The Way We Fall

.

BTS fanfiction by soonshimie

BTS is GOD'S, BIG HIT'S, THEIR PARENT'S, ARMIES, BUT THIS STORY IS MINE and (some) IKA NATASSA's

inspired by The Architecture of Love by Ika Natassa

NO PROFIT ARE TAKEN!

HOPE U LIKE IT!

.

.

.

CHAPTER 4: FINAL CHAPTER


"Transit dimana, Nak?"

"Di San Fransisco, Bu. Saya terbang dari bandara Newark soalnya," Taehyung menjawab seraya menerima dua bungkus roti hangat dengan tangan kanannya, tersenyum sebagai ucapan terima kasih pada seorang kasir wanita, "saya sampai di Korea besok pagi. Mungkin sekitar jam delapan."

"Ibu yang jemput kamu, ya."

"Nggak apa-apa Ibu jemput saya? Sama siapa, Bu? Ayah kan masih dinas ke luar kota."

"Kan ada Pak Jung. Ibu bisa ke bandara sama Pak Jung, Ibu udah kangen banget soalnya sama kamu, Tae."

Hati Taehyung berdesir hangat. Ketika Ibu memanggilnya dengan 'Tae', hal itu membawa perasaan nyaman dalam hati. Ibu punya suara yang lembut dan menenangkan, selalu sanggup membuat Taehyung merasa jauh lebih baik dan beban di pundaknya seolah berkurang. Bagi Taehyung, dimanapun ia berada ibunya adalah wanita nomor satu, wanita yang harus segera ia turuti permintaannya sebelum meminta dua kali.

"Ibu nanti tunggunya di lounge bandara saja ya. Biar nggak berdesakan sama orang-orang pas nungguin saya di terminal kedatangan."

"Gampang. Sampai ketemu di Korea ya, Nak. Ibu kangen banget."

Taehyung tersenyum. "Saya lebih kangen lagi sama Ibu. Jangan lupa pakai baju hangat ya, Bu."

"Iya. Jaga diri baik-baik ya."

"Iya, Bu," Taehyung menjawab patuh sebelum memutus sambungan telepon. Disimpannya ponsel di saku jaket, mengemasi barang-barangnya untuk mengejar connecting flight ke Seoul.

Kalau penerbangan jarak jauh seperti New York-Seoul ini, Taehyung memilih maskapai yang layover di satu bandara. Selain harganya lebih murah dan Taehyung tidak perlu menyiksa pantatnya sampai terasa datar karena nonstop flight, Taehyung bisa—setidaknya—membeli dua bungkus roti untuk dimakannya di pesawat karena harga makanan di pesawat itu jauh dari harga normal.

Untuk mengatasi jet lag, Taehyung punya satu teori; jangan tidur semalam sebelum berangkat, pesan wine di pesawat lalu tidur sepuasnya. Taehyung pernah mempraktekkan teori konyolnya itu dan hasilnya cukup efektif.

Ada dua puluh jam lagi untuk Taehyung tiba di Korea dan kembali ke rutinitas lamanya yang membosankan. Bangun pagi, mandi, berangkat ke kantor, sibuk disana sampai malam lalu pulang ke rumah. Setelah kematian Seunghee, Taehyung jarang pulang ke apartemennya dan lebih mengutamakan untuk tinggal bersama Ayah dan Ibu.

Rutinitas lamanya sudah tentu tidak memasukkan Jungkook di dalamnya.

Pikiran yang random, tapi Taehyung suka. Selingan-selingan random itu jugalah yang menjadi pelarian Taehyung setiap ia merasa bosan. Sepeti ketika duduk diam di kursi pesawat yang empuk ini, tidak repot-repot mengajak penumpang di sebelahnya untuk mengobrol kecuali tersenyum tipis sebagai salam perkenalan mereka di awal. Taehyung tidak pintar dalam small talk, dan perempuan di sebelahnya ini juga terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Have you ever started missing someone when it's already 1 minute apart?

Taehyung menyadari bahwa ia merindukan Jungkook ketika ia duduk di connecting flight ini. Sebelum berangkat dari Bandara San Fransisco tadi, Taehyung harus mau menahan diri untuk tidak menelepon atau mengirimi Jungkook pesan. Pamitan satu kali saja mungkin sudah cukup, pikirnya.

Kemarin, ketika ia berpamitan pada Jungkook, Taehyung juga harus menahan diri untuk tidak menoleh sekali lagi. Karena jika ia kembali menatap wajah Jungkook, Taehyung tahu ia tidak akan bisa meninggalkan perempuan itu.

Dalam dua puluh jam penerbangan ini, yang setiap milnya berusaha menjauhkan Taehyung dari Jungkook, yang Taehyung lakukan adalah melamun menatap langit luas dan membiarkan flight entertainment menyala tanpa ia perhatikan.

Sesampainya di Incheon, seraya menarik kopernya dan keluar dari terminal kedatangan, mata Taehyung bergerak-gerak mencari ibunya. Di terminal kedatangan sudah banyak orang yang menunggu. Beberapa ada yang membawa papan nama dengan nama-nama asing; biasanya papan nama itu untuk menjemput murid pertukaran pelajar atau teman yang datang dari luar negeri.

"Taehyung."

Taehyung tersentak kaget ketika mendengar suara lembut yang familiar di telinganya.

Ketika kepalanya ditolehkan, ada Ibu yang mendekat ke arahnya, menyunggingkan senyum lembut yang akhirnya dilihat oleh Taehyung secara nyata.

"Bu," Taehyung maju, memeluk ibunya, menyadari bahwa ia begitu merindukan perempuan nomor satunya ini, "saya sudah pulang."


"Di New York ini, punya list tempat-tempat favorit nggak?"

"Ada. Taste of Honey, Marquee, Velvet List, Carnegie Club."

"Serius?" Jungkook melongo kaget.

"Ya nggaklah," tukas Taehyung sambil tertawa, "muka baik-baik gini nggak mungkin keluar-masuk tempat gituan."

"Ih," cetus Jungkook cemberut, "muka baik-baik apanya. Buronan gitu."

"Bales nih bales."

Jungkook tergelak. Merapatkan outerwear putihnya seraya membetulkan posisi duduknya di kursi Madison Square Garden. Di sebelahnya, Taehyung sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya. Akhir-akhir ini, lelaki itu sedang intensif-intensifnya menggambar. Menggambar apapun: gedung, pohon, rumput-rumput yang tidak penting, apapun.

"Mau dengerin list tempat favorit aku?"

"Paling nggak jauh-jauh dari Time Square atau Bergdorf."

"Taehyuuung!" pekik Jungkook kesal, nyaris melompat dari duduknya untuk memukuli bahu lelaki yang kini tertawa terbahak-bahak, "ngeselin! Pergi sana!"

"Ngambekan ini ya," kata Taehyung terus menggoda, "iya, iya, berhenti mukulnya. Aku dengerin kok."

Jungkook mendengus jengkel, melipat tangannya di depan dada sambil menatap Taehyung tajam. Sudah kenal empat bulan dan Taehyung suka sekali menggodanya sampai Jungkook rasanya kesal sekali.

"Go on, Miss," Taehyung tersenyum geli. Jungkook menatapnya seolah akan ada laser merah yang keluar dari mata perempuan itu.

