The Way We Fall
.
BTS fanfiction by soonshimie
BTS is GOD'S, BIG HIT'S, THEIR PARENT'S, ARMIES, BUT THIS STORY IS MINE and (some) IKA NATASSA's
inspired by The Architecture of Love by Ika Natassa
NO PROFIT ARE TAKEN!
HOPE U LIKE IT!
(now, featuring KARD's BM!)
.
.
.
PART 3
Be careful what you wish for.
"Jungkook beruntung banget ya bisa dapet Woojin. Pengen deh kayak kamu."
Kata-kata itu dan sejenisnya. Jungkok hanya tersenyum ketika mendengarnya, menggamit lengan Woojin yang ikut tersenyum tipis.
"Kapan nih ke pelaminan? Semua udah nunggu kalian lho."
"Langgeng banget pacaran dari SMA sampai sekarang. Pengen jadi kayak kalian. Resepnya apa sih?"
"Resep? Nggak ada resep," Jungkook tertawa, menatap Woojin dengan sorot mata yang lembut; semua orang tahu itulah tatapan penuh cinta, "cuma butuh saling memahami. Itu saja."
Woojin balas menatap Jungkook, tersenyum, lalu mengusap kepala perempuan itu.
"Iya. Cuma butuh saling memahami."
"Duh, Woojin pengertian ya! Mau deh punya calon kayak Woojin!"
Be careful what you wish for.
Seandainya kamu tahu apa maksud dari saling memahami dan pengertian itu, kamu tidak akan ingin berakhir sepertiku.
Lagi-lagi Jungkook hanya tersenyum menanggapinya.
Sudah cukup dengan kata-kata kasar dan bentakan yang diterima Jungkook dari Woojin setiap keadaan membiarkan hanya mereka berdua. Jungkook hanya terlalu sabar menghadapinya; mencoba memahami dan mengerti keadaan Woojin, menerima mentah-mentah semua perlakuan kasar dari Woojin hanya karena ia memahami dan mengerti.
Tahun-tahun terbaik hubungan mereka sudah kandas. Tahun-tahun ketika Jungkook bahagia dengan Woojin yang bersamanya, mengusap kepalanya, mencium keningnya, mengecup bibirnya dengan cara seorang Kim Woojin, bercerita tentang hari-hari yang mereka lalui dengan segelas kopi di tangan, ketika semua orang begitu iri pada Jungkook dan Woojin yang telah ditakdirkan. Yang tersisa sekarang adalah tahun-tahun penuh penderitaan untuk Jungkook, tahun-tahun yang penuh makian, bentakan dan kata-kata kasar.
Dan hadirnya orang ketiga yang merunyamkan semuanya.
Be careful what you wish for.
Seandainya mereka tahu apa yang sudah terjadi pada Jungkook, mereka tidak akan mau berharap pada hal yang sama, berjuang pada titik yang sama dan berakhir dengan cara yang sama.
Pergi sejauh-jauhnya ke New York untuk memulihkan hatinya yang remuk redam.
Ketika Jungkook tiba di New York, ia tidak berharap apapun; tidak berharap menemukan cinta, tidak berharap untuk jatuh cinta, dan tidak berharap untuk mencintai seseorang. Ia hanya ingin mengobati luka di hatinya, itu saja. Tapi seharusnya ia tahu, it's impossible not to fall in love in the city like it's impossible not to fall in love with the city. Pertemuannya dengan Kim Taehyung adalah, bisa dibilang, almost serendipity.
Tapi lelaki yang sudah dipercayainya sejak pertama kali bertemu itu, yang dianggapnya sudah membuatnya merasa aman, justru membuatnya merasa ketakutan.
"Jungkook, sarapan dulu?"
Seokjin berdiri di muka pintu, sudah siap dengan setelan kerjanya dari Yves Saint Laurent. Hari Minggu begini memang bukan 'Seokjin banget' untuk masuk kerja. Tapi ada urusan finance kantornya yang memaksanya untuk lembur. "Ada smoked beef dan bacon. Sudah kusiapkan di meja makan."
Jungkook menyahutnya dengan anggukan singkat.
