Nasuverse Play FGO
Valentine Special!
Nasuverse © Nasu Kinoko & TYPE-MOON
Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks
21. Much Ado About Nothing
"Valentine's Day?" Shakespeare mengangkat wajah dari buku yang dia baca – tentunya karya dia sendiri – dan menggosok janggut British-nya. "Oh, maksudmu, hari kasih sayang di mana dua insan yang termabuk cinta saling memberikan hadiah?"
"Uh, tak usah menjelaskan sedetail itu, paman William," komentar Gudako.
Shakespeare menutup bukunya. "Lalu, kenapa kamu kemari, Master? Tentunya tidak untuk menanyakan detail tentang Valentine's Day padaku, bukan?"
"Um, aku..." Gudako menoleh kanan-kiri, takut kalau-kalau ada Servant Assassin-nya yang tak kasat mata mengikuti dengan Presence Concealment. "Takut."
Mendengar ini, Shakespeare mengangkat alisnya. Dia mulai tertarik. Shakespeare yang tertarik adalah pertanda buruk... namun Gudako tak mau mundur. Hal yang lebih buruk akan terjadi kalau ia tidak mengatakan ini pada sang Caster Merah, soalnya.
"Takut? Dengan Valentine's Day? Mengapa?"
Gudako merasa kerongkongannya jadi amat kering karena grogi. Setelah menelan ludah dengan susah payah, ia merangsek mendekati sang paman dan berbisik padanya.
Tak lama, sang Playwright tertawa terbahak-bahak. Gudako hanya bisa menggembungkan pipinya, antara malu dan kesal. Melihat ekspresi manis sang Master, Shakespeare menghentikan tawanya dan menepuk pundak gadis itu.
"Sungguh, kamu karakter utama yang menarik, Master. Baiklah, aku, William Shakespeare, akan mendampingimu selama hari itu!"
Wajah Gudako langsung jadi cerah. Bersama sang Caster yang pandai bersilat lidah, tentunya ia akan lebih aman-
"Tapi perlu Master catat, aku kurang berguna kalau terjadi konfrontasi langsung. Jadi jangan harap aku bisa banyak membantu," Shakespeare mengatakan ini dengan amat bangga.
Wajah Gudako menjadi muram lagi, seperti kartun kuno dengan frame yang melompat.
...
"Master..."
"Uu..."
"Master, master..."
"Mashu, kah? Uuh, biarkan aku tidur beberapa menit lagi..."
"Ufufufu. Kenapa kamu mengigaukan nama gadis lain, Master?"
HAWA DINGIN.
Gudako membuka matanya lebar-lebar secara refleks.
Sang Master pun menyadari bahwa ia berada di bawah bayangan seorang wanita dengan bentuk yang berbeda dari Mashu, meskipun suara mereka mirip. Juga bukan Mata Hari, karena... uhm, siluet tubuhnya berbeda.
"Kiyohime-"
Perkataan Gudako terhenti saat melihat wujud sang Berserker... yang seluruhnya berwarna coklat. Bukan hanya warna, aromanya juga seperti coklat.
"... san?"
"Selamat pagi, Master, dan selamat hari Valentine! Tentunya aku, Kiyohime telah membuatkan coklat untukmu tersayang... tapi bukan sembarang coklat, melainkan coklat yang paling istimewa! Apa Master ingat legendaku, aku yang berubah menjadi naga? Dengan teknik yang sama, aku merubah diriku menjadi coklat!"
Kiyohime tersenyum amat manis (secara literal) setelah monolog itu, dan mengedipkan sebelah matanya,
"Karena itu, makan-lah-aku 3"
Gudako terbangun di kamarnya.
"UNTUNG HANYA MIMPI! MANA AKU TIDUR DUA TINGKAT, LAGI!"
"Ah, padahal aku berniat membangunkanmu seperti pangeran berkuda putih, tapi Master bangun sendiri tepat semenit sebelum alarm," terdengar suara khas om-omnya Shakespeare. Gudako menolehinya. Dia sudah berpakaian rapi dengan senyum lebar menyungging di wajahnya. "Hohoho. Selamat pagi! Apa Master lupa? Hari ini Master memintaku menemanimu."
"Om William..." Gudako mengelus dada dan mengusap keringatnya.
"Namun, apakah tadi gerangan? Mimpi buruk kah?"
"Be-benar. K-Kiyohime-san..."
"Ah, lawannya gadis itu. Pantas saja," Shakespeare mengangguk. "Kalau begitu, lupakan malam dan sambutlah hari baru, Master. Nona Mashu sedang berperang di dapur, jadi marilah! Ini kesempatan kita pergi!"
