.
.
SIN
Naruto belong Masashi Kishimoto
Rated M
Genre : romance, drama, hurt/comfort, angst
Warning for OOC, AU, INCEST, LEMON
.
.
Saat ini, Sakura sedang menatapi layar ponselnya sambil bersenandung ria. Lagu yang ia senandungkan terdengar familiar di telinga kedua kakaknya yang kini duduk di kanan dan kirinya. Mobil yang sedang membawa mereka kembali ke rumah bergerak dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.
"Sedang mengirim pesan pada siapa?" tanya Sasuke sambil menyenderkan kepalanya di jendela mobil.
"Hinata," jawab Sakura masih sambil dengan senandungnya.
"Kau sudah mulai akrab dengannya? Cepat sekali," ucap Shikamaru sambil sedikit mengintip isi pesan di ponsel Sakura.
"Jangan ngintip!" Sakura menutupi ponselnya, "Sasuke-nii… hari minggu ini mau menemaniku tidak?"
Shikamaru mengelingkan kedua matanya berkali-kali karena pertanyaan Sakura. Sasuke? Hanya Sasuke yang diminta tolong oleh adiknya itu? Biasanya Sakura pasti minta ditemani berdua jika ingin pergi ke suatu tempat.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.
"Hehehe…ke taman bermain, Shika-nii juga boleh ikut kalau mau," ucap Sakura yang kini menoleh dan menyenderkan kepalanya di bahu Shikamaru.
"Aku sibuk," jawab Shikamaru singkat.
"Kutemani." Sasuke menjawab sambil melirik Shikamaru dengan tatapan aneh.
.
.
Sesampainya di rumah, Sasuke menghampiri Shikamaru yang sedang mendengarkan musik di kamarnya, pintu terbuka tanpa diketuk dan Sasuke melepas paksa headset yang Shikamaru gunakan, "Ada apa denganmu?"
"Bukan apa-apa," jawabnya santai.
Sasuke menarik baju Shikamaru dan menatapnya dengan sangat sinis, "Kau tidak akan pernah bisa menutupi sesuatu dariku!"
"…" Shikamaru membalas tatapan dingin itu dengan santai, "Aku tidak mau merusak kencan ganda kalian, lagipula aku sangat bersyukur bahwa kau yang dipilih oleh Sakura."
Wajah Sasuke merengut, "Kencan ganda?"
"Ya…" Shikamaru mengangkat kedua bahunya, "sepertinya Sakura sedang berusaha menjodohkanmu dengan teman perempuan barunya yang berambut panjang itu, atau bisa dibilang sepupu dari laki-laki pirang berisik itu."
Sasuke melonggarkan cengkramannya, "Itu artinya, Sakura ingin kau cepat-cepat memiliki pacar, nii-san."
"Jangan bercanda!"
"Aku melihat isi pesan yang Sakura kirim tadi di mobil, katanya dia akan mencoba mengajakmu ke taman bermain," jawab Shikamaru.
"Aku dengan dia? Omong kosong! Kenapa bukan kau saja!"
"Apa boleh buat, saat makan siang di atap beberapa hari yang lalu, matanya selalu tertuju padamu, sudah bisa dipastikan dia menyukaimu." Shikamaru bangkit dari tempat tidurnya dan berbisik di telinga Sasuke, "jadikan saja, nii-san… kau bisa menggunakan tubuhnya untuk melepas hasrat terpendammu pada Sakura."
Sasuke mendorong tubuh Shikamaru, "Dari mana kau mempunyai ide kotor seperti itu!"
"Pikir, jika kita tidak mempunyai pacar sama sekali, lama-lama Sakura akan sadar apa yang terjadi dengan kita. Dengan kedua kakak kandung yang jatuh cinta dan tergila-gila padanya, sadar bahwa kedua kakak kandungnya ini sakit jiwa."
Sasuke terdiam, apa yang dikatakan Shikamaru memang benar. Sangat benar. "Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Ya, kau sendiri bagaimana? Jika kuajak teman Sakura ini pacaran, kau akan mengajak siapa?" tanya Sasuke.
