[Jeno: Move On]
Rate: T for normalization of same sex relationship
Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.
Chapter 5
.
.
Hal yang sangat langka terjadi sekarang… yah, well, sedang terjadi. Kelas matematika kosong, tanpa guru. Padahal gurunya terbilang tidak pernah izin sepanjang tahun. Tapi guru seperti itu pasti akan tetap meninggalkan tugas untuk kelas 10-1 kerjakan sampai tuntas.
Jaemin menghela napas. Sedari pagi, Jeno sudah menyadari kalau mood Jaemin sepertinya sedang tidak begitu baik tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya –tapi sekarang dia akan bertanya. "Ada apa sih?"
"Mark hyung… akhir-akhir ini menyebalkan."
Ah, masalah romansa.
Ada sedikit rasa nyelekit dalam hati Jeno, tapi dia lumayan suka rasa sakitnya jadi dia bertanya lebih lanjut. Masokis.
"Sebenarnya… bukan masalah besar sih." Jaemin bersungut-sungut. Dia memainkan pena yang bertengger di tangannya. "Hanya saja… hyung sekarang tidak membalas chat-ku dengan emoji…."
Gubrak.
"Apaan sih? Boro-boro besar –masalah saja bukan!" Jeno memutar mata.
"Ih, Jeno anak zaman kapan sih? Sekarang, tuh ya –aku kasih tahu saja, chat dibalas langsung atau tidak itu mempengaruhi tahu!" Jaemin mengacungkan jari telunjuknya pas di depan wajah Jeno, mengguruinya. "Apalagi emoji. Itu sudah masuk ke level konten!"
Jeno menyergah kata-kata Jaemin yang dinilainya tidak berpoin. Dia menyesal telah bertanya. Dia berusaha kembali fokus mengerjakan soal yang ditugaskan, menghiraukan kuliah Jaemin tentang pacaran zaman sekarang.
"…aku tahu sih, Mark hyung itu memang pada dasarnya tidak menggunakan emoji di chat –dia baru menggunakannya ketika aku memaksa…," tutur Jaemin. Pandangannya mengawan-awan. "…tapi Jeno juga tidak biasa pakai emoji, tapi kalau membalas private chat-ku pasti pakai emoji!"
Jeno terbatuk-batuk mendengarnya.
Jaemin menatapnya heran. "Kamu kenapa…."
"T-Tidak." Jeno memalingkan muka.
"Ah~ malu ya~ lucu, lucu." Jaemin mengangguk-angguk, sebelum lanjut meledeki Jeno.
.
.
.
"Lah? Demi apa?" Donghyuck membelalakkan mata. "Anjir, serem juga si Jaemin –tunggu, kamu pakai emoji di private chat? Sejak kapan?"
"…sejak aku mengincar Jaemin."
"Selama itu?"
Sekarang sedang waktu istirahat siang. Jeno langsung menuju kelas 10-2 untuk menarik Donghyuck ke manapun asal tidak ada orang. Donghyuck sempat protes karena hari itu adalah hari yang datang sekali dalam sebulan di mana dia sadar diri dengan statusnya sebagai murid, jadi dia tadi sedang mencatat tulisan di papan tulis tapi diinterupsi Jeno yang tanpa babibu langsung menariknya begitu saja.
"Renjun! Nanti aku salin catatanmu ya!" kata-kata terakhir Donghyuck sebelum benar-benar menghilang dari kelas itu. Mereka sudah tidak terlihat dari tempat Renjun duduk, tapi Renjun tetap menjawab dengan kebingungan.
Kembali ke Jeno yang sedang menceritakan apa yang terjadi di kelasnya tadi. Donghyuck sempat bingung kenapa sahabatnya ini senang sekali main perasaan kayak cewek SMP sedang puber.
"Tapi aku juga jadi bingung sih. Sebenarnya, Jaemin itu melakukan hal seperti itu dengan sengaja atau tidak sih? He's a born playboy, I'll say."
"Eh, kamu ngapain?" tanya Jeno ketika Donghyuck mengeluarkan hp-nya dan mulai mengetikkan sesuatu. Dia bisa melihat kalau Donghyuck sedang membuka private chat dengan Jaemin.
"Eksperimen."
Jeno tidak mengerti.
"Aku mengiriminya pesan dengan emoji."
"Kamu biasanya tidak pakai emoji kan?"
