[Jeno: Move On]
Rate: T for normalization of same sex relationship
Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.
Chapter 2
Dua hari sudah berlalu sejak Jeno pergi mengantarkan anak kelas sebelah yang jatuh di tangga itu ke UKS, yang berakhir dengan dia juga tertidur dan membolos kelas fisika. Begitu bangun, Renjun, anak yang jatuh itu sudah tidak ada di sana. Doyoung si guru UKS-lah yang menyapanya pertama kali, dengan teriakan.
"Bangun, Jeno…! Sebentar lagi bel pulang!"
Bel pulang? Seingatnya, fisika bukan pelajaran terakhir. Jeno langsung menyingkap selimutnya dan terduduk, menyadari kalau dia tidur selama lebih dari dua jam pelajaran.
"Aduh…, kok hyung tidak membangunkanku? Aku jadi tidak ikut kelas Bahasa!" dengan panik dia merapikan rambutnya yang tidak terlalu berantakan, tapi tetap terlihat baru-bangun-tidur. Tidak ikut kelas Bahasa sebenarnya tidak merugikannya sama sekali karena jujur, dia tidak suka pelajaran itu. Tapi guru Bahasa yang juga adalah Kepala Kesiswaan itu sangat –sangat, tegas dan disegani. Kalau tidak masuk kelasnya, di pertemuan berikutnya akan langsung diinterogasi di depan kelas.
"Tadi aku mau membangunkan, tapi… kamu kurang tidur, ya?" kata Doyoung dengan nada menyelidiki, tidak berpindah dari mejanya. Tangannya dijadikan tumpuan dagu. "Lagi ada masalah?"
Jeno tidak terlalu menjawab. Tidak mungkin dia berkata terus terang kalau dia baru saja ditolak –walaupun belum nembak.
Tidak mendapat balasan, Doyoung merasa harus lebih mendorongnya menjawab. "Ayolah. Ada apa sih? Cerita dong –awas saja kalau bilang kamu kurang tidur gara-gara belajar. Aku tidak akan percaya."
Jeno memutar otaknya mencari alasan. "Biasa, hyung…. Aku main internet."
"Hm? Main internet? Twitter?"
"Iya."
Doyoung terlihat tidak mempercayainya. Dia melihat ke arah Jeno dengan mata memicing –yang dilihat panik kalau-kalau dia ketahuan berbohong.
"Oh, kirain. Ya sudah, sana pergi. Aku tadi juga sudah sekalian izin ke guru Bahasa kelasmu, jadi tenang saja."
Sedikit menghela napas lega karena ternyata Doyoung percaya padanya. Ada rasa bersalah telah berbohong pada tetangganya yang bekerja sebagai guru di sekolahnya ini, tapi Jeno tidak akan melepaskan kesempatan itu untuk segera kabur dari sana.
Sekarang, Jeno sedang berada di kantin. Dia sedang minum sekotak susu sambil berdiri, menunggu Donghyuck yang terlihat sedang berada di kerumunan orang yang mengantre beli makan siang. Sebenarnya, jam belum menunjukkan pukul 12 siang, tapi orang-orang sudah ramai membeli makan karena baru-baru ini diberlakukan peraturan yang melarang adanya segala bentuk transaksi di kantin pada jam makan siang. Ya, peraturan yang aneh. Banyak yang protes karena itu, tapi sekolahnya memang tidak pernah mengindahkan suara siswanya.
Jeno sedikit ingin menggerutu melihat Donghyuck yang melambai-lambai di tengah antrean panjang, meminta Jeno untuk tetap menunggunya. Waktu istirahat pertama sudah hampir habis dan dia belum selesai menyalin PR untuk dua kelas berikutnya.
Terpikir untuk pura-pura pergi supaya Donghyuck menyupayakan sesuatu agar cepat selesai, Jeno berbalik badan. Dia tidak menyadari ada orang di belakangnya dan akhirnya sedikit bertubrukan. Jeno ingat orang itu sebagai anak yang jatuh di tangga. Renjun.
"Maaf, aku tidak melihatmu," kata Jeno, minta maaf.
Renjun menggeleng pelan, matanya menghindari mata Jeno.
Jeno entah kenapa merasa butuh bicara sedikitnya basa-basi karena mereka kenal satu sama lain dan ini adalah pertemuan kedua. "Kakimu sudah sembuh?"
