Nasuverse Play FGO
Nasuverse © Nasu Kinoko & TYPE-MOON
Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks
Chapter VI
18. Heaven
Markas besar Chaldea, di suatu hari yang dingin...
"UNO!"
"Hei, kau curang! Aku tahu kau masih punya 2 lembar kartu!"
"Mana? Nggak ada tuh."
"Jangan sok alim, aku merasakan rune aktif darimu! Kau pakai rune apa hah, untuk menyembunyikan kartu itu?!"
"Mana mungkin kan, aku pakai rune hanya untuk berbuat curang saat main kartu?"
"... main UNO dengan diri sendiri, sungguh menyedihkan."
"DIAM, KULIT COKLAT BRENGSEK!"
Dan, hanya dengan sebuah kalimat sindiran itu, suhu di ruang rekreasi Chaldea meningkat drastis. Trio Cu Chulainn menghunus tombak (dan tongkat sihir) mereka dalam posisi siap melempar, kalau bisa ke muka sombong Archer EMIYA, sang suami rumah tangga yang tengah menyiapkan makan malam... apa dia membumbui masakannya dengan sarkasme?
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat," Archer mengangkat bahu, ekspresinya luar biasa sok.
Situasi Roh Pahlawan Cu Chulainn memang aneh. Karena sistem pemanggilan Chaldea yang dimodifikasi, bisa ada 3 versi dirinya yang terpanggil. Versi Lancer, atau yang dipanggil 'Cu' saja; lalu versi dirinya yang lebih muda, yang masih mengenakan pakaian pemburu, dipanggil 'Proto Cu', karena dia versi terdahulu Cu Chulainn. Dan terakhir, versi Caster yang dipanggil 'Caster Cu', versi dirinya yang meninggalkan Gae Bolg demi mempelajari ilmu rune lebih dalam. Tapi, berbeda dari Arturia yang tak bisa akrab dengan versi dirinya yang lain (Alter, Lily, dan Alter Lancer), ketiga Cu Chulainn ini amat akrab layaknya saudara kembar 3.
Menganggap pertempuran EMIYA melawan 3 Anjing Culann itu sebagai pemandangan minum teh yang biasanya, Arturia bertanya, "Ngomong-ngomong, di manakah Master? Sejak latihan di Chaldea Gate tadi pagi, aku tak melihatnya."
"Bukankah dia di ruangannya, bersama Kyrielite," jawab Dr. Roman. Saat Arturia menatapnya dengan wajah shock, dia buru-buru menambahkan, "Uh... aku yakin mereka takkan berbuat macam-macam. Mereka kan sama-sama cewek-"
Ngiiiing...
Pintu ruang rekreasi terbuka, menampakkan wujud Gudako dan Mashu... dengan rambut dan pakaian acak-acakan dan wajah berpeluh. Jelas, mereka habis melakukan sesuatu, berdua saja di dalam ruangan. Sesuatu yang panas dan menghabiskan banyak energi.
Arturia menjatuhkan cangkir tehnya, dan Dr. Roman menjatuhkan iPad-nya.
Sang Raja Para Ksatria lalu menggenggam pundak Roman, dan dengan sebelah tangan menuding 2 orang berpenampilan mencurigakan itu, "Kalau begitu, jelaskan maksudnya penampilan itu!"
Menyadari gosip tidak enak akan menerpanya, Gudako buru-buru berbicara "... aku mengalami mimpi paling aneh." Ia tampak amat lelah, padahal mestinya sudah beristirahat cukup lama sejak tadi.
"Daripada mimpinya, senpai, yang terjadi saat kita bangun lebih aneh lagi..." sambung Mashu.
"Eh, setelah berbagai kejadian di alur waktu lain, tak ada lagi yang bisa mengagetkanku... walaupun itu tadi benar-benar aneh, sih."
"... memangnya apa yang terjadi?" pikir semua orang di ruangan itu.
"Ada kota yang terbakar, bayangan Servant, lalu nona seksi..."
Kemudian, dari belakang Gudako dan Mashu, muncullah seorang yang lain. Ia adalah wanita berambut ungu panjang, dengan kostum... yang luar biasa ketat, menampilkan segala lekukan tubuhnya yang bombastis. Wanita itu melongok ke dalam ruangan, memandang sekeliling dengan mata merahnya yang eksotik, dan...
Ia terpaku pada pemandangan tiga Cu Chulainn dengan mayat EMIYA di bawah mereka (Lancer unggul dari Archer, bukan). Mengedip sekali dua kali, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "... tiga Setanta?! Apa ini surga?!"
