Nasuverse Play FGO

Nasuverse Nasu Kinoko & TYPE-MOON

Fate/Grand Order TYPE-MOON and DelightWorks

Chapter XIII


41. War of the Nobu

Sore itu, udara di markas Shinsengumi terasa amat berat.

Atas perintah Hijikata, para chibi Shinsenobu pun memotongnya sebagai kudapan dan menghidangkannya kepada para tamu. Ini karena suplai tentara mereka dirampok… dan itu terjadi setelah pasukan mereka dipukul mundur chibi Nobu. Kekalahan beruntun, sungguh memalukan!

"Penyambutan yang sungguh nggak golden," gumam Kintoki.

"Ini memberi makna lain dari ungkapan 'makan angin'," komentar Gudako sembari menyingkirkan… benda itu. "Mengabaikan perampokan itu, memangnya Shinsengumi semiskin ini? Bukannya pemasukan gacha kalian (dari Okita) besar ya?"

"Benar! Tapi Hijikata-san menghabiskan semuanya untuk takuan dan mayones!" komentar Okita, kesal. Kecanduan sang Wakil Komandan terhadap takuan saja sudah menghabiskan anggaran makanan pasukan… apalagi setelah dia merasakan nikmatnya mayones!

"Whoa, karakter orang ini jadi tidak jelas… inikah pengaruh modernitas pada sejarah umat manusia? Menjijikkan," komentar Zhuge Liang. Dua batang rokok menyembul di mulutnya, tanda dia sedang serius berpikir untuk membalikkan situasi perang ini. Atau mungkin hanya dia yang serius sementara para pemimpin pasukan lain sedang uring-uringan.

Situasi singularity ini memang cukup aneh. Tersesat di era Bakumatsu, Gudako dan kawan-kawan bertemu dengan Oda Nobukatsu dan Hijikata Toshizo yang tengah berperang. Nobunaga dan Okita, dua sahabat itu dipaksa ikut dalam peperangan.

Demi harga diri klan, kata Nobukatsu.

Demi keamanan era, kata Hijikata.

Nobunaga dan Okita pun harus bertempur… namun, di hari kedua, Nobukatsu malah mengkhianati sang kakak dan merebut komando pasukan klan Oda darinya; sehingga ia harus mengungsi ke markas Shinsengumi. Gudako, yang awalnya netral dan ingin menonton saja (akhir-akhir ini situasi Chaldea membosankan), akhirnya memihak kubu Hijikata.

"Adik keparat itu! Berani-beraninya dia menendang aku dari kediaman klan…" geram Nobunaga. Tanpa mengenakan topi dan jubah yang mengintimidasi itu, ia nampak seperti gadis remaja biasa (yang marah).

"Hm. Mengabaikan perselisihan antara kita di hari pertama, aku setuju denganmu. Aku paling benci pengkhianat sepertinya," sambung Hijikata. "Takkan kumaafkan."

"Bahkan dia juga menyandera Chacha-dono. Sungguh kurang ajar," sambung Okita.

Kedua pemimpin kubu yang kemarin bertarung sengit itu, kini telah beraliansi. Tujuan mereka sama: menghabisi Nobukatsu. Sesi brainstorming strategi sudah dimulai sejak pagi tadi, tapi sampai sekarang mereka belum menemukan cara untuk bisa menembus pertahanan musuh, sebuah Reality Marble yang dikontrol Demon Pillar, Andras.

Tiba-tiba…

Terdengar langkah-langkah kecil berderap di lorong ruangan dengan efek suara seperti sepatu bayi. Kenapa Hijikata memilih mereka menjadi penyusup dengan suara seribut itu, tak ada yang tahu. Sepertinya dia lemah sama yang manis-manis juga?

"Ada apa, Shinsenobu?" tanpa menoleh, Hijikata bertanya demikian.

"Nobubububu!"

"Hmm. Hmm, lalu?"

"Nobuah nobu!"

"Benar. Di sana…"

"NOBU!"

"… mereka ngomong apa?" tanya Zhuge Liang kepada sang Master.

"Bahasa Nobu. Hanya Nobunaga, Okita, dan Hijikata yang menguasainya di sini…"

"Hmph. Beri aku waktu sehari, aku juga bisa menguasainya," Zhuge Liang tampak tertantang. Tentu saja, sebagai ahli strategi, mempelajari bahasa asing sangatlah penting!

