanti ketika Ia tau bahwa Hansol terlibat dalam kasus pembunuhan Eommanya. Melihat Jeno yang menanyakan Hansol seperti ini pasti dia akan sangat kecewa jika mengetahui fakta yang sesungguhnya, sama seperti dirinya. Jaehyun keluar dari ruangan itu untuk menghirup udara segar tidak tahan dengan pertanyaan Jeno yang terus menanyakan Hansol.
"Jeno, apa kau lapar? Kau ingin makan apa? Karena kau sedang sakit aku akan menyuapimu" Johnny mengalihkan perhatian Jeno agar anak itu tidak terus-terusan menanyakan Hansol. Jeno hanya tersenyum senang mendengar Appa nya yang akan menyuapinya.
.
.
.
Jaehyun duduk di salah satu kursi tunggu di rumah sakit, pikirannya sangat kalut hari ini. Berkali-kali menghembuskan napasnya dengan berat mencoba untuk mengurangi beban dalam pikirannya. Seketika sebotol air mineral muncul dihadapannya. Jaehyun mengangkat wajahnya menoleh keatas melihat seseorang yang menyodorkan air mineral itu dihadapannya.
"air baik untuk menenangkan pikiran" Taeyong, orang yang menyodorkan air mineral itu tersenyum kearah Jaehyun.
"Taeyong" Jaehyun memperhatikan Taeyong yang ada dihadapannya, penampilannya hari ini terlihat sedikit berbeda dengan kaos putih dan jaket kulit hitam, serta skinny jeans hitam yang membalut kakinya. Taeyong dengan penampilannya sekarang terlihat sedikit lebih dewasa dari biasanya.
Jaehyun memperhatikan Taeyong dengan seksama, seperti mencari sesuatu dalam diri Taeyong. Taeyong yang menyadari hal itu membuka sedikit jaket kulitnya dan menunjukkan sesuatu yang menggantung didalamnya.
"apa kau mencari ini?" Taeyong menunjuk senjata api yang diletakkan dibalik jaket kulitnya kepada Jaehyun.
"kau, siapa kau sebenarnya?"
"aku akan menjelaskannya padamu, tapi tidak disini" Taeyong menarik tangan Jaehyun untuk berdiri dan menuntunnya. Jaehyun hanya mengikuti dibelakangnya tanpa berkata apapun.
.
Taeyong dan Jaehyun duduk berhadapan di dalam sebuah cafe. Taeyong memesan sesuatu yang manis untuk Jaehyun seperti ice chocolate dan juga sepotong cake, karena makanan manis baik untuk menghilangkan stress, sementara dirinya memesan hot chocolate dengan sepiring cookies. Taeyong tersenyum tipis melihat Jaehyun yang hampir menghabiskan cake nya, sepertinya anak itu kelaparan, Ia menghabiskan hampir seharian waktunya dikantor polisi tadi mungkin makanan apapun terasa tidak nikmat. Taeyong merasa lega setidaknya Jaehyun bisa menghabiskan cake nya.
"seharusnya aku mengajakmu ke restaurant saja agar bisa memesan makanan berat. Kau terlihat sangat kelaparan Jaehyun"
Jaehyun menyedot ice chocolate nya saat selsai menghabiskan sepotong cake.
"ini adalah makanan pertama yang masuk kedalam perutku setelah seharian ini. Terimakasih atas cake nya dan juga ice chocolate nya"
"sama-sama"
Taeyong merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kartu identitas didalamnya dan menunjukkannya kepada Jaehyun.
"itu adalah identitas asliku. Kau pasti sangat terkejut saat melihatku dirumahmu tadi siang kan? ya benar aku adalah seorang polisi" Taeyong kembali memasukkan kartu identitas tersebut kedalam saku jaketnya.