Dengan kecepatan khas Lancer, wanita itu melesat ke arah ketiga Anjing Culann yang belum sempat bereaksi, dan membenamkan kepala mereka semua ke... tanah lapangnya yang luas.
"Aaaah, sungguh suatu berkat dari Takhta Pahlawan, bisa bertemu denganmu... kalian, lagi! Aku rindu, nak!" kata wanita itu dengan wajah bercahaya.
"Shishou?!" teriak mereka, tapi berubah menjadi, "Ghufuh?!"
"Oh, begitu rindunya kalian kepada dadaku? Huhuhu, baiklah, mari kita 'bereuni'. Kebetulan cuacanya dingin, kalian ingin kehangatan, bukan?" wanita itu menolehi Gudako, "Nak, apa ada... kamar kosong?"
Gudako menunjuk ke arah belakangnya, di mana ada peta markas Chaldea ini, dan sang shishou mengangguk. Ia lalu menyeret ketiga Cu Chulainn keluar dari ruangan rekreasi.
"Itu tadi Scathach, Penyihir dari Dun Scaith?!" teriak Saber.
"Luck E apanya... guru mereka 'luar biasa' dalam berbagai artian begitu..." gumam Archer.
19. Rejoice
"Black Keys lagi?! KIREEEEIIIIII!"
"E-eh?!" Sakura melonjak dari tempat duduknya, kaget.
Rider menaikkan alisnya. Sumber suara melengking itu tak lain adalah Rin, yang meraung sampai wajahnya memerah. Sang Servant Pengendara meletakkan bukunya, lalu menghampiri kakak-beradik yang sedang bermain FGO itu.
"Sakura. Ada apa dengan kakakmu?" tanya Rider.
"Gagal gacha lagi."
Rider menghela napas panjang. "Bukankah dia tahu kalau gacha itu adalah neraka?"
Mengutip kata-kata Archer kepada Shirou, suatu hari lalu.
"Itulah, Rider. Jalan menuju neraka penuh dengan godaan, bukan?" Sakura tertawa kecil.
Rider mengintip ke layar ponsel Sakura. Di sana tertera gacha untuk event Moon-Viewing. Servant terbaru yang bisa dipanggil lewat gacha adalah Orion (dan Artemis, yang membajak proses pemanggilannya). Rider, alias Medusa, masih tidak percaya dengan wujud Artemis yang dilihatnya... seorang dewi perawan yang jatuh cinta seperti gadis remaja.
Kepada boneka beruang.
Yang suaranya mirip Lancer.
"Sungguh, game ini jadi semakin aneh tiap harinya..." Rider memejamkan matanya, lalu menoleh kepada Rin. "Lalu, Rin, kamu-"
"Sebentar, Rider, biarkan aku berkonsentrasi. Archer di rumah berisik terus... aaaaah! Kenapa Black Keys lagi?!" teriak Rin. Ia menggoyang-goyangkan ponselnya, kesal. "Tinggal 8 quartz lagi! Ayolah, masa tak ada satupun Servant baru yang kudapat?!"
"Nee-san..."
"Ah, aku tahu! Sakura, cobalah kamu yang gacha!" Rin menyodorkan ponselnya kepada sang adik, yang hanya berkedip bingung. "Kamu kan barusan beruntung, dapat Vlad III (*5 Berserker)!"
"U-um, apa neesan yakin?" tanya Sakura, sembari menerima ponsel sang kakak. Melihat Rin mengangguk kencang seperti menggerus bawang, ia menghela napas panjang. "Um, baiklah. Tapi jika yang muncul jelek, jangan salahkan aku-"
Criiiinggggg!
Pisau Azoth.
"Neesan, aku baru mau bilang... keberuntunganku habis setelah mendapatkan om Vlad..."
"Seseorang, beritahu aku! Apa *5 Servant itu sungguh ada?!" teriak sang kakak.
Rin kemudian menarik ponselnya kembali dari Sakura, dan segera memencet tombol summon dengan 4 quartz terakhirnya.
"Apapun boleh deh, asal jangan peralatan dari Kirei lagi!"
Ia memejamkan matanya erat-erat...
Dan mendapat Craft Essence Steel Training, yang bergambarkan Kirei dalam pose super seksi bertelanjang dada.
Teriakan yang menggema di kediaman Matou setelahnya, bukanlah teriakan seorang gadis.
...
Sementara itu, di kantor pusat DelightWorks...
"Ngomong-ngomong, siapa yang mengawasi sistem gacha?" Profesor V bertanya pada asistennya, Flatt Escardos.
