Haloooo, maaf ya, tadinya aku ngga ada niat mau update chapter 6, berhubung SIN ini udah dicetak bukunya buat koleksi pribadi (bukan masuk penerbit) dan di buku itu ada tambahan cerita tentang lanjutan L.O.V.E juga.

tapiiiii, berhubung Mayliza a.k.a Zhaerzha itu udah berjasa ngajarin aku main wattpad, aku update SIn chapter 6 ini untuk ungkapan terima kasih aku ke dia XD

here we go...

Last chapter.

.

.

SIN

Chapter 6

.

.

Sakura memandangi kakak kedua dari keluarga Uchiha dengan tatapan curiga, ruang utama di rumah mereka cukup besar, sambil sesekali menulis pekerjaan rumahnya—Sakura membuat Sasuke menyadari bahwa adiknya selalu memandangi dirinya dengan tatapan curiga. Sasuke yang sedang membaca buku menutup bukunya dan membetulkan tubuhnya yang setengah terbaring menjadi duduk.

"Apa?" tanya Sasuke.

Sakura menempelkan dagu di atas meja, "Sasu-nii… benar menyukai Hinata?"

Sasuke mengedipkan kedua matanya berkali-kali, "Kau yang menyuruhku untuk meladeninya."

"Aku tahu," jawab Sakura bingung, "tapi percuma kalau Sasu-nii tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya… kan… kasihan…"

Kedua mata Sasuke menjadi sinis pada Sakura, "Jadi kau mau aku bagaimana? Menyatakan cinta padanya di depan umum? Menciumnya di depan kelasnya? Atau mencumbunya di depanmu?"

Sakura terkejut oleh ucapan kasar Sasuke yang terdengar sangat dingin itu, "S-Sasuke nii-chan tidak usah sampai sekasar itu…"

"Lalu apa maumu?"

Pertanyaan Sasuke membuat Sakura terdiam. Apa yang dia mau? Sakura pun bingung. Dia tidak bisa mengatakan perasaan aneh yang ia rasakan ini pada Sasuke.

"Aku mau ke kamar Shika-nii." Sakura beranjak dari duduknya.

"Hei, aku belum selesai bicara, Sakura!"

Sakura tidak mendengarkan Sasuke dan langsung memasuki kamar Shikamaru lalu menutupya. Shikamaru yang kaget dengan tindakan Sakura melepas kacamata dan menutup laptopnya, "Ada apa?"

Sakura mendekati Shikamaru dan merangkul lengan kakaknya itu, "Bersama Shika-nii memang lebih bikin tenang."

Shikamaru terdiam sebentar ketika sang adik tiba-tiba bersikap manja padanya, ditepuk kepala Sakura dengan lembut, "Ada apa? Coba ceritakan pelan-pelan."

Sakura menempatkan dirinya di atas kasur milik Shikamaru kemudian memeluk bantal milik kakaknya itu, "Sasuke-nii itu menyebalkan, aku hanya memberi saran kalau tidak suka pada Hinata lebih baik jangan pacaran dengannya, kasihan Hinata. Sasuke-nii malah sewot!"

Shikamaru yang kini bersandar di kursi muali menaiki satu kakinya dan tersenyum pada Sakura, "Bagaimana kalau ternyata, Nii-san menyukai Hinata sungguh-sungguh, namun malu mengakuinya."

Sakura menatap Shikamaru sambil mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, kemudian Sakura yang tadinya terbaring kini mengubah posisinya menjadi duduk, "Shika-nii benar," gumam Sakura yang bisa didengar oleh Shikamaru, "mungkin saja Sasuke-nii malu, tapi aku malah memaksanya mengakui itu, aku adik yang bodoh."

"Ya, sangat bodoh," pikir Shikamaru sambil merasa kasihan pada Sasuke.

"Cepat minta maaf, kasihan nii-san kau curigai begitu," usul Shikamaru.

Sakura mengangguk dan beranjak dari tempat tidur, namun belum sampai pada pintu keluar… pintu itu sudah terbuka dan terlihat sosok Sasuke dengan wajahnya yang kesal.

"S-Sasuke-nii…" entah kenapa rasanya Sakura sangat takut oleh sosok Sasuke yang kini menatapnya penuh dengan amarah, "a-apa yang telah kulakukan?"

"Nii-san…" Shikamaru pun kini mulai cemas karena Sasuke bertindak seolah tidak ada siap-siapa di ruangan itu.

Sasuke menghampiri Sakura dan mencengkram lengan adiknya, "Mulai saat ini, kau harus putus dengan laki-laki pirang bodoh itu!"

"Na-Naruto…?" tanya Sakura memperjelas.

Sasuke semakin mencengkram lengan Sakura, "Sa-sakiiit!"

"Nii-san!" Shikamaru mencoba melepaskan cengkraman Sasuke, namun laki-laki itu menatap sinis Shikamaru, "kautahu…" Sasuke mengeluarkan ponsel berwarna pink dari kantung celananya, itu adalah ponsel milik Sakura, jelas saja Sakura langsung panik.

"Ponselku!"

"DIAM!"

Bentakkan Sasuke sukses membuat Sakura kaku. Sasuke memperlihatkan sesuatu pada Shikamaru dan membuat kedua mata laki-laki itu terbelalak, "Sakura… kau…"

"Jangan! Jangan dibaca!"

Sasuke melempar ponsel itu hingga hancur ke tembok, Sakura membelalakan kedua matanya, "Sasuke-nii!"

"Aku tidak akan mengizinkanmu berpacaran dengan laki-laki mesum seperti dia! Kau juga! Meladeni sex chat seperti itu membuatmu terlihat sepeti wanita murahan!" bentak Sasuke.

Malu, kesal, sedih campur menjadi satu. Sakura hanya terdiam sambil menatap ponselnya yang sudah hancur.

"Sakura, sejak kapan kau menjadi gadis yang mempunyai pikiran seperti itu?" tanya Shikamaru yang masih syok.

Sakura mengepalkan kedua tangannya dan menatap Sasuke serta Shikamaru dengan tatapan marah, "Aku dan Naruto resmi berpacaran, wajar 'kan kalau kami membicarakan hal itu dan merencakanannya, mengingat hubungan kami sudah sebulan dari baru sampai tahap ciuman! Memangnya aku ini apa sampai gerakanku pun kalian batasi! Kalian hanya seorang kakak!" bentak Sakura dengan air mata yang mengalir.

Bukannya mereda, amarah Sasuke semakin memuncak, "Hanya seorang kakak katamu? Siapa yang menjagamu mati-matian selama ini?! Apakah dia?! Kami yang menjagamu! Tidak akan pernah kubiarkan laki-laki sialan itu menyentuhmu!" Sasuke menyeret Sakura keluar, diikuti oleh Shikamaru yang mencoba untuk menahan Sasuke.

"Nii-san! Hentikan…" gerakan Shikamaru terhenti ketika Sasuke menatapnya dengan tatapan seolah dia akan membunuh Shikamaru jika berani menghentikannya.

Shikamaru memang mencintai Sakura, tapi bukan begini caranya… ini terlalu kasar. Yang harus diperlakukan kasar adalah para serangga, bukan bunganya.

"Sasuke-nii… lepas!" Sakura merintih sambil menahan tubuhnya agar tidak terseret oleh Sasuke.

Sasuke menyeret Sakura ke dalam kamar mandi dan mengalirkan air di tempat cuci muka kemudian mencuci mulut Sakura, "Mulutmu penuh dengan kuman yang dia berikan padamu, kau harus mencucinya!"

