Pemanasan buat menulis lanjutan When I See You Again.

Aku pecah jadi 2 chapter, chapter selanjutnya rilis besok! (DOOONGGG)


Nasuverse Play FGO

Nasuverse © Nasu Kinoko & TYPE-MOON

Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks

Chapter VIII


, Part 2

Saat Emiya membuka matanya, dia merasa badannya jadi lebih ringan.

Biasanya badannya seberat baja karena Origin Pedang-nya, tapi saat itu badannya terasa seperti manusia lagi. Dia bangkit dari ranjang, namun kakinya menyentuh lantai lebih cepat daripada biasanya.

Si Archer merah hanya mengangkat bahu untuk menghilangkan pemikiran aneh itu.

Setelah berbagai kegiatan di berbagai alur waktu, Gudako dan para Servant yang ada di Chaldea seolah tak pernah berhenti menyibukkan diri. Baru hari ini Emiya bisa bersantai, tapi sepertinya dia akan disibukkan seperti biasa di dapur.

"Meskipun begitu, apa Servant bisa kecapekan? Walaupun END-ku rank D sih," pikirnya sembari beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Wajahnya pun menatap balik dari cermin; wajah yang polos, rambut acak-acakan berwarna oranye, tatapan mata tenang yang menyimpan masa lalu kelam itu, dan kulit kremnya yang sehat… yah, seperti biasa-

Tunggu.

Itu… Shirou Emiya, kan?

"NANDESAAA?!"

Bahkan suaranya sudah tidak nge-bass sekeren Junichi Suwabe, tapi suara cemprengnya Noriaki Sugiyama!

…..

"BWAHAHAHAHA!"

Tawa terbahak-bahak menyambut Archer begitu menjejakkan kaki di ruang makan (yang lebih mirip café) di bangunan Chaldea. Pelakunya tak lain tak bukan, dua orang yang sangat dikenalnya dari Perang Fuyuki.

"Hahaha... wow," Cu Chulainn menyeringai dengan jari di bawah dagunya. Dia masih berkeringat setelah 'latihan' dengan sang shishou. "Penampilan yang nostalgik, oi bocah Pembela Kebenaran."

"Kau benar, hahaha. Sungguh pemandangan yang membangkitkan kenangan," komentar Kojirou Sasaki, sambil menyesap teh hijau layaknya pria Jepang sejati.

"DIAM! Kalian'kan pelakunya?!" Emiya tanpa basa-basi menuding mereka berdua. Karena kostum Archer-nya kebesaran, dia terpaksa men-trace kostum baru yang lebih kecil (alias seukuran dirinya di masa lalu). Terlebih, entah kenapa rambutnya tak bisa ditegakkan. Dia pun terpaksa mengikatkan bandana agar rambutnya bisa tegak. Sehingga penampilannya sekarang seperti Shirou Emiya yang mengenakan kostum Archer (plus bandana). Konyol.

"Kenapa dongkol begitu, bukannya kau kembali jadi muda? Itu membuat iri beberapa orang, tahu," komentar Cu… merujuk pada shishou-nya, yang wajahnya saja muda tapi perangainya seperti tante-tante. Tante immortal.

"Benar. Emiya-dono, syukurilah dirimu yang awet muda. Jangan sampai menyesal di kemudian hari seperti nyonya tua itu, ahahaha-"

Sebuah pisau pelangi tiba-tiba menancap di dahi Kojirou. Tapi itu hanya bayangan! Dengan teknik "Eye of the Mind"-nya, dia berhasil menghindar di saat-saat terakhir! Bahkan teh di tangannya tidak tumpah barang setetes pun.

"Panjang umur buatmu juga, Caster," si samurai mengangkat cangkirnya seolah mengajak orang yang hampir membunuhnya tadi bersulang.

"Cih. Kalau kau lelaki sejati, bayar penghinaan tadi dengan nyawa, Sasaki!" teriak Medea – nyonya tua yang dimaksud barusan.

"Oho, tidak bisa, 'Master'. Aku masih sayang nyawa, terimakasih banyak."

Medea memelototi si samurai, tapi sial, ia tidak memiliki Mystic Eyes-nya Medusa yang bisa mengutuk pria itu, atau punya Shiki Ryougi yang bisa membunuh seketika. Ia lalu memalingkan wajah dan menatap Archer, "Ara. Bocah Pembela Kebenaran. Penampilan yang membangkitkan kenangan buruk."

Archer hanya menghela napas panjang, "Ya, ya. Ejeklah aku sepuasnya." Lalu dia menuding Caster dari Perang Fuyuki itu. "Medea! Ini ulahmu kan?! Dengan kemampuanmu, membuat ramuan yang membuatku jadi seperti ini mudah!"

