Oke, lanjut!


Nasuverse Play FGO

Nasuverse ©Nasu Kinoko & TYPE-MOON

Fate/Grand Order © TYPE-MOON and DelightWorks

Chapter XI


30. The Talk

"…"

"…"

"Suatu saat nanti, akan kubunuh dia."

Ancaman kekerasan mengancam jiwa itu meluncur keluar dari mulut kedua orang itu. Arturia dan Arthur, keduanya Raja Arthur dari Camelot… yang karena dunia pararel dan segala tetek-bengeknya, bisa bertatap muka tanpa menyebabkan kehancuran ruang dan waktu akibat paradoks.

Dan mereka dikurung di kamar raja Camelot oleh Merlin.

Magic Resistance rank A tak berguna melawan sihir pengunci ruang!

Setelah ide gila (menurut duo raja itu) dari Gudako terlontar pada pertemuan tadi, semua personil Meja Bundar memaksa Arturia dan Arthur membicarakannya. Bahwa mereka diminta menjadi sepasang raja dan ratu… atau sederhananya, menikah.

Padahal mereka orang yang sama dari dimensi yang berbeda.

Namun Merlin, seperti biasa, sangat antusias melaksanakan ide-ide gila seperti itu. Dia pun mengunci Arturia dan Arthur di kamar tidur, agar mereka bisa "membicarakan masalah ini secara dewasa."

Oh, dan tentu saja karena, "Mordred ingin punya adik."

"Ingatkan lagi aku, kenapa bisa-bisanya orang tak waras seperti dia jadi penasihat di Camelot," tanya Arturia.

"… itu karena dia satu-satunya yang paham sihir dan segala tetek bengeknya," jawab Arthur, seraya memegangi kepalanya yang mulai pusing. Apa ini efek paradoks?

"Aaah, andai saja aku tahu kalau semua penyihir itu orang-orang tak bermoral."

"Hmm. Aku setuju denganmu," Arthur mengangguk.

Yah, mereka berdua memang pernah berurusan dengan penyihir-penyihir gila yang tak menghargai nyawa manusia, dalam perjalanan Perang Cawan Suci mereka. Mengingat itu semua membuat kedua orang itu terdiam karena merasa tak nyaman.

"Ngomong-ngomong…" Arthur menguak keheningan itu, membuat dirinya yang wanita menolehinya. "Dari sekian banyak hal membingungkan tentang dimensi pararel ini, ada satu hal yang paling membuatku penasaran."

"Oh? Apakah itu?"

"Perihal Mordred."

Senyuman di wajah Arturia membeku.

Itu… pertanyaan yang bagus. Memang, sejak Camelot, ia dan para Ksatria sudah tidak lagi mengasingkan Mordred. Hubungan mereka kini kembali ke mode professional seperti di masa kejayaan Meja Bundar dahulu. Hanya saja, Arturia masih enggan untuk memperbaiki hubungan orangtua-anak dengan Mordred. Anak itu juga sih, tak pernah mau dekat-dekat dengan sang ayah!

Servant lain yang mengetahui masalah ini juga tak pernah membicarakannya. Mereka menganggap keduanya sudah dewasa dan mereka akan berbaikan secara alami.

Tidak. Justru Arthur-lah yang pantas mempertanyakan ini kepada Arturia, mengingat mereka adalah orang yang sama.

"… tanyakan saja," akhirnya Arturia membuka mulutnya.

"Bagaimana… kau tahu, caramu 'menghasilkan' Mordred?"

GRAKKK.

Tiba-tiba saja Excalibur muncul di tangan Arturia, tanpa berselimutkan Invisible Air.

"Yah, kalau aku sih sudah jelas, karena 'kecelakaan satu malam' dengan Morgan. Tapi, kamu… dipikir-pikir bagaimanapun, itu mustahil, 'kan? Secara fisik dan biologis," Arthur memejamkan mata dan memegangi dagunya, sepertinya berpikir serius.

Excalibur yang dipegang Arturia mulai bercahaya, tapi dirinya yang pria ini tak juga menyadarinya. Mungkin karena dia juga pemegang Excalibur, jadi tak pernah merasa terancam karenanya?

"Dan lagi, siapa yang jadi 'ibu' di hubungan itu? Kamu, atau Morgan-"

Belum selesai Arthur berbicara, dia merasakan hawa panas di depan wajahnya. Dia membuka sebelah matanya, dan melonjak kaget saat melihat Excalibur hanya berada 2 cm di depan hidung mancungnya.

"Aku penasaran apa yang akan terjadi kalau aku membunuh diriku dari dimensi lain… akankah teori Emiya akan terjadi dan kita berdua musnah dari eksistensi?"

"Who-whoa, tunggu dulu, Arturia! Pikirkan baik-baik akibat dari perbuatanmu ini!" Arthur memunculkan Excalibur miliknya yang berselimutkan Invisible Air.