"List tempat favorit aku itu lebih banyak movie theatre-nya," kata Jungkook, "kayak Lincoln Center. The Paris Theatre. Landmark Sunshine's Cinema. Tapi aku suka banget Landmark Sunshine, apalagi popcorn-nya yang dimasak pakai Morton oil dan topping-nya yang enak-enak banget itu."

"Kamu movie goers ya?"

"Aku nggak bisa nyebut diriku movie goers, tapi nonton film itu asyik banget buat membunuh waktu luang."

"Kalau gitu, mungkin aku bisa ajak kamu ke The Forum Film, di West End Street situ. Disana single room, kursinya cuma tersedia 50 seat, satu proyektor dan low budget juga. Asyik nonton disana, meskipun nggak ada popcorn yang dimasak pakai Morton oil kayak yang kamu bangga-banggakan itu," ujar Taehyung dengan cengiran di wajahnya, bermaksud menggoda Jungkook lagi dengan sindirannya.

"Cukup buat sindir-sindirannya, Mr. Kim Taehyung," tukas Jungkook dengan ekspresi datar yang lucu.

Taehyung terkekeh.

"Pernah kebawa perasaan nggak pas nonton film?" tanya Jungkook tiba-tiba.

"Hm? Aku?" Taehyung diam sejenak, mengarsir Woolman Skating Rink sambil memikirkan jawaban, "nggak pernah sih kayaknya. Mana ada laki-laki yang ikutan nangis di bioskop pas lihat tokoh utamanya nangis," lanjutnya sambil tertawa kecil.

"Film yang paling berkesan?"

"Ini kok jadi ngomongin film?"

"Udah, tinggal jawab aja susah banget."

Taehyung melirik ke arah Jungkook, tersenyum melihat ekspresi gemas perempuan di sebelahnya. Jungkook dan sepasang matanya yang besar itu, punya daya tarik tersendiri. "Film yang paling berkesan ya? Apa ya?" Taehyung menengadah menatap langit, "apa, ya... The Breakfast Club kayaknya. Film jaman 80-an lebih bagus daripada jaman sekarang, menurutku."

"Oh, filmnya John Hughes itu kan ya?"

"Iya. Buatku sih itu yang paling berkesan. Aku suka semua filmnya John Hughes, asyik aja."

"Kalau aku, 500 Days of Summer. Tahu kan? Yang diperanin sama Zooey Deschanel sama si ganteng Joseph Gordon-Levitt itu. Aku nangis pas lihat filmnya," cerita Jungkook lalu tertawa.

"Gitu ya perempuan kalau kebawa perasaan."

"Aku sampai cursing segala pas tahu Summer menikah sama cowok lain padahal Tom udah sayang banget sama dia," lanjut Jungkook lalu tersenyum, "enak ya dicintai sampai segitunya sama cowok seganteng Tom. Kalau aku jadi Summer, aku bakal percaya lagi sama cinta."

Jungkook masih ingat detail percakapannya dengan Taehyung tentang film, dan senyum Taehyung yang berhasil membekukannya sepersekian detik.

Oh, senyum Taehyung memang selalu berhasil membekukannya sepersekian detik.

Dan sekarang, ia hanya bisa melihat senyum Taehyung dan cerita-cerita lainnya melalui foto yang diambilnya ini, yang ia cetak beberapa untuk disimpan di dalam album foto dan membuatnya tercekat setiap melihat lembaran-lembarannya.

Jungkook merindukan Taehyung. Sangat.

Jungkook memang beranggapan bahwa sebuah foto dapat membekukan memori. Ia bisa melihat foto-foto itu ratusan kali dan tetap menyerukan cerita yang sama. Tapi jika yang terjadi adalah ia justru duduk termenung di atas kasurnya dan berusaha untuk tidak menangis, Jungkook lebih memilih untuk tidak mengabadikan kenangan itu dan membiarkannya mengabur setiap saat.

"Kenangan itu jahat, Kook," kata Seokjin suatu hari ketika ia mendapati Jungkook sedang membuka-buka album foto, "mereka menjajah kemerdekaan hati dan pikiran, menguasai seluruh alam bawah sadar kita hanya untuk kembali merasakan hal yang tidak ingin kita rasakan."

Seokjin benar.

Satu bulan setelah kepulangan Taehyung ke Korea dan lelaki itu tidak memberi kabar. Apapun. Mengirim "hai" saja tidak pernah.

Mungkin inilah tanda bahwa Jungkook lebih baik menyerah.

Dan lebih baik tidak memikirkan lelaki itu jika Jungkook tidak ingin hatinya kembali terluka.


"Bos, belum mau pulang?"

Taehyung mendongak sekilas dari layar komputernya, tersenyum pada Sejeong yang berdiri di muka pintu. "Masih agak lama. Kenapa memang?"

"Nggak, kantor udah sepi soalnya," kata Sejeong, "udah makan malam belum?"

"Hah?" Taehyung mengerjap kaget, melihat jam di sudut layar komputernya. 22.10. Pantas saja perutnya keroncongan dari tadi.

"Pasti belum. Bos ini ya, kalau udah kerja pasti lupa semuanya," tukas Sejeong setengah menggerutu, melangkah mendekati Taehyung, "mau makan apa nih? Biar aku pesankan."

Sebagai manajer dan sekretaris yang baik, Sejeong tidak pernah absen mengomel tentang pentingnya makan tepat waktu. Motherly feeling katanya, tapi memang perempuan sudah kodratnya untuk perhatian meskipun bentuk perhatian itu adalah omelan.

"Di dapur ada makanan nggak?"

"Ramen instan doang. Masa mau makan ramen instan malem-malem sih? Jangan ah," cegah Sejeong lebih dulu, "McDonalds aja nggak apa-apa, ya. Yang penting perutmu keisi sama nasi."

Taehyung menggeleng, beranjak dari tempat duduknya. "Aku lagi malas makan nasi. Nggak masalah sih makan ramen malam-malam. Kamu pulang aja, istirahat yang baik. Dijemput Changkyun, kan?"

Sejeong mengangguk, mengikuti langkah Taehyung keluar dari ruangan. "Kalau nggak salah, masih ada nasi instan di laci. Coba lihat deh."

"Iya, iya," Taehyung tertawa, menepuk bahu Sejeong, "terima kasih untuk hari ini ya. Kamu bekerja dengan baik."

Alasan kenapa Taehyung adalah bos yang paling digemari di kantor dibandingkan Jimin yang terlalu kalem dan Mingyu yang terlalu playful adalah sikapnya yang terbuka dan perhatian. Taehyung tidak pernah lupa tiga kalimat pusakanya; minta tolong, terima kasih, dan "kamu bekerja dengan baik."

"Kalau aku nggak ingat aku udah punya pacar, udah aku gaet kamu Bos," Sejeong tertawa, "daaah, Bos Gantengku!"

Taehyung ikut tertawa, melambaikan tangan lalu berbalik untuk pergi ke dapur.

Orang-orang di kantor hanya tiga, terhitung Taehyung dan dua orang satpam. Beberapa lampu kantor sudah dimatikan. Ruang kantor Jimin dan Mingyu sudah gelap. Jimin pulang lebih awal, pukul tujuh malam tadi karena menemani istrinya yang akan melahirkan dan Mingyu yang sedang berbulan madu di Maldives.

Lampu dapur menyala. Taehyung mencari ramen instan di buffet dan menemukan dua bungkus ramen rasa kimchi serta satu bungkus nasi instan. Cukup untuk membuat Taehyung kenyang di jam sepuluh malam ini.

