[Jeno: Move On]

Rate: T for normalization of same sex relationship

Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.

Chapter 6

.

.

Jeno risih.

Donghyuck lebih risih.

Mark paling risih.

Jaemin? Jaemin yang bikin risih. Secara, dia terus-terusan menempel pada Jeno.

Iya, mereka sudah memulai belajar kelompoknya dengan anggota lengkap. Taeil, yang awalnya bilang akan datang telat malah sampai lebih dulu daripada Donghyuck. Lho? Bukannya Donghyuck sampai duluan? Kan katanya sudah dekat pas Jeno masih keliling melihat-lihat. Iya sih, tapi ternyata Donghyuck sempat putar balik gara-gara merasa ada barangnya yang jatuh. Jadilah dia sampai berbarengan Taeil.

"Jadi… ada pertanyaan mengenai virus?" Taeil menanyakan pertanyaan klasik di kalangan para pengajar. Jaemin mengangkat tangan. "Ya, Jaemin?"

"Jadi virus ada yang menguntungkan ya?" tanya Jaemin. Taeil mengangguk tapi kemudian merasa tidak enak melihat muka Jaemin yang sepertinya belum selesai dengan kata-katanya. "Virus merah jambu termasuk yang menguntungkan, kan? Soalnya aku jadi merasa senang sekali kalau kena virus yang itu~"

Yha. Taeil mengangguk lemah, lalu langsung disela Donghyuck. "Kamu setelah ini nggak boleh ngomong lagi sampai pulang ya, Jaem."

Jaemin mengerang. "Bercanda ih!" bibirnya dimajukan. Dia kemudian menengok ke Jeno yang duduk di sebelah kanannya. "Tapi memang bikin senang, kan? Kata Jeno bagaimana?" tubuhnya dia condongkan ke arah Jeno, yang membuat Jeno sedikit salah tingkah.

"Jaem." Suara Mark yang duduk di seberang Jaemin. "Kamu mengganggu Jeno."

"Hm?" Jaemin hanya melirikkan mata ke arah Mark. "Hyung ngomong apa sih? Jeno tidak merasa terganggu, kok. Iya kan?"

Jeno menelan ludah. Dia daritadi berusaha melemparkan pandangannya ke manapun asal bukan sebelah kirinya, Jaemin. Tapi kalau terus ditempeli seperti itu, ujung-ujungnya pasti juga akan melihat. Dia melihat dari ekor matanya, wajah Jaemin yang terlihat sangat menikmati apapun yang sekarang dia lakukan.

Manis. Cantik. Tapi dia juga merasa kesal karena sepertinya dia berhasil membayangkan apa yang kira-kira direncanakan Jaemin dengan menempelinya seperti ini.

"Jeno." Taeil memanggilnya. Jeno menyahut. "Apa yang mungkin menyebabkan terjadinya perubahan subtipe virus demam berdarah yang menyerang manusia?"

Waduh. Dikasih soal nih? Kening mereka mengerut semua mendengar soal tadi. Malah sepertinya mereka tidak begitu mendengarnya.

"Itu apa, hyung…." Jeno tersenyum bingung.

"Tidak tahu? Biasanya kamu cepat mengerti. Mungkin kamu kurang mengerti kalau duduknya tidak di sebelahku. Sini, tukar dengan Mark." Taeil menepuk punggung Mark yang duduk di sebelah kanannya. Mark sempat kaget juga, tapi hanya menurut ketika dia melihat Taeil seperti menatapnya minta maaf.

Oh, dia sedang menebus dosa.

Jaemin mengeluh ketika Jeno dengan sedikit kaget dan bingung mulai beranjak bertukar tempat duduk dengan Mark. "Taeil hyung mah curang!"

"Curang apanya…."

Jeno menghela napas ketika akhirnya tidak dijadikan objek tempel-tempelan Jaemin lagi, juga ketika dia lihat Mark perlahan menggeser tempat duduknya jadi lebih dekat ke Donghyuck daripada ke Jaemin.

Oh, iya. Dia tadi duduk di sebelah kiri Donghyuck. Jeno bisa melihat tampang Donghyuck setelah baru saja berpindah tempat, jadi menyerong. Tampangnya… seperti memperhatikan sesuatu. Sesuatu yang berada di depannya. Oh, haruskah dikatakannya seseorang? Seseorang yang duduk di sebelah kiri Taeil, yang jelas bukan Jeno?

.

.

"Kamu diam saja tadi."

"Eh?"

Jeno sekarang sedang mengikuti Donghyuck yang tadi izin mau cari minum. Berada di dalam perpustakaan lama-lama membuat Donghyuck tidak nyaman. Berkali-kali dia mendapat dehaman dari penjaga perpustakaan, padahal yang memulai berisik itu Jaemin, tapi entah kenapa pak penjaga selalu berdeham pas sekali ketika Donghyuck yang sedang bicara. Kesal juga dia jadinya. Donghyuck buru-buru minta keluar dari sana ketika Taeil bilang 'kita coba post test ya', yang lalu juga disusul Jeno.

