[Jeno: Move On]
Rate: T for normalization of same sex relationship
Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.
Chapter 4
Taeil sedikit jengkel dibuat Donghyuck hari itu. Secara, Donghyuck baru memintanya untuk diajari dua minggu sebelum ujian. Padahal…
"…sin120 nilainya sama dengan…?"
"…kok 120? Katanya hanya ada sudut 30, 45, sama 60..."
…Donghyuck butuh paling tidak dua bulan penuh privat intensif untuk bisa mendapat nilai di atas 85.
Tidak, Donghyuck tidak bodoh. Hanya saja, di setiap pelajaran, dia pasti akan izin ke toilet. Katanya sih, hanya lima menit. Tapi entah definisi lima menit mana yang dia anut. Dia kembali setelah 20 menit kelas berlangsung. Kembali ke kelas juga dia hanya balik tidur.
"Perhatikan penjelasan gurumu di sekolah… kalau kamu tidak tahu dasar-dasarnya, aku juga bingung…."
"Soalnya dari awal aku sudah ada rencana minta diajari hyung."
"Kalau begitu minta lebih cepat…."
Sejak itu, mereka membuat grup chat untuk diskusi karena Taeil sibuk pada senin-jumat. Walaupun begitu, Taeil tidak merasa terganggu dengan itu. Dia entah kenapa teringat ketika masa-masa dia juga menempeli seorang kakak kelas minta diajari. Tidak dia sangka sekarang dia jadi di pihak yang mengajar.
Yang paling sering bertanya di grup itu adalah Mark. Donghyuck pernah bilang tidak kalau guru di sekolah mengajarnya tidak jelas? Sebenarnya, Mark juga merasa begitu. Jadi bisa dibilang, Donghyuck bukan membuat-buat alasan.
Apa grup itu benar-benar hanya soal belajar? Tidak. Jaemin kadang mengirim foto-foto aneh, yang lalu dibalas Donghyuck dengan foto yang menurutnya lebih aneh, lalu Jaemin membalas lagi… dan siklus itu tidak berhenti sampai Mark menghentikan mereka.
Hari ini, mereka juga sedang diskusi sambil terus menerima soal yang dikirim Taeil di grup tapi tidak begitu serius karena mereka mulai merasa jenuh. Lama-lama, belajar lewat grup chat seperti itu menurut mereka tidak praktis.
Jaemin
[Hyung ada waktu lagi kapan?:( ketemu lagi aja yuk]
Donghyuck
[Baca soal dari hp bikin pusing]
Mark
[Kalian banyak maunya]
[Tapi aku juga lebih suka ketemu langsung saja]
Taeil
[Jumat sore aku ada waktu. Di teahouse kemarin ya.]
Jaemin
[YEY]
[Nanti asik nih kalau ketemu adik kelas hyung lagi]
[Dia keren banget haha]
Jeno
[Iya gayanya keren]
[Kapan aku bisa begitu]
Jaemin
[Kamu udah keren ih]
[Bikin kesel]
Donghyuck
[Masih kalah sama Mark hyung sih hahaha]
Taeil
[Kalian benar-benar tidak mau lanjut belajarkah… T_T]
[Belajar woi]
Mark
[Ayo belajar belajar]
Jeno sempat hampir memakan hp-nya sendiri membaca balasan chat dari Jaemin. "Menurutnya… aku keren ya," bisiknya pada diri sendiri. Ada perasaan senang yang membuncah dari dalam dirinya, apalagi ketika setelah beberapa lama Mark dan Donghyuck tidak muncul lagi di chat.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu ketika pembicaraan mulai membahas si adik kelasnya Taeil.
Jeno
[Eh, ajak Renjun ke grup belajar ini dong]
Jaemin
[Hwang Renjun? Kelas 10-2?]
Jeno
[Kamu tahu?]
Jaemin
[Tahu lah! Aku malah kaget kamu tahu-_-a]
[Anaknya manis hehe]
Jeno
[Iya?]