Sambil merajang air, Taehyung menyiapkan bumbu dan memasak nasi instan.

"Aku bersyukur ada orang yang punya ide bikin ramen instan," kata Jungkook suatu hari, ketika Taehyung mengantarnya ke supermarket Asia di daerah Chinatown.

"Hah?" Taehyung melongo.

"Iya. Soalnya buatku ramen instan ini adalah salah satu bentuk kebahagiaan kecil yang bisa aku dapetin dengan harga murah dan cara yang mudah. Cuma merajang air, ngeracik bumbu-bumbunya, dan begitu ramennya matang kita bisa menyantapnya. Cuma kayak gitu dan kita nggak perlu susah-susah," terang Jungkook panjang lebar, kemudian senyumnya yang cantik mengembang ketika menoleh pada Taehyung, "ramen ini kayak memberitahu aku kalau masih ada hal-hal sederhana yang bikin kita bahagia."

Mendengar penjelasan panjang lebar dari Jungkook tentang ramen instan, Taehyung justru tertawa. "Kamu ini ya. Apa-apa ada filosofinya."

Jungkook ikut tertawa.

Saat itu, yang Taehyung dan Jungkook lakukan setiap hari adalah bertemu, bercerita dan tertawa.

Bukan berdiri mematung sambil mengingat-ingat kenangan dan tersenyum pedih karena tidak tahu kapan bisa seperti itu lagi.

Bunyi mendesis keras dari panci menyentak Taehyung dari lamunannya. Lelaki itu beranjak untuk menyaring ramen yang sudah matang dan mengecek nasi instannya. Taehyung punya kebiasaan untuk membuat kuah ramen dari air panas, bukan dari air rebusan ramen itu sendiri.

Di jam sepuluh malam ini, mungkin sudah masuk pukul setengah sebelas, Taehyung duduk sendiri di dapur sambil menyantap ramen dan terngiang-ngiang pada Jungkook dan filosofi ramennya.


"Udah selesai?"

"You think?" Jungkook membuka kedua lengannya, menunjukkan dua koper besar-besar yang terbuka di atas tempat tidur dan sudah terisi oleh baju-baju yang terlipat rapi.

"Mantelmu tinggalkan disini aja. Berat lho."

"Di Korea kan ada musim dingin, Jin," Jungkook tertawa.

"Ya maksudku bukan semuanya," sahut Seokjin ikut tertawa, "gila juga ya bawaanmu."

"Satu tahun di New York dan banyak diskon-diskon garage sale gitu, mana aku nggak kalap," kata Jungkook sambil nyengir.

"Yah, besok aku udah sendirian lagi disini," Seokjin duduk di tepi kasur, "gonna miss you a lot, babe."

"Belum juga naik pesawat udah kangen," kata Jungkook, tertawa, "makasih buat sweet escape-nya ya, Jin."

"You're welcome," kata Seokjin sambil tersenyum hangat, "sepupumu itu jahat banget ya, ngancem pakai dicoret dari silsilah keluarga kalau kamu nggak datang ke pernikahannya. Padahal baru dua minggu lagi."

"Bukan cuma itu alasannya. Aku bisa bangkrut makan tabungan terus kalau mau lama-lama disini," canda Jungkook, "aku juga udah ninggal Mama-Papaku lama banget. Kasihan mereka, cuma berdua di rumah."

Seokjin mengangguk-angguk mengerti. Membantu Jungkook melipat sebuah scarf cantik dan disimpan di kantung koper. Matanya menjelajah seisi kamar yang selama ini digunakan oleh Jungkook dan ekor matanya tidak sengaja menatap tas kertas Memories of New York yang masih tergeletak di dekat lemari. Nyaris tidak terlihat dan terlupakan.

"Bajunya mau dikasihkan lewat siapa?"

Jungkook menoleh pada Seokjin. "Baju apa?"

"Itu... oleh-oleh Memories of New York," kata Seokjin pelan, "baju untuk Taehyung, kan?"

Seketika air muka Jungkook berubah. Ikut menatap tas kertas yang tersimpan di dekat lemari itu. Hampir satu bulan lebih Jungkook tidak menyentuhnya. Kalau saja Seokjin tidak bertanya, mungkin Jungkook benar-benar sudah lupa.

"Aku... nggak tahu," kata Jungkook, mengedikkan kedua bahunya lemah, "nggak ada kemungkinan buatku bisa ketemu dia lagi."

Bagi Seokjin, Jungkook itu terlalu berharga untuk bersedih. Sahabatnya itu sudah melewati masa-masa yang kelam dalam kisah cintanya dan Seokjin tidak ingin Jungkook bersedih lagi karena hal yang sama. "Aku titipkan ke Haejun saja gimana? Waktu dia pulang, dia bisa memberikan kaus itu ke Taehyung."

"Kaus itu sudah nggak penting, Jin," ujar Jungkook lirih, "Taehyung mungkin sudah lupa denganku. It will be freaking out if I still give him that shirt. Biarkan ajalah, atau kasihkan ke adikmu juga nggak apa-apa."

"Jangan menyerah gitu dong, Kook," Seokjin menarik Jungkook agar menghadapnya, tersenyum lalu menarik kedua sudut bibir Jungkook supaya ikut tersenyum, "cinta itu terlalu sayang kalau dibiarkan begitu aja. Apalagi diserahkan kepada takdir."

Jungkook diam sejenak. Menatap wajah Seokjin yang penuh optimistis. Jungkook berharap ia memiliki sifat optimis Seokjin terhadap apapun, tapi ia tahu jawaban dari apa yang terjadi padanya selama ini. "Waktu aku sama Woojin, aku nggak pernah membiarkan dia," kata Jungkook, "aku memperjuangkan dia dan yang terjadi adalah seperti ini."

"Jungkook, ini berbeda," Seokjin tersenyum lembut, menerangkan dengan suara halus agar Jungkook memahaminya, "Woojin dan Taehyung berbeda. Sangat berbeda. Taehyung juga mencintaimu, kamu harus tahu itu."

"If only he said so," Jungkook tersenyum tipis, "udahlah, nggak penting juga. Lebih penting makan malam. Perutku keroncongan dari tadi," senyum tipisnya berubah menjadi cengiran yang lucu.

Seokjin tertawa kemudian merangkul Jungkook. "Iya, iya. Dinner di The Spotted Pig yuk. Udah lama nggak kesana kan?"


Hidup Taehyung adalah rutinitas. Awalnya ia menciptakan rutinitas untuk mengurangi memikirkan Seunghee, dan sekarang bertambah untuk tidak membuatnya distract pada Jungkook. Bohong besar kalau Taehyung tidak merindukan perempuan itu tapi Taehyung tidak bisa jika harus menghubunginya. Hampir dua bulan Taehyung tidak menghubungi Jungkook, dan setelah waktu yang lama tidak saling kontak, Taehyung rasa ia tidak bisa seenaknya tiba-tiba bilang "hai".

Rutinitasnya setiap hari adalah bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat ke kantor, sibuk disana sampai malam, pulang, mandi lalu tidur. Besok juga sama, tinggal pencet tombol repeat. Konstan, tapi Taehyung membutuhkannya.

Setibanya di Korea, Taehyung sengaja untuk langsung menceburkan diri ke dalam banyak proyek, bertemu dengan banyak klien, menyibukkan diri dengan pekerjaan agar lupa pada rutinitasnya dulu di Amerika ketika yang ia lakukan setiap hari adalah bangun tidur, mandi, sarapan, jalan-jalan sepuasnya dengan Jungkook, keliling New York dengan jalan kaki atau naik bus. Rutinitas yang diam-diam Taehyung rindukan.