Seokjin menghela napas. Kemarin Jungkook pulang dari acara jalan-jalannya ke Koreatown dengan Taehyung tidak dengan senyum lebar seperti biasanya. Tapi Jungkook menangis, dengan suara bergetar bercerita pada Seokjin apa penyebabnya.
"Taehyung tidak seperti dia, Jungkook," kata Seokjin lembut, mendekap tubuh gemetar Jungkook sambil mengusap punggungnya, "Taehyung tidak seperti dia."
"Hari ini mau jalan-jalan lagi?" tanya Seokjin pelan.
Jungkook terdiam sejenak. Ekor matanya menangkap tas kertas Memories of New York yang tergeletak di dekat meja rias. Tas yang berisi baju untuk Taehyung. "Nggak tahu..." kata Jungkook lirih, "tapi kayaknya nggak. Aku pengin di rumah aja seharian ini."
Seokjin mengangguk maklum, tidak berniat bertanya lebih jauh. "Kalau begitu, istirahat yang baik, oke?" ia masuk ke kamar, memeluk Jungkook sekilas, "aku pulang sekitar jam enam. Mau makan malam di luar?"
Jungkook tersenyum kecil kemudian menggeleng. "Di rumah aja, nggak apa-apa ya?"
"Oke, oke," Seokjin tertawa kecil, "rest enough, babe."
"Mm-hm," balas Jungkook pendek sambil melambaikan tangannya, menatap punggung Seokjin yang kemudian hilang di balik pintu.
Di dunia ini, Jungkook beruntung memiliki Seokjin sebagai sahabat baiknya. Seokjin adalah orang pertama yang langsung mengerti keadaannya hanya dengan melihat kedua matanya. Seokjin bukan orang yang moralis, tidak merasa benar sendiri dan tidak menghakimi. Ketika hubungan Jungkook dan Woojin kandas, Seokjin adalah orang pertama yang menolong Jungkook tidak hanya dengan ucapan, tapi juga tindakan.
"I think you need a sweet escape, Kook," kata Seokji sambil tertawa kecil, satu tahun yang lalu, "visa Amerikamu masih bisa dipakai kan? Kesini aja. Lagian loft ini juga dibayarin kantor. Kantorku bukan Airbnb yang kalo ada yang ikut numpang harus bayar juga."
Berdasarkan usulan Seokjin itulah akhirnya Jungkook berakhir disini, di loft Seokjin, berniat untuk menyembuhkan hatinya dengan membuat rutinitas baru di Amerika dan tidak harus memikirkan kapan sweet escape-nya berakhir.
Sweet escape yang kini berubah sama horornya dengan tahun-tahun lalu.
Jungkook melangkah menuju dapur sambil mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Ada baiknya ia sarapan dulu dan menikmati acara televisi minggu pagi. Smoked beef Seokjin terkenal enak, gurih dan tidak gosong seperti ketika Jungkook mencoba memasaknya.
Sementara mulutnya mengunyah sarapan dan matanya terpaku pada televisi yang menyala, pikiran Jungkook justru sedang melayang kemana-mana.
Pernah berpikir bagaimana berbedanya hidupmu jika ada satu hal yang sudah terjadi seharusnya tidak terjadi?
Ini semua berkaitan dengan frasa 'bagaimana jika'. What if. Bukan counterfactual thinking, tapi lebih ke membayangkan apa yang terjadi seandainya yang sudah terlanjur terjadi seharusnya tidak pernah terjadi. Bagaimana jika Jungkook tidak datang ke pesta tahun baru itu. Bagaimana jika Jungkook tidak perlu keseleo dan mengenal Taehyung. Bagaimana jika Jungkook tidak perlu mengalami dua cosmic encounter—pertama, di kedai Lavazza ketika ia mengantre untuk kopi dan tidak sengaja bertemu Taehyung dan kedua, ketika Jungkook iseng duduk-duduk di Straus Park di Broadway yang jaraknya 22 mil jauhnya dari Queens sambil melukis artworks dan disapa lebih dulu oleh Taehyung.
Bagaimana jika Jungkook tidak terburu-buru menunjukkan kaus yang dibelinya untuk Taehyung.