"Perang... ah, benar," Gudako mematikan alarm di jamnya, yang menunjukkan tanggal 14 Februari. "Sekarang hari Valentine." Sang Master menyentuh dagunya. "Apa mereka akan senang jika menerima coklat dariku... ?"
"Oh! Tentu saja mereka akan amat bahagia! Terutama aku. Hohoho. Namun, Master. Para Servant gadis, dan beberapa yang lelaki sedang membuat coklat di dapur, dan tempat itu adalah medan perang, kita bisa menyebutnya Perang Makanan Manis Suci! Bahkan pria pemberani seperti tuan Heracles dan tuan Kintoki tidak berani mendekat. Kita harus mencari tempat masak lain."
Gudako meloncat dari atas ranjangnya.
"Aku tahu, aku akan minta rayshift ke Dr. Roman! Ke London sepertinya bagus. Hm, buat jaga-jaga aku juga akan mengajak om Vlad dan om Hector. Tim Ojii-san!"
Setelah Gudako berganti baju (ia mengenakan kostum Mage Association supaya sesuai setting, sesuai desakan Shakespeare), iapun pergi bersama sang Caster Merah.
Namun, mereka tak menyadari suatu aura gelap di balik pilar dekat kamar Gudako...
"Oya, oya. Master memimpikan aku rupanya? Aku takkan mengecewakannya kalau begitu."
Suara tawa yang tertutup kipas itu membuat bulu kuduk Gudako berdiri tegak.
22. Teach Me, Emiya-sensei!
Kita kembali ke beberapa hari yang lalu, dengan setting di dapur utama Chaldea... atau, wilayah kekuasaan seorang Archer berjubah merah. Bisa dibilang, ini Reality Marble-nya!
Tentu, sebagai pemilik Reality Marble, dia memiliki kuasa atas semua yang ada di dalamnya. Termasuk para tamu tak diundang.
Shirou Emiya, atau yang dikenal sebagai EMIYA, Emiya-senpai, atau Faker, menyilangkan lengan berototnya dengan wajah tegas.
"Sepertinya itu akan merepotkan."
"Aku belum bicara apapun!" Arturia Pendragon, di luar sifat rajanya, berteriak kesal pada sang lawan bicara. "Shirou, apa kau ingat, dalam beberapa hari ini akan ada event yang amat penting, dan bagaimanapun, aku harus terlibat!"
Archer melirik kalender digital di atas lemari es. "Hari Valentine kah... aku menantikan dan menakuti hari itu, untuk berbagai alasan." Dia menghela napas panjang. "Saber, kau ingin membuat coklat untuk Master?"
Arturia memundurkan tubuhnya ke belakang dengan wajah kaget, "Ukh, Clairvoyance rank C! Kamu benar, Shirou. Aku ingin membuat coklat untuk Master... tapi aku tidak tahu caranya!"
"Lalu..." Archer menolehi para gadis di belakang Arturia: Alter, Lily, Jeanne, dan Mashu. "Kalian juga mau bikin?"
Mereka mengangguk kompak.
Archer menggaruk kepalanya. "Untuk membuat coklat Valentine, bukannya akan lebih nyaman kalau minta bantuan pada sesama cewek... Kiyohime-san, Casko, nona Marie, atau nyonya Boudicca misalnya. Mereka kan jago masak."
"Mereka menghilang! Sepertinya hunting bahan coklat dengan rayshift," jawab Lily.
"Atau, menyadari niat kami dan kabur nggak mau bantu," sambung Alter.
"Walaupun pintar masak, mereka tidak pintar mengajari, tuan Emiya," komentar Jeanne.
"Ayolah, Shirou," pinta Saber. Dengan puppy-dog... atau lion-cub eyes yang sungguh di luar karakter, dan karena itu, sangat efektif pada sang mantan Shirou Emiya.
Emiya hanya bisa menelan ludah. Sebenarnya tak ada salahnya sih membantu para gadis membuat coklat. Toh, dia sedang menganggur. Tapi...
Dia punya suatu rencana rahasia untuk Hari Valentine, dan keberadaan orang lain di wilayah kekuasaannya bisa mengancam kerahasiaannya. Kalau itu sampai bocor...
Emiya bergidik, dia bisa mati dan takkan bisa bereinkarnasi...
"Tapi, ini bisa dibilang kesempatan dalam kesempitan," pikirnya. "Pasukan Saber, dan Mashu-kun ini tentunya tak punya niat tersembunyi. Kecuali Alter. Walaupun begitu, kalau aku terlihat mengajari mereka dalam beberapa hari ini, bukankah aku akan punya alibi super kuat?"