"…sudah lebih baik."
Canggung. Jeno tidak terlalu ingat sejak kapan mengobrol menjadi hal sesulit itu. Seingatnya, dia bahkan bisa menghabiskan berjam-jam mengobrol dengan Donghyuck atau Jaemin lewat telepon. Ah, Jeno mengingat Jaemin lagi. Sedih.
"Sudah, ya!" Renjun segera berbalik badan setelah melambaikan tangan seadanya –tidak kuat juga dengan keheningan di antara mereka.
Tiba-tiba, Jeno menggenggam pergelangan tangan Renjun. Renjun dibuat kaget karenanya. Dia menolehkan kepala, heran.
"Maaf, nih… tapi ada sesuatu di wajahmu." Jeno menunjuk satu bagian wajah Renjun, entah yang mana. Renjun langsung memegangi wajahnya, mencari-cari sesuatu apa itu yang menempel di sana. "Itu, di sudut bibirmu… ngg… itu gula halus ya?"
Semburat merah mulai muncul di wajah Renjun. Langsung disekanya sudut bibirnya yang tertempeli gula halus dari donat yang baru saja ia habiskan. "Malu...," gerutunya. "Terima kasih, ya… ng…."
"Jeno. Lee Jeno." Jeno menambahkan. "Kamu Renjun, 'kan? Kemarin kita belum benar-benar berkenalan."
Renjun sedikit terkesan Jeno mengingat namanya. "Iya. Hwang Renjun. Yang kemarin terima kasih ya. Aku akan lebih berhati-hati –aku sudah bawa bekal dan juga obat maag."
"Pokoknya jangan telat makan," kata Jeno. Dia menepuk pundak Renjun untuk mengakrabkan diri –dan ternyata Renjun tidak membenci itu. Renjun suka upaya orang yang berusaha bersikap akrab.
Renjun mengulas senyum. "Aku duluan ya. Sapa aku kalau ketemu lagi." Dia pergi setelah melambaikan tangan, lagi. Senyum yang terpasang di wajahnya berbeda dengan senyum-senyumnya di hari-hari sebelum ini. Itu bukan lagi senyum yang dibuat untuk terlihat sopan.
Jeno memperhatikan punggung itu berjalan menjauh. Entah kenapa senyumnya meninggalkan kesan tersendiri. Ada perasaan yang menggelitik di dalam dirinya. Dia garuk pipinya pelan, tidak tahu bagaimana mengartikannya.
"Hoi." Donghyuck menepuk pundaknya dari belakang. "Habis bicara apa sama Renjun?"
Jeno memasang wajah… entah kaget atau heran. "Kamu kenal?"
"Ya kenal lah. Dia anak kelasku."
"Oh, iya. Dia memang bilang dia kelas 10-2 sih –tidak, bukan apa-apa. Tadi aku sedikit menabraknya," jawab Jeno sambil mulai melangkah meninggalkan kantin, diikuti Donghyuck. "Terus, kamu beli apa?"
"Roti dan susu."
"Beli lama-lama dan kamu cuma dapat roti dan susu? Yang benar saja… –diet?"
Donghyuck menoyor kepala Jeno. "Uang lagi tipis. Jangan komentar."
.
.
.
Kalau mencari kakak kelas 11 dengan nama Mark Lee pada hari Senin atau Jumat sepulang sekolah, cari saja di lapangan indoor lantai dua. Dia pasti di sana untuk ekskul basket.
Apa informasi ini penting? Ya, bagi beberapa anak perempuan informasi ini penting, apalagi bagi mereka-mereka yang menamakan dirinya anggota fanclub Mark, yang notabenenya ganteng dan jago basket. Mereka semua mengaku kalau Mark adalah yang paling terlihat dari barisan murid kelas 11 saat upacara. Hiburan tersendiri, katanya.
"Mark," panggil Jaehyun, anak kelas 12 yang adalah kapten tim basket. Yang dipanggil menoleh sambil menyeka keringat di wajahnya. "Coba lihat pintu masuk."
Mark menurut dan mengarahkan pandangan ke pintu yang dimaksud kakak kelasnya itu. Dia refleks tersenyum melihat ada sosok manis yang baru berjalan masuk ruangan setelah celingak-celinguk sedikit. Jaemin, pacarnya. Matanya terus mengikuti Jaemin yang mendudukkan diri di dekat anak-anak perempuan bergerombol meributkan Mark.
