[Jeno: Move On]
Rate: T for normalization of same sex relationship
Disclaimer: NCT Dream belongs to SMEnt.
Chapter 8
Mereka lagi-lagi berkumpul di teahouse dekat kampus Taeil. Mereka masih belajar? Bukannya ujian sudah selesai? Memang, tapi ternyata mereka betah dengan gaya belajar seperti itu. Sekalian jalan-jalan. Apalagi, Taeil juga baru selesai skripsi. Waktunya banyak, jadi dia pikir lebih baik dipakai untuk cari uang.
Oh, iya. Kenapa mereka di teahouse lagi?
"Aku malas ah kalau di perpustakaan. Cari minumnya susah," keluh Donghyuck ketika sedang membicarakan tentang pertemuan kelompok belajarnya yang berikutnya. "Kalaupun sudah dapat minum, tidak bisa langsung masuk ke dalam."
Jaemin juga diam-diam menyetujui. Dia sebenarnya sudah jatuh cinta pada salah satu menu di teahouse itu. "Hmm… kalau menurut Taeil hyung?"
"Aku sih terserah. Aku ikut saja." Jawaban klasik. "Kalau di teahouse, ya jadi lebih dekat dengan kampus dan kost-ku. Tapi jadi lebih jauh buat kalian."
"Aku tidak apa-apa jauh-jauh. Aku suka main jauh-jauh." Donghyuck menjawab cepat. Lalu diputuskan untuk pertemuan selanjutnya –hari ini, di teahouse lagi saja.
Sekarang, mereka berlima sedang menunggu si guru untuk datang, sambil nyemil.
Rasanya seperti waktu pertama mereka belajar bersama. Tapi mungkin yang beda adalah sekarang ada Renjun. "Ada apa?" Renjun merasa diperhatikan oleh Donghyuck, yang duduk di sebelah serong kanannya.
"Tidak. Kamu sekarang sudah tidak menerjemahkan korea ke china lagi buat temanmu?"
Renjun menggeleng. "Sebenarnya waktu itu aku hanya menggantikan Sicheng gege –maksudku, kakaknya. Waktu itu kakaknya harus kembali ke China beberapa hari."
Jaemin memajukan tempat duduknya. "Bagus dong. Sekarang kamu bisa fokus belajar~"
Tak lama, ada pelayan yang membawakan pesanan. "Green tea chocolate bomb."
"Punyaku." Jeno mengangkat tangan, meminta untuk dibawakan ke tempatnya. "Terima kasih." Pelayan itu mengangguk sebelum pergi meninggalkan meja mereka.
"Kecil." Donghyuck berkomentar melihat pesanan Jeno. "Nunggu lama-lama lalu yang datang kecil begini."
Iya, pesanan Jeno adalah yang terakhir diantar. Yang lain sudah setengah jalan menghabiskan pesanannya. Jeno tidak mendengarkan. Dia segera menyendoki kuenya. "Pokoknya kamu tidak boleh minta," kata Jeno sesaat sebelum dia memasukkan sendok itu ke mulutnya. Donghyuck hanya menjulurkan lidah.
Hap. Jeno mulai memakannya. Seperti namanya. Green tea. Chocolate. Bomb. Enak.
Jaemin dan Renjun memperhatikannya dengan saksama, penasaran karena Jeno terlihat begitu menikmati makanannya. Mark? Mark tidak suka green tea, sayang sekali.
"Mau~" Jaemin tanpa babibu segera menyendoki sendiri sebagian dari kue milik Jeno. "Hnggg! Enak!" pekiknya, kesenangan. Dia tidak mendengar protes dari Jeno. "Aku pesan juga ah~" Jaemin segera merogoh tasnya, mencari dompetnya. Mukanya langsung berubah merengut ketika melihat ternyata uangnya tidak cukup.
Mark juga ikut melihat isi dompet Jaemin. "Ayo, pesan. Aku yang bayar." Jaemin langsung tersenyum lebar mendengarnya, tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Mark bingung.
"Hyung bukan ATM-ku."
Mark mengusak kepala Jaemin sayang. Dia sama sekali tidak merasa berubah status dari pacar jadi ATM, tapi Jaemin malah berkata begitu.
Jeno dan Renjun hanya melihat mereka sambil menebak-nebak kira-kira mereka benar-benar akan memesan atau tidak. Lihat, Mark dan Jaemin malah saling menggelitik lucu.
Renjun melirik chocolate bomb Jeno. Dia juga penasaran dengan rasanya. "Apa aku pesan juga ya…," gumamnya sambil menjadikan kedua telapak tangannya sebagai tumpuan pipinya. Matanya masih melirik kue milik Jeno.
Jeno tertawa pelan sebelum menyendoki kuenya lalu diarahkan ke depan mulut Renjun. "Coba dulu saja." Renjun tidak langsung membuka mulut. Dia melihat Jeno dulu, seakan bertanya 'boleh?'. "Hm? Beneran kok. Aku tidak akan minta balasan kalau misalnya kamu nanti pesan juga."
