Ehem chapter 3 selesai... aku persembahkan khusus untuk Luna Margaretha... semoga kamu suka yaaaa *ketjup duyu aahhh* wakakakakakaaa

Dan juga buat vava yang kemarin sempet pundung, nih aku tepatin janji aku :3

.

.

Sin

Naruto belong Masashi Kishimoto

Rated M

Genre : romance, drama, hurt/comfort, angst

Warning for OOC, AU, INCEST, LEMON

.

.

Sakura berjalan dengan langkah yang sangat cepat dan terkesan buru-buru. Setelah bel yang menunjukkan bahwa jam sekolah telah selesai, gadis merah muda itu bergegas meninggalkan gedung sekolahnya dengan wajah cemas karena takut Sasuke atau Shikamaru akan memergokinya. Saat Sakura fokus pada langkahnya, dia tidak sadar bahwa di hadapannya ada sosok yang akan-

Bruukk!

-ditabraknya.

"Aahh! Maaf, maaf! Aku tidak sengaja."

"Wooppss, hampir saja kau jatuh," ucap sosok lelaki berambut pirang dengan pakaian casual-nya, "lain kali hati-hati."

"Iya, terima kasih, aku buru-buru maaf ya," ujar Sakura tanpa memperhatikan wajah pemuda tersebut. Tanpa Sakura sadari, pemuda itu menatap sosok Sakura yang sedang berlari dengan tatapan bingung.

Saat Sakura melangkahkan kakinya ke tempat tujuannya, Shikamaru dengan tatapan dinginnya menatap layar laptop yang menampilkan sosok Sakura saat ini. Yap! Sakura telah dilacaknya, alat pelacak telah ditempelkan pada tubuh Sakura saat Sasuke memeluknya tadi siang di depan kelas. Shikamaru langsung membuka ponselnya begitu tahu dan sedikit shock melihat keberadaan adiknya itu sekarang.

"Nii-san! Perfektur E nomor 33, cepat! Dia berada di rumah Sasori!"

Sasuke yang kini berada di belakang sekolah menunggu kabar dari Shikamaru, begitu adiknya menelepon, Sasuke langsung menancap gas motor besarnya itu. Mendengar Sakura berada di rumah Sasori membuat kedua kakaknya ini sangat khawatir, bukan hanya karena Sasori adalah pembuat boneka manusia, karena Sakura kini sudah mulai bisa berbohong pada mereka. Namun bisa ditebak bukan Sakura lah yang akan disalahkan oleh mereka, melainkan Sasori. Padahal, Sakura berbohong itu karena mereka terlalu mengekangnya.

.

.

"Ah, kau sudah datang."

"Kau bilang akan memaafkanku kalau aku datang ke rumahmu, makanya..." ucap Sakura terhenti ragu.

"Aku tahu, ayo masuk," ajak Sasori.

Sakura sangat ragu untuk menerima ajakan tersebut, ada perasaan tidak enak di dalam hatinya. Namun, entah apa yang ada di dalam pikirannya, gadis musim semi itu melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang pemuda yang kini hanya memakai kemeja putih dan celana seragam sekolah. Sakura melihat sekeliling ruangan yang terasa begitu dingin.

"Senpai... sendirian?" tanya Sakura pelan.

Sasori sempat terdiam dan melirik tajam ke belakanh, namun Sakura tidak menyadari lirikan itu karena kedua emeraldnya tengah sibuk memperhatikan ruangan yang terasa sangat dingin ini.

"Kedua orang tuaku di luar negeri, aku tinggal sendiri."

"Di rumah sebesar ini?" tanya Sakura lagi.

Sasori mulai risih dengan keingintahuannya Sakura.

"Sakura," panggi Sasori yang menyiapkan sapu tangan putih.

"Ya-emmpphh! Nnggg!"

Sasori mendekap mulut Sakura memakai sapu tangan yang sudah dibasahi cairan bius, sampai Sakura tidak sadarkan diri, Sasori melepaskan sapu tangan itu dari mulut kekasihnya.

"Ahhahahaa, wajahmu cantik, tubuhmu indah, sayang kalau tidak kujadikan boneka, ini akan menjadi karya yang bagus!"

.

.

Ino berkali-berkali melirik jam tangan pemberian Itachi yanb kini sedang berada di sampingnya, memergoki kekasihnya bertingkah gelisah membuat laki-laki jenius ini bertanya-tanya, "Apa yang kaucemaskan?"