"Nii-san, kenapa otakmu menjadi tak berfungsi seperti ini, jika kau dan aku mempunyai pacar dalam waktu yang bersamaan, itu juga akan membuat Sakura curiga, biarlah nii-san dan gadis Hyuuga itu duluan yang menjalin hubungan, aku menyusul," jawab Shikamaru sambil membuka laptopnya, "aku mempunyai banyak calon yang bisa diajak bersandiwara.
Sasuke hanya menatap Shikamaru yang sedang mengakses internet dari belakang, "Kupegang kata-katamu," ucap Sasuke.
"Kapan terakhir kali kau ingat aku pernah ingkar?"
"Tidak pernah."
"Maka tenanglah, jalankan saja."
.
.
"Waaaahhhh, segarnyaaa bisa jalan-jalaaaan."
"Sakura pelankan suaramu." Sasuke menghampiri adik kandungnya itu dan merapikan rambut yang tertiup angin.
"Aku ingin naik itu, lalu masuk ke rumah hantu, lalu kita naik yang seram-seraam!" seru Sakura.
"Hehehe, Uchiha kecil bersemangat sekali," ucap Naruto yang berdiri di sebelah Hinata.
"Sudah kubilang panggil aku Sakura, jangan Uchiha kecil!" Sakura protes dengan wajah yang sedikit memerah.
Sasuke sangat jengkel melihat pemandangan itu, namun apa yang bisa dia perbuat saat ini? Jika Sasuke menyeret pulang Sakura bisa-bisa Sakura tidak mau bicara lagi dengannya, namun jika diteruskan… Sakura bisa benar-benar jatuh cinta pada pemuda yang menurut Sasuke idiot ini.
Melihat Sakura dan Naruto sudah berjalan berdua dengan alaminya, Sasuke merasa ada sosok lain yang mendekatinya, dan dengan reflek Sasuke menjauhkan diri dari sosok yang ternyata Hinata itu.
"Ah… m-maaf…" Hinata menunduk dengan wajah yang memerah serta malu-malu.
Bisa ditebak hari ini Sasuke akan sangat lelah menghadapi kejadian yang akan terjadi kedepannya, "Kita susul mereka," ajak Sasuke tanpa mengulurkan tangan pada Hinata.
Hinata mengangguk dan mengikuti langkah Sasuke yang terbilang cepat. Sesampainya mereka pada Sakura dan Naruto yang sedang mengantri salah satu wahana, Sakura menoleh ke arah Sasuke diam-diam, dan hal ini dipergoki oleh Naruto.
"Kau sengaja mengatur acara ini untuk Hinata ya?" tanya Naruto sambil melepaskan topinya dan tersenyum, "tak disangka kau baik dan perhatian juga ya."
"Eh? Ng… tidak juga, ha…ha…ha…," jawab Sakura ragu dan memang pada kenyataannya Sakura melakukan ini pun juga demi kepentingan dia.
"Bagaimana kalau kupanggil kau Sakura-chan jika tidak ada kakakmu itu," bisik Naruto pelan.
"Eh? Kenapa?"
"Mereka menyeramkan," jawab Naruto sambil tersenyum sarkas.
Sakura terdiam dan menunduk, "Mereka bukan menyeramkan, hanya saja… mungkin mereka trauma…"
Selama antrian berjalan, Sakura menceritakan apa yang pernah terjadi padanya dulu dengan kakak kelas yang sakit jiwa itu, Sasuke memperhatikan dari jarak kira-kira terpotong oleh enam antrian dari belakang, wajahnya terlihat sangat tidak suka ketika melihat adiknya bercerita dengan nyamannya pada orang lain.
"Ng… Uchiha-san, apa tidak apa naik wahana ini?" tanya Hinata pelan.
"Apa saja tidak masalah," jawab Sasuek cuek.
"Be-begitu…" Hinata tidak bisa mengatakan kalau sebenarnya dia sangat takut naik wahana roller coaster ini, tapi dia takut dianggap lemah oleh Sasuke.
Naruto yang baru saja selesai mendengar cerita dari Sakura kini bersender di pagar antrian, "Hhmmm, susah juga ya, kalau begini terus kau akan susah dapat pacar."