Medea memiringkan kepalanya, "Buat apa aku membuang bahan ramuan yang langka, demi kau? Ogah. Lebih baik kupakai untuk menaklukkan Saber-chan."

Jawaban jujur itu entah menusuk hati Archer layaknya Rule Breaker, "Cih, kau benar. Tapi kenapa aku merasa terhina seperti ini..."

"Lagipula, kenapa kau tak suka penampilanmu yang seperti ini? Kau tampak segar, Emiya," tanya Medea. Dalam hati, ia iri padanya. Sebenarnya mudah saja sih membuat ramuan pengurang umur untuk diminumnya sendiri, tapi di Chaldea sudah ada dirinya di masa muda... atau Medea Lily, kalau kata orang-orang. Dan itu membuatnya kesal luar biasa.

Archer menggelengkan kepala dan menggenggamkan tangannya di depan dada. "Melihat penampilan ini, aku jadi ingat akan semua kebodohan dan juga naifnya aku di masa muda... dan betapa bodohnya wajah ini," dia membuka matanya, sepasang mata yang belum sedingin besi itu. "Kalian juga, jika melihat kesalahan terbesar kalian, pasti akan memalingkan wajah, bukan?"

Mereka bertiga mengangguk, tapi...

"Mengatakan kalimat bermakna dalam dengan wajah itu, tak bisa kuanggap serius," komentar Kojirou. Cu dan Medea mengangguk lebih kencang, sambil menahan tawa mereka.

"Brengsek kalian semua."


26. Reminiscence

Setelah selesai masak untuk sarapan (tugas harus jalan terus) dan menitipkan dapur ke Tamamo, Emiya berkeliling Chaldea untuk mencari tahu pelaku keusilan ini, sekaligus mencari ramuan penawar.

Tujuan pertamanya, tentu saja, kamar Master Gudako. Emiya memprediksi hal-hal buruk akan menimpanya kalau berpenampilan begini (untuk berbagai alasan), jadi untuk jaga-jaga dia ingin meminta perlindungan kepada sang Master.

Pintu kamar itu terbuka, dan dia bisa mendengar suara Gudako beserta Mashu dari dalam. Sambil menghela napas, dia melangkah masuk, "Master, aku masuk, ya."

"Ya, silahkan." terdengar jawaban lembut dari Mashu.

Archer melangkah masuk dan melihat Gudako yang sedang berbincang santai dengan Mashu. Melihat sosok hitam dan merah itu di sudut matanya, sang Master bertanya. "Kenapa, Emiya-san-"

Kedua mata Gudako terbelalak melihat sosok itu.

"PA-PAPA?!"

"Ghuh?!"

Tanpa sempat Archer bereaksi, Gudako berlari dan memeluknya! Mashu hanya bisa melongo. Antara kagum senpai-nya bisa mengalahkan kecepatan reaksi seorang Servant, atau... perasaan lain yang aneh di dasar perutnya.

Yah, para Servant Chaldea, terutama yang mengenal Shirou Emiya, sering bercanda kalau Gudako itu sebenarnya anak dari cowok itu. Gudako malah senang mendapat candaan itu, dan sering memanfaatkannya dengan nempel-nempel si om ganteng.

"Papa, papaaa! Kok bisa ada di sini?"

"Anak perempuan zaman sekarang, bertumbuhnya cepat sekali..." pikir Emiya, merasakan sepasang benda empuk menyentuhnya – tunggu. "O-oi! Sudah sering kubilang, aku bukan ayahmu!"

Saking senangnya bisa memeluk Emiya, Gudako tak menyadari ada yang aneh. Seperti, kenapa badan kekar pria itu… sepertinya menciut? Dan kenapa suaranya terdengar cempreng? "Eh... tunggu, Emiya-san?" Gudako melepaskan pelukannya… dan matanya terbelalak. "Whoa, kamu menciut? Eh, bukan! Kamu kembali jadi Shirou Emiya!"

Archer mengusap lehernya, "Ulah iseng seseorang, kurasa."

"E-Emiya-senpai, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" tanya Mashu kemudian.

"Seseorang menyelipkan ramuan untuk mengurangi umurku, sepertinya," jawab Archer. "Aku ingin mencari pelakunya dan memaksa dia mengembalikanku seperti semula."

"Oh. Itu masalah besar, kan?" tanya Gudako sembari bangkit. "Tapi, ini kan urusan sesama Servant, kenapa kamu kemari?"

