[Jeno: Move On]

Rate: T for normalization of same sex relationship

Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.

Chapter 7

.

.

Jeno tidak bisa tidur malam itu.

"…kalau begitu, kau bisa denganku…"

"Jeno?!"

Masih diingatnya jelas bagaimana suara Jaemin terdengar meninggi, tidak percaya. Sedikit menorehkan luka pada hatinya jika membayangkan bagaimana wajah Jaemin ketika mendengarnya berkata demikian. Kesempatan dalam kesempitan.

Dia beranjak dari tempat tidurnya dengan tidak bersemangat. Setelah apa yang terjadi semalam, dia ingin saja membolos, menghindari Jaemin. Tapi ujian semester hari itu baru saja dimulai. Dia tidak mau kalau harus ikut susulan. Apalagi dia juga sudah belajar keras.

Dia sedikit berharap dia tidak akan ditempatkan di kelas ujian yang sama dengan Jaemin. Tapi lalu dia ingat kalau nomor absen mereka berdekatan. Dia pasti akan ditempatkan di kelas yang sama.

"Semoga tidak sebelahan…." Kali ini doanya dikabulkan. Dia tidak bersebelahan dengan Jaemin, karena memang teman setingkat tidak ditempatkan bersebelahan.

Dia menghela napas lega kalau mengingat kelas ujian ditentukan berdasarkan absen, tingkat, dan jurusan. Kelas 10 belum melakukan penjurusan, jadi hanya dibedakan menjadi kelas angka. Walau begitu, 10-1 dimasukkan ke kategori jurusan IPA, jadi di kelasnya, akan ada kakak tingkat 11 jurusan IPS, lalu tingkat 12 jurusan IPA.

Lalu apa hubungannya dengan lega? Mark kelas 11 IPA-1. Alhasil, kelas Jeno tidak akan berada di ruangan yang sama dengan kelas Mark.

Jeno sekarang sedang berusaha mempersiapkan lagi materi ujian jam pertama, tapi konsentrasinya buyar begitu dia melihat Jaemin berada di dua barisan sebelah kirinya, di bagian belakang. Dia bisa melihat bagaimana Jaemin menghindari kontak mata.

Jeno kemudian baru bisa kembali fokus membaca kilat setelah mencoba berkali-kali. Itupun waktu sudah menunjukkan bel masuk berbunyi kurang dari semenit lagi.

Pelajaran pertama kewarganegaraan. Dia tidak begitu menyukai pelajaran ini saat SMP, tapi sekarang dia sudah lumayan menyukainya karena gurunya sekarang membuat soal ulangan dengan begitu mudah dan bahkan ada motif di LJK-nya.

Jeno bersyukur tempat duduknya tidak berada di barisan belakang. Kemungkinan besarnya, Jeno akan sedikit-sedikit melirik punggung Jaemin jika dia duduk di sebelah belakangnya.

Pelajaran setelahnya adalah matematika. Dia kurang suka pelajaran ini. Kepalanya cepat pusing melihat banyak angka, dan tulisan tangannya menjadi sedikit lebih jelek ketika menulis angka. Tapi dia suka kimia. Dia menunggu hari kamis, di mana pelajarannya adalah kimia.

Ah iya. Dia ingat. Sebelum ini, dia pernah diminta bantuan Jaemin untuk membantunya belajar kimia. Sebelum ini itu tepatnya kapan? Ketika Jaemin harus remidi ulangan kimia. Jaemin waktu itu merengek karena dia merasa otaknya benar-benar tidak cukup memadai untuk mengerti penjelasan baik dari gurunya maupun buku-buku pelajarannya. Terlalu melangit, katanya. Jadi, dia langsung meminta Jeno untuk mengajarinya kalau ujian sudah dekat.

Dia masih ingat tidak ya? Toh, jadinya dia diajari Taeil.

Jeno mengusap wajahnya. Harusnya dia hanya fokus pada soal matematikanya sekarang.

