A/N: I have so much fun writing this chapter! Karena itu, sisa drabble yang lain akan kumasukkan di chapter depan. Oh ya, kadang aku akan kembali ke Sentai-verse ini...


Nasuverse Play FGO

Nasuverse © Nasu Kinoko & TYPE-MOON

Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks

Chapter V


13. Kishi Sentai, Saber Rangers!

Alkisah ribuan tahun lalu di tanah Britania...

Seorang raja kegelapan bernama Vortigern memerintah dengan tangan besi. Rakyat dipaksa bekerja keras tanpa bayaran yang pantas, pajak sangat tinggi mencekik, dan makanan pokok mereka diganti menu barbar bernama burger. Vortigern memiliki pasukan kegelapan bernama bangsa Pict, yang sebenarnya adalah makhluk asing dari luar planet (baca: luar pulau). Tak ada yang berani melawannya, sampai...

Seorang pemuda (?) menarik pedang suci Caliburn dari batu.

Berkat kekuatan dan karisma pedang suci itu, ia bisa mengumpulkan para ksatria berani yang tersisa dari seluruh penjuru Britania demi melawan kebrutalan Vortigern. Singkat cerita, mereka berhasil mengalahkan sang raja kegelapan, yang terdesak dan berubah menjadi naga hitam.

Kedamaian pun kembali di tanah Britania, dan pemuda itu menjadi raja...

Namun! Di masa sekarang, Vortigern bangkit kembalI! Sebuah ritual aneh yang dilaksanakan Makiri Zolgen di kota berkabut, London, sukses membangkitkan sang raja kegelapan, beserta kaki tangannya! Sang raja, yang kini mewujud dalam rupa tante menyeramkan (dalam berbagai arti), berusaha memenuhi ambisi masa lampaunya: menguasai Britania dan menjadikannya pusat dunia kegelapan!

Sang pemuda pengguna Caliburn sudah lama meninggalkan dunia ini, begitu juga dengan para ksatria terpilihnya! Merlin, satu-satunya yang masih hidup dari petualangan para pemuda berani ribuan tahun lalu, dengan sisa-sisa tenaga di usia uzurnya, berusaha mencari para ksatria baru untuk melawan tirani Vortigern dan pasukannya...

...

Arturia Pendragon adalah murid di Asosiasi Penyihir, seorang gadis muda yang mempelajari sihir demi kebaikan semua orang di sekitarnya. Walaupun berasal dari keluarga miskin dengan potensi sihir rendah, tapi kebaikan hati dan karismanya menarik banyak orang menjadi temannya. Ia menjalani hari-harinya di Akademi yang membosankan, sekaligus menarik dan penuh tantangan...

Sampai suatu hari, pasukan kegelapan utusan Vortigern muncul dan menyerang Asosiasi! Pasukan itu berwujud makhluk besar berbulu putih dan biru, yang dipimpin oleh... sebuah robot (?) yang mengeluarkan uap. Tak butuh waktu lama, mereka meratakan Asosiasi, bangunan dan seluruh isinya. Perlawanan para penyihir dan murid-murid tidak ada gunanya, mereka semua dibantai.

Arturia adalah salah satu dari seorang yang beruntung bisa selamat dari serbuan awal mereka, karena badan kecilnya terhalang puing-puing bangunan. Namun, saat berupaya membebaskan diri dan kabur, ia mendengar pembicaraan yang jelas-jelas berasal dari orang-orang jahat...

Arturia mengintip, dan melihat kira-kira ada 39... makhluk berbulu dan seorang, atau suatu, robot. Aura kejahatan dan kebengisan memancar dari seluruh pori mereka.

"Ratakan semua bangunan," ucap komandan pasukan, robot (Charles Babbage) yang mengeluarkan uap dari sekujur badan besinya. "Kemudian, barulah cari pedang itu."

"Setelah itu, apa yang harus kita lakukan, bos?" tanya salah seorang anggota pasukannya, makhluk... putih berbulu tidak jelas (Homunculus A).

"Bawa pedang itu padaku. Sekalian dengan batunya, kalau pedang itu ditancapkan lagi."

"Siap!"