"Hah? Ah... tidak, bukan-"

"Cerita padaku, Ino."

Ino menatap Itachi dengan tatapan penuh kekhawatiran, "Baiklah, tapi kali ini kau harus percaya pada firasatku."

"Sasuke dan Shikamaru lagi?" tebak Itachi.

"Ini semakin aneh, kalau memang tidak ada yang aneh, kenapa tadi Sakura menghubungiku dan meminta tolong padaku agar mengatakan pada kedua kakaknya yang menurutku sakit jiwa itu untuk berbohong? Sakura ingin aku membuatkan alibi untuk mereka kalau pulang nanti, dan aku tahu mereka tidak akan pernah bisa dibohongi, mereka menakutkan!"

"Ino! Kau hanya paranoid," ujar Itachi.

"Itachi, Sakura adikmu juga, kenapa kau tidak berusaha untuk membebaskannya?"

Itachi terdiam. Dan melihat diam itu membuat Ino membuat jarak pada kekasihnya.

"Waw, aku tidak menyangka kalau kau tidak peduli-"

"Bagaimana aku bisa peduli! Bagaimana aku bisa menyelamatkan Sakura?! Mereka semua adikku, aku tidak punya bukti apa-apa kalau kedua adikku itu sakit jiwa, yang kutahu hanyalah mereka berdua terlalu overprotektif pada Sakura, bagaimana aku bisa mencoba membebaskannya kalau aku saja tidak diberi kesempatan untuk dekat dengannya oleh mereka?"

"Itu! Makanya aku bilang ada yang aneh! Bahkan mereka tidak membiarkanmu mendekatkan Sakura," ujar Ino, "apa jangan-jangan... mereka mencintai Sakura?"

"Kesimpulan yang gila, Ino. Incest adalah sifat binatang, hanya manusia yang cacat apabila mengalami incest," jawab Itachi.

"Ck! Aku khawatir pada Sakura," gumam Ino.

Itachi menatap Ino dengan lembut, "Aku sangat bersyukur Sakura mempunyai sahabat sepertimu," ucapnya sambil menempelkan keningnya di kening Ino, "saat kita tinggal bersama nanti, kita ajak Sakura juga, bagaimana?"

Mata Ino terbelalak, "Ti-tinggal bersama?"

Itachi tersenyun dan menggenggam tangan kekasihnya, "Memang tidak sekarang, tapi aku booking dirimu dari sekarang untuk menikahimu kelak, semoga kau belum berpaling dariku sampai dua tahun ke depan."

Ino mulai berkaca-kaca matanya, saat Itachi mencium tangannya dan bertanya, "Apa tawaranku ini berlebihan?"

Ino menggelengkan kepalanya, "Tidak, sama sekali tidak."

.

.

"Khukhukhukhu, sangat bagus, tubuh polos yang masih sangat murni."

Sakura perlahan membuka kedua matanya, sedikit ia mengingat ada dimana sekarang keberadaannya. Melihat atap asing, tubuh kaku dan kehadiran seseorang di sampingnya membuat Sakura menoleh, "Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

"Sssshhhhh, prosesnya masih lama, organ tubuhmu belum kubongkar semua tapi kau sudah teriak."

Sakura membuka matanya lebar-lebar dan berkaca saat melihat Sasori memegang pensil tajam untuk mengukir garis di tubuh indah yang kini terpampang tanpa busana.

"Tidak! Lepaskan aku!"

"Kenapa? Bukannya kau menyukaiku?" tanya Sasori kelam.

"Tidak! Aku tidak menyukaimu! Aku tidak menyukaimuuuu!"

"Kau ini gadis payah, ingin masuk klub drama tapi tidak bisa akting, selalu dilindungi kedua kakakmu kau tipe gadis tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan, kau bisa bertahan selama ini berkat kakak-kakakmu, kautahu itu?" hina Sasori.

"Ternyata kedua kakakku benar, seharusnya aku menuruti mereka, seharusnya aku mengenalkan siapa yang akan menjadi pacarku pada mereka, kau brengsek! Kuharap kau mati menjadi boneka!" Jerit Sakura.

"Oh, itulah jalan kematianmu sayang, sebentar lagi kau akan menjadi boneka favoritku."

Sasori mendekat kembali dan mengukir garis pada pinggang Sakura dengan pensil panjang.