"Boleh saja… tapi apa kamu mau kosakatamu hanya terbatas pada 'Nobu'?" penawaran ini membuat sang Caster terdiam. Dia tak mau merusak image-nya sebagai karakter serius.

"Ada celah, katamu?!" Hijikata bangkit dengan penuh semangat, mengagetkan semua orang.

Nobunaga mendengus, antara kesal dan senang. "Bisa membuat celah di Reality Marble… sepayah apakah adik sialan itu…"

"Um, menurutku suasana ini terlalu aneh," Okita mengangkat tangannya. "Pertahanan mereka bisa semudah ini dibobol Shinsenobu… pasti ada yang salah! Kupikir ini jebakan!"

"Kau meremehkan Shinsenobu milikku?!" teriak Hijikata.

"Nggak, nggak. Adik idiot itu mana mungkin memikirkan strategi serumit ini," kata Nobunaga.

Kedua mata Okita langsung berkaca-kaca mendengar penolakan itu.

Hijikata mengabaikan anak buahnya, dan mengambil mantel serta katana-nya, siap tempur. "Bangkitlah, rekan-rekan seperjuangan Shinsengumi-ku-"

"Aku bukan Shinsengumi!" protes Nobunaga.

Hijikata mengabaikannya juga. Saat ini Mad Enhancement-nya sudah aktif, "Saatnya kita balas menyerang Oda Nobukatsu! Musnahkan dia dari peradaban!"

"NOBUUUH!"

"Musnahkan dari peradaban, katamu… kau kan bukan Goetia," komentar Zhuge Liang.

"Wah, di luar dugaan mereka bisa ada gunanya juga selain pemanis," kata Gudako, sembari meremas-remas pipi Shinsenobu di dekatnya, gemas.

"Apa maksudmu dengan itu, Master?" Okita menudingnya. "Tentu saja mereka berguna!"


41. Shin Nobu Musou

Mereka pun sampai di depan benteng emas Zipang, Reality Marble milik si monyet (Hideyoshi) yang entah kenapa bisa diwujudkan Chacha, dan kini melindungi markas pasukan Oda. Benteng itu menjulang angkuh di atas kepala pasukan penyerang, yang tengah bergumul dengan pasukan klan.

Tapi mereka terlalu tangguh untuk para chibi itu. Korban chibi Nobu terus bergelimpangan di tangan-tangan marah Nobunaga, Hijikata, dan Okita. Gudako dan timnya hanya bisa menyaksikan kebrutalan di depan mereka dengan meneteskan keringat dingin. Kecuali Shuten yang menjadikannya pemandangan minum sake.

Sampai saat ini, sepertinya peperangan berlangsung dengan amat timpang. Bagaimana tidak, kubu Shinsengumi digawangi para Servant sedangkan kubu Oda hanya mengandalkan para chibi Nobu… yang hanya menang imut saja.

Tentu saja, baru saja Gudako berpikir demikian-

"Rho Aias!"

Muncullah sebuah perisai berbentuk kelopak bunga melindungi pasukan Oda yang keteteran. Teknik yang samasekali tidak macho ini… jelas adalah ulah-

"Bersiaplah, Master. Sepertinya bukan kamu saja yang meminjam kekuatan Servant," kata Waver sembari membetulkan letak kacamatanya.

Dari dalam debu dan asap pertempuran, berkibaslah angin kencang yang memudarkannya. Di sana tampak sosok tiga orang Servant… yang tak asing lagi bagi Gudako dan yang lain. Mereka adalah seorang pria kekar berjubah merah, pria macho dengan pakaian ketat serba biru, dan seorang penyihir yang melayang-layang-

Singkatnya, sangat tidak cocok dengan suasana Jepang kuno.

"Emimura Sanada," pria kekar itu memperkenalkan dirinya. Wajah tampannya tertutup… topeng dengan simbol keluarga Sanada. Untuk memperjelas kedudukannya, sebuah trisula tergenggam di tangannya.

"Masamune Gae Bolg," yang ini mengenakan penutup mata dan topi samurai bertanduk bulan sabit. Anehnya, dia bersikeras menggunakan tombak…?