Jaemin
[Iya ih]
[Beneran kenal tidak sih]
[Senyumnya lho]
Jeno tidak terlalu menyadarinya, tapi dia akui ada sesuatu yang menggelitik ketika melihat senyum Renjun. Tanpa sadar, Jeno mengangguk-angguk seolah sekujur tubuhnya menyetujui pemikiran kalau senyum Renjun itu sangat manis.
Jaemin
[Memangnya ada apa kok tiba-tiba mau mengajak Renjun?]
Jeno
[Dia waktu itu juga ada di teahouse]
[Pas kita belajar di sana]
[Dia waktu itu bareng adik kelasnya Taeil hyung]
Taeil
[Hah]
[Sama Taeyong?]
[Dia masih SMP? Kalau begitu tetap sama Taeyong saja lah]
Jaemin
[Tidak hyung~ dia sekelas dengan Donghyuck]
Taeil
[Lah]
[Katanya dia mengajar anak SMP]
Jeno
[Dia menemani temannya yang SMP]
[Temannya ini baru pindah dari China]
[Bahasa Korea-nya masih belum bagus]
Jaemin
[Oh~ iya, ya. Renjun kan besar di China]
Jeno
[…apa benar-benar hanya aku yang tidak tahu itu]
Jaemin
[Kamu benar kenal tidak sih?-_-]
Taeil
[Terserah kalian]
[Ditambah satu bocah lagi juga tidak apa-apa]
[Santai]
Jeno mematikan layar hp-nya sebelum melanjutkan belajar. Dia tahu dia sudah memutuskan untuk tidak mengejar Jaemin lagi, tapi tetap saja tiap berinteraksi dengannya akan tetap membuat perasaannya senang hingga dia tidak menyadari senyuman yang merekah di wajahnya. Dalam sekali chat, hatinya sudah dibuat senang sampai sebegitunya.
Jeno pikir, porsi senang-senangnya sudah habis hari itu tapi ternyata hp-nya berkata lain dengan berbunyi tanda ada notifikasi baru.
Ada private chat. Dari Jaemin.
Tangan Jeno melesat menyambar hp-nya yang tergeletak di samping kanannya.
[Taeil hyung bahasanya kalau di SNS lucu ya~]
[uwu]
[Maksudnya?.-.]
[Dia tidak melawak…]
[Bukannn]
[Itu lho~ padahal biasanya dia kan sopan-sopan kalau ketemu langsung]
[Tapi di chat tadi dia ngomongnya kayak kasar-kasar gimana gitu~ uwu]
[Lucu]
[Ooh iya iya aku mengerti]
[Aku sempat berpikiran begitu juga haha xD]
Kenapa kamu memilih mengatakannya padaku?
Hampir saja Jeno meng-klik tombol send karena kata-kata itu sudah diketikkannya tanpa sadar.
Jujur saja, dia akhir-akhir ini jadi makin kelewat peka dengan apapun yang Jaemin lakukan. Padahal dia hanya mengirim chat. Tidak lebih. Tapi chat dari Jaemin sangat membuat Jeno senang.
Jeno berusaha menenangkan dirinya dengan membantah semua pikiran-pikirannya yang mengatakan dia masih bisa mendapatkan Jaemin jika dia berusaha lebih keras lagi.
Yang saat ini terlihat online hanya kamu, Jeno.
Dia ingin membicarakan tentang Taeil hyung, Jeno.
Tidak mungkin Jaemin membicarakan Taeil hyung dengan orangnya sendiri, Jeno.
Sadarlah, Jeno.
Jeno menghela napas. Dia tahu jelas kalau definisi dari menenangkan dirinya untuk saat ini adalah dengan membuatnya berpikir dirinya adalah pengganti Mark. Ketika Jaemin mencari Jeno, itu artinya Mark sedang tidak ada. Apa yang terjadi itu tidak ada ujungnya.
Ia letakkan hp-nya –lebih jauh dari sebelumnya– walaupun ada notifikasi baru lagi yang datang.
.
.
.
"Kelompok belajar?" Renjun mengerutkan sebelah alis mendengar kata-kata Donghyuck. Donghyuck mengangguk. Sebenarnya bukan apa-apa sih, tapi Renjun tidak menyangka saja dia akan diajak belajar oleh orang yang biasanya tidak terlihat pada jam pelajaran berlangsung.