"Aaaahhh! Sakiiittt! Hentikaaaann!"

"Yaahh~ teruslah menjerit."

"Jangaaan! Sakiiitt! Sasu-nii! Shika-niii!"

BRAAAAKKKK!

Saat suara pintu didobrak, Sasori menghentikan kegiatannya. Awalnya Sasori heran kenapa dia bisa sampai di rumahnya, padahal jeritan tidak akan terdengar karena rumah Sasori dilengkapi fssilitas kedap suara. Tapi kembali lagi, Uchiha bisa melakukan apa saja.

Sasuke datang dengan wajah kesal, cara jalannya pun sudah berbeda dari biasanya, melihat Sakura tanpa busana cukup membuat Sasuke kehilangan kendali untuk tidak menghajar si rambut merah itu. Sasuke mencengkram kerah laki-laki penggila boneka tersebut dan melemparnya ke lemari keca. Sakura hanya bisa diam melihat kemarahan kakaknya, belum sempat Sasori bangkit, Sasuke sudah menindihnya, "Puas menyakitinya?"

"Khe! Hahahaha, aku bahkan sudah mencicipi tubuhnya."

BUG!

"Tubuhnya indah sekali, hahahaha."

Sasuke menatap Sasori dengan sangat dingin, sampai Sasori pun gemetar ketakutan melihat tatapan itu. Dengan sedikit senyuman, Sasuke mengarahan kedua ibu jarinya ke masing-masing bola mata milik Sasori.

"M-mau apa kau! Kau tidak akan berani!"

"Kaupikir sudah berapa jenis manusia sampah sepertimu yang mendekati Sakura lalu kuhabisi, hm?" bisik Sasuke yang membuat kedua mata Sasori terbelalak.

Sasuke menekan kedua bola mata Sasori semakin kencang.

"Tidaakk! Aaarrgghhh! Aaaaaaahhhhhh! Hentikaaaann! Aku mohon!"

Sakura melihat kedua kaki Sasori meronta kesakitan saat Sasuke makin menekankan ibu jarinya untuk menghancurkan bola mata laki-laki itu. Entah mengapa ada perasaan ngeri dari diri Sakura melihat kakaknya bertindak sangat kejam.

"Sakura! Nii-san!"

Sakura menoleh ke pintu masuk, Shikamaru datang.

"Shika-nii!"

Shikamaru membuka jas-nya dan menutupi tubuh telanjang Sakura kemudian memeluknya, "Maaf aku terlambat."

"Shika-nii, tolong hentikan Sasu-nii, dia bisa membunuh Sasori!" pinta Sakura.

"Uaaaarrrgghhhhh!"

Sasuke terlihat menikmati siksaan yang dia berikan pada Sasori. Sudah lama dia tidak merasakan sensasi seperti ini, sudah lama dia tidak membunuh serangga yang mengganggu Sakura, sudah lama dia tidak tersenyum puas disaat menyiksa orang. Kaki Sasori menendang-nendang ke udara, menahan rasa sakit di bagian mata yang kini ditekan keras oleh Sasuke.

"Sasuke hentikan, Sakura melihatmu," bisik Shikamaru sambil menepuk pundak Sasuke.

Sasuke tersentak kaget saat Shikamaru menepuk pundaknya, seolah kesadaran kembali pada jasadnya. Sasuke melihat bayangan Sakura yang sudah terbalut jas melalui bayangan cermin dihadapanyya. "Aku sudah memanggil Kakashi untuk menutupi kasus ini lagi," bisik Shikamaru, "bawa Sakura pulang, biar aku yang menghabisinya."

Mendapati tatapan ngeri dari Sasori membuat kedua laki-laki berdarah Uchiha itu tersenyum sadis.

"Gila! Kalian tahu itu? Kalian berdua adalah manusia gila!"

Sasuke berjalan dan menutupi tubuh Sakura, "Jangan dengarkan dia," ucap Sasuke pada adiknya. Sakura mengangguk dan sedikit melihat ekspresi Sasori yang kini panik dan ketakutan.

"Kau akan menyesal, Sakura! Kau akan menyesal karena telah menjadi adik mereka! Kau akan menyesal dan kau tidak akan pernah bahagia selama mereka masih hidup! Kau- aakkhhh!"

"Sepertinya aku memerlukan sesuatu yang sangat panas untuk membungkam mulutmu," ujar Shikamaru santai.