"Nama kalian seperti es campur," dan yang ini langsung menyindir penyamaran parah kedua rekannya itu. "Protes! Mereka bukan rekanku! Aku tak mau dikelompokkan dengan dua idiot ini!"

"Diam, nenek!"

Guratan otot menyembul di dahi si penyihir, tapi ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri. Salah apa ia sampai harus ikut dalam event konyol ini?! "D-dan terakhir aku, Medea-hime."

"Ngapain kalian di sini?!" hanya itu yang terucap dari mulut Gudako, sementara anggota timnya kompak menepuk dahi. Kecuali Shuten yang masih minum-minum, tentunya.

Emimura menyilangkan lengannya, dengan senyum amat sok, "Seorang Pembela Kebenaran takkan mengabaikan permintaan tolong orang yang tertindas (Nobukatsu), bukan?"

"Aku hanya ingin berantem," jawab Cu. Dia lalu menyenggol Medea, memancingnya untuk berbicara. Tapi penyihir itu diam saja, tak ada yang bisa membaca ekspresinya yang tertutup kerudung. Mungkin ia hanya malu.

"Uhm, Medea?" Gudako mengangkat tangannya, dan si penyihir memelototinya dari balik kerudung. "Soal menjaga gerbang, kenapa tidak menyuruh penjaga gerbang profesional (Kojirou) saja?"

"Apa boleh buat kan?! Si bocah Oda menyeretku dengan reyshift begitu saja! Katanya aku takkan bisa kembali sampai berhasil mengalahkan kalian!" teriak Medea, menggunakan sihir untuk meningkatkan volume suaranya. Semua orang di sana menutup telinga.

"Caster, bukannya kamu pergi dengan sukarela begitu tahu ada duo Heroine X di sini?" komentar Emiya… maksudku, Emimura.

"Diam, Shirou! Bocah sialan itu menggunakan dua gadis manis, imut, dan tak bersalah untuk menjebakku!"

Sementara ketiga penjaga gerbang itu berdebat sengit, Gudako menggunakan kontak mata untuk mengatur strategi. Mereka tak punya waktu untuk menonton Opera van Fuyuki itu! Para anggota timnya mengangguk setuju, dan berpencar…

Saat itulah Cu menyadarinya. Dia melemparkan Gae Bolg ke arah Zhuge Liang. Profesor V mengerem, dan tombak monster laut itu melesat beberapa cm dari hidungnya, meledakkan tanah yang dia pijak.

"Naluri hewanmu masih tetap tajam," gumam sang ahli strategi. Dalam hati dia mengumpat layaknya gentleman British sejati, "Bloody f**king hell!"

Lancer melompat ke arah Gae Bolg untuk mengambilnya. "Pujian yang berkelas sekali, Prof."

Zhuge Liang mengibaskan scarf-nya, memberi perintah. "Tidak mungkin menghindar. Master, kita harus bertarung!"

"Apa boleh buat!" Gudako mengangkat tangan berhiaskan Command Spell-nya yang menyala-nyala karena penuh mana. "Aku izinkan kalian bertarung! Para Servant, kalahkan musuh-"

Belum selesai perintah Gudako, Emimura dan Masamune segera mengepung Zhuge Liang yang memang berdiri terpisah akibat menghindar tadi.

"Inti semua formasi Master adalah orang ini," komentar Emimura, Kanshou dan Bakuya menarget leher sang Caster. Zhuge Liang bisa dibilang Servant yang terpenting bagi Gudako, kombinasi sihir pendukung dan strateginya telah membawa mereka dalam ribuan kemenangan! "Maaf, Waver. Tidurlah dulu."

Tapi, Waver hanya tersenyum.

TRAAAANGG!

Ketiga senjata tajam itu gagal menemui target utama mereka, dan suara logam beradu menggema di medan perang. Emimura dan Masamune segera melepaskan senjata mereka sebelum sebuah katana mengayun dan menghancurkan tanah tempat mereka berdiri tadi.

"Miyamoto!" teriak Emimura. Tentu saja; di tengah antusiasme mereka menghabisi Servant yang paling merepotkan di tim Gudako, mereka melupakan sang ahli pedang yang menggunakan Mystic Eye-nya untuk memprediksi gerakan musuh.

