Persembahan buat raja sejati yang sudi mampir di Chaldea-ku!
Nasuverse Play FGO
Nasuverse©Nasu Kinoko & TYPE-MOON
Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks
Chapter X
26. A Certain Someone
"Yo! Galahad!"
Mashu memalingkan wajahnya dari arah mesin rayshift menuju suara yang memanggilnya itu. Wajah ceria Mordred, dengan seringai bertaring kecilnya yang manis, menyapanya. Mengenakan pakaian kasual favoritnya, kombo tube top dan celana jeans super pendek – untungnya ia menutupi kulit terbukanya itu dengan jaket kulit merah. Ia datang sambil menyeret Jekyll yang terengah-engah, pasti karena diajak lari-lari oleh si Saber Merah.
"Sir Mordred, dr. Jekyll, selamat pagi. Tolong panggil saya 'Mashu' saja," sapa balik Mashu dengan senyuman ramah.
"Eeh, nggak bisa begitu dong. Nanti Galahad berguling-guling di Takhta Pahlawan kalau aku melupakannya," balas Mordred, seraya terkekeh. "Daripada itu! Kau tahu di mana Master sekarang?"
Mendengar pertanyaan itu, Mashu memalingkan wajahnya sejenak ke mesin berbentuk globe di depannya itu, kemudian kembali menatap Mordred. "Tadi… nona Da Vinci menginformasikan ada singularity kecil yang harus dibereskan, jadi senpai pergi untuk membereskannya."
"Singularity, katamu?" akhirnya Jekyll berkomentar, setelah nafasnya kembali normal. "Kenapa kamu tidak ikut? Master tidak pergi ke Shinjuku lagi, kan?"
Ya, mengingat singularity di Shinjuku hanya bisa dimasuki mereka yang memiliki alignment 'Evil', maka Mashu tak bisa terlibat langsung.
Tunggu, apa itu berarti alignment sang Master juga 'Evil'?
"Tidak, dr. Jekyll. Lokasinya di Babylonia… dan dia tak bisa kuhubungi samasekali. Ada sesuatu yang menghalangi sambungan komunikasi kami."
"Whoa, apa Demon Pillar sialan beraksi lagi?" Mordred nampak kesal. Ia menghantamkan kedua tinjunya. "Sial, kenapa dia nggak mengajakku!?"
"Coba kamu bangun lebih pagi, Mordred, Master pasti akan mengajakmu-"
BUAGH!
"OGH!"
Mordred meninju perut Jekyll untuk membungkamnya, membuat pria malang itu berguling kesakitan. Ia berdeham, "Masa kalian samasekali nggak bisa menghubungi Gudako?" Ia lalu mengarahkan pandangannya ke ruang kontrol, di mana Da Vinci berdiri di belakang para teknisi yang kebingungan.
"Sama sekali tidak," sang penemu menaikkan kacamata yang ia kenakan jika situasinya sedang serius, tapi wajahnya nampak kalem. "Tak usah khawatir, Mordred. Gudako membawa tim yang cukup kuat kok."
"Si-siapa bilang aku khawatir! Aku hanya menyampaikan pertanyaan Galahad ini kok!"
"Hee…? Terserah kamu deh," Da Vinci tersenyum menggoda, membuat wajah Mordred memerah.
"Argh! Kau nyebelin banget sih!" si Saber Merah memalingkan wajahnya ke arah Mashu, yang tersenyum tipis.
"Terimakasih sudah meyakinkanku, Sir Mordred," katanya.
…
Sementara itu, di Babylonia…
Tumpukan mayat Musshushu, kadal ekor tombak, berserakan di sana-sini. Mayat-mayat itu menunjukkan cara kematian mereka yang semakin lama semakin brutal.
"Haah, haaah…" Gudako, dengan pakaian yang kotor oleh debu dan darah (bukan darinya), terjatuh di atas tanah. Nafasnya memburu dan kerongkongannya terasa kering karena terus menerus berteriak member komando ke timnya selama hampir 2 jam ini. Edmond Dantes yang berdiri di sampingnya sebagai garis pertahanan terakhir (dan sarana transportasi untuk kabur), keluar dari wujud roh untuk menjulurkan tangannya.
"Begini saja sudah kelelahan, Master?" pria itu terkekeh. "Ke mana semangat yang kau tunjukkan di Shinjuku minggu lalu?"
Gudako menampik tangan sang Avenger, dan berusaha berdiri dengan kekuatannya sendiri. Ia berhasil walaupun sedikit terhuyung, "Kemarin ya kemarin, sekarang ya sekarang!"
"Master, apa anda baik-baik saja di belakang sana?" tanya Jeanne, sembari menancapkan tiang benderanya di tanah.
"Aman terkendali!"
"Jangan santai dulu, aku masih bisa merasakan beberapa kehadiran musuh!" kata Enkidu. Karena lokasi singularity di Babylonia, Lancer mengajukan diri untuk ikut. Keputusan yang tepat, karena dengan kemampuan deteksinya, mereka bisa mengantisipasi sergapan Musshusu sejak pertama mereka menjejakkan kaki di sini.
"Jumlah mereka terlalu banyak… aku yakin, ini masalahnya," kata Gudako sambil menendang mayat Musshusu yang terbelah dua di dekatnya. Ia mengerutkan dahinya, jijik.