Sasuke membawa Sakura keluar dan menutupi bagian bawah tubuh Sakura memakai tirai yang dia lepas dari jendela rumah Sasori. "Sasuke-nii... Shika-nii..."

"Tidak apa-apa, Shikamaru akan memastikan bahwa dia tidak akan pernah lagi berada di dekatmu," jawab Sasuke.

Bukan itu yang Sakura cemaskan melainkan ucapan Sasori tadi... selama mereka hidup, maka dia tidak akan bahagia... apa maksud dari semua itu?

"Nah, sekarang tinggal kita berdua, kau lebih memilih aku melanjutkan tindakan Sasuke tadi, atau kutarik lidahmu sampai keluar?"

Sasori tidak menjawab, dirinya seolah pasrah, "Bunuhlah aku kalau memang itu maumu."

Shikamaru menatap sinis kemudian mengeluarkan pistol dari saku belakangnya, hal itu membuat mata Sasori terbelalak, "kau beruntung bukan Sasuke yang membunuhmu," ujar Shikamaru sambil menarik pelatik. "Karena Sasuke sangat suka menyiksa korbannya pelan-pelan, beda denganku yang ingin cepat selesai."

"Sudah berapa banyak orang yang kalian bunuh? HANYA DEMI GADIS JELEK YANG TIDAK BERGUNA!"

DEP!

"Beruntung pistol kedap suara ini sampai dengan tepat waktu, terima kasih... Kakashi," ucap Shikamaru sambil menatap sosok yang berdiri di depan pintu masuk.

Kakashi, laki-laki berseragam polisi kini mendekati mayat Sasori dengan lubang kecil di bagian kepalanya.

"Bukan masalah, selama kalian terus bekerja sama dengan kami, ini memang buronan yang kami cari. Kalian memang hebat," jawab Kakashi.

"Kalau tidak ada hubungannya dengan Sakura, aku tidak akan repot-repot membantumu," ucap Shikamaru ketus.

"Hahaha, yaahh, kau dan Sasuke sama saja. Baiklah, aku akan urus di sini, kau pulang saja."

Shikamaru tidak menjawab, dia hanya menatap jijik sosok Sasori yang kini sudah menjadi mayat.

.

.

Sasuke mengobati luka lecet yang terdapat di beberapa tubuh Sakura. Semakin Sasuke mengoleskan alkohol di luka itu, semakin hasratnya meninggi untuk mencumbui adiknya yang kini setengah telanjang di hadapannya.

"Sasuke-nii..." panggil Sakura dengan nada pelan.

Sasuke tidak menjawab, namun Sakura tahu kalau kakaknya itu menunggu dirinya untuk melanjutkan kata-katanya, "Terima kasih... dan maafkan aku."

"Untuk?"

"Untuk semuanya, terima kasih telah datang untukku, dan maaf karena aku membohongimu," ucap Sakura sendu.

Sasuke terdiam dan membereskan benda-benda yang tadi dibutuhkan untuk membersihkan luka adiknya. Setelah Sasuke mengembalikan ke kotak obat, dia duduk di samping Sakura, "Hhmm, apa kau menyesal?"

Sakura mengangguk.

"Pelajaran apa yang kaudapatkan kali ini?" tanya Sasuke.

"Jangan terlalu percaya pada orang, dan kalau ingin punya pacar harus disetujui oleh kalian," jawab Sakura.

Sasuke tersenyum dan mencium kening Sakura, "Pintar."

Sakura tersenyum lembut, saat ini dirinya sangat lelah, dia tidak ingin memikirkan apapun. "Aku pakai baju dulu."

Tiba-tiba Shikamaru masuk tanpa mengetuk pintu dan melihat ubuh Sakura yang indah, "Kenapa kau tidak memakai baju?"

"Ah, i-ini tadi Sasuke-nii habis mengobatiku, ja-jadi aku..." ucsp Sakura terbata-bata.

Sesaat tubuhnya tersentak kaget saat Sasuke memeluknya dari belakang.

"Hari ini kami hampir kehilanganmu," ucap Sasuke dengan lembut.

Shikamaru menutup dan mengunci pintu kamar Sakura kemudian mendekati gadis yang kini dipeluk oleh kakaknya itu. Begitu Sakura sudah berada di hadapannya, Shikamaru membelai pipinya, membuat dada Sakura berdebar sangat kencang.

