Sebuah ficlet, Carnival Phantasm/Hollow ataraxia-style tentang reaksi Nasuverse saat bermain FGO. Slight romance, full humor (semoga). Beberapa dari pengalaman nyata (lol).


Nasuverse Play FGO

Nasuverse © Nasu Kinoko & TYPE-MOON

Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks

Chapter III


7. C'est la vie

Jika pemain menyelesaikan cerita di Fuyuki, maka panggung akan beralih ke Orleans, Perancis; tepatnya ke masa setelah Perang Seratus Tahun yang melibatkan Inggris dan Perancis. Tentu saja, jika berbicara mengenai Perang Seratus Tahun, seorang Santa dari Orleans pun terbayang di pikiran.

"Jadi di sini, karakter utamanya Jeanne?" tanya Shirou.

"Benar. dengan kata lain, ia akan selalu menjadi Guest di timmu, Shirou," jawab Saber, yang kini merebahkan badan atasnya di atas meja makan kediaman Emiya, dengan ponsel tergenggam erat. Sama seperti Master-nya dan Illya juga Leys, ia juga baru masuk ke Orleans. Sebenarnya ia sudah menamatkan Fuyuki terlebih dahulu daripada mereka, hanya saja pertemuannya dengan Heracles (lv 62) menyadarkannya agar tidak sombong.

"Bagus itu. Ada Servant defensif sepertinya, aku nggak perlu khawatir dengan pertahanan! Saatnya pakai tim super ofensif!" kata Shirou. Dia pun memasukkan Siegfried, Jing Ke (*3 Assassin), dan Shielder ke timnya. Slot terakhir disiapkannya untuk Jeanne, entah Guest-nya atau milik Saber.

Saber sendiri, sebagai gantinya, meminjam Siegfried milik Shirou.

"Shirou, apa yang terjadi dengan Archer? Kenapa kamu tidak memasukkannya ke tim?"

"... Saber, kamu ingat pertarungan melawan Saber Alter kemarin? Waktu itu dia sama sekali nggak berguna! Serangannya tidak sakit, Noble Phantasm-nya pun geli-geli! Bahkan lebih cocok disebut 'Unlimited Tickle Works'! Sebagai pemilik Reality Marble yang sama, aku merasa terhina!"

"Tapi Shirou, Archer itu dirimu di masa depan... jelas tidak mungkin UBW nya lebih lemah-"

"Pokoknya dia nggak berguna! Akan kusimpan dia sampai bertemu musuh Saber lagi."

...

Selain Jeanne sebagai karakter utama, para Roh Pahlawan asli Perancis juga terlibat dalam kisah di Orleans ini. Salah satunya adalah sang ratu Perancis di masa Revolusi yang terkenal karena sifat borosnya, juga kematian cukup tragisnya di bawah guillotine, Marie Antoinette. Lucunya, di Grand Order, sang eksekutor Marie, Charles-Henri Sanson (*2 Assassin) ternyata yandere padanya.

"Viva la France!" kata Marie (*4 Rider), setelah Shirou menyelesaikan pertarungan.

Karena desainnya benar-benar imut dan perangainya manis, sang Servant Penunggang itu sudah menjadi Guest tetap di timnya Shirou, menggantikan Jeanne untuk sementara.

"... Rider ini manis sekali, ya," komentar Shirou untuk yang kesekian kali sore itu.

Saber tidak merasakan hal yang sama dengan Shirou karena ia terus teralihkan oleh... bagian tertentu Jeanne di timnya, yang jadi semakin terlihat setelah Ascension. Tapi ia juga sempat menggunakan Marie di tim untuk mencoba kemampuannya, apakah pantas bergabung dengan tim impannya, "Round Table All-Star" kelak.

"Benar. Berbeda dengan bayanganku tentang Marie Antoinette yang historikal... ia tampak seperti anak-anak. Perangainya juga sama."

"Anak-anak? Apa maksudmu, Saber? Marie sudah dewasa. Umurnya di sini sudah 20 lebih, lho," Shirou menyangkalnya.

"Masa? Tapi-"

"Wanita dewasa yang dadanya sangat, sangat rata."

