The Way We Fall
.
BTS fanfiction by soonshimie
BTS is GOD'S, BIG HIT'S, THEIR PARENT'S, ARMIES, BUT THIS STORY IS MINE and (some) IKA NATASSA's
inspired by The Architecture of Love by Ika Natassa
NO PROFIT ARE TAKEN!
HOPE U LIKE IT!
(now, featuring CLC's Seunghee!)
.
.
.
PART 2
Kalau ditanya siapa yang berjasa membuat Taehyung dan Jungkook jadi saling kenal dan setiap hari bisa jalan-jalan bersama, jawabannya adalah Kim Seokjin. Sahabat baik Jungkook sejak kuliah di NYU dan mau membagi loft-nya dengan Jungkook selama tinggal di New York.
"Kookie, jadi ikut kan?"
Seokjin memang bukan tipe party girl. Tapi siapa yang menolak undangan untuk datang ke pesta tahun baru di apartemen mahal di Central Park? Thanks to her bourgeois boyfriend, Kim Namjoon, yang memberitahu kalau dia dan adiknya membuat pesta tahun baru di apartemen, mengundang orang-orang terdekat atau siapapun yang dibawa oleh orang yang mereka undang.
Jungkook mengedikkan bahu tidak tahu, masih memilih channel di televisi. Segelas cokelat panas ada di tangannya.
"Sumpah ya, anak ini," Seokjin geregetan, akhirnya menarik remot dari tangan Jungkook yang dibalas tatapan kesal, "tadi bilangnya bakalan ikut, sekarang malah masih leha-leha!"
"Masih jam segini, Seokjin."
"Jam berapa emang?"
"Tujuh. Setengah delapan."
"Pestanya jam delapan, bego," gerutu Seokjin, "apartemen kita di Queens ini agak jauh kalau mau ke Central Park. Dikira jalanan nggak macet apa tahun baru begini? Udah, buruan sana ganti!"
Jungkook merengut, beranjak ke dapur untuk menaruh gelasnya alih-alih ke kamar untuk ganti baju.
"Kamu bawa gaun kan?"
"Ada satu. Di lemari," jawab Jungkook malas, "and you expected me to wear my little black dress in this chilling weather? You are kidding me."
"A girl can never go wrong with little black dress, babe. C'mon, go get dressed! Kamu mau ke pesta tahun baru di penthouse pake mantel? You are kidding me," balas Seokjin yang kini sibuk menyibak semua pakaian di lemari Jungkook untuk mencari gaun hitam milik Jungkook.
"Wah! Seksi banget ini, Kook!" pekik Seokjin senang, menarik gaun berpotongan cantik dari lemari Jungkook, "kalau kamu agak liar dikit aja, kayaknya pesta tahun barumu bakal lebih—"
"Mesum," potong Jungkook sambil mendelik, mengambil gaun itu dari tangan Seokjin lalu menarik sebuah cardigan rajut warna putih dari lemari, "kamu pikir aku cuma pakai gaun itu tanpa penutup? Noted, aku bukan bitch."
Seokjin memutar bola matanya malas. "Ini New York, Sayang, nggak ada yang peduli kamu bitch atau enggak cuma gara-gara pakai gaun kayak gitu."
"Tapi aku peduli," balas Jungkook, "kamu juga ganti sana."
Going out just with a piece of dress inside a coat in New York's December chilling weather was a true challenge, seriously. Jungkook tidak akan pernah mau lagi—catat itu—datang ke pesta tahun baru di apartemen manapun di New York, tidak peduli itu di Central Park atau Manhattan atau Broadway sekalipun, kecuali ketika tahun baru nanti New York dilanda musim panas.
"You are killing me," desis Jungkook dengan bibir gemetar, "delapan derajat, thankyouverymuch."
Seokjin tertawa, menepuk bahu Jungkook penuh simpati. "Get your alcohol, then. Or a hottest guy instead. Mereka bisa bikin kamu 'panas'."
Jungkook tidak paham kenapa bisa Seokjin yang kutu buku itu jadi liberal seperti ini—melihat bagaimana cerianya perempuan itu ketika menyapa orang-orang di pesta, atau menerima ciuman di pipi kanan-kiri terserah itu perempuan atau laki-laki, atau ketika ia masuk dalam pelukan pacarnya dan berciuman mesra.
Ew, pikir Jungkook risih, berbalik, hendak pergi ke suatu tempat yang setidaknya ia bisa menghangatkan diri, duduk di pojokan sambil tetap memakai mantel ketika tangan Seokjin menarik tangannya.
"Jangan kabur!" Seokjin tertawa, "yuk kukenalkan ke adiknya Namjoon!"
Jungkook mendesah pasrah, sempat tersenyum sopan pada Namjoon yang balas tersenyum menyapanya.
Adik Namjoon perempuan. Cantik sekali. Namanya Kim Nayeon. Yang membuat Jungkook kaget, umurnya 21 tahun. Hell, so this is New York. Umur 21 tahun sudah duduk di antara dua lelaki sambil memegang segelas apple martini dan menyilangkan kaki. Sangat berbeda dengan Jeon Jungkook umur 21 tahun yang bekerja keras menjadi penulis sekaligus ilustrator.
Salah satu dari dua lelaki itu menatap Jungkook intens, lalu berdiri dan mengenalkan diri sebagai Kim Haejun, mengajak Jungkook mengobrol tentang apapun. Sampai akhirnya Jungkook pamit ke kamar mandi—alasan paling klise untuk kabur dan mencari ruang kosong.
Jungkook merasa ini adalah pesta tahun baru terkacaunya. Memakai gaun pendek di suhu delapan derajat Celcius, salah memakai sepatu yang heels-nya 10 senti, terjebak diantara orang-orang yang menyetujui tradisi konyol cium-siapapun-di-sebelahmu-ketika-tengah-malam, ditambah kakinya yang keseleo ketika mencari ruangan yang kosong, Jungkook yakin tahun 2017 akan memberinya banyak kesialan. Belum tanggal 1 Januari saja ia sudah sial.
"Oh, ya ampun," desah Jungkook, melepas Jimmy Choo-nya dan sambil bertelanjang kaki memasuki salah satu ruangan sepi di dekat kamar mandi. Lebih mirip ruang kerja daripada ruangan wardrobe apalagi kamar. Jungkook menghempaskan tubuh ke sofa dan baru sadar ada orang lain selain dirinya.
"Ada orang?" tanya Jungkook hati-hati, "maaf kalau mengganggu. Aku hanya duduk disini karena kakiku keseleo. Lanjutkan saja kegiatanmu, aku bukan orang yang suka mengganggu orang lain."
Jungkook pikir kalimatnya tadi sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia kooperatif dengan orang lain. Tapi seseorang yang sejak tadi duduk di kursi dekat jendela itu beranjak, berdiri dari duduknya, dan Jungkook bisa tahu kalau seseorang itu adalah laki-laki. Tinggi, tegap, tidak bulky seperti orang-orang Barat kebanyakan tapi juga tidak kerempeng. Jungkook agak takut melihat siluet di wajahnya yang tampak dingin. Namun anehnya, Jungkook tidak merasa jika laki-laki itu bengis.
"E-Eh? Kenapa?" Jungkook bertanya takut-takut.
Laki-laki itu tiba-tiba berlutut, meletakkan kaki keseleo Jungkook di atas pahanya dan mulai memijat lembut.
