[Jeno: Move On]

Rate: T for normalization of same sex relationship

Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.

Chapter 1

Jeno sudah menyerah soal Jaemin.

Lantas apa? Apa setelah menyatakan itu dia langsung tidak mencari-cari Jaemin di kerumunan orang? Tentu tidak. Perasaannya untuk Jaemin tidak sedangkal itu.

Sudah sekitar dua minggu berlalu sejak dia mengatakan pada Donghyuck soal dia tidak akan lagi mengharapkan Jaemin, tapi masih saja dia uring-uringan. Apalagi dia sekelas dan duduk bersebelahan dengannya.

"Pak, saya izin ke toilet." Tangan Jeno diangkatnya untuk menarik atensi guru yang sedang mengajar di depan kelas. Jeno benar-benar tidak bisa fokus memperhatikan penjelasan gurunya, jadi lebih baik dia jalan-jalan saja di luar.

Setelah gurunya memberi izin, Jeno langsung keluar kelas. Jaemin yang terbangun karena ada pergerakan dari kursi di sebelahnya sempat menanyakan hendak ke mana Jeno. "Toilet." Jaemin lalu melanjutkan tidurnya.

Jeno lega karena Jaemin tidak mengikutinya karena Jeno sudah memiliki rencana untuk mengulur waktu selama perjalanan ke toilet. Pertama, dia ingin berlama-lama membaca mading di tangga. Kedua, dia ingin berjalan memutar lewat koridor yang melewati lapangan basket. Ketiga, dia memilih untuk menggunakan toilet di lantai 1. Belum lagi dia juga ada rencana berlama-lama mencuci muka dan juga berlama-lama di perjalanan kembali ke kelasnya yang ada di lantai 3.

Mading di tangga yang menghubungkan lantai 2 dan 3 dikerjakan oleh ekskul KIR yang diikuti Jeno. Dia ikut mengerjakannya, jadi dia sudah tahu isinya dari satu pojok ke pojok yang lain.

Selesai melihat-lihat sebentar, Jeno tiba-tiba mendengar suara debuman keras dari lantai bawah. Dia segera mengecek suara apa itu dari pertengahan tangga lantai 2. Dia kemudian menemukan laki-laki tersungkur di anak tangga terakhir yang menghubungkan lantai 1 dan 2 –yang berarti dia ada di lantai 1.

"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Jeno sambil berusaha membangunkan laki-laki itu. Sebenarnya dia juga merasa bodoh untuk menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Dia baru saja terjatuh di tangga. Jelas ada apa-apa. Jeno menoleh ke kanan dan kiri mencari bantuan. Tapi saat itu, KBM sedang berlangsung. Tidak ada guru atau murid di sana. "Kubawa ke UKS ya? Bisa jalan?"

Laki-laki itu meringis kesakitan ketika Jeno berusaha membuatnya berdiri. Jeno baru menyadari kalau sedari tadi anak itu memegangi perutnya. "Perutmu sakit?" anak itu mengangguk sebagai jawaban.

Perut sakit. Kakinya juga sepertinya terkilir. Membantunya jalan juga dirasanya susah.

"Hmm…, maaf ya," gumam Jeno yang membuat anak itu menatapnya heran dengan mata yang setengah tertutup.

Satu tangannya ia gunakan untuk memapah punggung anak itu dan tangan yang lainnya diselipkan di bawah lututnya. Anak itu memekik kaget. "Kamu susah jalan, 'kan? Kugendong saja ya?"

"T-Tidak usa –ah!" berusaha memberontak, tapi itu justru membuat sakit di perutnya makin terasa. Jeno lalu dengan hati-hati membawanya ke UKS yang untungnya berada di lantai 1, jadi tidak perlu menaiki tangga. Jeno sempat terkagum ketika menyadari betapa ringannya anak itu, meskipun dia laki-laki.

"Jeno?"

Suara itu terdengar dari dalam UKS ketika pintu dibuka oleh Jeno. "Kamu ngapain ke sini –lho, ini Hwang Renjun, 'kan? Kenapa dia?"

"Aku tidak tahu namanya, tapi tadi dia jatuh di tangga. Kakinya mungkin terkilir dan sepertinya dia jatuh karena perutnya sakit," jelas Jeno sambil berjalan masuk ke dalam, mencari tempat berbaring untuk anak yang dia bawa itu. "Doyoung hyung, mungkin tidak dia usus buntu?" Jeno pernah dengar penderita usus buntu susah berjalan.

