Part ini sangat-sangat mengandung konten dewasa (NC17). Jadi yang merasa belum pantas untuk menerima asupan yadong, tolong cukup klik follow/fav (untuk FFN) atau Vote (untuk Wattpad) cerita ini. Setelah itu sesegera mungkin di close. Beberapa tahun kemudian setelah umurnya cukup, baru buka lagi FF nya. Okay? Hahaha. (abaikan)
SWEET ESCAPE 2
"Hyung, tidurlah denganku."
Mark mengedip sekali... dua kali... saat mendengar permintaan yang keluar dari mulut Jinyoung. "Kenapa tiba-tiba...?"
"Ini kado Valentinemu, hyung."
"Hmm? Kado?"
"Aku belum memberimu kado, kan?" Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memberikan kado tersebut.
"Kau yakin ingin melakukannya?"
Jinyoung mengangguk mantap.
"Kau tidak akan menyesalinya?"
Tawa Jinyoung berderai. "Yaa hyung, menyesal apanya?" Pertanyaan Mark terdengar konyol hingga ia memukul pelan dada Mark.
Mark pun ikut menertawai kekonyolannya. "Okay~" Dia pun mengangguk setuju.
"Sekarang, gendong aku" pinta Jinyoung. Mark pun menyanggupinya. Lalu Jinyoung menunjuk ranjang dengan dagunya. Mark yang menyadari hal tersebut sempat bergumam 'Astaga' pelan dan tetap menuruti perintah Jinyoung yang sedang terkikik geli.
Mark mendudukan Jinyoung di tepi ranjang, sedangkan dirinya tetap berdiri, masih ragu untuk menerima kadonya.
Jinyoung yang agresif segera menarik lepas ikatan di baju mandi Mark.
"Yaa~" Sontak pria itu terkejut. "Begini kah caramu bermain?"
"Eo" Jinyoung mengakuinya setengah tertawa.
"Baiklah." Mark pun menaiki ranjang dan membuat Jinyoung terbaring di bawahnya.
Dengan jantung yang berdebar, Jinyoung siap menerima serangan Mark yang telah dinanti-nantinya. Tapi saat Mark baru saja mendekatkan wajahnya, terdengar ketukan pintu dari luar.
MarkJin seketika menoleh. "Siapa itu?" pikir keduanya. Namun Mark yang bergegas turun dari ranjang dan membukakan pintu.
Jinyoung berusaha mengintip, tapi hanya terdengar perbincangan singkat Mark dengan seorang pria. Lalu sedetik kemudian Mark menutup pintu sambil membawa masuk meja beroda tingkat dua.
Jinyoung mempunyai dugaan saat melihat tudung-tudung saji dan senyum khas Mark ketika menemukan hal yang disukainya, yaitu makanan. "Kau memesan makanan?" tanya Jinyoung setengah menganga.
"Yes!" jawab Mark sambil memindahkan piring-piring makanan ke meja bulat yang ada di dekat televisi dengan penuh semangat.
"Heol~" Jinyoung merasa ditipu. Keinginannya untuk 'tidur' dengan hyungnya itu mendadak tertunda karena makanan-makanan itu? "Kau benar-benar menyebalkan, hyung!" Jinyoung memprotes sambil membanting bantal dengan kesal, lalu beranjak turun dari ranjang dan menghampiri meja.
"Ah, wae?" tanya Mark tak terima. "Aku lapar..."
Pengakuan Mark sukses membuat Jinyoung cemberut.
Mark yang telah selesai dengan kegiatan menyusun makanannya pun sedikit merasa bersalah. Tadinya dia memang memiliki firasat jika Jinyoung akan meminta untuk melakukan hal 'itu' dengannya. Dan jika itu benar-benar terjadi, Mark takut hal tersebut justru akan melukai Jinyoung. Jadi dia berusaha untuk mengulur-ulur waktu. Walaupun ternyata setelah makanan datang, aroma lezat berhasil membangkitkan selera makannya.