Now, Arturia adalah seorang yang beraspirasi menjadi pembela org2 lemah, menurut kebijakan keluarganya yang ada keturunan ksatria. Tentu saja, mendengar niat jahat itu, ia tak bisa berdiam diri! Melawan rasa takutnya, ia meraih sebuah ranting seolah itu adalah pedang, lalu menerobos keluar untuk mengkonfrontasi para penjahat!

"Hentikan, penjahat! Kembalilah pada kegelapan di mana kalian berasal!"

Si robot dan pasukannya berhenti bergerak, dan memfokuskan perhatian mereka kepada Arturia... dengan sebulir keringat mengaliri wajah-wajah yang seolah mengatakan, "Apa dia idiot?"

Pemimpin mereka pun berbicara, "Nak. Ada perbedaan yang jelas antara keberanian dan kebodohan. Dan yang kau lakukan barusan? Itu kebodohan! Bisa apa kau, gadis kecil, melawan kekuatan absolut Vortigern?!"

"Vo-Vortigern?! Sang Tiran yang Ternoda Kegelapan?! P-phu-haha," Arturia berusaha menahan tawa. Ternoda Kegelapan, katanya. "Mustahil, di-dia sudah dikalahkan Raja Arthur ribuan tahun lalu! Semua orang tahu itu, ceritanya kan masuk dalam pelajaran sejarah di sekolah!"

"Namun nyatanya, di sinilah kami berada. Bangsa Pict, pasukan baginda yang agung... dan aku adalah! Charles Babbage, sang Raja Uap, panglimanya!"

Para Homunculus bersorak. Arturia menelan ludah. Sepertinya ia benar-benar melakukan kesalahan fatal... kenapa? Karena musuhnya berjumlah 40! Kalau hanya 39 sih, ia bisa mengatasi mereka! Empat puluh? Itu mustahil diatasi seorang gadis kecil sepertinya!

"Serbu!"

Arturia pun memejamkan matanya, siap menghadapi kematian... sampai sesuatu yang bersinar keemasan menyilaukannya.

"A-apa ini?!"

Muncullah sebuah pilar cahaya dari dalam tanah, yang melindungi Arturia dari para homunculus! Dan di dalam cahaya itu... ada sebuah pedang, yang tertancap di batu!

"Fouuuuuu!" lalu, seekor... anjing (sepertinya), muncul dari cahaya itu. Dia menyergap Arturia di wajahnya.

"A-apa ini? Siapa kamu?"

"Fou, fou fou!"

"E-eeeh, kamu adalah Merlin, sang Penyihir Bunga? Yang ada dalam sejarah King Arthur?! Kenapa wujudmu begini?"

"Fouuuu!"

"Kau bisa mengerti dia?" tanya Babbage.

"Perkataan Merlin hanya bisa dimengerti oleh dia yang berhati suci!" tukas Arturia.

"Oke...?"

"Fou, fou!"

"Eh, ambil pedangnya... dan katakan 'Saber Change'?"

Karena sudah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari situasi ini, Arturia pun memilih untuk mempercayai makhluk aneh itu. ia menggenggam tangkai pedang itu, dan mencabutnya dengan amat mudah dari batu.

"Apaaa?!" pasukan musuh berteriak tidak percaya.

"Dia mencabutnya begitu saja! Tak salah lagi..." Babbage menghembuskan uap. "Anak ini adalah keturunan sang raja!'

"Saber Change!" Arturia menyabetkan pedangnya ke udara, dan muncullah sebuah lingkaran sihir berwarna biru-keperakan. Aura sihir, yang kuno dan sangat kuat, terpancar darinya. Ini membuat para pasukan Babbage seolah mematung. "E-eh, apa ini?"

"Fou, fou, fou!"

"Eh? Meloncat melewatinya? O-oke...!" Arturia menelan ludah, lalu... "DEMI CAMELOT!"

Dengan teriakan itu, ia meloncat melewati lingkaran sihir... yang segera memancarkan cahaya keemasan (color scheme-nya bercampur), dan efek yang luar biasa! Tak lama, wujudnya sudah muncul, dengan zirah perak dan gaun biru menutupi tubuh kecilnya. Pedang itu tergenggam erat, wujudnya menghilang digantikan suatu pusaran udara yang menyembunyikannya.