Dan bagaimana jika Jungkook tidak membiarkan hatinya untuk percaya semudah itu kepada Taehyung.
Bad habit setiap orang di hari Minggu: bangun telat jam sembilan pagi. Kecuali bagi mereka yang semalam melakukan sesuatu yang tidak berguna, seperti mabuk.
Haejun mengerang ketika merasakan kepalanya pening luar biasa. Semalam ia mabuk berat dan sekarang seluruh tubuhnya bau alkohol. Memangnya siapa yang tidak telersetelah berlomba meminum beer bong berhadiah tiket konser rock dan NBA Mock Draft 2017?
Sambil berusaha membuat dirinya sadar, Haejun mengangkat tubuhnya susah payah dari kasur. Ada segelas air putih dan aspirin di meja nakas. Ini pasti dari abangnya.
"Hyung?" panggil Haejun serak, menenggak aspirin itu kemudian mengernyit. Ia bangkit, berjalan terhuyung keluar dari kamar menuju dapur dan melihat Taehyung duduk sendiri di meja makan dengan dua gelas kopi hitam. Wajah abangnya itu tampak kusut, ekspresinya tak terbaca.
"Udah bangun dari kapan?" tanya Haejun lagi, mengambil gelas kopi yang satunya dan meneguk isinya sampai habis, "bad habit-mu kayaknya sembuh ya habis kenal Jungkook."
"Dude, you smell like shit," kening Taehyung dikernyitkan tidak suka, "cepetan mandi."
"But you're more shit than me," balas Haejun, "ada apa dengan muka ketatmu itu, hyung? Patah hati?"
Taehyung sudah terbiasa memiliki adik kurang ajar seperti Haejun. Bicaranya tidak pernah sopan, pintar membantah dan keras kepala. Masih untung Haejun memanggilnya 'hyung', meskipun tidak jarang Haejun menggunakan 'hyung' itu untuk mengejeknya.
"Berisik," Taehyung membalas singkat.
Haejun, meskipun lebih suka mabuk daripada Taehyung, ia masih punya otak yang encer; kalau tidak, mana mungkin NYU mau menerimanya sebagai salah satu mahasiswa kedokteran? "Hyung, berbohong itu nggak ada gunanya. Sekali lihat mukamu, OB aja tahu kalau kamu lagi patah hati," kata Haejun seraya menarik kursi di depan Taehyung, "jadi, ini topiknya Jungkook?"
Taehyung menatap Haejun dengan pandangan datar, enggan menjawab.
"Aku baru pulang ke apartemen jam satu malam, jadi kayaknya aku ketinggalan banyak," Haejun menyeringai, "seberapa hebatnya efek Jungkook mutusin hubungan kalian berdua sampai mukamu rusuh banget kayak gini?"
"Kita nggak ada hubungan, Kim Haejun."
"Halah dusta," tukas Haejun, "inget ya hyung, aku masih punya mata buat lihat hyung senyum-senyum nggak jelas di depan ponsel dan berani pinjam mobil Nayeon buat nge-date ke Koreatown."
Taehyung mendengus. Ia bangkit, menarik blazer yang tersampir di punggung kursi dan memakainya sambil melangkah pergi.
"Mau kemana?"
"Nggak tahu," balas Taehyung singkat, "kalau Ibu nge-Skype dan nyari aku, bilang aja telepon aku langsung. Nanti tagihan pulsanya kasih ke rekeningku."
Kemudian, pintu ditutup.
Haejun mengedikkan bahunya, beranjak dari kursi untuk mencuci dua cangkir kopi. Meskipun mereka kakak-adik yang sama-sama laki-laki, memang bukan 'mereka banget' untuk cerita soal hubungan percintaan. Bayangkan saja, seorang laki-laki curhat tentang patah hati ke laki-laki lain. Kind of weird, isn't it? Dan sebagai makhluk yang didaulat untuk bersikap tegas bahkan atas perasaan sendiri, Taehyung tidak pernah bercerita soal patah hati kepada siapapun.