Merasakan itu adalah air panas yang dinyalakan, Sakura mulai gemetar dan memeluk Sasuke, "Maaf! Maafkan aku Sasuke-nii! Maafkan aku! Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku berjanji! Maafkan aku~"

Sakura menangis kencang sambil memeluk Sasuke. Laki-laki yang saat ini mengambil alih memimpin dalam kediaman Uchiha itu menatap datar pada Sakura, namun begitu merasakan tubuh Sakura gemetar… Sasuke memeluk Sakura dengan sangat lembut. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya pelukan dan belaian demi belaian yang Sasuke berikan pada Sakura. Sasuke tidak meminta maaf atas tindakannya, sedangkan Sakura hanya merasa bingung dengan tindakan Sasuke yang sangat kasar.

Sementara itu, Shikamaru memandangi Sasuke yang kini—tersenyum puas—sambil memeluk Sakura. Sasuke mejamkan kedua matanya sambil tersenyum dan memeluk Sakura. Bulu kuduk Shikamaru bergidik, ini sudah bukan Sasuke yang normal… Sasuke dengan jiwa yang melenceng telah bangkit, dan Shikamaru tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Mungkin saja, mulai sekarang Shikamaru pun tidak akan bisa lagi menyukai Sakura—tidak diizinkan lebih tepatnya—oleh Sasuke.

Shikamaru menatap miris pada sosok Sakura yang masih menangis dalam pelukan Sasuke, namun bukan berarti rasa cinta Shikamaru berubah pada Sakura… hanya saja—cara Sasuke—sudah melewati batas.

.

.

Sakura mondar-mandir di atap sekolah, rasanya ingin sekali terjun dari tempat itu, kalau saja dia tidak peduli dengan ketiga kakaknya. Hari ini adalah hari yang sangat buruk bagi gadis berambut merah muda ini, karena hari ini Sasuke telah menyuruh Sakura untuk memutuskan hubungannya dengan Naruto.

"Sakura-chan."

Dan di sini lah Naruto berada.

"Naruto…" sapa Sakura dengan senyuman sendu.

"Ada apa? Tumben minta bertemu di sini," ucap Naruto yang mendekati Sakura dan akan memeluknya, langsung saja Sakura menghindar, "… kenapa?" tanya Naruto.

"Aku… ingin kita putus," ucap Sakura dengan nada yang ragu.

Naruto terdiam. Laki-laki berambut pirang itu menyeringai dan memojokkan Sakura ke tembok, "Apa kakakmu itu yang menyuruhmu untuk memutuskan hubungan kita? Aku tidak mau."

Sakura terbelalak, bagaimana Naruto bisa tahu? Walau Sakura tidak menjawab pertanyaan Naruto—laki-laki bermata biru ini sudah sangat tahu jawabannya. Dikepalkan tangan Naruto lalu pergi meninggalkan Sakura.

"Naruto! Mau kemana?!"

Naruto menoleh… tatapannya terlihat sangat dingin dan serius, "Sesekali—kakak-kakakmu itu harus diberi pelajaran."

Sakura tersentak oleh ucapan Naruto. Ketika Naruto meninggalkan Sakura… gadis itu hanya diam mematung. Sakura berpikir untuk apa Naruto menghampiri kakaknya? Dan siapa yang akan dihampiri oleh Naruto? Shikamaru kah? Atau Sasuke? Ah… Sakura tidak mau tahu lagi, ini harus dihentikan… demi kebaikan Naruto.

Sakura bergegas mengejar Naruto yang sudah tidak ditemukan di mana-mana. Sakura menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ditemukan juga sosok Naruto. Sakura mencoba untuk ke kelas Sasuke dan Shikamaru, "Permisiii," ucap Sakura dengan wajah cemas.

Terlihat seluruh siswa merona melihat sosok Sakura yang sangat jarang berkunjung ke kelas mereka.

"Ng… apa ada yang melihat Sasuke-nii?" tanya Sakura pada siswa kelas dua.

"Mereka tidak ada sejak jam istirahat mulai, Uchiha-san," jawab salah satu siswa.

"Oh begitu, terima kasih." Setelah membungkuk, Sakura kembali mencari sosok Naruto, di saat dirinya sibuk, Sakura melihat Ino dan Itachi yang sedang berbincang di depan pintu ruang guru.

"Loh, Sakura?" sapa Ino, "ada apa? Wajahmu terlihat kacau."

"Ino… apa kau melihat Naruto?"

Itachi mendekati Sakura dan memegang kening gadis kecilnya, "Sakura, kau demam! Pantas saja wajahmu merah."

Sakura menepis pelan tangan Itachi, "Tidak ada waktu, apa kalian melihatnya?"

"Sepertinya tadi aku lihat dia ke arah kantin," jawab Ino dengan wajah yang bingung.

"Terima kasih!" tanpa basa-basi lagi, Sakura berlari menuju kantin.

Memang dia merasa suhu tubuhnya mulai memanas, pandangannya juga mulai panas dan sedikit buram. Tapi itu bukan hal yang penting bagi Sakura saat ini. Begitu Sakura sampai di kantin, dia sudah melihat sosok Naruto yang berdiri saling berhadapan dengan Sasuke… ada Hinata juga di sana yang memegangi lengan Sasuke—yang entah kenapa Sakura tidak suka melihatnya.

"Uchiha-kun… jangan…" cegah Hinata.

"Apa maksudmu?" geram Sasuke pada Naruto.

Seolah tidak menunjukkan takut sama sekali, Naruto semakin mendekatkan wajahnya pada Sasuke, "Kubilang, aku tidak akan mengakhiri hubunganku dengan Sakura-chan, kau dengar?"

Sasuke mengepalkan tangannya dan Naruto melanjutkan, "Lagipula apa urusanmu? Kau hanya kakaknya, kau juga sudah berpacaran dengan Hinata. Apa lagi yang kau mau? Mau sampai kapan kau menyiksa adikmu sendiri?!"

Seluruh tatapan di kantin tertuju pada mereka. Ini pertama kalinya ada yang berani menantang Uchiha terutama Sasuke. Laki-laki bermata onyx itu menaikan satu alisnya, "Urusanku? Dia adikku—adik kandungku jika kau tidak mengerti. Dan aku berhak atas hidupnya."

Ucapan sasuke mulai ambigu. Berhak atas hidupnya… itu maksudnya apa? Sakura mulai melangkah mendekati mereka, dengan kepalanya yang pusing dan keseimbangan yang tidak teratur. Walau Sasuke dan Naruto kini tengah beradu mulut dan saling mencengkram kerah satu sama lain, pandangan Sakura bukan tertuju pada mereka… melainkan sosok Hinata yang begitu dekat dengan Sasuke… bahkan kini Hinata memeluk tubuh Sasuke dari belakang…

Sakura benar-benar tidak suka melihat hal itu.

Dan itulah terakhir yang Sakura ingat, pertengkaran Sasuke dan Naruto terhenti ketika ada suara jeritan dari salah satu siswi di kantin.

"Sakura-saaaaaan!"

Kedua laki-laki yang tadi bertengkar kini menoleh. Tidak, mereka belum sempat baku hantam karena Sakura keburu tumbang dan jatuh pingsan. Sasuke mendorong tubuh Hinata dan Naruto melompati beberapa kursi untuk menghampiri Sakura. Tapi… belum sampai posisi mereka dekat dengan gadis pink itu, dua lengan laki-laki telah merangkul tubuh dan mengangkatnya dengan sangat enteng.

"Shika…" gumam Sasuke.

Shikamaru menatap Sakura dengan tatapan nanar kemudian melirik Sasuke, "Kalian teruskan saja pertengkaran tak berguna itu."

Shikamaru membawa Sakura ke ruang kesehatan, dan tentu saja diikuti oleh Sasuke juga Naruto.

Sesampainya di sana, Shikamaru mengambil alih tugas guru kesehatan yang sedang cuti. Shikamaru menempelkan kain penurun panas dan menempelkan thermometer pada mulut Sakura. Begitu thermometer itu berbunyi, Shikamaru melihat suhu yang tertera, "Tiga puluh Sembilan… pantas saja pingsan."