"Tuan Kirei Kotomine, bos!"
"Jangan panggil aku bos! Kenapa dia?"
"Karena menurut pak tua Kaleidoscope, tuan Kotomine memiliki ide paling brilian untuk menjaga para pemain bertahan di game kita!"
"... selera pak tua itu sungguh buruk."
...
"Tiga macam Black Keys. Pisau Azoth. Steel Training," Caren Hortensia menolehi sang ayah, yang asyik menatap layar statistik summon dari seluruh server game, dengan kedua tangan terlipat di belakangnya. "Ayahanda membuat 4 Craft Essence dari perlengkapanmu sendiri. Apa ini... tidak keterlaluan?"
"Hmm?" Kirei menolehi putrinya itu, dan tersenyum. Kirei yang tersenyum adalah pertanda buruk. "Keterlaluan? Tidak, putriku, tidak. Ini hanyalah trik pemasaran, kamu tahu.
"Memancing pelanggan dengan iming-iming diskon, atau dalam hal ini, pemain dengan Servant *5 baru. Mereka yang penasaran akan menggunakan segenap sumber daya untuk memanggilnya. Namun apa daya, mereka tidak beruntung. Maka, satu-satunya cara adalah?"
"Membeli quartz untuk mencoba lagi?"
"Tepat sekali, putriku. Kukuku," Kirei menatap layar statistik itu lagi, dan senyumnya melebar. "Pertanyaan lagi. Apakah kamu tahu, mengapa perusahaan kita diberi nama DelightWorks?"
Ini di luar pemahaman Caren. Ia pun menggelengkan kepalanya.
"Jawabannya, hanya masalah sinonim dalam bahasa Inggris. Apa sinonim 'delight'?"
"Um, 'fun'? 'Enjoy'? Aku kurang tahu, ayahanda. Aku lebih pandai berbahasa Latin."
"Tak apa, akan kujawab. Sinonim dari 'delight', tak lain tak bukan adalah... 'rejoice'. Dengan kata lain..."
...
"Yorokobe, shounen. Karena kau akan bertambah kuat dengan perlengkapanku."
"KOTOMINEEEEE!" teriakan kesal Shinji bergema di kediamannya.
20. Reunion
Plak.
"Hei, Lancer."
"Ada apa? Oh, kau. Apa Master sudah menyampaikan keluhanku? Jangan maju seperti itu, idiot brengsek. Kau itu Archer, bukan ksatria berpedang!"
Cringgg!
"Rider. Bisa kau lepaskan tanganku?"
"Kau. Jangan sentuh aku. Bukankah Master sudah bilang kalau aku benci lelaki?"
"Maaf, kalau begitu."
Bwung.
"Tabir sihir...?"
"Aku... tidak suka disentuh."
"Kau bisa merasakan aku mendekatimu, Caster?"
"Hmph. Siapapun pasti bisa mengenali orang yang mirip dengan dirinya. Aku merasakan itu, Archer. Kita ini mirip, sama-sama memiliki kecenderungan berkhianat.
"Namun, jika kau berani mengkhianati Master, aku sendiri yang akan menghabisimu."
"... oh, sungguh ironi."
Fwosh.
"Eits. Maaf, aku hanya mau disentuh wanita cantik, kau tahu."
"Assassin. Apa selama hidup kau juga genit seperti ini?"
"Hmm? Tidak juga. Hanya saja, dikelilingi wanita-wanita cantik membuatku tidak mawas diri. Ah, dan panggil aku Kojirou atau Sasaki. Aku bukan Servant sejati, kau tahu."
Puk.
"GRAAAAA!"
"Berserker... aku masih sayang tanganku."
Wuuush...
"Assassin ini, aku tidak terlalu mengenalnya..."
Cring. Cring. Cring.
"Menyingkir dariku, faker!"
Tap tap tap.
"Archer. Kenapa kamu suka menepuk pundak para Servant lain dari belakang? Apa yang kamu rencanakan?"
"Ah, Saber. Apa kau mengawasiku?"
"Itu benar. Di pertempuran berskala sebesar ini, mau tak mau aku harus mengenal baik-baik setiap kawanku."
"Kau... menganggap kami sebagai kawan?"
"Benar. Dalam misi menyelamatkan masa depan umat manusia, kita membutuhkan semua bantuan yang bisa didapat. Termasuk... figur-figur mencurigakan seperti Bluebeard itu."
"Kau tidak berubah, Saber."
"Hmm? Apa katamu tadi, Archer?"