"Master, kawan-kawan. Serahkan mereka padaku," kata Musashi. Kepalanya tertunduk sehingga mereka tak bisa membaca ekspresinya… namun, ia terdengar marah.

"T-tapi, Musashi-chan, musuhmu tiga orang! Kamu memang kuat, tapi mana mungkin-"

"MASTER!" sang samurai berteriak kencang, menggetarkan udara diam di sekitarnya. Ia mengangkat wajahnya yang terlihat amat marah itu, dan menuding para lawan dengan sebilah katana, "Seorang Servant harus berdiri tegar menghadapi kekacauan dunia!"

Kalimat itu menyentak Gudako. Benar juga. Ini adalah sebuah singularity. Jika mereka tidak segera membereskannya, sejarah dan umat manusia akan-

"Ya… dunia sudah kacau. Kupikir kalian Yukimura-sama dan Date-sama! Kalian menghancurkan khayalan seorang gadis!" teriak Musashi. Kedua matanya berkaca-kaca karena kekecewaan mendalam. "Kembalikan samurai bishonen-kuuuuuu!"

"Itu masalahmu?!" teriak Emimura dan Cu.

Sementara Gudako dan yang lain terjungkal berjamaah.

"Aaah! Rugi aku masuk mode serius tadi!" teriak Gudako sembari melambai-lambaikan tinjunya, kesal. Tapi, Musashi tak bergeming, ia kini seorang fans yang idol favoritnya dijelekkan. Sang Master mendesah, lalu menoleh kepada Zhuge Liang yang masih berada di belakang Musashi. Mustahil membiarkannya bertarung sendiri melawan 3 Servant. "Prof! Tolong bantu Musashi-chan, ya!"

"Apa boleh buat," sang ahli strategi mengusap lehernya. Dia pun memunculkan senjatanya, sebuah kipas bulu merak untuk merapalkan mantra penguat pertahanan.

"Kalian… takkan kumaafkan! Bermain-main dengan perasaan seorang samurai wanita … bahkan aku punya batas kesabaran!" Musashi menghunus katana keduanya. Samar-samar di belakangnya muncul wujud Asura bertangan enam.

Saat Emimura dan Cu terpaku melihat sosok itu, Gudako memanfaatkannya untuk berlari menjauh. Tapi, mereka tidak mempedulikan kelompok itu, karena ada musuh yang lebih menyeramkan di hadapan.

"Musuhnya Saber… oi Archer, awas kalau kau menghambatku," kata Cu.

"Seharusnya aku yang bilang begitu. Awas saja kalau kau tewas sekali Brave Chain, Lancer," balas Emimura.

"Kalian lupa ya, kalau aku juga ada di sini?" gumam Medea.


42. Masked Rider Nobu

"… Lancer mati!"

"Kau bukan manusia!"

Terdengar teriakan samar dari belakang mereka. Gudako tersenyum kecut dan meneruskan perjalanan. Percuma khawatir, sepertinya Musashi dan Waver akan baik-baik saja.

Ia justru harus mengkhawatirkan dirinya sendiri sekarang. Anggota timnya berkurang dan Waver yang bisa dibilang anggota tim terpenting juga sudah ia tinggal di belakang. Ia berharap agar musuh yang akan mereka dihadapi tidak terlalu brutal…

Sampai sebuah kilatan petir raksasa menyambar area di depan mereka, dan meledakkannya. Padahal, ini langitnya cerah! Apa yang terjadi-

"HOLY… SH*T," Kintoki terperanjat.

Dari dalam ledakan petir itu, muncullah sesosok wanita tinggi semampai. Kostum samurai serba ungunya tak kuasa menyembunyikan lekukan tubuhnya yang luar biasa. Rambut violet gelapnya tergelung panjang, menyentuh lantai.

Ia adalah Minamoto no Yorimitsu, boss alias kelemahan terbesar Kintoki (setelah pakaian seksi dan Shuten). Sang mama seksi tersenyum dan menyapa dengan ramah.

"Selamat malam, anak-anakku tersayang."