Donghyuck mengangguk. "Oh, sudah dibalas. Hmm… [Ini bajak ya?:( bajak itu tidak baik. Beda tipis dengan fitnah…]. …aku tidak tahu harus tertawa atau apa –tolong."
Donghyuck sibuk membalasi chat Jaemin dengan emoji dan terus tertawa tiap kali Jaemin membalas. Dia lupa dengan Jeno yang sekarang menatap lemah entah pada apa.
"Eh, Donghyuck. Kamu serius tidak mau memberitahuku siapa yang kau maksud waktu itu?" Jeno tidak peduli akan temannya yang sedang asik dengan hp-nya. "…dia anak kelasmu, 'kan?"
Donghyuck berhenti sejenak untuk meletakkan hp-nya untuk menghadapkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Jeno. "Kamu masih memikirkan tentang itu?"
"…karena mungkin saja aku bisa lebih mudah lupa kalau aku tahu siapa orang ini."
Donghyuck melengos. "Tuh, 'kan? Cara berpikirnya masih seperti itu. Jangan salahkan aku kalau aku tidak mau memberitahumu."
Tidak langsung menyerah, Jeno melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang barangkali bisa membuat Donghyuck kelepasan bicara soal apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Marganya, kelasnya, peringkatnya, temannya… apapun itu! Tapi sepertinya maksud Donghyuck merahasiakan identitas orang ini mengukuhkan alam bawah sadarnya sampai-sampai dia benar-benar tidak membocorkan hal apapun yang bersangkutan dengan orang ini.
Jeno mengusak rambutnya frustrasi. "Orang ini siapa sih?! Bikin susah saja!" Jeno merutuki dirinya sendiri dan Donghyuck, yang kini sibuk lagi dengan hp-nya. "Aku harus tanya siapa lagi?! Renjun saja tidak tahu!"
Donghyuck memutar matanya mendengar kata-kata Jeno. "Bodo amat, dah."
.
.
Mark
[Hyung, soal nomor 16 di halaman 20 itu bagaimana caranya?]
Taeil
[Di buku yang mana?]
Mark
[Oh iya. Yang terbitan tahun 2015.]
Taeil
[Oh… tunggu ya. Aku jelaskan lewat voice note ya.]
[-voice note-]
[Jelas tidak?]
Mark
[Iya, jelas hyung. Terima kasih]
Taeil
[Tumben kamu tidak bertanya di grup chat]
Mark
[Haha]
[Mereka sedang asik mengobrol hyung]
[Lagipula mereka juga belum sampai materi ini]
Taeil
[Tapi lebih baik begitu daripada melihat Jaemin dan Jeno mesra-mesraan di grup chat]
[Tidak, aku tidak iri]
Mark
[Jaemin dan Jeno mesra-mesraan?]
Taeil
[Iya, kan?]
[Mereka selalu begitu]
Mark
[…kapan?]
Taeil
[Kemarin?]
[…kok entah kenapa, aku merasa aku salah ngomong ya]
Mark
[…Jaemin itu pacarku]
Taeil
[….]
[..maaf]
.
.
.
Entah kenapa, hari itu Donghyuck sudah berada di sekolah 30 menit sebelum bel masuk. Mungkin karena dia masih dalam mode sadar diri?
Tapi yang pasti dia sedikit menyesali ketidakbiasaannya ini, karena jam segini, Jaemin juga sudah ada di sekolah. Dia boleh saja adalah pembangkang aturan, tapi Jaemin juga… apa namanya? Morning person?
Jaemin menghadang Donghyuck yang baru akan berjalan melewati kelas matematika 1 yang sedang ditempati kelas 10-1 pada jam pertama hari ini, menuju kelas Bahasa inggris 2 yang berjarak tiga kelas dari sana.
"Ih, apaan sih? Pagi-pagi sudah mau ribut?"
"Galak amat~ dengar nih, kabar terbaru~" Jaemin berloncat-loncat kecil mengikuti Donghyuck yang tetap berjalan mengabaikan Jaemin. Donghyuck sudah tidak ingin melihat wajahnya setelah kemarin seharian chat dengannya untuk urusan yang sangat tidak berfaedah.
"Dengarkan ya Lee Donghyuck!" Jaemin berdeham. "Mark hyung cemburu sama Jeno!"
Donghyuck hampir terpeleset mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jaemin dengan begitu nyaringnya. Dia tidak salah dengar? "Cemburu sama Jeno?! Kok bisa?!"