Maka, dia mengangguk.
"Baiklah. Akan kuajarkan kalian cara membuat coklat yang pantas sebagai hadiah hari Valentine," Archer menggulung lengan jubahnya. "Tapi perlu diingat, waktu kita hanya 2 hari. Jadi kuharap kalian siap."
"Baik, sensei!" jawab para peserta demo masak dengan antusias.
...
"Menurut tradisi di Jepang – tempat asalku dulu – ada 2 macam coklat Valentine. Giri choco dan Honmei choco. Giri choco diberikan kepada teman sekelas, teman seperjuangan, dan sebagainya, untuk berterimakasih atas bantuan mereka kepadamu. Sedangkan honmei choco diberikan kepada lawan jenis untuk menyatakan perasaan suka kalian. Suka yang kumaksud jelas secara romantik," Archer, yang kini menurunkan rambutnya dan memakai kacamata, menepuk-nepuk whiteboard di belakangnya. Para gadis sibuk mencatat (kecuali Alter). "Nah, karena Master adalah seorang perempuan, aku berpikir kalian akan memberikan giri choco?"
Arturia dan yang lain mengangguk antusias. Kecuali Mashu, yang dengan wajah memerah berpikir kalau ia ingin memberikan honmei choco kepada sang Master. Archer yang mengetahui ini, tak mau berkomentar.
"Kalau begitu, mudah. Untuk giri choco, kalian bisa membuatnya sesederhana mungkin-"
Arturia membanting bolpennya di atas meja. "Jangan remehkan coklat, Shirou! Untuk Master, aku ingin memberikan yang terbaik, walaupun itu giri choco!"
Yang lain mengangguk antusias lagi. Emiya hanya bisa berkedip.
"Ah, tentu saja. Yang terbaik untuk Master..." Archer berdeham. "Baiklah! Sudah cukup dengan teorinya, kita mulai saja! Aku sudah menyiapkan beberapa kilo coklat batangan (dari uang sendiri), jadi akan kupandu kalian sampai selesai!"
Proses dasar membuat coklat Valentine adalah mencairkannya, kemudian mencampurnya dengan bahan-bahan penambah cita rasa, mencetak dan memberikan hiasan, lalu terakhir membungkusnya. Untuk proses awal, para murid bisa menyelesaikannya dengan amat baik kau takkan berpikir kalau itu kali pertama mereka membuat coklat Valentine.
Mungkin, mereka memang berbakat... atau Archer saja yang terlalu pintar mengajari orang lain masak. Selain itu dia juga terlibat dalam proses kreasi cita rasa. Dia tak mau Master-nya sakit gara-gara coklatnya dimasuki hal-hal aneh.
Sesuai yang diharapkan dari Servant paling overprotektif di Chaldea.
Maka, sekarang mereka tinggal mencetak dan memberikan hiasan... atau bisa dibilang, proses yang paling menyusahkan. Untuk efisiensi, Emiya menghampiri para muridnya satu-persatu.
"Aku ingin membuat mahkota," kata Arturia.
"Itu mustahil."
Arturia menghantam meja dapur, membuat Emiya bergidik. "Shirou! Ke mana sikap pantang menyerahmu?!"
"Yang akan membuatnya kan kau. Jadi maksudku, itu mustahil buatmu."
"... tapi, demi Master..."
Lagi. Lagi-lagi sang Raja Para Ksatria memberikan lion-cub eyes-nya yang di luar karakter dan sangat moe sampai Emiya merasa akan terkena diabetes. Dia menghela napas dan mengencangkan celemeknya.
"Oke, oke. Kubantu deh."
Wajah Arturia langsung bercahaya.
...
"Aku heran, kenapa kamu bisa lebih pintar dari versi dewasamu."
"Hehehe, paradoks waktu itu hal yang membingungkan, Sir Emiya," kata Lily dengan senyuman manis. Di depannya sudah siap coklat pipih dengan hiasan kuda poni yang cukup detail di tengahnya.
Archer mendengus. "Kalau begitu, kau nggak perlu bantuanku, kan?"
Lily mengangguk. "Mm. Aku hanya ingin pendapatmu tentang karyaku ini."
Archer mengacungkan jempolnya. Soal masakan dia memang tidak bisa bertingkah sarkastik atau berbohong.
Lily hanya bisa tersenyum malu. Andai pria di depannya tahu untuk siapa coklat ini, mungkin dia takkan berkomentar begitu.
...
"Bagaimana dengan Alter..."
Alter, di pojok dapur, sedang mendendangkan lagu yang nadanya mirip Jingle Bell... dengan aura super gelap menyelimutinya. Tapi sepertinya ia amat menikmati pekerjaannya.
