Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. Ficlet.
Sekali lagi, tak ada maksud untuk menjelekkan pihak mana pun. Semua demi tuntutan cerita.
Words : 2.005
Knot.
By VikaKyura.
- Light -
"Apa ini?"
Sasuke mencegatnya ketika Ino baru saja tiba di rumah. Rupanya, lelaki itu pulang lebih cepat darinya.
Ino tidak mengangkat kepala untuk memandang wajah sang kakak, alih-alih segera menunduk untuk menatapi sebuah dokumen beramplop coklat yang sedang diulur oleh lelaki itu. Amplop tersebut telah dirobek, menampilkan beberapa lembar kertas yang menjadi isinya.
"Ah." Gumam si gadis.
"Formulir study and career training scholarship, di London. Itu yang tertera di sana. Apa maksudnya?" Sasuke kembali bertanya, manik hitamnya meruncing. "Kenapa ditujukan untukmu?"
Ino meraih lembaran itu. "Dosenku merekomendasikan ini. Semacam beasiswa untuk melanjutkan kuliah sekaligus pelatihan kerja." Jawab Ino.
Ekspresi datar Sasuke sedikit mengalami perubahan. Ia menunggu gadis itu melanjutkan.
"Aku didaftarkan pada program itu oleh pihak kampus. Jadi, ini formulir registrasi dan persyaratannya." Ungkap si gadis, masih melekatkan aquanya pada dokumen tersebut. "Padahal mereka bilang berkasnya baru akan dikirim besok". Gumamnya pelan.
Kini Onyx Sasuke melebar. "Lantas kau mengambil tawaran itu?"
"Ya. Kenapa tidak?" timpal Ino. "Aku memang belum memikirkan karirku sehabis lulus kuliah. Jadi ini kesempatan bagus kan. Lagipula luar negeri sepertinya asik." Jelasnya, masih bicara pada amplop.
Mulut Sasuke merenggang terbuka. Ia terus memandang Ino yang masih belum juga mau mendongak untuk menatapnya. Ia memang bisa menangkap ada sesuatu yang salah dengan sikap adiknya itu. Sudah beberapa hari ini si gadis bersikap seperti sedang menolak untuk berinteraksi dengannya. Sengaja menghindarinya, juga berhenti menghampirinya dengan tingkah manja. Sasuke masih memasang muka datar meski dalam hati ia sedikit resah.
"Seharusnya kau membicarakannya dulu denganku." Ujar lelaki itu. "Kau masih harus fokus pada sidang akhirmu ja-"
"Itu sudah beres." Potong Ino, akhirnya mendongak. "Aku sudah lulus sidang."
Mereka bertukar pandang.
Kemudian Sasuke kembali melebarkan obsidian gelapnya.
Lelaki itu menilik raut wajah adiknya barangkali si gadis sedang bercanda. Namun Ino tampak serius, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi lain.
"Kapan? Bukannya jadwal sidangmu masih minggu depan?" tanya Sasuke kaget.
"Ya, tapi kuminta dipercepat." Jawab Ino simpel. "Jadi kemarin lusa."
Sasuke memandangnya tak percaya, tercengang.
"Umm, kalau begitu aku akan menyiapkan berkas persyaratan untuk ini." ucap Ino, mengacungkan dokumen di tangannya. Lalu ia segera memutar badan, hendak memasuki kamarnya.
Sasuke hanya diam melihat Ino mulai melebarkan jarak di antara mereka. Ia mengamati pergerakan adiknya itu. Ino masih berusaha menghindarinya.
Lagipula, mengapa Sasuke sampai tidak dikabari? Ino bahkan sama sekali tidak mengungkit soal kelulusannya. Gadis itu benar-benar tidak sedang bersikap seperti biasa. Gerak-gerik adiknya itu berbeda, seolah lebih berhati-hati untuk menutupi sesuatu. Ino pasti masih marah padanya.
Sasuke merengut. Ia sudah lelah dengan perselisihan kakak-adik ini. Jikalau mereka berdebat, biasanya tak pernah sampai selama ini. Ia mulai terusik.
Maka Sasuke menangkap satu lengan Ino untuk mencegahnya pergi. Gadis bersurai pirang itu memutar kembali badannya.
Kakak beradik tersebut bersitatap lagi.
"Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk pergi?" Sasuke bertanya.
Nadanya terdengar monoton, namun Ino dapat menyadari adanya pertentangan dalam nada bicara itu.
Ino menatap netra hitam kakaknya sejenak, lalu mengalihkan pandang. Jemarinya menurunkan tangan sang kakak dari lengannya. "Aku ingin hidup mandiri." Jawabnya. "Kau benar, nii-chan. Aku ini manja, makanya selalu menyusahkanmu."
Sasuke tertegun mendengarnya.
