Maaf yaaa yang udah nunggu lama SIN, aku kemarin fokus bikin Change of Life dan Lamaran. Sekarang lamaran udah selesai, tapi masih ribet sama urus nikahan. Jadi aku bikin fictnya curi2 waktu juga, itupun kalau ada mood hehehee, maaf yaaaa...

.

.

SIN

Naruto belong Masashi Kishimoto

Rated M

Genre : romance, drama, hurt/comfort, angst

Warning for OOC, AU, INCEST, LEMON

.

.

Seminggu berlalu sejak kedatangan murid baru di sekolah mereka. Selama seminggu ini, Sakura berusaha untuk jaga jarak dengan kedua kakaknya yang terlalu over padanya. Tentu saja hal ini membuat kedua Uchiha sangat risih. Sampai tiba di batas kesabaran salah satu penyandang nama Uchiha.

"Jelaskan padaku, ada apa?"

Kini posisinya adalah Sakura yang sedang dikepung oleh Sasuke dan Shikamaru. Dengan membawa langsung adiknya ke atap sekolah lalu menghardik sang adik, jelas makin membuat Sakura canggung.

"Sasuke-nii… Shika-nii, ini sudah masuk jam pelajaran sekolah loh," ucap Sakura dengan senyum tegangnya.

Melihat adiknya tegang, Sasuke menghela napasnya, "Hhh, apa yang kausembunyikan dari kami?" tanya Sasuke lembut.

"Katakan apa salah kami, sampai kau menghindar seperti ini?" kini Shikamaru yang bertanya.

Sakura memasang wajah bersalah, wajahnya tertunduk, "Maafkan aku~" ucapnya pelan, "kalian tidak salah apa-apa, mungkin aku yang terlalu berlebihan."

"Seminggu ini kau terus menghindar, ada apa?" tanya Shikamaru.

Dengan berat hati, Sakura pun menceritakan tentang mimpinya pada kedua kakaknya itu.

"Jadi… aku bermimpi~"

Sasuke dan Shikamaru menunggu kalimat Sakura yang terputus karena mereka tahu, adiknya ini sedang berusaha mengumpulkan keberniannya untuk mengatakan sesuatu.

"A-akubermimpikitabertigamelakukanadeganbercinta!" ujar Sakura dengan kalimat yang sangat cepat.

"Ha? Aku tidak menge–"

Sasuke memotong ucapan Shikamaru dengan mengangkat tangan pada wajah Shikamaru. Seolah memberi kode agar Sakura mengulang lagi perkataannya, "Jangan takut, cerita pada kami," ujar Sasuke lembut.

"A-Aku mimpi… kita… bertiga—bercinta~" Akhirnya Sakura mengatakannya.

Shikamaru dan Sasuke memasang wajah shock, namun terlihat ada ekspresi gembira tersirat pada wajah mereka masing-masing. Itu artinya Sakura sudah mulai melihat sosok mereka bukan sekedar sosok kakak, melainkan sosok laki-laki.

"Maafkan aku, bukan maksudku untuk berpikiran aneh-aneh tentang kalian."

Shikamaru menepuk kepala Sakura, "Itu hanya mimpi 'kan?"

Sasuke mengangkat dagu Sakura, "Bukan salahmu."

"Be-begitu?" Sakura tersenyum lega mendengar jawaban dari kedua Uchiha itu.

"Masuklah ke kelas," ucap Sasuke yang melepaskan kurungannya, "hari ini pelajaran Iruka-sensei, 'kan? Favoritmu, kelas Matematika."

"Ah iya, aku ke kelas ya, kalian jangan terlalu sering bolos."

Sakura pergi meninggalkan duo Uchiha. Saat keadaan mulai sepi, Shikamaru dan Sasuke saling melirik satu sama lain kemudian menyeringai, "Mimpi ya?"

"Ya, sayang sekali." Shikamaru merentangkan kedua tangannya dan menduduki tempat favoritnya, "haruskan kita wujudkan mimpi itu?"

"Tidak secepat ini, kita harus menunggu lebih sabar lagi," jawab Sasuke.

"Kalau itu terjadi, kau pilih mana? Atas atau bawah" tanya Shikamaru.

"Percakapan yang sangat tidak senonoh, tapi aku pilih atas, aku ingin melihat ekspresinya," jawab Sasuke.

"Ekspresi siapa?"

Pertanyaan yang terlontar dari nada suara yang terdengar asing namun familiar ini membuat kedua Uchiha bergidik karena terkejut. Dan terlihat, Naruto yang muncul dari atas tempat mereka duduk.