"Aku diam? Aku justru kena marah terus!" Donghyuck membantah.

"Kamu diam waktu aku disuruh pindah tempat duduk sama hyung."

Aah. Maksudnya begitu. Donghyuck mengusap tengkuknya, menimang-nimang antara bohong atau menutup-nutupi saja –keduanya tak jauh berbeda. Tapi dia pikir lagi, dia merasa tak akan dapat jawaban kalau hanya dia yang pusing. "Nggak– aku cuma merasa… Renjun tadi sedikit aneh. Aku nggak yakin juga sebenarnya."

Jeno berdecak, mengingat sesuatu. "Iya, iya. Aku juga merasa begitu."

"Kamu juga?"

Jeno mengangguk. "Tapi dia mulai anehnya tidak dari sebelum ini. Maksudku, pas tadi hanya ada aku dan dia, dia masih biasa saja."

Donghyuck mengerutkan kening mendengarnya. Langkah mereka sampai terhenti, karena Jeno juga berhenti kalau Donghyuck berhenti. Jeno kan hanya mengekori.

"Kamu melakukan apa padanya, Jeno…." Donghyuck menatap Jeno dengan ada sedikit rasa tidak hormat. "Awas kamu kalau melakukan yang aneh-aneh padanya."

"Tidak, ih. Eh, iya. Kok kamu jadi dekat sama dia sih?" tanyanya dengan nada menyelidiki. "Kemarin, kamu minta salin catatan."

"Biasa saja." Donghyuck mulai berjalan lagi. "Cuma ya, memang, aku akhir-akhir ini jadi sering duduk semeja dengan dia."

Tidak begitu dibalas oleh Jeno, karena Jeno hanya menggumamkan sesuatu yang garis besarnya, dia tidak terlalu mengira Donghyuck akan menjawab begitu. Baru berjalan sebentar, Donghyuck sudah memukul pelan lengan Jeno. "Tuh, kan! Omongannya ke mana-mana!"

"Hah? Apaan?"

"Kamu tadi belum cerita Renjun anehnya gara-gara apa!"

"Aku juga tidak tahu! Aku tadi sudah bilang, kan?" Jeno mengedikkan bahu, tidak terima. Dia kan tadi memang ingin tahu kenapa Donghyuck memanggil Renjun untuk minta catatan dengan gaya yang seperti sudah berteman dekat lama. "Pokoknya, dia terlihat tidak begitu fokus." Donghyuck tidak mengerti. "Tidak fokus… hmm… itu lho –padahal tidak ada apa-apa, tapi dia tiba-tiba jatuh."

"Jeno." Jeno menyahut. "Bisa nggak sih kamu cerita yang urut sedikit? Kesal juga lama-lama."

Jeno menonjok lengan Donghyuck main-main. "Nih, dengar ya. Kan yang pertama sampai di sana baru aku dan Renjun. Karena bosan, aku mengajaknya lihat-lihat. Saat itu, dia biasa saja," jelas Jeno, tapi terhenti dulu karena mereka sudah berhenti di suatu franchise minuman dekat sini. Mereka memesan minum untuk masing-masing saja, karena kalaupun mereka memesankan untuk teman-temannya yang masih di perpustakaan, mereka juga tidak bisa membawa minumannya masuk ke dalam.

"Terus?"

"Sampai mana tadi ya? Oh, iya. Kan aku lagi baca-baca buku yang isinya bukti-bukti kesalahan teori evolusi–…"

"Begaya."

"—biarin. Terus, aku dengar suara Renjun rada aneh. Pas kulihat, dia sedang berjinjit, mau mengambil buku di rak atas. Aku berjalan ke dekatnya, mau mengambilkan karena yaa aku kan lebih tinggi. Tapi lalu dia masih dengan posisi berjinjit, tiba-tiba loncat –oleng, jadi kutahan."

Donghyuck mangut-mangut. "Terus? Belum selesai kan?" dia masih belum mendapatkan bayangannya.

"Sudah sih. Aku hanya mengambilkan bukunya, lalu tiba-tiba dia sudah bengong-bengong."

Donghyuck mengerang. Dia masih belum mengerti apa yang membuat Renjun jadi aneh, padahal dia kira dia akan dapat jawabannya setelah mendengarkan cerita Jeno yang sudah lebih lama bersama Renjun hari itu. Donghyuck mulai takut kalau-kalau ada penunggu perpustakaan yang mengganggu Renjun.

Ya, kalau saja cerita Jeno bisa jadi lebih lengkap, lebih rinci lagi. Paling tidak, seharusnya Jeno cerita bagaimana dia menuntun Renjun balik ke meja tempat mereka menaruh tas dengan Jeno berjalan di depan dan Renjun di belakang –lalu jangan lupakan tangan mereka yang bergandengan.

.

.

Tidak terasa ternyata besok pekan ujian sudah mulai. Pekan yang menjadi alasan utama kelompok belajarnya bisa terbentuk. Jeno yang sedari pagi hingga malam berkutat di meja belajar kini sedang sibuk meregangkan tubuh. Pegal juga duduk lama-lama dengan keadaan kepalanya dipusingkan dengan soal-soal yang tak kira-kira susahnya.