"Master! Aku berhasil menemukan sumber singularity-nya!" komentar Edison dengan tenang, kontras dengan badannya yang berlumuran darah musuh. "Dua ekor monster, anak dari Tiamat muncul kembali, dan terus melahirkan monster-monster baru!"
"Benarkah?!" Gudako tampak kembali bersemangat begitu mendengar itu. "Bawa kami ke sana, tuan E!"
"Aku juga ingin segera menyelesaikannya, Master," Edison menutup mesin detektornya, wajah singanya tampak tegang. "Tapi, mereka terus muncul untuk melindungi induk."
Benar, puluhan ekor lagi Musshusu muncul di sekeliling mereka, seolah tak ada habisnya! Jeanne dan Enkidu, sebagai petarung garis depan, segera menghadang mereka.
"Gaaaah! Ini sih, harus dihajar sekaligus, dengan Noble Phantasm area!" Gudako menggaruk-garuk kepalanya. "Count, tuan E, kalian siap?"
"NP-ku masih cooldown," kata Edison.
"Aku ada di backline, jadi tak bisa mengisi NP gauge," jawab Dantes. "Tapi, kalau kau mau pake Command Spell untuk mengisi gauge, oke-oke saja."
"Aku nggak sudi membuang CS untuk musuh kroco seperti mereka!" teriak Gudako.
"Aku setuju dengan penilaianmu itu, Master, tapi situasinya memaksa demikian!" kata Edison.
"Guuuu…" Gudako menatap punggung tangan kanannya, di mana 3 buah CS terpampang rapi. Di Shinjuku dengan berbagai kesulitannya saja ia tak menggunakan 1 CS pun, masa di tempat seperti ini…
"STRIKE AIR!"
BWAM!
Ledakan udara menghancurkan gerombolan kadal di depan Gudako, yang juga melubangi tanah menjadi semacam parit. Gudako dan semua anggota timnya terkesiap. Apa yang-
"Lewat jalan itu!"
Terdengar suara seseorang yang menawarkan bantuan kepada mereka. Gudako menatap Enkidu, yang mengangguk dengan senyuman pertanda dia tak merasakan hawa kejahatan dari si pemilik suara. Ia pun menginstruksikan semua anggota timnya untuk kembali ke wujud roh, sementara Dantes menggendongnya untuk melesat kabur melewati parit itu…
…..
Setelah beberapa saat melesat bagaikan kilatan petir, Dantes mendarat dengan lembut dan menurunkan Gudako. Gadis itu menghela napas lega, dan mengamati kondisi sekitar. Mereka kini ada di depan sebuah piramid khas Amerika Selatan dengan ruang terbuka yang cukup besar. Jeanne, Enkidu, dan Edison pun muncul dari wujud roh mereka.
"Pujilah Tuhan, Master. Ada seseorang yang menyelamatkan kita," kata Jeanne sambil mengelus dadanya.
"Ya… tapi, di manakah dia sekarang?" tanya Edison sambil menoleh kanan-kiri mencari-cari si penolong. "Menolong tanpa menunjukkan diri itu mencurigakan."
"Tak usah agresif seperti itu, tuan Edison," Enkidu tertawa kecil. "Tuan penyelamat, aku tahu kamu ada di sini. Tunjukkanlah dirimu agar kami bisa berterima kasih."
Criiingg…
Dengan kilauan emas yang indah, muncullah dia, seorang pria muda yang mengenakan zirah perak dan hoodie yang menutupi wajahnya. Gudako dan yang lain bisa melihat senyuman ramah di mulutnya yang tidak tertutup hoodie.
"Selamat siang, semuanya. Hari yang indah di suatu sudut Amerika Selatan ini, bukan?"
Gudako dan Jeanne tersentak melihat sosok itu, merasa mengenalinya… tapi tidak yakin pernah melihatnya di mana.
Sang Master pun menjawab, "Ya, indah… kalau saja kadal-kadal sial itu berhenti menyergapku!"
"Anda kah yang menolong kami barusan, monsieur yang baik hati?" tanya Jeanne. Ia membungkuk, "Aku dan teman-temanku mengucapkan terima kasih banyak."
"Kembali, nona cantik," pria itu menolehi Jeanne, sepertinya bisa melihat walaupun matanya tertutup hoodie seperti itu. Kedua alis Jeanne naik dan pipinya sedikit memerah karena tiba-tiba menerima pujian seperti itu. "Senang bisa membantu."
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Edison, masih agresif. "Dari auranya, kamu seorang Servant, bukan? Tapi, seharusnya sudah tidak ada Servant lagi di Babylonia ini."
"Aku… hmm, bagaimana menjelaskannya, ya. Aku kurang pandai soal sihir dan sebagainya…"pria itu memegangi dagunya. Dia komat-kamit sebentar, dan mengangguk, "Hmm, bisa dibilang, aku tak sengaja memasuki apa yang disebut dengan lubang dimensi."
"Lubang dimensi, katamu?" tanya Gudako. Itu sama dengan Musashi Miyamoto! Apa pria di depannya ini juga pengelana dimensi?
"Benar, sebuah lubang di udara kosong. Aku baru menerima infonya dari Takhta Pahlawan setelah memasukinya."