Beberapa menit setelah adu tatapan serius dan ancaman ledakan sword beamu

"Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Maaf," kata Arthur.

"Pokoknya, jangan coba-coba mengingatkan aku soal itu," Arturia menghembuskan napas panjang sembari meniadakan Excalibur. Kemudian ia teringat hal yang juga membuatnya amat penasaran mengenai dunia di mana dirinya yang pria ini berasal. "Arthur, kamu sendiri bilang kalau di duniamu, gender kita tertukar dengan Merlin. Jangan-jangan, para ksatria meja bundar…"

"Oh. Ya… beberapa di antara mereka perempuan."

BRAKKK.

"Arturia? Kenapa kamu meninju vas bagus itu sampai hancur?" Arthur menaikkan alisnya. Saat dirinya yang perempuan itu tak menjawab, diapun melanjutkan, "Oh, dan menjawab pertanyaanmu tadi: Tristan, Kay, Palamedes, Percival, Bedivere, semuanya wanita. Agravain juga wanita, dan dia mirip ibu mertua yang cerewet. Lalu, Lancelot tetap lelaki. Tapi, yah, dikelilingi ksatria-ksatria cantik sebanyak itu, tak heran pernikahanku dengan Guinevere hancur."

"Dengan kata lain… kamu main-main dengan mereka?" suara Arturia lebih mirip geraman singa betina sekarang.

"Whoa, whoa. Hubunganku dan para ksatria sepenuhnya professional," Arthur mengangkat kedua tangannya. Entah kenapa dia seperti merasa diinterogasi Guinevere kalau sang ratu curiga dia selingkuh dengan para ksatria? Arturia mengangkat wajahnya yang entah kenapa terlihat lega, dan Arthur melanjutkan, "Yah, walaupun tak semuanya berpikiran sama denganku. Terutama Bedivere… aku merasa tersanjung, sungguh. Ah, Arturia. Kamu sendiri dikelilingi ksatria-ksatria tampan seperti mereka, pastinya mentalmu kuat kan? Apalagi Lancelot itu, dia sepertinya lebih menyukaimu daripada Guinevere-"

BAMMM.

Terdapat lubang berbentuk sarung tangan besi di tembok ruangan.

"… tolong, hentikan pembicaraan tentang hubungan kita dan para ksatria," Arturia tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum.

Arthur hanya bisa mengangguk.

..

Pada akhirnya, mereka meninggalkan topik mengenai hubungan interpersonal dan beralih membicarakan para Ksatria itu sendiri. Dan entah sejak kapan, anggur memasuki pembicaraan mereka. Biasanya alkohol tak berefek pada Servant, tapi minuman itu spesial buatan Merlin. Pasti tujuannya untuk "memaksa" mereka untuk jujur satu sama lain… nyatanya, Magic Resistance kedua raja terlalu tinggi sehingga mereka "hanya" mabuk dan mengungkapkan semua unek-unek mereka.

"Lagian Lancelot itu! Dia bilang ingin membahagiakan Guinevere, tapi nyatanya dia selalu memandangiku dengan wajah penasaran! Kurang ajar! Apa dia pikir bisa menyeretku ke dalam threesome?!"

"Bloody hell, Lancelot di dunia ini sama mesumnya dengan di duniaku? Padahal dia punya anak gadis yang manis seperti Mashu! Aku turut berduka!"

Arturia menanggapi itu dengan menuangkan wine ke gelasnya, dan Arthur juga.

"Tapi kau masih beruntung, Arturia! Walaupun Merlin keturunan incubus, dia sendiri tak pernah menggodamu."

"Dia takkan berani kalau kejantanannya diancam Excalibur…" Arturia menatap teman minumnya itu dengan wajah tak percaya. "Tunggu… jangan bilang kalau kamu…"

Arthur menggeram, "Salah satu penyebab perkawinanku dengan Guinevere hancur… adalah keturunan succubus sialan itu…"

BRAKKK!

Arturia membanting gelasnya ke atas meja.

"Berarti, kita sepakat. Merlin harus mati."

"Setuju."

-xXxXx-

Keesokan paginya.

Ckess…

Mantra yang mengunci ruangan itu terbuka, dengan dinantikan para ksatria (lagi-lagi, tanpa Mordred), Merlin, dan Gudako. Mereka sebenarnya merasa sungkan menunggu di depan pintu seperti itu, kalau-kalau… terjadi hal yang tidak (sungguh) diharapkan di dalam sana. Tapi si Penyihir Bunga malah kelihatan senang, sepertinya memang dialah yang paling menantikan kejadian di dalam.

"Tunggu, Merlin, nggak apa-apakah kamu membuka pintunya begitu saja?" tanya Gudako. Ia menelan ludah, "Ba-bagaimana kalau mereka sungguhan menjalankan ideku?"