Renjun tersenyum geli lalu membuka mulutnya, membiarkan Jeno menyuapinya. "Hnng~" Renjun mengerang saking enaknya. Jeno sampai tidak perlu bertanya bagaimana rasanya. "Aku rasa, makanan apapun kalau dicampur green tea jadi enak ya."
"Milkshake yang tadi kau pesan juga ada campuran green tea?"
Renjun mengangguk. "Coba saja. Masih ada setengah." Dia menggeser gelas milkshake-nya agar dekat ke Jeno yang duduk di depannya. Jeno langsung mencobanya.
"Enak… padahal aku tidak begitu suka yang manis-manis."
"Chocolate bomb kan manis."
"Yang ini pakai dark chocolate."
Mereka terus bersenda gurau, dengan Renjun yang berkata kalau tetap saja rasa chocolate bomb itu manis. "Kamu mau sok keren saja ya~ bilang tidak suka manis…."
"Tidak. Aku benar-benar tidak suka manis… —ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Jeno menyadari kalau sedaritadi Jaemin, Mark, dan tentu saja Donghyuck melihat ke arahnya. Renjun juga jadi menyadarinya.
Jaemin tidak langsung menjawab. Dia menggaruk pipinya dengan telunjuk. "Tidak… hanya saja, aku jadi ingat soal rumor yang sekarang sedang ramai dibicarakan…." Jaemin melirik Mark.
Mark tidak begitu mengerti maksud lirikan Jaemin, tapi kemudian hanya mengangguk. "Aku juga dengar rumor itu, walaupun kita berbeda tingkat."
Jeno mengangkat sebelah alisnya. "Rumor? Rumor apa?"
"Hmm~ itu lho… —ah, Taeil hyung sudah datang." Kata-kata Jaemin tidak dilanjutkan karena sang guru sudah menampakkan batang hidungnya. "Ih, hyung kok telat sih. Rumahnya paling dekat juga!"
"Ban motorku kempes… aku memperbaikinya dulu. Ya sudah, langsung mulai saja." Dan akhirnya, pelajaran dimulai tanpa ada yang ingat menanyakan Jaemin untuk melanjutkan kata-katanya. .
"Aku mau ke toilet," kata Mark sembari menarik kursinya ke belakang agar memberi cukup ruang untuk berdiri. "Oh, iya. Tadi tidak jadi pesan chocolate bomb…," gumam Mark sambil menepuk bahu Jaemin. Dia baru ingat.
Jaemin manyun. "Kan aku sudah bilang tidak mau…." Tangannya bermain-main dengan ujung kemeja yang dikenakan Mark.
"Aish." Donghyuck meringis bosan melihatnya. "Mark hyung uangnya banyak, Jaem. Peras aja sampai pu –AW!" dia mengaduh ketika dirasakannya ada sesuatu yang menghantam kepalanya. Taeil. "Hyung apaan sih!" protesnya tidak digubris oleh yang bersangkutan.
Di tengah keasikan yang tidak bisa mereka rasakan ketika belajar di perpustakaan itu, Renjun sibuk mengerjakan soal yang diberi Taeil sambil sesekali melihat Jeno yang menyenderkan kepalanya pada meja.
"Jeno?" Renjun memanggilnya.
Jeno tidak bergerak dari posisinya tapi tetap menjawab. "Hm?"
"Tidur?"
"Hm."
Apa sih.
Renjun mulai mengguncangkan tubuh Jeno. "Bangun~"
"Kalau mengantuk, cuci muka dulu sana. Bareng Mark," kata Taeil menyambar, masih mengacuhkan Donghyuck yang mulai mengarahkan kamera hp-nya ke arahnya, entah sedang apa. "Mark, ajak Jeno tuh."
Yang dipanggil mengiyakan dan berjalan mendekat ke tempat Jeno duduk. Entah kenapa, dengan sekali tepukan, Jeno langsung duduk tegap walaupun matanya masih tertutup. Alisnya berkerut. "Cuci muka," kata Mark, ketika Jeno melihat ke arahnya dengan tampang bertanya dan tidak suka bercampur aduk. Tapi Jeno akhirnya menurut dan mulai mengikuti Mark ke toilet.
Jaemin tertawa pelan. "Jeno itu ekornya semua orang ya."
"Eh," panggil Taeil pada Jaemin, meminta perhatiannya sebentar. "Kemarin-kemarin… kamu berantem dengan Mark?"
"Hmm~" Jaemin mengerutkan keningnya. Dia jadi ingat lagi. "Tidak berantem juga sih… —ah, iya! Itu kan salah Taeil hyung juga! Kenapa coba hyung bisa mengira aku dan Jeno mesra-mesraan di grup chat?!"
Taeil menundukkan kepala, tapi dia sepertinya ingin tertawa. "Maaf."
Kalau saja Donghyuck duduk di sebelah Jaemin saat ini, dia pasti akan menoyor Jaemin tepat di kepala. "Heh! Jangan salahin Taeil hyung dong! Aku sudah dari awal tahu kamu pacaran dengan Mark hyung tapi aku tetap kadang bingung tiap melihatmu malah ngobrol berdua saja dengan Jeno di grup chat!"