"Shirou... kamu melihat apa darinya?" Saber meneteskan keringat dingin. Entah kenapa, ia juga merasa tersindir...


8. Savior of France

BAMMM!

Saat istirahat makan siang, Shirou yang sedang memakan bentou-nya dalam damai, dikejutkan oleh hantaman di mejanya. Dia menjaga ketenangannya, lalu mengangkat wajah... untuk melihat seorang Rin Tohsaka, yang sepertinya kurang tidur. Rambutnya acak-acakan, matanya merah dan pelupuk matanya menghitam.

"Uwaah... apa yang terjadi padamu, Tohsaka?"

"Kurang tidur gara-gara ini," Rin mendorong ponselnya, dengan layar menunjukkan peta Orleans di Fate/Grand Order.

"Ah, Saber juga begitu. Dasar, semestinya kamu bisa mengontrol diri-"

"Enak saja! Aku tidak main berlebihan seperti Saber! Aku hanya frustasi sampai tidak bisa tidur!" Rin menarik nafas panjang, lalu, menekan salah satu Chapter di Orleans dan masuk ke dalam pertarungan.

"Frustasi gara-gara mereka!"

Tampaklah di layar Rin, timnya yang terdiri dari Arturia (*5 Saber), Cu Chulainn (*3 Lancer), dan Siegfried (punya Shirou)... menghadapi 3 ekor naga. Masing-masing HP-nya belasan ribu, dibandingkan timnya yang maksimal 9 ribu.

"Naga! Dan naga! Lalu, naga, lebih banyak naga! Orleans terkena wabah naga! Ide sialan apa ini, yang mengatakan kalau naga lebih kuat dari Roh Pahlawan?!" teriak Rin.

Teriakan ini tidak mengganggu murid-murid lain, mereka justru kompak mengangguk setuju. Rupanya, sama dengan Rin, mereka mengalami masalah dengan naga.

"Oh, ini gara-gara Jeanne Alter itu kan? Untuk membalas dendam ke warga Perancis yang menyeretnya ke tiang eksekusi, dia menjadi Dragon Witch dan menurunkan banyak sekali naga ke sana..." Shirou menjelaskan dengan santainya. "Eh, bukan. Mereka itu wyvern! Aku pernah dengar dari Saber, perbedaan naga dan wyvern."

Naga eropa (dragon) berbentuk seperti kadal dengan campuran dinosaurus, mereka memiliki 2 pasang kaki dan tangan (atau kaki depannya), juga sayap seperti kelelawar. Sedangkan wyvern, kaki depan atau tangannya, menyatu dengan sayap.

"Jadi lebih tepat, wabah wyvern. Hmm, hmm," Shirou mengangguk puas atas analisanya.

"Bagiku mereka semua naga... tapi Shirou, bukan itu yang perlu kau perhatikan!" Rin memukul mejanya Shirou lagi. Hilang sudah karisma dan pesona si murid teladan, seolah ditiup nafas wyvern. "Naga-naga itu terlalu kuat! HP-nya besar dan serangannya sakit! Sudah begitu, banyak sekali! Tiap Chapter musuhnya hanya naga! Membosankan dan menyebalkan!"

"Oh. Itu masalahmu? Heh. Mereka mudah dikalahkan, kok," Shirou terkekeh sinis. Bagi Rin, itu seperti dia melihat Archer tengah mengejeknya. Tentu itu membuatnya semakin naik pitam.

Beberapa saat kemudian, Shirou membungkukkan badannya, dengan rambut acak-acakan bekas terkena pukulan yang diperkuat dengan sihir.

"Maaf. Aku nggak akan sombong lagi," kata Shirou.

"Hmph. Sudah layak dan sepantasnya," Rin menyilangkan lengannya. "Lagian, apa hakmu sampai kamu berlagak begitu? Apa kamu sudah menyelesaikan Orleans?"

"Sudah, kok," Shirou mengeluarkan ponselnya, dan masuk ke FGO. Tampak dia sudah berada di awal Rome Order, stage setelah Perancis. "Aku, Saber, dan Illya menyelesaikan Orleans dalam 3 hari."