"Ah, tidak. Lupakan. Sepertinya ingatanku masih kacau setelah pemanggilan..."
...
"Archer, siapa identitas aslimu?"
"Hm? Apa kau masih tidak mempercayaiku, Saber? Aku merasa tersanjung."
"Ini bukan bahan candaan. Aku ingin tahu, supaya aku bisa lebih mengenalmu, kawan seperjuangan."
"... perlu kau tahu, Saber. Aku bukanlah pahlawan. Jadi, sebisa mungkin aku tak mau mengatakan identitasku."
"Omong kosong. Kamu adalah Servant yang berasal dari Takhta Pahlawan, bukan? Itu berarti, kamu adalah seorang pahlawan yang diakui dunia."
"Diakui dunia... hmph, mungkin itu benar."
...
"Aku pikir ini bukanlah pertempuran yang menyusahkan, tapi yang kulihat membuatku sedih. Ya. Bagi Servant dan Rajanya, ini adalah pertempuran yang spesial."
...
"Archer merah itu... sepertinya aku ditakdirkan untuk bertarung bersamanya. Ini tidak membuatku sedih ataupun senang. Karena inilah takdir kita sebagai pahlawan, untuk terus bertarung."
...
"Kenapa aku melakukan itu, kau bertanya, Master?"
"Iya, kenapa kamu menepuk pundak para Servant? Mereka menanyakan padaku..."
"Hmm, bagaimana menjelaskannya, ya. Aku ingat pernah bertempur melawan mereka di suatu Perang Cawan Suci."
"Wah! Apa itu dari ingatanmu semasa hidup, Emiya-senpai?"
"Bukan. Master, Kyrielite, kalian masih ingat soal ceritaku sebagai Counter Guardian? Karena situasiku itulah, aku bisa mengingat beberapa kejadian dari alur waktu lain. Aku pernah bertarung sebagai Servant Archer melawan mereka semua dalam suatu Perang Cawan Suci di Fuyuki."
"Kamu benar-benar seorang veteran kalau begitu, senpai."
"Hahaha. Tidak juga. Di perang itu, bisa dibilang akulah Servant terlemah... aku hanyalah manusia biasa dengan sihir unik, tidak bisa dibandingkan dengan para Roh Pahlawan dari masa lalu."
...
"H-hei, Archer."
"Ah, Saber. Sudah lama kita tidak berbicara. Master selalu mengajakmu berlatih di Chaldea Gate."
"Benar. Bolehkah aku duduk?"
"Silakan."
"Aku... mungkin tak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan Master dan Kyrielite."
"..."
"Jangan merendahkan dirimu, Archer. Kamu adalah seorang ksatria hebat, yang takkan kalah dari Roh Pahlawan sesungguhnya."
"..."
"Dan aku juga menangkap beberapa hal yang menarik perhatianku. Soal ingatan mengenai alur waktu lain. Sejujurnya, aku juga mengingatnya... aku, kamu, dan semua Servant yang kamu sapa kapan hari. Kita semua pernah bertempur di Perang Cawan Suci yang sama.
"Aku juga ingat pernah menebasmu. Namun, kita malah bertarung bersama di kemudian hari. Dan aku juga melihat proses diriku menjadi Alter..."
"Hm. Cukup membingungkan memang, ingatan seorang Servant itu."
"Archer... apa nama aslimu Emiya? Shirou... Emiya?"
"... nama itu sudah kutanggalkan sejak aku menerima kontrak dari dunia untuk menjadi pahlawan, Saber. Seperti halnya kau meninggalkan identitasmu sebagai Arturia Pendragon saat mencabut Pedang Emas untuk Kemenangan yang Dijanjikan. Aku dan kamu yang sekarang, hanyalah Servant Archer dan Saber."
"Meskipun begitu, aku-
"Archer. Apa aku boleh memanggilmu... Shirou?"
"... kenapa?"
"Karena aku ingin terus mengingatnya; pemuda canggung berambut merah itu, yang kini menjadi seorang pahlawan."
"Saber, aku bukan Master-mu lagi. Pemuda itu sudah mati sejak aku menerima kontrak dari dunia."
"Aku tahu. Tapi, bagiku, kamu tetaplah Shirou Emiya."
"Heh. Lakukan sesukamu, Saber."
"Baiklah, Shirou. Fufufu. Ya, nama itu lebih cocok buatmu."
...
"... apa aku melihat Saber mencium Archer?!"
"FAAAAKEEEERRRRR!"
A/N
Kalau aku bilang romance, ya romance!
*ngacir