Mulutnya kemudian bergerak otomatis, mengikrarkan namanya.

"Pedang suci yang memusnahkan kegelapan... Saber Biru!"

"Interupsi!" tiba-tiba seseorang berteriak nyaring, dan menerobos lokasi pertempuran. Ia adalah gadis dengan wajah yang mirip Arturia, namun berbeda... pada bagian tertentunya, dengan gaun pendek di bagian atas dan bawahnya, yang menonjolkan bagian-bagian itu. Gaunnya merah – koreksi – amat merah. "Sidang dibatalkan! Batal, kataku!"

"... cut!" Dr. Romani berteriak. Dia mengenakan sebuah topi khas sutradara, dan di tangannya ada toa. "Apa-apaan ini, nona Nero? Kenapa kamu tiba-tiba mericuh begitu?"

"Roman! Aku tidak terima! Kenapa Arturia yang menjadi karakter utamanya?!" teriak Nero. "Padahal, semua orang tahu kalau di serial super sentai, karakter utamanya adalah ranger merah! Dengan kata lain, aku!"

"Nero Claudius!" Arturia membalas. "Simpanlah egoisme itu! Kita selaku aktor harus patuh sepenuhnya pada naskah yang sudah dibuat!"

"Tapi, ini menyalahi tradisi! Tradisi harus dipertahankan, bukan begitu, Praetor?" tak mau kalah, Nero melemparkan argumen kepada Master mereka... gadis berambut oranye dengan codename, Gudako.

Sang Master hanya bisa menjawab dengan, "Um..."

...

Kita kembali pada beberapa hari lalu.

"BOSAAAAAAN!" teriakan seorang gadis muda menggema di tengah ketenangan ruang rekreasi markas besar Chaldea, yang membuat banyak pasang mata menolehinya. Beberapa kesal, beberapa setuju. Kebanyakan kaget.

Para staf dan Servant yang berada di Chaldea kini tengah menikmati kedamaian sementara menunggu siapnya rayshift menuju Order Kelima di Amerika. Memang, mereka masih bisa melakukan rayshift ke 4 Order sebelumnya, namun tidak ada yang baru di sana. Hanya ada musuh-musuh lemah, dan para Roh Pahlawan yang terlibat dalam konflik di keempat Order itu sudah kembali ke Takhta Para Pahlawan... atau bergabung dengan Chaldea.

"Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan di tempat ini?!" kata Nero kemudian.

Untuk menjawab itu, Dr. Roman menunjuk ke layar laptopnya, yang entah kenapa masih terhubung dengan internet meskipun dunia di luar Chaldea sudah hancur lebur. Andersen menunjuk ke iPad, buku tebalnya, novel, dan banyak lainnya. EMIYA menoleh dari tempatnya memasak di dapur.

Nero mendengus, "Kalian semua membosankan!"

BAM!

Arturia menggebrak meja makan di depannya. "Berani benar kamu, Nero Claudius! Eksperimen memasak Shirou - maksudku, Archer," Archer memotong jarinya di pisau dapur, "adalah demi kemajuan ilmu pengetahuan! Dan kesejahteraan umat manusia, kalau saya boleh menambahkan."

"Jangan samakan aku denganmu, Raja Orang Lapar! Cukup wajah kita saja, yang walaupun menyebalkan, sama, tapi jangan tulari aku dengan kerakusanmu!"

Ctak!

Otot menyembul di dahi Arturia. Meskipun biasanya tenang, entah mengapa Nero selalu sukses membuatnya kesal. Pastinya karena faktor wajah mereka... juga, bagian tertentu. Terutama faktor yang belakang.

"Cukup! Kurasa sudah saatnya kita menyelesaikan ini semua," angin berhembus melingkupi tubuh kecil gadis itu, dan tiba-tiba saja Arturia sudah mengenakan baju perangnya, lengkap dengan Excalibur dalam Invisible Air. "Mari ke Chaldea Gate, Nero Claudius. Kita buktikan, siapakah Saber terbaik."

Nero menyeringai lebar, "Oooh! Akhirnya! Sudah siap mengakui superioritasku, 'sepupu'?"