Semua orang di sana terperanjat. Tiga hari itu bisa dibilang sangat cepat, jika memperhatikan waktu mengisi AP (stamina untuk bermain)!

"HAAAH?! Kok bisa?! Kamu hanyalah EMIYA All-Star!" komentar Rin.

Dzigg.

"Ouch. Itu menohok sekali, Tohsaka..." Shirou menggeritkan giginya. Berkat timnya yang dihuni Archer dan Siegfried, berikut pemainnya, orang-orang di grup WhatsApp menjulukinya 'EMIYA All-Star'. Apalagi, nama pemainnya adalah Kiritsugu. "Timku sudah berubah, tahu. Akan kuperlihatkan."

Shirou menekan Chapter 13 France, yang seingatnya menjadi titik di mana para pemain stuck alias tidak bisa maju. Tapi dia santai saja. Tampaklah tim miliknya. Siegfried (*4 Saber), Kojirou Sasaki (*1 Assassin), dan Elizabeth Bathory (*4 Lancer, pinjaman dari Saber). Siegfried dan Bathory, itu wajar. Sebagai Servant *4, mereka kuat. Tapi... Kojirou?

Ini membuat Tohsaka dan anak-anak yang penasaran, mengangkat alis mereka, heran, "Haaah?!"

"Kojirou? Bisa apa Servant *1 sepertinya?" tanya Rin.

"Hehehe. Lihat dan pelajari."

Komentar sombong itu membuat kepala Shirou kembali nyeri karena pukulan Rin, tapi dia terus bermain. Kesombongannya memiliki dasar rupanya, tim itu menghabisi para wyvern tanpa terluka parah. Itu karena Kojirou sang Servant kelas Assassin yang memiliki keuntungan melawan kelas Rider, 'kelas' para wyvern dan Fafnir. Apalagi, Siegfried, seperti legendanya, juga memiliki Skill untuk melawan naga.

Kojirou, dengan besi Nippon-nya, mencincang para wyvern. Praktis Siegfried dan Bathory hanya menjadi penonton. Tak lama, Shirou sudah mencapai pertarungan terakhir. Masalah di Chapter ini memang bukan para wyvern kroco. Melainkan...

GROAAAAARRR!

Fafnir, adalah naga yang dalam legendanya dibunuh Siegfried. Dia kemudian mandi dalam darahnya, menciptakan Noble Phantasm – "Armor of Fafnir" yang memberinya kekebalan serangan.

Kini, naga legendaris itu menjadi boss... yang saking besarnya, hanya terlihat dua pertiga bagian badannya di layar ponsel.

"APA-APAAN ITU?!" teriak anak-anak lain, kaget.

"Lari, Shirou, lariiii! Tim-mu yang hanya berisikan keluarga besar EMIYA takkan selamaaat!" Rin mengguncang-guncang badan Shirou, ikutan panik.

"O-oi, Tohsaka. Tenanglah dulu. Dia nggak terlalu kuat kok."

Dengan itu, Rin melepaskan cengkeramannya, lalu menuding Fafnir di layar ponselnya Shirou. "Jangan sombong! Lihat, HP monster itu mencapai 56 ribu! Itu JAUH di atas Saber Alter di Fuyuki!"

"Makanya, kau perlu tim yang sesuai, Tohsaka. Lihatlah ini."

Beda dengan wyvern biasa, Fafnir memanfaatkan sungguh kekuatan Phantasmal Species sepertinya. Serangan biasanya bisa melukai seisi tim. Dia bisa meningkatkan kekuatan serangan dan critical-nya sendiri. Dia bisa menghujani meteor ke tim lawan, menimbulkan critical damage. Terakhir, jurus besarnya... menyemburkan nafas api yang menutupi layar, tentu dengan damage yang super sakit.

Namun tim Shirou berdiri tegak. Siegfried yang terkena Burn dan damage normal dari semburan api Fafnir, menyembuhkannya dengan Personal Skill. Bathory masih memiliki 1/3 HP. Lalu, Kojirou? Sehat walafiat. Malahan, Noble Phantasm gauge-nya langsung penuh dan siap digunakan!