"Itu..."Emiya memandang Gudako, dan oh, sungguh di luar dugaan, pipinya merona. "Um, Master, ini memalukan, tapi aku minta kau menemaniku. Beberapa Servant pasti akan memanfaatkan kondisiku yang seperti ini."

Gudako mimisan seperti air mancur.

"Se-senpai?!"

...

"Baiklah! 'Operasi Mengembalikan Emiya-san', dimulai!"Gudako mengangkat kedua tangannya. Setelah berbagai event, raid boss, dan farming yang melelahkan, kejadian kecil seperti ini membuatnya lebih bersemangat. "Nah, enaknya mulai dari mana, nih?"

"Uh, Master, apa kamu perlu berpenampilan seperti itu?"

"Hmm, memangnya kenapa?" tanya Gudako sambil menoleh, membuat rambut yang digerainya melibas lembut. Ia mengenakan pasangan kemeja dan rok coklat yang mirip seragam sekolah, dan stoking hitam panjang yang menutupi kaki jenjangnya.

Ini membangkitkan berbagai kenangan tidak mengenakkan bagi Emiya. Dan sukses mengirim kembali Mashu ke Takhta Para Pahlawan saking manisnya sang Master, sehingga ia tak bisa ikut.

"Kenapa, Archer? Ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Gudako sambil mengangkat ujung roknya dan memandang sekeliling.

Emiya menelan ludah. Kalau saja Gudako bukan Master-nya, dia akan menyergap – tidak, tidak, dia menggeleng keras. Bagaimanapun, wajah Gudako terlalu mirip Shirou Emiya. Dia merasa akan melangkahi beberapa batas yang tak boleh dilewati kalau sampai bereaksi lebih dari ini.

"Hehe, gimana, Emiya-san? Sudah mirip Hakuno-san, tidak?"

"No comment, Master," jawab Archer sambil berlalu.

"Mou, Archer dingin banget!" Gudako menggembungkan pipinya.


27. The Case of Shrinking Emiya

"Bicara tentang ramuan, para Caster adalah tersangka utamanya dengan teknik 'Item Construction' mereka," kata Gudako, yang kini mengenakan kacamata gaya.

Archer berusaha tidak memandang sang Master, "Benar. Tapi, Medea bukan pelakunya. Aku sudah bertemu dengannya tadi."

"Medea yang kecil?"

"Aku ragu. Dia tidak punya motif."

"Siapa dong kalau begitu... ah! Tuan Hohenheim!"

Paracelsus von Hohenheim, yang lewat di depan mereka dengan berbagai perkamen dalam pelukannya, menoleh. Melihat sang Master, dia tersenyum... tapi senyumnya membeku waktu melihat Archer.

"Ah. Penampilan yang mengingatkan pada kesalahan terbesarku," gumamnya. Dia teringat pada seorang Master dari Perang yang diikutinya; Emiya muda memiliki pembawaan yang mirip anak naif itu.

"Tuan Hohenheim! Kamu tahu soal ramuan pengurang usia?" tanya Gudako, langsung.

"Ah... Master Gudako tampak manis sekali hari ini," Paracelsus tersenyum kembali, menanggapi semangat gadis itu. "Oh, maaf. Untuk menjawab pertanyaanmu, tentu saja aku tahu mengenai ramuan pengurang usia. Apa tuan Emiya ini terkena efek ramuan itu?"

Gudako mengangguk penuh semangat.

"Hrm. Sepertinya bukan kau pelakunya," komentar Emiya.

Paracelsus tersenyum tipis. "Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Apa Master menemuiku karena ingin mengembalikan tuan Emiya seperti semula?"

"Benar! Walaupun aku suka banget wujudnya yang sekarang, tapi Emiya-san yang tidak jangkung dan berotot, terasa aneh. Kurang ganteng, lah."

"Itu masalahmu?!" pikir Emiya sambil beringsut menjauh.

"Baiklah, akan kubuatkan penawarnya. Tapi untuk itu aku butuh Jantung Iblis dan beberapa Bayi Homunculus... juga Api Honnouji untuk memanaskannya."

"Uhh, itu semua ascension material yang sangat langka. Aku butuh jantung untuk skill Jeanne Alter... dan lagi, Api Honnouji? Event GUDAGUDA kan sudah lama sekali," gumam Gudako. Ia menolehi Archer merah itu, dan tersenyum manis sambil menepuk pundaknya. "Ne, lupakan saja ini, Emiya-san! Toh kamu akan kembali ke wujud asalmu setelah kira-kira 10 tahun!"

"ENAK SAJA!"

...