"Tae, nanti jam sembilan temani Ibu ke rumah sakit ya. Ada check-up routine," kata Ayah ketika Taehyung turun ke ruang makan untuk sarapan.

"Baik, Yah," Taehyung menjawab patuh.

"Hari Minggu begini tumben banget bangunnya lebih awal?" tanya Ibu, tersenyum menggoda Taehyung sambil membuka bungkus kkultarae.

"Saya baru selesai lari, Bu," jawab Taehyung sambil nyengir, "ah Ibu bikin saya malu aja."

Ibu terkekeh, menyodorkan dua kkultarae ke piring Taehyung. "Coba kkultarae buatan Ibu, Tae. Isinya madu. Enak lho. Ayahmu sampai nambah empat kali."

Taehyung tersenyum lalu mengambil satu kkultarae di piringnya. Sekilas teringat pada Jungkook ketika mereka makan di Jongro dan Jungkook memesan kkultarae. "Enak beneran, Bu," puji Taehyung, kedua matanya berkilat-kilat senang.

"Lembut ya, kkultarae-nya?" tanya Ayah meminta persetujuan.

Taehyung buru-buru mengangguk, melahap kkultarae satu lagi dan rasa lembut benang-benang kkultarae serta manis madu bercampur di lidahnya. "Di New York saya pernah beli kkultarae, tapi rasanya nggak seenak buatan Ibu."

Wajah Ibu berseri-seri. Senyum beliau yang cerah mengembang. "Ini yang Ibu suka kalau kamu di rumah, Tae," kata Ibu, menatap Taehyung penuh kasih sayang, "ada yang mau makan masakan Ibu, nggak cuma Ayah, jadi masakan Ibu nggak terbuang sia-sia."

"Apalagi kalau ada Haejun, ya. Pasti langsung habis semua," tambah Ayah dan meja makan itu dipenuhi tawa. Haejun dan Taehyung sama-sama punya perut lambung kapal, apa-apa masuk, apa-apa dimakan. Tapi untungnya untuk Ibu, masakan apa saja tidak pernah ada sisanya.

"Tae, malam hari ini ikut Ayah sama Ibu ya."

"Hm?" Taehyung menengadah, pipinya setengah menggelembung karena mengunyah kkultarae, "kemana, Bu?"

"Ke Busan."

Taehyung nyaris tersedak. Mendadak jantungnya berdebar kencang. Busan?

"Busan?"

"Iya. Ada pernikahan anak dari temannya Ayah. Itu lho, Dokter Kim Hyub. Sekalian pergi ke Daegu, Ayah mau tengok kebun Ayah."

Taehyung manggut-manggut. Merasa tidak asing dengan sebuah nama yang barusan disebutkan ibunya. "Dokter Kim Hyub yang jadi langganan saya kalau saya lagi sakit pas dulu saya masih kecil itu kan Bu?" tanya Taehyung memastikan.

Ibu tertawa. "Iya, yang itu. Anak laki-lakinya yang sulung seumuran denganmu menikah pagi ini, pestanya malam ini. Jam delapan malam."

"Sabtu begini biasanya macet, Bu. Berangkatnya sekitar jam tiga atau jam empat sore," kata Taehyung, melirik jam di pergelangan tangannya, "kalau kita berangkat jam segitu, make up-nya Ibu bisa luntur."

"Pestanya diadakan di hotel. Dokter Park berbaik hati menyewakan satu kamar hotel untuk Ayah dan Ibu. Nanti kamu bisa pesan kamar sendiri kan, Tae?" Ayah mengerling dari balik cangkir kopinya.

Taehyung menggaruk kepalanya, hanya cengar-cengir tidak jelas.

"Aduh Yah, memangnya Taehyung itu sopir, kok disuruh pesan kamar sendiri," sergah Ibu lalu tertawa, "bercanda Ayahmu itu. Sama Dokter Kim sudah disewakan juga kamar buat kamu."

"Ini nggak ada niatan yang aneh-aneh kan Bu?" Taehyung bertanya was-was.

"Hah? Niat aneh-aneh apa?" Ibu balik bertanya, keningnya dikernyitkan heran.

"Ya... itu," Taehyung menjeda kalimatnya sejenak, masih menatap Ayah dan Ibu dengan tatapan was-was, "saya dijodohkan atau gimana gitu sama anaknya Dokter Kim."

"Anaknya Dokter Kim itu dua-duanya laki-laki. Kamu mau dijodohkan sama laki-laki?" kata Ayah sambil tertawa, "lagipula, kamu kan sudah dewasa. Buat apa juga dijodohkan, ya kan Bu?"

Ibu tersenyum menanggapi. Jenis senyum yang menunjukkan beliau tahu bahwa Taehyung punya janji untuk bercerita soal perempuan di New York yang bisa mengubah Taehyung kembali seperti semula. Siapa lagi kalau bukan Jungkook.

"Anak Ibu ini nggak perlu dijodohkan juga sudah banyak yang mengantre," tambah Ibu mulai iseng.

Taehyung hanya cengar-cengir tidak jelas meskipun dalam hati justru kebat-kebit kebingungan.

Bukan tanpa alasan Taehyung tiba-tiba gugup ketika mendengar ibunya menyebutkan nama Busan. Semalam ketika Taehyung iseng membuka akun Twitter-nya yang cuma diisi Harvard Business Review, Sports Illustration dan sejenisnya, ia menemukan sesuatu yang mengejutkan; sebuah related post dari Sejeong yang me-retweet tweet dua minggu yang lalu milik Jungkook. Sebuah foto Busan skyline dan caption "Touchdown to Busan!" yang dibalas dengan ceria oleh Sejeong "Welcome home, Jungkook-ssi! Aku nunggu-nunggu banget ini graphic novel-mu yang baru!"

Taehyung baru ingat kalau Jungkook punya akun media sosial seperti Twitter. Di New York, Taehyung tidak sekali-dua kali diminta memotret Jungkook untuk di-share dengan para pembaca bukunya. Sejeong termasuk dari mereka.

Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah Jungkook ada di Korea sejak dua minggu yang lalu.

Busan tidak sebesar Queens apalagi New York. Awalnya Taehyung berharap ia bisa bertemu dengan Jungkook, namun ia ditampar oleh satu kenyataan.

Busan memang tidak sebesar Queens apalagi New York, tapi Taehyung tidak selalu bisa bertemu dengan Jungkook lagi.


Jungkook pernah membaca The 10 Greatest Love Letter of All Time ketika umurnya masih remaja labil. Surat-surat cinta itu ditulis oleh para lelaki yang paling berpengaruh pada masanya; Napoleon Bonaparte, Johnny Cash, Richard Burton, Ernest Hemingway sampai Beethoven. Dari sepuluh surat cinta itu, Jungkook paling suka dengan surat cinta dari Winston Churchill untuk istrinya Clementine Churchill. "Time passes swiftly, but is it not joyous to see how great and growing is the treasure we have gathered together, amid the storms and stresses of so many eventful and, to millions, tragic and terrible years?"

Rasanya menakjubkan mengetahui laki-laki strict seperti Winston Churchill ternyata memiliki hati melankolis yang lembut.