Jaemin tersenyum dan melambaikan tangan ketika menyadari Mark sudah melihat ke arahnya. Mark balas melambai, membuat jeritan-jeritan melengking tinggi dari gerombolan di sebelah Jaemin –fanclub Mark. Jaemin berjengit risih, tidak suka melihat nama pacarnya dielu-elukan sedemikian rupa. Ingin rasanya dia berkata pada mereka 'Mark sunbae melambai ke arahku, oke?'.
Mark sudah lumayan biasa dengan itu dan dia sontak tertawa melihat Jaemin yang memajukan bibirnya sambil melirik kesal ke arah fanclub itu –yang mana, tawanya makin membuat fanclub itu berteriak menggila.
"Fokus, fokus," kata Jaehyun, berlalu. Mark mengangguk, lalu kembali fokus di lapangan.
Maunya begitu, tapi kalau boleh terus terang, setiap bolanya sudah dia serahkan ke pemain lain atau dia baru saja memasukkan bola ke ring, matanya pasti akan langsung mencari-cari ke pinggir lapangan. Mencari sosok mungil yang tertawa dan sesekali menghentakkan kaki lalu melambai-lambaikan tangan ke arahnya –kadang juga dia bisa melihatnya saling mencibir dengan gerombolan di sebelahnya.
Melihat Jaemin bertingkah dari jauh membuat Mark tanpa sadar mengulas senyum tipis.
"Sunbae juga di sekolah ini ya!"
Dia teringat ekpresi Jaemin saat Mark menyapanya di pekan-pekan pertama sejak penerimaan siswa baru. Dia ingat dengan matanya yang awalnya terbuka lebar, berbinar, lalu tersenyum manis dengan sedikit tersipu –karena apa ya? Melihat Mark lagi setelah setahun pisah sekolah?
"…bukan mimpi…?"
Dia juga ingat ketika dia menembaknya, Jaemin langsung mencubit pipinya sendiri sebelum selanjutnya mengangguk malu-malu. Sikap malu-malu itu masih bertahan kira-kira 2-3 hari setelah itu, setelah Mark menyadari kalau Jaemin menahan diri dari menunjukkan macam-macam reaksi. Kerennya, jaga image. Alasannya, Jaemin tidak ingin terlihat aneh di depan Mark –percayalah, Mark butuh waktu lama untuk mengerti di bagian mananya yang aneh jika Jaemin terlihat yang paling bersemangat jalan berdua saja dengannya.
Mark sangat menyayanginya. Dia tidak menyesali pertemuannya dengan Jaemin. Ketika dia meminta Jaemin jadi pacarnya, dalam hatinya, Mark bersumpah tidak akan pernah menyerahkan genggaman tangan itu kepada siapapun.
Tidak terkecuali temannya.
.
.
.
Mereka juga anak SMA biasa, berpikir bulan-bulan pertama semester awal SMA lebih baik dinikmati dulu saja dengan teman sebelum mereka kehilangan waktu di bulan-bulan berikutnya. Mereka –Jeno dan Donghyuck adalah murid SMA yang tidak akan menuruti kemauan kepala sekolahnya untuk melewati semester pertama ini dengan sungguh-sungguh.
Mereka saat ini sedang bermain game di kamar Jeno. Ini bisa dibilang kegiatan rutin mereka dari kelas 8, walaupun sempat terhenti ketika kelas 9 –belajar untuk ujian.
"Ahh! Sial!" umpat Jeno ketika mobil di game yang dia mainkan dilempari bom dari belakang –Donghyuck. "Donghyuck! Kita satu tim tahu!"
"Bodo! Pokoknya yang bakal memenangkan tim adalah mobilku!"
Donghyuck membanting controller untuk menarikan tari kemenangan ketika timnya menang karena mobilnya mencapai finish pertama dan bukan mobil Jeno, meskipun mereka berada dalam tim yang sama. Jeno menghela napas melihatnya. Hal itu memang sering Donghyuck lakukan, jadi Jeno sudah terbiasa –walaupun pada awalnya Jeno pernah sampai menjitak dan bergulat dengan Donghyuck karena tidak rela –bocah.
"Eh," panggil Donghyuck setelah berbaring di kasur Jeno, lelah berjingkat-jingkat. Jeno menyahut tanpa menoleh. "Kamu masih suka Jaemin?"