"Takhta Pahlawan? Itu menjawab pertanyaanku," Edison mengangguk puas. Dia pun tersenyum ramah… yah, seramah yang bisa ditunjukkan dari wajah singanya. "Aku tidak suka kalau tidak mengetahui sesuatu, jadi maafkan aku jika sejak tadi agresif kepadamu."
"Taka apa-apa, tuan… singa? Kalau jadi kalian, aku juga pasti melakukan hal yang sama jika menemui orang misterius sepertiku," dia menolehi sang Master. "Nona, kamu seorang Master, bukan? Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?"
"O-oh, tentu saja," kata Gudako, akhirnya tersadar dari pemikirannya yang ingin mencari tahu identitas servant di depannya itu. "Tapi, sebelumnya, bisa perkenalkan dahulu namamu? Aku Ritsuka Fujimaru, atau biasa dipanggil Gudako."
"Hmm? Ah, ya… aku belum bisa memberikan nama asliku, tapi kalian bisa memanggilku… Saber."
Saber, katanya! Pantas sejak tadi Gudako dan Jeanne merasa pernah mengenalnya… zirah perak dan biru… lalu pedang tak terlihat… mereka tak perlu melihat wajahnya untuk mengetahui identitas asli pria itu!
"TAKEUCHIIIII!" Gudako berteriak ke langit.
"Demi Tuhan! Dia berkembang biak lagi?!" Jeanne berteriak sambil memegangi pipinya.
Edison dan Dantes menepuk dahi mereka. Enkidu hanya berkedip.
Sementara itu, Saber dengan hoodie itu hanya memiringkan kepalanya, tidak mengerti apa yang salah.
27. Like Father, Like…?
"Halo, halo? Mashu? Bisakah kamu mendengarku?"
Suara Gudako muncul begitu saja dari communicator. Mashu mendorong Jekyll yang sedang berbicara di depannya sampai terjengkang (diikuti tawa Mordred), lalu melesat menuju ruang kontrol. "M-maaf!"
Begitu sampai, ia merebut mic dari Da Vinci.
"Senpai, senpai! Apa yang terjadi di sana? Apa senpai baik-baik saja?!"
"Ah! Tersambung, syukurlah!" terdengar suara Jeanne di latar belakang.
"Mashu! Akhirnya aku bisa menghubungi kalian… kata Mr. Edison, singularity ini cukup bermasalah sehingga terjadi gangguan komunikasi," jawab Gudako. "Ah, sebelum kamu bertanya, tenang saja. Aku nggak apa-apa kok. Cuma sedikit lelah."
Mashu mengelus dadanya, dan ini memberikan Da Vinci kesempatan untuk merebut kembali mic-nya, "Baguslah kalau begitu. Bagaimana dengan singularity-nya?" tanya sang inventor.
"Tentu, sudah beres! Ternyata-"
"Oi, ceritanya nanti saja setelah kita kembali. Segera siapkan rayshift!" perintah Dantes. "Di sini panas dan lembap, tahu."
"Aye, aye, Raja Gua," jawab Da Vinci dengan senyuman kesal.
"Eh, tu-tunggu, Count-!"
BWAM!
Terlambat, Da Vinci sudah menekan tombol rayshift, dan dalam sekejap muncullah beberapa siluet di bawah globe. Mashu meloncat turun, dan berlari ke dekat Mordred untuk menyambut sang Master. Tak lupa ia minta maaf lagi ke Jekyll yang tadi didorongnya.
"Hmmm?" Da Vinci menyipitkan matanya. Ada 6 siluet manusia di sana! Padahal Gudako hanya berlima dengan para Servant tadi. Siapa gerangan penumpang ekstra itu?
Css….
Bersama desisan asap dan angin, muncullah wujud Gudako, yang sedang menarik-narik lengan kemeja Dantes; Jeanne yang memegangi tiang benderanya dengan wajah merah, Enkidu yang senyum-senyum, dan Edison yang tertawa-tawa sambil memegangi perutnya. Lalu, seorang lagi…
"?!" Mordred terperanjat, dan dalam sekejap mengenakan zirah tempur, aura bertarungnya memancar deras.
"E-eh? Mordred, apa yang kamu lakukan?!" Jekyll hendak menghentikannya, tapi sudah terlambat.
Sang Ksatria Pengkhianat melesat dengan Clarent terhunus…
TRANG!
Untuk beradu dengan pedang tak terlihat. Terdengar desisan kesal Mordred di balik helmnya.
"Sir Mordred kah? Sambutan yang luar biasa," komentar pemilik pedang satunya, pria dengan hoodie itu.
"KAU!" teriak Mordred. "Kenapa kau ada di sini?!"
"Ms. Gudako yang baik hati telah menyelamatkanku dari singularity," jawab si pria, santai. "Kau sendiri… melihat penampilanmu, sepertinya kau adalah salah seorang Servant yang dikontrak Ms. Gudako. Heh. Penampilan yang membuatku rindu. Sudah berapa tahun ya, nak?"
"NAK?!" teriak Jekyll, dan semua staf di ruangan itu.
"NAK, KATAMU?!" tapi justru Mordred yang paling terkejut. Dia melepaskan pedangnya, dan di balik helmnya, menatap pria di depannya dengan wajah bingung. "HAH! Siapa kau?! Kupikir ayah!"
Pria itu menurunkan pedangnya, dan tertawa kecil, "Masih sebegitunya kah kamu membenci ayah, sampai-sampai tak mau mengakuiku?" Dia menghela napas panjang, lalu meraih hoodie-nya dan menyingkapkannya.