Bukannya ia khawatir melihat sesuatu yang seharusnya tak dilihatnya sih, ia sudah cukup terbiasa memergoki Servant yang sedang dalam posisi yang… memalukan (biasanya sih Shuten-douji yang tak tahu malu itu). Ia hanya khawatir apa yang akan terjadi kalau 2 orang yang sama dari dimensi lain melakukan… yah, kau tahu maksudku.

"Bagus dong! Aku jadi bisa membuktikan tesisku tentang Dimensi Pararel!"

Bwush!

Lancelot mengayunkan Arondight, yang dihindari Merlin dengan amat mudah.

"Ini bukan bahan bercanda, Merlin."

"Kamu cemburu, Lancelot?"

"Inilah sumpahku!" pedang saudari Excalibur yang dipegang Lancelot mulai bercahaya keunguan, sementara Gudako dan yang lain mulai menjauh. Senyum di wajah Merlin malah makin melebar. " O Raja dari Kepulauan nan Jauh… tataplah cahaya ini! ARONDIGHT OVER-!"

BAMMM!

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan amat keras dari dalam, menghantam belakang kepala Merlin dan membuatnya tersungkur. Gudako dan para Ksatria mengedipkan mata mereka, dan melihat duo raja dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Tapi, yang melegakan mereka (dan membuat sang Master kecewa), pakaian mereka masih rapi.

"Bisa tidak kalian diam!?"

"Ada yang ingin tidur di sini!"

"Kalian malah hangover?!" teriak mereka semua, membuat kedua orang itu menutupi telinga.

…..

"Kita sudah memutuskan."

Kedua raja itu nampak serius. Dengan sebelah tangan memegang bungkusan kompres berisi es untuk menangkal sakit kepala mereka.

"Ayo, bercandanya yang serius."

"Bisa diam sebentar tidak, Merlin?!" teriak Arturia dan Arthur, kompak. Keputusan buruk, karena kepala mereka semakin sakit. "Ouuuu…"

"… Merlin," bisik sang Master, membuat penyihir itu meliriknya, "Apa yang kamu masukkan ke minuman mereka semalam?"

"Ramuan-"

"Kalau kau bilang ramuan cinta, akan kupukul," Gudako mengangkat tinjunya.

Merlin tampak menelan ludah. "Um, maksudku, aku hanya memasukkan sedikiiiiit sihir untuk mencairkan suasana. Kamu tahu sendiri, Gudako, bagaimana karakter dua orang ini. Selama mereka masih 'Raja Arthur', masalah tim Camelot ini takkan pernah selesai."

"Oh?" sang Master menurunkan tinjunya-

"Tapi, kupikir mereka akan lebih jujur satu sama lain, kalau kamu tahu maksudku. Jadi, hasil akhir ini cukup mengecewakanku…"

Bletak!

"Ja-jadi, apa keputusan kalian, rajaku?" tanya Bedivere, mengabaikan Merlin yang terkapar dengan kepala berdarah-darah.

Kedua raja saling menoleh, dan mendapati adalah wajah masing-masing yang kacau. Tidak ada harga diri sebagai Raja Arthur di sana, hanyalah dua orang yang mengalami hangover parah gara-gara wine yang disihir. Kondisi yang payah, bahkan memalukan…

Ini membuat mereka tertawa kencang. Gudako dan para Ksatria hanya bisa melongo, mereka tidak pernah melihat Arturia selepas itu!

Setelah tawa mereka reda dan rasa sakit kembali menyerang, mereka menggeleng lembut, dan kembali menghadap ke semua yang menanti.

"Keputusan kami adalah…" mereka mengatakan ini dengan kompak, kemudian saling menoleh.

"Tidak ada perbedaan antara aku dan Arthur," lanjut Arturia.

"Kita adalah satu. Kita semua sekeluarga," lanjut Arthur.

Arturia bangkit berdiri. "Yang dibutuhkan takhta Camelot dan tim ini, juga Chaldea, bukanlah seorang Raja."

Arthur bangkit dan menepuk pundak dirinya yang wanita. "Melainkan seorang Servant yang mengabdi untuk melindungi umat manusia."

"Kami akan melindungi Master. Kami akan melindungi dunia. Kami adalah Servant Saber."

Itulah jawaban mereka.

"Rajaku!" Lancelot, Bedivere, Tristan, Gawain, dan Mashu dengan serentak berlutut di hadapan mereka, dengan tangan kanan di depan dada mereka.

"Yang Mulia!" bahkan Merlin, yang sejak tadi tidak serius, ikutan berlutut dengan khidmat.

31. Iron Chef: Camelot

"Gakh… ?!"

Dagu Emiya meluncur menabrak lantai begitu melihat Arthur. Setelah hangover mereka sembuh (berkat obat mujarab Paracelsus), sang Saber perak dengan ditemani Arturia, berkeliling Chaldea lagi untuk menyapa Servant yang mereka kenal.