Archer menelan ludah. "Sepertinya dia akan baik-baik saja," gumamnya.
Diapun berpaling ke muridnya yang lain, Jeanne. Tampak sang Servant Ruler itu tengah membungkus karyanya dengan kertas kado putih kebiruan. "Ah, sudah selesai? Cepat sekali. Mungkin kamu memang berbakat, lady Jeanne."
Jeanne tersenyum malu. "Benarkah? Mungkin karena aku ini orang Perancis yang terkenal dengan coklatnya, ya."
"... sebenarnya, Belgia," pikir Emiya. "Tapi sungguh, melihat bungkusnya saja, aku yakin bahwa ini dibuat dengan penuh cinta. Pria yang menerimanya pastilah sangat beruntung."
"P-pria?!" wajah Jeanne memerah sampai ke telinga. "Apa maksudmu, tuan Emiya? I-ini kan untuk Master!"
...
"Mashu-kun-"
Kraaaak.
"A-aku belum selesai! Jangan dilihat!"
Leher Emiya berputar 180 derajat. Untungnya dia seorang Servant, yang susah mati walaupun dibunuh.
23. Please, Accept This
Setelah membereskan kekacauan akibat para Servant Coklat (... ceritanya panjang), Gudako dengan ditemani Mashu kembali ke kamarnya. Hari Valentine sudah berjalan setengah hari, dan gadis itu sudah memasrahkan diri untuk menerima coklat dari para Servant.
Yang datang pertama, sungguh tak terduga. Atau, sudah tertebak mengingat tingkah anehnya pada pertempuran Servant Coklat tadi.
Emiya, yang masih mengenakan celemek. Berkali-kali dilihat, penampilan itu seperti seorang suami rumah tangga, yang herannya pantas sekali buatnya. Dengan senyum tipis, dia memberikan sebuah kotak berwarna oranye kepada sang Master.
"Tanda terimakasih karena kamu sudah banyak membantuku, Master. Aku menyukai gaya kepemimpinanmu," Archer mengedipkan matanya.
Biasanya hal ini akan meluluhkan hati gadis yang melihatnya, bagaimana tidak dengan skill "Ex-Eroge Protagonist: Rank EX"-nya, tapi itu tak mempan pada Gudako.
"Ayah, kau memberi coklat Valentine pada anakmu sendiri? Ewwww..." Gudako bergidik. Karena kemiripannya dengan Shirou Emiya, Gudako sering menggoda Archer dengan mengatakan kalau dia ayahnya dari alternate universe.
Archer nyaris terjungkal. "Aku bukan ayahmu!"
"Kalau begitu, mau kupanggil papa? Iiih, fetish macam apa itu?"
Dahi Archer berkedut karena kesal, tapi dia menahan diri. Di Hari Valentine ini, biarkan Master menang dalam debat. Diapun menolehi sang pendamping setia Gudako, "Ini giri choco kok. Aku juga memberikannya ke Dr. Roman dan Da Vinci. Ngomong-ngomong, Mashu-kun, ini buatmu."
Mashu menerimanya dengan wajah berbinar. "Waaah, terimakasih, Emiya-senpai!"
"Ngomong-ngomong, Emiya-san," sepertinya Gudako sudah puas menggodanya. "Apa hari ini kamu akan baik-baik saja? Aku Master jadi sepertinya tidak apa-apa, tapi kamu?"
"Apa maksudmu, Master?"
Gudako dan Mashu saling menoleh. Rupanya Archer ini masih memiliki skill "Oblivious: Rank A"...
...
"Sieg-kun."
"Ah, nona Jeanne. Ada apa?"
"Ini..."
"Hm? 'St. Orleans'? Oh, coklat? Terimakasih banyak!"
"P-p-perlu kamu tahu, ini ho-honmei choco-"
"'Honmei'? Apakah ini nama jenis coklat mahal? Sumanai, aku kurang mengerti."
"U-uuuu... Sieg-kun kurang sensitif!"
"Ah, nona Jeanne..."
"Siiiigurd..."
"No-nona Byrnhild, muncul dari mana?!"
"Berani benar kamu menerima coklat dari wanita lain, Sigurd... tak akan kumaafkan, tak akan kumaafkan! Tak akan kumaafkan! Tapi, aku masih cinta... benci... cinta... benci..."
"Um nona, tombakmu-"
"BYRNHILD ROMANTIA!"
"SUMANAI!"
...
Nero, yang kini mengenakan gaun pengantin (entah dapat dari mana), lengkap dengan karangan bunga (dari coklat), berdiri dalam kegelapan kamar om tersayangnya. Hanya terlihat binar kemerahan dari pipinya.