Napas Jungkook tercekat panik. Bagaimana tidak jika ada laki-laki asing yang tiba-tiba memijat kakimu, tidak peduli apakah ia bermaksud menolongmu yang sedang kesakitan karena keseleo? "Aduh, tidak usah," katanya gugup, "ini keseleo biasa, kok. Besok juga sembuh."
Bohong sebenarnya. Ketika laki-laki itu menekan bagian yang sakit, Jungkook hampir menjerit saking sakitnya. Tapi ia hanya mampu menggigit bibir bawah dengan tubuh menegang. Hurt as hell.
"Siapa yang bilang kalau keseleo dari stiletto setinggi 10 senti ini besok sudah sembuh?" tandas si laki-laki dengan nada datar. Jungkook bungkam, akhirnya membiarkan laki-laki asing itu mengurut kakinya.
Tidak tahan dengan keheningan yang ganjil di udara itu, Jungkook akhirnya angkat bicara. "Namaku Jeon Jungkook. Siapa namamu?"
Agak lama sebelum si lelaki menjawab. "Kim Taehyung," jawabnya pendek, masih datar, "mungkin pijatan saya tidak sehebat tukang pijat, tapi saya harap bisa membantu meringankan sakit di kakimu."
Misterius, dingin dan kaku. Sebenarnya biasa, apalagi dengan orang asing. Tapi kata ganti 'saya' yang digunakan Taehyung menunjukkan pertahanan yang tinggi.
However, they're strangers. Jungkook tidak berpikir apapun tentang selanjutnya yang akan terjadi karena mereka berdua adalah orang asing bagi satu sama lain. Tapi sejak Haejun meminta nomor ponselnya dari Seokjin dan dua kali cosmic encounter dengan Taehyung, "orang asing" itu tidak lagi ada.
"Woi, senyum-senyum mulu."
Jungkook mendongak sekilas dari mangkuk granola cereal-nya, mendapati Seokjin yang baru selesai mandi dan melintas di depannya. Perempuan itu menuang segelas jus jeruk ke dalam gelas sambil mengamati Jungkook yang masih tersenyum-senyum sambil mengaduk isi mangkuk.
"Taken ya sama si Taehyung-Taehyung itu?"
"Nggak," Jungkook menjawab singkat, tapi senyumnya mengembang makin lebar.
"Biasa aja kalau senyum, hati-hati robek itu bibir," goda Seokjin, membawa serta gelas jus dan roti bakar cokelatnya lalu duduk di depan Jungkook. "Kenapa sih? Kemarin juga senyum-senyum terus nggak berhenti-berhenti."
Jungkook menipiskan bibirnya, masih tidak bisa berhenti tersenyum. "Apa momen bahagiamu?"
"Hah?" Seokjin mengerutkan kening heran, "momen bahagiaku? Ya banyak."
"Paling bahagia?"
"Emmm... apa ya?" Seokjin bergumam, menopang dagu dengan tangan sementara mulutnya mengunyah roti bakar, "waktu Namjoon melamarku," jawabnya setelah hampir satu menit memikirkan jawaban yang tepat. Tidak ketinggalan juga memamerkan jari manis tangan kirinya yang dihiasi cincin cantik bersepuh perak—Jungkook pernah melihat tas Frank & Co. di kamar Seokjin suatu hari.
"Kenapa tiba-tiba nanya tentang momen bahagia sih?" tanya Seokjin, menatap Jungkook dengan mata berkilat-kilat penasaran, "ada apa dengan Taehyung?"
"Nggak ada apa-apa, sumpah," Jungkook menjawab masih dengan bibir menyunggingkan senyum manis, "cuma nanya aja."
"Cuma nanya tapi biasa aja dong itu senyum. Manis banget," Seokjin menggoda sambil tertawa, "Taehyung habis ngapain sih kok efeknya luar biasa gini?"
Seokjin tidak berbohong soal efek luar biasa itu. Kemarin setelah Jungkook pulang dari rutinitas jalan-jalannya bersama Taehyung, senyum di wajah sahabatnya itu seolah tidak bisa dihapus. Nangkring disana sepanjang malam, bahkan sampai pagi juga masih betah. Jungkook bukan hanya senyam-senyum tidak jelas, tapi pipinya ikut bersemu dan wajahnya berseri-seri.
"Is he a good kisser?" tanya Seokjin kemarin, ketika memergoki Jungkook bermain ponsel sambil senyum-senyum, yang langsung dibalas lemparan bantal.
"I asked him if can we stay like this? And he answered, "tentu saja"," Jungkook akhirnya menjawab.
"Jadi ini alasan kenapa kamu nggak berhenti senyum dari kemarin? Kukira dia menciummu atau apa," kata Seokjin iseng, "akhirnya ya, Kook. Kamu nemu lagi cowok yang bisa dipercaya."
"If you say 'a guy', I feel like we're back into teenager, ya," tawa Jungkook.
"Ah iya. A men ya harusnya," timpal Seokjin, "aku cuma berharap dia nggak bikin kamu sakit hati lagi kayak yang dulu itu."
Jungkook membalasnya dengan senyuman. Menyantap lagi granola cereal-nya, sarapan wajib Jeon Jungkook yang ingin diet.
"Hari ini jalan-jalan lagi?" tanya Seokjin.
Jungkook mengangguk.
"Kemana?"
"Koreatown. Dia pinjam mobil adiknya."
"Buset. Koreatown?" Seokjin melongo, "I smell something fishy."
"Hah? Maksudmu?" Jungkook mengernyitkan keningnya heran.
"Iyalah. Dari sekian jarak antara Brooklyn sampai ke Midtown Manhattan, kamu pikir nggak bakal ada sesuatu yang akan terjadi di mobil?" tambah Seokjin sambil tersenyum aneh, "I mean, some touchy things or, if he is a little braver, maybe leaning some hot kisses—"
"Heh otak!" potong Jungkook sambil tergelak, "pikiranmu ya! Sumpah kotor banget! Lagian juga Koreatown-nya bukan yang di California, tapi di Midtown sini."
"He's a normal guy, indeed," Seokjin nyengir.
"Ya kali laki-laki normal harus pakai hot kissing di mobil?" bantah Jungkook, tertawa, "Namjoon ngapain kamu sih sampai bisa kayak gini? Aku jadi curiga you aren't virgin anymore."
"Oh yes, I am," jawab Seokjin.
"You—what?!" pekik Jungkook kaget, "serius?"
"Serius."
Jungkook menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tidak percaya. "Kapan?"
"Tahun baru," jawab Seokjin lirih, agak malu, "janji jangan bilang siapa-siapa, ya. Cuma kamu yang tahu hal ini."
Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap Seokjin yang sekarang sedang tersenyum kecut.
"Well, kamu nggak akan bisa resisting temptation if you were under alcohol," kata Seokjin, "it happens... just like that. Kayak... yaudah memang seharusnya terjadi."
"Aku tahu kamu dimabuk cinta tapi kamu juga tahu ini salah, Seokjin," kata Jungkook pelan, "bukannya aku berniat sok suci dan menggurui, ya. Aku tahu ini New York. Even if you weren't married yet, making-out are legal. Who cares, ya kan?"
"Iya. Aku tahu."
"Just in case, kalau mau lagi, jangan lupa pakai pengaman, oke?" tukas Jungkook, menepuk bahu Seokjin sambil nyengir. Ia beranjak dari duduknya, mengecek sesuatu di ponsel sebelum berlari ke jendela.