"Api Honnouji?" Nobunaga, dengan senbei di mulutnya, menoleh dari game 'Sengoku Musou' yang saja ia memainkan karakter Nobunaga Oda. "Ada, ada. Buat apa, Master?"

"Untuk berbagai alasan, aku membutuhkannya buat Emiya-san."

Nobunaga menolehi Emiya, yang menyilangkan lengan sambil mencoba bertampang cool seperti biasa, hanya untuk menampakkan wajah Shirou Emiya yang polos. Nobunaga mendengus, "Hahahahaha! Kenapa denganmu, Emiya-dono?"

"Oh, diamlah, Raja Iblis. Mau membantu atau tidak?"

"Kau, sifat sokmu tetap ada walaupun penampilanmu begini!" Nobu mencubit pipi Emiya, gemas. Cowok itu langsung lompat menjauh, diiringi tawa khas Nobunaga. "Tapi tak apa, aku dan Sou-chan sudah sering merepotkanmu. Walaupun Raja Iblis dari Langit Keenam pun, aku harus membayar pengabdian anak buah kan? Akan kuambilkan Apinya. Butuh berapa ribu?"

"... satu saja cukup, kali! Eh, tapi apa kamu bisa menghitung jumlah api?" kata Gudako.

Tanpa menjawab, Nobunaga menghilang ke dalam ruang penyimpanan pribadinya, dan terdengarlah suara barang berserakan dari sana.

Sepertinya ini akan berakhir baik-baik saja...

Sampai Okita Souji muncul dengan wajah gembira. Mengenakan kimono pink favoritnya dan sebuah kantung kertas coklat yang sepertinya berisi snack tradisional Jepang di pelukannya. "Nobunaga-sama! Roman-dono menemukan tempat yang bagus untuk minum teh, apa anda mau keluar bersamaku-"

Okita menolehi Emiya sejenak, dan... terpeleset sampai menabrak tembok.

"Gafuh?!"

"O-Okita-san!?" tanya Gudako, khawatir. Okita itu samurai andal, kenapa tiba-tiba kehilangan konsentrasi seperti itu? Ia menghampiri sang Servant, dan membantunya berdiri.

"Uuuh..."

"...mulutmu berdarah. Apa kau baik-baik saja?" tanya Emiya sambil menjulurkan sapu tangan kepada Okita... yang segera mematung seperti kena Mystic Eyes-nya Medusa.

"E-eeeh-aaa-aku tak apa-apaaa..." jawabnya kaku. Ia menerima sapu tangan itu dan mengusap mulutnya cepat-cepat. Namun begitu menyadari milik siapa sapu tangan itu, ia meloncat mundur, wajahnya memerah dahsyat. "Ti-tidak!"

"Ke-kenapa?"

"Ma-maa-maksudku, aku tidak baik-baik saja! Dadaku terasa sesak dan jantungku berdebar begitu kencang, aa-aku juga merasa panas..." ia memandang Emiya, dan kali ini, hidungnya yang berdarah. "Aku... apa penyakitku kambuh?"

Gudako memandangnya dengan mata kosong. Dia tahu ini akan terjadi.

Emiya menolehi sang Master. Bukan salahku, kata pria itu dengan tatapannya.

Gudako membalas dengan dingin, ya, ini salahmu.

"Tu-tuanku, aku-"

Prangg!

Dan layaknya adegan klise lainnya, Nobunaga kembali bersama Api Honnouji yang dimasukkannya ke dalam toples kaca (entah bagaimana caranya)... benda itulah yang jatuh ke lantai dan pecah berantakan.

"No-Nobunaga-sama?!" Okita buru-buru meloncat balik dengan teknik "Shukuchi"-nya.

"A-aah. Kupikir kau abdiku yang setia, Emiya. Tapi ternyata kau sama saja seperti Mitsuhide, menusukku dari belakang! Bukan, menikung!" dagunya bergetar saat mengatakan itu. Ia menolehi Okita, "Dan kau, Sou-chan! Apa maksudnya ini? Bukannya kau memiliki aku?!"

"I-ini..." Okita menolehi Emiya, dan mimisan, lalu menolehi Nobunaga, dan darah kembali mengalir dari mulutnya. Ia pun tumbang bermandikan darah. "Maaf, Hijikata-san... aku tidak bisa lagi..."

"O-Okita-san?!"

"Cih, kau kabur ke alam lain! Tapi, tak apa..." Nobunaga menurunkan topinya, dan aura tengkorak raksasa berwarna merah muncul di belakangnya, berikut barisan senapan kuno. "Kau tak perlu melihat wujud asliku! Bersiaplah, pengkhianat! TENKA FUBU-!"

"Oi, oi!"

...