Setiap hal yang dilandasi oleh rasa cinta selalu memiliki kekuatan ajaib. Jungkook tidak perlu menyebutkan apa saja contohnya, cerita-cerita Disney sudah menunjukkan padamu apa contohnya kekuatan ajaib yang didasari oleh rasa cinta. Tapi melihat sepupunya berdiri dengan senyum lebar dalam balutan tuksedo putih yang rapi membuat Jungkook sekali lagi sadar, love has power itself.

"Ini baru pemberkatan di gereja tapi senyummu udah lebar banget," Jungkook tertawa.

"Akhirnya," Kim Jongin menyeringai, binar-binar di kedua matanya sama cemerlangnya dengan seringainya, "perjuanganku empat tahun Jerman-Korea berbuah manis."

Menurut Jungkook, Jongin dan perempuan yang dinikahinya ini, Do Kyungsoo, is kind of unusual couple—mereka awalnya highschool sweethearts yang memutuskan untuk 'berhenti sejenak'. Jongin melanjutkan sekolah dokter di Korea sementara Kyungsoo pergi ke Jerman demi cita-citanya menjadi diplomat.

"Menikahi Kyungsoo itu butuh banyak modal keberanian dan strategi, Kook," kata Jongin, kemarin beberapa hari yang lalu ketika pemuda itu menemani Jungkook mengambil gaun bridesmaid, "dia itu sudah cantik, pintar, bisa debat, lidahnya kayak belut, ada aja fakta yang bisa diputarbalikkan. Tapi selicin-licinnya belut, pada akhirnya bisa ditangkap kalau kita punya strategi dan cara yang tepat."

"Ngomong apaan," Jungkook tertawa.

"Eh, iya ini serius," kata Jongin sungguh-sungguh, "banyak laki-laki yang ngejar dia, mau menjadikan dia istri, bahkan bule-bule juga ikut kecantol. Yang kerennya, Kyungsoo suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang agak nonsense, kadang terlalu realistis sampai kita nggak bisa menjawabnya."

"Kayak sayembara gitu ya."

"Nah, betul," Jongin mengangguk setuju, "makanya itu, tadi aku kan sudah bilang, kalau mau menangkap belut harus punya strategi dan cara yang tepat. Berdebat sama Kyungsoo itu sudah jadi hal yang biasa buatku, tinggal ditambahi satu strategi licik, and now she's going to be Mrs. Kim Kyungsoo."

"Memangnya orang bule, pakai ganti marga segala," Jungkook menyergah sambil terkekeh.

"Ya nggak apa-apa, biar manis aja," kata Jongin, ikut terkekeh.

Tidak ada yang menyangka kalau Kim Jongin yang slebor dan "semau-aku" ini ternyata punya otak yang encer dan agak licik.

"Masih heran lho aku, kok Kyungsoo masih mau sama kau dan sekarang malah jadi istri," goda Hoseok iseng.

"Kekuatan cinta ini, Bro, apalagi?" sahut Jongin kelewat pede, "aku lupa nggak merekam wajahnya waktu aku datang ke rumahnya masih pakai jas dokter dan stetoskopku masih di saku jas. Chill, dia kayak mau bunuh aku," ia tertawa.

"Hah? Kok bisa?"

"Penampilannya Jongin hyung gembel banget waktu itu. Kebetulan habis menangani pasien gawat darurat, masih bau antiseptik rumah sakit, bukannya bau parfum," Jisung, adik Jongin yang menjawab.

"Dude," Jungkook tergelak, "if I were Kyungsoo, I'd like to slap you on the face."

"Jahat amat," komentar Jongin.

"Ya gimana, niatnya mau melamar tapi malah bawa bau antiseptik dan bukannya bunga. Ya kan, Kook?" Chaeyoung menimpali yang dibalas Jungkook dengan anggukan.

"Dasar perempuan-perempuan kejam," gerutu Jongin main-main kemudian melirik jam tangannya, "satu jam lagi. Aku ke kamar sebelah ya, mau mengecek Kyungsoo sudah siap atau belum," ia berlalu lebih dulu, beranjak menuju kamar tempat Kyungsoo dirias diikuti Jisung.

"Nyangka nggak, laki-laki slengean macam Jongin ngedahuluin kita punya buku nikah?" tanya Chaeyoung, menatap Jungkook dan Hoseok bergantian, "padahal aku pikir dia yang bakal menikah paling terakhir."

Jungkook dan Hoseok terbahak.

Beberapa saat kemudian, Jungkook sudah berdiri di barisan kedua bangku gereja bersama dengan Hoseok dan Chaeyoung. Mata Jungkook tidak lepas dari Kyungsoo yang tampak cantik dalam gaun pernikahannya, berjalan diiringi sang Ayah menuju Jongin yang berdiri di altar. Hampir seumur hidup mengenal Jongin, Jungkook tidak menyangka laki-laki seperti sepupunya itu bisa berubah 180 derajat di depan perempuan yang ia cintai.

"Dicintai itu rasanya enak," Jungkook masih ingat perkataan Jongin kemarin, "rasanya itu kayak akhirnya kamu punya tempat berlabuh, tempat istirahat yang pas, bukan numpang berhenti. Kayak sudah resmi disitulah rumahmu berada yang bakal jadi tempatmu pulang setiap kamu capek."

Sayangnya, Jungkook sudah lupa bagaimana rasanya dicintai dan dijadikan tempat berlabuh untuk pulang.

Yang ia rasakan selama ini hanyalah tempat pemberhentian dan bukan rumah.

Jungkook tersenyum tipis. Nasibnya yang menyedihkan. Menatap Jongin dan Kyungsoo yang berdiri berdampingan di altar, mengucap janji suci dan mengikat diri sehidup semati, entah kenapa membuat Jungkook sedikit iri. Wajar kan, merasakan iri ketika melihat sepasang kekasih akhirnya menikah sementara diri sendiri terombang-ambing menyedihkan; menunggu kabar dari seorang lelaki yang seperti menghilang ditelan Bumi?

"Kook, sudah coba makanan-makanannya belum?"

"Hm?" Jungkook mendongak, ada sepupunya Chaeyoung yang sejak tadi Jungkook lihat sibuk mengunyah makanan. Ada tiga rangkaian acara di pesta pernikahan Jongin dan Kyungsoo; pemberkatan, garden party dan malamnya baru pesta yang sesungguhnya. Para bridesmaid memakai baju dengan warna yang sama; burgundy. "Sudah, sih, tapi cuma takoyaki-nya aja. Masih agak kenyang habis garden party tadi."

"Kacau ini pernikahannya Kkamjong! Makanannya enak-enak semua!" gelak Chaeyoung, "tadi aku mampir ke gubuknya tom yum, gilaaaa enak banget tom yum-nya!"

Jungkook ikut tertawa. "Nggak takut gendut, Chae?" godanya.

"Ih, nanti-nanti aja itu gendutnya. Mumpung banyak makanan ini, enak-enak, gratis pula," tukas Chaeyoung sambil mengerlingkan matanya jenaka, "coba deh ke gubuknya tom yum. Nagih. Atau ke gubuknya mie laksa. Thailand street snacks-nya juga oke."

Jungkook hanya tersenyum sambil mengangguk. Matanya berkeliling menandai gubuk-gubuk makanan yang tadi disebutkan Chaeyoung dan seketika perutnya menegang ketika matanya terpusat pada sesuatu.

Atau lebih tepatnya, pada seseorang.