Pintu ruang kesehatan terbuka, terlihat Itachi dan Ino datang dengan tatapan cemas, "Sakura?" Itachi berlari menghampiri adiknya dan memegang kening Sakura, "panas sekali."

"Sudah tahu sakit, kenapa masuk?" tanya Ino yang tidak dijawab oleh Sakura.

Itachi menatap miris pada kondisi Sakura, entah sejak kapan adiknya ini kehilangan aura keceriaannya. Rasanya ingin sekali menghajar kedua adiknya itu, tapi kekerasan tidak menuntaskan masalah, Itachi—punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.

"Kudengar, kemarin Sakura dan Sasuke bertengkar," ucap Itachi tiba-tiba.

Shikamaru memposisikan dirinya duduk di samping Sakura, "Ya, pertengkaran saudara biasa."

Tidak.

Itu tidak biasa.

"Setelah lulus," lanjut Itachi yang kini menatap Shikamaru dengan sangat serius, "aku akan pindah ke Spanyol menyusul ayah."

Shikamaru terkejut oleh keputusan kakaknya ini, lalu bagaimana dengan mereka?

"Dan Sakura akan kubawa."

Yap. Kalimat lanjutan yang terucap oleh Itachi sukses membuat Shikamaru membelalakan matanya, "Apa?"

"Kau dengar tadi, aku akan membawa Sakura. Secara hukum, Sakura berada di atas tanggung jawabku."

Ino melirik Shikamaru yang kini terlihat ketakutan, belum sempat berucap, Itachi sudah mengajaknya keluar, "Masih ada yang harus aku urus, aku titip Sakura padamu, Shikamaru."

Shikamaru hanya terdiam ketika Itachi dan Ino keluar meninggalkan dirinya.

Ke Spanyol? Apa itu tidak terlalu jauh? Lalu untuk apa Itachi membawa Sakura ke sana? Maksudnya… apa yang akan Itachi lakukan di sana? Kenapa harus sangat jauh? Apa Sasuke sudah tahu hal ini? Yang lebih penting, apa Sakura tahu?

"Ngh…"

Sakura mengerang, Shikamaru menggenggam tangan adiknya, "Sakura…"

Sakura membuka mata emeraldnya perlahan, "Shika… nii…"

"Ssstt, kau pingsan tadi."

Sakura melihat sekeliling, dia tidak menemukan sosok Sasuke dan itu membuatnya sedih hingga mengeluarkan air matanya. Sakura berpikir mungkin Sasuke kini sudah sibuk dengan Hinata sehingga melupakan dirinya.

"Shika-nii…"

"Ya?"

"Aku… " Sakura tidak melanjutkan kata-katanya, dia menutup mata memakai kedua tangannya, "aku… benci Sasuke-nii!"

Sasuke yang hendak membuka pintu ruang kesehatan menghentikan gerakannya ketika mendengar ucapan Sakura. Jantungnya terasa akan berhenti ketika mendengar Sakura membencinya.

Shikamaru terlihat kaget dan mendekatkan dirinya pada Sakura, "Kenapa kau bicara begitu?"

Sakura terus menangis. Bayangannya terhadap Sasuke dan Hinata terus terngiang, apalagi tadi Hinata memeluk Sasuke dari belakang dan Sasuke terlihat tidak masalah. Padahal dulu ada yang menyentuhnya saja Sasuke akan marah.

"Sasuke-nii… dia berubah… aku tidak suka…"

Shikamaru menyadari kehadiran seseorang di luar pintu yang ia yakini itu adalah Sasuke. Shikamaru mendekatkan dirinya pada Sakura dan membuka lengan yang menutupi wajah Sakura itu, "Ceritakan padaku, apa yang terjadi?"

Sakura menatap Shikamaru dengan kesedihan lalu memeluk kakaknya. Rasanya Shikamaru ingin menerkam Sakura saat ini juga, tapi dia harus tahan, karena kalau tidak—selain Sasuke akan membunuhnya, itu akan merubah semua rencana yang Shikamaru susun dengan rapi.

"Aku benci… Sasuke-nii… dia menyuruhku memutuskan Naruto… yang sangat kusukai, sedangkan dia sendiri dengan Hinata… dia… aku tidak suka melihat Sasuke-nii dengan Hinata!"

Shikamaru tertegun.

Apa yang dia dengar ini mungkin salah, kenapa rengekan Sakura terdengar seperti wanita yang sedang cemburu?

"Tidak suka dengan Sasuke-nii dengan Hinata? Bukankah kau sendiri yang menjodohkan mereka?"

Sakura mengatur napas dari tangisannya, "Tapi…" Sakura kembali mengingat betapa bebasnya Hinata menyentuh Sasuke. Ini pertama kalinya Sasuke mengizinkan wanita selain adiknya menyentuh dirinya. Seorang Sasuke…

"Sasu nii-san pasti sangat mencintai Hinata."

Sasuke terdiam di balik pintu, menutup setengah wajahnya yang sedikit merona.

Bolehkah dia merasa bahagia mendengar kecemburuan adiknya?

Shikamaru melirik sinis ke arah pintu, kemudian tersenyum lagi menatap Sakura, "Bagaimana jika aku yang menjadi pacar Hinata, apa kau akan merasakan hal yang sama?"

Sakura berpikir atas pertanyaan Shikamaru. Setelah dirasa-rasa, ternyata berbeda, entah kenapa Sakura lebih bahagia jika Shikamaru yang menjadi pasangan Hinata, tapi entah kenapa Sakura tidak bisa mengutarakan hal itu pada kakaknya ini. Melihat Shikamaru yang sedang menunggu jawaban dari Sakura—gadis itu memalingkan wajahnya, "Siapapun yang mempunyai pacar, perlahan pasti meninggalkanku."

"…"

"Itachi-nii sepertinya akan menikah dengan Ino, lalu… Sasuke-nii… kemudian Shika-nii…" Sakura tidak melanjutkan ucapannya, kini dirinya meringkuk menutupi wajahnya.

Shikamaru mendekati Sakura dan memeluk tubuh adiknya itu dengan erat. Shikamaru menutup kedua matanya, merasakan setiap sentuhan kulit yang tercipta, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku janji."

"Bohong~" ucap Sakura lirih.

"Aku janji," bisik Shikamaru.

Sakura menggelengkan kepalanya di dalam dekapan sang kakak, "Bagaimana bisa janji kalau suatu saat nanti Shika-nii akan menikah."

"Aku selalu memegang kata-kataku, percayalah padaku."

Mendengar ucapan Shikamaru membuat hati Sakura menjadi sedikit lebih tenang. Sebenarnya hal yang paling Sakura takuti adalah ditinggal oleh kakak-kakaknya. Selama ini Sakura selalu dimanja, makanya Sakura belum bisa menyiapkan hati jika kedua kakaknya itu berpaling pada wanita lain. Berbeda dengan Itachi yang dari kecil memang tidak terlalu menunjukkan kasih sayangnya pada Sakura, bukan karena tidak mau—tapi karena tidak ada kesempatan.

Sasuke dan Shikamaru menyabotase sosok Sakura.

"Kau sendiri…" ucap Shikamaru yang melepaskan pelukannya kemudian menatap Sakura dengan tatapan seperti memohon, "apa kau bisa berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku?"

"Tentu saja! Aku janji!" jawab Sakura tanpa pikir panjang.

Shikamaru tersenyum dan membelai kepala sakura, "Itu baru anak baik."

Mendengar percakapan mereka membuat Sasuke panas, kedua tangannya mengepal, rasanya ingin sekali menghajar Shikamaru yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

"Uchiha-kun…"

Suara yang menurutnya menyebalkan memanggil namanya, Sasuke melirik Hinata yang datang membawa tas milik Sakura, "Sakura-san diperbolehkan untuk pulang cepat, ini tasnya."