"Nasibku nggak hanya buruk saat gacha, sialan!" umpat Gudako. Tanpa Waver, tapi mereka harus menghadapi Berserker yang terkenal dengan kekuatan serangan teramat dahsyat ini?! Hanya ada Mash yang bisa ia andalkan soal pertahanan, yang lain hanya tahu soal menyerang!

Melihat sang musuh bebuyutan, Shuten meloncat turun dari pundak Kintoki, menghilangkan cawan sakenya. Ia menatap wanita yang jauh lebih tinggi darinya itu dengan angkuh.

"Ah, mou. Sapi ini merusak suasana minumku," katanya tajam.

Tapi, Raikou mengabaikannya. Ia berjalan perlahan menuju arah Kintoki, yang hanya bisa mundur perlahan dengan ekspresi takut yang hampir tak pernah mampir di wajahnya itu.

"Kintoki, sayang, apa yang ibu katakan soal bermain malam-malam?"

"Hah?! Ini baru jam 12 malam! Ada misi baru yang terbuka!" kilah sang Berserker.

"Sayangku, tidak bagus tidur terlalu malam… kamu kan masih dalam masa pertumbuhan…"

Kintoki mengibaskan lengannya, antara malu dan kesal, "A-aku sudah cukup tumbuh! Lihat, aku sudah lebih tinggi darimu!"

"Sapi ini benar, danna," tiba-tiba Shuten berkomentar. Anehnya lagi, ia setuju dengan sang musuh bebuyutan! "Kamu masih belum cukup besar... terutama bagian bawahmu."

"Hei tanduk! Kenapa kamu malah mendukung Raikou-sama?! Dan apa maksudmu dengan bagian bawah?!"

"Sebagai… ehem, orang yang terpenting buatmu, aku punya kewajiban untuk mengecek pertumbuhanmu kan, sayang," Shuten menyunggingkan senyuman taringnya.

Whoa, whoa… Gudako dan anggota tim lainnya perlahan menjauhkan diri dari sang Berserker.

"Tunggu, boss! Kenapa kau memandangku seperti memandang kriminal?! Perlu kuberi tahu ya, si oni ini, hanya penampilannya saja yang seperti anak kecil! Dia sudah berusia ratusan tahun!"

"Tapi, kamu bilang lebih suka wujudku yang kecil seperti ini?" Shuten memiringkan kepalanya.

Gudako dan anggota tim lain menjauh lagi dari sang Berserker.

"Ngomong-ngomong, Kintoki-san juga pernah bilang kalau hal kesukaannya adalah anak-anak," Mash berceletuk.

Gudako menatap Berserker favoritnya itu dengan wajah jijik. "Eeugh… nggak kusangka banget, kamu ini lolicon… pantas sukanya main sama Jack dan Alice…"

"M-Master, ini salah paham! Jangan samakan aku dengan Gilles si mata ikan!" Kintoki mengangkat kedua tangannya, panik. Tapi pembelaannya itu tak dipedulikan sang Master yang semakin menjauh. Kintoki hanya bisa menggeram kesal ke arah Shuten. "Grr, Shuten! Ini semua salahmu, sampai boss menganggapku punya kelainan!"

"Aaah? Memang apa salahnya menyukai anak kecil? Aku juga suka mereka… dagingnya lembut dan manis…" Shuten menjilat bibirnya, pemandangan seksi yang juga menyeramkan.

Kintoki menyembunyikan wajah di telapak tangannya, "Lupakan. Sepertinya kita memang nggak akan pernah bisa nyambung. Lagian, kau punya wujud dewasa kan? Kenapa nggak pakai itu saja?! Kau juga lebih kuat dalam wujud itu!?"

Benar juga. Oni tingkat tinggi seperti Shuten tentu bisa mengubah wujudnya sesuka hati! Seperti halnya Tamamo yang memilih wujud miko seksi berkuping rubah, semestinya Shuten juga punya wujud lain! Kenapa ia suka banget dengan sosok loli itu?

"Wujud dewasa, katamu?" Raikou akhirnya angkat bicara. Ia tersenyum dan menyilangkan lengannya… di bawah sepasang harta warisan Minamoto miliknya. "Aku tak yakin bagianmu yang ini bisa jadi dewasa."