"Jadi-"
"Karena itu kau marah padaku?" potong Sasuke. "Perkataanku menyinggungmu, dan kau menganggapnya serius?"
Ino mengerjap.
"Kau sungguh berfikir aku akan meninggalkanmu. Mengapa demikian?" Sasuke mulai mencecar. Ia melangkah mendekati tubuh adiknya. "Jika aku tidak ada bersamamu, memangnya kau bisa apa?" tanyanya, menusuk.
Ino menahan nafasnya. Itu benar. Ino tahu. Ia sama sekali tak berdaya . . jika tidak ada kakaknya. Bibir gadis itu mulai bergetar.
"Lagipula kau tidak bisa memutuskan ini sendiri, aku masih berhak atas dirimu. Meski kita bukan saudara kandung, kau masih adikku. Kau menyandang marga yang sama denganku." Ujar Sasuke.
Ino mulai menatap gelisah lelaki itu. Justru karena itu . . karena ia hanyalah seorang adik, maka ia harus pergi.
Gadis itu menggeleng. "Ini hanya keinginan egoisku." Sangkalnya. "Aku sudah resmi menjadi dewasa sekarang. Aku sudah lulus kuliah dan sudah bisa mencari kerja sendiri. Kau sudah memenuhi janjimu untuk menjagaku sampai dewasa. Sekarang aku sudah bisa menentukan hidupku sendiri."
Sasuke terus menatap serius gadis itu, membuat Ino segera mengedarkan safir birunya secara acak ke berbagai arah. Sebisa mungkin berusaha untuk tidak menitikkan air mata yang sedari tadi ditahannya. "Dengan begitu setelah ini, tanggung jawab kakak untuk menjagaku bisa berkurang." Gumamnya.
Sasuke merangkum sebelah pipi Ino untuk kembali mendapat atensinya. "Lantas kau fikir kau bisa seenaknya pergi?" Iris gelap itu menuntut jawaban. "Jelaskan padaku alasan mengapa aku harus berhenti menjagamu?" suaranya dipelankan.
Ino mulai menatap sang kakak dengan pandangan gugup. "Jika kau menikah aku pasti akan mengganggu ja-"
"Ck." Mengenai itu lagi. Sasuke membuang nafas berat.
"Kapan aku mengatakannya, Ino, bahwa aku akan segera menikah?" potong Sasuke, suaranya dalam.
"K-kau tidak, aku hanya-"
"Berasumsi." Potong si lelaki lagi. "Dan kau berasumsi terlalu banyak. Seperti halnya kau yang menduga aku akan meninggalkanmu. Padahal aku tidak akan melakukannya."
Ino menghela nafas singkat. Ia akan kalah jika terus dicecar seperti ini. Si gadis mulai mengangkat tangannya untuk meraih punggung tangan Sasuke yang sedang merengkuh wajahnya. Satu tangannya yang lain pun terangkat untuk meremas kain baju di dada lelaki itu.
"Kalau begitu tolong berhenti," Ino menurunkan tangan besar Sasuke dari wajahnya. "Berhenti lah bersikap seperti ini . . Nii-chan." Gadis itu menundukkan wajahnya, menatap lantai dengan gamang. "Jika terus begini, kau hanya akan membuatku semakin besar kepala dan terus berharap."
"Apa yang kau maksud?" lelaki itu segera bertanya sambil mengerutkan alis hitamnya. Ia bisa merasakan ketabahan yang sedari tadi dipertahankan Ino mulai goyah.
"Aku hanya punya kakak, jika kau pergi lalu aku dengan siapa?" ucap Ino dengan suara bergetar.
Sasuke mengerjap saat melihat mata gadis itu mulai berair.
"Lagipula, aku tidak akan sanggup melihatnya." Kini Ino menyandarkan dahinya di dada Sasuke, menyembunyikan wajahnya. Ia menghela nafas, menghirup aroma tubuh lelaki itu. Selalu menenangkan. Lalu setelah berusaha untuk tetap tenang, ia mulai bicara lagi. "Menemukan nii-chan berjalan bersama dengan wanita lain saja sudah membuatku jengkel setengah mati."
Sasuke hanya berkedip, menyimak.
"Bagaimana perasaanku jika suatu saat nanti kau memulai hidup dengan wanita lain? Aku tidak ingin kakak pergi. Aku tidak ingin kakak meninggalkanku sendiri." suara si gadis melemah.
"Ino, kau-"
"Aku tidak ingin melihatmu bahagia dengannya." Ino memotong apa pun yang ingin dikatakan lelaki itu. Ia semakin mencengkram remasannya atas baju sang kakak. "Jahat kan? Aku sungguh serakah."
Sasuke terdiam lagi, kali ini dibuat terpaku mendengar ucapan adiknya barusan. Ia menunduk untuk memandang puncak kepala pirang gadis itu.
