[Jeno: Move On]

Rate: T for normalization of same sex relationship

Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.

Chapter 3

"Mohon bantuannya, Taeil hyung!" ucap mereka serentak, sebelum membuka buku catatannya masing-masing. Orang yang menjadi pusat perhatian hanya mengangguk-angguk sebelum menginstruksikan mereka untuk memperhatikan apa yang akan dia jelaskan.

Lho? Apa yang sedang terjadi?

Ayo, mundur beberapa jam ke dua malam sebelumnya.

Jeno mendapati hp-nya bergetar karena notifikasi pesan masuk. Dari Donghyuck.

[Masa' aku lupa dua minggu lagi kita ujian tengah semester].

Jeno bergumam 'yang benar saja' sebelum membalas pesannya. [Masih ada dua minggu lagi. Belajar sana. Jangan ganggu aku].

[Aku minta Taeil hyung mengajariku mulai sabtu pekan ini. Mau ikut? Taeil hyung tidak mau kalau berdua saja. Aneh].

[Mau!]

[Aku terpikir mengajak Jaemin dan Mark hyung. Taeil hyung juga bisa mengajari Mark hyung. Tidak apa-apa, 'kan?]

Jeno sempat memberi jeda karena berpikir-pikir dulu sebelum membalas. [Tidak apa-apa. Santai].

Donghyuck senang melihat Jeno sepertinya memang benar serius soal melupakan Jaemin. Dia cukup kagum melihat bagaimana Jeno mengakui Mark sebagai orang yang lebih pantas mendapatkan Jaemin. Dia segera menghubungi Mark untuk mengajak Jaemin bergabung juga.

[Wah, jadi berempat ya. Di teahouse dekat kampusku saja ya.] begitu bunyi pesan Taeil ketika Donghyuck menghubunginya lagi soal penambahan anggota.

[Kok teahouse sih hyung? Belajar kelompok ya di perpustakaan, lah. Biar ada kesan belajarnya].

[Aku tidak mau diusir dari perpustakaan gara-gara kalian berisik…]

Tanpa sadar Donghyuck mengangguk-angguk setuju membacanya. Jangankan mereka berempat digabung. Untuk menjaga agar hanya dirinya yang diam saja dia tidak begitu bisa menjamin.

Dan sekarang, akhirnya mereka berada di teahouse yang dekat dengan kampus sang tutor, Moon Taeil hyung terhormat.

"Sekarang, kita belajar apa dulu?" tanya Taeil, sambil mengeluarkan beberapa alat tulis.

Jaemin mengangkat tangan. "Fisika!"

Donghyuck menyela. "Matematika!"

"Fisika dulu!"

"Matematika lah!"

Mark akhirnya melerai ketika melihat Taeil belum apa-apa sudah dikagetkan dengan dua murid privatnya berdebat. "Kita ikut maunya Jeno saja." Jaemin dan Donghyuck menggerutu.

"Eh? Aku? Hmm… kimia?" Jeno asal menjawab. Dia tidak terlalu tertarik untuk menentukan pelajaran apa dulu yang harus digarap.

"Tidak mau kimia…." Jaemin merengek. "Aku tidak mengerti satu hal pun tentang kimia…."

"Memangnya kamu kira kita di sini mau apa? Kita kan mau belajar yang kita tidak bisa."

"Tapi kalau kamu suka kimia, Jeno! Kamu sudah bisa!"

Jeno tidak menyangkal. Dia memang tadi hanya asal menjawab pelajaran yang paling dikuasainya. "Ya sudah, fisika saja. Masih banyak yang tidak kumengerti di fisika."

Jaemin lalu tersenyum sumringah. Dia memang ingin untuk pertemuan pertamanya, mereka mempelajari mata pelajaran yang dikuasainya, sehingga ada kesan pertama yang lumayan menyenangkan.

"Oke, fisika ya. Materi kelas 10, 'kan? Berarti… mulai dari vektor," kata Taeil lalu mulai menjelaskan.