"Aku benar-benar lapar, Jin..." bujuk Mark sambil menghampiri Jinyoung yang sudah duduk di salah satu kursi dengan bibir yang dimajukan. "Memangnya kau tidak lapar?"
"Makanlah" balas Jinyoung cuek.
Mark pun menarik kursi lainnya dan duduk serapat mungkin di dekat Jinyoung. "Aku janji setelah makan nanti baru kita akan melakukannya. Okay?"
Jinyoung menoleh dan wajahnya sedikit melunak. Setelah mendapat anggukan pelan dari Jinyoung barulah Mark dapat melahap makanan dengan lega.
Selama sesi makan itu berlangsung, Jinyoung hanya menikmati semangkuk sup dan menyomot kimchi. Sisanya akan berakhir di perut Mark.
"Enak?" Jinyoung bertanya saat melihat Mark dengan lahapnya menggigit sepotong ayam goreng.
Mark mengangguk di tengah-tengah kesibukannya, membuat Jinyoung tak tahan untuk tidak membersihkan remahan yang menempel di sekitar bibirnya dengan penuh kasih sayang.
Mark juga menyuapkan beberapa daging ke mulut Jinyoung. Keduanya kembali akur dan saling memberi perhatian walaupun tadinya hampir saja sempat terjadi perang dingin kedua.
"Aaaaah~ aku kenyang!" Mark berseru sambil meregangkan otot-ototnya setelah menyisakan beberapa sisa makanan dan piring kotor.
"Tuh kan." Jinyoung kembali menyeletuk. "Setelah makan hyung akan kekenyangan. Bagaimana bisa 'tidur' bersamaku?" protesnya lagi.
"Siapa bilang?" Mark membalas dengan nada ceria. "Justru setelah makan aku akan menjadi semakin kuat!" goda Mark sambil berbisik di telinga Jinyoung. Saat ini keduanya sudah duduk berdampingan di atas ranjang.
Mendengarnya, Jinyoung pun segera melanjutkan aksinya yang sempat tertunda tadi. "Akan kubuktikan!" ucapnya sambil menduduki tubuh Mark, tepat di atas alat vitalnya.
"Yaa, yaa, yaa! Kau menindih 'milikku'!" protes Mark.
"Oh, mian! Aku memang sengaja melakukannya!" aku Jinyoung diakhiri tawa kemenangan.
Tak mau kalah, Mark mengumpulkan seluruh kekuatannya dan berhasil mengangkat tubuh Jinyoung dan membalik keadaan. Kini Mark yang berada di atas tubuh Jinyoung.
Senyum Jinyoung perlahan memudar. Deru napas keduanya saling berlomba dan menyapu kedua wajah yang sudah sangat berdekatan. Namun Mark belum melakukan apapun. Matanya menatap Jinyoung cukup lama dan dalam. "Kalau saja..." gumamnya ragu. "Kalau saja aku menyakitimu ketika kita melakukannya..." Mark menyentuh pipi Jinyoung dan mengelusnya. "Kau bisa memintaku berhenti."
Jinyoung mendengus pelan. "Kau pikir aku tidak sanggup menahannya? Hyung, aku percaya padamu."
"Tapi tetap saja..." Mark sedikit tak percaya diri. "Pria sepertiku bisa saja bertindak di luar akal sehat!"
"Hahaha!" Jinyoung malah tertawa. "Justru itu yang kuharapkan, hyung!"
"Tidak, tidak!" Mark menggeleng. Tahu benar apa yang terakhir kali diucapkan Jinyoung tadi adalah omong kosong belaka. Pria imut itu belum pernah melakukan ini sebelumnya. Dan itu bukan hal yang mudah dilalui untuk seorang pemula. "Aku akan berusaha untuk melakukannya dengan lembut."
Jinyoung hanya mengangguk dan pasrah. Apapun itu, ini memang pertama kali baginya. Dan dia mempercayakan hal tersebut kepada Mark. Entah Mark akan berubah liar atau bermain aman di tengah-tengah aksinya nanti, Jinyoung tak lagi peduli. Membayangkannya saja sudah membuat degup jantung Jinyoung bekerja dua kali lebih cepat.