Sasuke menatap Hinata. Tiba-tiba terlintas ide yang membuatnya menyeringai—yang juga membuat Hinata bergidik.

Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke menarik tangan Hinata dan masuk ke dalam ruangan kesehatan. Terlihat Sakura sedang bersender di bahu Shikamaru yang sedang membelai kepala Sakura. Tatapan Sasuke mengeras dan Shikamaru bisa merasakan cemburu yang luar biasa dari tatapan itu.

"Sakura," panggil Sasuke.

Sakura menoleh, jantungnya berdegup keras ketika melihat Sasuke lah yang menggandeng tangan Hinata—dengan erat.

"Ini tasmu, Hinata membawakannya untukmu."

Sakura terdiam, Shikamaru lah yang meraih tas itu.

"Terima kasih, Nii-san," jawab Shikamaru dengan senyuman yang sangat disengaja.

Sakura tidak mau menatap Sasuke dan Hinata, hal itu membuat Sasuke kesal.

"Mana Naruto?" tanya Sakura yang kini menatap Hinata.

"Tadi kulihat dia sedang berbicara dengan Itachi-san," jawab Hinata.

"Kau sudah diperbolehkan untuk pulang, aku akan mengantarmu ," ucap Sasuke yang melepaskan genggamannya dari tangan Hinata. Cemburu membakar hatinya kembali ketika Sakura menanyakan sosok Naruto.

"Tidak usah," tolak Sakura tanpa menatap Sasuke, "aku mau pulang bersama Shika-nii," lanjut Sakura sambil merangkul lengan Shikamaru.

Sasuke menatap sinis mereka berdua, kemudian tatapannya menajam seolah bisa mati jika menatap kedua mata itu dengan jangka waktu yang lama, "Oh."

"Sakura," panggil Shikamaru, "hari ini aku harus ke kantor polisi setelah pulang sekolah, kau pulang dengan Sasuke nii-san saja ya?"

Namun Sakura melirik Hinata yang kini menatap Sasuke dengan bingung, "Boleh," jawab Sasuke, "bagaimana?" tanya Sasuke pada Hinata.

"Eh?"

"Sakura ingin pulang bersama dengan kita, kau tidak keberatan 'kan?"

Wajah Hinata terlihat bahagia, "Ki-kita pulang bersama?" ucapnya bingung.

"Kau tidak mau?"

"Ma-mau! Mau."

Sakura semakin kesal. Shikamaru hanya menghela napas melihat tingkah Sasuke yang kekanakan.

"Tidak jadi," ujar Sakura yang menuruni tempat tidur, "aku minta antar Naruto saja."

Kedua mata Sasuke terbelalak, sebelum Sakura keluar dari ruangan itu, Sasuke menarik lengan Sakura dan ekspresinya kini mengingatkan Sakura pada kejadian kemarin, "Apa aku tidak salah dengar?"

"Sasuke-nii lepaskan aku…"

"Sepertinya hukumanmu kemarin itu kurang!" geram Sasuke yang kini mencengkram wajah Sakura, "atau aku harus merusak wajah ini agar tidak ada lagi laki-laki yang mendekatimu?"

"Nii-san!" Shikamaru mendorong Sasuke dan merangkul Sakura yang ketakutan, "kau kelewat batas."

"Heh, kelewat batas katamu?" Sasuke kini berubah, wajahnya terlihat sangat dingin, "kau sendiri melakukan cara licik." Sasuke mendorong tubuh Shikamaru.

"Shika-nii…"

Shikamaru menjauhkan Sakura dari jarak Sasuke dan dirinya.

"Kita sudah sepakat, tidak ada kekerasan pada Sakura, 'kan? Kau sudah melanggar perjanjian." Balas Shikamaru.

Sasuke mencengkram kemeja Shikamaru, "Kau menantangku?"

"Kau yang lebih dulu menantangku!"

Sakura Nampak bingung dengan percakapan mereka, namun… Hinata kini terlihat paham dengan apa yang sedang terjadi. Wajahnya tampak syok, Hinata sadar dari awal Sasuke tidak pernah ada perasaan apa-apa terhadap dirinya, Sasuke bersedia menjadi pacarnya karena satu hal, dan hal itu membuat Hinata mual jika membayangkannya.

Sasuke…

Bukan…

Kedua laki-laki ini, mencintai adik kandungnya sendiri.

Dan Sakura… telah merebut cinta pertama Hinata. Sakura telah merebut Sasuke dari hatinya. Merasa tidak rela, Hinata mengambil gunting dan berlari ke arah Sakura.

"Ini semua salahmuuu!"

Sasuke yang menyadari serangan Hinata secara tiba-tiba ini langsung menghampiri Sakura dan memeluk tubuh Sakura sambil melindunginya dari serangan Hinata. Sakura menutup kedua matanya, ketika dirasa sudah aman, Sakura membuka kedua mata emeraldnya dan melihat lengan Sasuke yang sudah mengalir darah.

"Sa…suke..nii…?"

Shikamaru yang terkejut kini menepis lengan Hinata hingga wanita itu menjatuhkan guntingnya, "Kebetulan aku akan ke kantor polisi, kau harus ikut denganku!" geram Shikamaru.

"Tidak… ini semua salahnya! Pura-pura mendukungku dengan Uchiha! Padahal dia juga menyukai kakaknya sendiri!"

Sakura mematung mendengar pernyataan Hinata.

"Memanipulasi keadaan dan perasaan orang seolah dirinya tidak bersalah dan polos, kau memang licik Sakura-san! Kau licik!"

Sakura menggelengkan kepalanya, sebelum Sakura sempat membela dirinya, Sasuke menutup kedua mata Sakura dan memeluknya dari belakang, "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir," bisik Sasuke, "baguslah," sambungnya sambil menatap Hinata, "dengan begini aku mempunyai alasan untuk mengakhiri hubungan denganmu."

Hinata menggertakkan giginya, "Kau tidak akan pernah bahagia jika masih bersama kedua kakakmu ini, Sakura-san! Ingat kata-kataku! Kau tidak akan pernah bahagia!"

Bagus. Hinata adalah orang kedua yang mengatakan hal itu setelah tragedy Sasori. Dan ini mengingakatkan Sakura pada tragedy mengenaskan itu. Kenapa… kenapa orang yang sempat berpacaran dengan mereka selalu melontarkan kalimat itu padanya.

"Ada apa ini?"

Mereka terkejut dengan kedatangan guru kesehatan yang terlihat bingung oleh keadaan Sasuke yang terluka dan Sakura yang pucat.

"Uchiha! Lenganmu!"

"Tidak apa-apa, sensei," jawab Sasuke.

Sasuke berdiri dan menggandeng tangan Sakura, "Shikamaru, undur keperluanmu di kantor polisi, kita antar Sakura pulang."

Shikamaru mengangguk dan mengambil tas milik Sakura, mereka mengabaikan Hinata yang kini tengah menangis menahan malunya. Sakura menoleh dan merasa kasihan pada Hinata namun merasa lega juga ketika Sasuke memutuskan hubungannya dengan Hinata.

"Eng… Sasu—"

"Diam saja sampai rumah, jangan banyak bicara."

"… Iya."

Shikamaru melirik Sasuke yang sepertinya telah memutuskan sesuatu… sesuatu yang sangat sakral dan akan membuat hubungan mereka dengan Sakura akan buruk. Shikamaru tidak suka keputusan ini, tapi Sasuke bukan tipe orang yang menurunkan niatnya jika sudah bertekad bulat. Dan tatapan Sasuke saat ini terlihat sangat yakin akan keputusannya. Shikamaru hanya bsia menghela napas dan menyiapkan hatinya jika Sakura kabur dari sisi mereka.

Namun, langkah mereka terhenti oleh sosok yang kini menghadang di koridor, "Aku tidak akan membiarkan Sakura-chan pulang dengan kalian, dasar sakit jiwa!"