"Kau mendengarnya?" tanya Sasuke sinis.

"Mendengar apa? Aku baru saja datang tiba-tiba mendengar kau berucap memilih bagian atas," jawab Naruto yang kini turun menyamakan posisi mereka, "jangan bilang kalian berbagi wanita ya? Hahahaa."

"Tipe orang yang banyak bicara tapi bernyali seperti ayam," hina Shikamaru.

"Jahat, masa aku disamakan oleh ayam," Naruto mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya pada mereka.

"Tidak sudi," tolak Shikamaru sambil membaringkan tubuhnya.

"Sebaiknya kau pergi dari sini," usul Sasuke, 'sebelum kami benar-benar akan menghabisimu."

"Kalian ini tidak ada ramah-ramahnya ya, beda sekali dengan adik kalian yang berambut pink itu, dia jauh lebih manis dibanding kalian."

Mendengar Naruto mengucapkan ciri-ciri Sakura, mereka berdua langsung bereaksi. Shikamaru bangkit dari tidurnya dan Sasuke menoleh menatap Naruto sinis, "Kau kenal dia?" tanya Sasuke dengan nada yang berubah menjadi berat.

"Kami bertubrukan beberapa minggu yang lalu, awalnya aku tidak tahu dia itu adik kalian," jawab Naruto, "begitu masuk sekolah ini, aku langsung dapat peringatan dari sana sini tentang larangan mendekati Uchiha Sakura, hahaha."

"Kuharap kau tidak mengabaikan peringatan itu," ujar Shikamaru, masih menatap Naruto dengan rasa ingin menghajar wajah yang sumringah ketika membicarakan Sakura mereka.

"Kalian terlalu over padanya, apa tidak takut kalau Sakura merasa jenga?

BRAK!

Di luar dugaan, Sasuke lah yang mendorong Naruto ke tembok dan mencengkram kerahnya, "Panggil dia Uchiha, kausebut namanya sekali lagi, bisa kupastikan bara api lah yang masuk ke dalam mulutmu."

Reaksi Naruto pun di luar perkiraan mereka, karena saat ini Naruto—tersenyum.

"Nyehehehe, ini menarik, sepertinya kalian akan mendapatkan serangga yang kuat sepertiku," tantang Naruto.

"Apa maumu?" gencar Sasuke.

"Aku tertarik pada adik kalian, tapi aku lebih tertarik melihat ekspresi kalian apabila adik kalian benar-benar–jatuh cinta padaku."

BUG!

Kali ini Shikamaru yang bangkit dan memukul tepat di perut Naruto.

"Kalau hal itu terjadi, maka ucapkanlah selamat tinggal pada dunia ini, sampah!"

.

.

Pelajaran Matematika adalah yang paling Sakura suka. Karena system pelajarannya itu sama di belahan dunia manapun, dan bahasa inggris adalah yang paling Sakura benci. Saat ini Sakura menikmati menjabarkan rumus di kertas yang sedang ia coret-coret di atas meja. Iruka-sensei selalu memberi latihan soal sebelum pelajarannya berakhir. Dan tentu saja Sakura dengan mudah mengerjakan semua soal-soal itu. Sakura menoleh pada kursi sebelahnya yang terlihat sedikit kesusahan untuk menyelesaikan pertanyaan di kertas tersebut.

"Hei, kalau ada yang tidak dimengerti tanya padaku saja," tawar Sakura.

"Ah, i-iya maaf, apa kau mengerti rumus ini?"

"Oh, ini sih gampang, tinggal dibagi menjadi dua bagian, lalu turunkan ke bawah. Kalikan dengan hasilnya lalu jumlahkan masing-masing dari hasil ini, nah."

"Wah, ternyata mudah, terima kasih… uhm, Uchiha-san."

"Panggil saja aku Sakura, kamu Hyuuga anak baru itu kan?"

"Iya, panggil saja aku Hinata."

"Salam kenal Hinata," sapa Sakura dengan ramah.

Saat yang tepat dengan bel istirahat berbunyi, Sakura menutup buku-bukunya.

"Soalnya kita lanjutkan besok," ucap Iruka-sensei.

"Hei, Hinata," panggil Sakura, "mau ikut makan siang bersamaku dan Ino?"

"Ino?"

"Sahabatku, kita makan bareng di kantin, mau tidak?" tawar Sakura, "ah, atau kau sudah ada janji dengan teman yang lain?"