Semua orang terperanjat (kecuali tim Gudako).
Rambut pirang emas itu. Sepasang mata zamrud itu. Zirah perak-biru dan pedang tak terlihat itu…
"Arturia-sama… eh?" Mashu menutup mulutnya dengan tangan. "K-kok?!"
"Whoa! Kali ini kembarannya itu cowok?!" komentar Da Vinci dari ruang kontrol. "Setelah Darth Saber kemarin, apa Takeuchi sudah benar-benar kehabisan ide?"
"Kamu…" kedua mata Jekyll terbelalak. Dia lalu tersenyum ramah, selayaknya kepada kawan lama. "Saber!"
"Heh?!" Mordred menjatuhkan dagunya ke lantai.
"Berserker?" Saber menolehi sang Assassin, dan membalas senyumannya. "Aah. Itu benar-benar kamu. Senang melihatmu kembali."
"HEEEEEEEH?!"
…
"Arthur… Pendragon?!" teriak Mashu dan yang lain, kompak.
"Ya. Dia berasal dari dimensi pararel," jawab Gudako. "Aku bertemu dengannya di singularity tadi, dan setelah masalahnya beres, aku mengundangnya ke Chaldea untuk membantunya kembali ke dimensi tempat tinggalnya."
"Benar kata Ms. Gudako. Maaf, sudah merepotkan kalian," Arthur membungkuk sedikit.
"Tidak, tidak apa-apa!" kata Mashu dan yang lain, kompak. Tanpa skill Charisma pun, King Arthur tetap berwibawa!
"Dari dimensi pararel juga? Menarik…" Da Vinci memegangi dagunya, "Musashi-chan juga begitu. Mungkin nanti kamu bisa menemuinya."
"Oh, ada yang senasib denganku juga? Kasihan dia," Arthur menggelengkan kepalanya… dan tak sengaja menatap Mordred, yang telah kembali ke pakaian kasualnya (tanpa jaket) dan kini bersembunyi di balik badan Jekyll. "Sir Mordred. Kenapa tiba-tiba kamu berhenti menyerangku? Dan sedang apa kamu di sana?"
"Di-diam! Menyingkir dari hadapanku, ayah sial!" teriak Mordred tanpa menatap sang ayah.
"Ouch. Sudah lama tak bertemu, aku langsung mengalami penolakan 2 kali. Yah, tapi ini salahku juga sih," Arthur menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Jekyll. "Ya. Kita perlu bicara panjang lebar soal ini… anakku."
"G-geh?!" Mordred terbelalak. Lagi-lagi dia memanggilnya 'anak'! Kenapa dengan pria itu?! Kenapa reaksinya berbeda sekali dengan ayah yang satu lagi?!
"Saber, mungkin Mordred masih belum percaya bisa bertemu ayahnya yang laki-laki," jawab Jekyll. "Berikanlah dia waktu."
"Hm, kamu benar juga, Berserker," Arthur melangkah ke samping Jekyll, membuat Mordred beralih. Arthur melangkah lagi, dan Mordred beralih lagi. Mereka seperti bermain kejar-kejaran dengan Jekyll sebagai tiangnya!
"Um, di dunia ini, aku seorang Assassin."
"Assassin?"Arthur memalingkan pandangannya dari Mordred dan menatap Jekyll.
"Yah, ada… beberapa masalah dengan kelas Berserker," Jekyll mengangkat bahunya.
"Begitukah?" dan sembari mengatakan itu, dia menyergap Mordred tepat di depan wajahnya dan memegangi bahunya. "Nah, sekarang kamu takkan bisa lari dariku."
"Le-lepaskan aku!" teriak anak malang itu.
"Tidak, tidak bisa. Kita harus bicara… hmm?" Arthur merasakan ada yang aneh pada pundak yang dia pegang itu. Bukannya otot dan bahu bidang yang dia ingat, melainkan… sepasang pundak yang mulus dan lembut. "Aku sudah curiga sejak melihat sosokmu tanpa zirah, tapi sekarang aku yakin. Mordred di dunia ini… perempuan?"
CTARRR!
Ucapan itu bagaikan petir yang menyambar kepala semua orang di ruangan. Arthur… memanggil Mordred dengan kata-kata yang paling dibencinya?! Jekyll segera meloncat mundur dan tim Gudako bersiap melindungi sang Master dari ledakan amarah Mordred.
Sementara anak itu menundukkan kepala, sekujur badannya bergetar dahsyat.
"Tapi…"Arthur melepaskan kedua tangannya. "Mordred-nya dunia ini sangat imut."
Dia mengatakan itu dengan sebuah senyuman tulus. Si Saber Merah mengangkat wajahnya, kedua matanya terbelalak. Aura kemarahannya menguap begitu saja… dan sekejap kemudian, wajahnya memerah dengan dahsyat.
"Aaa- aaaaaa…"
"I-imut, katanya?!" Jekyll, yang bersembunyi di balik panel kontrol, mendesah, "Saber itu, dua kali mengucapkan kalimat tabu bagi Mordred! Apa dia sungguh ayahnya?"
"Tak kusangka, orang sepertiku bisa punya anak seimut ini! Ah, bukannya Mordred versi duniaku tidak manis… dia memang berada di masa remaja, masa pemberontakan. Tapi, dia tetap manis."