Kintoki dan orang-orang lain di sana hanya bisa melongo mendengar pernyataan perang itu. Mereka ingat, Shuten pernah menggunakan wujud dewasanya sejenak setelah didesak Gudako. Ia jadi bertambah tinggi dan rambutnya memanjang… tapi bagian dada tetap rata. Bagi Shuten yang selalu bangga atas tubuhnya yang langsing (dan rata), tantangan seperti itu sudah melewati batas!

Senyum ramah Shuten hilang, digantikan geraman bertaring yang membangkitkan bulu kuduk. Ia bangkit dan memunculkan pedang raksasanya. Sesosok makhluk besar berwarna pelangi dengan tanduk muncul di belakangnya…

"Danna, ayo kita perah sapi itu sampai kering."

"Seram, dia benar-benar berubah jadi oni!" teriak Mash.

"Aku juga bisa begitu," komentar Hijikata sembari memegangi dagunya.

"Oni dan Raja Iblis… lebih kuat mana ya?" kata Nobunaga.

"Ini bukan saatnya bertanding aura oni!" protes Okita.

"Sh*t, wujud asli Shuten yang nggak golden itu keluar," Kintoki hanya bisa mendesah. Dia memunculkan Golden Eater. "Apa boleh buat, akan kutemani kau mengamuk sampai puas, Shuten!"

Sang oni tak menjawab. Tatapan dan aura membunuhnya hanya ditujukan kepada sang musuh bebuyutan di depannya. Namun, Raikou tak kehilangan senyumnya meskipun menghadapi ancaman itu.

"Ara ara. Kalau nak Kintoki tidak mau tidur dan maunya main sama oni terkutuk itu, terpaksa ibu bertindak tegas," Raikou mengeluarkan… sebuah topeng dari sela-sela ruang penyimpanan Victoria Secret (dada) miliknya, dan mengenakannya di dahi. Itu adalah sebuah topeng hannya, topeng oni!

"Jika kalian memaksa, bahkan aku yang sabar ini pun bisa berubah menjadi oni!"

BAMMM!

Mana dalam wujud petir keunguan menyambar-nyambar dari tubuh sang Berserker. Kedua matanya pun memancarkan cahaya kemerahan, Mad Enhancement-nya diaktifkan. Inilah Minamoto no Yorimitsu, sang Pembantai Misteri, dalam sosok terkuatnya!

"Kepalamu milikku, Shuten-douji."

"Kau hendak melawan bencana alam, nona Minamoto."

Seringai di wajah Kintoki entah mengapa menjadi lebih lebar. Dia teringat pada petualangannya berburu oni dengan sang boss. "Whoa, kalian langsung menggunakan wujud terkuat! Apa boleh buat, aku juga harus menggunakan ultimate form milikku!"

Kintoki mengarahkan kedua tangannya ke pinggang… dan muncullah sebuah sabuk di sana. Dia memencet sebuah tombol di atas buckle, membuatnya menderu bagaikan mesin motor yang baru dinyalakan. Dia lalu mengacungkan tangan kirinya secara diagonal, dan berteriak:

"Gorgeous Golden Rider… HENSHIN!"

"Rider Form!" sabuknya menjawab.

BLAAAM!

Dengan ledakan mana elemen listrik yang tak kalah dari Raikou, muncullah ia, sang pembela kebenaran! Badannya berselimutkan zirah berbentuk jaket kulit hitam. Rambutnya liar, tersisir ke belakang. Sebuah brass knuckle besar tergenggam di kedua tangannya berkilat-kilat penuh energi.

"Complete!" sabuk itu berbicara lagi.

Kintoki saling menghantamkan knuckle itu, membuat percikan listrik kuning menyambar-nyambar.

"Golden Rider, sanjou!"

"Sudah selesai main-mainnya, nak?" kata Raikou.

"Sayangku, kalau aku boleh jujur… itu payah banget," lanjut Shuten.

"Sialan kau, Gorgom!" teriak Kintoki.

…..

"Aaah. Anggota pasukan kita berkurang lagi," komentar Gudako sembari berlari menjauh dari ledakan-ledakan petir dan uap sake di belakang mereka. Kini hanya tinggal 4 Servant yang bersamanya: Mash, Nobunaga, Okita, dan Hijikata. Apalagi, ia juga meninggalkan Kintoki sang penyerang utama. Jika selanjutnya muncul musuh sekuat Raikou, akan sangat gawat!