"Ng, karena itu…" Sakura tidak melanjutkan ucapannya karena sekarang giliran mereka menaiki wahana tersebut, "ayo, giliran kita."
"Hehehe, tidak kusangka kau berani."
.
.
"Hueeeeek~"
"Hinataa~ maaf ya… aku tidak tahu kalau kau tidak kuat naik wahana yang seperti itu," ucap Sakura yang merasa bersalah.
"Ng, bukan salah Sakura kok, aku yang terlalu memaksakan diri," jawab Hinata.
"Kalau Hinata masih seperti ini sebaiknya kita pulang saja?" usul Naruto.
Hinata melihat kekecewaan pada wajah Sakura, "Ja-jangan! Tidak apa-apa, kalian bermain saja tanpaku, nanti aku bisa menyusul," cegah Hinata.
"Tapi kau bagaimana?" tanya Naruto.
"Sasuke-nii… bisa jaga Hinata?" pinta Sakura dengan wajah memohon.
Sasuke menahan agar urat kekesalannya tidak muncul di keningnya, "Ya, bisa."
"Yeaayy! Terima kasih nii-chaaan!" Sakura memeluk Sasuke dengan manja, "kalau begitu aku dan Naruto lanjut bermain, Hinata istirahat saja di sini ya."
Hinata mengangguk sambil tersenyum lemas.
"Aku titip dia," ujar Naruto pada Sasuke.
Saat Sakura dan Naruto sudah pergi, Hinata melirik Sasuke yang kini duduk di sampingnya. Hinata masih menutup mulutnya dengan tissue, "Kau… sangat menyayangi Sakura, ya?"
Sasuke tidak menjawab. Tatapannya terus pada sosok Sakura yang makin lama makin menghilang. Sedangkan Hinata terlihat murung dengan kondisinya sekarang ini. Apa mungkin Sasuke bisa menyukainya seperti dia menyayangi Sakura? Entah kenapa… rasanya Hinata sedikit cemburu pada Sakura.
Waktu berlalu begitu cepat, kondisi Hinata sudah jauh lebih membaik dari tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, sebentar lagi matahari terbenam, dan akhirnya Sakura juga Naruto kembali ke tempat dimana Hinata sedang beristirahat.
"Hinata, bagaimana keadaanmu?" tanya Sakura.
"Sudah jauh lebih baik," jawab Hinata.
"Aku dan Naruto mau naik kincir angin, kalian mau ikut atau tunggu di sini?" tanya Sakura lagi.
Hinata tidak berani menjawab, dia takut jika dia menjawab iya, Sasuke akan—
"Kami ikut."
—mengajaknya? Bahkan Sasuke mengulurkan tangannya pada Hinata.
"Ayo."
Hinata memerah dan mengangguk sambil menggenggam lembut telapak tangan Sasuke.
Entah kenapa melihat pemandangan itu membuat Sakura bengong dan bingung, ini pertama kalinya Sakura melihat Sasuke menytnuh wanita lain selain dirinya.
"Ayo," ajak Naruto pada sakura.
"Ah, i-iya…" dan perasaan aneh yang Sakura rasakan ini sangat sulit untuk dimengerti.
Sasuke sengaja memilih antrian paling depan dari Sakura, dan kakaknya itu sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Hinata. Apa mereka sekarang resmi berpacaran?
"Kakakmu dan Hinata… pacaran?" tanya Naruto pelan.
"A-aku juga tidak tahu," jawab Sakura bingung.
Melihat wajah Sakura penuh dengan pertanyaan membuat Naruto sedikit cemas, akhirnya Naruto pun mengambil tindakan yang sama, kini ia dengan berani menggenggam tangan Sakura dan memakaikan topinya pada Sakura, "Kita nikmati matahari terbenam berdua di atas nanti, ya?" ucap Naruto dengan lembut dan tatapan yang seolah penuh kasih sayang.
Sakura merona dan menurunkan topi sampai menutupi wajahnya, "I-iya…"
Sasuke dan Hinata sudah memasuki tempat mereka, selama kincir itu berputar Hinata tidak mengucapkan sepatah katapun pada Sasuke, sampai Sasuke melepaskan genggamannya dan menatap Hinata, "Kau menyukaiku?"