"Sudah datang ya?" tanya Seokjin, matanya bergerak mengikuti Jungkook yang tampak bersemangat.
Jungkook menjawabnya dengan anggukan. Meraih tas selempangnya di meja dan kamera 600D yang tidak boleh ketinggalan. "Cantik kan?" tanya Jungkook lalu berputar di depan Seokjin.
Seokjin mengangguk, tersenyum tulus. Jungkook tidak pernah salah memadukan long sleeve blouse dengan A-line plaid skirt. "Cantik kok," ujarnya.
Senyum di wajah Jungkook semakin lebar. "Benarkah? Yes!" serunya senang, "aku pergi dulu, Seokjin-ah!"
"Have fun and take care, babe!" seru Seokjin, melambaikan sebelah tangannya yang dibalas acungan jempol oleh Jungkook. Pintu apartemen tertutup, meninggalkan Seokjin yang duduk sendiri di kursi pantry.
Rasanya sudah lama sekali Seokjin tidak melihat senyum lebar di wajah Jungkook setelah kejadian satu tahun yang lalu itu. Kejadian yang menjadi alasan utama kenapa Jungkook mau pergi jauh dari Korea ke New York.
"Yeah, you deserve to be happy, Jungkook-ah," gumam Seokjin lirih, menggoyang gelas jus di tangannya dan meminum isinya hingga habis.
"Love on the weekend, love on the weekend
Like only we can, like only we can
Love on the weekend, love on the weekend
I'm coming up and I'm loving every minute of it."
Taehyung menyandarkan punggung ke kursi mobil, memandang ke luar jendela mobil sambil mendengarkan Love on the Weekend yang dibawakan John Mayer. Segaris senyum kecil muncul di wajahnya ketika ia merasa kalau lagu ini sedang menggambarkan dirinya dengan Jungkook yang keluar berdua ke Koreatown, dari Queens ke Midtown Manhattan di hari Sabtu.
Setelah selama ini keluar berdua hanya dengan naik bus dan jalan kaki, Taehyung akhirnya memberanikan diri mengajak Jungkook keluar berdua naik mobil. Memang bukan mobilnya, tapi mobil Haejun. Atau lebih tepatnya, mobil teman Haejun yang terlalu kaya sampai mau berbaik hati meminjamkan Haejun mobil.
"Nggak modal," ejek Haejun sambil tertawa, "beli mobil sana. Uang segunung di rekening, sia-sia kalau nggak diapa-apain. Nanti aku ikut pakai juga. Untung, kan?"
Taehyung hanya membalasnya dengan dengusan malas lalu melangkah pergi sambil membawa kunci mobil.
Kemarin malam, setengah mati Taehyung memberanikan diri mengajak Jungkook pergi ke Koreatown di Midtown Manhattan naik mobil. Namun keberaniannya akhirnya berbuah manis; Jungkook langsung membalas dengan semangat tanpa berpikir dua kali. "Ayo! Aku juga lagi pengin hanwoo set!"
Puji syukur pada Tuhan yang sudah memberikan keberanian untuk Taehyung.
Keberanian itu juga yang mengantarkan Taehyung duduk disini, di dalam Camry hitam dengan lagu-lagu random yang diputar di radio, menunggu Jungkook turun dari loft-nya.
Tidak perlu waktu lama bagi Taehyung untuk menunggu Jungkook. Tidak sampai sepuluh menit setelah ia mengirimi perempuan itu sebuah pesan, sebuah ketukan di jendela mobil mengejutkannya. Ia menoleh dan melihat Jungkook tersenyum riang padanya sambil melambaikan tangan.
Cantik.
"Lama menunggu, ya?" tanya Jungkook ketika Taehyung keluar dari mobil untuk membukakannya pintu. Namun alih-alih segera membuka pintu mobil untuk Jungkook, Taehyung justru bersandar di badan mobil, tersenyum pada Jungkook.
"Ini kebetulan atau bukan ya?" Taehyung melihat sweater Marymond-nya yang berwarna hitam dengan kerah tartan merah lalu long sleeve blouse dan rok yang dipakai Jungkook, "we're on red and black."
Jungkook tertawa. "Kebetulan lah, apalagi?" cetusnya, "your fashion sense are quite good," ia melanjutkan lalu melirik kaki Taehyung, "and nice maroon socks."
Jungkook tidak berbohong. Selama ia mengenal dan sering keluar dengan Taehyung, ia mengakui kalau fashion sense Taehyung cukup keren. Selama itu pula Jungkook sering melihat kaus kaki yang dipakai Taehyung selalu berwarna merah marun.
"Nggak usah bawa-bawa kaus kakiku," tawa Taehyung.
"Itu sweater Marymond yang jadi campaign buat human dignity kan?" tanya Jungkook setelah membaca tulisan 'I Marymond You' di sweater Taehyung.
"Ini?" Taehyung menunjuk sweater-nya kemudian mengangguk, "iya. Yang bikin clothing-line ini teman dari temanku. Bukannya mau promosi atau apa ya, tapi aku suka modelnya."
Jungkook tersenyum. "Bagus kok. Aku jadi pengin punya."
"Biar bisa couple ya?" goda Taehyung sambil nyengir yang dibalas tawa dari Jungkook.
"Ge-er," balas Jungkook, "udah yuk. Makin siang bisa macet."
"Kita lewat I-295, ya," kata Taehyung setelah mengencangkan seatbelt, "kita nggak bisa lewat Grand Central Parkway sama I-495 karena lagi ada perbaikan."
"Kok kompakan gitu?"
"Jalannya banyak yang rusak kayaknya," jawab Taehyung, mulai melajukan mobilnya, "sampai di Koreatown-nya jadi agak lama. Kalau beruntung dan nggak terjebak macet, jam sepuluh bisa sampai di Midtown Manhattan. Kalau nggak ya paling lama jam sebelas, kalau molor jam dua belas."
Jungkook manggut-manggut. "Ya pokoknya sampai dengan selamat deh di Koreatown."
Lalu mobil Camry itu melaju membelah jalanan New York.
"Kamu nyetel CD lagu?" Jungkook yang sedang menyandarkan kepalanya di kursi mobil, menoleh pada Taehyung, "suka John Mayer juga?"
"Ini radio. Aku lebih suka dengerin lagu-lagu random di radio daripada dengerin lagu di kaset," jawab Taehyung, "kenapa? Nggak suka ya? Kalau nggak suka, ada kaset kok di laci. Tapi band semua."
"Nggak apa-apa, mending lagu random kok," kata Jungkook, "laki-laki memang sukanya yang model band gitu ya."
"Personally, yes," Taehyung tersenyum, "The Maine, Green Day, Two Door Cinema Club."
"Rock semua gitu. Nggak capek dengerinnya?"
"Lagu rock itu kan rame, jadi selalu ngebantu supaya tetap melek," kata Taehyung lalu tertawa, "kalau lagu mellow, aku nggak suka kebawa suasananya."
"Ih baperan," ledek Jungkook, "tapi emang bener juga kok kalau lagu rock bisa ngebantu biar tetap terjaga. Kayaknya kamu nggak suka suasana sepi ya?"
Taehyung diam sejenak. Hampir terseret pada satu kenangan tertentu namun ia berhasil menguasai dirinya sendiri. "Ya begitulah."
"Tapi kita ketemunya malah di ruangan gelap," Jungkook tertawa kecil, "kamu lagi ngegambar, nggak ikut pesta sama yang lainnya."