"Lima menit lagi, LJK-nya saya ambil," kata pengawas ujian kelasnya. Masih ada kira-kira lima soal yang belum dia kerjakan sama sekali. Dia lupa rumusnya, dan dia juga sudah menyerah mengingat. Jadilah dia asal menghitamkan bulatan LJK.

Jeno buru-buru akan meninggalkan kelas, ingin segera menemui entah Donghyuck atau Renjun atau siapapun. Tapi niatannya harus dibatalkan karena Jaemin sudah lebih dulu menghadangnya di koridor. Iya ya. Jaemin cepat kalau mengerjakan fisika atau matematika.

"Mau ke mana?" tanya Jaemin, menatap lurus pada Jeno.

"…mau cari ruang ujian Donghyuck."

"Aku mau bicara dulu."

"S-soal apa?" Jeno mengedarkan pandangannya. "Aku buru-buru."

"Soal kata-katamu di telepon."

Jeno menelan ludah. Ya pasti memang Jaemin ingin membicarakan itu. Harusnya dia sudah siap mental kalau mengingat Jaemin memang lebih suka langsung bertanya saja pada orangnya jika punya masalah –pengecualian jika orangnya adalah Mark.

Kalau sudah begini sih, apa boleh buat.

"Lho? Kamu serius memikirkan itu? Kan aku sudah bilang, lupakan saja." Jeno berdalih. "Kemarin…aku terbawa suasana."

Jaemin menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah. "Maksudmu?"

Jeno menarik napas dalam-dalam. "…aku baru ditolak," jawabnya. Dapat dirasakannya tangannya mulai berkeringat. "…maaf, bukan maksudku menjadikanmu pelampiasan atau apa. Tapi aku sempat terpikir mungkin saja… situasinya sedang menuntunku atau… yah seperti itulah."

Mata Jaemin terbuka lebar.

"…jadi pokoknya, aku kemarin tidak serius." Jeno menambahkan. Dia kemudian meminta Jaemin untuk kali ini benar-benar melupakan kata-kata bodohnya malam sebelumnya. Dibalas dengan anggukan dari Jaemin.

Jaemin mengajak Jeno untuk jalan ke depan gerbang, sekalian pulang. "Oh, iya. Kamu mau ketemu Donghyuck, ya? Kalau begitu tidak jadi."

"Tidak, aku pulang saja. Donghyuck baru membalas chat-ku. Katanya dia mau ke rumah Taeil hyung." Dan jadilah mereka berjalan berdua ke gerbang yang kalau dari gedung kelas lumayan jauh. Cukup jauh sampai Jaemin bisa menyempatkan bertanya beberapa hal.

"Aku tidak tahu kamu sedang suka seseorang," kata Jaemin, dengan senyumnya yang biasa. Sepertinya dia memang percaya penjelasan Jeno tadi. "Kamu sekarang main rahasia ya? Menyebalkan."

Jeno tertawa pelan. "…aku tidak suka membicarakan hal yang sudah jelas tidak bisa diharapkan."

Pukulan ringan mendarat pada lengan Jeno. "Jangan menyerah dong!" Jaemin mengerucutkan bibirnya. "Kamu sahabatku. Aku bisa menjamin, orang sebaik kamu pasti juga bisa mendapatkan orang yang sama baiknya."

Jangan menyerah, katanya. Jeno tidak tahu harus merasakan apa mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jaemin. "…aku ragu soal itu." Dan lagi-lagi Jaemin memukulnya, tapi kali ini di punggung.

"Oh, iya. Terima kasih ya," kata Jaemin lagi. "Aku sudah minta maaf pada hyung semalam, setelah meneleponmu. Jujur saja, aku… bingung gara-gara kata-katamu kemarin. Tanpa sadar aku sudah menelepon hyung dan hyung juga langsung mengangkat. Kujelaskan padanya kalau aku hanya bercanda dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Lalu hyung bilang dia sudah memaafkanku, hanya saja dia bingung bagaimana harus bicara padaku seolah tidak ada apa-apa. …pokoknya sih, kami baikan dan itu karena kamu. Terima kasih."