Sebelum orang yang dipanggil Doyoung itu membalas, anak itu mendahuluinya. "Tidak. Ini maag…."

"Maag? Apa maag bisa sampai tidak bisa berjalan?" Jeno melihat ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.

"Kalau akut memang seperti itu," sela Doyoung sambil berlalu mencari obat. "Kamu telat makan?"

Anak itu menjawab dengan anggukan lemah karena tahu pertanyaan itu ditujukan padanya. "Tadi… soal matematikanya banyak dan susah…," jawabnya dengan napas tersengal menahan sakit. "…jadi aku belum makan siang."

Doyoung menggelengkan kepala mendengarnya. Dia memberikan anak itu obat dan segelas air. "Habis ini, kamu harus makan."

Anak itu mengangguk.

"Aku belikan ya? Hyung, dia boleh makan di sini, 'kan?" Jeno mengajukan diri berjalan ke kantin.

"Boleh, boleh. Tumben kamu mau repot."

"Aku juga mau ke kantin."

"Bocah."

Anak itu tentu saja ingin menahannya. "T-Tidak usah! ...nanti aku beli sendiri saja kalau sudah enakan…."

"Sudah, tidak apa-apa, Renjun. Dia juga punya motif sendiri kok –jajan."

Jeno hanya tertawa mengiyakan sebelum pergi ke luar.

Sesampainya di kantin, dia bingung juga harus membeli apa. Dia tidak begitu tahu soal maag. Apakah ada pantangan tertentu atau tidak… atau asal makan juga tidak apa-apa? Dia tidak tahu. Akhirnya dia membeli makanan yang tipikal dimakan orang sakit. Bubur.

Kali ini, dia tidak berlama-lama. Dia langsung berlari kecil menuju UKS begitu dia selesai membayar. Jeno lihat anak itu sedang memejamkan mata di kasur, tapi Jeno tahu dia tidak tidur karena alisnya berkerut menahan sakit –entah karena sakit di perutnya atau karena kakinya yang sedang diurut Doyoung.

"Wah, dia belinya bubur. Kalau begitu harus langsung dimakan." Doyoung lalu berhenti mengurut lalu membantu anak itu bangun sebentar untuk bersandar agar dia bisa makan.

Jeno membukakan bubur yang dibelinya lalu membawakannya pada anak itu. Menyadari tatapan yang ditujukan padanya, Jeno langsung bertanya. "Ada apa?"

"…berapa harganya? Biar kuganti nanti…," ucapnya lemah.

"Tidak usah –namamu siapa tadi?"

"..Renjun."

"Iya, Renjun. Ini tidak mahal, kok. Jangan dipikirkan," kata Jeno, menenangkan.

Renjun kemudian merengut. Ia tidak begitu menyetujui itu, tapi dia juga tahu kalau memaksa juga tidak baik –Renjun juga tentu pernah membantu orang dan dia juga akan selalu menolak untuk menerima ganti atau imbalan dari orang yang dibantunya. Dia akhirnya hanya menurut seraya menerima bubur yang dibawakan Jeno.

"Hati-hati, masih panas." Jeno memperingati. Renjun mengangguk sekadarnya, lalu sebuah pekikan kecil keluar dari mulutnya ketika jarinya ternyata tidak kuat menahan panas dari mangkok. "Baru kubilang hati-hati."

Dibilang begitu, Renjun makin merengut.

"Renjun, kamu kelas… 10-2, ya? Atau 10-1?" tanya Doyoung dari meja kerjanya, yang terdapat banyak folder dan beberapa barang yang entah apa. Terlihat tangannya sedang membalik-balik kertas. "Aku harus mencatat nama dan kelas murid yang datang."

"Yang pasti dia bukan 10-1 –kami tidak sekelas." Jeno segera menjawab karena dia lihat mulut Renjun masih penuh bubur dan kelihatannya akan lama menunggunya selesai dengan itu, mengingat panasnya. Sebagai gantinya, Renjun menggunakan tangannya untuk menjawab. Dia membentuk huruf V dengan telunjuk dan jari tengahnya. "Oh, dia 10-2, hyung."

Doyoung hanya mengangguk-angguk sambil menuliskan nama Renjun beserta kelas di atas kertas itu. "Iya, ya. Kamu saja tidak tahu namanya tadi. Masa' sekelas."

"Lah, hyung ingat kelasku yang mana?"

"Tidak sih. Haha."