Jaemin kemudian menjelaskan dengan rinci bagaimana Mark tadi malam langsung mengirim chat padanya. [Aku tahu kamu dekat dengan Jeno, tapi Taeil hyung sampai mengira kamu pacaran dengannya lho].
"Tiba-tiba aku jadi merasa begitu dicintai~ ya, aku sekarang 150% yakin Mark hyung masih sayang padaku walaupun tanpa emoji."
Donghyuck menganga, tidak menyadari Jaemin yang sudah berbalik menuju kelasnya, masih dengan meloncat-loncat senang. Pening, adalah yang dia rasakan sekarang. Sudah cukup dengan mendengar rajukan Jeno kemarin dan rentetan tuduhan fitnah di chat dengan Jaemin. Sekarang Taeil hyung juga sudah menambah kemumetan otaknya.
"Dokter cinta ini butuh istirahat…."
.
.
.
Hari jumat sudah tiba. Sebenarnya, hari itu dibagi menjadi pagi, siang, sore, lalu malam kan? Tapi langsung percepat ke sore yuk, waktu di mana Renjun sekarang sudah berada di perpustakaan dekat sekolah. Iya, pada pagi dan siang, yang terjadi hanyalah grup chat kelompok belajarnya ramai karena Taeil tiba-tiba mengganti tempat janjiannya menjadi perpustakaan yang dekat dengan sekolah murid-muridnya itu. Walaupun jadi lebih jauh dari kampusnya, tapi suasananya lebih kondusif dan sisi baiknya adalah perpustakaan ini tidak terlalu keras dalam peraturan 'dilarang berisik'-nya.
Ini pertama kalinya Renjun mengunjungi kawasan itu. Dia celingak-celinguk mencari barangkali salah satu temannya ada di sana. Dia sudah bertanya di grup chat, tapi yang membalas hanya Taeil. [Aku baru keluar dari kampus. Maaf ya, aku bakal telat].
"Renjun."
Renjun menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum lega melihat Jeno yang berlari kecil ke arahnya.
"Kenapa tidak ada yang membalas pesanku di grup?" Renjun bersungut-sungut. Dia mencebikkan bibir melihat Jeno jelas-jelas menggenggam hp-nya.
"Soalnya aku tadi sudah melihatmu sebelum ada notifikasi chat –maaf," kata Jeno, sambil memberikan gestur untuk masuk duluan ke perpustakaan. Renjun menatapnya dengan pandangan bertanya. "Mark hyung ada latihan basket dulu. Dia bakal ikut latihannya setengah jam. Jaemin menunggunya. Donghyuck… ke mana ya? Aku belum melihatnya. Dia tidak membalas chat-ku."
Renjun mengangguk-angguk mengerti. Dia penasaran dengan kakak kelasnya yang bernama Mark ini. Sejak kemarin, dia sebenarnya sudah berusaha mencari-cari Mark saat istirahat, tapi dia tidak terlalu melihatnya walaupun Donghyuck sudah menunjukkan yang mana.
Mereka langsung menempati meja baca yang disediakan. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka. Memang, sudah seharusnya mereka tidak mengobrol di perpustakaan.
Jeno bangkit dari tempat duduknya. "Mau lihat-lihat sampai mereka datang?" bisiknya, berharap dia tidak mendapat teguran dari penjaga perpustakaan. Renjun mengangguk sebelum ikut berdiri dan mengikuti ke mana Jeno melangkah.
Renjun menengadahkan kepala melihat rak-rak buku yang menjulang tinggi. Seperti yang diharapkan dari perpustakaan –koleksi bukunya tidak tanggung-tanggung. Dia terus berjalan dengan kepala tertadah ke atas, hingga akhirnya menubruk Jeno yang tidak lagi berjalan. Dia sudah berhenti melihat salah satu rak.
Renjun langsung membekap mulutnya yang tadi sedikit tersapu pada… telinga Jeno, mungkin? Jeno juga langsung memegangi telinganya. "Hati-hati, Renjun…." Jeno menahan tawa geli. Tidak begitu suka dengan tawanya, Renjun memukul main-main pundak Jeno –tapi Renjun juga menyunggingkan senyum, menunjukkan gigi gingsulnya yang manis.
"Ehem." Jeno dan Renjun langsung mengecilkan suara begitu mendengar suara dehaman dari penjaga perpustakaan.
Renjun yang malu langsung berlalu melewatinya. Jeno masih menahan tawa.