Kim Taehyung. Ada disana. Bersama ayah dan ibunya yang sedang mengenalkan Taehyung kepada teman-teman mereka, yang kini tersenyum sopan sambil sesekali menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padanya.

Kim Taehyung, out of all the places, kenapa dia harus ada disini?

Jungkook merasakan kakinya gatal ingin pergi, wajahnya ingin ia palingkan, namun Taehyung sudah terlanjur mendongak dan menatapnya.

Sepasang mata itu sama terkejutnya dengan dirinya. Sepasang mata yang Jungkook rindukan.

Demi Tuhan, Jungkook tidak ingin Taehyung melihatnya. Melihat seluruh kerinduan yang tergambar jelas di wajahnya, melihat dirinya yang begitu menyedihkan.

Jungkook ingin pergi. Ia tidak ingin bertemu dengan Taehyung jika keadaannya seperti ini.

"Chae, aku balik ke kamar ya."

"Hah?" Chaeyoung mengerjap kaget, "belum selesai ini pestanya, kok udah mau balik ke kamar?"

"Aku... agak nggak enak badan," Jungkook tersenyum tipis, "aku balik duluan ya, Chae."

"Oh, oke deh kalau gitu," kata Chaeyoung, menempelkan punggung tangannya di kening dan pipi Jungkook, "agak hangat sih. Kayaknya kamu masuk angin deh. Yaudah, istirahat aja."

Jungkook mengangguk lalu melangkah pergi, keluar dari ballroom itu. Berharap seandainya Taehyung melihatnya pergi, lelaki itu mengerti Jungkook tidak ingin bertemu dengannya.

"Jungkook."


"Tae, Ibu bawa tiga set tuksedo. Kamu mau pakai yang mana?"

Datang ke pesta pernikahan dengan Ibu sama repotnya dengan hari pertama interview pekerjaan; baju mana yang pas, pantas dan match. Baju mana yang akan menimbulkan first impression paling keren dan hardly to forget. Taehyung hanya melongo melihat tiga tuksedo yang dibungkus plastik. Taehyung bahkan bukan best-man apalagi groomsmen, kenapa harus repot memilih baju segala?

"Yang marun cakep banget lho, Tae," Ibu menyodorkan kemeja merah marun yang dilapisi jas hitam ke arah Taehyung, memandangi putranya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu menggantinya dengan yang berkemeja biru kemudian putih.

"Anak Ibu ini saking gantengnya kayak semua baju jadi cocok."

Taehyung hanya nyengir.

Di sudut kamar, sambil membaca berita di iPad, Ayah tertawa kecil.

"Yang ini saja deh, Bu," Taehyung mengambil yang paling netral; kemeja putih dengan garis hitam di kerahnya, collarless tuxedo dan dasi kupu-kupu.

"Eeeeh, dasinya jangan yang itu!" cegah Ibu tiba-tiba, membuat tangan Taehyung tertahan di udara, "jelek ini dasinya. Nggak usah pakai dasi ya, Tae. Biar kelihatan cool."

Taehyung mengangguk patuh. Ya sudah, terserah Ibu deh.

Seharusnya Taehyung bisa membaca gelagat excited Ibunya yang sampai membawakannya tiga set tuksedo; apalagi kalau bukan membawa Taehyung kesana-kemari untuk dikenalkan dengan teman-temannya—sekaligus anak-anak perempuan mereka?

Taehyung tidak sekali-dua kali diikutkan acara semi-perjodohan seperti ini. Ibu sadar kalau putra sulungnya ini punya wajah yang menarik namun sayangnya pasif terhadap wanita. Jadi Ibu selalu bersemangat untuk memperkenalkan Taehyung dengan anak-anak perempuan teman-temannya yang kira-kira cocok dengan Taehyung, mengatur beberapa jadwal kencan buta yang selalu berakhir sia-sia karena Taehyung itu pasif.

Terjebak diantara ibu-ibu half-socialite dan anak-anak perempuan mereka yang seringkali melirik ke arah Taehyung dengan senyum yang ganjil bukan hal terakhir yang Taehyung inginkan. Ia memilih untuk menyibukkan diri, menyapukan pandangan ke seisi gedung, mengamati model bangunan ball room dan dekorasinya yang memukau sampai matanya tertuju pada seseorang.

Seorang perempuan muda, yang juga menatap ke arahnya dengan pandangan terkejut, hanya dua detik pandangan mereka saling bertaut namun Taehyung tahu benar perempuan itu adalah Jungkook. Jungkook yang ia rindukan.

Taehyung tidak akan pernah lupa betapa cantiknya seorang Jeon Jungkook. Meskipun hanya memakai baju kasual yang terkesan malas-malasan, dengan make up atau tidak, Jungkook sudah cantik dengan caranya sendiri. Dengan pembawaannya yang manis, dengan seluruh apa yang ada dalam dirinya.

Malam ini, Taehyung tidak tahu ia harus berbuat apa ketika melihat Jungkook berdiri agak jauh darinya dengan rambutnya yang dipotong sebahu dan digerai lembut, dengan gaun selutut berwarna burgundy yang seksi dan loose shoulder yang membuat Taehyung tidak tahan untuk tidak melepas jasnya. Kenapa para perempuan suka sekali menantang angin malam hanya dengan memakai gaun berkerah terbuka seperti itu?

Hanya dua detik matanya dan mata Jungkook saling bertaut namun cukup untuk membuatnya sadar ia begitu merindukan perempuan itu.

"Kenapa, Tae? Ada siapa?"

Taehyung tersentak kaget, menoleh pada ibunya yang ikut melihat ke arah yang sama. "Oh, nggak apa-apa, Bu. Saya kayak kelihatan teman lama," jawab Taehyung, berusaha untuk tenang.

"Ibu kira kamu lihat hantu. Wajahmu tegang sekali," seloroh Ibu sambil tertawa.

Taehyung melirik sekilas ke tempat Jungkook berdiri, mendadak mencelos ketika melihat tidak ada Jungkook disana. Mata Taehyung bergerak cepat menyapu seluruh ruangan, merasa sedikit lega melihat punggung Jungkook menjauh, hendak pergi keluar.

Tidak. Taehyung tidak boleh kehilangan Jungkook lagi. Ia harus secepatnya mengejar Jungkook atau perempuan itu akan hilang lagi dari jangkauannya.

"Bu, saya ke toilet sebentar," kata Taehyung lirih di telinga ibunya sebelum bergerak cepat melintasi ruangan. Berusaha mengejar Jungkook agar tidak kehilangan perempuan itu.

"Jungkook."

Sepasang langkah kaki jenjang berbalut sepatu hak tinggi berwarna perak itu berhenti melangkah kemudian berbalik.

"Oh, Taehyung."

Suara Jungkook lirih, namun tetap terdengar lembut di telinga Taehyung. Tetap sama seperti yang diingat Taehyung, meskipun Taehyung tidak pernah mendengarnya lagi selama dua bulan.


"Jungkook."

Sebenarnya Jungkook bisa saja memilih untuk tidak mendengar, terus melanjutkan langkah supaya ia tidak lagi melihat laki-laki itu. Namun yang terjadi adalah justru sebaliknya.

Dan disinilah Kim Taehyung. Berdiri dihadapannya, dengan setelan jas rapi dan rambut yang dipangkas sedikit lebih pendek dari yang Jungkook ingat. Tetap tampan seperti dulu, tetap tegap seperti dulu, dan tetap membuat Jungkook lemas karena tatapannya seperti dulu.