Ino kembali berkata, "Aku ingin nii-chan hanya untukku seorang. Aku bahkan tidak ingin kau terus menjadi kakakku. Aku ingin lebih. Jangan membuatku lebih menyedihkan dari ini." mohonnya.
Seketika itu Sasuke berkelip kaget. Ia bisa merasakan tubuh adiknya mulai bergetar. "Ino?" Kemudian si lelaki meraih dagu gadis itu, segera mendongakkan wajah ayunya. Dilihatnya kedua manik biru bening itu sudah tergenang.
"Karena aku mencintaimu, Nii-chan." Ungkap gadis itu, mulai terisak. Ino sudah tidak tahan lagi untuk mengatakannya.
Saat itu juga, mulut Sasuke membuka. Matanya membulat. Ia dibuat tercengang oleh pengakuan gadis itu barusan.
"Jika kau membawa masuk wanita lain ke rumah ini, bagaimana denganku? Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kaka- umph,"
Tak disangka, Sasuke segera menangkup erat kedua belah pipi adiknya. Lalu tanpa aba-aba, ia langsung memaut mulut gadis yang sedang mencurahkan isi hatinya itu . . dengan mulutnya sendiri.
"Hmmph . . ?" Ino mengerjap kaget. Tubuhnya menegang.
Hm? Apa yang terjadi? Mulut Sasuke yang terasa hangat, lembut dan basah itu tiba-tiba mengecup bibirnya. Sensasi apa ini? Bibir lelaki itu benar-benar sedang melumat pelan bibirnya sekarang.
Apa yang sedang dilakukan kakaknya . . ?
.
.
Sasuke masih mengecup mulut adiknya dengan posesif. Membungkamnya.
Lelaki itu kaget mendengar penuturan si gadis barusan. Sungguh kaget. Mencintainya . . katanya?
Sasuke tidak sedang salah dengar, kan? Barusan tadi gadis itu mengucapkannya. The words that he wants to hear, desperately. Ungkapan perasaan sang adik terhadapnya yang ingin ia ketahui setengah mati.
Sasuke tidak menduga Ino akan membuat pengakuan seperti itu . . dengan tiba-tiba. Ia selalu berfikir, sang adik hanya menganggapnya sebagai seorang kakak saja. Makanya, Sasuke berniat untuk memancing adiknya perlahan-lahan, sedikit-demi sedikit, tanpa perlu membingungkannya. Padahal selama ini ia sudah berusaha bertahan, dan bersabar.
Tapi gadis itu tiba-tiba meluap gelisah seperti demikian, membuat Sasuke menjadi sulit untuk stay cool. Terlebih, cara Ino tadi menyampaikan . . membuat lelaki itu goyah juga. Sasuke sampai kehilangan kendali diri, dan langsung mencium bibir adiknya, tanpa fikir panjang.
Setelah sukses membungkam mulut Ino untuk beberapa saat, akhirnya Sasuke melepaskan ciumannya. Ia menarik kepalanya dari wajah si gadis, namun tak segera menjauhkannya. Dipandangnya lekat-lekat gadis yang kini sedang termangu itu. Syok tertera jelas menghiasi paras ayunya.
Jelas Ino sedang menatapnya keheranan. Uh, sekarang apa yang harus Sasuke katakan?
Mereka hanya berpandangan tanpa bertukar kata untuk beberapa saat.
"N-nii-chan?" Ino yang pertama memanggil. Saking syoknya, air matanya mendadak kehilangan minat untuk jatuh.
"Hn?" Respon Sasuke, membelai lembut pipi halus milik sang adik dengan jemarinya.
Gadis itu mendadak panik. "Apa yang kau lakukan?" Ia kebingungan. Benar-benar tak ada pacar, adik pun jadi, huh? batinnya merapal. "Kau tidak boleh melakukan ini padaku disaat kau punya pacar," gumamnya.
Tidak boleh melakukan hal seperti itu, bukan karena Ino adalah adiknya, eh? Sasuke menatap si gadis dengan alis terangkat. "Jadi aku boleh melakukan ini meskipun kau adalah adikku?"
Ah. Itu juga seharusnya tidak boleh. Ino menelan ludah. "Ti-tidak juga. Tapi kekasihmu yang bermuka menor it-"
"Wanita itu bukan pacarku." Koreksi Sasuke. "Dia hanya mengaku-ngaku sendiri." Jelasnya, acuh tak acuh.
Eh?
Ino mengerjap. "Y-yang benar? Lalu mengapa kau membiarkannya mengaku-ngaku seperti itu?"
"Terus-terusan menyangkalnya pun hanya akan merepotkan dan buang-buang waktu saja." Jawab lelaki itu enteng. "Sekali pun aku tak pernah mengiyakan, dia terus mengklaim sendiri."