Entah kenapa merasa bisa membaca pikiran Renjun, Donghyuck merasa ingin menjitaknya. "Mau tidak? Kan bukan temanmu saja yang mau ujian. Kamu juga harus belajar buat ujian."
"Iya sih…."
Donghyuck gerakannya cepat. Pagi-pagi, dia terkejut melihat grup chatnya ternyata ramai ketika dia akhirnya tidur karena pusing lama-lama melihat layar hp. Dia awalnya mendecih melihat ternyata Jaemin dan Jeno yang membuat grup chat itu serasa private chat dan akhirnya hanya membaca sekilas pesan baru yang hampir berjumlah seratus itu. Jarinya berhenti me-scroll layar ketika matanya menangkap tulisan nama Renjun di sana.
Dia membaca sampai ke bagian Taeil mau ikut-ikut saja kalau mereka tidak keberatan dengan ditambahnya seorang lagi ke kelompok mereka. Memang tidak ada yang membicarakan dengan pasti siapa yang akan mengajaknya, tapi Donghyuck merasa dialah yang kemungkinan tertingginya akan ditunjuk juga akhirnya, melihat dia sekelas dengan Renjun.
"Memang ada siapa saja?" tanya Renjun.
"Aku, Jeno, Jaemin, dan Mark hyung. Yang kemarin ada di teahouse juga."
Renjun tidak sempat melihat yang mana Mark hyung yang dia maksud itu kemarin, tapi Renjun hanya mengangguk-angguk karena toh dia tahu ketiga orang yang dimaksud. "Aku sebenarnya juga diajari Taeyong hyung sih… tapi kayaknya lebih enak kalau bareng teman yang materinya sama."
Donghyuck mengacungkan ibu jarinya. "Mau?"
Renjun mengangguk.
"Oke. Aku bilang dulu ya." Donghyuck mengeluarkan hp-nya dan membuka grup chatnya.
Masih terkagum melihat Donghyuck ternyata cukup rajin sampai membentuk kelompok belajar, Renjun mengucapkan terima kasih padanya karena telah mengajaknya bergabung.
"Jeno yang mengusulkan, jadi terima kasihnya sama Jeno saja."
"Begitu?"
Renjun merasa aneh akhir-akhir itu. Entah hanya dirinya, atau memang nama Jeno jadi sering dia dengar –atau malah orangnya juga sering dia lihat. Dia tidak benci itu, tapi yah… hanya bertanya-tanya.
Mereka sekarang sedang pergantian kelas, dari kelas sejarah ke ruang komputer yang ada di gedung berbeda. Di tangga, kelasnya bertemu dengan rombongan kelas 10-1 yang juga berpindah dari kelas MTK ke kelas kimia. Renjun yang berjalan di depan Donghyuck bisa melihat Jeno di barisannya.
Ketika Renjun hendak sekadar menyapa singkat, orang yang berjalan di depan Jeno sudah mendahuluinya membuka mulut walaupun mereka belum berpapasan –Renjun masih di bagian atas tangga, sedangkan Jeno baru mau naik. "Renjun! Aku sudah dengar dari Donghyuck! Kamu mau kan ikut tutor jumat sore ini? –aku Jaemin! Tahu kan?"
Renjun mengangguk dan menjawab seadanya.
Posisi Renjun akhirnya dekat dengan Jeno yang berjalan berlawanan arah dengannya. Renjun ingin mengucapkan terima kasih tapi tidak jadi karena apa yang dikatakan Jeno sesaat sebelum Renjun menepuk pundaknya membatalkan niatnya.
"Jangan jatuh lagi ya~" Jeno mengedipkan mata. Senyumnya meledek.
Oh iya, dia pernah jatuh di tangga.
Renjun sedikit memerah mengingatnya lagi. "JENO!" Jeno tertawa mendengar Renjun meneriakkan namanya sebelum Renjun mempercepat langkahnya –walaupun tidak begitu membantu karena orang yang berjalan di depannya berjalan sangat lambat.