"aku mempunyai misi untuk mengawasimu karena kasus pembunuhan atas Eomma mu. Itulah sebabnya aku menemukanmu dan Jeno saat Jeno ditikam, itu bukan karena tidak sengaja bertemu denganmu tapi karena memang seharian itu aku selalu mengawasimu. Maafkan aku, aku terlambat sehingga tak bisa menghentikan kejadian itu"
"sekarang tugasku sudah selsai, kami sudah menyerahkan semuanya ke kejaksaan, mereka yang akan menyelsaikannya" Lanjut Taeyong.
Jaehyun tak mengatakan apapun atas pengakuan Taeyong. Jujur saja Jaehyun sedikit kecewa, jadi selama ini Taeyong sudah membohonginya. Taeyong punya maksud tertentu mengapa Ia ingin berteman dengannya.
Taeyong meraih kedua tangan Jaehyun yang ada diatas meja, membungkusnya dengan kedua tangannya yang sedikit lebih kecil dibandingnkan tangan Jaehyun. Menatap Jaehyun yang memandangnya dengan bingung.
"Jaehyun, jangan kau gunakan tangan ini untuk melakukan hal bodoh, kau hampir saja membunuh seseorang. Kau orang yang cerdas dengan latar belakang keluarga yang baik dan masa depan yang cerah, jangan sampai kau menghancurkannya hanya karena dendammu itu. Apa kau mengerti?"
"Taeyong..."
"satu yang harus kau tau, walaupun aku mendekatimu dengan maksud untuk menjalankan misiku, aku tulus ingin berteman denganmu, sungguh" senyuman tulus Taeyong berikan pada Jaehyun untuk membuktikan apa yang dikatakannya benar-benar sebuah ketulusan.
Taeyong bangkit dari tempatnya, Jaehyun yang melihat itu memandang Taeyong bingung.
"kau terlihat sangat lelah hari ini, wajahmu juga sedikit pucat, sebaiknya kau istirahat, kau mau kuantar kemana? Rumahmu atau kembali kerumah sakit?"
"aku kerumah sakit saja, Jeno tadi hampir menangis karena seharian ditinggal olehku dan Appa, aku tak ingin meninggalkannya lagi" Jaehyun ikut bangkit dari tempatnya memakai jaket yang tadi dilepasnya.
Taeyong mengangguk dan berjalan mendahului Jaehyun.
"Taeyong Hyung"
Panggilan Jaehyun tadi menghentikan langkah Taeyong seketika, membuatnya menoleh dan menatap Jaehyun tidak percaya. Dia tidak salah dengar kan? tadi Jaehyun memanggilnya dengan sebutan Hyung.
"bukankah akan lebih pantas jika aku memanggilmu seperti itu, Hyung?"
Taeyong menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia benar-benar senang mendengar Jaehyun memanggilnya dengan sebutan Hyung. hal sederhana namun Taeyong tetap merasa senang, kata yang selama ini ingin didengarnya dari mulut Jaehyun akhirnya terdengar juga olehnya.
.
.
.
Renjun berdiri didepan salah satu pintu kamar rawat inap. Sebuket bunga dan juga sekeranjang buah segar serta segulung kertas yang berpita merah memenuhi tangannya. Sedikit mengintip dari balik kaca yang terdapat dipintu tersebut, melihat seseorang yang sedang duduk bersandar dikasurnya sambil mendengarkan musik. Renjun melirik sebuah nama yang tertulis disamping pintu kamar rawat inap tersebut yang tertulis 'Jeno' menandakan orang yang ada didalam kamar itu adalah Jeno. Renjun berkali-kali meraih knop pintu geser tersebut ingin membukanya namun rasa ragunya menguasainya. Sudah terhitung lima menit Ia berdiri didepan pintu ini namun rasa ragunya belum juga hilang.
"Renjun?"
Suara seseorang dibelakangnya mengagetkannya, membuatnya menoleh dan melebarkan matanya saat tau siapa yang baru saja memanggilnya.
"A...annyeonghaseyo" Renjun menyapa orang tersebut dengan kaku, dan memubungkukkan badannya dengan sopan.