Jeno sempat khawatir akan bagaimana jadinya pertemuan itu, tapi ternyata tidak begitu berbeda dengan ketika mereka makan siang berempat akhir-akhir itu.

"Taeil hyung?" ada suara yang membuat Taeil langsung menolehkan kepala karena merasa terpanggil. "Sedang apa di sini?"

"Taeyong," kata Taeil, menyebutkan nama orang itu. "Mengajar anak… teman ibuku dan juga teman-temannya. Kamu sendiri?"

Donghyuck dan Jaemin berbisik-bisik. "Itu kenalan Taeil hyung?" tanya Jaemin. Donghyuck hanya menjawab 'mungkin' lalu mengendikkan bahu.

"Oh… iya, aku juga mengajar. Biasa." Orang yang dipanggil Taeyong itu berjalan mendekat ke meja mereka.

"Biasanya kamu hanya mengajar di hari kerja, 'kan?"

"Sebentar lagi ujian, jadi… apa ya namanya? Intensif?"

Taeil mengangguk-angguk mengerti. Taeyong kemudian pergi setelah pamit dan berdadah-dadah. Jaemin lalu bertanya pada Taeil siapa yang tadi berbicara dengannya.

"Dia teman kuliah," jawabnya singkat.

"Kok panggilnya hyung?"

"Dia… hmm… adik kelasku? Yah, seperti itulah." Taeil membalik-balik halaman buku Donghyuck. "Dia memang tiap pekan ada jadwal mengajar privat murid SMP. Berbeda denganku yang mengajar kalau diminta Donghyuck. Dia tinggal sendiri, jadi dia harus mencari uang."

Mereka berempat mengangguk-angguk. Taeil telat menyadari kalau dia baru saja membeberkan kehidupan pribadi orang lain. Dia langsung mengalihkan pembicaraan dengan kembali mengajar.

"Hm? Ini buku paket kelas 11," kata Taeil ketika menyadari buku paket fisika yang ada di depan Mark. "Kamu kelas 11?"

"Iya. Aku kakak kelas mereka."

"Bilang saja daritadi, jadi aku juga mengajarimu fisika kelas 11. Kalian mau ujian, 'kan? –karena aku tahu Donghyuck tidak akan repot-repot membentuk kelompok belajar kalau bukan untuk ujian."

"Tidak apa-apa hyung. Aku juga sekalian me-review."

Walaupun begitu kata Mark, Taeil tetap menyisihkan waktu untuk membantu Mark mengerjakan soal di bukunya. Ketika Taeil menjelaskan vektor, Mark ikut memperhatikan. Ketika Taeil menjelaskan kinematika, ketiga adik kelasnya langsung ramai asal berceletuk.

Jeno orangnya peka. Dia menyadari kalau Taeil terus-terusan mengulang kata-katanya karena Mark tidak dapat mendengarnya, keberisikan oleh Jaemin dan Donghyuck yang sedang berebut potongan stroberi.

"Aku ke toilet, ya." Jeno bangkit dari kursinya. Ini adalah bentuk usahanya menghentikan kedua temannya ribut-ribut karena dia yakin—

"Ikut!"

–Donghyuck akan menyusul.

Jaemin meledek Donghyuck yang mengekori Jeno. "Donghyuck ternyata dari tadi minta ditemani ke toilet~" Setelah dibalas dengan juluran lidah, Jaemin bergabung dengan Mark dan Taeil –ikut memperhatikan.

Donghyuck terus berkicau sepanjang perjalanan ke toilet. Dia memuji-muji cara mengajar Taeil yang menurutnya jauh lebih mudah dimengerti dibandingkan gurunya di sekolah. Jeno juga mau tidak mau ikut menimpali karena dia memang mengagumi Taeil yang juga berjasa mengajarinya saat ujian akhir kelas 9. Jeno sendiri tidak begitu mengerti ada koneksi macam apa antara Donghyuck dan Taeil. Katanya, Taeil ini anak dari teman kerja ibu Donghyuck. Tapi umur mereka terpaut jauh dan rasanya lumayan jarang bisa sedekat itu hanya dengan berlatar belakang 'ibu kami adalah rekan kerja'… ya sudahlah.