Hinata sangat terkejut oleh pertanyaan Sasuke, dengan reflek Hinata mengangguk pelan dengan wajah yang merona.
"Mau jadi pacarku?"
Kedua mata Hinata terbelalak, apa ini? Kenapa tiba-tiba Sasuke yang mengajaknya berpacaran? "K-kau tidak bercanda?"
"Apa kau lihat aku sedang bercanda?"
Jantung Hinata berdebar sangat kencang, mungkin Sasuke bisa mendengarnya saat ini. Hinata menunduk sambil meremas bajunya.
"Bagaimana, mau tidak?" tanya Sasuke sekali lagi.
Hinata mengangguk sambil menutup kedua matanya.
"Bagus."
"I-ini bukan mimpi… 'kan?" tanya Hinata yang terlihat sangat bahagia.
Sasuke melirik Hinata dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu, "akan kubuktikan kalau ini bukan mimpi, tutup matamu dan jangan pernah kau buka sampai kuizinkan."
Sasuke menaikkan dagu Hinata, langsung saja spontan gadis itu menutup kedua matanya, Sasuke mencium bibir Hinata dan melumatnya. Ciuman yang sangat dahsyat, membuat suhu tubuh Hinata memanas. Lidah mereka bermain dengan sangat hebat, sesekali Hinata sedikit membuka matanya dan melihat Sasuke sedang menatapnya dengan intens, kemudian Hinata menutup kembali kedua matanya untuk merasakan setiap sentuhan yang Sasuke berikan.
Sasuke sendiri memejamkan kedua matanya hanya untuk membayangkan bahwa wanita yang ia cium saat ini adalah Sakur, bukan gadis berambut panjang berwarna indigo. Sasuke merasa tubuhnya memanas ketika membayangkan dirinya mencium Sakura seperti ini, apakah bibir Sakura akan selembut ini? Atau bahkan lebih lembut dan terasa manis. Sasuek ingin lebih, Sasuke meraba dada Hinata yang terbilang cukup besar itu.
"Ngh~"
Mendengar suara desahan Hinata membuat Sasuke menghentikan tindakannya. Apa yang dia lakukan? Bukan gadis ini yang ia inginkan, "Maaf," ucap Sasuek sambil mengalihkan pandangannya ke luar.
"Ng, tidak apa-apa," jawab Hinata tersipu.
Kedua mata Sasuke terbelalak ketika tahu ternyata sedari tadi Sakura melihat kegiatan mereka dari bilik seberang. Sakura terlihat syok melihat kakaknya bercumbu dengan wanita, karena selama ini… Sakura pikir wanita yang paling dekat dengan sasuke adalah dirinya.
"Ternyata mereka sudah pacaran," ujar Naruto, "berarti kita juga harus meresmikan hubungan kita."
Sakura menoleh kaget, "Eh? M-maksudnya?"
Naruto menghalangi wajahnya memakai tangannya, "Kau lamban, aku menyukaimu, aku ingin kita pacaran karena aku tahu kau juga menyukaiku, 'kan?"
Sakura melongo, kedua matanya berkedip berulang-ulang kali.
"Apa jangan-jangan, kau tidak menyukaiku?" tanya Naruto dengan ekspresi panik.
"Bukan! Bukan begitu, hanya saja… aku tidak percaya aku bisa menjalani hubungan lagi… aku… senang…" ucap Sakura malu-malu.
"Hahaha, kau ini lucu sekali, Sakura-chan." Naruto merangkul Sakura dan mengecup bibirnya, "di awal hanya sebuah kecupan, kau harus bersiap dengan apa yang terjadi kedepan."
Sakura merona dan menutup bibirnya karena kaget.
"Aku ini mesum, loh," gurau Naruto.
"Hahaha, tidak terlihat seperti itu."
Naruto memeluk Sakura dan berbisik padanya, "Aku serius, pada gadis yang kusukai, aku bisa sangat mesum."