"sedang apa kau disini? Kau tidak masuk? Sini biar kubantu" Jaehyun orang yang baru saja membuat Renjun terkejut tersenyum saat mendengar Renjun menyapanya dengan sangat kaku. Jaehyun mengambil keranjang buah yang sepertinya membuat Renjun sedikit kerepotan itu.
"apa kau baru pulang sekolah?" melihat Renjun yang masih menggunakan seragam sekolah membuat Jaehyun bertanya dan dibalas anggukkan oleh Renjun.
"iya aku baru saja pulang sekolah dan menyempatkan diri untuk mampir kesini"
"kalu begitu mengapa hanya berdiri disini? ayo masuk"
"Hyung tapi..." Renjun baru saja ingin menolak ajakan Jaehyun, namun terlambat karena Jaehyun terlanjur membuka pintu geser tersebut.
"Jeno ada temanmu yang datang" Jaehyun melangkah masuk kedalam, Ia sedikit menoleh kebelakangnya dan mendapati Renjun yang malah bersembunyi dibalik pungunggunya membuatnya tersenyum dengan tingkah teman adiknya ini.
"Hai Hyung, kau tadi bilang apa? Maaf tadi aku tak dengar" Jeno melepas earphone yang tadi dipakainya saat melihat Jaehyun datang.
"ada temanmu yang datang"
"siapa?"
Jaehyun menggeser tubuhnya, memperlihatkan Renjun yang bersembunyi dibalik punggungnya. Ia lagi-lagi tersenyum melihat Jeno melebarkan kedua matanya saat melihat Renjun, ekspresinya tak jauh berbeda saat Renjun bertemu dengannya didepan pintu tadi.
"tadi dia sudah menunggumu di depan pintu terlihat ragu-ragu saat mau masuk kesini, iya kan Renjun?" Jaehyun meletakkan keranjang buah yang dibawa Renjun, sedikit menggoda Renjun dengan pertanyaannya membuat pipi lelaki manis itu memerah.
Jaehyun sudah tidak tahan lagi, kedua orang didepannya ini begitu manis sehingga membuatnya tak berhenti untuk tersenyum. Keadaan canggung diantara keduanya benar-benar menggemaskan bagi Jaehyun.
"aku akan membelikan sesuatu untuk kalian" sadar keberadaannya mungkin akan mengganggu, Jaehyun melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Jeno dan Renjun.
Setelah sepeninggalan Jaehyun, Renjun dan Jeno tak ada yang mengeluarkan suaranya, mereka bahkan tak berani menatap satu sama lain.
"ekheem..." Jeno berdeham untuk menghilangkan rasa canggung. "apa kau baru saja pulang sekolah? Kau belum mengganti seragammu"
Renjun mengangguk "aku langsung mampir kesini jadi tidak sempat mengganti seragamku, ini untukmu semoga kau cepat sembuh" Renjun mengulurkan buket bunga yang ada ditangannya menyerahkannya kepada Jeno.
"terimakasih"
"dan ini" kali ini Renjun menyerahkan gulungan kertas berpita merah kepada Jeno.
Jeno menerima gulungan kertas tersebut dan membuka pitanya, melebarkan kertas tersebut dan melihat isinya. Ia sedikit terkejut saat tau bahwa kertas itu adalah hasil gambar sketsanya yang pernah hilang.
"kau benar-benar mangambilnya? Kenapa?"
Renjun terdiam sejenak. Ia memang meminta pada Doyoung Hyungnya untuk cepat mengembalikan gambar Jeno sesuai janjinya. Saat Doyoung memberikan gambar itu Hyung nya berkata 'jika Jeno bertanya mengapa kau mengambilnya jangan katakan yang sebenarnya, itu tandanya Appanya belum memberitaunya apa yang sebenarnya terjadi. Kau bukan orang yang pantas untuk memberitaukan apa yang sedang terjadi di keluarganya itu, kau mengerti?'