Hinata menggeleng cepat, "Belum, aku belum dapat teman di sini."

"Kalau begitu aku teman pertamamu?!" tanya Sakura dengan antusias. Dan Hinata mengangguk sambil tersenyum.

"Yeaayy! Nah, ayo kita ke kantin." Sakura langsung menarik lengan Hinata dan berlari menuju kelas sebelah, tempat dimana Ino sedang – bersama Itachi.

Sakura menghentikan langkahnya dan sedikit mendorong Hinata ke belakang, "Sepertinya hari ini kita tidak makan siang berama Ino," ucap Sakura sambil tersenyum bahagia melihat kakaknya dan Ino sedang berbincang di meja tempat Ino Belajar.

"Loh? Kenapa?" tanya Hinata.

"Mereka sedang asik, aku tidak mau mengganggu," jawab Sakura, "ah! Tapi kita makan bersama kakak-kakakku saja ya, mereka orangnya baik kok."

"Sakura-san, apa tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa kok, mereka baik," jawab Sakura.

Mereka segera menuju ke tempat dimana Sasuke dan Shikamaru sedang bersantai.

Sedangkan kedua uchiha yang sedang merokok itu tidak tahu bahwa adik tercinta sedang menuju kesini, Sasuke menghembuskan asap rokoknya ke langit lalu menjatuhkan abu rokok ke lantai.

"Kalian ini, sebentar ingin menghajarku, tiba-tiba mengajakku merokok bersama, benar-benar unik."

"Siapa namamu sebelumnya?" tanya Shikamaru yang kini bersender di tembok.

"Uzumaki Naruto! Tega sekali kau lupa namaku!"

"Nama tidak penting untuk diingat, karena keberadaan nama selain orang yang penting bagi kami itu tidak penting," jawab Sasuke yang menghisap kembali batang rokoknya.

"Kalian benar-benar aneh, aku jadi makin penasaran dengan ka–emph!"

"Ssttt."

Sasuke menutup mulut Naruto memakai bungkus rokok, dan Shikamaru langsung berdiri di samping pintu, mereka berdua memperjelas pendengaran mereka sampai suara itu mengucapkan, "Kedua kakakku ini sangat baik padaku, kau pasti tidak akan canggung pada mereka."

Shikamaru memberi isyarat pada Sasuke agar membuang rokoknya, namun tidak sempat karena gagang pintu telah bergerak, karena itu Sasuke memilih untuk meremas rokok yang masih terbakar api itu dan menyembunyikannya di belakang.

Cklek.

"Sasu-nii… Shika-nii…"

"Ada apa?"

"Huaa!"

Sakura terkejut dengan tangan Shikamaru yang seolah menghadang Sakura di samping pintu untuk mencegah adiknya melangkah lebih lanjut.

"Shika-nii, aku kaget, boleh makan siang bersama kalian?" tanya Sakura.

"Tentu boleh," jawab Shikamaru sembari melirik pada Sasuke yang sepertinya sudah membuang jauh rokok yang tadi dimatikan oleh remasan tangannya.

"Sakura," panggil Shikamaru, "aku punya sesatu untukmu."

"Eh? Apa itu?"

Shikamaru mengeluarkan sebuah kantung wewangian dari saku celana dan diberikannya pada Sakura.

"Waahh, wangi lemon, sejuk sekali~"

"Kau suka?" tanya Shikamaru.

"Iya, suka sekali, apalagi udara di sini jadi terasa sangat sejuk, Shika-nii beli dimana?"

"E-bay, di rumah ada aroma strawberry dan cherry kalau kau mau."

"Benarkah? Aku mauuuu~"

Naruto melihat mereka dengan tatapan sedikit ngeri. Ada sebuah aura protektif yang sangat tinggi diantara mereka bertiga, dan lagi… Naruto yakin bahwa Shikamaru telah menyiapkan kantung wewangian itu sejak lama, seolah sudah bisa membaca kalau hal ini akan terjadi. Lalu Sasuke… Naruto melirik Sasuke yang tidak segan meremas bara rokok yang masih panas itu hanya demi agar adiknya tidak melihat dia merokok.

Ini… keluarga apa?

"Ah, ini Hinata, dia baru saja pindah ke sekolah ini, sekarang dia menjadi temanku," ucap Sakura, "Hinata ini Sasuke-nii, dan ini Shikamaru-nii."

"Salam kenal," ucap Hinata.

"Hinata? Kau berteman dengan Sa—Uchiha?" tanya Naruto—yang hamper saja menyebut nama Sakura.