Senyum terus menghiasi wajah Jaemin, yang kalau Jeno perhatikan, dia terlihat begitu hati-hati memilih kata. Takut, salah-salah, ceritanya sedikit berubah.

Jeno hanya membalas ucapan terima kasihnya seadanya, sebelum mereka berpisah di pertigaan jalan tak jauh dari gerbang. Napas dibuangnya keras. Dia jadi tidak ingin pulang. Pelajaran besok adalah Bahasa Inggris dan sosiologi. Bukan sombong atau apa, tapi Jeno merasa aman-aman saja jika saat ini dia tidak langsung pulang dan mampir-mampir dulu untuk memperbaiki mood-nya.

Jeno asal melangkah. Dia hanya mengikuti ke mana kakinya menuntunnya. Pikirannya kini hanya sibuk menyalahkan dirinya sendiri karena sempat berpikir barangkali kesempatannya untuk memutar balik situasi akhirnya datang. Merebut Jaemin dari Mark ketika mereka sedang bertengkar? Apa dia bisa menjadi lebih menyedihkan dari ini?

Bruk!

Jeno bertabrakan dengan siapapun yang tiba-tiba berjalan dari belokan sebelah kanan Jeno. Tidak sampai jatuh, tapi Jeno lumayan kaget, mengingat dia daritadi hanya berjalan sambil menunduk. "M-Maaf…—Renjun?"

Bisa dikenalinya dengan cepat orang yang baru saja ia tabrak. Rambut orange nya benar-benar membuatnya mudah untuk dikenali.

Renjun refleks mengalihkan muka, sambil minta maaf. "Maaf, aku tadi buru-buru…."

"Tidak apa, tapi kenapa buru-buru?"

"Aku mau balik ke sekolah. Kartu ujianku tertinggal di meja." Jeno mengangguk. Dia memang tadi sempat memikirkan kenapa dia bisa berjalan berlawanan arah dengan Renjun sampai tertabrak. Kalau memang dia ingin pulang, harusnya dia jalan searah dengan Jeno yang berjalan menjauhi sekolah.

"…aku duluan ya," kata Renjun, tapi kemudian matanya melihat sepatu Jeno karena terus-terusan menghindari kontak mata. "…tali sepatumu lepas."

"Oh? Sejak kapan ya? Untung aku tidak menginjaknya." Jeno merunduk dan mengikat kembali sepatunya. Padahal daritadi dia berjalan sambil menunduk, tapi dia sama sekali tidak menyadarinya.

Renjun baru saja akan benar-benar pergi kali ini, tapi ditahan Jeno. Jeno bilang padanya, kalau kartu ujian aman-aman saja kalaupun ditinggal di meja, karena selama ujian, tidak akan ada orang yang akan menyentuh meja ujian orang lain. Tidak seperti pada saat pekan-pekan belajar biasa, saat di mana jika barang tertinggal di satu kelas, bisa diperkirakan besoknya barang itu sudah hilang. "Hampir setengah dari anak kelas ujianku meninggalkan kartunya di meja –termasuk aku."

Renjun mengangguk paham. "Begitu ya… baguslah." Berarti dia tidak harus balik ke sekolah.

Mereka kemudian sedikit mengobrol setelah duduk di bangku sekitar itu. Jeno mulai menyadari kalau Renjun sepertinya memperhatikannya. "Ada sesuatu di wajahku?"

"Apa terjadi sesuatu?" Renjun balik bertanya, membuat Jeno bertanya maksudnya. "Kamu terlihat… sedih."

Jeno mengerjapkan matanya. Padahal dia merasa sudah lebih baik setelah mengobrol dengan Renjun, entah tentang apa. "…kelihatan?" Jeno menangkupkan wajahnya. Renjun bertanya lagi padanya ada apa.

