Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. One-shot.
Words : 2.391
Knot.
By VikaKyura.
- Morning -
"Kenapa kau terus senyam-senyum sendiri sambil memandangi foto ayah dan ibu?"
Pertanyaan Sasuke membuat Ino yang sedang duduk nyaman di atas sofa itu, menoleh dan mendongak. Ia sedang memegangi sebuah figura di pangkuannya.
"Biasanya kau langsung menangis ketika menatap wajah mereka seserius itu." Komentar si lelaki keheranan, kini bergabung untuk duduk bersama adiknya.
"Aku sedang mengadukan kakak." Timpalnya, tersenyum kecil.
"Hm?" Sasuke menautkan alis.
Ino menundukkan lagi wajahnya, kembali menatap bingkai foto yang sedang tergeletak di atas pangkuannya. "Memberitahu mereka supaya tidak mengkhawatirkanku. Sebab kakak sudah berjanji akan melindungiku seumur hidup. Makanya aku senang."
Sasuke terpana menatapi wajah manis adiknya yang sedang tersenyum itu. Rupanya, Ino telah bertambah kuat.
"Karena bersama kakak, selamanya aku tidak akan merasa kesepian." Lanjut Ino, masih memandangi citra kedua orang tuanya dengan tatapan haru campur bahagia.
Sasuke bergeser mendekat. Ia mulai mengaitkan satu lengannya untuk melingkari leher Ino. Membuat gadis itu kembali menoleh sambil mendongak ke arahnya.
"Hn." Gumam Sasuke. Perlahan ia memiringkan wajah dan mulai mengecup bibir adiknya.
Tidak butuh waktu lama, untuk sang adik membalas lumatan pelan di bibirnya itu.
Beberapa saat berselang, Sasuke melepaskan bibir gadis itu. Dilihatnya Ino tengah menyeringai senang. Sang kakak baru saja memberinya 'jatah ciuman paginya'. Bedanya, kali ini bukan lagi di sebelah pipi si gadis saja, namun telah bergeser sampai bibirnya.
Sasuke ikut tersenyum tipis membalasnya. Tetapi ia tidak segera melepaskan rengkuhannya. Ia belum mau. Onyxnya masih menatap lekat wajah Ino. Lalu diciumnya lagi bibir adiknya. Kali ini lebih lama. Mereka berbagi ciuman manis untuk kedua kalinya di pagi itu.
Ketika diangkat lagi kepalanya, Sasuke kembali memandang adiknya. Sesuai prediksinya, wajah ayu itu mulai merona.
Sasuke menyeringai kecil. Ia mulai menjembel gemas pipi gadis itu. "Wajahmu merah." Bisiknya, membuat Ino semakin tersipu.
Gadis itu mulai bergerak salah tingkah, namun sang kakak masih merengkuh erat pundaknya. Ino tak bisa kabur.
"Tentu saja. Dadaku sedang berdebar kencang sekali sekarang. Memangnya nii-chan tidak merasakan hal yang sama?" Cicitnya, safirnya bergerak ke samping.
Lelaki berambut raven itu memang tidak sedang menampakkan emosi apa pun, tetapi tatapan matanya tidak demikian. Sasuke menyeringai dalam. Ia meringsut, lalu menekan tengkuk Ino supaya kepala pirang gadis itu mulai bersandar pada dada bidangnya. "Dengarkan saja sendiri," Gumam Sasuke. "Suara detak jantungku sekarang."
Ino menghela nafas. Berusaha menyetabilkan pergerakan dadanya yang sedang naik turun. Tak perlu lama baginya untuk dapat mendengar bunyi dentuman jantung lelaki itu. Detakannya cepat, tidak menentu dan tidak stabil. Seperti miliknya.
Didengar Sasuke, si adik mulai terkikik. "Berisik sekali." Komentar gadis itu.
Sang kakak membelai lembut rambut panjang adiknya.
Setelah beberapa saat yang nyaman, Ino mulai mengangkat kepala, kembali menegakkan duduknya. Mereka bertatapan lagi untuk sejenak. Senyuman puas nan senang sedang terpatri di wajahnya.
Kemudian, dengan gerakan cepat Ino memeluk Sasuke sambil memberikan sebuah ciuman singkat di sebelah pipi lelaki itu, sebagai balasan.
"Aku sayang kakak." Bisiknya, lalu segera menarik diri.
Ino menyimpan bingkai foto orang tuanya di atas meja, kemudian mulai beranjak berdiri dan melangkah pergi entah kemana. Seperti biasa.