"Hehehe. Lihat ini, Shirou. Aku tampan, bukan?" Arturia membusungkan dada ratanya.

"Gha… gha… akh?!" Emiya entah ingin tertawa atau menggosok matanya dengan Rule Breaker.

"Shirou…? Ah, jadi dia ya?" Arthur menyeringai. Entah kenapa Arturia melihat… sosok Emiya di sana. Ini buruk. Merlin sudah memperingatkan kalau Arthur ini bukan karakter yang selalu serius. "Kamu kekasih diriku yang wanita-ubuh?"

"Ku-kurasa sudah cukup perkenalan dirinya di sini, Arthur. Mari kita pergi!"

Arturia pun menyeret Arthur pergi, sementara Emiya menatap mereka dengan tatapan kosong.

"Master."

"Y-ya, Emiya-san?" tanya Gudako, yang masih terengah-engah karena terlalu banyak tertawa akibat interaksi barusan.

"Tolong, bakar aku jadi mana prism."

"Sebegitu shock-nya kah kamu?!"

…..

"Kenapa kamu malu, Arturia? Itu wajar kan, memiliki pasangan," goda Arthur, dengan senyuman lebar.

"T-tapi, rasanya aneh saja kalau diriku dari dimensi lain berkomentar soal kehidupanku di sini!" kata Arturia dengan wajah masih memerah. "Dan si-siapa bilang kalau dia ke-kekasihku?"

"Begitukah?" Arthur mengabaikan Arturia, dan memegang dagunya. "Sayang sekali… padahal aku ingin mengetahui apa dia pantas untukmu."

"M-maksudnya?"

"Kamu cerita kalau masakannya sekelas dewa, bukan? Aku jadi penasaran ingin menantangnya berduel."

Fakta baru ini membuat mata Arturia berbinar. "Kamu… bisa masak, Arthur?"

"Oh, tentu saja," jawab Arthur dengan seringai bangga. "Dengan memasak bagi ksatria dan pasukan, aku bisa mendekatkan diri dengan mereka."

Mendengar itu, Arturia bercahaya seperti saat ia akan menembakkan Excalibur. Ia pun menyeret Arthur lagi, "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kamu harus memasak untukku!"

"Uh, kita barusan makan siang kan?"

…..

Arthur meletakkan 2 piring berisikan hasil karyanya di depan Arturia. Entah kenapa dia terlihat sangat cocok mengenakan celemek putih yang menutupi kaus merahnya. "Yah, karena ini mendadak, aku hanya bisa membuat ini: egg benedict dan daging panggang."

Menu khas Inggris itu nampak hebat. Egg benedict dengan kuning telur mengilap yang masih cair dan kental, dipadu daging panggang medium rare yang menguarkan kaldu.

"I-ini luar biasa, Arthur!" Saber biru itu segera meraih pisau dan garpunya, lalu menancapkan perkakas makan itu ke dalam daging. "Selamat makan!"

Nom.

"Sebenarnya, menu andalanku itu mashed potatoes dan rebusan. Kamu tahu, ransum medan perang," Arthur melepas celemeknya, dan duduk di depan Arturia yang mematung dengan warna memudar. "Hmm? Kenapa?"

"Itu karena masakanmu hambar, oi Pemilik Pedang Suci," bersamaan dengan itu, sebuah tangan kekar mencomot daging di piring Arthur.

Itu Cu Chulainn, versi yang lebih muda! Pria liar itu memasukkan daging ke dalam mulutnya, mengunyah sebentar, dan alisnya berkerut.

"Lancer!"

"Karena kau terbiasa masak untuk banyak orang, kau mengutamakan kuantitas dibanding kualitas. Jelas saja hambar, takaran bumbunya kurang!" kata Proto Cu.

"Be-begitukah?" Arthur meneteskan keringat dingin. Wajar sih Lancer dari dunianya berkomentar begitu, Ayaka sudah sering menasehatinya hal yang sama.

"I-itu Gawain banget!" kata Arturia. "Oh, maaf, bukan bermaksud menyinggung. Tapi, Gawain di duniaku juga berpedoman sepertimu…"

"Beruntungnya…" Saber perak itu langsung muram. "Gawain di duniaku… untuk menyebut masakannya sebagai racun, itu sebuah pujian…"

"Separah apakah itu?!" pikir Arturia dan Proto Cu.

35. Otome

"Jadi, di sinilah kamarmu, Arthur," kata Gudako, mengakhiri tur hari kedua itu di daerah tempat tinggal para cowok. Karena kemarin Arthur menginap di kamar raja Camelot, jadi dia tak sempat memilih kamar.