Arthur mengatakan itu semua sembari menyunggingkan senyuman pangerannya, penakluk hati karakter otome game di manapun.
"G-guuuuu!" wajah Mordred semakin memerah, dan…
BAM!
Ia kabur, berlari dengan langkah-langkah besar. Kepalanya seperti lokomotif yang mengeluarkan asap.
"KAU… AYAH TERBURUK SEPANJANG MASA!" teriaknya sambil menghilang dalam koridor. "AKU BENCI AYAAAAAAH!"
"Di-dia kabur!" teriak Jekyll, tak percaya. Dia pun bergegas mengejarnya.
"Orang ini… merayu anak sendiri?!" pikir Gudako dan yang lain.
"Pria British tulen menyeramkan!" pikir Jeanne.
"Oi, apa hukumnya incest dengan anak sendiri, dari dimensi lain?" bisik Edison.
"Sifat orang Inggris memang seburuk makanan mereka," komentar Dantes.
"Hahaha. Aku tak sabar melihat ekspresi Gil jika tahu Arturia kesayangannya berubah menjadi cowok," Enkidu tampak menahan tawa.
28. Reaction
"Ah, Master juga telah mengontrak Ksatria Meja Bundar?" tanya Arthur kepada Gudako, yang bersama Mashu tengah berjalan di koridor menuju ruang rekreasi. "Siapa sajakah mereka?"
"Gawain, Lancelot, Tristan, dan Mordred," jawab Gudako. "Lalu…" ia menolehi Mashu.
"Galahad. Bukan begitu, nona?" tanya Arthur kepada Shielder, yang mengangguk ragu. "Aku sudah tahu dengan melihatmu sekilas. Kamu berpembawaan seperti dia."
"B-benar, milord. Tapi…"
"Mungkin lain kali saja aku mendengarkan ceritamu. Waktu kita pendek, bukan begitu, Master?"
Gudako mengangguk.
Setelah berdiskusi dengan Da Vinci dan Mashu, Arthur mengambil keputusan bahwa dia takkan menampakkan wajahnya dulu untuk sementara di Chaldea. Ini demi menghindari kebingungan dan kekacauan jika dia sampai bertemu Arturia dan para ksatrianya. Dia berencana menemui mereka secara personal, bersama Gudako, suatu saat nanti.
Soal Mordred…
"Dia anak pemberontak, tapi bisa menjaga rahasia," jawab Arthur ketika ditanya.
Jadi, agenda saat ini adalah mengantar Arthur berkeliling Chaldea, menghindari ruang Camelot. Biasanya pada jam segini, Arturia dan para ksatrianya tengah bersosialisasi satu sama lain di dalam ruangan, jadi dia aman untuk menjelajah. Hanya sampai jam makan malam, sih.
"Ke mana kita akan pergi, Master?"
"Ke ruang rekreasi. Di sanalah tempat berkumpul kebanyakan Servant, kecuali para Berserker atau yang memiliki ego tinggi," jawab Gudako. "Kupikir kamu ingin menemui kenalan-kenalanmu dari Perang Cawan Suci yang pernah kamu ikuti."
"Master begitu baik hati," Arthur tersenyum. "Baiklah, akan kuikuti petunjukmu."
…..
"APA INI?!"
"INI APA?!"
"APA YANG TERJADIIIIII?!"
Ketiga teriakan itu berasal dari satu orang, secara bersamaan menggema dengan mustahil. Gilgamesh merunduk sambil memegangi kepalanya, harga dirinya tak dia pedulikan.
Enkidu, di latar belakang, tertawa lepas.
Sementara Arthur hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Dia ingat Gilgamesh, si Archer emas berperangai sombong itu. Tapi, yang di depannya ini… nampaknya berbeda dari yang dia kenal.
Gilgamesh yang ini rambutnya terangkat semua! Sihir macam apa ini?!
"MERLIN!" tiba-tiba sang Raja bangkit, kedua iris merah menyala. "Mana incubus sialan itu!? Pasti dia memasukkan ramuan ke minuman Arturia yang mengubahnya jadi hode seperti Enkidu!"
"Protes, Gil! Kau tahu sendiri kalau badanku ini cewek, hanya kepribadianku yang cowok!"
"Jangan memperkeruh suasana, gender ketiga!"
"Uh, sebenarnya, aku gender kelima, setelah 'd'Eon' dan 'Astolfo'."
Mengabaikan pertengkaran dua sohib lama itu, Arthur menolehi sang Master. "Rupanya berbeda dari Raja Pahlawan yang kukenal. Siapa dia, Master?"
"Dia Gilgamesh dari dimensinya Arturia-sama," jawab Mashu.
"Wah, mereka juga punya Gilgamesh?! Ya ampun, aku turut berduka cita."
"Dan kau!" tiba-tiba yang dibicarakan menolehi mereka, "Arturia! Kenapa kau diam saja diperlakukan begini?! Apa kau tidak ingat kejadian yang membuatmu… ah?"
Gilgamesh menatap Arthur dari atas ke bawah, dan menepuk dahinya.
"Tunggu. Kau bukan Arturia?"
Enkidu memutar bola matanya. Dasar Gil, begitu berurusan dengan Arturia, IQ-nya seolah turun beberapa digit.
"Aku Arthur Pendragon."