.

.

"Ino?"

"Ah, iya?"

"Kau melamun, ada apa?"

Itachi berjalan mengantar Ino pulang, sengaja mereka tidak menggunakan fasilitas mobil karena Itachi ingin bersama Ino lebih lama lagi. Walaupun mereka berjalan bersama, Ino terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Aku… mulai merasa aneh." Ino menjawab, "adik-adikmu itu…"

Itachi terbelalak dan mengguncangkan bahu Ino, "Kau juga merasakannya?"

Tindakan Itachi sedikit membuat Ino terkejut, "Se-sedikit… sejak tadi Sakura bertingkah aneh. Aku mulai khawatir… dipikir-pikir, Sasuke dan Shikamaru terlalu over protektif pada Sakura."

"Lebih parah, Ino," ucap Itachi sambil menggenggam tangan kekasihnya, bisa Ino rasakan tangan Itachi berkeringat karena cemas, "mereka juga terobsesi pada Sakura."

Ino tersenyum dengan pancaran cemas yang terlihat di wajahnya, "Hari ini… orang tuaku tidak pulang," ucap Ino dengan wajah yang memerah, "… apa kau… ingin melepaskan lelah dan penatmu?"

Itachi menatap Ino yang kini menahan malunya, wajah Itachi terlihat lega dan tersenyum lembut, "Kuterima tawaranmu," bisik Itachi sambil mencium pipi Ino.

.

.

"Minggir."

Sasuke menggeram, tidak melepaskan tangan Sakura dari genggamannya.

"Tidak."

Naruto—yang kini berdiri menghadang mereka—juga tidak terlihat takut sama sekali. Laki-laki berambut pirang itu menatap Sakura yang sepertinya meminta pertolongan padanya, namun melihat Sasuke dan Shikamaru berdiri di kedua sisi Sakura membuat Naruto tidak bisa berkutik, bagaimana cara menyelamatkan gadis yang ia sukai itu.

Sasuke melangkah dan menubruk tubuh Naruto. Terasa aura yang menyeramkan keluar dari Sasuke juga Shikamaru, namun Naruto melawan rasa takut yang muncul dalam hatinya seketika tadi dengan berteriak, "Aku tidak akan menyerah, Sakura-chan! Dan hubungan kita belum berakhir, ingat itu!"

Sakura menoleh sambil berjalan—ditarik lebih tepatnya—oleh Sasuke. Sambil menatap Naruto, Sakura tersenyum… senyuman sendu dan seolah memberitahu Naruto kalau Sakura akan mencoba untuk bertahan oleh situasi ini.

"Brengsek!" umpat Naruto sambil memukul tembok.

Selama perjalanan di dalam mobil Sakura tidak mengucapkan apa-apa, begitu pula dengan Sasuke dan Shikamaru yang duduk sambil menatap pemandangan di luar. Tidak lama setelah itu mereka sampai di rumah dan memasuki kediaman yang tadinya seperti surga, namun kini terasa seperti penjara bagi Sakura.

Sasuke mengajak Sakura duduk di ruang keluarga lalu melempar tasnya kesembarang arah, diikuti oleh Shikamaru yang kini duduk di samping Sakura. Merasa Sakura mencengkram seragam Shikamaru, anak ketiga keluarga Uchiha itu menatap sendu pada ekspresi yang Sakura tunjukkan saat ini… betapa Shikamaru merindukan senyuman polos Sakura jaman dulu.

"Kautahu, apa kesalahanmu?" tanya Sasuke.

Sakura tidak menjawab.

"Sakura, aku bertanya padamu."

Sakura menatap Sasuke dengan penuh kekesalan, "Aku tidak melakukan salah apa-apa."

"Apa aku harus mengulangi—"

"Kalau salah yang Sasu-nii maksud adalah aku berpacaran dengan Naruto, maka itu adalah sebuah kesalahan yang menyenangkan bagiku!" bantahan Sakura membuat Sasuke kesal.

"Sepertinya hukuman kemarin harus diulang untukmu." Sasuke menarik lengan Sakura, namun tidakannya terhenti oleh Shikamaru yang beranjak dari duduknya, membuat Sakura berada di belakang perlindungannya.

"Cukup, nii-san."

"Kau minggir!"

"Sasu-nii aneh!" jerit Sakura yang tidak bisa menahan tangisnya, "sebentar kau baik padaku, sebentar kau sangat kasar padaku! Sejak kau kenal dengan Hinata kau berubah! Seenaknya melarangku berpacaran dengan Naruto, sedangkan kau asik bercumbu dengan Hinata! Aku juga ingin punya kebebasan sendiri!"

"Sakura, hentikan," pinta Shikamaru.

Namun Sakura tidak mendengarkan ucapan kakaknya itu, "Saat ini Sasu-nii adalah orang yang paling kubenci! Aku benci Sasu-nii! Aku benci! Aku—"

Ucapan Sakura terpotong oleh pelukan Sasuke yang sangat tiba-tiba, Shikamaru yang terdorong melirik Sasuke dengan sangat sinis, sedangkan Sakura terdiam ketika merasakan pelukan Sasuke saat ini sangat lembut dan penuh kasih sayang.

"Jangan ucapkan kata itu… jangan berani-beraninya kau katakan benci padaku, tarik ucapanmu…" lirih Sasuke, "tarik ucapanmu…"

"S-Sasu…"

"Aku melakukan semua itu, aku melarangmu berpacaran dengan Naruto, itu semua…"

"Nii-san!" cegahan Shikamaru diabaikan oleh Sasuke.

"…Karena aku sangat mencintaimu, Sakura."

"Eh…?" Sakura menatap Shikamaru yang kini memalingkan wajahnya.

"Aku dan Shikamaru, dari kecil hingga sekarang selalu memperhatikanmu, menyayangimu, mencintaimu selayaknya wanita… bukan sebagai adik," lanjut Sasuke.

Seolah ada meteor yang menjatuhi kepalanya, Sakura melihat ke arah Shikamaru mencari kebenaran, berharap apa yang diucapkan Sasuke adalah kebohongan atau ini semua hanya mimpi. Melihat sorot mata Shikamaru yang seolah menjawab bahwa itu semua adalah benar, Sakura merasakan lututnya lemas, dan tubuhnya jatuh dalam pelukan Sasuke. Shikamaru menghampiri Sakura dari belakang dan menyentuh helai rambutnya, ini sudah terlanjur, Shikamaru pun mengikuti alur yang diciptakan oleh Sasuke.

"Alasan kenapa tidak ada laki-laki yang berani mendekatimu… mereka telah kami ancam, jika berani mendekatimu, akan kami bunuh," ujar Shikamaru.

"Kami pun selalu punya pikiran kotor untuk menyetubuhimu, sampai sekarang…" sasuke mengeratkan pelukannya.

"Karena kau hanya milik kami, Sakura," bisik Shikamaru dari belakang.

"Lepaskan aku!" Sakura mendorong tubuh Sasuke dan Shikamaru. Saat ini, rasanya Sakura ingin mengeluarkan seluruh isi di dalam perutnya.

Tindakan Sakura membuat mereka berdua syok, sorot mata Sakura tidak lagi terpancar kepolosan atau tatapan kasih sayang pada mereka, saat ini… Sakura menatap mereka dengan tatapan jijik dan penuh kebencian, "Kalian… kalian sakit jiwa! Mana ada seorang kakak mencintai adik kandungnya sendiri!"

"Heh… itu artinya kau benar-benar tidak mengenal kami, Sakura," jawab Sasuke menyeringai, "kau tidak tahu, betapa seringnya aku membayangkan dirimu sambil memuaskan diriku sendiri?"

Sakura memundurkan langkahnya perlahan.

"Saat bersama gadis Hyuuga pun, yang kubayangkan adalah dirimu, bagaimana rasa bibirmu, bagaimana reaksimu jika—"

"HENTIKAN! HENTIKAAAN! HUAAAAAAA! HENTIKAAAN!"