Sasuke hanya melihat kepergian adiknya sambil mendenguskan kekehan kecil. Kini Ino selalu saja tampak grogi dan malu-malu seperti demikian setiap kali diciumnya. Hanya itu perubahan kecil dari sikap adiknya. Selebihnya, mereka masih berinteraksi seperti sediakala. Tetap dekat. Sang kakak masih posesif dan adiknya masih bersikap manja. Meski kini hubungan keduanya lebih dibumbui dengan aneka romansa kemesraan.
Sasuke menyandarkan kepalanya di puncak sofa. Senyumnya masih belum memudar. Ia tak pernah menduga, momen seperti ini akan benar-benar tiba. Saat hubungan di antara mereka berkembang pesat dengan perasaan yang saling bersambut.
Selama ini, gadis itu memang selalu menjadi prioritasnya.
Perlahan, Sasuke memejamkan mata. Mulutnya kini membentuk sebuah rengutan.
Meski barangkali gadis itu sudah melupakannya, atau bahkan memang tidak pernah mengingatnya. Bahwa ada saat-saat dimana . . . Sasuke pernah benar-benar membencinya. Bahkan sampai menyakitinya.
Lelaki bermutiara hitam kelam itu menghela nafas berat. Ia tak mau mengingatnya.
. . .
Wanita itu datang ke dalam kehidupan mereka dengan membawa seorang gadis kecil. Anak perempuan berambut pirang pendek berwajah manis dan bermata biru. Percis seperti penampakan si wanita. Cantik.
Karena itu, Sasuke membencinya.
Bocah lelaki itu tidak akan pernah menerima pernikahan ayahnya dengan wanita tersebut. Berwajah cantik, bersikap lembut dan bertutur kata manis. Semua wanita seperti itu. Berusaha tampil baik di awal, namun kemudian mencampakkan di akhir. Mencuri perhatian ayahnya. Membelenggunya. Lalu membuangnya begitu saja.
Seperti ibunya dulu yang dengan teganya pergi meninggalkan Sasuke berdua saja dengan sang ayah, untuk menikah dengan lelaki lain.
Heh.
Bocah berumur 8 tahunan itu tidak butuh ibu baru. Apalagi seorang adik. Hanya akan menyusahkan.
Selama setahun Sasuke berusaha bertahan. Itu demi ayahnya.
Namun setelah ia perhatikan, perlahan sang ayah tertelan oleh sikap manis ibu barunya. Berhenti merajuki penghianatan istrinya terdahulu. Tunduk. Takluk. Wanita itu benar-benar telah memperdaya ayahnya, keluarganya satu-satunya.
Sasuke bersikap patuh dan menurut saat ayahnya ada saja, namun berbalik membentak, meneriaki dan memaki wanita berparas cantik itu ketika sang ayah pergi untuk mencari nafkah. Tetapi si wanita tak pernah mengadu. Ia pun tetap lembut menyikapi pembangkangan anak tirinya. Sekalipun tak pernah marah.
Pasti itu hanya trik belaka. Sasuke meyakinkan diri. Wanita seperti itu selalu mempunyai rencana jahat dibalik sikap sabarnya.
Ya. Itu anggapan Sasuke.
Anak wanita itu sama menjengkelkannya. Si gadis kecil terus-terusan mengikutinya. Meski dimarahi, diteriaki dan dibentaki olehnya. Disuruh untuk tidak dekat-dekat dengannya. Tapi meski diperlakukan jahat seperti demikian, bocah berwajah manis itu tetap tak menangis. Atau pun mengeluh. Dan tak kapok mengikutinya. Terus diam, meski hanya memandangnya dari jauh. Memperhatikan gerak-gerik Sasuke. Tetap membuntuti kakaknya diam-diam.
Tanpa ekspresi.
"Kenapa mengikutiku terus?!" Bentaknya.
Meski berparas cantik, gadis itu tetap tak menunjukkan emosi. Selayaknya boneka.
"Sendirian itu . . sepi." gumam si gadis kecil.
Sasuke mendecak kesal, lalu pergi.
Rupanya meski masih kecil, gadis itu sudah diajarkan untuk bersikap tegar. Barangkali ia terpaksa harus kuat menjalani hidupnya sebelum ini, yang tanpa ayah. Tanpa keluarga lengkap. Dengan Ibu yang selalu sibuk bekerja, untuk membesarkannya seorang diri.
Sekalinya mengucapkan kalimat panjang, gadis itu malah memuji ibunya.