"Barusan itu lebih seram daripada melawan Pilar Iblis," kata Gudako. Rambutnya acak-acakan dan pakaiannya dikotori abu akibat duel Reality Marble yang sama-sama menggunakan api tadi. Untungnya, mereka berhasil kabur gara-gara Nobunaga kebanyakan menggunakan Noble Phantasm, dan menciut jadi wujud chibi.

"Apa masalah Raja Iblis itu?" gumam Emiya, kesal.

"Kamu," pikir Gudako. "Aura ex-eroge... bukan, eroge protagonist-mu meluap-luap, tahu. Semoga Okita-san tidak ingat apa yang terjadi."

"Bagaimanapun, kita harus segera mengatasi ini, Master-"

Tiba-tiba Archer merasa seperti tikus di hadapan ular. Gerakannya membeku... saat jemari nan lentik membelainya dari belakang.

"Menurutku, yang begini lebih bagus..." suara itu terdengar seperti desisan ular. "Eh, Shirou?"

"Me-Medusa!" kata Gudako, kaget.

Rider dari Perang Fuyuki itu menoleh kepada Master-nya, dan tersenyum dingin. Namun, kepada Archer, ia menyunggingkan senyuman penuh hawa nafsu... layaknya menghadapi seekor mangsa.

"Ara, Master. Apakah hari ini ulang tahunku? Kamu memberikan hadiah… yang sangat indah…"

Emiya menelan ludah, lalu berkata dengan suara bergetar, "Ri-rider, bisa kau lepaskan aku?"

"Ooh, tidak bisa," Medusa menyentuh dada Archer dengan jarinya, dan membuat jalur ke perut pria itu dengan sedikit tekanan. "Ne, Shirou. Kamu membuatku cemburu. Berkencan dengan cosplay, ini perlakuan spesial dari Master, kan? Tidak adil..."

"Kau salah, Rider-"

"YUSH!"

Dengan kecepatan seperti komet, Medusa sudah menghilang dengan menyeret Archer menggunakan Strength Rank B-nya.

"NANDESAAA?!"

Gudako hanya bisa menatap mereka yang sudah menjadi komet hitam dan merah itu, dan mengangkat bahunya, "Yah, selamat bersenang-senang deh, Emiya-san."

"Master, teganya kau!" teriaknya, kesal. Tapi, tak ada waktu untuk protes. Dia menyadari ke arah mana Medusa ini berlari: ke kompleks kamar para Servant wanita. Kalau dia sudah terjebak di sana, dia takkan bisa kabur...

Namun, Archer adalah Archer. Pengalaman bertarungnya di berbagai medan perang membuat dia siap dengan situasi apapun.

"Fufufu. Kita cari tempat yang tenang untuk 'bereuni' yuk, Shirou," kata Medusa, manja.

"... kau pikir aku mau dipermainkan seperti ini?" tanya Archer. Tapi, sang Rider mengabaikan ancamannya, mungkin meremehkan dia seperti halnya meremehkan Shirou. Itu... membuatnya lebih kesal daripada yang mau diakuinya. "Trace on."

Rule Breaker muncul di tangan Archer, dan dia langsungmenancapkannya di paha Medusa.

"Kyaaah!" dan anehnya, sang Rider berteriak seperti gadis perawan.

Serangan itu membuatnya berhenti mendadak seperti boneka yang dipotong benangnya.

Kedua orang itu terpelanting, dan kesempatan ini digunakan Emiya untuk melepaskan diri dari cengkeraman si monster dan lompat menjauh. Namun, Medusa yang tak sempat melakukan maneuver, menabrak tembok dengan kecepatan luar biasa.

"UBUH!"

"Sori, Medusa. Nanti akan kumasakkan sesuatu sebagai penggantinya," kata Emiya sambil berlari.

"Mou... Shirou, kamu langsung menusukku tanpa pemanasan... aku kan belum siap..." gumam Medusa, lidah panjangnya menjilati bibirnya yang kering. Ini sukses membuat pegawai Chaldea yang lain menolehi mereka sambil bisik-bisik.

"Kenapa kau mengatakan hal berkonotasi seperti itu?!"


28. Faker

Sambil mengutuk Luck E-nya, Archer menyelinap ke bayang-bayang untuk menghindari pertemuan dengan Servant lain. Sekarang dia lebih ingin mencari seseorang untuk menemaninya ke gudang Ascension Material untuk mengumpulkan bahan ramuan penyembuh. Sekaligus jadi perisai kalau-kalau dia disergap Servant lain.