"Hoo. Datang dari dimensi lain, rupanya," Gil menatap sang Master, yang bergidik. "Gudako. Temuan yang menarik." Dia menepuk kepala gadis itu, dan membalikkan badan. "Aku… ingin mencuci otakku dulu. Pakai pemutih original dari Uruk."
Bersama itu, dia melangkah keluar ruangan rekreasi, dengan diikuti Enkidu yang masih tertawa-tawa.
"Dimensi Arturia ini menarik sekali," komentar Arthur. "Gilgamesh yang tergila-gila padaku yang seorang wanita (ugh), Galahad yang jiwanya bersatu dengan seorang gadis, Mordred yang imut… ah, dan katanya tadi, Merlin itu incubus? Dengan kata lain, dia seorang pria?"
"Memang kenapa dengan Merlin?" tanya Gudako.
"Di dimensiku, Merlin itu-"
"DEMI JENGGOT MERLIN! Ah, itu aku sendiri… lagian, bishonen sepertiku tak punya jenggot!"
Gudako mendengar suara yang sama dengan Arthur dari belakangnya, dan ekspresi ksatria di depannya berubah. Dia tampak seperti sedang menahan tawa!
"Ya ampun, Merlin benar-benar seorang pria di sini!" kata Arthur. "Lalu, kenapa suaramu mirip denganku?"
Merlin mengabaikan reaksi pria di depannya itu, "Hei, Arturia! Apa kau minum lagi obatku tanpa bertanya? Memang itu kukemas menjadi ale sih, tapi bisakah kau meredam kerakusanmu?!"
Gudako menepuk dahinya. Kenapa Merlin juga tak mengenali Arthur?!
"Bukan, kawan lama. Lihat baik-baik," Arthur, masih menahan tawa, menepuk pundak sang mentor. Begitu merasakan sensasi mana yang berbeda, sang penyihir membulatkan mulutnya.
"Ooo- aaah. Aku mengerti. Kamu berasal dari dimensi lain, bukan? Wahai Raja Arthur."
"Apapun itu, kawan lama, senang melihatmu kembali!" Arthur memeluk sang penyihir, yang dibalasnya dengan ramah. Walaupun mereka berasal dari dunia yang berbeda, suasana persahabatan itu tetap muncul di antara mereka. "Bagaimana caramu meloloskan diri dari Avalon?"
Arthur melepaskan pelukannya, dan menepuk pundak Merlin.
"Kekuatan gacha!" Merlin menaikkan jempolnya.
Mengabaikan tembusan dimensi keempat itu, Mashu bertanya kepada si Saber perak, "Merlin di dimensi anda seorang perempuan, milord?"
"Benar," jawab Arthur. "Dan ia keturunan succubus. Karena itulah, aku merasa ada yang aneh dengan perkataan Raja Pahlawan tadi."
Merlin merogoh lengan jubahnya. "Cukup aneh memang, tapi begitulah dunia pararel. Sebentar, sepertinya aku punya foto diriku sebagai perempuan… aha!"
Dia pun menunjukkannya pada Gudako dan Mashu, yang segera menjatuhkan dagu mereka ke lantai.
"Hah?! Bukannya itu Magi*Mari?!" teriak Gudako.
Benar. Sosok wanita Merlin sangat mirip dengan dirinya yang sekarang, berambut putih dengan semburat keunguan, bibir penuh, sepasang mata jernih… dan dada yang cukup besar.
"Hm, hm. Tentu saja aku selalu cantik, tak peduli genderku," Merlin mengangguk-angguk bangga. "Tentunya, Mari-chan kudesain berdasarkan diriku yang perempuan!"
"Hobimu buruk di manapun dimensinya, Merlin," Arthur geleng-geleng.
"… untung sekali kita baru mengetahui ini setelah Dr. Roman tak ada," komentar Mashu.
"Kalau Da Vinci tahu soal ini, aku yakin dia akan menyeret dr. Roman dari ketiadaan untuk menghajarnya," sambung Gudako.
29. King and Queen
"Senang rasanya bisa bertemu Servant yang dulu pernah menjadi lawanku, dalam situasi damai seperti sekarang," kata Arthur, senyuman gembira mewarnai wajah tampannya. Dia telah menemui Arash dan Ozymandias setelah berkeliling tadi. Kini, dia tampak begitu bercahaya… dan ini bukan pendapat pribadi Gudako ataupun Mashu.
Mereka kini tengah beristirahat di Salon de Marie, café sekaligus tempat makan utama di Chaldea. Hari itu, suasananya cukup sepi. Yang berada di sana hanyalah Sanson sebagai butler dan Tamamo sebagai barista. Arthur memesan set mashed potato (makanan favoritnya) untuk makan siang, sementara Gudako dan Mashu hanya memesan teh.
"Dan masakan anda luar biasa, nona," kata Arthur sembari menatap Tamamo, menyunggingkan senyuman sopan.
"O-hohoho, terima kasih!" Tamamo tersipu-sipu manis."Tapi, tuan takkan bisa merayuku dengan senyuman gentleman itu, tuan, mou!"
"Merayu? Tidak, tidak… ini ekspresiku yang biasa, sehari-hari."
CRIINGGG!
"Uwaah..."
Arthur nampak begitu bercahaya, menyilaukan Gudako dan Mashu. Pria ini… sungguh ladykiller tulen! Entah dia menyadarinya atau tidak.