Sang raja memasuki ruangan itu, dan bersiul. Kamar itu masih kosong melompong, hanya berisikan sebuah ranjang, meja, lemari pakaian, dan cermin.

"Maaf, aku tak sempat menyiapkan dekorasi untukmu… kemarin kan situasinya cukup kacau," Gudako menggaruk-garuk lehernya. Melihat Arthur diam saja, ia khawatir kalau-kalau telah menyinggung sang raja. "T-tapi, kamu bisa memesan dekorasi dan mebel untuk kamarmu di workshop, kok! Mereka akan datang besok!"

Arthur menolehi sang Master dengan senyuman ramah. "Ah, tidak apa-apa Master, tak usah repot. Bisa mendapat tempat tidur saja, aku sudah berterima kasih. Dibandingkan situasiku selama berburu monster yang mengancam Camelot, ini sudah mewah sekali."

Gudako mengedipkan matanya sekali, dua kali, lalu tertawa kecil.

"Kamu tahu, Arthur, walaupun secara teknis kalian dua orang yg berbeda, tapi di sisi lain sifatmu dan Arturia benar-benar sama," kata Gudako. Ia berkacak pinggang, "Aku senang Arturia dan para Ksatria tidak menyambutmu berlebihan… bahkan, bisa menerimamu sebagai rekan dan pemimpin mereka. Aku yakin, keberadaanmu di sini akan semakin menguatkan hubungan seperjuangan Ksatria Meja Bundar."

"Terima kasih, Master," Arthur mengangguk sekali.

Dia berbalik menghadap Gudako, lalu memunculkan zirah tempurnya dan… berlutut.

Gudako langsung panik melihat itu. "E-eh? Berdirilah, Arthur! Rasanya tak pantas seorang raja sepertimu berlutut di hadapan penyihir biasa sepertiku!"

"Sebelum aku adalah raja, aku adalah ksatria dan seorang Servant. Karena itulah, biarkan aku menyatakan ini," Arthur meraih tangan kanan Gudako, dan mencium punggungnya, tepat di atas Command Spell. "Aku berikrar akan melindungimu, karena aku adalah Servant-mu, Saber."

ia mengatakan itu dengan senyuman ramah nan lembut khas seorang pangeran, membuat wajah Gudako memerah dahsyat dan jantungnya berdegup kencang. Sebelum Servant barunya itu menyadari, ia memalingkan wajahnya.

"B-baiklah. Saber, mulai sekarang aku akan mengandalkanmu dan pedangmu. Mari kita lindungi umat manusia bersama-sama."

Arthur bangkit, tapi tangannya masih menggenggam tangan Gudako. Dia menatap mata sang Master dalam-dalam, membuat gadis itu tenggelam dalam iris hijaunya. "Sesuai keinginanmu, Master."

Meskipun tampak tenang, dalam hati Gudako berteriak histeris.

"Kyaaaaaaaa! Aku serasa jadi heroine di otome game! Arthur, dia ini berbahaya!"

37. Daddy Issues

"Grrmm…"

Mordred, sembari merebahkan tubuh di atas meja, mengunyah sedotan dengan wajah malas. Makan siangnya nyaris tak tersentuh (tersisa kira-kira 10%), membuat Jekyll dan Frankenstein yang makan siang bersamanya khawatir.

"Uuuu…?" sang monster, yang mengenakan gaun one piece putih simpel, menarik-narik lengan kemeja Jekyll. Sang dokter tak harus mengerti bahasa sederhana Fran untuk bisa mengetahui apa yang mau ia tanyakan.

"Oh, Mordred baik-baik saja kok. Hanya saja, dia sedang memikirkan seseorang."

GAK GAKKK.

Naik di atas kursinya, Mordred menarik-narik rambut Jekyll dengan wajah kesal.

"Apa maksudmu, hah?!"

"Aw, owowow, awww! Maaf, maaf!" si Ksatria Pengkhianat itu pun melepaskan genggaman besinya sambil mendengus kasar. Jekyll menjauhkan dirinya, lalu mencoba menata kembali rambutnya. "Ka-karena reaksimu begini, aku benar kan?"

BUAK!

Kali ini tangan Mordred menghantam kepalanya.

"Maaf lagi," Jekyll bergumam dari posisinya yang mencium meja. Tangannya menunjuk seorang lain di meja mereka. "Tapi, Fran khawatir padamu, Mordred."

"Uuu…" Fran mengangguk-angguk.

Ini menyentuh rasa iba Mordred. Ia pun menghampiri Fran dan mengelus-elus kepalanya, "Bukan apa-apa kok Fran, jangan terlalu memikirkannya!"

"Uu? Uuu…!"

"Te-tentu saja, mana bisa Mordred yang hebat ini curhat ke teman-teman tentang masalah pribadi!" pikir sang Saber Merah.

Akhir-akhir ini, ia merasa jengkel terus.