Dia sudah tak peduli dengan pelaku yang membuatnya jadi seperti ini-

Seseorang itu muncul lebih cepat dari yang dia kira, dalam rupa Heracles.

"GRAAAAHHH!"

Dia tengah angkat besi (dengan berat entah berapa ton) sendirian di ruang gym. Aura macho-nya begitu kental terasa, tempat itu bagaikan neraka penuh otot dan keringat.

"Berserker!" Emiya menyapanya, membuat sang pahlawan terbesar Yunani (dalam berbagai artian) menghentikan gerakannya. "Untung aku bertemu denganmu!"

Seperti halnya Servant dari Perang Kelima lain, Heracles mengenalinya. Untung saja dia bukan pria pendendam, walaupun dia ingat dikalahkan 2x oleh Shirou Emiya. "Grrh? Grahahahaha!"

Bahkan seorang Berserker menertawainya...

"Paling nggak, orang semua menganggap ini lucu," Emiya menggerutu. "Daripada latihan sendirian di sini, apa kau mau menemaniku sampai aku kembali seperti semula?"

"Ograaah..."

"Oi, jangan begitu dong. Aku akan membayarmu."

"Grah. Grrrrrh."

"Daging chimera yang ditenggelamkan minyak zaitun. Oke, akan kubuatkan," jawab Emiya, enteng. Kebetulan hari ini 'Berserker Ascension Day', berburu chimera bukan masalah buatnya.

"Grrr."

"Jadi, chimera-nya lima ekor. Plus wyvern masak madu," kata Emiya sambil menentukan target leyshift selanjutnya ke pulau wyvern di Okeanos. "Oi, ini pesan makanan di restoran atau negosiasi harga bodyguard?!"

"Grr!" Heracles menjabat tangan Emiya erat-erat... meretakkannya.

Emiya menyeringai lebar (antara senang dan sakit). Dengan perlindungan sekelas Heracles, dia akan baik-baik saja!

…..

Lima menit kemudian.

"Grrrrhhhhh..." gumam Heracles, yang kepalanya terlepas dari badan.

Emiya, dengan Kanshou & Bakuya melintang di depan badannya, berteriak kesal, "Apa? Malas bangkit lagi?! Berserker, kenapa kau ini?!"

Mereka terjebak. Dalam ketergesa-gesaannya mencari ruang penyimpanan Ascension Material, Emiya dan Heracles berlari melewati jalan pintas di depan ruang gaming. Di sana biasanya El-Melloi II, Iskander, dan para Servant penyuka game lainnya berkumpul, tapi dia tak menyangka akan bertemu pengguna baru ruangan itu.

"Faker. Bahkan permohonanmu menyedihkan." Mengenakan jaket biker favoritnya, Gilgamesh sang Raja Para Pahlawan memicingkan mata merahnya dengan ekspresi muak, seperti melihat serangga menjijikkan. Dia masih ada respek kepada Heracles sebagai sesama putra dewa, tapi tak ada kompromi buat faker!

Begitu melihat si faker lewat, tanpa banyak bicara dia meninggalkan duelnya dengan sesama Servant emas Kintoki, dan langsung menembakkan Gate of Babylon… yang tentu saja mengenai target yang lebih besar, Heracles. Dia terpenggal seketika, tapi sepertinya tidak merasakan sakit samasekali. Hanya kesal.

"Wahai Putra Zeus, tinggalkan saja anjing kampung ini. Akan kutemani dia mencari keadilan," kata Gilgamesh. Wajahnya entah kenapa tampak bersemangat, walaupun Emiya tak pernah bisa membedakan ekspresi sombong pria itu.

"Graaah!" Heracles mengaktifkan Battle Continuation-nya dan bangkit, lalu meninggalkan mereka berdua dengan langkah berdebam. Tapi, sebelum pergi, dia menoleh, "Grr. Graaah."

"Kau masih minta aku masak buatmu? Lupakan, pengkhianat!" teriak Emiya, kesal.

"Blehh," Herc mengangkat bahu dan berlari pergi.

"Hah! Tentu saja dia kabur, dia tahu tingkatan kekuatannya jika dibandingkan denganku," Gilgamesh menyeringai. Dia menolehi Emiya, "Daripada itu… lihatlah ini. Faker kembali jadi faker kecil. Pemandangan yang benar-benar menurunkan IQ. Pantas si anjing kampung Solomon membenci umat manusia."

"Kinpika. Aku tak ingat membuat masalah denganmu," Archer menghunus pedang yin-yang kembarnya itu ke wajah sombong Gilgamesh, siap bertempur.

"Hah! Jangan pura-pura lupa! Karena sang raja takkan pernah lupa!"