"Baru saja, karena Sakura-san membantuku mengerjakan soal matematika tadi," jawab Hinata.

"Loh? Kalian saling kenal?" tanya Sakura pada Hinata dan Naruto, "Ah, salam kenala aku Uchiha Sakura, kau teman kakakku?"

"Ya… begitulah, hehehe, salam kenal ya, aku Uzumaki Naruto, aku dan Hinata ini sepupu."

"Heee? Sepupu?" ucap Sakura yang kembali memperhatikan Naruto dan Hinata.

"Se-sepupu jauh, sangat jauh," jawab Hinata dengan rona merah di pipinya.

"Ooohh, kalau begitu, Naruto mulai sekarang panggil aku Sakura, ya?"

Mendengar permintaan Sakura membuat Shikamaru dan Sasuke bereaksi, "Bukankah kau ingin makan siang, Sakura?" tanya Sasuke.

"Iya, kalian bawa bekal? Aku bawa nih," jawab Sakura.

"Tidak, aku ingin makan bekalmu," ujar Shikamaru.

"Ish! Jatahku berkurang dong," protes Sakura.

"Kalau mau, kalian boleh mengambil bagianku," tawar Hinata.

"Terima kasih, saat kami tidak ada, tolong jaga Sakura, ya?" pinta Sasuke sambil mengambil sosis berbentuk gurita dari tempat bekal Hinata.

Wajah Hinata makin merona saat Sasuke sedikit tersenyum padanya. Sakura sendiri kaget, kenapa kakaknya yang terkenal dengan wajah es itu bisa tersenyum pada perempuan yang baru saja dia kenal?

Akhirnya, acara siang ini dilengkapi oleh Shikamaru, Sasuke, Sakura, Naruto dan Hinata di atap sekolahan. Mereka saling berbincang-bincang, lebih tepatnya Naruto dan Hinata menyaksikan betapa akrabnya ketiga Uchiha itu. Naruto menatap seolah menganalisa pada tatapan Sasuke dan Shikamaru pada Sakura. Tatapan yang tidak wajar bagi seorang kakak terhadap adiknya. Sedangkan Hinata, diam-diam selalu melirik ke arah Sasuke dengan wajah tersipu.

Naruto melirik Hinata yang sepertinya tahu kalau sepupunya itu sedikit menaruh perhatian pada Sasuke. Entah mengapa hal ini membuat dirinya tersenyum lebar dan tertawa, "Ehehehehe."

Dan tawa itu membuat mereka tertuju pada Naruto. "Kau gila?" tanya Shikamaru.

"Hahaha, tidak, bukan. Aku hanya ingin tertawa saja," jawab Naruto sambil berdiri, "sepertinya aku ingin ke kelas."

"Jam pelajaran belum dimulai kok," ucap Sakura.

"Ya, aku ingin menyiapkan pelajaran berikutnya, aku tidak mau terlalu sering bolos," jawab Naruto sambil menyeringai pada Sakura. Dan entah kenapa Sakura merasa salah tingkah pada cengiran Naruto, "mau ikut ke kelas —Uchiha kecil?"

"Uchiha kecil?" tanya Sakura bingung.

"Ya, kamu. Uchiha kecil, mau bareng kembali ke kelas atau tidak?" ajak Naruto.

"Siapa yang kau maksud Uchiha kecil?! Namaku Sakura!" sewot Sakura dengan rona wajah yang memerah.

"Hahaha, tapi aku lebih suka memanggilmu Uchiha kecil," ledek Naruto.

"Dasar kau rubah jelek!" Dan Sakura kembali meledek.

"Jahat, kenapa aku dipanggil rubah?"

"Karena wajahmu licik seperti rubah!" sewot Sakura sambil menutupi wajahnya yang merona.

Di saat mereka berdua saling ejek, Sasuke dan Shikamaru menatap sinis Naruto dari belakang tubuh Sakura. Menyadari hal itu—Naruto menyeringai dan melambaikan tangannya, "Bye."

"Menyebalkan! Baru kali ini ada yang berani meledekku di depan kalian," sewot Sakura pada kedua kakaknya, "kalian kenapa tidak membelaku!"

Shikamaru menatap Sakura dan memainkan rambut pink panjang milik Sakura, "Jangan ladeni dia, anggap saja anjing menggonggong."

"Sakura, sebentar lagi pelajaran di mulai, pergi lah ke kelas sekarang, jangan sampai bel bunyi dank au tergesah-gesah menuruni tangga lalu kau jatuh," ucap Sasuke.