"Itu orang yang tadi, 'kan?" kata Donghyuck, seraya menunjuk ke arah meja yang ditempati Taeyong dengan dagunya. Jeno melihat ke arahnya juga. Memang, itu orang yang tadi menghampiri Taeil.

"Hm?" Jeno merasa mengenali satu dari tiga orang yang duduk melingkar di sisi-sisi Taeyong. "Donghyuck, lihat orang yang—"

"Eh, itu Renjun bukan sih?"

Ya, mereka mengenali salah seorang dari anak-anak yang diajari adik kelas Taeil sebagai Hwang Renjun, teman sekelas Donghyuck. Lho, bukannya Taeyong mengajar murid SMP?

Mereka sempat sibuk meributkan kenapa Renjun yang jelas-jelas SMA malah privat dengan Taeyong yang mengajar pelajaran SMP. Mereka lumayan menarik perhatian karena memang teahouse itu tidak begitu luas, jadi kalau ada yang berhenti di satu titik tempat itu, akan langsung membuat orang memperhatikan.

Orang yang dibicarakan juga jadi menyadari mereka.

Renjun terlihat bicara sepatah dua patah kata pada Taeyong sebelum bangkit dari kursinya lalu berlari kecil ke arah Jeno dan Donghyuck. "Hai, kebetulan sekali. Kalian sedang apa di sini?"

"Oh, iya. Hai. Kami… sedang belajar kelompok –di sebelah… sana," jawab Jeno, sambil menunjuk ke arah meja mereka. "Lihat? Ada Jaemin dan Mark sunbae di sana –kenal Na Jaemin? Atau Mark Lee? Kelas 11."

Renjun mengangguk. "Aku tahu Na Jaemin. Sekelas denganmu, 'kan?"

"Renjun, tadi kita sempat bicara dengan mahasiswa yang mengajarimu itu," kata Donghyuck, walaupun yang bicara hanya Taeil. "Katanya, dia mengajar pelajaran SMP."

"Memang," jawab Renjun, singkat. Dia melihat Donghyuck terlihat bingung. "Oh, bukan, bukan. Dia tidak mengajariku. Dia mengajari Chenle –maksudku, temanku yang baru saja pindah dari China. Bahasa koreanya masih belum bagus, jadi aku di sana menerjemahkan."

Donghyuck mengangguk-angguk, mengerti. Sementara Jeno mengangkat sebelah alis. "Kamu bisa Bahasa mandarin?"

Mendengar pertanyaan Jeno, Renjun dan Donghyuck mengerjapkan mata. "Renjun besar di China. Ya jelas saja –semua orang tahu itu."

"Maaf deh…." Jeno menyikut Donghyuck. Dia benar-benar tidak pernah mendengar soal itu. Renjun tertawa melihat tingkah mereka.

Tiba-tiba, Jeno terpikirkan sesuatu yang menurutnya sangat cemerlang. "Oh, iya. Kita kan tadi mau ke toilet."

"Oh, iya. Lupa." Donghyuck menepuk dahi. Sebenarnya dia tidak terlalu memiliki urgensi ke toilet jadi dia lupa.

"Mau ikut? Sekadar cuci muka saja." Jeno mengajak Renjun. Renjun menyanggupi karena memang dia merasa pegal setelah duduk lama.

.

.

.

"Jadi… ada apa ya?" tanya Renjun, bingung dengan tingkah Jeno. Jeno menarik Renjun keluar dari toilet, meninggalkan Donghyuck yang masih ada di dalam.

"Aku mau tanya sesuatu… -oh, tunggu. Mungkin aku harus jelaskan dari awal dulu."

"Tentang apa?"