Bersikap tegas bahkan atas perasaan sendiri? Taehyung bahkan tidak bisa melakukan itu. Ia hanya bisa beromong kosong, tidak tahu harus bagaimana untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Mengembalikan Jungkook yang mau bertatap muka dengannya, bukan Jungkook yang pergi tergesa-gesa darinya.
Lavazza sudah buka. Ini dia tempat pertama Taehyung tidak sengaja bertemu dengan Jungkook setelah perkenalan aneh di pesta tahun baru. Taehyung ingat kopi apa yang Jungkook pesan; segelas cafe au lait berukuran grande. Dari situ Taehyung tahu kalau Jungkook juga penyuka kopi, sama sepertinya.
Memutuskan untuk membeli segelas kopi, Taehyung mendorong pintu kaca Lavazza dan semerbak kopi Italia menyeruak ke hidungnya. Berdiri di belakang seorang pria bermantel yang sibuk bermain ponsel. Mata Taehyung menatap ke arah menu di belakang kasir, sedang menimang-nimang lebih baik americano atau affogato.
Taehyung menyukai kopi secara harfiah; hanya menyukai, bukan penikmat kopi sampai hapal rasa-rasa kopi yang lain atau mendalami makna dibaliknya. Atau percaya bahwa kepribadian yang bisa ditebak dari kopi kesukaan. Atau mau belajar brewing kopi dan mengambil sekolah barista.
"Aku suka kagum gitu Tae, kalau lihat barista lagi nyeduh kopi."
"Hah?"
"Iya, apalagi yang bisa bikin bentuk-bentuk lucu di caffe latte. Aku pernah ngebayangin aku punya pacar barista yang dia nembak aku pakai tulisan di atas kopi. Uuuh, manis banget nggak sih?"
Taehyung hanya tersenyum ketika melihat binar-binar di mata Jungkook yang sedang membicarakan daydreaming-nya tentang punya pacar seorang barista.
"Ayahku pecinta kopi. Sampai rela belajar brewing biar bisa nyeduh kopi di rumah. Kalau kamu nyoba kopi bikinan ayahku, pasti langsung jatuh cinta," Jungkook mengayunkan tangannya, gestur menyuruh Taehyung untuk mendekat dan berbisik semangat, "Lavazza sama Starbucks nggak ada apa-apanya dibandingin kopi handmade ayahku."
Itu percakapan beberapa bulan yang lalu, tapi Taehyung masih ingat detailnya hingga hari ini.
Antrean memendek dan giliran Taehyung berdiri di depan kasir. Taehyung memutuskan untuk membeli 'kopi manis'—sebutan Taehyung untuk latte—cafe au lait hanya untuk teringat bahwa Jungkook pernah membeli kopi ini.
"Terima kasih dan silakan datang kembali," si kasir tersenyum ramah dan Taehyung membalasnya dengan senyuman. Disesapnya sedikit kopi itu dan nyaris tersedak tiba-tiba.
Jungkook berdiri di antrean paling belakang. Terpaku kaget menatap ke arahnya.
Sometimes, a cosmic encounter was a memorable accident. Tetapi jika dalam situasi dan kondisi yang seperti ini, setelah kejadian hebat yang kemarin, Taehyung tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana.
Maju, Kim Taehyung. Bertindaklah seperti laki-laki sejati dan berhenti menjadi pengecut!
Mendadak tangan Taehyung berkeringat. Tengkuknya terasa lembap.
"Hai."
Satu sapaan kaku dari Jungkook. Dan senyum tipisnya yang terasa asing.
"Ketemu lagi disini ya?"
Taehyung benci bagaimana rasanya menjadi orang yang asing setelah saling mengenal baik. Tapi lidahnya kelu; ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun meski semua hal yang ingin diucapkannya berkumpul di ujung lidah.
Karena itulah Taehyung berinisiatif untuk menggenggam tangan Jungkook dan menariknya pergi. Namun Jungkook justru menahannya.
"Kita bicara disini saja, oke?" kata Jungkook, cukup membuat Taehyung terkejut dengan ketenangan dalam nada suaranya, "dan biarkan aku beli kopi dulu," ia tertawa kecil.