"Ufufufu. Jika dia melihatku yg seperti sekarang, pasti dia akan... KYAAA!"
Seberkas cahaya amat menyilaukan menyerang matanya. Cahaya itu berasal dari koridor utama Chaldea, yang masuk dari pintu kamar yang terbuka. Di tengahnya tampak sosok tinggi bermata tajam, Vlad III atau yang akrab dipanggil 'Om Vlad'.
"..."
"..."
"... maaf, aku sepertinya salah kamar," dan Vlad pun berbalik.
"Tunggu tunggu tungguuuu!" Nero menyergap sang Berserker Hitam, dan dengan Strength Rank B-nya, menahan gerakan pria itu. Anehnya, Vlad tidak melawan. "Kenapa reaksimu begitu sajaaa?"
"Kau ingin aku berkata apa?" komentarnya.
"Puji aku kek, bilang, 'wow, kamu cantik sekali, Nero-chan'! Atau apa!"
"Ya, ya. Kamu cantik sekali, Nero-chan," katanya dengan amat datar.
Mendengar pujian tidak tulus itu, Nero tetap tersenyum puas. Bagaimanapun, ia sukses menarik pujian dari om Vlad yang dingin itu!
"Ups, hampir saja aku lupa tujuanku kemari. Ini, buatmu!" Nero memberikan coklat karangan bunganya kepada Vlad.
Sang Dracula menerimanya. "Coklat Valentine's Day?"
"Umu! Tapi itu bukan sembarang coklat!" Nero membusungkan dadanya. "Kamu tahu, di dalamnya aku memberikan hal favoritmu!
"Darah... perawanku 3"
...
"Hei, kalian."
Ketiga Cu Chulainn yang sedang bermain UNO seperti biasa, langsung mengambil formasi berbaris ala Celtic kuno (dengan setengah lencang kanan), mendengar suara sang shishou.
"Ada apa, Shishou?!" tanya mereka, kompak.
"Tak usah terlalu formal begitu. Sudah sering kubilang, di konflik ini posisi kita setara, sama-sama Servant," Scathach tersenyum. "Terima ini. Sekarang kan hari Valentine. Bukannya aku peduli sih, tapi Servant perempuan lain melakukannya."
Ketiga Cu pun menerima sebuah coklat berbentuk hati yang berukuran cukup besar. Bentuknya memang amat klise, tapi ini sudah cukup membuat mata ketiga orang itu berkaca-kaca.
"Shi-shishou, ini-!"
"Tapi, kalau bentuknya begitu saja kan membosankan," Scathach berjalan mundur, dan memunculkan Gae Bolg miliknya. "Bersiaplah!"
Ia melompat, dengan prana memancar deras darinya...
"EHHHHH?!"
"GAE BOLG ALTERNATIVE!"
Jlebbbb!
Lemparan tombak itu menusuk bagian tengah coklat dan nyaris membelahnya jadi 2 bagian. Scathach menyeringai, lalu berlalu. "Bagi yang adil, ya! Dan jangan lupa kembalikan Gae Bolg-nya."
Setelah sang shishou pergi, ketiga Cu saling menoleh. Mereka lalu mencuil coklat itu dengan ragu. Di masa mereka latihan dulu, Scathach cukup pandai memasak, jadi mereka percaya dengan karyanya ini. Tapi...
"... pahit..."
...
Andersen melepas headsetnya, dengan sebelah alis terangkat. Wajahnya tampak malas. "Pesta teh? Sudah kubilang, aku sibuk-"
"Sibuk menulis cerita dengan ending buruk, kan?! Hmmmmph!" Alice menggembungkan pipinya.
"Alice, Alice..." Jack menarik-narik lengan gaun Alice. "Apa Mama juga akan datang?"
Yang dimaksud 'Mama' oleh Jack tentunya adalah sang Master... atau, dengan alasan anehnya, Hassan. Alice menyukai Master, tentu saja. Tapi, Hassan...
"Um, aku tidak tahu, Jackie. Ah, bagaimana kalau kita undang juga om Golden?"
"Om Golden... ah! Aku saja yang panggil, aku saja!"
Dengan itu, Jack pun melesat pergi. Om Golden yang dimaksud, tentu saja Kintoki. Dia memang jadi Servant favorit mereka berdua, selain Atalanta dan Karna.
Kesempatan.
"Andersen..."
"Apa lagi?"
"Ini..." Alice memberikan sebuah bungkusan hijau dengan motif partikel salju.
"Coklat? Ah..." Andersen tersenyum. Ini sebuah senyuman tulus. "Terimakasih."
...