Jeno terbatuk-batuk dramatis. "K-Kenapa tiba-tiba bertanya begitu…?" seingatnya, Donghyuck bilang padanya kalau dia akan berusaha untuk tidak mengungkit-ungkit masalah itu lagi sebagai bentuk dukungan.
Donghyuck menyungging cengiran setengah hati, takut kalau dia salah bertanya. "Ngg… bagaimana ya? Kalau kukatakan sesuatu seperti… aku sering memergokimu curi-curi pandang, menurutmu bagaimana?" tanya Donghyuck sambil memutar tubuhnya untuk tengkurap. "Dan tentu saja, bukan dengan Jaemin."
"Curi-curi pandang? Aku?" Jeno terlihat tidak percaya. Dia curi-curi pandang dan itu bukan dengan Jaemin? "…kamu yakin?"
Donghyuck mengendikkan bahu. "Ya… tidak tahu juga. Mungkin saja aku salah, tapi kira-kira sudah empat kali aku melihatnya –kamu curi-curi pandang. Aku kira kamu bakal lebih tahu."
Jeno menggeleng lemah. Dia berusaha mengingat-ingat. Jujur, dia merasa dia bukan tipe orang yang akan curi-curi pandang, bahkan jika orangnya adalah Jaemin.
"Memang…kamu melihatku memperhatikan siapa?"
"Yaa ada deh. Pokoknya dia—"
"Siapa?" Jeno menyela.
"Dengar dulu." Donghyuck tidak suka disela. "Dia itu orangnya baik –banget." Jeno langsung teringat ketika Donghyuck mendeskripsikan Mark pertama kali. "Aku kenal paling tidak dua anak kelasku dan tiga anak dari kelas lain yang menyukainya."
"…mantap." Jeno tidak sadar menyebutkan kata itu. Itu…angka yang fantastis.
"Aku sudah berteman denganmu lama. Aku hapal cara pikirmu. Kamu sekarang lagi mencari cara agar bisa move on kilat, 'kan?"
Jeno mengangguk, kagum dan sedikit malu. Malu karena dia ketahuan sudah sepasrah itu untuk melupakan Jaemin.
"Kalau kukasih tahu namanya, kamu pasti bakal langsung menargetkan orang itu sebagai objek move on –dan kau tahu? Itu rendahan. Orang sebaik dia tidak pantas dijadikan pengganti siapapun, Jaemin sekalipun." Telunjuk Donghyuck terus diayun-ayunkan seraya menceramahi Jeno. "Apalagi, ini baru hasil pengamatanku saja. Kurang jahat apa lagi coba, kalau kamu memberi sugesti pada dirimu sendiri tentang siapapun orang baru ini dan semua itu hanya berdasarkan penilaianku? Ah, sudahlah, Jeno. Ikuti saja alurnya."
Jeno mencibir. "…kamu dokter cinta atau apa sih?"
"Kalau misalnya definisi dokter cinta itu orang yang memberi nasihat pacaran di kalangan teman-temannya, mungkin iya."
Jeno menabok punggung Donghyuck, bercanda. Dalam pikirannya, dia berusaha meresapi kata-kata Donghyuck yang memang lumayan menohoknya –tepat sasaran.
.
.
.
TBC
a/n bagaimana caranya menjaga kualitas penulisan hahahahaha. Bener-bener nurun dari chapter 0 imo. Antarkalimat dan transisi antarparagraf gak padu banget huhu.
"chemistry nya NoRen terkesan dipaksa :3''''" …tidak akan menyangkal. Tidak akan. Kenyataan itu harus diterima dengan lapang dada.
Note: INI HADIAH KARENA TEASER RENJUN HARI INI ADA NOREN NYA GW KELEWAT SENENG JADI PENGEN UPDATE KILAT AHAHHAHAHAHAHAHAHHA GW TERIAK2 DAN SEKARANG GEMETERAN WOI HAHAHA SENANGGGG dan iyaa gw sedih juga sih Jaemin gak ada :''3 tidak lengkap rasanya ya TAPI NOREN NYAAA PLIS BIARKAN MEREKA JADI ROOMMATESSSSS
Special thxxx Nishabacon627, ludfidongsun, Park RinHyun-Uchiha, BinnieHwan, firdazzy, Min Milly, mintaetolong, fangirlalala, BlueBerry Jung, aiyoemi10, Iceu Doger!