Renjun memang sudah mengetahui kasus keluarga Jeno. Bukan hanya Renjun, mungkin seluruh masyarakat Korea tau bahwa Hansol yang dikenal sebagai orang kepercayaan Appa nya Jeno itu ikut terlibat dalam pembunuhan Eomma nya, karena sudah beberapa hari ini berita di TV mengabarkan hal itu, maklum saja keluarga Jeno merupakan keluarga yang sangat terpandang sehingga mungkin kasus seperti ini layak dibicarakan publik. Sepertinya benar kata Doyoung Hyungnya, Jeno memang tidak mengetahui fakta yang sedang terjadi.
"Maafkan aku Jeno" Renjun memilih untuk hanya meminta maaf pada Jeno dan tak memberikan alasan mengapa dia mengambil gambar itu.
"saat diatap waktu itu, kau tidak salah menuduhku, karena aku memang benar mengambil gambarmu, maafkan aku"
"tapi kenapa?"
"maafkan aku" lagi-lagi Renjun tak memberikan alasan pada Jeno.
Sebenarnya Jeno tidak puas dengan jawaban Renjun, jika hanya minta maaf Jeno sudah memaafkannya, Jeno butuh alasan kenapa dia melakukannya.
"aku akan menjelaskannya nanti" Renjun berkata seperti Ia tau apa yang sedang dipikirkan Jeno.
Jeno hanya mengangguk menanggapi Renjun. Ia melipat dengan asal gambar yang ada ditangannya dan meletakkannya begitu saja di atas meja diasampingnya, mungkin jika tidak ada Renjun, Jeno sudah meremas kertas itu dan membuangnya begitu saja karena orang digambar inilah Ia sekarang terbaring di rumah sakit, tempat yang membuatnya tidak nyaman. Maka dari itu Jeno tidak ingin merusak mood nya dengan melihat wajah orang itu. Jeno melirik Jam di dinding, waktu menunjukkan pukul lima sore, kemana Jaehyun Hyung nya? Dia lama sekali, sekarang Jeno bingung harus bicara apa dengan Renjun, setidaknya jika ada Hyung nya itu kan Jeno bisa mengalihkan perhatian.
"aku bawa buah segar tadi" Renjun berjalan ke meja dimana Jaehyun meletakan keranjang buahnya "kau mau buah apa? aku akan mengupasnya untukmu"
"hah? Aah...aku mau apel saja" Jeno sedikit senang mendengar Renjun akan mengupasinya apel, bahkan Ia mencoba untuk menahan senyumnya.
"tunggu sebentar yah" Renjun pergi ke kamar mandi untuk mencuci apel ditangannya, Ia kembali mengambil sebuah pisau dan juga piring kecil untuk meletakkan apel yang sudah terkupas nanti, manarik kursi dan duduk disamping kanan kasur Jeno.
"kau bisa melakukannya? Aku tak pernah berhasil mengupas buah walaupun Hyung ku sering mengajari ku" Jeno melihat Renjun ragu dengan pisau ditangannya, jujur saja Ia masih sedikit trauma dengan benda tajam itu.
"tidak, aku bahkan baru pertama kali mengupas buah dengan pisau, yang terpenting kulitnya terpisah dari buahnya kan? aku akan mencobanya"
Jeno menatap Renjun ngeri, bagaimana jika Renjun melukai tanganya nanti, haruskah Ia menghentikannya? Renjun mulai fokus dengan pisau dan apel ditangannya dan mulai menyayat apel tersebut.
"hey Renjun, jika kau tidak bisa melakukannya sebaiknya tidak usah, jangan sampai kau terluka nanti"
"tidak, aku penasaran" Renjun tak mengalihkan fokusnya dari apel ditangannya.
"ppffft..." Jeno menutup mulutnya dengan tangannya menahan tawa saat melihat Renjun yang mengupas buah apel itu terlalu tebal, itu benar-benar tebal, Renjun hampir memotong setengah dari buah apel itu.