Pintu ruang santai tiba-tiba terbuka, menampakkan wujud Gudako, selaku sang master, yang baru kembali dari misinya di Chaldea Gate bersama tim farming-nya: Saber Alter, Zhuge Liang, dan Tamamo (Caster). Berikut Mashu yang senantiasa mengekor sang Master kesayangannya.

"Hentikan, kalian semua!" teriak Gudako. Karena posisinya sebagai satu-satunya Master di Chaldea, ini sukses menghentikan pertikaian itu (sementara). Ia lalu bertanya, "Ada apa ini... Andersen?"

"Dari sekian banyak orang, kau bertanya padaku?" protes si penulis berambut biru itu. Dia meletakkan iPad-nya, dan menjawab malas, "Biasa lah, pertempuran antar faker. Gil pasti akan senang melihat ini-"

"Siapa yang faker?!" teriak Arturia, Nero, dan Archer (merasa tersindir) kompak.

Tidak merasa terintimidasi, Andersen menunjuk Arturia dan Nero. "Ya, kalian berdua. Mestinya kalian sadar klo ada Arthur Pendragon yang asli menunggu gilirannya dipanggil ke medan perang..."

Kedua Saber menggerutu karena dia benar. Kemudian anak itu menuding Archer, "Dan kau, Emiya. Aku hanya mengutip Gil, kalau mau marah, sikat saja dia."

Archer bersumpah akan menghabisi Gilgamesh saat mereka berlatih suatu hari nanti. Masalahnya, si emas itu selalu ngacir entah ke mana di saat santai...

"Masalah ini lagi?" Tamamo berkomentar dengan lengan kimono menutupi bibirnya. "Mfufufu, susahnya menjadi Saberface..."

Arturia dan Nero langsung naik darah mendengar sindiran itu, tapi sebelum mereka bertindak, Alter sudah lebih dulu mendinginkan suasana... dengan meletakkan Excalibur Morgan ke atas ekor Tamamo.

"Kau menghina orang yang salah, rubah."

"Hiiiiiy!" Tamamo berlari dan bersembunyi di balik Gudako. "Jangan ekorku yang empuk! Habisnya ini kan daya tarik utamaku! Selain tubuhku yang seksi, tentunya!"

Alter mendengus kesal. Perlindungan sang Master adalah absolut, ia takkan bisa menyentuh si rubah nakal kalau sudah begitu.

"Goshujin-sama, aku di bully~"

Gudako mengelus-elus kepala Tamamo, menenangkannya. Melihat itu, Nero menggembungkan pipi, lalu beranjak menuju sang Master untuk minta perhatiannya. Arturia kembali ke meja makan, Alter menyerbu Archer di dapur untuk minta burger, dan Andersen memasang kembali headset-nya. Sekilas, suasana sudah kembali damai...

"Daripada kalian ribut sendiri dan membahayakan semua orang, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang menarik?" tiba-tiba Dr. Roman berkata.

Semua orang menghentikan kegiatan mereka, untuk mendengarkan sang kepala staf dengan seksama.

"Sesuatu yang melibatkan banyak orang... ah, aku tahu! Bagaimana kalau kita membuat OVA?"

"OVA?"

"Original Video Animation, atau membuat satu episode anime yang terlepas dari suatu seri," jawab Andersen, yang menopang kepalanya di sebelah tangan. "Terlalu lama di internet, Dok?"

"Benar... tapi, akuilah! Dengan banyak aktor berpotensial di sini," mendengar kata aktor, mata Nero berbinar-binar. "Kita bisa membuat karya yang spektakuler!"

...

Dan sampailah kita pada saat ini. Entah bagaimana, Roman berhasil mengajak banyak Servant untuk terlibat dalam syuting. Dengan script dari Andersen, special effect dari Tamamo, camerawork dari George, konsumsi dari EMIYA, dan setting di London... mereka siap!

Sentai, atau yang dikenal dengan Power Ranger di belahan bumi barat, adalah serial drama dengan special effect atau biasa disebut tokusatsu. Serial ini menceritakan 5 pemuda berkostum warna-warni yang berperang melawan pasukan kejahatan. Tentu saja, karena judulnya Saber Sentai, Roman hanya meng-cast para pemilik Saberface – istilah super kreatif dari si penjajah fourth wall Blackbeard – sebagai pemeran.