Ada segaris senyum tipis pada wajahnya. Dia lega pikirannya sudah tidak terlalu didominasi Jaemin, walaupun baru dua hari sejak dia diberi ujian mental dengan Jaemin terus-terusan menempelinya. Jeno sudah sedikit menyerah mencaritahu identitas dari orang yang dimaksud Donghyuck, jadi dia merasa membaik ketika memikirkan bagaimana pikirannya sekarang sudah sangat fokus untuk mendapatkan nilai bagus pada semester pertama ini.

Tiba-tiba hapenya berbunyi. Ada telpon. Matanya sedikit membulat ketika melihat nama siapa yang tertera pada layar panggilan. Jaemin.

Jeno pasti akan mengangkatnya, tapi dia menghabiskan beberapa saat mengira-ngira kenapa dia menelponnya malam-malam.

"Halo?" Jeno mengangkat telponnya. Tidak ada suara dari seberang, membuatnya bingung sendiri. "Jaemin?"

Jeno merasakan tubuhnya menegang ketika mendengar ada suara sesenggukan dari Jaemin. "Jaemin? Ada apa? Hei, jawablah!"

"Jeno…," panggil Jaemin. Suaranya serak. "Bagaimana ini..?"

"A-ada apa? Kamu menangis?"

"A-Aku hanya bercanda kemarin… aku hanya ingin mengerjai hyung, tapi sepertinya aku kelewatan…." Jaemin kemudian menceritakan bagaimana dia ingin membuat Mark makin cemburu dengan cara dia terus mendekat pada Jeno kemarin. Dan Jeno juga sudah menduga begitu. Itulah kenapa dia merasa tidak begitu senang waktu itu. Dia tahu cara berpikir Jaemin yang simpel. "…aku membuat hyung marah… dia tidak membalas pesanku sejak dua hari yang lalu. Sekalinya dia membalas, benar-benar singkat."

Jeno menghela napas. "…dia marah." Dia kemudian minta maaf ketika mendengar Jaemin makin terisak. "Minta maaf padanya. Masih belum terlambat," ujarnya. "dia pasti akan memaafkanmu."

Ada rasa sakit ketika dia menyuruh Jaemin minta maaf. Dia merasa begitu menyedihkan harus menjadi penengah antara mereka berdua.

Kenapa Jaemin harus menelponnya sekarang? Dia baru saja merasa senang karena akhirnya merasakan ada perkembangan yang nyata dalam usahanya melupakan orang yang disukainya sejak SMP itu. Jeno membenci dirinya yang mulai goyah hanya dari satu deringan telpon.

Bukan. Bukan hanya satu deringan telpon. Tapi juga suara isakannya.

"…kalau dia tidak mau memaafkanku?"

Hari sudah malam. Jeno pernah mendengar jika orang akan jauh lebih jujur pada malam hari karena lelah. Dia takut jika ini terus berlanjut… pikirannya yang lelah sehabis belajar dan yang sedari tadi berteriak menyuruhnya memanfaatkan kesempatan maha jarang ada ini mengambil alih.

"Jeno?" tak ada jawaban dari Jeno, membuat Jaemin bingung.

"…kalau begitu, kamu bisa denganku…."

Jeno tanpa sadar mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang sudah dikuncinya rapat-rapat agar tidak pernah keluar.

"..Jeno..?!"

"…!" Dia segera menangkupkan mulutnya, merutuki kebodohannya. "M-Maaf! Lupakan saja!" sambungan terputus, meninggalkan Jaemin yang masih bingung dengan kata-kata Jeno yang bisa didengarnya sangat jelas tadi.

Tidak terasa ternyata besok pekan ujian sudah mulai. Ujian sekolah dan lagi-lagi ujian yang sudah dia tempuh dari ketika dia melihat teman dekatnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

.

.

TBC

a/n. makasih yaa yang udah jelasin soal angst sama hurt comfort~~ uwu yang gak ngerti genre-genrean… ayo kita tos wkkwkwk. Dan apakah saya bakal bikin ini angst atau hurt? Hmm gimana ya. Tapi kayaknya gak sih saya gak jago bikin yang sedih2 huhu. saya awalnya nanya buat siap-siap kenalan sama para awak kapal markmin tapi gak jadi deh. Genre drama lagi sajo.

Doain saya dapet SNMPTN jadi biar saya gak usah nyiapin SBMPTN terus bisa buruan garap markmin yha

Promosi lagi ahh. Baca 'Sebulan' yaw~

Makasih yang udah baca dan review dan fav dan follow segala macemnyaaa, baik di 'Jeno: Move On' maupun 'Sebulan'~~~ uwu

Soal ada tidaknya sequel buat 'Sebulan'… saya… tidak tau. Saya sendiri gak ngerti sebenernya Renjun-nya itu gimana. Saya gak mikir mateng-mateng buat nulis itu.

p.s. saya seneng liat reviewnya yang bilang suka karakternya Renjun tapi Jeno digoblok-goblokin wkwkwkwkk. Kalian dabest.