Lagipula, saat ada perempuan yang cukup tidak tahu malu berani mengaku-ngaku sebagai pacarnya, meski sudah ditolak berkali-kali, itu malah akan menguntungkan, bukan? Sasuke bisa memanfaatkannya untuk mengusir para wanita menjengkelkan lain yang mengganggunya. Padahal, sekali pun Sasuke tidak pernah peduli pada wanita lain selain adiknya.
Ugh. Ino mengernyit. Tipikal sifat cuek sang kakak. Tapi, justru sikap tak acuh seperti itu yang akan membuat siapa pun salah paham dan keenakan, bukan?
"Tapi kau juga tidak membantahnya meski aku yang bertanya-"
"Aku mengira kau tidak akan peduli dengan itu. Atau pun percaya begitu saja." timpal Sasuke.
Sambil tetap memandang wajah cantik sang adik lekat-lekat, lelaki itu menyeringai tipis. "Namun ternyata reaksimu seperti ini. Diluar dugaanku." Ia mulai menusuk-nusuk gemas pipi adiknya.
Sontak saja Ino merona. Ia segera mengalihkan pandang, grogi. "L-lalu kenapa menciumku?"
"Karena aku ingin." Jawab Sasuke cepat. "Bukannya kau bukan adik kandungku?" bisiknya. "Jadi tak ada larangan bagiku, untuk tidak melakukannya, kan?"
Ino menahan nafas. Tangan Sasuke kembali memalingkan wajahnya ke depan.
"T-tapi untuk apa?" Ino terbata karena gugup.
Ditatap safir birunya, wajah sang kakak masih bergeming. Tetap tersusun dengan sepasang onyx terarah tajam padanya.
"Hadiahmu. Karena telah lulus kuliah." Jawab lelaki itu lagi.
Ino menelan ludah. Kedua sisi wajahnya masih ditangkup tangan besar Sasuke. Ia bingung dan penasaran. Ia ingin penjelasan. Jawaban Sasuke barusan sama sekali tidak mewakili hal yang ingin ia ketahui. Ino ingin tahu bagaimana perasaan lelaki itu terhadapnya.
Tetapi untuk saat ini, ada hal lain yang sangat diinginkan gadis itu.
Sasuke membelai rahang Ino. Pipi adiknya memanas. Wajahnya memerah. Tapi gadis itu tak menghindar, atau pun berkata lagi. Tetap mendongak untuk menatap onyxnya. Reaksinya yang seperti ini . . sungguh manis sekali. Membuatnya sulit untuk menahan diri.
Ino menghela nafas. Ia tidak boleh kalah dengan kegugupannya sekarang.
"Umm, Nii-chan maaf, tapi aku belum bisa menerima hadiahnya."
Ha? Sasuke mengerjap seketika. Kenapa?
"Soalnya tadi mataku terbuka karena kaget," lanjut Ino, bergumam malu-malu. "Jadi tidak begitu terasa."
Ah. Spontan Sasuke membuang nafas lega. Lalu ia menyeringai kecil.
"Kalau begitu," balas si lelaki, masih berbisik. Ia kembali menyondongkan wajah tampannya. "Sekali lagi."
Sekilas dilihat Ino, wajah sang kakak yang biasanya berekspresi datar itu sempat melembut . . sebelum ia mulai memejamkan mata beriris hitamnya, dan memiringkan kepalanya.
Ino masih tersipu. Jelas jantungnya masih berdetak riuh. Berbagai hal sedang memenuhi dadanya sekarang. Sedikit gugup, Ino mengikuti contoh sang kakak. Sepasang safir birunya dipejamkan. Mulutnya otomatis merenggang.
Sasuke kembali menciumnya. Kini melumat pelan bibirnya.
Ah. Sepertinya mereka sudah lupa, bahwa sampai beberapa menit lalu . . keduanya masih bertengkar.
-TBC-
When you are living with the same exact person for over than ten years, just the two of you, with different gender, no blood relation, with that contacts and attitudes, what will you do? Or, what should you do? Bisakah tahan untuk ga baper? XD
Satu pertanyaan sudah terungkap XD
Iyaa aku nonton hwarang, makanya hubungan nejiXhinata itu agak terinspirasi dari minhoXadiknya~ tapi karakter mereka aku bayangin sendiri, kayanya seru soalnya hehe
Makasih juga semuanya karena udah mau mampir, baca dan review. Review lagi yaak~
Sifat nakal sasu? Uuum, See you di chap2 selanjutnya aja XD
Updated : 18.01.2017
Buat wilzania-chan iyaa sepertinya review kamu disana gak nyampe karena gak ada hiks. Silakan kalo masih mau ngereview ulang, ditunggu XD heheheh