"Aku saja yang mengantre," cetus Taehyung langsung, "kamu mau beli apa?"
Jungkook tersenyum tipis, melepas tangan Taehyung yang menggenggam pergelangan tangannya pelan-pelan. "Cappuccino ukuran grande dan quiche."
Alis Taehyung terangkat sebelah. "Kamu belum sarapan?" tanya Taehyung, "jangan minum kopi kalau belum sarapan. Kita cari restoran aja, oke?"
Jungkook menggeleng. Siapa kamu bisa mengatur ini-itu, Taehyung? "Aku udah sarapan, cuma pengin quiche aja."
"Ya sudah, kamu cari tempat. Cappuccino ukuran grande dan quiche, kan?"
Jungkook mengangguk kecil sebelum keluar dari antrean dan membiarkan Taehyung yang menggantikan posisinya. Meskipun Lavazza ramai, orang-orang lebih banyak take-out daripada dine-in. Ada beberapa meja yang kosong dan Jungkook mengambil tempat yang dekat dengan jendela.
Rasanya aneh.
Ia datang ke Lavazza ini untuk membeli kopi demi menuntaskan ngidamnya dengan kopi Lavazza. Jungkook tidak tahu bagaimana ia harus menjelaskan perasaannya ketika melihat punggung Taehyung yang berjarak tiga orang di depannya. Jungkook berharap ia memiliki kemampuan untuk bisa mimikri supaya Taehyung tidak melihatnya, namun semua terlambat ketika sepasang mata tajam lelaki itu menatapnya dengan pandangan terkejut yang kentara.
Hati Jungkook gentar; apa yang harus ia lakukan? Membuang muka dan pura-pura tidak melihat? Tersenyum dan menyapa seolah kemarin tidak ada kejadian apa-apa? Jungkook sudah memutuskan untuk berpura-pura tidak menyadari keberadaan lelaki itu ketika bibir bandelnya justru mengucapkan "Hai".
Satu silabel yang membawanya duduk di salah satu meja di Lavazza ini, berhadapan dengan Taehyung, hanya dipisah meja dan pesanan mereka.
Ada dua quiche di meja. Satu di antaranya sudah separuh dimakan oleh Taehyung, mulutnya mengunyah pelan.
"Aneh rasanya," Taehyung nyengir menatap Jungkook.
"Lidahmu memang cocoknya sama makanan Korea," kata Jungkook sambil tersenyum tipis.
Kalau situasi ini dalam keadaan normal mereka berdua, Taehyung pasti langsung terkekeh dan membalas candaannya yang terasa garing ini.
"Kok tumben beli cafe au lait?" tanya Jungkook, menatap gelas grande Taehyung yang isinya habis sepertiganya, "biasanya kan beli kopi hitamnya bapak-bapak."
Ini candaan atau ironi sih, Kook?
"Lagi pengin coba kopi manis saja," Taehyung nyengir lagi, "kadang-kadang bosen juga belinya Americano sama affogato mulu."
Jungkook tersenyum kecil, menyuapkan quiche ke dalam mulutnya.
"Jungkook."
Jungkook mendongak, merasa seperti tersengat melihat kedua mata Taehyung. Mereka tampak kelam dan gelap; Jungkook ingat dimana ia melihat kilatan yang serupa di kedua mata ini.
Di pesta tahun baru, ketika mereka pertama kali bertemu.
"Aku minta maaf."
Jungkook tersentak. "Tentang?"
"Yang kemarin," Taehyung menjawab tanpa ragu-ragu, "aku yang membentakmu di mobil."
Kedua tangan Jungkook terkepal erat di atas paha. Taehyung meminta maaf padanya, namun kenapa ia justru merasa sakit? "Ah, itu," Jungkook tersenyum tipis, "aku juga minta maaf. Memang nggak seharusnya aku lepas seatbelt pas kamu lagi nyetir."
"Ini lebih dari itu," kata Taehyung lagi, suaranya pelan, "ada alasan lain kenapa aku membentakmu sampai seperti itu."
"Dua tahun lalu, aku membunuh calon istriku sendiri."
Jungkook tertegun. Napasnya terasa berat seketika.