"Pesta itu hal yang sia-sia buat aku," kata Taehyung, "mereka bertingkah seolah-olah mereka hidup bahagia selama ini, padahal kalau pestanya udah selesai, ya udah bahagianya selesai juga. Yang tertinggal cuma hangover gara-gara banyak minum alkohol, atau yang paling parah... am I supposed to say this? Kayaknya kamu ngerti," lelaki itu terkekeh pelan, melirik sekilas pada Jungkook.
"Menurut aku, orang-orang yang datang ke pesta itu sebenernya kesepian. Karena kesepian itulah akhirnya mereka mencoba mencari keramaian, berusaha meyakinkan kalau diri mereka nggak semengenaskan itu. Tapi tetap aja, mereka pada dasarnya adalah manusia yang kesepian."
"Manusia itu menyedihkan ya," segaris senyum tipis muncul di wajah Taehyung, "mereka nyari sesuatu untuk memberitahu bahwa mereka baik-baik aja disaat realita yang terjadi justru sebaliknya."
Sejenak, suasana di mobil itu lengang. Jungkook menatap Taehyung dengan sorot yang sukar dijelaskan, sama sekali tidak berkomentar. Sampai akhirnya Taehyung sadar kalau atmosfer di mobil mendadak turun.
"Ah, aku mulai ngaco ya ngomongnya," cetus Taehyung lalu tertawa, mencoba mencairkan suasana di mobil yang membuatnya agak canggung, "biasalah, agak distract dikit jadinya begini."
Tapi Jungkook yakin, entah bagaimana bisa, bahwa Taehyung bukan hanya agak distract. Ada sesuatu yang disembunyikan lelaki itu. Jungkook yakin. "Taehyung, kamu bener baik-baik aja?" Jungkook bertanya pelan, nadanya terdengar khawatir, "kalau kamu lagi nggak fit, nggak apa-apa nggak jadi ke Koreatown."
Taehyung loves the way Jungkook called him with his full name. Bukan 'Tae'. Tapi 'Taehyung'. Terasa... menenteramkan?
"Aku baik-baik aja, kok. Beneran," sahut Taehyung menenangkan.
"Beneran ya?"
"Iya."
"Awas kalau distract beneran," kata Jungkook, mengancam main-main.
Taehyung tertawa lagi, menggenggam setir mobil dengan erat.
"Kamu di New York ada mobil?" Jungkook menyandarkan lagi kepalanya ke sandaran kursi. Ia hampir lupa bagaimana rasanya duduk di mobil setelah selama ini hanya berjalan kaki dan naik bus.
"Nggak, ini punya temannya Haejun. Dia yang biasanya pinjam," jawab Taehyung sambil nyengir, "Sabtu begini Haejun libur, jadi mobilnya nggak dipakai."
"Jadi kakak-beradik cowok tinggal satu atap, apa nggak berantem tiap hari?" goda Jungkook, betah mengamati fitur wajah Taehyung yang menarik. Alis tebal, garis mata yang tajam, hidung yang mancung, dan rahangnya yang tegas. Bibirnya juga menarik.
Jungkook sudah mirip stalker ulung.
"Dulu kecil udah sering berantem. Dipuas-puasin," Taehyung nyengir lagi.
Duh, minta dicubit banget itu ekspresi wajahnya.
"Lihat luka disini?" Taehyung menunjuk pipi kirinya, dekat dengan pelipis, "ini bekas luka habis berantem gara-gara rebutan mainan. Itu lho, robot Gundam."
"Serius sampai luka cuma gara-gara rebutan Gundam?" Jungkook melongo. Ia tidak punya saudara. Terlahir sebagai anak tunggal perempuan, Jungkook tidak sekali-dua kali berharap memiliki saudara kandung.
"Iya. Sampai dijahit juga," Taehyung tertawa, "namanya anak laki-laki, kalau udah marah yang main duluan fisiknya. Kalau aku dapat luka jahit, Haejun dapat gigi ompong."
"Ya ampun..." gumam Jungkook sambil geleng-geleng kepala, "perempuan yang jadi ibumu pasti tabah banget ya lihat dua anak laki-lakinya berantem sampai bonyok."
Taehyung tertawa lagi. Mulai merasa rileks setelah mengobrol ringan dengan Jungkook. Jungkook bukan seseorang yang kelewat ceria, namun dengan pembawaan yang manis dan obrolan yang sering nyambung, Taehyung jadi betah bersamanya.
"Sebelum jadi arsitek, dulu aku sempat berpikiran buat jadi jurnalisnya National Geographic," Taehyung mengambil setangkup popcorn di cupholder, mengunyahnya sambil menatap ke depan, "kerjanya enak. Travelling kemana-mana dibayarin kantor, backpacking jalan-jalan sambil potret sana-potret sini, dikirim ke majalah, terus dapet uang. Tapi karena ayahku realistis, pengennya anaknya jadi dokter aja, nerusin jejaknya."
"Terus, kok nyasarnya jauh dari dokter ke arsitek?"
"Karena aku nggak suka biologi," Taehyung meraih lagi setangkup popcorn, "bayangin aja, bedah-bedah tubuh orang, lihat organ-organ dalam. Belajar tentang penyakit-penyakit aneh. I'm okay with math, but biology aren't just fit me much. Pernah dulu SMA, pas lagi bedah katak di laboratorium, aku kabur ke toilet dan muntah sejadi-jadinya disana," ia tertawa.
Jungkook tersenyum. Dari samping pun, tawa Taehyung tetap menarik. "Banting setirnya langsung ke arsitek gitu ya."
"Ya apalagi yang anak laki-laki bisa kecuali jadi dokter dan arsitek," Taehyung mengedikkan bahu, "dua pekerjaan itu kayak udah sakral di kalangan kaum lelaki. Nggak bisa jadi dokter, jadi arsitek. Begitu juga sebaliknya. Alasannya karena dua pekerjaan ini menjanjikan gaji yang tinggi. Biasalah, orangtua yang agak kolot gitu kan mikirnya uang dulu."
"Heh, ngawur," Jungkook tertawa, "terus, sampai sekarang masih pengin jadi jurnalisnya NatGeo?"
"Masih. Tapi cuma pengen travelling dibayarin kantornya aja," canda Taehyung lalu menyeringai.
Jungkook tergelak. Diliriknya bungkus popcorn yang sudah habis. "Udah habis aja popcorn-nya?"
"Nyetir sambil nyemil udah jadi kebiasaan. Kalau di Korea, bungeoppang nggak pernah absen dari mobilku," aku Taehyung, "oh ya, kalau kamu?"
"Apanya?"
"Kenapa suka fotografi?"
"Kayaknya aku udah pernah cerita deh."
"Kapan? Aku lupa."
Jungkook tersenyum kecil, menghela napas sebentar sebelum memulai bercerita. "Pernah tahu quotes 'people change, memories don't' nggak? Quotes jadul yang biasa kita temuin di Tumblr itu," mulai Jungkook, "nah, itu dia alasan kenapa aku suka fotografi. Sesuatu bisa berubah, dan terkadang perubahan itu suatu hal yang nggak kita sukai. Disadari atau tidak, sebuah foto membekukan memori. Mereka tetap menyerukan cerita yang sama tanpa ada perubahan."