Sakura terus menjerit, meraung menangis tidak ingin mendengar kelanjutan ucapan Sasuke. Sosok kakak yang selama ini ia banggakan dan sayangi kini hancur seketika.

"Kau harus menerima kenyataan ini, Sakura," ucap Shikamaru yang akan menyentuh lengan Sakura.

"TIDAK!" Sakura menepis tangan Shikamaru, "JANGAN SENTUH AKU! KALIAN TIDAK PUNYA MORAL!" Sakura berlari keluar meninggalkan Shikamaru dan Sasuke yang kini saling tatap.

"Haha..hahaha…" Sasuke tertawa pelan, ia duduk dan mendongakan kepalanya, "HAHAHAHAHA!"

Shikamaru mengernyitkan alisnya melihat Sasuke yang tertawa seperti orang gila, "Kau menghancurkan semuanya, nii-san."

"Kau lihat ekspresi Sakura tadi? Ekspresi takut dari wajahnya benar-benar membuatku bergairah, ingin sekali aku menghancurkannya dalam pelukanku," ucap Sasuke sambil mengangkat tangan dan menatap telapak tangannya, "kemanapun dirimu lari, kau tidak akan pernah lepas dariku, Sakura—adikku tercinta."

Shikamaru memasang ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan, "Dia tidak akan mau lagi bertemu denganku, maupun denganmu, nii-san."

"Tidak mau? Apa aku memberikannya pilihan? Selama dia hidup, hidupnya adalah milikku!"

Milikku…

Kata itu terekam jelas di otak Shikamaru, Sasuke sudah tidak bisa lagi diajak kerja sama atas keposesifannya terhadap Sakura, "Aku punya cara sendiri," ucap Shikamaru yang beranjak dari duduknya, "nii-san, aku direkrut di kepolisian pusat untuk menjadi anggota di bidang computer, mereka akan menjamin hidupku selama aku bekerja sama dengan mereka, karena mereka mengetahui kemampuanku melalui Kakashi."

Sasuke melirik sinis Shikamaru, "Jadi kau meninggalkanku?"

Shikamaru menghampiri Sasuke dan menepuk pundak kakaknya itu, "Kau juga, jadilah sukses, kuasai dunia, manfaatkan koneksi ayah, sampai kita sudah benar-benar berada di atas, bukankah itu lebih memudahkan kita untuk menguasai Sakura?"

Ucapan Shikamaru membuat Sasuke sadar dan menyeringai, "Kau bukan hanya pintar, ternyata kau juga licik."

"Itu kupelajari darimu," ucap Shikamaru, "aku akan pergi meninggalkan rumah mulai minggu depan, aku juga tidak akan lagi pergi sekolah karena harus membantu kepolisian menangkapi pengedar narkoba."

"Kalau begitu, serahkan Sakura padaku," ujar Sasuke.

Shikamaru terdiam, sepertinya Sasuke belum tahu rencana Itachi untuk membawa Sakura pergi bersamanya ke Spanyol.

.

.

Suara bel berkali-kali terdengar oleh sepasang kekasih yang kini sedang istirahat di dalam selimut, mereka saling berpelukan semata-mata tidak akan ada yang memisahkan mereka. Ino yang sadar akan bunyi bel rumahnya sendiri kini berusaha meraih bajunya yang sudah berserakan di lantai, namun gerakannya terhenti oleh sepasang lengan yang memeluk pinggangnya.

"Itachi… ada tamu."

"Sebentar lagi…" bisa dilihat Itachi sangat lelah.

Namun bunyi bel tidak kunjung berhenti, Ino mulai penasaran siapa yang datang tengah malam begini. Perlahan Ino melepaskan pelukan Itachi dan memakai pakaiannya, di luar hujan, walau tidak terlalu deras namun udara terasa sangat dingin. Ino menuruni tangga dan membuka pintu, kedua matanya terbelalak ketika melihat sosok Sakura yang sangat basah dengan mata sembap.

"Sakura?!"

Sakura tidak menjawab, dia hanya menangis dan terus menangis sambil memeluk Ino.

"Huaaaaaaa! Huaaaaaaaa!"

Mendengar suara tangisan dari suara yang sangat dikenalnya, Itachi terbangun dan bergegas berpakaian, ia menuruni tangga dan melihat Sakura menangis kencang sambil memeluk tubuh Ino.

"Sakura?! Ada apa?" tanya Itachi yang menghampiri Sakura.

Melihat sosok Itachi yang terlihat mirip Sasuke membuat Sakura memundurkan langkahnya, "Tidak… jangan Itachi-nii juga! Aku tidak mauuuu! Aku tidak mauuu….~"

Ino menatap Itachi dengan heran, sambil menutup pintu, Ino memaksa Sakura untuk masuk ke dalam, "Sakura, ganti bajumu dulu, kenapa bisa basah semua?"

Menyadari Ino akan pergi dan meninggalkan diri Sakura hanya berdua dengan Itachi membuat gadis berambut pink itu ketakutan, "Tidak! Tidak! Tidak! Jangan tinggalkan aku dengan Itachi-nii!"

"Sakura…"

"Aku tidak mau! Aku tidak—"

"AKU BUKAN SASUKE ATAU SHIKAMARU!" bentak Itachi sambil menarik lengan Sakura dan memeluknya, "apa yang mereka lakukan padamu? Apa mereka menyakitimu? Kalau mereka mengotorimu, akan kubunuh walau mereka adikku sendiri!"

Ino menutup mulutnya dan menangis ketika melihat ekspresi Itachi kini begitu pilu.

Sakura mulai merasa tenang, pelukan yang Itachi berikan saat ini sangat berbeda dari pelukan yang Sasuke atau Shikamaru selalu berikan padanya, karena pelukan ini adalah pelukan murni kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya.

"Huuaaa! Itachi-nii! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu! Aku takuut! Tolong aku… huaaaa!"

Itachi dan Ino saling tatap, mereka merasa ada yang tidak beres telah terjadi pada Sakura. Itachi bersumpah, jika memang apa yang ada di dalam pikirannya terjadi, yaitu Sasuke atau Shikamaru mencoba untuk mengotori Sakura, saat ini juga Itachi akan menghampiri kedua adiknya dan memberi mereka pelajaran. Ino membawa Sakura ke ruang keluarganya dan memberikannya susu hangat, setelah yakin Sakura merasa lebih tenang, Itachi menatap adiknya dengan tatapan pilu.

"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Itachi lembut.

Sakura menggenggam gelas hangat itu lebih erat, "Mereka tidak melakukan apa-apa… hanya saja… pengakuan mereka membuatku takut."

"Pengakuan?" kini Ino yang bertanya.

Sakura menutup kedua matanya, merasa adiknya gemetar, Itachi menggenggam tangan dan menepuk kepala Sakura, "Pelan-pelan saja ceritanya."

Sakura menatap Itachi dan mengangguk, "Sebelum ini, Sasuke-nii melarangku pacaran dengan Naruto, aku tidak tahu apa alasannya, bahkan saat Sasuke-nii tahu aku berciuman dengan Naruto dan… Sasuke-nii melihat percakapan nakalku dengan Naruto di ponsel, dia menjadi sangat marah… marah sekali… Sasuke-nii bahkan sempat ingin menghukumku dengan mencuci mulutku memakai air panas…"

"Apa?! Kapan hal itu terjadi?!"