"Kami sedang dalam perjalanan ke Gyeonggi. Ada festival bunga canola disana dan dia pengin lihat. Aku setuju karena kami memang lebih banyak sibuk bekerja dan jarang punya waktu untuk berdua. Jadi kami berangkat pagi-pagi, jam setengah tujuh," Taehyung menarik napas, mencoba menenangkan dirinya sebelum masuk ke bagian dimana ia butuh banyak keberanian untuk mengatakannya, "jalanan ramai, tapi tidak padat. Semuanya baik-baik saja. Lalu ponselnya berbunyi, ada yang menelepon, dipikirnya itu ibunya, dia melepas sabuk dan bangkit untuk mengambil tasnya di belakang, lalu—"
"Lalu ada truk... menabrak mobil kami dari belakang dan aku... aku selamat..."
Kepala Taehyung tertunduk dalam. Butuh banyak keberanian untuknya menceritakan mimpi buruknya dua tahun yang lalu, yang masih berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya sampai sekarang ini, yang masih terngiang-ngiang di benaknya setiap detik.
Yang menjadi jarang diingatnya kembali ketika ia sedang bersama dengan Jungkook.
Setiap hal memiliki alasan mengapa hal itu ada. Seperti kebencian Jungkook terhadap bentakan, seperti ketakutan Taehyung terhadap seatbelt yang dilepas ketika ia sedang menyetir.
Beberapa saat yang lalu ia baru saja mendengar alasan mengapa Taehyung membentaknya tiba-tiba di mobil. Lelaki itu mengalami kejadian traumatis; kekasihnya meninggal dalam kecelakaan karena melepas seatbelt untuk mengambil ponsel di tasnya yang diletakkan di bangku belakang.
Psychological trauma. Sama dengan Jungkook yang trauma dibentak karena Woojin.
"Itu juga yang jadi alasan kenapa aku jauh-jauh pergi ke New York," Taehyung menambahkan dengan senyum getir di wajahnya, "aku ingin membunuh semua suara-suara di kepalaku. Mereka terus-menerus berisik di dalam sana, setiap hari, setiap malam. Mereka bilang aku pembunuh, mereka berteriak menyalahkanku yang sudah membuat Seunghee meninggal."
"New York dan kebisingannya yang tidak pernah habis inilah yang bisa membantuku tertidur."
Sejak awal mereka bertemu, Jungkook yakin Taehyung adalah lelaki yang misterius, menyimpan banyak cerita di balik bibirnya yang terkatup rapat, di belakang kata ganti 'saya' yang dipakainya di awal mereka berkenalan. Dan memang benar.
Jungkook terdiam menatap Taehyung yang duduk dengan kepala tertunduk di hadapannya. Napasnya teratur, seteratur seseorang yang mencoba menenangkan diri.
Pasti berat untuknya menceritakan kenangan buruk semacam itu.
"Tae," panggil Jungkook lirih.
"Aku benci terlihat lemah," Taehyung tertawa pahit, mencoba untuk tersenyum namun Jungkook melihat kerapuhan di kedua matanya, "lelaki mana ada yang boleh lemah kan?"
Jungkook tidak paham kenapa ada gerakan impulsif serupa tubuhnya yang tiba-tiba bangkit, duduk di sebelah Taehyung dan memberanikan diri untuk menggenggam tangannya.
"Aku baik-baik saja," Jungkook berujar pelan, "nggak ada yang perlu disalahkan dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku disini dan aku baik-baik saja."
Mungkin inilah yang namanya kutukan seorang perempuan. Tidak mampu menolak kehadiran seseorang yang disayanginya sehebat apapun masalah yang hadir diantara mereka.
Seperti Jungkook yang tidak bisa menolak Woojin ketika lelaki itu membentaknya.
Seperti Jungkook yang kini berakhir dalam pelukan Taehyung.
"Iya," suara Taehyung terdengar lirih di telinga Jungkook, "kamu baik-baik saja. Terima kasih."
Jungkook mematung. Taehyung memeluknya, erat sekali.