Tangan Mark menggapai wajah Jinyoung. Jempolnya menyapu bibir ranum dan tebal itu. Sedetik kemudian, Mark mendaratkan bibirnya di titik itu. Mengecup sekali... dua kali... yang langsung disambut baik oleh Jinyoung yang menahan kepala Mark agar bibirnya terus melumat dengan rakus.
Mark terangsang dan mulai bermain lidah. Jinyoung membalasnya tanpa dikomando, walaupun keahliannya masih kalah dari Mark yang sudah pandai.
Namun tiba-tiba Mark menarik mundur semua serangannya, sempat membuat Jinyoung keheranan.
"Kau kehabisan napas, Jin~" Mark mendengar dengan sangat jelas deru napas Jinyoung yang patah-patah. Jika diteruskan, mungkin saja ciuman tadi bisa membuatnya pingsan.
"Aku tidak apa-apa, hyung~" Jinyoung mengerang protes dan mengangkat kepalanya sendiri untuk menggapai bibir Mark yang sempat jauh dari jangkauannya.
Kali ini permainan didominasi oleh Jinyoung. Pria itu kini tak lagi berbaring dan terus melumat bibir Mark. Bahkan sedikit menggigitnya.
"Hyung, mian~" sesalnya, yang masih sempat diucapkannya disela-sela kesibukannya.
Puas bermain dengan bibir Mark, Jinyoung meneruskan ciumannya ke leher putih pangeran tampannya. Diam-diam dia juga mulai membuka baju mandi Mark. Bibir Jinyoung terus menyapu hingga ke pundak, tulang rusuk, dan kini tiba di dada bidang Mark. Jinyoung tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya, yaitu menyomot kedua nipple Mark. Dia sangat menikmati kegiatan tersebut tanpa tahu bahwa si pemilik tubuh berusaha untuk menahan diri dari besarnya rangsangan yang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Jin..." Mark memperingatkan.
"Ayolah, hyung~" Tapi Jinyoung seolah menantangnya.
Baiklah, pikir Mark. Permainan kembali berganti. Mark mengunci tubuh Jinyoung sepenuhnya hingga keduanya kembali ke posisi awal. Mark kembali melancarkan ciuman memabukkannya sambil perlahan membuka ikatan baju mandi mangsanya.
Jinyoung hanya mampu memejamkan mata sambil menikmati sapuan bibir Mark di sekujur tubuhnya. Klimaksnya adalah ketika lidah Mark sedang bermain-main dengan kedua nipplenya. "Hh-hyun~"
Mendengar desahan itu, Mark kembali mundur. Terlihatlah batang kejantanan Jinyoung yang perlahan mulai berdiri.
"Kau sudah siap?" tanya Mark kepada Jinyoung yang matanya kini sepenuhnya membuka.
"Eh-oh..." jawabnya dengan anggukan.
Akhirnya Mark pun menindih tubuh Jinyoung dengan salah satu tangannya yang bergerak bebas ke bawah, memegang batang kejantanan Jinyoung, mengelus-elusnya, meremas, dan bahkan bermain-main dengan ujungnya. Rangsangan itu membuat Jinyoung mendesah dan merintih penuh gairah.
Mark terus memompa dan diselingi dengan pergesekan batang miliknya yang juga mulai menegang. Jinyoung kembali memejamkan matanya dan menikmati sensasi selanjutnya ketika sesuatu yang basah terasa di batangnya tersebut.
Rupanya Mark sedang menghisap dan mengemut milik Jinyoung tersebut.
"Akhh~ hyunggg~!"
Setiap kali mendengar rintihan, Mark akan berhenti. Dia tak tega melihat Jinyoung jadi seperti itu.
"Tidak, hyung~ Teruskan..." pinta Jinyoung sambil menuntun kepala Mark agar kembali ke bawah, ke urusannya yang belum selesai.