Mama tidak jahat. Selalu bekerja keras. Dia baik sekali, selalu tersenyum. Jangan membuatnya bersedih lagi. Pinta gadis itu. Secara tidak langsung memohon agar Sasuke berhenti membenci Mamanya.
Tetapi Sasuke tidak peduli.
Setahun kemudian, Sasuke merasa sudah tidak tahan lagi. Keluarga utuh? Nampaknya Sasuke tidak butuh. Itu hanya kebahagiaan semu.
Ia sudah muak.
Di sore itu ketika sang ayah baru pulang dari perjalanan dinasnya setelah sebulan pergi, akhirnya Sasuke meledak. Memaki ibu tirinya di depan sang ayah. Sengaja menindas adik tirinya. Selanjutnya, pertengkaran hebat tidak dapat dielakkan.
Selintas dilihatnya, wajah boneka milik adik tirinya mulai menunjukkan ekspresi. Tercengang. Sedih. Takut. Ditengah suara isakan, mamanya menyuruh gadis kecil itu untuk pergi bermain di luar. Ino berjalan ke taman sambil menangkup erat bola karetnya. Sendirian.
Lima menit kemudian, Sasuke berlari keluar rumah. Ia berteriak. Menyumpah. Mengutuk. Mengumpat. Benar-benar tak terkendali, sikapnya. Tipikal anak broken home yang sedang meluapkan segala amarahnya. Membuat adiknya tersentak kaget melihatnya.
Sasuke berlari ke arah pagar. Mulai berjalan mundur melewatinya, melihat wajah marah ayahnya.
Ia tak memperhatikan jalanan. Tak peduli ketika sebuah sepeda motor melaju kencang hampir menabraknya. Terakhir diingatnya adalah teriakan cemas adiknya yang terdengar dari arah samping. Sasuke menoleh. Dilihatnya wajah sang adik yang tengah berlari ke arahnya sambil menjulurkan tangan, berteriak memperingatkan.
Tapi ditengah emosi yang tersulut, Sasuke tidak bisa dengar. Hanya diam melongo kebingungan. Lalu setelahnya, ia merasakan tubuhnya ditubruk keras, didorong kuat oleh tubuh mungil adiknya. Dan suara jeritan sang adik mereda. Digantikan bunyi bedebam saat tubuh mungil itu terpental ke jalanan keras. Tertabrak lumayan keras oleh tunggangan besi yang lewat terlalu melipir sepanjang garis batas trotoar rumahnya. Yang tadi nyaris menabraknya.
Seketika mata Sasuke terbelalak dalam syok. Terdengar jeritan ibunya. Terlihat kepanikan ayahnya. Nampak tubuh adik tirinya terkulai lemas di permukaan keras jalanan, nyaris tewas hilang kesadaran. Selanjutnya, semua berlalu cepat. Suara sirine ambulan mengalun nyaring. Adik yang dibencinya itu dibawa pergi. Meninggalkan sebuah lubang besar di batin Sasuke.
Malam terlewat. Tak ada tanda gadis kecil itu akan membuka mata.
Sasuke masih tampak hilang arah. Melamun tak percaya. Ayah kandungnya terus menyalahkannya. Membentaknya habis-habisan. Namun ibu tirinya melindungi mati-matian. Wanita yang selalu dibencinya itu . . ternyata tidak berpura-pura menyayanginya.
Seminggu terlewat. Tubuh gadis itu masih terbaring lemah. Selang-selang infus masih membelitnya. Tetapi sepasang safir biru indahnya mulai terbuka.
"Ma . . ma?" gumamnya sangat lemah.
Sasuke mengerjap panik. Hanya ada dirinya di ruangan bertirai putih itu. Karena Sasuke menolak untuk pergi selama beberapa hari ini. Ia melangkah mendekat, memandangi sosok tak berdaya di depannya.
Melihat sorot kosong di mata gadis kecil yang tak berdosa itu, mulut Sasuke mulai bergetar. "Kenapa," Badannya ikut gemetaran, "Kenapa kau melindungiku?"
Hal itu yang paling ingin ia tahu.
Ino hanya berkedip lemah. "Nii . . chan . . ?"
"Kenapa," Sasuke bertanya lagi, "Padahal aku sering membentakmu. Mengusirmu. Sudah jahat padamu. Tapi kenapa kau malah melindungiku?" tak kuasa bocah lelaki itu sampai menjerit. Meminta jawaban dari berbagai 'kenapa' yang menghantuinya. Tak peduli apa adik tirinya yang masih belia itu mengerti perkataannya atau tidak. "Memangnya apa pentingnya aku buatmu?"