"Contohnya, foto masa kecilmu di resor ski. Apa yang terlintas di benakmu waktu lihat foto itu? Yang pasti memori sewaktu foto itu diambil. Cerita waktu kamu belajar ski, jatuh berkali-kali, nangis, bilang nggak mau main ski lagi, tapi pada akhirnya kita bisa skiing dengan benar."
"Karena itu, aku jadi suka mengabadikan banyak momen. Kita hidup dari memori-memori dan kenangan, sekecil apapun mereka, aku ingin mereka tetap ada. Ah, aku mulai ngelantur ya kalau ngomong?" Jungkook nyengir bersalah ketika mendapati dirinya mulai mencerocos tidak jelas.
"Nggak kok," Taehyung tersenyum, "aku suka dengerin kamu cerita."
Jungkook yakin pipinya yang terasa panas tiba-tiba ini bukan karena ia mendadak demam.
I-295 N agak macet. Dengan ditutupnya dua highway yang lain karena perbaikan jalan, otomatis orang-orang yang ingin pergi weekend ke Manhattan atau New Jersey harus melewati highway ini jika tidak ingin memutar lebih jauh. Lagu-lagu random yang diputar di radio memang jadi pilihan yang tepat untuk jadi teman macet begini.
"New York bisa macet juga ya ternyata," canda Jungkook diikuti kekehan Taehyung. Berusaha mengubur pikiran-pikiran liarnya karena ucapan Seokjin tadi pagi.
Jam setengah dua belas, mereka sampai di Koreatown, Midtown Manhattan.
"Kapan-kapan kita ke Little Seoul-nya yang asli ya," Taehyung menyeletuk ringan, melepas seatbelt.
Jungkook menanggapinya dengan senyuman.
"Coba kalau kita datang kesininya malam, pasti lebih bagus lagi," komentar Jungkook, menatap bangunan-bangunan bertuliskan hangeul dimana-mana itu, "jadi kangen Korea."
"Kalau kangen, kenapa nggak balik ke Korea aja?" tanya Taehyung spontan, dan satu detik kemudian ia melemparkan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri.
Situ sendiri kenapa masih betah luntang-luntung disini?
"Oh, ngusir ceritanya?" Jungkook pura-pura ngambek.
"Siapa yang ngusir?" Taehyung mencoba tertawa, "baru kalau Donald Trump yang nanyain gitu bisa dibilang ngusir."
Jungkook menunjuk wajah Taehyung sambil tersenyum jail. "Lucu banget lawakannya. Garing," lalu tertawa karena membuat Taehyung merasa disindir.
"Bales nih bales."
Jungkook masih tergelak.
"Sebelum ini sudah pernah datang kesini juga?" tanya Jungkook ketika Taehyung mengajaknya masuk ke sebuah restoran yang bangunannya didominasi oleh kayu. Di sebelah-sebelahnya juga banyak restoran Korea.
"Belum. Aku lihat di New York Food Review, Jongro ini lebih enak daripada Kunjip atau restoran yang lain," Taehyung tersenyum pada seorang pelayan yang menyambut mereka dan mengantar keduanya ke salah satu meja.
"Terima kasih," Jungkook ikut tersenyum, merasa lega akhirnya bisa mengucapkan 'kamsahamnida' dan bukannya 'thank you'.
"Jja, pesan apa?"
Kening Jungkook dikerutkan ketika Taehyung mencerocos dalam dialek yang rasanya ia sangat kenal.
"Kenapa?" tanya Taehyung heran.
"Dialekmu," Jungkook bingung menata kata-katanya, "kamu orang Gyeongsang-do?"
Satu musim saling mengenal, Taehyung dan Jungkook tidak pernah tahu darimana asal mereka meskipun dari negara yang sama. Dialek yang digunakan juga dialek Seoul, yang dipakai orang Korea di luar negeri ketika bertemu dengan sesama warga Korea selain bahasa Inggris.
Taehyung tersenyum. "Kamu juga orang Gyeongsang-do?"
Mata Jungkook menyipit menatap Taehyung.
"Udahlah nggak penting. Cepat, mau pesan apa?"
Masih dengan rasa penasaran yang meluap-luap, Jungkook akhirnya menyebutkan pesanannya; hanwoo set, patbingsoo, dan kkultarae. Taehyung menyamakan pesanannya dengan milik Jungkook tanpa kkultarae.
"Hongcho soju atau yang rasa buah-buahan?" Taehyung bertanya, menatap Jungkook dari balik buku menu.
"Mmm... fruity soju aja," Jungkook memutuskan, "yang yuja, ya."
Menyantap hanwoo kurang tepat jika tidak ditemani soju. Taehyung menawarkan pilihan soju pada Jungkook karena tidak ingin Jungkook keberatan dengan kandungan alkohol. Taehyung oke dengan tokki soju, toleransinya dengan alkohol 23% sangat bagus, tapi Jungkook pasti berbeda.
"Jadi," Jungkook kembali bersuara setelah pelayan pergi membawa pesanan mereka, "kamu orang Gyeongsang-do?"
"Penasaran banget?"
"Taehyung!" Jungkook mulai merajuk, kebiasaan kecilnya kalau Taehyung sudah mulai mengulur-ulur waktu.
Taehyung tertawa. Kebiasaan kecil Jungkook ini adalah little amusement untuknya, bagaimana Jungkook menatapnya kesal dengan bibir dikerucutkan. "Iya. Aku orang Gyeongsang-do."
"Serius? Gyeongsang-do mana? Busan juga?"
"Bukan. Daegu."
Tahu-tahu, Jungkook bertepuk tangan ceria.
"Senangnya punya teman satu dialek!" ia memekik senang, dialek Busannya keluar otomatis, "mulai sekarang berhenti ngobrol pakai dialek Seoul, ya! Aku kangen ngobrol pakai dialek Gyeongsang-do, ya oppa?"
Wajah Taehyung seperti terbakar rasanya.
Shit, Jeon Jungkook.
"Kok mukamu merah?" Jungkook terbahak, "dasar ya laki-laki ini, dengerin cewek manggil pakai oppa efeknya langsung kayak gitu."
"Makanya ngobrol pakai dialek Seoul aja ya, netral. Gyeongsang-do nggak aman buat jantungku," canda Taehyung, memegang dadanya seperti terserang penyakit jantung.
Jungkook tertawa kecil. Taehyung orang yang menyenangkan. Meskipun lelaki itu bukan seseorang yang suka banyak bicara, tapi dengan caranya berbicara dan bersikap, Jungkook yakin Taehyung bukan seseorang yang berbahaya untuknya.
Ada dua Koreatown di Amerika. Daerah etnik Korea di Midtown Manhattan, known as Korea Way, dan yang lebih besar di Los Angeles, California, little Seoul yang asli. Koreatown di Midtown Manhattan sebenarnya termasuk ke dalam distrik garmen Manhattan, namun berkembang seiring berjalannya waktu dan imigran Korea yang banyak di New York. Koreatown ini hanya satu dari sekian contoh yang menunjukkan bahwa New York adalah 'gula' bagi para 'semut'.
Setelah selesai makan di Jongro, Taehyung dan Jungkook memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Koreatown. Ada banyak eateries yang menggoda selera; Jungkook memborong kue di Tous les Jours setelah mencium aroma kue yang matang. Dan sekarang, perempuan itu sudah masuk ke toko souvenir dan membiarkan Taehyung berdiri menganggur di depan toko, membawakan belanjaan kuenya.
"Ada tchotchke terkenal disini."