"Kau tidak tahu betapa berartinya dirimu bagi kami," ucap Shikamaru.

"A-aku..."

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Shikamaru sudah membungkam mulut Sakura memakai mulutnya. Shikamaru mencium Sakura dengan gairah yang tinggi, sementara Sasuke dari belakang tengah menciumi leher Sakura dan meremas payudara adiknya itu dengan sangat lembut.

"Aa-aanghhh~ tu-tunggu dulu..."

"Kami tidak bisa menunggu lagi," ucap Shikamaru dan Sasuke bersamaan.

Sasuke menggendong Sakura dan membawanya ke kasur. Kali ini gantian Sasuke yang mencium Sakura dan Shikamaru terus membelai perut Sakura.

"Nnggghh~ nii-san~ kita tidak boleh melakukan ini," ucap Sakura diperuntukkan kedua kakaknya yang sedang menjamah tubuhnya.

Sakura melihat kedua kakaknya itu tersenyum lembut padanya, sangat berbeda dengan senyuman kejam yang dia lihat di rumah Sasori.

"Untukmu, apapun akan kami lakukan," ujar Sasuke.

"Aahhnn! Nggghh~" Sakura mulai mendesah kencang ketika dia mersa ada yang menjilat clitorisnya, siapa lagi selain Shikamaru yang dari tadi memainkan bagian bawah Sakura.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Sakura pun merasakan hasratnya meninggi. Tangannya terus meremas rambut Sasuke yang kini menghisap payudara Sakura. Tatapan Sakura kembali terbuka saat dia melihat Shikamaru dan Sasuke menghentikan kegiatan mereka dan membuka celana masing-masing. Shikamaru membalikkan tubuh Sakura sehingga gadis itu duduk membelakanginya, dan Sasuke duduk di hadapan Sakura.

"N-nii-san?"

Diangkat tubuh Sakura, kemudian Shikamaru dan Sasuke mengatur posisi sampai-

Sleep!

"Aaaahhhhh!"

Mereka merenggut keperawanan sang adik.

Sakit yang dirasakan Sakura luar biasa dua kali lipat, karena selain Sasuke memasukkan kejantanannya di milik Sakura, Shikamaru memasukkan kejantanannya melalui belakang Sakura.

"Apa kami sudah bisa bergerak?" tanya Sasuke tidak sabar.

Sakura mengangguk. Entah apa yang merasukinya sehingga mengizinkan kedua kakaknya itu bercinta dengan tubuhnya.

"Aaanngghh.. aaahhh~ nii-san~ aaaaahhnnn!"

"HAAAHHH!"

Sakura terbangun.

Tubuhnya penuh keringat, dan dia melihat bagian pinggangnya melipat perban dan tubuhnya pun memakai gaun tidur. Sakura memijat kepalanya sendiri, "Apa-apaan mimpi barusan!"

Saat Sasuke mengobatinya, Sakura hanya menangis dan menangis sampai akhirnya dia tertidur lelap. Ternyata semua adegan yang sangat erotis itu hanyalah mimpi belaka. Mimpi yang membuat perasaan Sakura bimbang, kenapa harus memimpikan hal erotis dengan kedua kakaknya itu?

"Ini pasti karena kami terlalu dekat," gumam Sakura yang akhirnya memutuskan untuk kembali tidur.

.

.

Keesokan harinya. Sakura bangun tidur dengan wajah yang... segar?

Dirinya mersa sangat bugar dan seolah kejadian kemarin tidak pernah ada. Diawali dengan senyuman manis dan membersihkan tubuhnya. Perban yang membalut pinggangnya kini dilepas, lukanya sudah sedikit mengering. Setelah Sakura selesai mandi dan memakai seragam, gadis merah muda itu keluar kamar dan menuruni tangga yang langsung tertuju pada ruang makan.

"Ayaaaahhh!" Jerit Sakura saat melihat sosok ayahnya yang ikut sarapan dengan mereka, Sakura berlari dan memeluk sang ayah.

"Hehehey, apa kabar putri kecilku?"

"Sangat baik, apa urusan ayah sudah selesai?" tanya Sakura riang.

"Belum, ayah hanya menyempatkan waktu untuk anak-anak ayah, nanti siang ayah akan berangkat lagi ke London."

"Hhhmmm sayang sekali," gumam Sakura yang menarik kursi di dekat Itachi.