Sejak kejadian di Camelot, hubungannya dan para Ksatria Meja Bundar lain sudah lebih baik. Yah, setidaknya takkan ada lagi pertengkaran hebat yang berujung pada perkelahian kalau Mordred mampir ke Ruang Camelot. Dengan sang ayah, Arturia, juga begitu. Sang raja tak lagi mengasingkan Mordred, hanya saja ia tetap canggung dalam berurusan dengan anaknya. Akibatnya, hubungan mereka tetap saja renggang. Walaupun menurut Gudako itu sudah mendingan daripada dulu, sih.

"Bu-bukannya aku nggak lagi membenci ayah, tapi aku hanya ingin nyuekin dia!" begitulah yang dipikirkan Mordred-sama ini.

Ya, setelah sekian lama di Chaldea, Mordred akhirnya merasa sungguh-sungguh nyaman. Bahkan ia berani menyebut tempat ini sebagai rumahnya. Bagi seorang Servant dengan sejarah kelam seperti Mordred, itu adalah pujian tertinggi.

Tapi semua berubah saat… pria itu datang.

"Mordred!"

Yang dipanggil meloncat dari kursinya karena kaget. Dengan gerakan leher kaku seperti robot, ia menoleh ke asal suara itu… dan melihatnya.

"… ah."

Pria yang sejak tadi dipikirkannya, muncul begitu saja. Dengan kaus lengan pendek merah dipadu celana hitam, Arthur tampak santai. Namun, wajahnya berlawanan dengan nuansa pakaiannya itu. "Kenapa kamu pakai baju seperti itu lagi?"

Memang sih, saat itu Mordred mengenakan pakaian favoritnya: tube top dengan celana super pendek, yang tak ditutupi jaket karena ia sedang makan. Pakaian itu memamerkan kulitnya yang mulus dan proporsinya yang feminism, tapi siapapun yang mengomentari atau memprotes itu, memicu Clarent melayang ke wajah.

"Sudah kubilang, anak gadis sepertimu tak pantas pakai baju yang terlalu terbuka seperti itu!"

Seseorang yang berani seperti itu sangat jarang. Bahkan Arturia tak mau mengomentari gaya berpakaian anaknya yang nakal itu! Tapi, Arthur dengan entengnya…!

"A-aaah?!" Mordred mengerang kesal, "Apa urusanmu dengan bajuku?!"

"Banyak," jawab Arthur tegas.

"Guu…" Mordred sambil menunjukkan taringnya seperti anjing kecil yang terdesak "Dasar, apa sih masalahnya?! Muncul begitu saja seenaknya dan ngaku-ngaku sebagai ayahku dari dimensi lain?! Padahal aku nggak akan pernah menganggapnya sebagai ayah! Soalnya, ayahku kan…"

Terbayang wajah Arturia yang menyerbu makan siangnya dengan brutal selayaknya minum teh, lalu minta tambah dengan wajah super serius… walaupun ada sebulir nasi di pipinya.

"Kadang-kadang bisa manis walaupun biasanya terlalu serius! Bu-bukannya aku mengakui kalau dia manis sih, itu pendapat orang-orang! Tapi, orang ini…" Mordred melayangkan pandangannya ke Arthur yang berjalan mendekat.

Kedua iris hijau seperti miliknya dan Arturia, rambut pirang keemasan, lalu kontur wajah yang macho sekaligus gagah itu…

"Oi, tunggu dulu… semakin dilihat, dia ini pria tampan, kaaan?!"

Benar, itu dia yang membuat Mordred-sama bingung selama ini!

Arthur ini, bisa-bisanya dia mengaku sebagai ayahnya, padahal dia dan Arturia begitu berbeda! Terutama, wajah mereka. Itulah mengapa setiap berpapasan dengannya, Mordred selalu bersembunyi… walaupun ia terus mencuri-curi pandang ke arahnya.

"Ini juga… yang membuatku bingung. Perasaanku ke ayahku yang wanita, Arturia… berbeda dengan ke ayahku yang pria…" tanpa terasa wajah Mordred terasa sedikit hangat. Ia pun berpaling dari Arthur… saat tiba-tiba wajah tampan itu ada di depannya.

"K-kyaaaaa!"

Clang.

Waktu terasa berhenti karena teriakan itu. Semua orang di cafeteria, pegawai Chaldea dan para Servant lain, menatap asal suara manis itu dengan wajah-wajah tak percaya.

"Dia bilang 'kyaaa'?!" pikir mereka, kompak.

"… heh?" bahkan Arthur juga tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"A-ah…" sementara Mordred, wajahnya memerah tak karuan. "Bu-bukan, maksudku…"

"Apapun itu, ikutlah denganku," Arthur menganggap teriakan manis tadi tak pernah ada, dan dia memegang pundak Mordred untuk menyeretnya pergi. "Sudah lama aku ingin bicara denganmu."