Jantung Sakura berdebar kencang, Sakura membalas pelukan Naruto dan memejamkan kedua matanya, "Ng… aku akan bersiap-siap untuk itu," jawabnya dengan malu-malu.
.
.
Sepulangnya dari taman bermain, mereka berpisah di tengah jalan, karena Naruto dan Hinata rumahnya berdekatan, sedangkan Sakura satu atap dengan Sasuke.
"Sampai besok di sekolah," ucap Naruto sambil mengetuk kepala Sakura.
"Ya, sampai besok."
Tidak ada kata perpisahan dari mulut Sasuke, dia hanya berbalik dan meninggalkan Hinata begitu saja… Hinata bahkan belum mengetahui nomor ponsel juga alamat email milik Sasuke. Sesampainya di rumah, Sasuke menarik lengan Sakura dan menyeretnya ke kamar.
"Kau berpacaran dengan Naruto?" tanya Sasuke sinis.
"I-iya, Sasuke-nii sendiri pacaran dengan Hinata, 'kan?"
"…" Sasuke tidak menjawab, dia teringat apa yang dikatakan Shikamaru padanya, "ya, kami berpacaran."
"Syukurlah," ucap Sakura polos, "aku senang melihat Sasuke-nii mempunyai pacar, aku menyukai Hinata, semoga kakak bisa awet dengannya."
"Ya, semoga Sasuke-nii bisa awet bahkan menikah dengannya, ya." Shikamaru datang menimbrung sambil bersender di pintu kamar Sakura.
"Shika-nii! Tadi seruuu, sayang Shika-nii tidak ikut," ujar Sakura yang langsung berlari ke arah Shikamaru.
"Aku banyak urusan, syukurlah kalau kau senang."
"Ya, sangat senang, hari ini kau juga pacaran dengan si pirang itu, 'kan?" ucap Sasuke seolah sarkas pada Shikamaru.
"Benarkah?" tanya Shikamaru pada Sakura, dan Sakura mengangguk, "bagus kalau begitu, sepertinya Naruto orang yang baik."
Melihat Shikamaru berpura-pura seolah tidak ada apa-apa membuat Sasuke muak.
"Shika-nii setuju? Syukurlaaah~ kupikir kalian akan menghajarnya," ucap Sakura polos.
"Tidak, Sakura. Tapi jika dia menyakitimu, aku akan mengulitinya," jawab Shikamaru dengan santai sambil meninggalkan mereka di kamar Sakura.
Sasuke pergi menyusul Shikamaru dan meninggalan Sakura yang masih bingung pada ucapan kakaknya itu.
"Shika! Tunggu sebentar!"
"Apa, Sasu-nii?"
"Kau—"
"Percayalah padaku, ikuti skenario dadakan yang kuciptakan ini," pinta Shikamaru.
"Aku bersumpah, kalau kau mengambil kesempatan ini untuk memiliki Sakura sendirian, kau akna kuhabisi, ingat itu!" geram Sasuke sambil sedikit mencekik Shikamaru.
"Tenang saja, kita sudah berjanji akan memiliki Sakura berdua, aku tidak lupa janji itu."
"Kuharap begitu." Sasuke mendorong Shikamaru dan meninggalkannya.
Shikamaru mengusap lehernya sambil melirik Sasuke, "Kau akan benar-benar membunuhku ternyata jika kulanggar perjanjian itu. Kau lebih mengerikan dariku, nii-san."
.
.
Sekolah tidak lagi sama bagi Sakura, biasanya hanya Ino yang ingin ia jumpai sekarang bertambah satu orang, laki-laki yang berhasil membuat jantung Sakura berdetak tidak karuan ketika berada di dekatnya. Dan jelas saja, pemandangan saat ini berhasil membuat hampir seluruh murid menatap tidak percaya, seorang Uchiha Sakura berjalan bergandengan tangan dengan laki-laki selain kedua kakaknya. Ditambah lagi yang membuat para siswi menangis pilu ketika melihat seorang Uchiha Sasuke berjalan berdampingan dengan gadis cantik yang terlihat sangat anggun.
"Bo-bohoooooong! Ini tidak mungkin!"
"Sebenarnya ada apa dengan semua ini?!"