Emiya pun teringat. Rute Fate, Gilgamesh dihajar Shirou dan Saber, dan di rute UBW dia dihajar anjing kampung yang hanya bisa copy paste dan terkena headshot dari Archer Emiya. Tanpa menyadarinya, dia menyunggingkan senyuman sombong, "Jika ini masalah aku yang pernah mengalahkanmu dua kali-"

Tindakan bodoh.

"Pilihan kata yang salah, faker! Amarah dan dendamku sebesar Uruk dan sekeras kepala Ishtar! Aku akan membalas semua perlakuan itu!" Gil menudingkan jarinya ke Archer, dan dalam sekejap zirah emasnya mucul menggantikan jaket biker-nya. Seringainya penuh percaya diri. "Dan kali ini, aku akan serius."

"Oh ya?" Walaupun keadaannya begini, Emiya masih bisa menyeringai. Bertanding dengan Gilgamesh... dia sebenarnya menunggu saat-saat ini! "Kebetulan, aku juga sudah bosan mendengar, 'faker' dan 'faker'! Akan kuselesaikan ini semua! Walaupun itu berarti Master harus nge-roll kau lagi!"

"Heh! Gudako bisa memanggil aku waktu itu saja sudah suatu keajaiban, kau tega membuatnya membakar ribuan quartz demi aku?" di luar dugaan, Gilgamesh cukup perhatian juga kepada si Master.

Sebenarnya dia hanya tak mau kalah dengan Shirou Emiya yang bisa mengalahkan Gilgamesh.

"Aku datang, Raja Para Pahlawan. Apa kau punya stok senjata yang cukup?"

"Haaah?!"

Beberapa portal Gate of Babylon terbuka di sekeliling Emiya, senjata-senjata kuno nan sakti mengintip dari dalam gudang sang raja. "Kenapa kau meniru kata-kata bocah anjing kampung itu? Telingaku terasa seperti ditusuk Caladbolg!"

Gilgamesh menembakkan puluhan senjata selevel Noble Phantasm, tapi tentu saja Emiya menangkisnya dengan mudah menggunakan Rho Aias. Sementara si emas berusaha menarik senjata yang lebih kuat, dia meletakkan tangannya di depan dada dan merunduk.

"I am the bone of my sword."

Musik 'Emiya – FGO version' meraung-raung di latar belakang.

"Hah, takkan kubiarkan kau merapal mantra itu!" Gil langsung menarik Ea, dia takkan meremehkannya lagi! Pedang pembelah langit dan bumi itu berputar amat kencang, mana mengalir deras dari arahnya, menciptakan angin puyuh. Di latar belakang, musik 'Cosmic Air – FGO REMIXX' meraung, menutupi Emiya. "Bangkitlah, Ea! Saatnya faker ini mengetahui kedudukannya… menjadi debu angkasa!"

"Langsung pakai Ea?! YANG BENAR SAJA!" Archer mengumpat. Gil memang tidak pernah bercanda kalau dia serius!

"FUHAHAHAHAHA! Bersiaplah menghadapi Pedang Pemisah Langit dan Bumi milikku, hartaku yang paling berharga! ENUMA-!"

"Urgh, di mana aku letakkan hasil tracing plot armor-ku-"

"CALIBUUUURRNNNN!"

Gil menolehi Ea, yang putarannya melambat seolah ikutan bingung. "Oi, itu bukan jurusmu, kan-GUWAAAAAHHHH!"

Dan selangkangannya tenggelam dalam cahaya keemasan, pertahanan kelas Archer-nya seolah tak berarti.

"Bola emasku yang original…"

Sang Raja pun musnah, kembali ke Takhta Para Pahlawan (untuk sementara).

Sementara, kaki Emiya seolah terpaku. Walaupun dia selamat, entah kenapa perasaannya tidak enak...

"Sir Emiya!" Saber Lily, sosok masa muda Arturia Pendragon, berlari kecil mendekatinya. Caliburn yang digenggamnya masih mengeluarkan cahaya keemasan, sepertinya ia lah yang menyelamatkan Emiya dari kematian instan. "Anda tidak apa-apa?"

"Huh, dia tampaknya normal," pikir Archer. Dia menghilangkan tracing Kanshou dan Bakuya, lalu menolehi gadis itu. "Yah. Terimakasih, Lily-kun. Aku tak mau mengakuinya, tapi aku belum siap menghadapi kinpika yang serius. Apalagi dalam kondisi seperti ini."

"Hee? Rendah hati sekali?" Lily memiringkan kepalanya. Archer yang biasanya kan sok, tak mau mengakui kelemahannya. "Penampilan ini… jangan-jangan anda Sir Emiya Lily?"