Donghyuck yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Dia sudah dengar cerita bagaimana caranya Jeno membolos di UKS dengan izin guru dari orangnya sendiri, jadi dia mengerti.
"Tadi kamu mau bilang apa ke Jeno?" tanya Donghyuck, langsung ke poinnya.
"…terima kasih…."
"Tidak jadi?"
Renjun mendengus. "Dia tidak perlu ucapan terima kasih!"
Entah Renjun menyadarinya atau tidak, tapi Donghyuck melihat Renjun sedikit menahan senyum. "Senang ya?"
"Senang kenapa?"
"Tidak tahu. Gara-gara diledek Jeno mungkin?"
"Kamu juga jangan ikut-ikutan meledekku!"
Oh, dia tidak menyangkal. Pikir Donghyuck.
"Eh, tahu tidak," celetuknya, membuat Renjun yang sibuk mengerucutkan bibirnya menoleh. "Jeno akhir-akhir ini murung."
Renjun menaikkan sebelah alis. Jeno murung? "Ada apa?"
"Ada deh. Sepertinya masalahnya lumayan serius –menyedihkan."
"Masih soal orang yang dia suka tidak membalas perasaannya?"
"Oh, kamu tahu? –Oh, iya. Waktu itu kamu kan sama Jeno ribut-ribut di depan kamar mandi soal itu ya." Donghyuck menepuk keningnya. "Tidak asik. Tidak jadi deh."
"Lho? Kamu mau bilang apa sih?" Renjun gemas melihat Donghyuck yang lalu hanya memalingkan muka. "Masa' begitu doang?"
"Hmm… memang bukan hanya itu sih." Donghyuck terlihat berpikir dua kali. "Yang kutahu kan Jeno sedang murung ya. Jadi aku tadi sempat kaget melihat Jeno ada minat meledekmu seperti itu –tapi tetap saja aku merasa paling kaget melihatnya heboh-heboh denganmu di teahouse."
Renjun mengingat-ingat. Dia tidak terlalu mengingat Jeno bersikap murung atau semacamnya. "Aku tidak begitu… memperhatikan –bukan. Aku benar-benar tidak menyadarinya."
"Jangan-jangan mood-nya membaik tiap bersamamu…."
"Hah? Masa' bisa begitu?"
"Mungkin saja kan?"
"Tidak mungkin~ sudahlah, nyalakan komputermu~"
Donghyuck tidak sadar sejak kapan mereka sudah sampai di ruang komputer. Dia segera berbalik menuju komputernya berada, yang lumayan jauh dari posisi komputer Renjun.
Mood-nya membaik tiap bersamaku? Renjun mengulang kata-kata Donghyuck barusan dalam kepalanya. Bersamaan dengan itu, Renjun menepis pikiran itu jauh-jauh.
Dirasakannya hp-nya yang disimpan di saku celana bergetar. Notifikasi dari Donghyuck.
[Pokoknya kamu wajib membuat Jeno ceria lagi!]
[Janji? Janji!]
Renjun menggelengkan kepala melihat Donghyuck memutuskan sendiri kalau dia berjanji memenuhi permintaannya yang terkesan samar-samar. Membuat seseorang ceria lagi? Wow, sulit juga. Membuat diri sendiri ceria saja susah, apalagi orang lain?
.
.
.
TBC
a/n. saya kaget ada yang berhasil nebak wao wao. Sebenernya sih saya fleksibel banget kalo pairing antara hyung line (kalo anak dream mah fix cuma tiga: NoRen, MarkMin, ChenSung. . .gugat). Lho? Haechan sendirian? Kan sama saya /yey/.
Tapi yah. Saya masukin Taeil di fic ini deket banget sama Haechan kan pasti ada alasannya /kabur. Terus juga ada Taeyong nyamperin Taeil juga bisa diartiin /kabur. (Selamat kepada BlueBerry Jung karena berhasil nebak yeyyeyeyey)
Views menurun tapi tidak apa-apa! Stronyyy! Saya pengen cepet kelarin ini biar bisa lanjut project MarkMin hshshs doakan!
