A/N: Timeline fic ini tidak berurutan. Kadang aku akan cerita soal awal-awal game, kadang soal event terbaru, dan sebagainya. Begitu juga setting-nya. Jadi jangan bingung kalau aku tiba-tiba menulis soal FGO-verse itu sendiri.
Nasuverse Play FGO
Nasuverse © Nasu Kinoko & TYPE-MOON
Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks
Chapter IV
10. Poster Girl
Di dalam DelightWorks, perusahaan developer FGO, konon terdapat suatu ruangan mistis; di mana para Servant dipanggil dari Takhta Pahlawan untuk berpartisipasi dalam game. Jiwa mereka akan diubah menjadi data lewat suatu ritual sihir rumit... atau yang dikenal sebagai Sihir Agung Ketiga, Heaven's Feel (kw 2). Entah bagaimana reaksi Klan Einzbern jika mengetahui proyek ambisius ratusan tahun mereka dijadikan video game.
Tapi kita tidak sedang membahas itu.
BLAAARRR!
Pintu masuk ruang mistik terbanting membuka, mengagetkan para penghuninya berikut Flatt Escardos sang penanggungjawab proses transformasi data para Servant. Pelakunya adalah satu-satunya Ruler (saat ini) di FGO, Jeanne d'Arc, yang wajahnya tidak menampilkan keramahan seorang santa.
"Ah, nona Jeanne!" sapa si mahasiswa bengal. Dia menghampiri salah satu poster girl perusahaan game-nya itu dengan senyum lebar. "Ada apa?"
"Sebagai karakter utama FGO, aku menuntut kemunculanku dalam fic ini!" teriaknya.
Para penghuni ruangan merasa ada suatu dinding imajiner yang pecah karena ucapan itu.
"Fic...?" Flatt memiringkan kepalanya. "Ah, maksudmu, fanfiction? Ya, ya, kudengar beberapa pemain game kita sudah menuliskan fanfic. Internet bekerja cepat sekali."
Jeanne nampak terkejut melihat reaksi Flatt itu. Ia berpikir kaum penyihir sepertinya tidak mau mengakrabkan diri dengan dunia modern?
Namun, tentu saja Flatt akrab dengan istilah-istilah kekinian itu. Karena selain bekerja sebagai selektor dan pengawas Servant, Profesor V favoritnya itu juga mempekerjakannya sebagai mata-mata di dunia interweb. Reddit, tumblr, Twitter, Facebook, Beast's Lair, semua adalah kantor virtualnya.
Pekerjaan terbaik di dunia, menurutnya.
"Oh, baguslah kalau kamu sudah mengerti... aku tak perlu menjelaskan lagi. Kalau begitu, aku minta bantuanmu, tuan Escardos. Kamu kan akrab dengan dunia fans, jadi-"
"Jeanne," tiba-tiba sesosok... wanita (dilihat dari siluet tubuhnya yang aduhai) dari lingkaran sihir di dekatnya, memanggil sang Santa. "Kamu masih belum menyerah soal 'Jaman Jeanne'?"
"Ekh!"
Pertanyaan itu membuat Ruler mundur selangkah, tertohok. 'Jaman Jeanne', adalah ambisi terbesar Jeanne. Ia ingin menjadi maskot baru franchise ini, menggantikan seorang Raja Para Ksatria...
"Sudah kuduga," siluet itu menaikkan bahunya dan menghela napas panjang. "Boleh kuberi saran? Menyerahlah. Itu takkan terjadi."
"Nyonya-"Jeanne bisa merasakan pemilik siluet itu memelototinya dengan aura yang mengatakan 'bahkan dewa bisa kubunuh', jadi ia buru-buru membetulkan. "Maksudku, nona Shishou! Anda tahu kalau aku takkan menyerah begitu saja! Sebagai karakter utama, peranku di game masih belum terlihat jelas! Aku-"
"Kamu sudah tampil di chapter Orleans, bukan?" potong seorang lagi di lingkaran sihir dekat sang Shishou. Dari suaranya, jelas dia adalah seorang lelaki, dan yang bisa dikenali dari siluetnya adalah... rambut jabriknya yang seolah menusuk langit-langit ruangan. "Sebaiknya kamu memberi giliran buat Servant lain. Santa kok egois."
"Tuan Amakusa-!" wajah Jeanne memerah disindir sesama orang suci dan Ruler itu. "Anda sekalian tidak mengerti! Setelah Orleans, peranku menghilang lagi! Hanya menjadi pemanis tim para pemain atau tanker mereka! Tidak ada lagi pembicaraan dan diskusi tentangku!"
"Apa kamu ingat kalau kamu sudah jadi karakter utama di beberapa serial sebelum ini? Apocrypha dan Capsule Servant contohnya. Peranmu di kedua seri itu cukup besar."
"U-uu..." Jeanne termundur lagi. Tapi, ia masih punya argumen perlawanan. "Di Apocrypha, walaupun aku karakter utama, aku kalah populer sama... pria jadi-jadian! Seorang trap bisa mengalahkanku! Lalu di Capsule Servant, dua ending yang kuterima sangat mengesalkan! Game ini seharusnya jadi kesempatanku karena nona Arturia belum dapat peran besar!"