"O-oi! Lepaskan aku!" Mordred mencoba melepaskan tangan sang ayah, tapi apa daya cengkeramannya terlalu kuat, walaupun tidak menyakitkan. Ayah yang pengertian… "Tu-tunggu, apa yang kupikirkan?! Jekyll, Fran! Bantu aku!"

Kedua temannya itu saling memandang.

"Maaf, Mordred. Aku merasa tak berhak ikut campur dalam urusan keluarga orang."

"U… uuu!" Fran malah melambaikan tangannya.

"Awas kaliaaaaaaaan!"

…..

Pada akhirnya, Mordred pasrah diseret-seret ayahnya. Kini, mereka berada di Salon de Marie, duduk semeja dan saling berhadapan. Sang ayah memesan set minum teh, dan Mordred segelas besar es krim soda. Sementara Arthur berbincang dengan waitress hari itu, Mata Hari, Mordred menyesapi minumannya dengan wajah malas… dan berusaha tak menatap pria itu.

"Dasar… dia menyeretku meninggalkan makan siang, dan sekarang malah mengabaikanku untuk ngobrol dengan cewek lain!?" menyadari apa yang dia pikirkan, wajahnya memerah. "Bu-bukan! Aku mikir apaan sih?!"

"Fufufu… apapun itu, selamat menikmati kencanmu hari ini, Mr. Arthur," dengan tawa kecil, Mata Hari pun pergi meninggalkan mereka.

"KENCAN?!" kepala Mordred terbanting ke atas meja, mengguncangkannya sehingga soda miliknya muncrat ke wajahnya. Ia lalu mengangkat wajahnya yang merah, antara sakit dan malu. "Awww!"

"Whoa, kamu tak apa-apa?" Arthur bangkit dan menghampiri anak itu.

"Ng-nggak kok, wanita bodoh itu saja yang membuatku kaget!" kata Mordred. Ia merasa ada sesuatu yang basah di pipinya, dan mengusapnya dengan tangan. Basah dan lengket, itu pasti tumpahan soda dan es krim. "Uukh."

"Haaah. Kamu kenapa sih?" Arthur menyentuh wajah Mordred yang basah itu, membuat si gadis membeku karena shock, lalu mengusapnya dengan sapu tangan. "Jadi anak perempuan itu yang elegan dong. Apalagi, karena kamu anak seorang raja, kamu bisa dibilang sebagai pangeran… ah maaf, putri."

"PUT-PUTRI?!" Mordred terhenyak dari lamunan karena harumnya sapu tangan sang ayah. Ia pun menampiknya, tapi Arthur sudah beralih kembali ke kursinya, meninggalkan sapu tangan itu. Ia memandanginya sejenak, dan wajahnya memerah lagi.

"Simpanlah itu dulu, wajahmu masih basah," kata Arthur sembari menuangkan tehnya.

"Um… terima kasih."

Kata mengejutkan itu membuat ekspresi sang ayah berubah. Kedua matanya melebar sejenak, lalu dia terkekeh senang.

"Ke-kenapa kau menertawaiku?!" Mordred naik ke atas kursi dan menudingnya.

"Oh, tidak,"Arthur mengangkat kedua tangannya. Dia lalu memalingkan wajah dan memejamkan matanya. "Aku senang. Mordred di dunia ini, bisa mengucapkan terimakasih setulus itu, ya."

Melihat ekspresi melankolis sang ayah, rasa kesal Mordred hilang, dan ia pun kembali duduk di kursinya, masih dengan wajah bersemu.

Tak ada pembicaraan yang terjadi setelahnya. Arthur menikmati tehnya, sementara Mordred mengaduk-aduk sodanya dengan malas.

"Hei," tapi dasar Mordred, ia tak bisa diam untuk waktu lama. Mendengar panggilan tak yakin itu, Arthur meletakkan cangkirnya. "Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Ayah - maksudku - Arturia di dunia ini tak pernah memperlakukanku seperti ini. Ksatria yang lain juga. Y-yah, sikap mereka padaku sudah mendingan sih, tapi… masih dalam, apa istilahnya, ranah profesional saja. Tapi, kau…"

Mordred terdiam kemudian, sepertinya kesulitan merangkai kata. Anak itu memang canggung.

"U-umm, kau berasal dari dunia lain, kan? Pastinya kau menerima perlakuan yang berbeda dengan ayah di dunia ini. Tapi, kau sendiri memperlakukanku lebih baik dari mereka."

Tapi, perkataannya itu sukses menghilangkan senyuman di wajah Arthur.

"Ah. Bagaimana menjelaskannya, ya," pria itu meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Benar katamu. Aku ini Raja Arthur, dan para ksatria memperlakukanku seperti Arturia. Mereka menganggapku sebagai rekan seperjuangan dan raja. Tapi… aku tetap merasa terasing. Mereka bukan Ksatria Meja Bundar-ku, kamu tahu?"