Ino terdiam. Pandangannya masih terarah ke atas. Kepalanya tidak bisa digerakkan. Didengarnya samar-samar suara isakan dari arah sang kakak. Maka ia mulai bergumam. "Nii . . chan . . . Ino senang . . bisa . . punya kakak."
Gadis itu tetap tak menangis. Sekujur tubuhnya terbaring tak bisa digerakkan. Sasuke tahu dia sedang kesakitan. Tetapi wajahnya tidak menyiratkan demikian. Wajah manis itu malah tersenyum ringkih.
Gadis kecil itu kuat, tidak seperti dirinya.
Seketika itu tangisan Sasuke pecah. Raungannya terdengar sampai ke luar. Mengundang para suster yang berjaga untuk datang berhamburan ke dalam ruangan. Begitu pula dengan kedua orang tuanya. Sontak tercengang melihat Sasuke tengah memeluk erat tubuh adiknya.
Setelah berkata seperti itu Ino kembali tertidur tenang, akibat obat bius yang sengaja diberikan dokter untuk meredam sakit di tubuh mungilnya. Beruntung, nyawanya bisa terselamatkan.
Seketika itu Sasuke berjanji. Akan menyayangi adik tirinya lebih dari apa pun dan siapa pun di dunia ini.
Ino kecil pernah hampir mati untuk melindunginya yang kurang ajar.
.
.
Hari itu diguyur hujan. Curahan air langit membasahi gundukan tanah makam kedua orang tuanya. Sasuke hanya terdiam kaku. Masih belum percaya, ayah ibunya tiba-tiba pergi meninggalkannya berdua saja dengan adiknya.
"Hha . . aahh . . Uuu . ."
Sasuke mengerjap.
Raungan sang adik memecah lamunannya. Gadis kecil itu tengah menangis tak terkendali. Berteriak tak henti memanggil nama ayah ibunya. Sasuke berkedip, masih terdiam memandanginya. Dilihatnya, tubuh mungil Ino sedang gemetaran.
Adiknya yang tak pernah menangis sebelumnya, kini sedang menjerit kencang.
Sasuke segera memeluk tubuh mungil adik tirinya itu. 'Jangan khawatir, Ino. Sampai kapan pun, aku akan menjagamu.'
Janji seumur hidupnya, kini telah bertambah.
.
.
Sasuke sangat memanjakan adiknya.
Setelah orang tuanya meninggal, hidup Ino tergantung pada dirinya. Sebagai seorang kakak, ia mendidik Ino dengan sangat ketat. Berusaha memproteksinya dari apa pun. Meski begitu, ia terus memanjakan sang adik dengan curahan kasih sayang. Seiring dengan membuat gadis itu tegar dengan caranya. Membubuhinya dengan banyak sentuhan menenangkan. Menyamankannya dengan perlindungan. Membelikan apa pun yang Ino mau. Memberikan apa pun yang diinginkannya.
Kecuali kebebasan.
Membuat Ino kecil yang tadinya selalu tegar dan mandiri, perlahan berubah menjadi manja dan bergantung pada sang kakak.
Sasuke selalu memperhatikan perkembangan gadis kecil itu. Ia terus tumbuh besar. Masa kanak-kanak. Memasuki remaja. Sampai menjadi gadis dewasa. Sasuke menyaksikan perubahannya. Cantik. Lugu. Menarik. Polos. Menawan. Nakal. Meski tetap bersikap manja padanya. Sasuke menyukai itu, Ino yang selalu butuh kehadirannya.
Penebusan atas rasa bersalahnya berubah menjadi kewajiban untuk menjaga adiknya. Kewajiban itu berubah menjadi kebiasaan. Dan seiring berjalannya waktu, kebiasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Perasaan baru. Entah sejak kapan. Kebiasaan yang berganti menjadi keinginan, dan berujung pada keserakahan.
Sasuke bertambah sadar keposesifannya kini semakin beralasan. Ia tidak ingin memberikan gadis itu pada siapa pun. Ia yang telah membesarkan Ino sendirian. Maka hanya Sasuke yang berhak atas adiknya.
Sasuke ingin memiliki sang adik hanya untuk dirinya.
Tetapi meski tak ada hubungan darah, Ino masihlah adiknya. Semakin gadis itu memasuki masa pendewasaan semakin Sasuke tak bisa menahan diri. Tengoklah wajah manis nan elok yang semakin cantik itu. Sikap manja nan nakal yang semakin menggemaskan itu. Tubuh mungil nan ringkih yang semakin matang itu. Sasuke bisa hilang kendali dibuatnya.