Jeno menjelaskan padanya bagaimana dia membuat kesalahan fatal kemarin –mengatakan sesuatu dengan niat merebut pacar temannya sendiri yang sedang berselisih. Dia sudah pernah menceritakan pada Renjun tentang perasaannya yang bertepuk sebelah tangan, jadi dia lebih fokus menceritakan bagaimana dia berhasil kabur dari situasi di mana salah sedikit saja, dia tidak akan bisa berteman lagi dengan orang yang disukainya ini.

Selama mendengarkan, Renjun terus-terusan menatap tanah, seolah langit ataupun wajah Jeno kalah indah untuk dilihat. Ada perasaan yang campur aduk mendengar Jeno sedang berkeluh kesah.

"…tapi aku juga sebenarnya senang, mungkin," tambahnya, membuat Renjun mengangkat pandangannya. "Kalau saja aku tidak kelepasan bicara, mungkin sampai saat ini, orang itu tidak akan pernah melihat kea rah orang sepertiku." Dia senang, karena dengan Jaemin ingin mengajaknya bicara pastilah karena Jaemin mengira dia benar-benar menyukainya dan Jaemin merasa harus memberi jawaban. "Tapi sekarang, semuanya kembali seperti semula."

Renjun diam sebentar sebelum menuturkan bagaimana dia tidak suka cara bicara Jeno. "Aku tidak punya pengalaman jadi aku tidak tahu harus membantumu dengan cara apa… tapi jangan bicara hal seperti 'orang sepertiku'. Aku… tidak suka mendengarnya."

Jeno tertawa pelan, sedikit kaget mendengar kata-kata Renjun. Intinya, dia dimarahi. "Iya, maaf ya. Aku juga tidak mengira, aku bisa jatuh sampai serendah ini hanya gara-gara perasaanku tak berbalas." Jeno tertawa pelan. "Terima kasih sudah mau mendengarkan. Aku merasa lebih baik."

Renjun tersenyum. Baru kali ini dia melihat Jeno murung seperti kata Donghyuck sebelum ini. Ada perasaan yang mengganggunya ketika dia tahu Jeno masih memikirkan soal orang yang disukainya ini, tapi yang pasti, Renjun senang bisa berada di sebelah Jeno.

Oh, iya. Donghyuck.

"Apa kamu sering bicara tentang ini dengan Donghyuck?" tanya Renjun, tiba-tiba teringat dengan teman sekelasnya yang berbeda kelas ujian.

"Biasanya iya, tapi kurasa aku tidak akan cerita lagi soal ini padanya."

"Kenapa?"

"Aku sudah banyak merepotkannya. Dia pasti sudah capek dan tidak ingin mendengarku meributkan hal yang itu-itu saja tiap harinya."

Donghyuck merasa capek direpotkan? Mungkin iya, tapi Renjun ingin membantahnya. "Itu tidak benar. Capek mungkin saja, tapi bukan berarti dia jadi tidak ingin direpotkan olehmu. Donghyuck itu sangat peduli padamu, asal kau tahu."

"Oh ya?" Jeno tertawa renyah, tidak begitu percaya. Renjun yang sedang ngedumel lucu juga.

Renjun mengangguk mantap. "Dia tahu kalau kamu sedih soal orang yang kamu suka tidak begitu menganggapmu, jadi dia minta aku membuatmu kembali ceria lagi. Aku masih menyimpan chat-nya. Lihat saja kalau tidak percaya." Dia merogoh kantung celananya, yang seingatnya, dia terakhir menyimpan hapenya di sana.

Renjun sibuk mencari-cari pesan yang sudah tertelan pesan-pesan barunya, mengingat chat itu sudah dari beberapa hari lalu dan akhir-akhir ini, mereka jadi sering chat –walaupun kebanyakan, hanya soal Donghyuck minta salin catatan.