Ia pun menghubungi da Vinci di markas Chaldea.

"Ada apa, Ritsuka-chan?" tanya sang penemu.

"Bisakah aku memanggil seorang Servant lagi? Karena berbagai hal, Musashi dan Waver, juga Kinbro dan Shuten, terpencar-pencar!" pintanya.

Da Vinci mengangguk, mengiyakannya dengan mudah. Wajah Gudako tampak sumringah; ia sudah tahu siapa yang dibutuhkannya. Dengan menyentuh Command Spell di punggung tangannya, ia memanggil-

"Merlin, datanglah!"

Bwush!

Command Spell bekerja secara ajaib, melewati halangan ruang dan waktu untuk menyeret Servant yang dipanggil sang Master menuju medan perang. Sosoknya perlahan mewujud dari debu-debu spiritual, menampakkan seorang pria berambut putih keunguan panjang.

Sang Penyihir Bunga, Merlin... yang mengenakan piyama. Pastinya Gudako memanggilnya saat ia sedang asyik bermain internet.

"Hoe?" kata bijak pertamanya setelah berhadapan dengan sang Master.

"Yosh. Selamat datang, Merlin!" sapa sang Master sembari membuka tangannya lebar-lebar.

Namun, di balik sikap NEET-nya itu, Merlin adalah salah satu Servant terpenting di Chaldea – tak terhitung berapa kali dia menyelamatkan bokong Gudako dan kawan-kawan dengan sihir-sihirnya yang imbalance.

Sang penyihir menatap sang Master dengan mata mengantuk, lalu menggaruk kepala, gagal paham kenapa dipanggil ke sana.

"Master, tak cukupkah support dari Mr. Waver? Aku sedang sibuk meng-update Magi*Mari, nih."

"Blog-mu hanya dibaca Dr. Roman, kan? Nggak usah banyak alasan!"


43. Majin vs Majin

Akhirnya, Gudako pun berhadapan dengan sang biang kerok Singularity ini: Oda Nobukatsu beserta seekor (?) Demon Pillar Andras, yang menjadikan Chacha sebagai intinya.

"Huahahahaha! Akhirnya kalian datang juga, para pemberontak!" Nobukatsu berkacak pinggang sombong sembari memamerkan tawa jahat warisan klan Oda turun-temurun.

Nobunaga menatap adiknya itu dengan sepasang mata yang menyala-nyala karena amarah. Puluhan rifle melayang-layang di sekitar wanita itu, sepertinya ia sudah mengaktifkan teknik Tenka Fubu miliknya.

"Adik… menyerahlah sekarang sebelum hukumanmu kuperparah," geramnya.

"G-ghii!" kepercayaan diri Nobukatsu hilang begitu saja melihat amukan sang kakak yang amat ditakutinya itu. Dia berjalan mundur, keringatnya mengucur deras seperti ketumpahan ember berisi air. Namun, langkahnya terhenti oleh tubuh raksasa Andras yang berkilau-kilau menyeramkan. Dia mendongakkan kepalanya, dan berani bersumpah, semua mata Andras menatapnya dengan kesal.

"Bodoh! Kenapa wanita itu masih membuatmu gentar?! Tidakkah kau mempercayai kekuatanku, wahai Oda Nobukatsu?!" teriak Andras, menenangkan sekaligus memiliki otoritas.

Si adik menelan ludah, dan kembali menatap para penantang dengan keberanian yang dibuat-buat.

"Ka-kakakku tersayang! Kenapa… kenapa kamu tidak bergabung denganku?! Dengan kekuatan Andras dan kastil Zipang, klan Oda bisa kembali menguasai Jepang! Dan kali ini, kita akan mendirikan kerajaan abadi yang takkan lekang oleh waktu!"

Tentu saja hal yang pertama dilakukannya adalah menceritakan rencana jahatnya. Nobunaga mendesah. Bahkan menjadi seorang villain pun si Nobukatsu ini masih amatir!