Renjun di sana hanya mendengarkan guru yang bernama Doyoung dan teman tingkatnya yang kalau tidak salah bernama Jeno itu berbincang-bincang. Dia sebenarnya bingung bagaimana bisa Jeno memanggil guru UKS itu dengan embel-embel hyung tapi ah sudahlah.

.

.

"Eh, iya." Doyoung menepuk keningnya, baru ingat sesuatu. "Kok kamu di sini sih?! Bolos ya?!"

Aduh. Jeno rasanya ingin berteriak menanyakan kenapa hyungnya ini lama juga nyambungnya. Tapi kalau mau jujur, Jeno juga lupa. Dia kan tadi izinnya hanya ke kamar mandi. Kalau diingat lagi, dia sudah lumayan lama berada di UKS tidak melakukan apa-apa selain mengobrol.

"Hyung, bilang ke guru fisika kelasku dong, aku di UKS."

Doyoung mendengus. "Kamu minta izin biar bisa bolos dengan legal ya?"

"Aku tadi aslinya mau ke kamar mandi! Tapi melihat ada yang jatuh di tangga, jadinya aku ke sini deh." Jeno beralasan, walaupun dia juga tidak berbohong.

Doyoung terlihat akan memuncratinya dengan ceramah, tapi tidak jadi karena diinterupsi Jeno dengan jari telunjuknya yang diarahkan ke mangkok bubur yang tadi dia belikan untuk Renjun. "Hyung ada hutang sama aku."

Uang? Itu masalah kecil bagi Doyoung. Tapi dia sudah cukup mengenal Jeno untuk mengetahui kalau dibalik kata-katanya, ada maksud lain yang maknanya lebih dalam lagi. Kira-kira apa ya? Macam 'aku sudah membantu melakukan tugas hyung merawat murid yang sakit dengan repot-repot berjalan ke kantin sementara hyung santai menunggu di ruang UKS'? Ah, masa sih?

"Ya sudahlah." Doyoung merapikan mejanya dan menumpuk-numpuk beberapa buku dan kertas sebelum membawanya. Melihat Doyoung bangkit dari kursinya dengan beberapa bawaan di tangannya, Jeno langsung bertanya mau ke mana dia. "Mengajar." Doyoung memang guru biologi kelas 12 yang juga berjaga di UKS.

"Terus pasien ditinggal?"

"Memang selalu begitu." Doyoung menunjuk ke tempat tidur kosong sebelah Renjun. "Sana, pura-pura sakit. Aku nanti ke kelas fisika, mau bilang gurumu kalau kamu sakit jadi istirahat di UKS."

Blam. Doyoung sudah pergi.

Jeno tidak suka ini. Dia memang tidak ingin masuk kelas, tapi dia juga tidak terlalu mau berada di satu ruangan berdua saja dengan orang yang baru saja ia kenal. Canggungnya maksimal. Dia berusaha memikirkan topik pembicaraan, tapi ketika dia lihat si pasien yang dimaksud tertidur, Jeno hanya menghela napas lega sebelum berjalan menuju tempat tidur di sebelahnya dan tidur –pura-pura sakit.

.

.

TBC

a/n. Pendek yhaaa. Saya ragu banget buat update ini –aslinya udah kelar dari pas chapter 0 di publish. Tapi ya gitu. Ragu saya.

"NoRen-nya gak berasa!" iya iya di chapter 2 okaiii :3''''

Makasih review2nya semuanya~~~~~~ love you~~ makasih juga yang review di fic angst noren yang gak kayak angst sama sekali itu hahahaha

Dan btw mau nanya. Saya kemaren2 kepikiran pengen post di AO3 juga, tapi di sana cenderung Bahasa inggris ya? Kalo post yang indo bakal kesannya salah tempat gitu gak sih;;

Special thx buat Kim991, BlueBerry Jung, ludfidongsun, Min Milly, fangirlalala, aiyoemi10, BinnieHwan, Iceu Doger, minghaonoona, Nishabacon627, firdazzy, Rimm, macareon! You all are the real MVPs hehehehe -apalagi yang ngasih tips buat SBMPTN ahhh terharu

.hahaha. . . .aamiin.

DAN AHHHH TEASER NCT DREAM. Gw seneng banget woi Jeno rambutnya balik gelap. Terus kan teaser Jisung baru keluar –NANTI SEMUANYA BAKAL PAKE BAJU PRINCE GITU YA HAHAHA SAYA SUKA SAYA SUKA.