"Usaha yang bagus, tuan, tapi sayang sekali hatiku hanya untuk Hakuno-sama seorang… ah, selamat datang!" Tamamo beranjak dari meja bar, untuk menyambut para pelanggan yang baru datang.
"Selamat siang, Tamamo. Apa makan siang sudah siap?"
Pundak Arthur terangkat mendengar suara feminim yang familier itu. Secara reflek, dia membalikkan posisi duduknya…
Dan seperti melihat cermin… jika cermin itu bisa mengubah gendermu.
Gudako berkomentar dengan cool sembari menyesap tehnya bagaikan wiski sebelum badai melanda, "Pertemuan yang tak terelakkan, sepertinya."
"Senpai, sebaiknya kita kabur sebelum-"
"Ah."
Terlambat. Arturia dan Arthur sudah saling bertemu pandang.
"AAAAAAAAAAAAAH?!"
Teriakan kaget mereka berdua dan para ksatria meja bundar, menggema di Salon.
…..
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Gawain, setelah mengucek matanya untuk yang kesekian kali tidak berhasil untuk mengusir ilusi di depan matanya.
"Pasti ulah Merlin lagi," jawab Lancelot. "Hanya dia yang berani mengerjai Yang Mulia seperti ini."
"Benar, pasti itu jawabannya! Dengar, suara mereka juga mirip!" kata Bedivere sambil menunjuk Arthur, yang masih adu tatapan dengan Arturia.
"Kalian ini…" Tristan menghela napas panjang. "Buka mata kalian pada kenyataan."
"KENAPA TIDAK KAU SENDIRI SAJA YANG MEMBUKA MATAMU, SIPIT?!" teriak ketiga ksatria lain, kesal.
"Whoa, kupikir rasisme sudah ditiadakan di meja bundar?! Sungguh menyedihkan…" Tristan tampak terkejut. "Aku akan melayangkan protes ke Yang Mulia! Tapi…" dia melayangkan pandangan (?) kepada kedua Arthur itu. "Entah yang mana."
"Kau benar…" ketiga ksatria lainnya menelan ludah dengan kompak.
Duel tatapan mata abad ini masih berlangsung sengit. Dua pasang iris berwarna zamrud itu berkilauan memancarkan aura perselisihan yang begitu kentara, kau bisa memotongnya dengan Excalibur. Mereka sudah saling menatap selama beberapa menit tanpa berkedip; karena ada aturan tak tertulis, jika kau berkedip, kau kalah!
Tapi…
"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Arturia Pendragon."
"Perasaan yang sama kurasakan, Arthur Pendragon."
Badai yang sudah menggemuruh itu, reda seketika dengan damai.
"Eeeeeh?!"
…
"Dunia pararel itu memang menakjubkan," Arturia mengangguk-angguk.
"Benar! Beruntungnya aku bisa bertemu Master setelah tersesat di berbagai dimensi selama ini," kata Arthur, sambil melipat lengannya.
"Tapi, situasi kita di sini memang unik," Merlin, yang entah kenapa menderita 2 benjolan di kepalanya, berkomentar, "Di dunia ini, Arturia seorang wanita dan aku pria tampan. Sementara di dunia Arthur, dia lelaki dan aku wanita cantik!"
"Bisa tidak narsismu berhenti sejenak?" protes Arturia dan Arthur.
Merlin mengedipkan matanya, lalu tertawa lepas, "Ka-kalian benar-benar orang yang sama! Reaksi kalian bisa bersamaan begitu!"
Arthur menggeleng, "Dan lagi, suaraku dan Merlin dunia ini sama, rasanya aneh…"
"Sama…? Jangan-jangan…"
"Ya, Merlin di duniaku suaranya mirip denganmu."
"Semakin aneh saja situasinya!" protes Gudako dan para ksatria yang merasa ditinggalkan dalam perbincangan orang-orang dimensi pararel itu.
Setelah ketegangan berakhir, Arturia dan para Ksatria Meja Bundar (kecuali Mordred yang masih menghilang entah ke mana) mengundang Arthur, Gudako, dan Mashu ke ruang pertemuan mereka untuk membicarakan… masalah yang unik ini.
"Ngomong-ngomong, ini tempat yang luar biasa, Arturia," kata Arthur sembari melayangkan pandangannya lagi ke sekeliling ruangan itu. Bernuansa putih-keperakan, dengan wallpaper dinding kastil dan beberapa bendera kerajaan di sudut-sudutnya. Di tengahnya tentu ada sebuah meja bundar, lengkap dengan name tag, yang menandakan tempat duduk masing-masing ksatria.
"Terima kasih, Arthur. Aku mencoba menciptakan suasana senyaman mungkin bagiku dan para ksatria selama perjuangan menyelamatkan umat manusia ini," Arturia menanggapinya sambil tersenyum.
"Benar, dan tak ada suasana yang bisa senyaman suasana di rumah sendiri."
"Kalian, segeralah menuju inti masalah. Aku harus meng-update website Magi*Mari."
"BACA SITUASI SEKARANG, PENYIHIR!"
Kedua raja meneriaki Merlin, yang hanya bisa menyumbat telinganya dengan jari. Sementara itu, Gudako dan yang lain mengangguk setuju. Sudah terlalu lama mereka berdua beramah-tamah seperti kawan lama, tidak mau menyinggung situasi Camelot sekarang!