"hey jangan tertawa, ini pengalaman pertama ku" Renjun menatap Jeno kesal.
"oke...maafkan aku, silahkan lanjutkan"
Jeno akhirnya memakan buah apel yang Renjun kupas dengan seadanya, banyak daging buah yang terbuang sia-sia karena kemampuan mengupas Renjun yang luar biasa itu. Mereka menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol ringan, dimulai dari Renjun yang bertanya bagaimana sakitnya ditikam sebuah pisau, bahkan Renjun menjauhkan pisau ditangannya dan meletakkannya di meja jauh dari Jeno saat mengetahui bahwa dia masih sedikit trauma dengan benda tajam itu "maafkan aku, kenapa kau tak bilang jika kau masih trauma, aku tak akan mengupasnya didepan matamu jika aku tau itu" begitulah yang Renjun ucapkan atas rasa bersalahnya. Renjun juga menceritakan kesehariannya di sekolah, bagaimana tugas yang begitu banyak, dan Renjun berjanji akan membantu Jeno untuk mengejar ketinggalan pelajarannya. Mereka terkadang tertawa dengan cerita lucu yang Renjun keluarkan.
Jeno tau, Renjun adalah orang yang mudah bergaul dan asik diajak bicara, saat dikelas Ia selalu memperhatikan bagaimana Ia berinteraksi dengan teman-temannya, Renjun itu anak yang pintar Jeno juga tau itu, ramah dan juga murah senyum Jeno juga tau sifat Renjun yang ini. Ia tau segalanya karena dibalik pendiamnya Jeno, Ia selalu memperhatikan Renjun yang periang dan menyenangkan. Mau tau satu rahasia? Kenapa Jeno selalu duduk sendiri dan membiarkan bangku disebelahnya tak terisi? Padahal dia bisa meminta Jaemin untuk meninggalkan teman sebangkunya dan duduk dengannya. Satu alasan utama kenapa Jeno membiarkan bangku disebelahnya kosong adalah karena Renjun, Jeno selalu ingin duduk sebangku dengannya. Sudah berkali-kali Jeno katakan pada ketiga temannya Mark, Jaemin dan Haechan dan berkali-kali juga ketiga orang itu menyarankannya untuk berani bicara kepada Renjun akan keinginannya itu. Maka dari itu ketiga teman Jeno tertawa sangat puas saat Renjun dengan sendirinya datang dan duduk dibangku kosong yang telah Jeno sediakan untuknya.
"Hey Renjun"
"hm?"
"maukah kau duduk sebangku denganku lagi? Aku tau aku sedikit kasar padamu saat diatap waktu itu, maafkan aku. Aku harap kau mau duduk sebangku denganku lagi"
Renjun tertegun menatap Jeno, ini juga yang sedaritadi ingin dikatakannya sama seperti Jeno kalau boleh jujur Renjun juga ingin duduk sebangku lagi dengannya. Renjun tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"tentu saja" jawabnya.
Dan kemudian obrolan mereka berlanjut kembali, ditemani buah-buahan yang Renjun bawa, untuk menghindari insiden mengupas yang kurang baik, mereka memakan buah seperti jeruk dan anggur, sambil terkadang tertawa seru.
"oke, I'll wait patiently" Jaehyun yang sudah berdiri diluar selama satu menit setelah membeli makanan itu mengurungkan niatnya untuk masuk, takut merusak suasana dua orang yang sedang asik didalam sana. Sebenarnya Ia senang melihat Jeno tertawa, sudah beberapa hari ini Jaehyun tak melihat tawa adiknya itu, ingatkan Jaehyun untuk berterimaksaih kepada Renjun nanti. Jaehyun berbalik memilih menunggu di kursi tunggu rumah sakit dengan beberapa kantong makanan dipangkuannya.
.
.
.