Mordred mengangkat wajahnya, dan ia merasa tenggelam di dalam lautan hijau, mata sang ayah. Kedua iris yang sama dengannya itu, kini tak memancarkan kebanggaan dan harga diri sebagai raja, melainkan… perasaan kesepian.

Mordred pernah (mencuri) dengar dari Arturia dan Merlin, bahwa Arthur ini telah mengelana dimensi selama entah berapa lama; terpisah dari semua orang yang dia kenal. Kebetulan saja dia bisa bertemu Gudako, yang menawarinya untuk tinggal sementara di Chaldea, beristirahat dari misinya selama ini.

"Kalau kau bilang begitu… aku juga bukan ksatria-mu, kan?" tanya Mordred kemudian.

"Itu benar. Tapi, kamu anakku. Ikatan darah lebih erat daripada ikatan pedang, kamu tahu?"

Arthur mengatakan itu dengan senyuman sedih, yang Mordred rasa tak pantas untuknya. Ia pun menundukkan kepala.

"… bagaimana… Mordred di duniamu?"

Sebuah pertanyaan yang lama terpendam.

Sejak mengetahui kalau Arthur ini berasal dari dunia lain, Mordred selalu ingin menanyakan itu. Dia ingin tahu, apakah nasib Mordred-nya dunia lain sama sepertinya, apakah dia sukses memberontak dan menjadi Raja Camelot, dan bagaimana perlakuan Arthur kepadanya?

Tapi, ia takut. Ia takut dan khawatir dengan nasib Mordred-nya dunia Arthur.

Seolah menyadari apa maksud pertanyaan gadis di depannya, sang ayah tersenyum lembut. Dia meraih kepala anak itu, dan Mordred membeku karenanya.

"Dia anak yang baik, dalam hatinya. Dia menginginkan apa yang seharusnya diberikan orangtua pada anaknya: perhatian, kasih sayang, dan pengakuan. Tapi aku mengabaikannya, karena dia hasil hubungan terlarang. Aku… terlalu perhatian pada reputasiku sebagai seorang raja di masa kritis, sehingga aku menolak mengakuinya sebagai anak dan pewaris takhta yang sah."

Mordred mengangkat kepalanya.

"Jadi… kamu senang melihatku, hanya karena Mordred di duniamu… lebih keras?"

Arthur menggeleng.

"Bukan. Aku hanya merasa senang bisa mengakrabkan diri denganmu," jawabnya. "Selama ini, aku merasa bukan ayah yang baik. Aku membencimu hanya karena kamu lahir berkat ulah Morgan… dan kecerobohanku sendiri. Padahal seorang anak tak perlu menanggung dosa orangtuanya.

"Karena itulah, Mordred. Untuk menanggung semua kelalaianku padamu sebagai seorang ayah, izinkan sekarang aku menjadi ayah yang baik bagimu."

Kedua mata Mordred melebar dan mulai bergetar.

Tidak, tidak! Mordred-sama yang hebat ini tak mungkin menangis! Ia buru-buru menampik tangan sang ayah dan membalikkan badan untuk mengusap matanya.
Sementara itu, jauh di latar belakang, Arturia yang menguntit mereka bersama Merlin sejak tadi, menitikkan sebulir air mata.

"Kamu… mengatakan semua yang ingin kukatakan, Arthur. Terima kasih."

"O Arturia, kamu tak ingin bergabung dengan mereka?"

"Tidak. Aku merasa belum pantas… tapi, suatu hari nanti-"

"Sebagai ibu, kan?"

"… Merlin, kamu sebegitunya ingin mati?"

…..

"Karena itu, ayo, kita main!" Arthur bangkit dari kursinya, dan memegang tangan Mordred.

Mengabaikan jantungnya yang mulai berdetak kencang, gadis itu mencoba protes. "E-eeh? Secepat itu?"

"Tentu saja dong! Waktu kita tak banyak, Remnant chapter 2 bisa terjadi kapan saja!"

"Memangnya kita mau ke mana…" wajah Mordred memerah lagi, dan ia memalingkan pandangannya, "Ayah?"

Entah apa wajah Arthur bisa lebih bercahaya lagi mendengar panggilan itu.

"Sudah kuduga, Mordred-nya dunia ini terlalu manis!" dia memeluknya, membuat wajah Mordred meledak dalam asap pink.

"A-ayah?! K-kau… terlalu dekat…" menyadari kontur badan kekar sang ayah yang hanya terpisah kaus, gadis itu merasa darah mengalir deras menuju hidungnya. "Ugh…"

…..

"… sepertinya aku harus menasihati Arthur tentang batas antara orangtua dan anak."

"Sudah kuduga, kamu lebih pantas sebagai ibu, Arturia."

- to be continued -