Namun ia tak mau menakuti sang adik. Melakukan hal yang melebihi batas. Itu tidak boleh. Hanya akan merusak hubungan persaudaraan mereka. Sasuke tidak mau.
Tak mau membuat Ino gelisah atas keegoisannya.
Lantas, apa yang harus ia lakukan?
Akhirnya Sasuke hanya bisa mengalihkan perhatiannya, dengan sengaja menyibukan diri dalam pekerjaan.
. . .
"Nii-chan, sarapannya sudah siap."
Sasuke mengerjap. Ia sempat menengok ke arah jendela besar di sudut kanan ruangan yang ditempatinya itu. Hari sudah semakin terang di luar sana. Selama itu kah ia melamun?
Sasuke menoleh ke sudut kiri ruangan, melihat adiknya tengah berdiri di depan meja kabinet dapur sambil melepas apronnya.
Sang kakak mulai bangkit dan menghampiri gadis itu.
"Jarang sekali nii-chan bisa ketiduran di sofa. "Komentar Ino, terkekeh jahil. "Apa aku mengganggu?" tanyanya.
Sasuke menggeleng.
Ino tersenyum. "Aku sudah memanaskan air di kamar mandi. Tapi sarapannya juga sudah siap. Jadi, mau yang mana dulu?"
Tetapi bukannya segera menjawab, Sasuke malah diam. Masih betah memandangi wajah cantik adik tirinya.
Gadis itu sudah benar-benar dewasa sekarang.
Dulu, Sasuke cemas jika dirinya telah menyalah-gunakan arti dari hubungan persaudaraan mereka. Memanfaatnya untuk kepentingan perasaannya sendiri. Menyentuh adiknya sesuka hati sebagai kedok pencurahan kasih sayang. Menyokongnya supaya tetap tegar. Sengaja mengukung Ino dengan alasan untuk melindunginya.
Padahal jika direnungkan . . Karena ada sang adik lah, Sasuke bisa terus melangkah ke depan. Selama ini . . Justru ia lah yang telah dilindungi gadis itu.
Sasuke tersenyum tipis sambil meraih sebelah pipi Ino. Membelainya pelan. Dilihatnya, si gadis sedang balik menatapnya keheranan.
Kini gayung telah bersambut. Bukankah sekarang Sasuke sudah tidak perlu sungkan?
Lelaki itu mulai merengkuh tubuh adiknya ke dalam pelukan. Tanpa ada aba-aba, langsung mendaratkan ciuman dalam di bibir gadis itu.
Ino kaget. "N-nii, umm nii. . chan?"
Didengarnya lenguh penasaran sang adik lolos di antara ciuman mereka, namun Sasuke terus melanjutkan aksinya. Dikecupinya garis rahang gadis itu sampai ke pipinya. Membuat Ino meremas pundaknya erat.
Memabukkan, sensasi ini . . rasa ini. Menyenangkan bisa menyalurkannya.
Kini bibir Sasuke telah sampai di daun telinga Ino. Tubuh gadis itu menegang.
"Aku lebih menyayangimu, Ino." bisik sang kakak, membalas ungkapan gadis itu yang diucapkan jauh sebelumnya.
Dirasakannya Ino mengangguk patah-patah, menahan sensasi geli yang disebabkan oleh sentuhan mulut kakaknya. "M-makanan, uumm, dan airnya bisa dingin." Suaranya bergetar. "Nii- mmph,"
Sang kakak kembali membungkam mulutnya dengan ciuman. Ino hanya bisa menyerah kenikmatan. Keheranan dengan sikap kalem kakaknya yang mendadak berubah menjadi seagresif ini.
Sasuke memang . . sedang tidak ingin melepaskan gadis itu sekarang.
-TBC-
Masih pagi tapi sudah empat kali aja LOL Lanjutkan!
Idenya mainstream ya, tapi yasudah~ Penampilan Layla disini aku ambil dari Layla Hamilton, yang penasaran silakan kepo di om gugel.
Sasu side nih XD ino udh diincer dari dulu ternyata muahahaha~
Cerita yang lain nanti diapdet kok, tunggu aja yaa hehe
A/N : Bagi reader yang masih di bawah umur, diharap berhenti baca sampai disini saja.
Thanks for caring. Review lagiii :)
Updated : 22.01.2017