Scene pertama mereka, menceritakan Arturia yang tak sengaja menemukan Excalibur dan berubah menjadi ranger biru... masalahnya, dalam cerita sentai, pemimpin sekaligus yang diceritakan pertama kali adalah ranger merah!

Soal itu, dan harga diri Nero yang tinggi adalah resep sempurna untuk konflik...

"Nona Nero! Dengarkan aku!" Andersen memanggil si Kaisar Kelima Roma yang sedang berdebat seru dengan Arturia. "Di sini kamu adalah anggota tim senior! Giliranmu tampil sebentar lagi, bersabarlah!"

"Eh, anggota senior? Dengan kata lain... Arturia akan memanggilku, 'senpai'?!" Nero berlari ke Andersen dan memeluknya... atau, menenggelamkannya ke dalam belahan dada. "Ide cerita yang luar biasa!"

"Egh! Menyingkirlah dariku! Aku benci cewek mesum sepertimu!" teriak Andersen... sayang suaranya terbungkam dalam dua marshmallow kembar, dan hanya keluar sebagai, "Muguu! Uffffuuuu!"

"Aku takkan sudi memanggilnya senpai!" teriak Arturia di latar belakang.


14. Rollcall

Akhirnya setelah sekian lama berdebat, scene pertama pun selesai di shoot. Arturia, yang menjadi Saber Biru, kewalahan juga karena serbuan pasukan kejahatan pimpinan Babbage. Apalagi, ia masih baru dalam pertarungan ini.

Untungnya, saat ia terdesak, muncullah Ranger yang lain! Awalnya mereka membantu Arturia dengan wujud manusia, tapi saat para musuh menanyakan identitas mereka, keempat gadis itu pun berubah!

"Rona wajah yang tersenyum pada dunia: Saber Merah!" kata Nero, pedang Aestus Estus-nya membara.

"Sakura bersemi, dan pedangku menyanyi: Saber Pink!" kata Okita Souji, kelopak sakura berguguran di sekitarnya.

"Diiringi kebaikan langit, memberikan senyuman kepada semua orang: Saber Putih!" kata Jeanne d'Arc. Beda dengan yang lain, ia menghunus Luminosite Eternelle-nya.

"Cahaya hitam yang menenggelamkan segalanya: Saber Hitam," Excalibur Morgan milik Alter membesar berselimutkan prana.

"Cut!" teriak Dr. Roman. "Alter, rollcall-mu terlalu jahat!"

"... tch."

Adegan pun diulang, hanya bagian Alter.

"Cahaya hitam yang menelan segalanya: Saber Hitam."

"Cut!"

"Tch."

Diulang lagi.

"Cahaya hitam yang membasmi-"

"Cut!"

"..."

Dan lagi.

Tak tahan lagi, Alter pun menudingkan Morgan ke wajah sang sutradara, yang segera menciut di kursi sutradaranya, "Apa masalahmu, Roman?! Kau ingin jadi noda tidak jelas di Morgan?"

"M-maaf! Tapi kata-katamu terlalu jahat untuk seorang pembela kebenaran!"

"Aku ini Lawful Evil, jangan harap akan keluar dari mulutku kata-kata kebajikan-"

"Oi, Alter," Archer memanggilnya dari arah tenda persiapan konsumsi (dapur umum). "Lakukan peranmu dengan benar, dan aku akan menggandakan porsi hamburger untuk makan siangmu."

"... extra keju?" tanya Alter.

"Extra keju dan mustard."

Take 15.

"Cahaya hitam yang memeluk umat manusia: Saber Hitam-desuuu!" untuk menambah efek manis, Alter bahkan tersenyum dan membuat tanda peace ke arah kamera!

"Guh?!" Archer tertohok. Dia tidak menyangka Alter bisa semanis itu!

BLAARRR!

Efek ledakan dari sihir api, angin, dan es dari Tamamo menghiasi kemunculan keempat anggota Sentai itu.

"Daaan, cut! Sempurna sekali!" kata Dr. Roman. "Baik, kawan-kawan, saatnya istirahat!"

Sesuai janjinya, Archer membuatkan hamburger ekstra untuk Alter... yang segera dilahapnya seperti minum teh.