"Jangan memberi nama aneh ke orang lain!" protes Archer.

"Hehehe," Lily tertawa kecil. "Lalu, kenapa penampilan anda begini?"

"... bukan dia pelakunya," pikir Archer. Yah, Lily memang terlalu polos untuk bisa dituduh sebagai pelaku tindakan sejahat ini. "Karena beberapa alasan dan yang lain, aku kembali ke sosok diriku saat muda."

"Berarti Emiya Lily kan?"

"BUKAN!"Archer berteriak, kesal. Kenapa dengan orang-orang dan titel Lily... tapi, paling tidak, sikap anak ini normal. "Ngomong-ngomong, Lily-kun. Apa aku bisa minta bantuanmu?"

Wajah Lily memerah sejenak mendengar permintaan itu, tapi dengan seketika hilang lagi. "A-ah, Sir Emiya, tak perlu terlalu sopan begitu padaku, ehehe."

"Masih normal," pikir Archer. "Aku ingin mengumpulkan bahan untuk ramuan penawar sehingga bisa kembali seperti semula, dan kalau sempat, mencari pelaku tindakan usil ini. Apa kamu mau menemaniku?"

"Y-ya! Tentu saja aku akan melindungimu! Ini pun bagian dari latihan sebagai squire!"

"Hoh? Terimakasih. Aku bisa tenang, karena kamu ada di dekatku," Archer menyeringai, itu seringai penakluk gadis yang terlatih selama petualangannya sebagai pembela kebenaran.

Wajah Lily seolah meledak.

Untungnya, Archer bukan Shirou Emiya yang tidak peka perasaan gadis. Melihat reaksi Lily yang seperti itu, dia mulai ragu...

"Um, Sir Emiya, maaf jika aku terlalu frontal," Lily tampak tidak nyaman. Ia memegangi ujung roknya, tak berani menatap wajah Archer. "Tapi… apakah tidak sebaiknya kita berpegangan tangan agar tidak terpisah?"

"Tuh kan…" Emiya hampir menepuk dahinya keras-keras.

"Strike Air!"

Sebuah tornado menyambar mereka berdua, memisahkan Archer dan Lily. Saat terpental, Emiya masih bias menepuk dahinya. Tentu saja hal ini akan terjadi!

Arturia, dengan Invisible Air yg dia gunakan sebagai jet, menerobos. Ia segera mengambil posisi di depan... Lily, dan mengusir Emiya dengan wajah marah.

"Hush, hush! Menjauh darinya, Shirou!"

"Diriku dari masa depan! Ini tidak sesuai dengan perintahmu-" belum sempat Lily selesai bicara, Saber membekapnya. "Gfffh? Gaff!"

"A-aku takkan membiarkanmu terjerat dalam tipu daya orang ini!" jawab Arturia, dengan wajah memerah. "Kamu masih terlalu muda, wahai diriku dari masa lalu! Serahkan ini pada orang yang cukup umur, alias lebih tua darinya!"

"Terlalu muda...?" Emiya menolehi Saber favoritnya itu, tiba-tiba kepalanya sakit, "Oi, Saber, apa maksudmu? Apa yang kamu tahu?"

Arturia memalingkan wajahnya, tapi pria itu bisa melihat kalau wajahnya memerah sampai telinga. Firasatnya kurang enak soal ini...

"Ehem. Untuk klarifikasi saja, wahai Raja Para Pahlawan yang tak mungkin berdusta," Emiya menyilangkan lengannya. Arturia menelan ludah. Pujian itu sungguh skak mat, dan kini ia tak bisa berbohong kalau tak ingin menodai gelarnya! "Apa yang dimaksud Lily-kun mengenai 'perintahmu'? Lalu, soal wujudku sekarang…"

"Se-sekarang waktunya latihan pedang! Diriku dari masa lalu, ayo kita pergi!"

"E-eeeeeeh?!"

Dan kedua Saber itu melesat dengan kecepatan Strike Air… Emiya hanya bisa mengajukan tangannya, tak kuasa menahan.

"Arturia pasti tahu sesuatu," gumamnya kemudian. Tindakan Saber favoritnya itu memang mencurigakan. Kenapa ia bisa mengetahui posisinya yang sedang terdesak, kemunculan Lily yang terlalu pas, dan sesuatu tentang "perintah"…

Karena dia tak mungkin bisa mendesak Saber untuk menjawab, dia pun terpaksa menanyakan soal ini pada orang lain... yang tak lain adalah sahabat sang Raja Para Ksatria.

Jeanne d'Arc.


- to be continued -