"Raja Para Pahlawan!"
Teriakan Alter menggema di kamar Gilgamesh yang (terlalu) luas itu, mengganggu sang raja dari kesibukannya menganggur (baca: menikmati anggur. Ini sebuah tindakan berseni, anjing kampung!). Biasanya mendengar suara itu, sang Raja Emas akan langsung bangkit dengan penuh nafsu, tapi tidak dengan versi yang ini.
"..." Gilgamesh pura-pura tidak mendengarnya, namun sebuah tendangan tepat ke bola emasnya (yang original) menyadarkannya dengan air mata dan rasa sakit. "Gwaaaah!"
Untungnya hari itu Gil memakai celana dalam originalnya... yang dari emas. Dia sudah diperingatkan si faker untuk berhati-hati sih. Bukannya takut, hanya saja itu benda paling vital (secara literal), jadi tentu saja dia melindunginya! Sepadan sudah dia menahan rasa tidak nyaman dan keringatnya sejak pagi.
Alter, tampaknya tak merasa sakit setelah menendang emas itu. Ia menyodorkan sebuah bungkusan kecil di tangannya secara paksa. "Ini."
Gil menghela napas pasrah dan membukanya. Di dalamnya ada... burger coklat. Bukan warnanya saja, tapi aroma dan sensasi sentuhannya juga.
"Apa ini?"
"Apa matamu buta? Ini coklat Valentine."
Peringatan si faker kemarin ada benarnya! Gilgamesh kembali mendapat firasat buruk, tapi dia bertahan. Seorang raja tidak boleh gentar! "Ini burger."
"Matamu benar-benar buta?"
"Makanya! Mana ada coklat berbentuk burger! Atau, burger berbentuk coklat! St. Valentine bisa berguling-guling di dalam kuburnya jika mendengar ini!"
Ctik.
Guratan otot muncul di dahi Alter... dan ia merampas bungkusan dari Gil. Si Raja Emas hendak berkomentar saat sebuah benda tak dikenal menyerbu mulutnya.
"Makan. Ini."
"Perempuan, apa kau gila?!" tapi itu hanya keluar sebagai, "GURKKKK!" seperti banteng langit saat dibantai Gilgamesh dan Enkidu.
Di luar dugaan, rasanya cukup enak. Walaupun sedikit asin... mungkin karena air mata sang raja.
...
"Uhhhh..."
"Mfufufu. Kenapa, saking terharunya menerima coklat dariku, kamu tak bisa berkata apa-apa?" Tamamo tertawa dari balik lengan kimononya. "Eh, darling?"
"Ummm..."
"Eh? Kamu ingin aku menyuapkannya padamu? Ei, kamu ini, manja sekali!"
"Errrr..."
"... eh, kamu tak apa-apa kan? Tatapan kosongmu (bukannya aku bisa melihatnya di balik kacamatamu sih) membuatku khawatir..." Tamamo melambai-lambaikan tangannya di depan wajah lawan bicaranya, Kintoki.
"Kamu... siapa?"
DEGGGG!
Tamamo seperti tersambar petir dari Golden Spark. Ia pun menolehi 'kembarannya', Tamamo Cat, yang duduk-duduk di dekat mereka. Air mata menggenang di pelupuknya. "A-ada apa dengan darling?"
"Nya? Bukannya dia baru dari pesta tehnya Alice-chan? Mungkin di sana dia kekenyangan coklat?"
"Pesta teh..." Tamamo memiringkan kepalanya... tak lama, telinganya bergerak. "Ah! Aku ingat, pesta tehnya Alice kan menggunakan Reality Marble, Nameless Forest yang membuat target di dalamnya melupakan eksistensinya!
"Dasar buku loli! Grrrr, berani-beraninya menggoda darling!"
"Nya, original," Tamamo Cat mencolek Casko. "Kata om William, untuk melepaskan efek dari Nameless Forest, kamu harus memanggil nama korban."
"Eh? Semudah itu? Baiklah. Kintoki-kuuuun?"
Gyuuut.
Untuk membuat Kintoki mudah mendengarnya, Tamamo mendekatkan dirinya kepada si Berserker emas, dan menempelkan... asetnya pada lengan pria itu.
"GYAAAAH?!"
Kontan Kintoki loncat menjauh. Wajah dan badannya memerah... apa Mad Enhancement-nya aktif karena merasa terancam?!
"K-kitsune! Jauhkan di-dirimu dariku!"
"Hmm? Ingat pada eksistensi diri dengan dadaku? Mou, Kintoki-kun sudah puber rupanya 3"
...
"George-san, ke mana saja kamu?" tanya Kojirou.