Johnny duduk diam menunggu seseorang didalam sebuah ruangan, sudah hampir sepuluh menit Ia duduk disini tapi orang yang ditunggunya belum juga datang. Suara pintu yang terbuka dari sebrang sana membuatnya menegakkan kepalanya dan berdiri. Ia menatap nanar sesorang yang baru saja masuk didampingi oleh dua orang yang berseragam polisi, tangannya yang terborgol membuat Johnny semakin pilu melihatnya. Orang itu kini duduk dihadapannya, mereka berdua dibatasi oleh sebuah kaca yang terdapat beberapa lubang agar ketika mereka berbicara suara mereka tetap terdengar satu sama lain.
Johnny mendengar kabar bahwa kasus pembunuhan istrinya sudah akan diserahkan ke kejaksaan, maka dari itu Ia disini, Ia ingin menemui Hansol, entah mengapa Ia ingin melihat wajah orang yang lebih tua satu tahun darinya ini, yang sudah dikenalnya bertahun-tahun lamanya. Mereka berdua duduk dalam diam saling pandang satu sama lain dan tak ada yang mengeluarkan suara, hampir lima belas menit mereka habiskan dalam diam.
"bagaimana kabarmu?" Hansol akhirnya memecah keheningan yang terjadi diantara mereka.
Johnny tak menjawab pertanyaan Hansol, Ia tetap diam dan memandang Hansol, memperhatikan beberapa luka di tubuh Hansol yang terlihat karena ulah Jaehyun.
"bagaimana dengan Jeno? apa dia baik-baik saja? Dia sudah sadar kan? aku benar-benar mengkhawatirkannya, kau tau aku hampir tak bisa tidur karena terlalu khawatir padanya"
"bagaimana Jaehyun? Jujur saja dia sedikit menakutkan terakhir kali aku melihatnya, tidak seperti Jaehyun yang selama ini aku kenal, anak manis itu ternyata sangat kuat, dia bisa melindungi dirinya sendiri nanti dan juga adiknya"
"aku sangat terkejut saat tau kau menemuiku, aku kira kau tak mau lagi melihatku karena apa yang sudah kulakukan padamu dan keluargamu"
Johnny tak sedikitpun membalas pertanyaan Hansol, matanya mulai berair saat Hansol membahas apa yang telah diperbuatnya, seketika dadanya terasa sakit kembali tersadar bahwa orang didepannya ini adalah salah satu orang yang terlibat dalam kasus pembunuhan istrinya.
"aku tau aku memang sudah tidak pantas untuk berhadapan denganmu lagi, sejujurnya aku sangat senang bisa meliatmu hari ini Johnn. Dan bisakah sekali saja kau menjawab salah satu pertanyaanku tadi? Aku ingin mendengar suaramu juga, setidaknya mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya aku dapat melihatmu"
Johnny tak bisa membendungnya lagi, air matanya menetes begitu saja. Tak hanya Johnny, Hansol juga ikut meneteskan air matanya yang sedaritadi Ia bendung, Ia bahkan sudah hampir menangis saat tau Johnny ingin menemuinya dan sekarang adalah batas kekuatannya menahan air matanya itu.
"Hyung" satu kata pertama yang keluar dari mulut Johnny setelah beberapa waktu Ia hanya diam.
"Hyung...Hyung...Hyung...Hansol Hyung" Johnny terus menerus memanggil Hansol disela-sela isakan kecilnya dan air matanya yang terus menetes.
"Hansol Hyung, kenapa kau melakukannya? dari semua orang yang ada di dunia ini kenapa harus dirimu Hyung? kenapa?"
"kau menghancurkan semua fantasiku Hyung, aku yang selalu menunggumu memiliki pendamping dan memiliki seorang anak nanti yang akan berteman baik dengan kedua anakku dan kita yang akan selalu hidup rukun bersama. Kau menghancurkan semuanya"
"kau yang pertama kali menghancurkannya Johnn"
Johnny menatap Hansol bingung. Apa yang telah Ia lakukan? Apa maksud Hansol tadi?