"Kemarin," jawab Sakura yang masih memandangi gelas pemberian Ino, "sampai tadi… mereka…"

Sakura tidak melanjutkan ucapannya, air matanya kembali mengalir, bisa dilihat Sakura saat ini mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Gadis itu menyeka air mata memakai telapak tangannya, "Mereka bilang… mereka tidak pernah melihatku sebagai adik, mereka mencintaiku selayaknya seorang wanita…"

Ino dan Itachi mematung ketika Sakura mengungkapkan semuanya. Ini semua sudah bisa ditebak, dari cara Sasuke dan Shikamaru yang terlalu melindungi Sakura itu sudah tidak wajar, apalagi setiap Sakura menyukai seseorang, mereka berdua selalu melakukan hal buruk dibelakang Sakura agar adik mereka itu tidak lagi menyukai laki-laki pujaannya. Ino berpikir ini pasti sangat berat bagi Sakura… sakura yang sangat menyayangi dan membanggakan kedua kakaknya itu, saat ini terlihat seperti dikhianati.

"Sakura." Itachi mengangkat dagu Sakura dan tersenyum, "ikut denganku ke Spanyol."

"Hah?"

Ino tersenyum dan duduk di samping sahabatnya itu, "Setelah lulus, aku akan menyusul kalian," sambung Ino.

"Di sana, ayah menyiapkan rumah dan fasilitas untukku, ikutlah denganku dan lanjutkan sekolah di sana, kalau begini kejadiannya… akan sangat berbahaya jika kau bersama oleh sasuke dan Shikamaru," jelas Itachi.

"Ke… Spanyol?"

"Tidak ada waktu untuk berpikir, karena Itachi akan mengurus visa lusa, begitu selesai dia langsung berangkat," ucap Ino.

Sakura sempat terdiam. Haruskah dia meninggalkan Jepang agar tidak terlibat oleh kedua kakaknya yang mulai sinting itu? Ada perasaan ragu di dalam diri Sakura, apalagi hubungannya dengan Naruto belum selesai dan masih menggantung. Tapi… kalau Sakura tinggal di sini tanpa ada Itachi… bisa-bisa kejadian kemarin bisa terulang, mungkin akan lebih parah.

"Aku mau," jawab Sakura dengan tatapan tegas, "aku akan ikut dengan Itachi-nii."

.

.

Malam itu, Sakura menginap di rumah Ino, sedangkan Itachi kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Itachi tidak melihat Sasuke maupun Shikamaru, mereka berada di dalam kamarnya masing-masing, Itachi tidak akan memberitahu mereka tentang kepergian Sakura dengannya pada Sasuke. Shikamaru sudah tahu rencana ini, namun laki-laki yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata itu belum mengetahui jawaban Sakura. Tanpa mempedulikan kadua adiknya, Itachi memasuki kamar dan melanjutkan tidurnya, sementara itu Sasuke melamun sambil terlentang, satu lengan menutupi wajahnya, teringat ekspresi senyum Sakura ketika mereka masih kecil hingga sekarang, betapa Sasuke mencintai Sakura begitu dalam, mungkin lebih dalam dari pada Shikamaru. Sedangkan Shikamaru saat ini masih berkutat dengan laptopnya, sejenak ia melepaskan kacamata dan menyenderkan tubuh di kursi, kedua mata hitam pekat itu melirik bingkai di samping laptop, itu adalah foto mereka bertiga ketika pertama kali masuk SMA. Sakura terlihat sangat ceria, sangat berbeda dengan ekspresi yang tadi ditunjukkan pada mereka.

Sekilas Shikamaru teringat percakapannya dengan Sakura, kemudian Shikamaru tersenyum—menyeringai lebih tepatnya, "Untuk saat ini istirahatlah dengan tenang, Sakura," ucap Shikamaru sambil menatap layar laptop yang dimana terdapat sebuah titik di gambar peta yang berkedap kedip beberapa kali.

.

.

Pagi hari, Sakura berangkat ke sekolah bersama Ino. Rasanya sangat berat untuk melangkah menuju sekolah mengingat Sakura akan bertemu dengan kedua kakaknya. Langkah Sakura terhenti dan itu membuat Ino menoleh, "Ada apa?"

"Ng… aku takut." Sakura menjawab dengan resah.

Ino memundurkan langkahnya dan merangkul Sakura, "Tenang saja, aku akan selalu di sampingmu."

Merasa aman pada perlakuan Ino membuat Sakura mengangguk.

Begitu sampai di sekolah, Sakura melihat sosok Naruto yang berdiri di depan gerbang, "Ah, Sakura-chan."

"Na-Naruto…" Sakura merasa tidak enak dengan Naruto setelah yang terjadi kemarin.

Naruto menghampiri sakura dengan wajah yang sangat serius, "Yamanaka-san, boleh kupinjam Sakura-chan sebentar saja?"

Ino melirik Sakura yang memberi kode seolah tidak apa jika bersama dengan Naruto, tapi yang dikhawatirkan Ino adalah jika Sasuke atau Shikamaru melihat mereka berdua. "Baiklah," jawab Ino, "pastikan kedua kakaknya itu tidak melihat kalian."

Naruto mengangguk dan membawa Sakura ke belakang gedung sekolah, sudah dipastikan sangat jarang orang yang lewat daerah itu.

"Sakura-chan, maafkan aku…"

Sakura tersenyum sendu, "Bukan salahmu, Naruto."

"Aku tidak bisa melindungimu saat itu… rasanya sangat risih melihat perlakuan kedua kakakmu, saat aku akan menolongmu kemarin… tubuhku tidak bisa bergerak melihat tatapan dari Sasuke yang seolah ingin membunuhku."

Sakura meremas roknya, "Naruto…"

Mereka saling tatap, kemudian Sakura tersenyum, "Terima kasih karena berani mengajaku kencan, terima kasih karena berani menghadapi kedua kakakku, terima kasih karena memberikanku kesempatan apa itu rasanya berpacaran…"

Kedua mata Naruto terbelalak oleh ucapan Sakura, "Sakura-chan…?"

"Dua minggu lagi, aku akan pindah ke Spanyol bersama Itachi-nii, aku tidak bisa tinggal di sini, mungkin sebagian besar kau pasti sadar apa yang terjadi."

Naruto menggertakan gigi-giginya, "Apa ini semua gara-gara mereka?"

Sakura tidak menjawab, dia memeluk dirinya sendiri, "Aku takut… aku takut kalau aku tetap di sini… Sasuke-nii atau Shika-nii akan menyakitimu… atau yang lainnya… mereka…"

"Jangan khawatirkan aku! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Tapi kau, kemana pun kau pergi, mereka pasti bisa menemukanmu, kau yang paling tahu tentang hal itu 'kan?" bantah Naruto, "Sakura-chan…"

Naruto memeluk Sakura dengan erat, "Pergilah, pergi sejauh mungkin, jangan pernah kembali pada mereka, jangan kembali ke tempat dimana mereka berada. Aku pasti akan mengejarmu, pasti. Kau bisa pegang janjiku!"

Sakura melepaskan pelukan Naruto dengan lembut dan tersenyum, "Terima kasih, itu hal yang sangat ingin kudengar darimu."

Naruto miris melihat senyuman Sakura, ketika laki-laki berambut pirang itu akan mencoba mencium Sakura, kedua mata Sakura terbelalak ngeri melihat sesuatu dari hadapannya.

"Kyaaaaaaaaaa!"

DUAAAK!

Sasuke berhasil menghempaskan tinjunya pada kepala Naruto, menyebabkan laki-laki itu tersungkur di tanah.

"Naru—aaaakkhh!"

Sasuke mencengkram lengan Sakura dan memeluknya, "Kau harus tahu diri, brengsek."

"Le-lepaskan—" Sakura tidak berani melanjutkan kalimatnya karena Sasuke mengencangkan pelukannya, rasanya sangat takut hingga gemetar dan tidak bisa jalan. Menyadari Sakura ketakutan sampai tidak bisa jalan, Sasuke menggendong Sakura dan meninggalkan Naruto.

"Cih… kenapa dia bisa sekuat ini," geram Naruto sambil memegangi kepalanya.

.

.