Langkah Renjun terhenti ketika dia melihat jejeran novel Sherlock Holmes. Dia… bukan, dia bukan pembaca Sherlock Holmes. Bagaimana menjelaskannya ya –dia sering mendengar soal Sherlock Holmes, tapi dia tidak pernah benar-benar tahu apapun selain soal dia adalah tokoh detektif yang sangat terkenal. Dia entah kenapa merasakan kagum ketika melihat jejeran buku dengan label Sherlock Holmes besar-besar. Entah kenapa sangat enak dipandang mata.
Ketika dia tanpa sengaja menengadahkan kepala lagi, matanya menangkap pinggiran buku yang bertuliskan 'The Hunchback of Notredame'. Dia ingat pernah menonton animasi dengan judul yang sama, jadi dia ingin coba membacanya. Tapi… ah, bukunya tinggi sekali. Tidak juga sih. Terlalu tinggi untuk dia gapai, tapi terlalu rendah untuk menggunakan tangga yang beroda itu, yang tidak Renjun ketahui namanya.
Masih berkeinginan membaca buku itu, Renjun kemudian mengerahkan segala kekuatannya untuk berjinjit dan mengulurkan tangannya tinggi-tinggi.
"Hnngggh….!" Renjun mengerang. Dia masih tidak cukup tinggi untuk mencapai posisi buku itu. "…Se..dikit…la…!" dia kesal dengan jarak yang sebenarnya tinggal sedikit sampai jarinya dapat meraih buku itu. Instingnya mengatakan, dengan sedikit loncatan, buku itu bisa dia dapatkan –dan akhirnya dia berusaha meloncat, tapi ternyata tidak berjalan mulus karena jadinya dia malah kehilangan keseimbangan.
Untung saja Renjun tidak sampai jatuh tersungkur di lantai yang beralas karpet tebal karena tubuhnya sudah lebih dulu dipapah temannya yang berambut hitam itu. Jeno.
"Kamu ngapain sih… nih." Jeno menyerahkan buku yang daritadi membuatnya berjinjit-jinjit tidak membuahkan hasil. Jeno mengambilkan buku itu untuknya dengan satu tangan, lalu tangan yang lainnya masih mendekap tubuh Renjun dekat dengan tubuhnya.
Renjun tidak menjawab. Dia juga sebenarnya tidak bergerak sedikitpun dan itu membuat Jeno mengernyitkan alis. "Bukan yang ini?" dia jadi mengira dia salah mengambil buku.
Matanya ia kerjapkan berkali-kali ketika Jeno melambaikan tangannya di depan wajah Renjun. "Eh, b-benar kok… yang ini. Terima kasih."
Jeno menghela napas. "Ya sudah, ayo balik. Donghyuck tadi baru membalas. Dia katanya sudah dekat sini."
Renjun hanya mengangguk lemah. Dia tidak tahu kenapa, tapi kepala dan langkahnya terasa begitu ringan. Begitu ringan sampai dia jatuh –kali ini benar-benar menyentuh lantai tanpa ada yang menahan. Terima kasih pada karpet tebal yang sudah meminimalisasi rasa sakitnya sampai tingkat 0.
Jeno berbalik melihat Renjun yang terjatuh. "Kok jatuh sih? Tidak ada apa-apa di sini…." Jeno mengulurkan tangan pada Renjun, membantunya berdiri. Jeno menyadari saja kalau Renjun jadi… tidak begitu fokus. "Ada apa sih?"
"Tidak ada apa-apa...," jawab Renjun pelan, tapi segera memalingkan muka dari Jeno.
Jeno tidak terlalu percaya itu, tapi dia tidak memaksa. Jadi dia hanya terus berjalan menuntun Renjun –masih dengan tangan yang bertaut.
Renjun memegangi wajahnya dengan satu tangannya yang bebas. '…tadi itu apa ya?'.
.
.
.
TBC
a/n. ini teenlit atau apa sih. Ini lama2 saya bikin naskah sinetron s*ctv dah
Yang gak sabar ff ini selesai mohon bersabar uwu;;; kita BARU MAU masuk ke inti hahahahHHAHAHhhaH
Saya mau nanya dongg bedanya hurt/comfort sama angst apa ya? Saya nyari di thread2 pada bilangnya kalo angst itu ada yang meninggal :/ apa saya harus membunuh salah satu karakter biar ff nya bisa dikasih genre angst?