"Tuh kan," kata Shirou.

Kini, Fafnir hanya menyisakan sekitar 20 ribu HP... sementara Kojirou sudah siap melakukan Brave Chain (serangan beruntun) dengan menyertakan NP. Pada saat ini, Rin dan anak-anak lain yang menonton Shirou hanya bisa melongo tidak percaya.

"Hiken: Tsubame-gaeshi!"

Bersama erangan kematian yang memekakkan, Fafnir pun musnah dalam badai serangan critical...

"Kata Assassin, 'Naga hanyalah burung layang-layang yang agak besar'," kutip Shirou.

...

Sejak sore itu, Kojirou mendapat julukan baru: Sang Penyelamat Perancis.

Servant yang asli, di kuil Ryuudou, tak bisa menahan air matanya. Setelah sekian tahun ada di franchise ini, akhirnya masanya telah tiba!


9. Ascension

Dalam sebuah game, selain gameplay, visual juga penting. Maka, tak heran kebanyakan Servant di game FGO ini ganteng dan juga cantik. Para bishounen seperti EMIYA dan Siegfried menjadi husbando kaum hawa, sementara mereka yang manis-manis seperti Arturia, Jeanne, Marie, dan Shielder, menjadi waifu kaum adam. Kojirou Sasaki? Dia menjadi idola semua orang.

Ehem.

Melanjutkan pembicaraan mengenai visual, kadang ketampanan dan keimutan wajah saja belumlah cukup. Perlu suatu hal lain untuk menarik pemain, dan itu memanfaatkan salah satu teknik paling tua dalam sejarah pemasaran...

"Aku, Ruler – Jeanne d'Arc, siap menemani Anda dalam game ini!" salah satu Servant utama game ini menyapa si pemain dengan senyum manisnya yang penuh wibawa.

"Selamat bergabung di tim, senpai!" sapa Mashu Kyrielite, alias Shielder.

"Kamu orang baru kah?" Jeanne mengamati sang junior dari atas ke bawah. Proporsi tubuh yang bagus, kostum ungu ketat, pusar yang terlihat, leotard, dan zettai ryouiki. Sang Santa Orleans tersenyum puas, sambil menepuk pundak Mashu. "Penampilan yang bagus."

"E-eh? Terimakasih..."

"Tapi... kurang 'ooomph'! Ini adalah industri mobile game yang keras, tanpa keberanian kamu takkan bisa bertahan!"

"A-apa maksudmu, senpai?"

"Gameplay, fitur, dan kesempatan free to play memang bagus, tapi ada satu lagi aspek yang penting! Ah, bahkan bisa dibilang paling penting, dalam game seperti ini!" Jeanne meletakkan bendera perangnya.

Ia lalu menyingkap jubahnya, menampakkan zirah perang... yang entah kenapa memamerkan kemolekan tubuh dengan proporsi B85/W59/H86-nya. "Dan itu adalah... visual (baca: fanservice)!"

"E-eeeeh?!" Mashu terperanjat, wajahnya memerah melihat adegan berani itu.

"Maka, kemarilah! Berikan aku kostum yang terbuka! Demi keberlangsungan game ini, aku rela melakukan apapun!"

...

Ascension, adalah salah satu fitur untuk memperkuat seorang Servant. Dengan Ascension, kau bisa membuka Skill baru, memperkuat Noble Phantasm, dan mengubah penampilan Servant.

Seperti Jeanne. Ascension-nya ke tingkatan tertinggi membuatnya mengenakan kostum serba putih tanpa lengan, dengan pose bak model majalah gravure, yang... cukup kontroversial (dan super panas) bagi orang suci sepertinya.

"UWOOOOOOHHHHH! JEANNNEEEEEEEE!"

Teriakan penuh nafsu Gilles de Rais menggema di Takhta Para Pahlawan.


Next chapter

"Sebagai karakter utama FGO, aku menuntut penampilanku dalam fic ini!"

"Aku ini Demi-Servant... !"

"ROMAAAAA!"