"Hah? Apa?" Jungkook mengernyitkan kening heran, "tchose?"
"Tchotchke," Taehyung tertawa, "itu istilah dari orang Jewish-American buat toko souvenir."
"Halah, bilang toko souvenir aja dari tadi repot banget, tchot-tchot apa deh itu," cetus Jungkook, "apa namanya?"
"Memories of New York. Katanya souvenirnya bagus-bagus dan murah. Mau mampir?"
Agak salah sebenarnya Taehyung menawarkan untuk beli souvenir. Ini sudah lebih dari dua puluh menit Jungkook di dalam toko, entah sedang memilih apa sementara Taehyung berdiri nyaris kesemutan menunggu di depan toko karena tidak boleh membawa makanan ke dalam toko.
Semua perempuan sama saja. Jungkook maupun ibunya, kalau sudah dihadapkan dengan barang-barang bagus yang murah pasti betah di dalamnya lama-lama.
Taehyung menghela napas panjang. Lama-lama bosan juga cuma berdiri bersandar di dinding, mengamati orang-orang yang berlalu lalang tanpa melakukan apapun. Jadi Taehyung memutuskan untuk menunggu di kafe terdekat.
Kalau belanjanya sudah selesai, kasih tau ya.
Setelah iMessage itu terkirim, Taehyung melangkahkan kaki menuju kedai teh terdekat sambil mengantongi ponselnya.
Bagi para lelaki, menunggu perempuan belanja adalah salah satu neraka dunia. Jika bagi perempuan belanja sepuasnya adalah surga dunia, lain lagi untuk laki-laki. Ikut memutari mall sampai kaki pegal-pegal, ikut bingung membeli baju sampai beberapa kali keluar-masuk toko tapi ujung-ujungnya kembali ke toko awal, ribet memilih denim dan ikut stres kalau si perempuan ini uring-uringan karena denim yang sudah lama diincar malah tidak muat.
Sebenarnya Taehyung sudah terbiasa. Sebagai anak sulung laki-laki yang baik, Taehyung pandai sekali mengunci mulutnya rapat-rapat supaya tidak mengeluh ketika mengantarkan Ibu ke mall. Taehyung tidak menyalahkan ayahnya yang selalu menolak mentah-mentah ajakan Ibu untuk menemani beliau belanja; Ibu itu kalau sudah terlanjur menginjak lantai mall, betah sekali disana sampai barang yang diinginkan terpenuhi.
Seraya menunggu Jungkook, Taehyung memesan teh dan kue sifon. Hari ini sore cerah sekali dan hidangan yang tepat untuk menemani adalah secangkir teh Earl Grey yang harum dan kue sifon beraroma pandan yang lembut.
Taehyung nyaris terlonjak kaget ketika mendengar ponselnya berbunyi ribut; ia menambahkan mental note untuk segera mengubah One Ok Rock ini dengan ringtone yang biasa.
"Ya, halo?" sambut Taehyung, lalu tersenyum lebar, "heh, Gelap!"
"Ngaca dulu sana kalau mau ngejek."
Satu-satunya orang yang dipanggil Taehyung dengan sebutan kurang ajar sekelas 'Gelap'tadi adalah Kim Mingyu, rekan kerja sekaligus sahabat baiknya di kantor biro arsitek. Mereka sudah saling mengenal sejak kuliah dan berencana membangun biro arsitek bersama-sama dengan satu teman yang lain.
"Kangen ya makanya telepon?"
"Najis."
Taehyung tergelak.
"Anak-anak kantor pada penasaran, si bos satu ini masih hidup atau nggak soalnya nggak pernah kasih kabar," kata Mingyu iseng, diikuti sumpah serapah dari Taehyung, "nasibmu baik-baik aja kan di Amerika sana? Beneran nggak loncat dari Jembatan Brooklyn kan?"
"Nggaklah. Aku masih sayang nyawa."
"Terus, kapan kau balik?" satu pertanyaan straightforward dari Mingyu sukses membuat Taehyung terdiam, "udah satu tahun lebih kau di Amerika. Ketemu Jennifer Lawrence terus ya makanya betah disana?"
"Kalau itu... aku nggak tahu," suara Taehyung terdengar mengambang, "aku nggak tahu kapan balik ke Korea."
"Meskipun kalau aku kasih kabar kalau temanmu satu ini mau nikah tiga minggu lagi?"
"HAH?"
"Biasa aja 'hah'-nya."
"Kau serius mau nikah? Sama pacarmu yang itu? Yang kalau ngomong irit banget itu?"
"Ya masa sama Gigi Hadid, Tae."
Lebih dari lima tahun Taehyung mengenal Mingyu, sahabatnya ini sama jelalatannya dengan lelaki-lelaki playboy yang lain—gonta-ganti pacar satu bulan sekali. Rekor pacaran tercepatnya adalah pacaran cuma dua minggu. Wajahnya memang mendukung, jadi oke-oke saja untuk lelaki bermarga Kim itu untuk gonta-ganti kekasih. Dan baru dengan Jeon Wonwoo ini, seorang dosen Sastra Inggris sekaligus teman satu universitas mereka dulu, Mingyu bisa betah berpacaran bahkan sampai memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.
"Congrats, bro! Akhirnya ya, berhenti gonta-ganti pacar. Sama Wonwoo jangan gonta-ganti istri ya," ledek Taehyung.
"Sialan kau, Nyet. Menyesal aku ngejadiin kau best man-ku," gerutu Mingyu.
"Aku best man-mu? Bagus deh, pilihanmu tepat," ujar Taehyung, menyesap sedikit Earl Grey-nya.
"Karena kau jadi best man-ku, harus ukur baju juga. Pulang sebentar deh ke Korea, kalau udah selesai bisa balik lagi ke Amerika."
"Senang banget ya nggak ada aku di kantor."
"Si Sejeong yang merana nggak ada kau di kantor. Tiap hari pertanyaannya sama, "Gyu, kapan ya Bos Ganteng balik lagi ke kesini?" sampai anak-anak ikutan eneg dengerinnya."
Taehyung tertawa. Sejeong adalah salah satu dari dua pegawai perempuan di kantor biro arsitek, seorang sekretaris merangkap manajer biro. Sejeong punya panggilan sendiri-sendiri kepada teman-teman satu kantor, dan panggilan "Bos Ganteng" hanya milik Taehyung seorang.
"Yaudah bilang kalau minggu depan aku balik ke Korea," kata Taehyung, "selamat buat pernikahanmu ya, Nyet. Aku ikut senang."
Telepon diputus setelah dua-tiga kalimat lagi. Telepon internasional biayanya mahal. Meskipun ditagihkan ke kantor, tetap saja bagi Taehyung namanya pemborosan.
Tidak sampai dua menit setelah telepon dari Mingyu dimatikan, ponsel Taehyung berbunyi lagi. Kali ini dari Jungkook. Melihatnya, senyum Taehyung mengembang lebar tanpa diperintah.
"Ya? Sudah selesai belanjanya?"
"Jahat ih ninggal."
"Lho, kan aku sudah kirim SMS."
"Terserahlah, tapi aku udah selesai. Aku tunggu dimana?"
"Disitu aja. Kafenya deket kok," Taehyung beranjak dari kursinya, melangkah keluar kafe dengan satu tangan menempelkan ponsel di telinga dan satu tangan yang lain membawa tas kertas Tous les Jours.