"Shirou-Archer! Kenapa kamu berlaku tidak adil?!" teriak Arturia.

"Benar! Aku juga melakukan peranku dengan sempurna, kenapa kau tidak memujiku?!" protes Nero.

"... apa aku bisa minta tambah porsi juga kalau melaksanakan peranku dengan baik, tuan Archer?" tanya Jeanne, wajahnya bersemu pink.

"Gu-guhuk! Emiya-san, bisa aku minta teh herbalnya lagi..." kata Okita.

"Dasar mantan protagonis eroge," komentar Andersen.

"Tenggelamlah dalam harem-mu dan matilah!" Gudako menggeram.


15. Mecha

"Apa yang akan kita lakukan buat robotnya?" tiba-tiba Gudako berkomentar, membuat semua staf dan aktor yang sedang makan siang menolehinya. "Um, kalian tahu, di sentai pastinya ada sebuah mecha untuk melawan monster raksasa, bukan? Tapi, pak Babbage yang berpenampilan paling mirip mecha sudah menjadi jenderal para penjahat..."

"Fmu, kamu benar, Gudako-san," Dr. Roman menggosok dagunya. "Apa ada ide-"

"Fuhahahaha!" tiba-tiba terdengar tawa kencang yang khas dari kejauhan.

"Su-suara ini?!" Nero terkesiap.

"Eh, tidak usah berakting, senpai, ini belum saatnya syuting," komentar Mashu.

Gilgamesh pun muncul, dengan segala bling-blingnya. Dia tampak... kesal?

"Ternyata aku tertawa kalau sedang marah!" Gilgamesh menuding sang Master, "Anjing kampung! Bisa-bisanya kamu tidak mengundangku, sang aktor original ini, untuk ikut serta?!"

Gudako menciut takut, "M-maaf, Gil..."

"Jangan mau kalah sama dia, Master!" kata Arturia.

"Oi, Andersen. Lihat itu, cocok sekali buat bos terakhir," bisik Archer.

Gilgamesh menoleh ke Emiya dan memelototkan mata merahnya. Tapi, tak ada nafsu membunuh di sana, hanya kesal. "Aku mendengarmu, faker! Tapi, akan kuampuni. Boss terakhir artinya musuh paling kuat kan? Bocah!" Gil menuding Andersen, yang mengorek telinga karena kencangnya suara sang Raja. "Tulis ini di script-mu! Bahwa aku, Gilgamesh sang Raja Pahlawan, akan menjadi musuh terakhir dalam karya film ini!"

"Baik, baik," Andersen menghela napas panjang.

Arturia menarik Excalibur-nya (yang asli) dan menodong Gil. "Raja Para Pahlawan! Buat apa kau muncul di sini? Mau mengganggu kami dengan kesombonganmu?"

"Saber, sayangku-"

"Aku bukan sayangmu!" para Saber kompak menolaknya.

"Gah, di sini banyak faker! Maksudku, Arturia, sayangku..."

"Tetap bukan sayangmu!" tolak Arturia.

"Siapa yang kau panggil faker?!" teriak Nero dan Alter. Archer tidak bilang apa-apa karena dia sudah capek mendengar kata faker hari ini.

"Hmph," Gil mengabaikan penolakan yang kesekian (puluh) kalinya itu, dan menyilangkan lengannya, "Kudengar kalian membutuhkan mecha untuk karya film ini! Jangan khawatir, sebagai seorang raja, aku akan membantu kalian! Para anjing kampung... dan Arturia sayangku!"

Gilgamesh menjentikkan jarinya, dan dari belakangnya, muncul portal keemasan berukuran super besar. Inilah Noble Phantasm andalan sang raja: Gudang Harta Karunnya.

"Gate of Babylon."

Dari dalam gerbang itu, muncullah... sesosok mecha raksasa (atau, sesuatu yang mirip). Tingginya sekitar 15 meter, dengan dua tangan dan dua kaki. Kepalanya berbentuk seperti manusia, lonjong dengan mata kebiruan dan tanduk berbentu V... yang entah kenapa, mirip dengan mecha dalam suatu anime. Hanya saja, dia mengenakan armor emas mirip dengan yang dikenakan Gilgamesh, dan warnanya emas. Sangat emas, bahkan. Maksudku, emas-sampai-kau-takkan-menyadari-kalau-itu-bukan-emas-asli.