"Eh, tunggu chapter Londinium dan 'ayah' pasti akan jadi karakter utamanya!" komentar seorang gadis berzirah di lingkaran sihir lain. "Dan akan ada aku, tentunya. Aku harus buat perhitungan dengan 'ayah'!"
Jeanne menjatuhkan dirinya.
"Penulis cerita game ini terlalu terpaku pada nona Arturia!" sang Perawan Orleans ingin menangis, kesal.
"Yah, mau bagaimanapun, dialah sumber uang utama franchise ini," komentar Amakusa. "Sudah, terima saja nasibmu, Jeanne. Masih untung kamu ada di game sejak awal, sebagai satu-satunya Ruler. Kelas paling langka, bersama Shielder. Kamu sudah cukup unik-"
"Satu-satunya? Ada Jeanne Alter, bukan?" komentar nona Shishou. Ya, ia bahkan mengancam penulis untuk menambahkan 'nona' di depan namanya.
"Oh, benar. Apalagi aku juga akan datang, suatu saat nanti."
Jeanne semakin terpuruk. Siapapun yang mengenal franchise ini pasti lebih menyukai versi Alter seorang Servant! Arturia Alter contohnya, dirinya sudah memiliki 3 versi: Saber, Santa, dan Lancer!
"Ah, jangan bersedih, nona Jeanne!" tiba-tiba Flatt, yang dari tadi diam tak sesuai karakternya, berucap. Di tangannya ada sebuah tablet, yang layarnya menunjukkan suatu situs fanfiction. "Aku sudah menemukanmu dalam sebuah fic! Coba lihat ini!"
Wajah Jeanne langsung bercahaya seperti matahari terbit. Ia bangkit dari keterpurukannya, dan menghampiri Flatt dengan langkah-langkah ringan layaknya seorang gadis kecil di taman bunga.
"Mana, mana?"
...
Fanfic: Nasuverse Play FGO Chapter 2
"Maka, kemarilah! Berikan aku kostum yang terbuka! Demi keberlangsungan game ini, aku rela melakukan apapun!"
"UWOOOOOOHHHHH! JEANNEEEEEE!"
...
Jeanne merunduk dengan wajah semerah tomat, sementara para Servant yang tadinya berkomentar berebut membaca fic itu.
"Seperti dugaanku," komentar Amakusa.
"Wah, fic ini memperlakukanmu seperti bintang gravure," kata gadis berzirah itu.
"Harus kau akui, Jeanne. Kostum di Ascension terakhirmu itu adalah sebuah skandal," komentar nona Shisho.
11. Mashu
Hari itu, DelightWorks mengadakan pesta untuk merayakan launching game. Selain orang-orang lama seperti Arturia, EMIYA, dan yang lain, juga ada wajah-wajah baru. Salah satunya adalah Mashu Kyrielite alias Shielder, Servant utama di game ini. Sebagai orang baru yang langsung berperan besar, ia pun menyempatkan diri berkeliling menemui para seniornya.
"Se-selamat malam, senpai sekalian!" sapanya untuk yang kesekian kali di acara itu.
Di depannya tampaklah Arturia yang sedang asyik makan seperti biasanya, dan Archer alias EMIYA yang menemaninya dengan wajah sok (masih bangga karena wajahnya sempat nampang di opening game dan kesuksesan serial anime-nya). Menyadari kehadiran seseorang (naluri senpai-nya bangkit), EMIYA menoleh dan menaikkan alisnya.
"Saya Servant baru di franchise ini. Perkenalkan, dan mo-mohon bantuannya, senpai!" kata Mashu sambil menundukkan kepalanya.
Archer menyeringai usil. Sudah lama tak ada yang bisa dia kerjai... maka diapun segera beraksi, "Hmm. Kamu punya sopan santun, aku akui itu. Anak muda zaman sekarang biasanya cuek pada senior mereka. Bagaimana menurutmu, Saber?"
Saber mengangkat wajah dari piring penuh makanannya, dan mengamati si anak baru dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu, tanpa terduga, tangannya meraih... dada Mashu.
"Tidak, Shirou- maksudku, Archer. Lihat ukuran dada ini? Sungguh sombong. Berani-beraninya."
"E-eeeh?!" Mashu hanya bisa merona.
"Dada... kupikir itu efek baju zirahnya?" komentar Archer. Mata sang mantan karakter utama eroge itu langsung tertuju pada bagian yang dimaksud. Memang cukup besar, dan menonjol (secara literal). Pantas jika Arturia merasa kesal.
"Jangan remehkan pengalamanku menilai zirah ksatria. Ini... asli," dan untuk membuktikannya, Arturia... meremasnya.
"A-aaahn! Apa yang kamu lakukan, senior?"
Teriakan manis seorang gadis itu seolah menarik pendengaran para serigala. Benar saja, tak sampai sedetik, seorang wanita berambut coklat dan bergaun merah merangkulnya dari belakang.