"kau yang pertama kali menghancurkan fantasiku untuk hidup bahagia bersamamu dengan menikahi wanita itu"
Johnny melebarkan kedua matanya yang basah mendengar perkataan Hansol tadi.
"tak tau kah kau aku mencintaimu Johnn? Sudah bertahun-tahun kita bersama kau tidak pernah menyadarinya. Dan kau membuatku melihatmu bersama wanita itu, aku tak sanggup"
"Hyu...hyung"
Johnny tak bisa berkata apa-apalagi, terlalu terkejut dengan kenyataan. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan dadanya semakin sesak. Ia selama ini dihantui perasaan bersalah kepada mendiang istrinya karena tak bisa melindunginya dan sekarang perasaan bersalah itu semakin besar karena penyebab kematian istrinya itu tak lain adalah dirinya. Perasaan cinta Hansol pada dirinya lah penyebabnya, dan satu kesalahan terbesar Johnny adalah dirinya yang tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Hansol, dirinya yang menerima begitu saja pernikahan yang telah direncanakan mendiang ayahnya. Jika saja Johnny memiliki keberanian untuk menolak dan menyatakan perasaannya pada Hansol, ini semua tak akan terjadi. Ini semua salahnya, Johnny telah merubah Hansol menjadi seorang pembunuh dengan istrinya sebagai korbannya.
"aku tau kau kcewa padaku, maafkan aku"
Pikiran Johnny sudah kosong, Ia tak tau harus berkata apalagi sekarang. Johnny dengan susah payah menahan lututnya yang lemas, bangun dari tempat duduknya dan menghapus airmatanya. Ia berbalik berjalan menjauhi Hansol yang masih terduduk ditempatnya menuju pintu keluar ruangan tersebut. Sebelum meraih knop pintu Johnny mengeluarkan suaranya.
"Hyung satu yang harus kau tau, aku juga mencintaimu Hyung, jauh sebelum aku menikahi wanita itu aku sudah mencintaimu. Kau membuatku sangat kecewa Hyung tapi bodohnya aku masih mencintaimu. Aku akan memanggil pengacara terbaik untukmu dan sepupumu dipengadilan nanti"
Setelah berkata seperti itu tanpa menatap Hansol, Johnny membuka pintu yang ada dihadapannya dan berjalan keluar meninggalkan Hansol yang semakin terisak mendengar pernyataan Johnny tadi. Kedua orang itu, Johnny dan Hansol sudah memendam perasaan mereka, menahan pernyataan cinta mereka, tanpa disangka keduanya akan mengungkapkan perasaan mereka dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Sebagian besar orang akan merasakan kebahagiaan saat mengungkapkan perasaan cinta mereka kepada orang yang dicintai. Berbeda dengan Johnny dan Hansol ungkapan cinta mereka diiringi oleh air mata.
-TBC-
Annyeonghaseyo~
huaaaaaaa akhirnya Star bisa update juga setelah sekian lama, maafkan Star untuk para reader yang menunggu #bow90derajat. Star abis uas selama seminggu dan setelah uas Star ada acara liburan sekelas dan kebetulan Star adalah tim intinya jadi repot banget deh. setelah liburan itu Star mencoba nulis ff ini dan berkali-kali stuck disitu situ aja gak ada kemajuan dan gak dapet feeling. ini aja gak tau deh yaah dapet feel nya atau gak. Yang kangen Renjun, Star udah hadirkan Degem yang satu itu, banyak yang pengen part NoRen jadi Star banyakin deh Jeno Renjun nya, udah banyak belum segitu?
maafkan Star karena banyak typo karena ngeditnya sambil ngantuk-ngantuk. soalnya Star pengen buru2 update malem ini, takut kelamaan update reader yang nungguin ntar bosen nunggunya, menunggu itu gak enak kan yaaah...
ah sudah lah yang penting udah update maaf kalo kurang memuaskan, terimakasih buat para reviewers tercinta, dan para reader yang memberikan fav dan follow, I love You, selamat membaca Annyeong...
-100BrightStars-