Apa kabar hatinya yang terombang-ambing antara percaya atau tidak kepada Taehyung jika lelaki itu saja begitu memercayainya sampai seperti ini?
"Jungkook."
"Ya?"
"Senin besok aku pulang ke Korea."
"Senin besok?" beo Jungkook, mendadak merasa dikhianati sekaligus kehilangan.
"Ya," Taehyung mengangguk di sisi kepala Jungkook, Jungkook bisa merasakan dagu lelaki itu menyentuh bahunya, kemudian Taehyung menarik diri untuk menatap wajah Jungkook dengan senyumnya yang seperti biasa, "jadi, mau jalan-jalan kan hari ini?"
Jungkook tidak pernah suka dengan perang dengan diri sendiri—a so-called when your ego and alter ego arguing about something. Jungkook yang mendesaknya untuk bicara "iya" dan Jungkook yang berusaha membantahnya dan berkata "tidak". Hal itu melelahkan, menghabiskan banyak energinya hanya untuk berdebat dengan diri sendiri.
Perempuan memiliki 9 perasaan dan 1 akal. Itulah kenapa perempuan selalu mengedepankan perasaan daripada logika.
Untuk kali ini, Jungkook membiarkan perasaannya yang mendominasi.
"Aku... agak capek," Jungkook tersenyum penuh maaf, "aku pengin istirahat di rumah aja hari ini. Nggak apa-apa kan?"
Taehyung tercenung, agak lama terdiam menatap wajah Jungkook sebelum akhirnya tersenyum maklum dan mengangguk. "Itu oke. Jalan-jalan kita yang kemarin memang bikin capek," ia tertawa kecil kemudian beranjak, "kuantar ke apartemen ya."
Selama menemani Jungkook pulang, keduanya hanya diam. Tidak ada yang menyeletuk seperti biasanya, tidak ada yang bercerita tentang apapun.
"Aku mengambil penerbangan pagi. Sekitar jam delapan," beritahu Taehyung ketika mereka sampai di depan loft Jungkook dan Seokjin, "aku benci penerbangan pagi soalnya aku harus bangun lebih awal," lelaki itu terkekeh pelan.
"Kebiasaan," balas Jungkook ikut tertawa.
Their last laugh.
Jungkook merasakan jantungnya diremat habis-habisan ketika menyadari sekaranglah waktu terakhir mereka bisa tertawa bersama.
"Karena penerbanganku pagi dan aku takut nggak sempat menemuimu, aku pamit sekarang ya," Taehyung tersenyum, mencoba menutupi segala rasa sakit yang menghunjam dadanya, "aku pulang dulu."
"Aku pulang dulu" dari Taehyung sudah tidak lagi memiliki arti bahwa mereka bisa bertemu esok harinya.
Seandainya Jungkook hanya mengedepankan perasaan, ia sudah menangis di depan Taehyung saat ini.
Rasanya perih ketika orang yang kau kenal pamit untuk pergi dan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi.
"Don't be a stranger, Tae," bisik Jungkook lirih, tidak sadar suaranya tercekat.
Taehyung tersenyum lagi, mengangguk, mengusap sebelah pipi Jungkook dengan ibu jarinya sebelum berbalik ke arah biasanya ia kembali setelah mengantar Jungkook pulang.
Jika biasanya Jungkook akan langsung masuk ke apartemen setelah Taehyung mengantarnya pulang, kali ini, ia menatap punggung Taehyung hingga hilang di ujung jalan.
Jika biasanya Jungkook akan memikirkan kemana lagi mereka akan jalan-jalan besok, kali ini, ia tidak sanggup berpikir tentang apapun.
Karena detik ini, Jungkook menyadari bahwa ia sepenuhnya mencintai Taehyung.
Sometimes, it's not the butterflies that tell you you're in love. But, the pain.
TO BE CONTINUED
a/n: chapter tiga apdet lebih awal yeee~ thanks buat yang kemarin udah baca, mereview, meng-like dan meng-fav(?) ff ini :3 chapter depan udah end, tapi mungkin apdetnya nggak secepet chapter ini.
thanks for your appreciation guys!^^
see u in the next chap!
(12 graders, happy exams! kekeke~)