Di depan Memories of New York, Jungkook sudah berdiri di dekat tiang lampu dengan dua tas di masing-masing tangan. Perempuan itu menoleh ketika merasakan seseorang mendekat padanya dan merasa lega melihat Taehyung.
"Jangan main tinggal begitu dong," Jungkook cemberut, "New York kan besar, Tae. Kalau aku tersesat gimana?"
Jungkook dengan tingkah childish-nya yang menggemaskan. Kalau saja Jungkook adalah kekasihnya, mungkin Taehyung sudah mencium bibir yang mengerucut itu, tidak peduli mereka ada di pinggir jalan.
Barusan mikir apa, Kim Taehyung?
"Ngelamun kan," Jungkook mengibaskan tangannya di depan wajah Taehyung, membuat lelaki itu tersentak, "ini mau kemana lagi?"
"Eh... oh, itu," buru-buru Taehyung mengembalikan seluruh kesadarannya setelah distract karena melihat Jungkook yang cemberut begitu lucu, "kita ke bagian terkerennya New York."
"Hah? Bagian terkerennya New York?" kening Jungkook mengerut heran. Baginya, seisi New York ini keren—dan Taehyung bilang, mereka akan pergi ke bagian terkerennya New York?
"Iya," Taehyung mengangguk sambil tersenyum, melangkah beriringan bersama Jungkook menuju mobil yang di parkir di depan Jongro, "kamu pasti suka banget disana."
Pernah membayangkan bisa jalan-jalan ke New York dan masuk ke salah satu skyline-nya?
Dulu Jungkook hanya bisa berandai-andai naik ke lantai teratas Empire State Building, melihat pemandangan kota New York yang dipenuhi art deco modern yang makin cantik ketika di malam hari. Tapi sore ini, mimpinya itu seolah terwujud; Taehyung mengajaknya ke Rockefeller Center, melihat kota New York dari bangunan 70 lantai itu, di observation deck-nya.
"Welcome to the Top of the Rock."
Jungkook merasakan ada sesuatu yang menyengat punggungnya ketika melihat puncak-puncak skyline di depan matanya.
"Taehyung!" tangan Jungkook mencengkeram siku Taehyung erat-erat, "sumpah ini keren banget!"
Jungkook tidak berbohong soal betapa kerennya berada di dek observasi untuk turis di atap Rockefeller Center—melihat matahari yang mulai tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit setinggi ratusan meter, semburat mega merahnya yang seperti lukisan melatari gedung-gedung ramping itu. Napas Jungkook tercekat di tenggorokan, kedua tangannya mencengkeram pagar kuat-kuat. Rockefeller aja bagusnya kayak gini, Empire State gimana coba?
"Bagus ya?"
Jungkook menoleh sebentar dan melihat Taehyung berdiri di belakangnya. "Bagus banget!" Jungkook menjawab, tidak henti-hentinya terkesima dengan pemandangan yang terhampar di depannya.
"Nggak difoto?"
"Oh iya!" seperti mendapat ide bagus, Jungkook menyalakan kameranya dan mulai membidik sana-sini, "Taetaeeeee ini bagus bangeeet!"
Well, Taetae is too cute for your lame heart, no, Kim Taehyung?
"Tae, berdiri disini gih!" Jungkook menarik Taehyung untuk berdiri di dekat pagar, mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak yang pas, "kufoto ya!"
"Nggak ah. Aku nggak bisa gaya. Nanti malah kayak foto buronan," Taehyung buru-buru menolak.
"Senyum tipis aja, nggak usah banyak gaya kayak model!" kata Jungkook sambil tertawa, "yuk, senyuuuum! Satu, dua, tiga!"
Dari foto itu, Jungkook benar-benar sadar bahwa Kim Taehyung memang tampan tanpa perlu berusaha.
"Hapus aja fotonya, jelek banget," tawa Taehyung setelah mengintip hasil fotonya di kamera Jungkook.
"Nggak kok. Bagus," Jungkook tersenyum, mendongak menatap Taehyung tepat di mata, "Tae, makasih banyak buat hari ini ya."
Taehyung membeku. Demi melihat Jungkook dari jarak sedekat ini, Taehyung bersedia melakukan apapun untuk itu. Termasuk membeli banyak tiket untuk naik ke dek observasi ini asalkan untuk Jungkook.
"Bukan masalah," balas Taehyung, melarikan tangannya untuk merapikan poni Jungkook, "kamu lucu kalau pakai poni begini, hehe."
Kali ini, giliran Jungkook untuk terdiam.
Gerakan impulsif dari Taehyung barusan terlalu tiba-tiba untuknya; ketika lelaki itu merapikan poninya, secara tidak langsung itulah kontak fisik pertama mereka dengan disengaja. Pegangan tangan yang terjadi kemarin-kemarin tidak dihitung karena hal itu adalah ketidaksengajaan, sebuah refleks, atau apapun itu namanya jika Jungkook tidak ingin menyebutnya 'kontak fisik'.
"Masih mau di sini?" Taehyung menawarkan, menoleh ke sekeliling yang masih banyak turis, "masih ada banyak pengunjung, sih. Atau mau pulang?"
"Pulang aja," kata Jungkook memutuskan, menyentuh poninya yang tadi dirapikan Taehyung, "takutnya macet di jalan."
Taehyung mengangguk.
Percaya atau tidak, gedung-gedung sekelas Rockefeller Center membutuhkan semacam 'booking' untuk parkirnya. Jungkook tahu betul hal itu. Dan karena biaya hidup di New York sangat mahal, ia tidak ingin membuat Taehyung membayar kupon parkir terlalu mahal (sudah cukup untuk tiket masuk observation deck Rockefeller Center yang membuat Jungkook seperti tercekik). Jungkook pernah mengintip di salah satu situs pembelian kupon parkir online, harga kuponnya hampir sama dengan satu botol soju.
New York beside its heavenly sight-seeing, its hella high-priced.
"Tadi di Memories of New York belanja apa aja?"
"Banyak sih," Jungkook menoleh ke belakang, melihat dua tas kertas Memories of New York dan tas-tas lain di bangku belakang, "kaus, mug, ya gitu-gitu deh."
"Beneran murah-murah ya disana?"
"Iya! Surga souvenir banget tahu, Tae, disana tuh!" timpal Jungkook semangat, "mana tadi masih agak sepi kan, jadi milih-milihnya enak, nggak berdesakan sama banyak orang."
Taehyung tersenyum, menekan pedal gas sehingga mobil melaju lebih cepat.
"Tadi aku beliin kamu baju juga."
"Heh? Aku?" Taehyung berujar kaget.
"Iya. Soalnya tadi ada promo, belanja dua ratus ribu dolar dapet potongan lima puluh persen. Kan lumayan, jadi ya aku sekalian beli baju cowok juga biar beneran habis dua ratus ribu," terang Jungkook, menyeringai, "kuambilin ya. Mungkin kamu suka."
Jungkook melepas seatbelt-nya, berdiri untuk berbalik ke bangku belakang.
"DUDUK, JEON JUNGKOOK!"
Jungkook nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Taehyung membentaknya. Keras sekali.
"Duduk! Pakai seatbelt-mu!" hardik Taehyung, sama sekali tidak menatap ke arah Jungkook. Tapi Jungkook tahu pasti, emosi apapun yang membuat Taehyung tiba-tiba membentaknya tadi, sekarang lelaki itu alihkan pada injakannya di pedal gas yang semakin dalam dan cengkeraman tangannya di kemudi yang semakin mengerat.