"… ini serius," ekspresi usil Merlin berubah. "Dengan adanya kalian berdua di tempat yang sama, keseimbangan kekuasaan di sini goyah. Layaknya langit yang tak memerlukan 2 matahari, sebuah kerajaan tak memerlukan 2 orang raja. Karena kita semua ada di sini, sebaiknya kita bicarakan baik-baik, agar tidak terjadi masalah yang bisa menimbulkan perpecahan di kemudian hari."
Seperti yang bisa diharapkan dari Penyihir Kerajaan Camelot! Kalau dia mau serius, dia bisa sangat membantu!
"Benar, yang mulia berdua," Lancelot beranjak dari kursinya, untuk menghadap kedua orang itu. "Sejak kemunculan Raja Arthur, ingatan mengenai dunia pararel tempat Raja Arthur berasal, menyerbu masuk ke kepala kami. Sekarang, kami para ksatria memiliki ingatan tentang kekuasaan Raja Arturia… dan Raja Arthur sekaligus. Tidak ada yang paling benar, seperti halnya tidak ada yang paling salah. Kalian berdua… adalah raja kami."
"Lancelot…" gumam kedua raja itu, kompak.
Tristan, yang duduk di samping sang Ksatria Danau, menepuk punggungnya. Dia mewakili kawan-kawannya mengucapkan terima kasih, karena dia mengatakan apa yang menjadi pemikiran mereka semua.
"Um, Merlin," Mashu mengangkat tangannya, yang disambut sang penyihir dengan senyuman ramah. "Tak bisakah mereka menguasai Camelot berdua? Aku… takkan tega menyingkirkan salah seorang dari mereka. Kawan-kawan ksatria juga."
"Te-tooot! Tidak bisa begitu, Mashumallow-chan! Karena, ini masalah yang berhubungan dengan Noble Phantasm mereka: Excalibur. Pedang suci itu hanya mau meminjamkan kekuatannya ke raja Camelot yang sah. Jika ada dua orang berstatus sama, kekuatannya mungkin akan menurun… dan kita tak mau hal itu terjadi di tengah krisis Remnant ini, bukan begitu?"
Mendengar penjelasan itu, Mashu merunduk. Ia samasekali tak bisa menyangkal kekhawatiran itu.
Situasi itu membuat seorang peserta rapat kesal. Kenapa mereka semua tidak sampai pada kesimpulan sederhana yang terpikir olehnya? Gudako mendecak, lalu bangkit dari kursinya, "Tidak boleh ada 2 raja? Haah, kenapa kalian begitu bingung?"
Semua orang di ruangan itu menatapnya dengan bingung, atau penuh ekspektasi. Ide-ide sang Master biasanya amat cerdik, ia pasti bisa mengurai benang kusut ini!
"Mungkin di zaman kalian berbeda, tapi setahuku, di mana ada raja, maka di situ ada ratu."
"Tidak, di zaman kami juga seperti itu," komentar Bedivere. "Ada Raja Arthur dan Ratu Guinevere… tunggu." Sang tangan cahaya itu menutupi mulutnya, karena baru menyadari apa maksud perkataan Gudako. Tapi, dia tak mau mengakuinya…!
"Raja…" Arturia menolehi Arthur.
"Dan ratu…"Arthur menolehi Arturia.
BAM!
Gawain, Lancelot, dan Tristan terjungkal dari kursi mereka. Merlin menampakkan ekspresi bengong, yang pastinya baru pertama kali dia alami. Sementara Mashu menolehi sang senpai, dagu gadis itu sepertinya menempel ke meja bundar.
"Yang benar saja, Master! Dia ini diriku sendiri!" kata Arturia dan Arthur sambil menunjuk satu sama lain.
Gudako mengangkat bahunya. "Habis, mau bagaimana lagi."
"Tu-tunggu, tunggu dulu, senpai! Maksudmu, kamu ingin…"
"Arthur menjadi raja dan Arturia menjadi ratu Camelot. Gampang kan?" Gudako mengangguk dengan ekspresi amat bangga.
"IDE BAGUS LUAR BIASA MAST-" sebelum Merlin selesai bicara, dua tangan berlapis zirah menutup mulut besarnya.
"KAMI MENOLAK!"
"Benar! Menjadi sepasang raja dan ratu… dengan diri sendiri… dari dimensi lain, kurasa ada banyak sekali batasan yang dilewati!" teriak Arturia.
"Master, kenapa bisa terbayang di benakmu ide mengerikan seperti ini?" tanya Arthur.
"Aku cuma bilang," Gudako menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. Pertemuan ini sudah berlangsung terlalu lama, ia ingin mandi setelah bergelut di singularity tadi, sialan! "Atau… kalian ada ide lain? Yang tidak akan menggoyahkan keseimbangan?"
Pertanyaan itu sukses membungkam Arturia dan Arthur. Mereka saling memandang… lalu dengan kompak menunduk seraya menghela napas panjang.
"Oke… sepertinya tugasku di sini sudah selesai. Aku undur diri dulu, karena ofuro memanggilku!" Gudako bangkit dan melemaskan sendi-sendinya. Ia pun berjalan menuju pintu keluar, "Kutunggu keputusan kalian di chapter depan, ya!"
- to be continued? -