"Sakura, tempatmu di sini," ujar Sasuke sedikit ketus saat Sakura lebih memilih duduk bersama Itachi.

Sejak kejadian mimpi tadi malam, Sakura sangat salah tingkah melihat Sasuke dan Shikamaru.

"Ehm, sekali-kali aku ingin berada di dekat Itachi-nii, tidak apa-apa, 'kan?" tanya Sakura ragu.

"Kau-"

Saat ingin protes, Shikamaru menendang kaki Sasuke agar menjaga sikap di depan ayah mereka yang terkenal dengan tegasnya.

"Tentu saja boleh." Akhirnya Sasuke menjawab.

Kejadian di ruang makan tadi sangat canggung, sehingga kini mereka di dalam mobil pun sangat canggung. Sakura memilih untuk pura-pura tidur di dalam mobil, saat Shikamaru menyenderkan kepala Sakura di bahunya, Sakura merasa jantungnya berdebar sangat kencang. Perasaan asing yang sangat tidak biasa bagi Sakura.

Begitupun sampai di sekolah, biasanya Sakura berjalan bersama kedua kakaknya, kini Sakura langsung pamit berlari ke kelasnya karena alesan piket.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Shikamaru.

"Sangat aneh, apa dia takut dengan kita setelah kejadian kemarin?" jawab Sasuke.

"Sepertinya bukan itu."

Sambil berjalan, kedua Uchiha itu lebih memilih untuk bolos dan pergi ke tempag favorit mereka. Namun, sesampainya di atap, kening mereka mengerut ketika melihat sosok laki-laki pirang tidur di spot yang semua orang tahu bahwa spot itu adalah milik duo Uchiha.

"Siapa orang ini?" tanya Sasuke.

"Aku bawa pistol kedap suara, mau kuhabisi?" ucap Shikamaru.

"Whooaaaa, aku hanya menumpang memejamkan mata sebentar saja kalian ingin membunuhku?"

"Siapa kau?" tajya Sasuke ketus.

"Aku baru saja pindah ke sekolah ini bersama sepupuku, ah perkenalkan aku Uzumaki Naruto kelas dua," ucap lelaki pirang yang bernama Naruto sambil mengulurkan tangannya, namun tidak ada yang menjabatnya.

"Pergi kau dari sini," ujar Sasuke mengusir Sambil mengeluarkan sebatang rokok.

Saat Sasuke menunggu Shikamaru menyalakan rokoknya, pematik asing menghampiri wajah Sasuke dan menyalakan rokoknya, begitu Sasuke menoleh...

"Ehehehe, kita mempunyai hobby yang sama."

Entah mengapa, dalam hati kecil Sasuke... dia bisa sedikit menerima kehadiran laki-laki asing berambut pirang dengan wajah ceria ini.

"Sekarang cepat kau pergi," ujar Shikamaru mengusir.

"Baiklaaah, sepertinya kalian berdua tidak ingin diganggu, aku mengerti, seme-uke?" tebak Naruto dengan cengirannya.

"Uhuk! Uhuk! Sialan! Kami adik-kakak!" sewot Sasuke yang tersedak asap rokoknya sendiri.

"Whooaaaa, maaf aku tidak tahu, hehehe... yasudah, sebaiknya aku kembali ke kelas, anak baru harus hadir walau sekedar formalitas."

Begitu Naruto pergi, Shikamaru melirik Sasuke dengan tatapan dingin, "kau ingin berteman dengannya?"

"Tidak, kenapa?"

"Ingat perjanjian kita."

"Tenang saja, aku akan selalu ingat itu."

"Bagus, kalau kau melanggarnya, aku akan membawa pergi Sakura dan kau sangat tahu, aku tidak akan bisa ditemukn oleh siapapun, termasuk kau dan ayah." ancam Shikamaru.

"Begitu juga sebaliknya, kalau kau yang melanggar, aku akan memisahkan semua anggota tubuhmu dan kuberikan pada anjing yang kelaparan," balas Sasuke.

Mereka saling tatap kemudian tersenyum.

"Hahahaha, kita memang gila."

To Be Continued


A/n : kyahahahahahahahahaa threesome nya mimpi XD, masih ngga tega bikin threesome kalau sakuranya belum ada perasaan ke mereka berdua, hiks

Oke deh, review? Hehehehee

See ya

XoXo

V3Yagami