"Nih." Renjun memberi lihat pada Jeno ketika sudah berhasil dia temukan pesannya.

Jeno membacanya sambil berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. "…kenapa Donghyuck bicara begitu?"

"Karena dia peduli padamu."

Jeno menggeleng. "Bukan, maksudku… kenapa dia berkata begitu padamu?"

Hening.

Iya, Renjun tidak begitu mempertanyakan itu sebelumnya. Dia menempelkan telunjuknya di sudut bibir, berpikir. "…kenapa ya?"

.

.

"Hah?" Jeno ragu dia mendengar pertanyaan teman sekelasnya dengan benar tadi. "Bisa diulang?"

Orang itu mendengus. "Iya, hubunganmu apa dengan Huang Renjun, anak kelas 10-2?" dia mengulang pertanyaannya. "Minggu kemarin, saat masih ujian semester, ada temanku yang melihatmu duduk berdua di lapangan dekat rumahnya."

Aah. Itu. "Aku hanya berteman dengannya."

"Benarkah?"

Jeno mengangguk. Dia sebenarnya tidak begitu menyukai teman sekelasnya ini. Kata-katanya lumayan kasar dan wajahnya lumayan garang. Mending kalau kata-katanya kasar, tajam, menyebalkan, tapi wajahnya enak dilihat Donghyuck.

Orang itu segera meninggalkan Jeno dan menghampiri kedua teman sekelasnya yang lain, yang kalau Jeno perhatikan dari tadi, mereka terus melihat ke arahnya dengan tampang berharap-harap cemas. Jeno bisa sedikit menangkap kata-katanya yang sepertinya sedang melaporkan pada kedua temannya itu tentang bagaimana Jeno membantah pertanyaannya soal si anak kelas sebelah. Mereka kemudian terlihat merayakan itu.

"Jeno~" ada yang memanggilnya. Jaemin. "Makan siang yuk! Hyung sudah di kantin."

"Duluan saja. Aku mau ke kelas Donghyuck dulu." Jaemin hanya mengiyakan sebelum melesat ke kantin, tidak sabar bertemu dengan hyung-nya tersayang.

Tanpa membuang waktu lagi, Jeno segera ke kelas geografi, yang kalau menurut jadwal, seharusnya kelas 10-2 sedang berada di sana. Dan memang benar. Jeno segera masuk dan duduk di kursi depan meja Donghyuck.

Donghyuck mengomelinya. "Kau menghalangi papan tulis! Minggir!" Jeno hanya tertawa, kemudian dia mengedarkan pandangan. Dia sedikit celingak-celinguk. Donghyuck yang melihatnya hanya berujar sambil terus menyalin tulisan. "Renjun lagi ke toilet."

Jeno menatap temannya yang sedang sibuk mencatat. "Hah?"

"Nyari Renjun kan?"

"Kok tahu?"

"Tahu lah –eh, serius. Minggir dong."

Jeno tidak puas dengan jawabannya, tapi dia menurut saja. Kalau dia terus menghalangi, nanti Donghyuck tidak selesai-selesai mencatatnya dan akan semakin lama mereka ke kantin.

Jeno sudah sering berkunjung ke kelas 10-2. Dia sudah biasa dengan suasana kelasnya. Tapi kali ini benar-benar ada yang berbeda dari biasanya. Dia menyadari saja kalau ada yang menatapnya dengan tatapan… tajam. Tidak nyaman berada di sana, Jeno kemudian bilang pada Donghyuck kalau dia menunggu di luar saja. "Nyatetnya yang cepat sedikit!"

"Iya, berisik!"

Jeno mendudukkan dirinya di bangku yang memang ada di depan setiap kelas. Dia mengecek-ngecek hapenya, barangkali ada pesan baru atau apa.

"Lee Jeno." Ada yang memanggil Jeno. Jeno mengangkat kepalanya dan melihat anak 10-2 yang namanya tidak dia tahu. "Boleh bertanya?"