"Sasuke-nii.. lepaskan aku… aku mohooon…~"

Sasuke berhenti dan menatap Sakura… dengan normal? Sakura pun terkejut karena saat ini Sasuke tidak seseram kemarin. Sasuke mendekati Sakura dan membelai pipinya, membuat Sakura berdebar sekaligus takut, "Kau takut padaku."

Sakura terdiam.

"Kau sangat takut padaku." Ucapan Sasuke lebih menekan, bukan bertanya melainkan penekanan.

"A-Aku…"

"Apa karena aku mencintaimu sebagai wanita, apa itu adalah salahku mempunyai nafsu terhadap adik kandungku sendiri?"

Tidak.

Ini adalah Sasuke yang kemarin, Sakura tidak mau tertipu.

"Aku akan ikut dengan Itachi-nii ke Spanyol," ucap Sakura tanpa menatap Sasuke.

Seolah seperti ada tombak menusuk dirinya, Sasuke terdiam.

"Aku akan melanjutkan sekolah di sana dan tinggal bersama ayah."

Apa yang Sakura bicarakan tidak terdengar oleh Sasuke yang sedang syok.

"Aku berangkat sekitar dua minggu lagi, ini pilihanku dan tidak ada yang bisa menghentikannya," ujar Sakura, begitu merasa genggaman Sasuke melonggar, Sakura melepaskan dirinya dan kabur dari sisi kakaknya.

Sasuke terdiam, menatap langit yang sangat cerah dengan awan bergerak sesuai keinginan sang angin. Shikamaru mengawasi mereka dari kejauhan sambil merokok, dengan santai Shikamaru menghampiri Sasuke dan menyenderkan tubuhnya di pohon besar, "Ada gunanya aku memasang pelacak pada anting Sakura, kalau tidak mungkin Sakura dan Naruto bisa lebih mesra."

"Diam."

Satu kata dari Sasuke membuat Shikamaru terdiam, namun laki-laki itu menyeringai dan memeluk kakaknya, "Untuk saat ini, lepaskan Sakura… setidaknya buatlah Sakura berpikir seperti itu. Jika aku sudah berhasil menempati posisi paling atas di kepolisian, saat itu…" Shikamaru melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, "…aku akan benar-benar bersaing denganmu, nii-san."

Sasuke menatap dengan tatapan kosong pada sosok Shikamaru yang pergi. Satu persatu mereka mulai berpisah. Benar apa yang Shikamaru katakan, untuk saat ini mereka tidak mempunyai kekuatan apa-apa untuk memiliki Sakura. Berdiri di bawah pohon dengan angin sejuk yang menemaninya, Sasuke memperhatikan telapak tangan yang selalu memeluk tubuh Sakura, kemudian mengepalkannya, "Suatu saat… kau pasti menjadi milikku, apapun caranya."

Selama menunggu keberangkatan, Sakura pindah ke rumah Ino untuk menghindari kedua kakaknya. Sasuke dan Shikamaru sadar akan hal itu, namun mereka tidak mau terlihat seperti hewan buas yang kelaparan, mereka akan menunggu… menunggu saat sang mangsa yang menghampiri hewan buas untuk meminta pertolongan.

Sampai hari keberangkatan tiba.

"Jangan sampai sakit dan jangan sampai menjadi korban penindasan," ucap Ino sambil menepuk kepala Sakura.

"Iya Ino, kau seperti ibu saja."

Sakura kemudian menghampiri sosok laki-laki berambut pirang yang berdiri di samping Ino, "Naruto… tentang Hinata…"

"Jangan khawatir, dia sudah baikan," jawab Naruto sambil membelai rambut sakura, "kau sehat-sehat ya di sana, jaga diri baik-baik."

"Ng." Sakura menjawab dan meletakkan telapak tangan Naruto di pipi kanannya, "terima kasih untuk pengalaman yang kauberikan padaku."

"Hei, hei… kau ini seperti mau putus denganku saja, padahal cuma berubah menjadi hubungan jarak jauh," ujar Naruto mengetuk-ngetuk kening Sakura.

"Habiiiss~"

"Ngomong-ngomong, kedua kakakmu itu tidak mengantar kepergianmu?" tanya Naruto.

Itachi tersenyum dan menepuk pundak Naruto, "Setelah apa yang Sasuke perbuat padamu, kau tetap menanyai mereka, entah kau ini bodoh atau baik."

"Ck, bagaimanapun juga dia itu kakak Sakura 'kan," sewot Naruto.

"Baiklah, sudah waktunya, Sakura," panggil Itachi.

"Ng, sampai jumpaaaa!" ucap Sakura melambaikan tangannya pada Ino dan Naruto.

Ino dan Naruto melambaikan tangannya pada Sakura dan Itachi. Setelah kedua Uchiha itu sudah hilang, Ino saling tatap dengan Naruto kemudian menghela napas, "Hhhhh, hubungan jarak jauh~" gerutu Ino.

"Mudah-mudahan Sakura tidak terpincut pada laki-laki lain di sana."

"Siapa tahu? Laki-laki Spanyol tampan-tampan loh," ledek Ino.

"Jangan meledekku." Langkah Naruto terhenti ketika melihat sosok Sasuke dan Shikamaru ternyata ada entah sejak kapan, "kalian…"

Ino berdiri di depan Naruto seolah menghalangi mereka agar tidak menyakiti laki-laki itu lagi, "Jangan pernah mengejar Sakura," ujar Ino.

"Mengejar?" Shikamaru menyeringai, "kita tidak akan mengejarnya."

Sasuke ikut menyeringai sambil memakai kembali kacamata hitam yang ia lepas tadi, "Justru takdir nanti yang akan mempertemukan kita kembali."

Sehabis mengucapkan kalimat tidak jelas artinya itu, mereka pergi meninggalkan Naruto dan Ino yang masih terlihat bingung.

"Apa maksud mereka?" tanya Ino.

Naruto mengepalkan kedua tangannya, "Ino… aku akan berusaha agar bisa menyusul Sakura, harus ada yang melindungi dia dari dua Uchiha itu."

Mata Ino terlihat sendu, Itachi sendiri tidak mungkin bisa selalu mengawasi Sakura, memang dibutuhkan orang luar yang berani untuk melawan Sasuke dan Shikamaru secara terang-terangan, dan orang itu adalah Naruto. Mungkin ini yang terbaik sementara, Ino tersenyum kemudian menepuk pundak Naruto, "Berjuanglah, setidaknya kau harus datang di pernikahanku dengan Itachi nanti."

"Hahahaha, pasti, pastiii."

Kisah ini belum berakhir, Sakura yang merasa sudah selamat dari genggaman kakak-kakaknya belum sadar, bahwa anting yang selama ini ia pakai adalah alat pelacak yang Shikamaru pasang untuknya, juga… Sakura belum sadar, bahwa kedepannya Sasuke akan lebih posesif padanya. Tidak ada jalan keluar bagi gadis berambut pink ini… tidak ada. Yang ada hanyalah kepasrahannya terhadap takdir yang akan membawa langkahnya ke sebuah tragedy yang memilukan.

The End


A/N : gantung? jelas, ini ada sekuelnya kok XD

aku udah bikin sekuelnya, tapi satu-satu ya hahahaha salahku sih kebanyakan bikin fanfict jadinya keblinger sendiri XD

berhubunga wattpad jaauh lebih mudah publishnya daripada FFN, kayaknya aku bakalan lebih sering main di wattpad deh, aku jga ada fict baru di wattpad yang ngga kupublish di sini XD

sekuelnya ini nanti nyeritain tentang Sakura yang udah dewasa, design karakternya kayak di movie the last, iya semuanya seumuran kayak di movie the last.

oke, makasih banyak ya yang udah setia nunggu fict ini

maaf lama ngabarinnya

dan maaf juga karena udah sempet niatan batalin fict ini kayak fict SLR.

sekali lagi terima kasih

XoXo

V3 Yagami