"Aah, aku mengabadikan momen-momen spesial hari Valentine," jawab sang Santo Penakluk Naga sambil merebahkan dirinya di seberang samurai itu.
"... kau nekat juga ya," Kojirou meneteskan keringat dingin. Mengingat lawannya adalah para Servant yang tidak stabil dalam pikiran (dan kekuatan), mengherankan kenapa si penggila fotografi itu bisa kembali dengan selamat setelah memotret mereka.
Drap drap drap. BRANGGGG.
Pintu ruang santai Chaldea terbuka dengan kasar, seolah si pembuka tidak sabar menunggu proses membuka otomatisnya. Namun, Kojirou dan George sudah biasa menghadapi ini.
"Akhirnya ketemu juga!" St. Martha, anggota lain dari tim 'Penakluk Naga', muncul dengan terengah-engah. Ia menghampiri dua temannya itu dan menyodorkan bungkusan berbentuk hati. "Untuk kalian."
"Ah, terimakasih," jawab George, sopan.
"Coklat Valentine? Aku merasa tersanjung," sambung Kojirou. Dia langsung membuka bungkusan itu, yang isinya adalah bermacam biskuit.
Perkataan itu membuat wajah Martha memerah. "Jangan salah sangka, Sasaki. Ini giri choco, kalau aku tidak salah dengan istilah kalian-"
"Tapi punyaku banyak yang berbentuk hati. Yakin tidak ada maksud khusus?" komentar Kojirou dengan senyuman usil.
Beberapa detik kemudian, Kojirou pingsan dengan kotak hadiah di dalam mulutnya. George tentu saja mengabadikan momen itu sambil tertawa lepas.
...
Gudako seperti hidup dalam situasi yang memungkinkannya mati kapan saja. Setelah Emiya, silih berganti para Servant cewek menghadiahinya coklat. Beberapa memberikan coklat yang kelihatannya normal (walaupun dekorasinya mengagumkan), tapi ada yang memberikan benda... misterius. Untungnya ia sudah menerima Elixir Anti Sakit Perut dari Paracelsus tadi.
Ngiing...
Pintu masuk kamarnya terbuka lagi, dan kali ini menampakkan wujud Kiyohime. Tentu saja, Gudako menyadari perasaan gadis itu padanya dan ia merasa tersanjung... walaupun caranya agak menyeramkan.
Lagipula, mimpi buruknya tadi berhubungan dengan si naga jadi-jadian itu...
"Ki-Kiyohime-san."
"Master," sapanya balik. Mulutnya masih tersembunyi di balik kipas. "Tebak aku mau apa?"
"Coklat Valentine kan? Terimakasih..." Gudako mengamati Kiyohime dari atas ke bawah. Syukurlah, sepertinya ia tidak mengubah dirinya jadi coklat, atau melapisi dirinya dengan coklat. Dua-duanya alternatif terburuk. "Umm, di mana?"
"Coklat? Tidak mungkin dong aku memberikan benda semurah itu kepada Master tersayang. Maka, aku memberikan..." Kiyohime mengedipkan matanya, dan wujudnya langsung dikelilingi pita merah. "Diriku sendiri 3"
"KYAAAAAA!"
...
"Senpai, senpai!"
Mendengar suara itu, Gudako perlahan membuka matanya. Shock akibat serangan malam Kiyohime itu berhasil membuatnya pingsan seketika... eh, pingsan?!
Gudako melompat dari ranjang untuk mengamati dirinya sendiri. Bajunya masih rapi, rambutnya masih terikat erat, dan tak ada cairan mencurigakan di tubuhnya. Ia menghela napas. Untunglah, Kiyohime tidak melakukan apa-apa kepadanya saat pingsan...
"Kenapa, senpai?"
"Tidak apa-apa. Hanya mimpi buruk (yang jadi kenyataan), kok."Gudako membalikkan tubuh dan tersenyum ramah kepada sang partner.
"Ah, kalau begitu..." Mashu bergoyang-goyang di tempat, dan menarik sesuatu dari balik badannya. Itu adalah sebuah cake coklat berbentuk hati yang imut. "Selamat hari Valentine, senpai."
Gudako tertegun. Ini manis sekali! Seperti yang ia harapkan dari Mashu... tunggu. Ada tulisan aneh di atas cake itu...
"... Matthew? Siapa ini?"
"Um, ya, senpai. Namaku sebenarnya adalah... Matthew."
Kontan Gudako teringat seorang admiral berwajah mirip ikan, dengan kata-kata legendarisnya.
"IT'S A TRAP!"
"Tunggu, senpai, apa yang kamu pikirkan?!" protes Mash... Matthew.
...