"Mashumallow-chaaaaan!"
Ia adalah Da Vinci, pemilik toko Saint Quartz di game. Dan, ia sangat gemas kepada dada... maksudnya, mashu-nya Mashu. Benar saja, kedua tangannya sudah meraih dan meremas kedua marshmallow itu.
"A-aku ini Demi-Servant!" kata Mashu dengan wajah memerah.
Di latar belakang, Archer hanya bisa mengangkat jempolnya.
12. All Road Leads to Rome
Setelah lolos dari wabah naga di Orleans, maka cerita berlanjut ke Grail Kedua, di Septem. Atau, wilayah kekaisaran Roma. Di sini, terjadi perang sipil pada masa pemerintahan Kaisar Nero.
"... Saber pasti takkan menyukai ini," komentar Rin saat pertama melihat perwujudan sang Kaisar.
Berwajah mirip Arturia, namun dengan proporsi tubuh yang lebih berkembang... dan tidak malu menunjukkannya, dengan kostum yang terbuka.
"Apa maksud nee-san? Nero ini manis, kok," Sakura mengatakan kalimat pertamanya di fic ini dengan lembut.
"Ck ck ck, Sakura... kau nggak mengerti apa-apa," Shinji Matou berkomentar, dia menggoyangkan telunjuknya. "Seorang gadis yang mengalami kekhawatiran terhadap ukuran dadanya pasti akan semakin khawatir jika melihat seorang dengan dada yang lebih besar. Apalagi jika seseorang itu mirip atau punya hubungan darah dengannya!"
"Ah, benar juga," Sakura menatap tubuh kakaknya, dan... mengelus dada.
Shinji pun terkapar dalam genangan darahnya sendiri.
"A-apa salahku, Tohsaka...?"
"Kau, kau menanamkan ide aneh ke dalam Sakura!" teriak sang kakak.
...
Karena ini adalah masa kejayaan Romawi, maka Servant yang berperan adalah para Kaisar Roma.
Ada Julius Caesar, yang penampilannya tidak mirip dengan patungnya...
"Bodoh! Jangan melihat patungku dari samping! Jelas tidak mirip!" komentarnya.
Ada Caligula, sang Kaisar Gila akibat terpapar sinar bulan...
"Menjadi werewolf sebelum mereka ngetren," komentarnya.
Tentunya ada Nero.
"Aku ingin dicintai semua orang, umu!" komentarnya.
Dan terakhir, ada sang pendiri Kekaisaran Roma, sang dewa pendiri berbadan merah. Romulus.
"ROMAAAA!" komentarnya.
Saber mendengus. Dibandingkan si peniru, Nero, yang membuatnya sebal dalam banyak artian, ia lebih menyukai Romulus ini. Mereka memang sama-sama pendiri suatu negeri. Romulus dengan Roma, dan Arturia dengan Britain.
"Sudah kuputuskan, akan kumasukkan raja Romulus ini ke formasi Round Table All-Star," kata Saber, beberapa saat setelah berhasil men-summon sang Lancer *3 dari Friendship Point Summon. Beruntung seperti biasa, Arturia ini.
"Huh, kamu yakin, Saber? Dia hanyalah Servant *3 lho," tanya Illya.
"Illya, semua Servant memiliki fungsi, bahkan mereka yang memiliki * rendah," kata Shirou. "Apa kamu lupa betapa berjayanya Kojirou di Orleans?"
"... aku kan tak pakai Kojirou. Aku pakai Carmilla (*4 Assassin)," kata Illya dengan polosnya.
Shirou menggigit bibirnya. Dasar pembeli Quartz! Sudah begitu, Illya juga beruntung! Jarang sekali ia mendapat hasil summon yang buruk...
"A-apapun itu, aku tetap teguh pada pendapatku," kata Shirou. Timnya sendiri sudah kembali ke formasi awal (dengan terpaksa): EMIYA dan Siegfried. Di Roma ini banyak musuh dengan kelas ksatria, jadi kelas Assassin sudah tidak terlalu dibutuhkan.
Sementara itu, Saber...
"Semua demi Roma!"
"'Banyak jalan menuju Roma', adalah kata mutiara favoritku."
"'Roma tidak dibangun dalam satu hari', adalah kata mutiara favoritku yang kedua."
"Manusia, dari manapun mereka berada, akan kembali ke Roma suatu hari nanti."
"Aku mengerti. Kita semua adalah Roma!"
"Klub sepakbola favoritku? Tentu saja AS Roma!"
Guratan otot muncul di dahi sang Raja Para Ksatria.
"Apa dia ini Berserker?! Dia hanya bisa bercerita tentang Roma!" teriaknya, kesal.
Singkat cerita, Romulus pun tergusur dari Round Table All-Star...
Next chapter
"Saber Merah! Saber Biru! Saber Putih! Saber Hitam! Saber Pink! Kami adalah... Saber Rangers!"
"TIGA?! Tiga Setanta?! Apa ini surga?!"
"Yorokobe, shounen."