"Ya lagian kenapa kalian tidak menimpali saja! Ikutan ngobrol kek!" kilahnya sambil menendang-nendang kaki Donghyuck di kolong meja. Yang ditendang juga pastinya tidak tinggal diam. Mereka lalu asik menendang sementara Renjun kini sedikit bingung karena ini baru pertama kali dia mendengarnya. "Lagian, kenapa kamu tidak mengomentari Jeno juga?" Jaemin menghentikan tendangannya ketika mejanya mulai rawan menjatuhkan seisi barang di atasnya.
"Jeno? Ada apa dengan Jeno?" tanya Taeil, yang mulai merasa pembicaraannya jadi menyenangkan.
"Itu lho, hyung!" Jaemin bergeser tempat duduk ke kursi Mark yang sedang kosong. "Sini, aku bisikkin!" Taeil mengikuti instruksi Jaemin. Dia membiarkan Jaemin mendekati telinganya. Wajah Taeil berubah dramatis mendengar apapun itu yang dibisikkan Jaemin. Dari kaget, lalu menahan tawa. Tentu sambil melihat ke arah Renjun yang bingung.
"Aah~" Taeil mengangguk penuh arti. "Dia tahu tidak?"
"Hmm…." Jaemin terlihat berpikir sebelum kembali mendekati Renjun. Dia bertanya pada Renjun. "Eh, aku tahu ini tidak benar, tapi kamu tahu tidak? Ada gosip kalau… kamu pacaran sama Jeno, lho?"
"Hah…?" mata Renjun terbuka lebar. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar tentang itu.
Donghyuck yang daritadi sudah menatap dengan tidak enak sekarang mulai merasakan tingkat urgensi yang kian menaik –dia harus menahan Jaemin. "Yang mengaku laki-laki jantan tidak akan percaya gosip!"
"Aku tidak percaya kok. Makanya aku bertanya langsung. Bagaimana sih?" Jaemin yakin benar Donghyuck sedang menghalanginya untuk tidak memojokkan Renjun. Dia tahu saja kalau Donghyuck akhir-akhir itu terlihat overprotektif soal teman sebangkunya itu. "Jadi?"
Renjun mengalihkan pandangan pada Donghyuck seakan minta bantuan, tapi yang ditatap juga tidak begitu tahu apa yang harus dilakukan. "…itu tidak benar."
"Iya, aku tahu! Tapi yang ingin aku tanya itu… kalian memangnya ada apa sih? Maksudku, tidak akan ada asap kalau tidak ada api, kan? Pasti ada gosip seperti itu karena ada yang kalian lakukan." Jaemin memperjelas pertanyaannya. "Ketemuan? Chat?"
Jaemin masih terus menghujaninya dengan pertanyaan, padahal Renjun sudah terus membantah semuanya satu persatu. Pertanyaannya seperti… apa kalian sering pulang bareng? Apa kalian sering telpon malam-malam? Apa kalian pernah jalan berdua saja?
Mereka pulang bareng, tapi tidak sering. Mereka pernah teleponan, tapi tidak pada malam hari. Jalan berdua? Pernah, ke kantin.
"Tidak ada apa-apa antara aku dan Jeno," jawab Renjun dengan nada tertegas yang ia bisa. "Dia temanku." Bukan niat Renjun membungkam Jaemin dengan mengeraskan suara padanya. Tapi ada yang lebih mengganggu pikirannya saat ini. "Jaemin, sebelum ini, kamu ada masalah dengan Mark hyung?"
Tidak menyangka akan ditanyai begitu, Jaemin jadi terlihat ragu untuk menjawab. "Bukan masalah juga sih…. Tapi mirip-mirip lah…."
"Itu… tepatnya kapan?"
"Ngg… sehari sebelum ujian beberapa minggu lalu." Jaemin ingat dengan sangat jelas, dan ujian saat itu benar-benar meninggalkan kesan yang membuatnya tidak akan pernah lupa.
Jaemin tidak mengerti kenapa Renjun tiba-tiba tidak membalasinya apa-apa. Renjun hanya kembali membuka bukunya setelah sebelumnya dia membelalakkan mata mendengar jawaban Jaemin.
'Di hari pertama ujian, Jeno waktu itu kalau tidak salah bilang…' batin Renjun. Pikirannya tidak dapat mencerna apapun yang dia baca. '…kalau orang yang disukainya saat itu sedang ada masalah dengan pacarnya…'.
Jantungnya berdegup tidak karuan ketika berusaha mencocokkan hal-hal yang baru saja dia ketahui hari ini dengan beberapa pertanyaannya beberapa minggu terakhir.
Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaannya itu mirip puzzle. Satu-satunya yang membuatnya berbeda dengan puzzle adalah Renjun tidak merasakan ada rasa senang atau puas ketika semua pertanyaannya ternyata bisa disusun menjadi sebuah kesimpulan bahwa orang yang disukai Jeno adalah Jaemin.
TBC
a/n. itu Mark sama Jeno lama banget ke toiletnya yha. Ketinggalan gosip deh.
Chara development-nya udah kelewat ancur hhh bingung banget
Gak pengen bawel ah di sini.
Review lho. Wajib lho. Gak mau tau lho.