"Gyaaaah! Mataku!"

Gudako dan kawan-kawan merasa kelopak mata mereka mengelupas melihat kilauan itu. Kecuali Archer yang sudah mengantisipasi ini dan buru-buru men-trace kacamata hitam.

"A-apa itu?!" teriak Dr. Roman.

"Fuhahahaha! Inilah mecha yang original! Alias, golem logam yang bisa dikendalikan dari dalam, pertama dalam sejarah! Namanya adalah Gun***! Oi, kenapa huruf belakangnya disensor? Kalau begini, aku jadi tak bisa membedakan Gun*** dan Gun*** kan? Apa-apaan ini?!"

"Ah, itu karena aku," kata Andersen. "Untuk mencegah pelanggaran hak cipta, aku terpaksa mensensor beberapa merk dalam cerita ini."

"Tapi kenapa kalian bisa bebas menggunakan nama sentai?!" tanya Gilgamesh.

"... kalau itu kusensor, kan kedengarannya aneh. Dengar ini, ***tai dan ***tai!"

"Gah. Kau benar, anjing kampung," komentar Gil. "Daripada begitu! Bagaimana pendapat kalian, wahai para aktor, perempuan, dan anak-anak? Sudah terpukau kah kalian atas kemurahan hati sang raja?"

Nero mengangguk dengan penuh semangat. Jeanne masih sibuk melindungi matanya dengan Luminosite Eternelle, Okita muntah darah karena entah kenapa kerusakan matanya berpengaruh kepada kesehatannya, sementara Arturia dan Alter tidak terlalu peduli.

Namun...

"Kenapa hanya ada 1 bagian dan semuanya warna emas?! Ini sentai, mestinya minimal ada 5 bagian berwarna-warni, sesuai warna personil timnya!" protes Archer. Serial tokusatsu adalah tontonan wajibnya selama kecil, jadi dia ingin pembuatan OVA ini sempurna!

"Ah. Emiya-san benar," komentar Gudako. "Maaf, Gil, bisakah kamu... mengubahnya?"

"Hmph. Kalian tidak mengerti makna warna emas... tapi tak apa, kalian hanyalah anjing kampung, perempuan, dan anak-anak. Baiklah, akan kusediakan cat original, dengan warna original juga," Gil membuka Gate, dan jatuhlah beberapa tong berisikan cairan berbagai warna. "Namun perlu kalian ingat, aku tak mau mengecat mereka. Aku ini raja, bukan tukang bangunan!"

"Serahkan padaku!" Da Vinci menunjuk dirinya sendiri, dengan wajah antusias. "Melihat cat berupa-rupa warnanya, dan media menggambar, naluri senimanku bangkit!"

Tak lama...

Gun*** yang dikeluarkan Gil sudah berubah warna. Ada merah, biru, pink, putih, dan hitam. Wujudnya juga sudah terbongkar jadi 5 bagian: kepala, badan, tangan kanan, tangan kiri, dan rambut. Posenya memangkukan sebelah tangan, dan tersenyum misterius.

Tunggu...

"Itu kan Monalisa!"

"Oh, maaf. Tanganku bergerak sendiri."


16. Combination Attack

Setelah Archer dan Da Vinci bekerjasama untuk mengubah kembali Monalisa mekanik itu menjadi Gun***, mecha untuk Saber Sentai pun sudah siap.

Arturia mendapat bagian kepala, Nero bagian torso, Jeanne bagian kedua tangan, Okita bagian kedua kaki, dan Alter... menjadi pedangnya. Yang mirip Excalibur Morgan berukuran besar.

"Apa-apaan ini?!" teriak Alter, tidak terima. Kenapa bagiannya yang paling kecil?

"Selain bagian itu... apa kamu mau jadi bagian selangkangan?" tanya Archer.

Alter berpikir sejenak.

"Aku suka jadi pedang."

Take 100.

Musuh para ranger sekarang adalah makhluk besar... yang bentuknya mirip mecha milik Charles Babbage. Pertarungan berjalan amat sengit, di luar dugaan Arturia dan yang lain bisa mengendalikan Gun*** itu dengan amat baik (dari mereka berlima, hanya Jeanne yang tidak memiliki skill Riding, sih), dan bertubi-tubi menyerang Babbage.