"Ja-jangan diperjelas di depan Hinata, Sasu-nii jahaaat~" Sakura merengek pada Sasuke sambil menarik dasi milik Sasuke.

"Karena itu, pergilah sekarang, hati-hati menuruni tangga, langsung ke kelas, jangan keluar lagi," perintah Sasuke mutlak.

"Baiklah, baiklaah~" jawab Sakura dengan santai, "yuk, Hinata."

Hinata berdiri mengikuti Sakura dan membungkuk pada kedua uchiha itu. Setelah mereka pergi, Shikamaru menatap Sasuke dengan tatapan paling sinis yang pernah dia tunjukkan sebelumnya, "Apa maksud dari semua ini, nii-san?"

"Apanya?" tanya Sasuke yang tidak mempedulikan tatapn Shikamaru.

"Kau meminta laki-laki bodoh itu bergabung dengan kita dan mengajaknya merokok bersama!" geram Shikamaru, "apa maksudmu!"

"Tenang Shikamaru," jawab Sasuke sambil merapikan dasinya, "kita coba untuk menjadi temannya."

"Apa?!"

"Sstt…" Sasuke mendekati Shikamaru dan merapikan dasi adiknya itu, "karena, cara terbaik menghancurkan musuh adalah dengan menjadikannya seorang teman."

Mendengar kakaknya mengucapkan kalimat terakhir dengan seringai yang paling jahat yang pernah dia lihat ini membuat Shikamaru menjadi yakin dan membalas seringai itu, "Dengan senang hati, akan kita jadikan dia teman laki-laki paling dekat dengan kita."

.

.

Sakura dan Hinata kembali pada tempat duduk mereka masing-masing. Hinata tersenyum saat Sakura menceritakan tentang bagaimana kedua kakaknya itu selalu melindunginya dan sangat menyayanginya. Namun Sakura menutupi semua kekurangan kedua kakaknya itu, seperti melarangnya berpacaran, atau selalu memeriksa ponselnya setiap malam. Ucapan Sakura terhenti ketika Hinata mengatakan…

"Boleh aku dekat dengan salah satu dari mereka?"

Sakura terdiam dan menatap Hinata dengan tatapan bingung, "Eh?"

"Kamu… mau membantuku?" pinta Hinata dengan rona wajah yang memerah.

"Bantu–apa?"

Hinata tersenyum malu dan meremas rok-nya, "Aku… sepertinya suka pada salah satu kakakmu."

"Heeee?!" Sakura menjerit keras dan langsung menutup mulutnya. Ini pertama kali ada perempuan yang langsung jujur padanya bahwa dia menyukai salah satu kakaknya.

"A-apa itu hal yang aneh?" tanya Hinata.

"Ti-tidak, tapi… apa kau siap ditolak?" tanya Sakura polos.

"Hah?" kali ini Hinata yang bingung.

"Maksudku, setiap ada perempuan yang menyatakan cintanya pada kedua kakakku, mereka pasti ditolak habis-habisan," jelas Sakura.

"Karena itu," Hinata memasang wajah seolah memohon pada Sakura, "aku minta bantuanmu."

Sakura terdiam. Baru kali ini ada yang meminta pertolongan padanya untuk dekat dengan kakaknya. Tapi Sakura berpikir, kalau Hinata bisa berpacaran dengan salah satu kakaknya, mungkin over protektif mereka akan sedikit berkurang padanya. Dan mungkin saja Sakura bisa memulai cintanya yang baru bersama—

—Naruto yang terlintas di otaknya.

Sakura menggelengkan kepalanya, kenapa harus orang itu yang terlintas dipikirannya. Laki-laki pirang menyebalkan yang selalu memasang wajah ceria itu. Mungkin karena selama ini Sakura selalu dikelilingi wajah suram dan sinis, makanya begitu Sakura melihat Naruto yang selalu tersenyum… Sakura merasa ada seseorang yang menyinari hatinya.

"Baiklah," jawab Sakura riang, "aku akan membantumu."

"Benarkah?" ucap Hinata dengan nada riang.

"Asal kau juga membantuku," ujar Sakura mengedipkan satu matanya, "bantu aku untuk bisa dekat dengan sepupumu itu."

~TBC~


A/N : Nah, ini chapter 4 nya :3

Jangan minta update cepet ya, hahahaa feel lagi kenceng di Change of Life sih hiks...

yuk ah, sampai ketemu di chapter 5 :3

ppssttt, jangan lupa ini fict Saku-cent loh

XoXo

V3yagami