"Boleh. Tentang apa?"

Anak itu terlihat ragu apakah baik jika dia bertanya. "…kamu…sedang pacaran dengan salah satu anak kelas kami?"

Ini lagi? Jeno tidak percaya dia ditanya hal yang sama dalam sehari oleh orang yang berbeda. "Tidak. Aku tidak punya pacar."

"Benarkah?" Jeno mengangguk. "Baguslah. Aku harus segera beritahu yang lain."

Hah? Kenapa yang lain harus tahu kalau Jeno belum laku?

Mungkin terlihat jelas pada wajah Jeno kalau dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Maaf, bukan begitu maksudku. Hanya saja, kelasku sedang ribut membicarakan soal ada yang melihatmu berduaan dengan Renjun…."

Jeno menghela napas. "Memangnya kenapa sih? Aku juga sering pulang bareng Donghyuck tapi tidak ada apa-apa." Jeno bingung kenapa Renjun begitu dipermasalahkan di sini.

"…karena… banyak yang mengincar Renjun, mungkin? Ada lebih dari empat orang yang menyukainya. Kamu tidak tahu?"

Jeno membelalakkan mata. "Serius? Eh, jangan-jangan orang-orang yang tadi menanyaiku di kelas juga termasuk…."

Tidak mengerti apa yang dimaksud Jeno, anak itu segera pamit sebelum masuk ke dalam kelas. "Oh, iya. Jangan bilang Renjun ya. Sepertinya dia belum tahu, karena semua yang sudah mencoba mendekatinya bilang, Renjun tidak pernah mengerti kalau dia sedang didekati."

Wah, tidak peka ya. Mengingatkan Jeno pada satu orang yang sedang asik berduaan dengan pacarnya di kantin. Jeno kemudian melihat Donghyuck keluar dari kelas. "Oh, masih di sini."

"Masih lah."

"Ya sudah. Ayo. Eh, itu Renjun baru saja balik." Donghyuck menunjuk ke ujung koridor. Jeno mengikuti arah jari Donghyuck dan melihat ada Renjun di sana, sedang berjalan mendekat. Dia belum menyadari ada dua orang yang sedang melihat ke arahnya. Ketika sadar, senyum Renjun merekah dan mulai berlari kecil.

Jeno tanpa sadar tersenyum melihatnya.

Mereka bertiga kemudian turun ke kantin, menyusul kedua temannya yang sudah di sana lebih dulu. Sejak hari itu, mereka berlima selalu makan siang bersama di kantin yang seharusnya sepi karena tidak boleh ada kegiatan jual beli pada jam makan siang. Untung penjualnya juga merasa dirugikan dengan adanya peraturan aneh itu, jadi mereka diam-diam melayani.

Apalah gunanya kantin.

.

.

TBC

a/n. yah tembus 2k. saya males kalo updatenya panjang-panjang u~u gatau deh ya kenapa. Saya udah buru-buru pengen selesaiin kalo udah di 1.5k haha. Tapi bingung juga mau berentinya di mana.

Dan… siapa yang bilang Jeno udah muvon?;;; belumm dia belum muvon… kemaren. Sekarang… kayaknya… gimana ya hmm wks. Dia sekarang udah nyerah total sama Jaemin sodara-sodara! Yey cheers! Soal lupa… gatau deh ya /kabur.

Saya selesai nulis ini tanggal 19 feb tapi terus saya awalnya mau ngulur-ngulur waktu dulu gara-gara yang review dikit yha. Tapi… gara-gara NCT dream menang lagi jadi saya update!

Dan saya sempet fangirl sama Haechan dulu hihiw saya loyal Haechan stan sampe2 ngeship dia sama anak ensiti juga gak bisa hhh ((tapi suka IlHyuck yha))

p.s maap ya curhat mulu soal kantin sekolah. Saya jujur masih gak ngerti kenapa kantin gak boleh beroperasi di jam makan siang. Sekolah saya sengklek.