"Oh, Taehyung," Jungkook menyapa lirih, menarik segaris senyum yang Jungkook tidak tahu bagaimana rupanya.

Taehyung maju beberapa langkah, memotong jarak di antara mereka hingga Jungkook bisa mencium aroma wangi yang sama seperti dulu. Seperti dua bulan yang lalu, seperti ketika Jungkook menginginkan hal yang hadir diantaranya dan Taehyung adalah teman jalan-jalan, bukan cinta.

"Mempelai laki-lakinya sepupuku," kata Jungkook, merasa bodoh tiba-tiba—memangnya Taehyung harus tahu tentang siapa yang menikah?

"Orangtua mempelai laki-lakinya teman Ayahku."

Jungkook mengulum segaris senyum tipis. Suasana canggung ini membuatnya tersiksa. Mereka pernah saling mengenal baik, tapi keadaan yang berubah 180 derajat ini membuat Jungkook merasa asing.

"Kapan sampai di Korea?" tanya Taehyung, suaranya dibuat rendah seperti hanya ingin mereka berdua yang tahu, di lorong ball room hotel ini.

"Dua minggu yang lalu," jawab Jungkook, agak gentar berada sedekat ini dengan Taehyung, "karena mempelai laki-lakinya sepupuku, jadi aku sekalian memutuskan untuk pulang ke Korea."

"Kenapa nggak pernah kasih kabar kalau kamu sudah ada di Korea sejak dua minggu yang lalu?"

Jungkook menggeleng. Berusaha menambahkan perlindungan untuk dirinya dengan mendekap sikunya sendiri. "Kamu juga nggak pernah mengabari apapun padaku sejak dua bulan yang lalu," balasnya lirih, telak menghantam Taehyung dengan jawabannya.

Skak mat. Taehyung tidak bisa membalas apa-apa kecuali menatap Jungkook dengan pandangan nanar. Jungkook benar. Ia sendiri tidak memberi kabar apapun pada Jungkook, bagaimana bisa ia mengharapkan Jungkook yang menghubunginya?

"Jungkook," Taehyung hendak maju selangkah namun tertahan karena Jungkook justru mundur. Ada rasa perih yang menyergap jantungnya tiba-tiba. Jungkook menghindarinya, lagi. "Aku kangen kamu."

Taehyung bisa melihat bahu Jungkook menegang setelah kalimat itu terlepas dari bibirnya.

"Dua bulan kita nggak bertemu, aku bersyukur kita bisa bertemu lagi disini," lanjut Taehyung, pelan-pelan mencoba untuk meraih Jungkook namun perempuan itu tetap sama. Tetap berusaha menjaga jarak dari Taehyung, bahkan enggan menatap matanya.

"Jungkook, aku minta maaf."

"Tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus dimaafkan," cetus Jungkook, suaranya gemetar, "berhenti meminta maaf padaku, Tae. Kamu membuatku terlihat buruk."

Oh, shit. Lihatlah. Kenapa semuanya jadi begini?

Jungkook merasakan hatinya ngilu ketika fragmen momen tentangnya dan Taehyung di New York merangkak naik ke permukaan. Momen ketika ia menunggu-nunggu jam delapan pagi, ketika Taehyung datang menjemputnya, menunggunya sambil bersandar di dinding toko. Ketika yang ia dan Taehyung lakukan adalah tertawa, saling bercerita dan melempar lelucon-lelucon tidak penting. Ketika yang ia inginkan adalah tetap bersama dengan Taehyung, bukan menjauhi laki-laki itu.

"Tidak, memang seharusnya aku minta maaf. Aku yang buruk, bukan kamu."

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dan meminta maaf, Taehyung," potong Jungkook, suaranya terdengar tersiksa, "apa yang sudah kita lakukan sampai akhirnya jadi seperti ini?"

Taehyung diam, kepalanya ditundukkan.

Semua emosi yang dirasakan Jungkook—terkejut karena keberadaan Taehyung, rasa rindunya kepada laki-laki itu, lelah karena seharian ini mengikuti rangkaian acara pernikahan Jongin, putus asa dengan perasaannya sendiri—semuanya seperti gelombang ombak besar yang menghantamnya keras. Jungkook memejamkan mata, berusaha meredakan pusing di pelipisnya yang berdenyut.

"Kita bisa mengobrol tentang ini di hari lain," kata Jungkook akhirnya, menyerah karena tidak bisa mengatur emosi dan merasa dirinya begitu lelah.

Taehyung mendongak. "Aku ada proyek di Jepang," katanya, "aku disana tiga bulan."

Proyek lagi, pergi lagi dan menghilang lagi. Seharusnya Jungkook tahu tentang itu sehingga ia tidak perlu berharap banyak-banyak. Menghela napas, Jungkook hanya mengangguk kecil. "Setelah kamu pulang juga tidak apa-apa," ujar Jungkook, bibirnya menyunggingkan senyum tipis, "aku pulang dulu."

Jungkook berbalik, melangkah pergi mendahului Taehyung. Ada satu denyutan nyeri ketika Jungkook memilih untuk pergi; denyutan yang sama yang ia rasakan ketika Taehyung berpamitan untuk pulang ke Korea, ketika laki-laki itu menjauh dan tidak berbalik sama sekali. Saat itu Jungkook berharap Taehyung akan menoleh dan memberinya satu senyuman sekali lagi untuk Jungkook bawa pulang, namun tidak; dia terus berjalan, lurus, tidak menoleh sedikitpun dan hilang ditelan tikungan.

Jungkook rindu pada hari-hari dimana ia dan Taehyung hanya perlu bertemu, bukan berpisah.

Satu cekalan tangan di pergelangan tangannya membuat Jungkook menghentikan langkah tiba-tiba dan tangan itu menariknya dalam pelukan. Pemilik pelukan itu boleh menghilang berbulan-bulan, tapi Jungkook akan selalu ingat bagaimana pemilik pelukan itu mendekapnya hangat.

"Setidaknya biarkan aku memelukmu," kata Taehyung dengan suaranya yang dalam, suaranya yang Jungkook rindukan setiap kali Jungkook hanya bisa menatapnya melalui foto, "I really missed you, Jeon Jungkook."

Jungkook terperenyak. Napas hangat Taehyung menyentuh bahunya.

Cara Taehyung menyebutkan namanya, cara Taehyung memeluknya, cara Taehyung meletakkan dagu di bahunya.

"Aku mencintaimu."

Dan cara Taehyung mengungkapkan perasaannya. Semuanya berhasil membuat Jungkook merasa lututnya berubah selembek jeli.

Taehyung bukan seseorang yang bisa mengatakan secara gamblang apa yang ia rasakan. Lelaki itu melakukannya dengan tindakan atau dengan ekspresi, bukan dengan kata-kata. Tapi kata cinta yang baru saja keluar dari bibirnya, ia melakukannya seolah tidak ada lagi yang lebih ia yakini.

"Aku mencintaimu, Jeon Jungkook."

Dua kali.

Jungkook menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan air matanya yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Tiga suku kata itu punya efek yang luar biasa untuknya lebih dari yang Jungkook duga.

"Taehyung juga mencintaimu. Kamu harus tahu itu."

"If only he said so."

Disini, di koridor ball room yang sepi ini, hanya satu-dua orang berlalu-lalang dan selebihnya hanya ada mereka berdua, Taehyung sudah mengatakannya.