Jungkook terdiam, gemetar menatap Taehyung.
Masih dengan wajah pucat dan ketakutan, perlahan Jungkook kembali duduk, menarik sabuk pengaman dan mengencangkannya.
Sebotol Riesling, Grey's Anatomy yang di-record dengan sangat baik hati oleh Jungkook dan sepiring penuh kentang goreng dan nugget. Ditambah selimut yang melilit di sekeliling tubuh, akhirnya Seokjin merasakan malam minggu yang damai.
Jungkook belum datang. Tadi Seokjin sudah menelepon tapi tidak diangkat. Mungkin Jungkook tidak mendengar ada panggilan. Dia punya kebiasaan menyetel ponselnya dalam mode getar.
Serial Grey's Anatomy ini awalnya hanya Jungkook yang suka. Duduk manis setiap Kamis malam sambil memeluk bantal dan menyerukan nama "Derek Shepherd!" keras-keras setiap hotshot doctor itu muncul. Lalu Seokjin ikut hanyut pada pesona si hotshot doctor—akhirnya ikut menjadi penggemar serial itu.
Seokjin sedang tenggelam pada imajinasinya tentang Derek Shepherd dan segelas Riesling di tangan ketika suara ribut di pintu masuk mengejutkannya. Jungkook sudah datang, namun dia tampak kacau. Napasnya tersengal karena tangis.
"Jungkook..." Seokjin refleks bangkit dari duduknya, mendekat pada Jungkook lalu menyentuh lembut kedua bahu sahabatnya seraya berharap apa yang diucapkan mulut lancangnya tidak benar-benar terjadi, "ada apa?"
"S-Seokjin..." suara Jungkook pecah, terdengar perih dan menyakitkan, "k-kupikir aku sudah mengenal Taehyung dengan baik..."
"Seunghee noonaaa! Buruan!"
"Manggil pakai noona lagi, kucubit lho," ancam Seunghee main-main, meletakkan sepasang kaus kaki merah marun di paha Taehyung kemudian pergi ke dapur.
"Habisnya dandan lama banget, kayak noona-noona ribet," balas Taehyung lalu menguap lebar. "Apa nih? Kaus kaki baru?" tanyanya, mengangkat kaus kaki merah marun itu dan menatapnya aneh.
"Iya. Kemarin waktu pulang dari kerja, ada yang jual kaus kaki murah. Aku beliin satu pasang buat kamu."
"Kok merah sih?"
"Kaus kakimu itu ya, kalau nggak hitam, putih, ya abu-abu. Nggak ada warna lain. Sesekali pakai yang agak mentereng dikit, dong," balas Seunghee dari dapur.
Taehyung manggut-manggut lalu memakai kaus kaki merah marun itu. Menggoyang-goyangkan jemarinya seirama. "Jelek."
"Nggak jelek, Sayang. Cakep kok," ujar Seunghee lalu mengecup bibir Taehyung sekilas, "udah yuk."
"Nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Taehyung memastikan yang dibalas gelengan singkat dari Seunghee.
Sekarang hari Minggu, masih pagi, dan Taehyung sudah mandi dan berpakaian lengkap. Ini karena usul dari Seunghee kemarin malam kalau gadis cantik itu ingin pergi jalan-jalan ke Gyeonggi.
"Ada festival bunga canola, Tae. Katanya bagus banget," kata Seunghee bersemangat, "aku pengin kesana. Jalan-jalan gitu. Kita kan sibuk kerja, jadi nggak punya waktu sering-sering buat berduaan."
Taehyung mencintai Seunghee, dan demi melihat binar-binar di mata calon istrinya itu, Taehyung mengangguk tanpa perlu berpikir panjang.
"Bagus deh! Berangkat pagi-pagi ya. Jam setengah tujuh gitu."
"Hah? Setengah tujuh?" Taehyung melongo, "nggak kepagian itu?"
"Nggaklah. Gyeonggi kan agak jauh dari Seoul, makanya kita harus berangkat pagi-pagi," kata Seunghee lalu mematikan televisi dan sekejap pertandingan F1 menghilang dari pandangan Taehyung, "yuk tidur."
Old habit sebenarnya bagi Taehyung kalau setiap hari Minggu baru bangun jam sembilan pagi. Makanya, berhasil melek jam enam saja sudah prestasi, meskipun harus dibantu dengan dua cangkir kopi hitam yang pahit.
Di depan rumah, Seunghee membuka pintu mobil lalu meletakkan bungeoppang di wadah yang biasanya dibuat menyimpan koin untuk Taehyung.
"Bungeoppang?" tanya Taehyung antusias.
"Iya. Kemarin aku beli, barengan sama beli kaus kakinya." Seunghee tersenyum menatap wajah Taehyung.
Lalu Taehyung membalasnya dengan French kiss di bibir Seunghee. Taehyung is a good kisser, Seunghee mengakui. He's always kissed her like she's never been kissed before.
"Sudah," bisik Seunghee, mendorong dada Taehyung menjauh darinya, "kita di depan rumah, nggak enak kalau dilihat tetangga."
"Nggak ada yang bangun di hari Minggu jam segini, Sayang," Taehyung meninggalkan sebuah kecupan ringan di pipi Seunghee, "yuk berangkat."
Cukup menakjubkan bagaimana lalu lintas Seoul tidak padat hari Minggu begini. Selama menyetir, sambil ditemani musik random yang diputar di radio dan mengunyah bungeoppang, Taehyung melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Kalau perkiraanku nggak salah, paling cepat jam sembilan nanti udah sampai di Gyeonggi," kata Seunghee.
"Ya baguslah," Taehyung menanggapi dengan mulut penuh, "nanti makan dulu ya, mampir ke restoran kesukaannya Eomonim itu. Apa sih namanya?"
Seunghee tersenyum sambil mengangguk. Calon suaminya ini memang suka sekali makan dan untungnya bukan seorang picky eater yang rewel. Semua makanan masuk ke lambungnya yang diejek Seunghee mirip lambung kapal. Apa-apa muat.
Suara ringtone ponsel di belakang mengejutkan Seunghee. Baru sadar kalau ia meletakkan tasnya di bangku belakang bersama dengan bekal-bekal lainnya.
"Kayaknya itu Eomma deh," perempuan itu melepas seatbelt-nya, berdiri untuk mengambil tas.
Kemudian yang terjadi adalah tabrakan keras yang ia rasakan dari bagian belakang mobil dan jeritan Seunghee yang sampai saat ini berputar seperti musik loop di kepalanya, membuatnya tidak bisa tidur setiap malam dan membutuhkan suara lain untuk meredamnya.
Ingatan itu sudah lama tidak muncul sehingga Taehyung menganggapnya sudah terkubur dalam-dalam entah dimana. Namun ternyata, memang tidak semudah itu. Karena ingatan tentang kecelakaan itu kembali naik ke permukaan ketika Taehyung terdiam di mobilnya, melihat Jungkook keluar dari mobil dan pergi dengan terburu-buru, bahkan tidak mengucap sepatah katapun padanya.
TO BE CONTINUED
a/n: apaan nih wkwkwkwk
niatnya dulu mau bikin cuma twoshots eh ini twoshots aja kayaknya nggak cukup xD mungkin satu atau dua chap lagi kali ya bisa kelar hehe. tengs buat review likes favs dan readers di chapter pertama kemariiin ,
and now, review or critics maybe? :)