"Arc Punch!" Jeanne meninju sang musuh, dan membuatnya terpental jauh. Babbage pun akhirnya tidak bisa lagi bergerak, percikan listrik memantik di sekujur badan raksasanya. "Sekarang, teman-teman! Mari kita akhiri!"

"Ou!" keempat anggota lain menjawab kompak.

Mecha mereka, yang diberi nama Lord Saber, memegang pedangnya dengan dua tangan. Prana memancar deras dari senjata itu...

"Eh, tunggu, apa nama serangan kita?" tanya Jeanne.

"Umm, entahlah?" jawab Okita.

"Tentu saja nama pedangnya, Excalibur Morgan..." kata Alter.

"Ditolak! Karena aku pemimpin tim ini, namanya harus Laus Saint Claudius!" protes Nero.

"Tapi, aku adalah bagian kepala di mecha ini, dan berarti aku otaknya! Tentu hanya akulah yang bisa memberikan nama!" sambung Arturia. "Ini hanya masalah logika!"

"Apa katamu?!" Nero berteriak dengan gigi tajam.

"Kalian semua sama saja!" teriak Okita. "Guhuk!"

Jeanne menepuk dahinya. "Ano... kita berlima kan bersatu, berarti nama jurusnya juga harus jadi satu."

"O-ooh! Ide bagus, kouhai!"

Lord Saber memajukan sebelah kakinya, dan mencengkeram gagang pedangnya kuat-kuat.

"Umu! Bersama-sama!" teriak Nero.

Sang mecha mengangkat kedua tangan yang menggenggam Excalibur ke atas kepala, dan pedang gelap itu... entah kenapa bercahaya warna-warni yang tidak saling bertubrukan, seperti pelangi gambaran anak TK. Babbage, melihat bahwa dia sudah tamat, segera menggagalkan Reality Marble-nya dan kabur dalam mecha berukuran kecil.

Pedang itu diayunkan...

"Mumyou: Laus Saint Excalibur Morgan Eternelle!"

"... itu nama yang gila tapi sangat keren," bisik Dr. Roman.

Babbage pun meledak dalam special effect yang luar biasa: cahaya pink, merah, emas, hitam, dan putih. Serta percikan api, banyak sekali percikannya. Tanpa Tamamo yang menyediakan special effect, Dr. Roman yakin biaya untuk satu serangan itu setara dengan biaya operasi Chaldea selama sebulan.

Lord Saber membalikkan badan masifnya, dan mengayunkan pedang seolah akan memasukkannya ke sarung. Kemudian, bunyi mekanik mendesis dari seluruh tubuhnya.

"Misi selesai!"

"Yaaak, cut!" kata Roman.

Semua orang pun bersorak. Dengan ini, episode pertama OVA selesai di-shoot! Sekarang tinggal menunggu hasil editing dari George dan Blackbeard, lalu menontonnya bersama-sama.

Namun...

"Ehh... kenapa nama jurusku sendiri yang bahasa Jepang?"

"Nero Claudius! Kenapa kamu menyertakan dua kata dari nama NP-mu pada serangan tadi?!"

"Aku kan ranger merahnya! Wajar dong, jadi yang paling menonjol!"

"Soal 'menonjol', kau masih kalah sama Jeanne, tahu."

"Kenapa lagi-lagi pembicaraan ini mengarah ke dadaku?!"


Chaldea Productions Co.

Presents

Kishi Sentai Saber Rangers

Executive Producer:

Romani Akiman

Gudako

Original Script by:

Hans Christian Andersen

EMIYA

Cast:

Arturia Pendragon as Blue Saber

Nero Claudius as Red Saber

Alter as Black Saber

Okita Souji as Pink Saber

Jeanne d'Arc (Final Ascension) as White Saber

? as Silver Saber

Fou as Merlin (?)

Original Gun*** ™ as Lord Saber (mecha)

Charles Babbage as Vortigern General I

Homunculuses as Vortigern Mooks

Lancer Alter as Vortigern

Cu Chulainn as Makiri Zolgen

Gilgamesh as Final Boss (?)