Jungkook tidak bisa lebih percaya lagi dari ini.

Diangkatnya sebelah tangan, ragu sejenak apakah ia harus membalas pelukan Taehyung atau tidak namun detik itu juga Jungkook memutuskan berhenti untuk ragu.

Dipeluknya tubuh tegap Taehyung, meletakkan kepalanya di bahu lelaki itu dan merasakan keberadaan Taehyung secara nyata; napasnya, naik-turun dadanya yang seiring dengan degup jantungnya, aroma parfumnya, dan kedua lengannya yang melingkar di pinggang Jungkook. Semuanya seperti lubang hitam yang menyedot Jungkook untuk terjebak disana, terperangkap namun enggan untuk pergi.

"Kamu tahu jawabanku," balas Jungkook, pelan, tersirat namun Taehyung bisa mendengarkan dan membacanya dengan baik.

Pelukan itu dieratkan. Senyuman itu melengkung manis.

"Jangan pergi dan menghilang lagi seenaknya," gumam Jungkook, "aku lelah menunggumu."

Taehyung tertawa. Mengusakkan hidungnya di rambut Jungkook.

Tidak, ia tidak akan pergi dan menghilang lagi semaunya. Karena Jeon Jungkook adalah rumah tempatnya pulang, untuk kembali setelah perjalanan jauh, untuk beristirahat setiap ia lelah.

Inilah seninya mencintai dan dicintai. Cerita dan bagaimana cara Taehyung dan Jungkook untuk jatuh cinta mungkin berbeda dari orang lain, namun sejatinya hanya ada satu akhir di setiap cerita.

Jungkook menarik napas panjang, menghirup dalam-dalam aroma parfum Taehyung yang ia sukai sejak pertemuan intens mereka di New York dulu. Tersenyum, lalu menyamankan dirinya dalam pelukan Taehyung.

Our life is full of cosmic encounter, or serendipity, whatever you name it. But sometimes, all the pieces fit together in a perfectly weird way, like us, right, Tae?

END OF THE STORY.


author's note: [in jungkook voice] FINALLY! Akhirnya sebelum un nggak punya tanggungan ff :') hope u like it, readers, and thanks for accompany me to finish it :) dan karena aku jatuh cinta sama taekook disini dan cinta sama taekook selamanya(?) HERE THE BONUS FOOTAGE! get ready for believe in love :)


BONUS FOOTAGE!

"Jungkook-ssi, aku suka novelmu yang baru. Ceritanya seperti asli, bukan fiksi."

Jungkook tersenyum manis mendengar pujian yang dilontarkan salah seorang pembacanya. Membubuhkan tanda tangan di halaman pertama buku New York, The City of Love-nya dan menambahkan tulisan Hello, Sejeong-ssi. Happy reading! dibawahnya. "Benarkah? Terima kasih untuk pujiannya."

Pembaca perempuan itu mengangguk. "Jungkook-ssi, aku boleh memelukmu?"

"Tentu saja," Jungkook menjawab riang, berdiri lalu memeluk pembacanya itu. Inilah yang Jungkook suka dari dunia kepenulisannya. Tidak ada yang perlu disembunyikan, bahkan jika itu hanya sekadar pelukan.

"Oh ya, Jungkook-ssi, aku ingin tanya sesuatu."

"Hm? Tanyakan saja," Jungkook tersenyum.

"Aku suka melihat lembaran thanks for-mu. Disitu kamu menuliskan sedikit proses menulis novelnya, dan aku menemukan satu nama disana. Kim Taehyung. Siapa dia?"

Raut Jungkook terlihat terkejut untuk sepersekian detik namun digantikan oleh senyum. "Hanya seseorang yang spesial, itu saja."

Jungkook tidak berbohong. Kim Taehyung sudah menjabat sebagai seseorang yang spesial untuknya, yang akan disertakan Jungkook di setiap lembaran ucapan terima kasihnya dengan embel-embel 'suami' beberapa bulan lagi.

Kim Taehyung yang suka jahil, suka makan, terkadang menyebalkan dan susah untuk romantis itu adalah calon suaminya setelah dua tahun berpacaran.

"Sudah selesai?" hal yang pertama dilihat Jungkook ketika ia memasuki kamar hotel ini adalah Taehyung yang tersenyum, berdiri menyambut Jungkook yang baru saja selesai dari acara launching novel barunya di ball room Park Hyatt Seoul. Taehyung sempat melihat calon istrinya itu di panggung, sedang menjelaskan proses menulis novel barunya yang langsung ludes dalam hitungan detik itu dan sesekali menjawab beberapa pertanyaan dari MC dan pembaca. Jungkook tampak bersinar di atas sana dan Taehyung sadar bahwa Jungkook dan dunia kepenulisan adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisah.

Jungkook mengangguk, memijat bahunya lelah. Setidaknya ada lebih dari seribu orang datang ke acara launching bukunya dan tangan Jungkook kram karena menandatangani buku-buku itu.

"Capek ya?" Taehyung tertawa kecil, membawa Jungkook untuk duduk di kasur. Melarikan tangannya untuk memijat bahu Jungkook namun Jungkook menolaknya.

"Geli, Tae. Kamu nggak pintar memijat," Jungkook berbalik menghadap Taehyung, berujar sambil menyeringai iseng, namun seringai isengnya digantikan dengan senyum kelelahan, "peluk aja."

His koala wifey to-be. Taehyung hanya bisa tersenyum gemas kalau Jungkook sudah merajuk minta dipeluk. Too adorable, dan Taehyung juga tidak pernah menolak.

"Ya sudah, sini," Taehyung merentangkan tangannya yang langsung diterjang oleh Jungkook. Tiga bulan keparat yang memisahkan mereka karena proyek arsitek Taehyung, tiga bulan keparat yang membuat Taehyung harus mau menahan lagi rasa rindu setengah mati pada Jungkook.

"Kangen, Tae," gumam Jungkook, menghirup rakus aroma wangi Taehyung yang, kalau Jungkook bilang, wanginya orang ganteng.

"Kangen juga," balas Taehyung, membawa Jungkook untuk tidur dan membiarkan perempuan itu tetap memeluknya. Tangannya juga tetap merangkul pinggang Jungkook, "really really missed you."

"I'm more than missed you," Jungkook menengadah, menatap wajah tampan Taehyung yang kini tersenyum lembut hanya untuknya. Agak lama Jungkook hanya memandangi wajah Taehyung, menyelami kedua matanya yang dalam itu sebelum mengecup bibir Taehyung.

Hanya peck lips pada awalnya. Namun berubah menjadi french kiss seutuhnya karena Taehyung.

"Tae, sudah," Jungkook berbisik, tersengal, menahan dada Taehyung yang kini mengungkungnya, "aku malu."

Jungkook dan sikap malu-malunya itu, too cute to handle.

Taehyung tersenyum, mengusap rambut Jungkook penuh sayang dan menghadiahkan peck lips manis untuk Jungkook sebagai penutup. "Terima kasih sudah memercayaiku," ujarnya lembut.

Pipi Jungkook merona manis kemudian ia mengangguk. "Terima kasih karena sudah ada disisiku."

Taehyung tersenyum lagi, merebahkan dirinya lagi di sebelah Jungkook. Sambil memandangi wajah Jungkook, Taehyung berharap ia akan tetap mendapatkan Jungkook dalam pelukannya setiap sore, selepas ia pulang dari kantor.

Atau mungkin, setiap ia menginginkannya.