Mark menurut dan kembali menikmati batang milik Jinyoung. Intensitasnya semakin cepat dan liar, membuat Jinyoung harus berusaha meredam rintihannya dengan cara menggigit bantal agar Mark tidak mendengarnya.
Lalu kemudian klimaks terjadi. Tugas Mark berakhir saat batang Jinyoung mengeluarkan cairan spermanya.
Kamar yang sunyi itu diramaikan dengan deru napas keduanya yang saling memburu. Mark akhirnya berinisiatif merangkul tubuh Jinyoung dari belakang, menyandarkan tubuh pria itu di atas tubuhnya, lalu menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh mereka. Dengan penuh kasih sayang Mark menyeka keringat yang memenuhi kening Jinyoung dan mengecup puncak kepalanya. Pria itu sudah berusaha sekuat tenaga hingga kelelahan. Namun dibalik itu semua, Jinyoung merasa sangat bahagia dan puas. Ini lah yang dia mau. Dan dia tidak menyesalinya.
"Go-mawo... hyung..." gumam Jinyoung pelan, sedikit parau pasca aksi Mark tadi. Jinyoung mendongak dan mencari bibir Mark.
Yang benar saja, Jinyoung! Sesi bercinta mereka baru saja selesai dan kini dia kembali meminta ciuman?
Mark menunduk dan memberikan bibirnya yang segera dilahap oleh Jinyoung. Disela-sela ciuman itu Mark malah tersenyum. "Wae?" bisik Jinyoung sedikit kebingungan.
"Kau yang kenapa" goda Mark. Mungkin Jinyoung benar-benar sedang kerasukan atau sebelumnya dia sudah menelan suplemen perangsang?
Jinyoung memutar tubuhnya menghadap Mark. "Tadi... aku belum selesai dengan tugasku" ucapnya sedikit tertunduk, lalu tergoda untuk kembali menciumi tubuh mulus Mark.
Terdengar helaan napas pelan. Mark membiarkan Jinyoung beraksi sejenak. Namun ketika bibir Jinyoung mulai bergerak ke bawah, dirinya segera mencegahnya. Mark menarik tubuh Jinyoung kembali ke posisi awal.
"Hyung~" pintanya setengah merengek.
"Kau mau lagi?" tanya Mark tak habis pikir.
"Eo" jawab Jinyoung tanpa pikir panjang. "Milik hyung belum keluar."
"Aku tidak apa-apa." Namun Mark kembali menambahkan, takut jika Jinyoung merasa tersinggung. "Sebenarnya, aku sedikit mengantuk. Dan jika dalam keadaan seperti itu, ini akan menjadi tidak asik."
"Kau mengantuk?"
"Eo."
"Akibat kekenyangan makanan tadi?"
"Eh-oh" jawab Mark setengah tertawa dan mata yang sudah setengah terpejam.
Jika saja Mark sengaja melakukannya, Jinyoung pasti sudah mengumpatinya habis-habisan. Tapi naluri keibuannya tak bisa dihilangkan. Jinyoung merelakan Mark untuk tertidur dari pada menikmati aksinya.
Tahu jika Jinyoung mungkin akan mengambek, Mark kembali memeluk tubuh pria itu ke dalam dekapannya. "Kau boleh melakukan apa saja kepada tubuhku saat aku tertidur nanti. Bahkan bermain dengan 'milikku' itu" gumam Mark dengan mata terpejam.
Jinyoung mencibir, walaupun tertarik dengan penawaran itu. "Hmm~" Jinyoung mengiyakan. "Tidur yang nyenyak~" ucapnya sambil mengecup pipi Mark mesra.
XXX
Nb:
Emm Lui ga tau gimana readers memposisikan seme/uke nya. Tapi Lui pribadi sih milih Mark yg jadi seme, Jin uke nya.
Nagih? Puas sama NC yang begitu doang? Mau lagi? Kalau banyak peminatnya, Lui bakal kasih bonus NC di part selanjutnya. Readers bisa komen atau sekedar vote di FFN maupun Wattpad. See u~