Ngomong-ngomong, kepada siapakah Gudako memberikan coklatnya (yang paling istimewa)?
"Pro... fe... soorrrr!"
Tubuh ringan Gudako menyergap Nikola Tesla yang sedang berbicara dengan Hassan.
"Ah, Master. Ada apakah gerangan?"
"Profesor, ini buatmu!" dengan senyuman lebar dan wajah berseri, sang Master mengeluarkan sebungkus coklat. "Honmei choco, loh!"
Hassan, yang sudah mendengar soal 2 jenis coklat dari Jing Ke, mengangguk dengan hormat. "Master memang luar biasa, tanpa ragu menyatakan perasaannya!"
"HAHAHA. Kuterima perasaanmu ini dengan bangga, Master!" Tesla mencium dahi sang Master. Dari sekian banyak Servant, dia memang yang paling 'berani' melakukan kontak fisik dengan Gudako. Ini membuatnya tersenyum semakin lebar.
"Om Hassan juga, ini buatmu!"
"Ah, terimakasih, Master."
24. POWER, GET THE POWER!
"Ngomong-ngomong, Emiya-san. Apa kamu akan baik-baik saja? Aku kan Master, jadi sepertinya tidak apa-apa, tapi kamu?"
Archer, alias Shirou Emiya, merasa seperti kembali jadi dirinya waktu muda yang idiot. Padahal, Master sudah memperingatkannya, tapi...!
"Shi-Shirou, ini..."
Arturia berada di depannya, dengan sebungkus kotakan berwarna biru royal, warna favoritnya. Emiya tahu apa isi kotak itu, tapi... "Kapan dia membuatnya?"
"Aku menyisihkannya sedikit dari mahkota untuk Master. Ta-tapi, jangan salah! Hasilnya tetap seenak aslinya!" jawab Arturia. Wajahnya mulai memerah. "Dan, um, te-tentu saja ini giri choco."
Archer tersenyum tipis, dan menerima hadiah itu. "Ah, terimaka-"
"TUNGGU!"
Tiba-tiba muncullah Lily, dengan AGI rank B-nya, membuat scene romantis itu terhenti. Di dahi Saber langsung muncul guratan otot. Berani-beraninya...! Sekarang Saber mulai mengerti kenapa Archer membenci Shirou.
"Jangan mau tertipu, diriku yang lain!" kata Lily. Matanya berkaca-kaca. "Sir Emiya... dia sudah memberi coklat kepada Master!"
Ctarrr!
Saber merasa dirinya tersambar Golden Spark-nya Kintoki. Ia menolehi Archer dengan gerakan leher kaku seperti robot.
"... apa ini maksudnya, Shirou? Kamu... berani-beraninya kamu mengincar Master?"
Tapi si tersangka merasa tak bersalah. "Aa, memangnya kenapa? Aku juga memberi coklat ke Mashu-kun dan yang lain kok-"
"Yang lain?!"
"Emiya-senpai! Ini untukmu karena sudah membantuku membuat coklat! Senpai sangat menyukainya," Mash... Matthew muncul dengan sebungkus biskuit.
"Emiya-han!" Okita menyusul dengan makanan manisnya. "Terimakasih! Nobunaga-sama sangat menyukai kue yang kubuat dengan resepmu!"
"Ah, tuan Emiya. Ini tanda terimakasih atas bimbinganmu," sambung Jeanne.
"Wah wah. Panen besar?" tanya Medusa. Ia tersenyum usil, "Jangan dihitung dulu, karena dariku kan belum... Shirou."
"Tuanku Emiya... buatmu..." Byrnhild menyodorkan coklatnya yang berbentuk kacamata.
"Oi bocah," Medea muncul dengan teleportasi. "Buatmu."
"... apa-apaan ini, Emiya?" komentar Alter dengan wajah berkedut marah. Di tangannya ada sebungkus burger coklat (kecil dari yang ia berikan ke Gilgamesh). "Aku ingin memberikan ini padamu, tapi sepertinya kau sudah dapat banyak, ya?"
"Lima... enam... delapan?! Sir Emiya, kamu yang terburuk!" Lily berlari dengan air mata berderai.
"... Shirou?"
"Um, apa di sini ada Servant class Lawyer?"
"TENGGELAM DALAM HAREM-MU DAN MATILAH!" Saber mengeluarkan Excalibur-nya, dan bersiap melancarkan beamu. "DASAR EROGE PROTAGONIST!"
"NANDESAAAA?!"
- to be continued? -
A/N
Selesai dalam 2 hari! Jadi, sori kalau kurang lucu... mengejar deadline hari Valentine sih!
Vaynard, out!