Jeno kemudian menceritakan soal dia menyukai seseorang yang sudah tidak bisa diharapkan lagi tanpa menyebutkan namanya. Dia juga cerita soal kata-kata Donghyuck hari-hari sebelumnya perihal dia katanya tertangkap basah curi-curi pandang pada seseorang yang identitasnya Donghyuck rahasiakan. "Dari caranya bicara, entah kenapa aku merasa kalau seseorang ini berasal dari kelasnya –yang berarti adalah kelasmu juga."

Renjun berusaha mencerna kata-kata Jeno lalu mengangguk-angguk.

"Jadi, apa di kelasmu ada orang yang… baik dan populer? Yang banyak disukai orang?"

"Entahlah… orang baik juga artiannya luas, 'kan?" Renjun berusaha mendatangkan nama dan wajah teman sekelasnya satu persatu dalam pikirannya, berusaha mencocokkan ciri mereka dengan yang disebutkan Jeno. Dia tidak terpikirkan siapapun yang kira-kira dimaksud Donghyuck. "Apa mungkin bukan dari kelasku?"

Jeno juga tidak terlalu yakin untuk membalas apapun. Dari awal memang semuanya bukan apa-apa selain spekulasi mereka sendiri-sendiri. Tidak ada fakta yang bisa dijadikan dasar dari pikirannya.

"Memang apa yang membuatmu berpikir orang itu anak kelasku?"

"Seperti yang kubilang tadi. Aku entah kenapa berpikir begitu melihat dari cara bicaranya, tapi tetap saja aku tidak begitu yakin," jawab Jeno, tahu pasti jawabannya itu memang tidak membantu. "Tapi… kira-kira Donghyuck melihatku memperhatikan siapapun-orang-ini di mana ya?"

Jeno dan Donghyuck memang berteman dekat, jadi mereka sering menghabiskan waktu bersama. Pisah kelas bukan halangan. Tapi pada waktu-waktu apa saja mereka berada di tempat yang sama? Yang pasti bukan jam pelajaran karena mereka tidak sekelas. Jam makan siang? Mereka sering makan berempat dengan Jaemin dan Mark di kantin –oh, Tuhan. Jeno panik kalau jangan-jangan yang dimaksud Donghyuck itu Mark lagi? Ah, tidak mungkin, tidak mungkin. Jeno berusaha menangkis pikirannya yang tiba-tiba menjalar ke mana-mana.

Orang yang disuka sudah punya pacar, lalu Jeno jadi mengincar pacarnya? Yang benar saja.

Tunggu. Jam makan siang?

"Ah…!" Jeno mencetikkan jari ketika mendapatkan argumentasi yang mendukung perkiraannya. Renjun menaikkan sebelah alis. "Aku selalu ke kelas 10-2 pada jam makan siang! Menjemput Donghyuck, lalu ke kantin! Iya, pasti saat itu."

"Oh, jadi dia melihatmu saat kamu ke kelas kami? Hmm, masuk akal." Renjun bersidekap. "Kenapa kalian makan siang di kantin sih? Kan dilarang beli-beli saat jam makan siang…."

"Ah, itu." Karena menemani Jaemin yang ingin makan dengan Mark, yang adalah kakak kelas –tidak mungkin mereka makan di salah satu kelas dari kelas mereka. Jeno ingin saja menjawab begitu, tapi dibatalkannya karena dirasanya tidak terlalu pantas untuk diceritakan. "Peraturannya memang melarang sih, tapi para penjual kantinnya tetap melayani kok. Asal tidak ketahuan, apapun boleh…."

Jeno baru saja mengutip kata-kata yang Jaemin ucapkan ketika peraturan itu baru saja diberlakukan. Dasar pelanggar aturan.

Renjun tertawa geli mendengarnya. Tidak menyangka Jeno akan mengatakan hal seperti itu. Jeno sendiri juga tidak menyangka kata-kata Jaemin ternyata ada faedahnya juga.