"Kenapaa?! Padahal kita saja tidak berani mengatakan cinta pada Uchiha bersaudara, kenapa anak-anak baru itu berhasil merebut hati para Uchiha!"
"Curaaaang, ini tidak adiiilllll!"
Mendengar jeritan para murid membuat Sakura sedikit terkekeh, memang sudah ada beberapa laki-laki yang berusaha mendekati Sakura, namun usaha mereka tidak pernah ada yang berhasil. Begitu pula dengan para wanita yang tergila-gila dengan duo Uchiha, khususnya Sasuke. Jangankan mengatakan cinta mereka, berbicara saja mereka tidak punya nyali karena tatapan Sasuke terlalu dingin.
Sesampainya di loker sepatu, Sakura bertemu Ino dan Itachi yang sedang membicarakan entah tentang apa, "Ino selamat pagiii," sapa Sakura dengan sangat ceria sambil menggandeng tangan Naruto.
"Selamat pagi Saku—" ucapan Ino terputus melihat apa yang ada di hadapannya saat ini, "waw! Apa ini mimpi?"
Sakura tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu sambil berbisik dia menunjuk ke belakang, "Sasuke-nii juga sudah menemukan pujaan hatinya."
Itachi dan Ino melihat ke belakang Sakura dan mendapatkan Hinata yang sedang tersenyum lembut pada Sasuke, namun sebaliknya Sasuke tidak menatap Hinata, dia hanya fokus pada pergantian sepatu kemudian menatap Sakura.
"Sakura, makan siang nanti bawakan bekalku ke atas," ujar Sasuke.
Sakura tidak menjawab melainkan tersenyum usil, "Oke." Jawabnya sambil melirik Hinata.
Shikamaru mendekati Itachi dan bersender di loker, "Bagaimana, serasi bukan?" ledeknya pelan.
"Apa yang kalian rencanakan?" bisik Itachi, "perasaan mereka tulus, jangan kalian permainkan."
"Kalian? Apa nii-san lihat aku ada kaitannya dengan ini semua? Yang menjalin hubungan adalah Sakura dan Sasuke. Jangan sangkut pautkan hal ini denganku," bantah Shikamaru sambil pergi meninggalkan Itachi dan Ino.
"Ada yang tidak beres," gumam Itachi pelan.
"Ambil positifnya saja, Sakura sudah terbebas dari kedua kakaknya yang terlalu overprotektif padanya," ucap Ino lembut, "kau konsentrasi saja pada ujian masuk universitas yang akan diadakan minggu depan. Percayalah pada Sakura."
"Sakura aku percaya, tapi Sasuke… pasti ada sesuatu yang direncanakan dengan Shikamaru."
"Kau terlalu paranoid, Itachi."
Saat Sakura melihat Hinata yang sedang berpamitan untuk masuk kelas pada Sasuke, ada perasaan aneh di dalam hatinya, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya begitu berat dan seolah susah untuk bernapas, namun walau begitu Sasuke tetap menghampiri Sakura dan membelai kepala adiknya sambil berpamitan. Tapi ada yang berbeda… dan Sakura tidak suka dengan perasaan aneh ini.
.
.
TBC
.
.
A/N : sejujurnya aku udah mau berhenti bikin incest, tapi apa daya... hasrat ini membunuhku T^T
yap, ada slight SasuHina di sini, bagi yang gedeg sama pair itu mungkin ngga akan suka dengan chapter ini, tapi percayalah... aku ini sasuSaku lovers dan ngga akan membuat fict ini menjadi sasuhina hahaha, Hinata akan mendapat kebahagiaannya sendiri tapi bukan dengan Sasuke.
fict ini hampir terlantar satu tahun ya, jujur aku juga sedih nelantarin banyak fict, tau gini aku jangan publish fict baru sampai yg multichapter yang lain itu selesai, hiks...
sekarang aku lagi sibuk bikin 2 orifict sih, jadi fict2 anime pada terbengkalai, maafkan saya :'(
oke, sampai ketemu di chapter berikutnya ya, mudah-mudahan aja ngga ngaret hehehee...
XoXo
V3 Yagami