"Jadi pokoknya, kemungkinan terbesar adalah orang ini ada di kelasku ya," kata Renjun, kembali ke topik. "…orang ini baik –sepertinya memang baik sekali ya, sampai-sampai dilindungi sebegitunya oleh Donghyuck—, populer –memang ada beberapa yang sepertinya disukai banyak orang, tapi seingatku mereka sering adu mulut dengan Donghyuck—, lalu… dia sepertinya adalah tipe kesukaanmu."

"Tipe kesukaanku?"

"Soalnya katanya kamu melihat-lihat ke arahnya… tunggu. Aku tahu!" Renjun mengacungkan jari.

Jeno terperangah. "Benarkah? Siapa?" dia begitu antusias untuk mendengar nama apapun yang Renjun perkirakan adalah orang yang dia cari.

Renjun menarik napas sebelum menyebutkan namanya. "…Donghyuck sendiri…."

Hening sesaat. Donghyuck sendiri? Maksudnya Jeno curi-curi pandang ke Donghyuck?

"Aduh, Renjun. Tidak mungkin lah… yang benar saja. Tidak mungkin aku—"

"Tapi kamu sering melihatnya!"

"Karena memang aku mencarinya!" Jeno membantah, tapi kemudian termenung. Dia sedang berusaha mencermati ciri-ciri orang yang dia cari ini.

Baik banget, kata Donghyuck.

Banyak disukai orang, kata Donghyuck.

Mau tahu image Donghyuck seperti apa di pikiran Jeno? Orang yang akan mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai orang yang sangat baik dan disukai banyak orang, walaupun tidak ada survey yang dilakukan sampai kesimpulan itu ditarik.

"Kamu…," kata Jeno, napasnya sedikit tercekat. Dia menggenggam kedua bahu Renjun, membuat laki-laki yang lebih kecil itu sempat terlonjak kaget. "…benar juga!"

Jeno menyumpahi Donghyuck yang bisa-bisanya mengiranya suka hanya karena Jeno sering mencarinya di waktu senggang –dikiranya. Renjun menambah kehebohan di antara mereka dengan meledeki Jeno dan segala macamnya. Mereka tidak menyadari pintu kamar mandi yang terbuka dan seorang Donghyuck keluar dari sana.

"Kok pergi duluan sih?! –ini kalian ngapain teriak-teriak sih?! Bikin malu."

Jeno menepuk keras bahu Donghyuck. "K-Kuberitahu ya… aku memang menyukaimu tapi bukan dengan cara yang seperti itu, Donghyuck…."

"? Ini maksudnya apa?!" mata Donghyuck membelalak dan segera menepis tangan Jeno. Dia menatap horor pada Jeno dan Renjun secara bergantian. "Baru ditinggal tidak sampai lima menit dan –ahh! Kalian kenapa sih?!"

Butuh sepuluh menit untuk menyamakan pikiran di antara mereka bertiga, yang berakhir dengan Donghyuck menjitak Jeno dan Renjun bersamaan.

.

.

.

TBC

a/n. Tata bangkit dari kubur karena teaser Jeno sm Renjun berduaan lagi hshshshshs.

Saya…mau bilang kalo ada kritik-kritik bilang ajaa :'33 transisi tempat di chapter 2 emang aku berasa aneh jugaa tapi baru nyadar pas udah selesai dan gak tau gimana beresinnya haha semoga di sini dan seterusnya gak lagii aamiinnnn (makasihh guest!)

"Renjun suka sama Jeno gak sih?" hmmm bisa jadi bisa jadi!

"Sedih gak ada MarkHyuck.." kalo ada berarti Mark selingkuh :'(( dan saya cenderung HyuckMark sih haha terimakasih fanfic2nya leejegun yang ngebuat saya suka HyuckMark hahahaha

OH IYA. Coba tebak pair kesukaan saya selain NoRen sama MarkMin dehhh haha ((bakal update chapter 4 kalo udah ketebak hahaha canda candaa))

Makasih yang udah baca, review, fav, followwww cintahh 3