"BODOH!" teriaknya kencang. Tak bisa dipercaya, dari tubuh semungil itu bisa keluar suara yang menggelegar. Nobunaga mencabut katana dari sarungnya, dan menancapkannya ke tanah. Ia menatap sang adik dengan tegas. "Klan Oda sudah tamat sejak Honnoji. Kau sudah mati lama sebelum kejadian itu, sementara aku mengalaminya langsung. Panasnya api yang membakar kulit, perihnya hati karena kehilangan semua teman yang kupercayai, tajamnya pedang Mitsuhide yang menusuk dadaku… aku masih ingat itu semua seperti baru kemarin saja.

"Namun! Aku tak pernah menyesalinya! Klan Oda kita kalah dalam peperangan karena kesalahan dan kesombonganku. Aku menerimanya. Aku mengakuinya! Tapi… kamu. Kamu terbebas dari segala rasa malu dan beban karena menanggung kehancuran klan. Kenapa kamu justru membelenggu dirimu sendiri dengan semua tanggung jawab itu?!"

Benar. Seorang Raja Iblis takkan memiliki kerajaan yang damai tentram atau memiliki reputasi yang membanggakan; itu sudah merupakan hukum alam. Namanya juga Raja Iblis. Tapi Nobunaga tidak peduli akan semua itu. Ia menjadi Servant dengan memanggul gelar "Raja Iblis dari Surga Keenam", dengan bangga.

Memangnya kenapa kalau dia Iblis?! Jika manusia mengingatnya demikian, maka terjadilah! Sang Raja Iblis akan terus hidup dalam sejarah dan ingatan mereka!

"Obaa-sama…" Chacha bergumam dari penjaranya.

Gudako dan kawan-kawan bertepuk tangan kagum. Namun sang Master berkomentar, "Whoa, itu dalam sekali. Dan kupikir kamu hanya karakter gag…"

"Jangan salah sangka. Keikenchi-san bisa juga menulis cerita serius," sambung Okita.

"Eeeei! Kenapa kalian merusak suasana?!" Nobunaga menodong sang Master dengan rifle-nya.

Sementara yang di sana berantem soal tone cerita kali ini, Nobukatsu hanya bisa menggeram marah. Kedua tangannya tergenggam begitu erat sampai-sampai darah mengotori sarung tangan putihnya. Pergolakan emosi itu juga dirasakan Andras; sang Demon Pillar merasa kekuatannya semakin bertambah besar. Aura emas memancar deras darinya, menghisap hawa kehidupan Chacha di dalamnya. Wanita malang itu bahkan tak sanggup lagi berteriak…

"Ja-jadi… apa jawabanmu, kakak?!" tanya Nobukatsu kemudian.

Teriakan penuh amarah sang adik menghentikan pertengkaran konyol Nobunaga. Wajah seriusnya kembali, dan ia menyeringai penuh percaya diri.

"Aku menolak! Kita tak perlu membangkitkan klan. Klan Oda takkan hilang, kita akan abadi sebagai kenangan dan warisan untuk masa depan!"

Ya. Petualangan singkatnya di era Bakumatsu ini kembali mengingatkan Nobunaga akan tekadnya di penghujung hayat dulu. Ia merasa harus berterima kasih kepada semua yang menyeretnya ke sini, sih. Termasuk Nobukatsu. Tapi, yah… setelah ia selesai menghukumnya.

Mendengar itu, sang adik kembali meneteskan air mata. Dia memang anak yang cengeng, walaupun kini sudah mendapatkan kekuatan Demon Pillar.

Andras pun bertanya, "Apa maumu, Nobukatsu Oda?"

"Serang, serang serang serang! Hancurkan anjing-anjing Shinsengumi yang meracuni pikiran kakak, Andras! Seraaaaaang!"

…..

"Situasi terdesak ini… sudah lama sekali tak kualami sejak Gilgamesh memutuskan untuk serius saat Nero Colosseum…" Gudako menggigit bibir bawahnya.

Terpencarnya Waver dan Kintoki, dua anggota terpentingnya itu ternyata berakibat amat fatal.

Amukan Nobukatsu memperkuat Andras berkali-kali lipat, dan dia pun sukses memporak-porandakan tim. Apalagi, dia mendapat bocoran strategi dari EMIYA yang sering bertarung bersama Gudako, sehingga tahu siapa Servant yang harus dihabisi dulu.

Baru saja pertarungan dimulai, Merlin tumbang tertimpa puluhan tentakel. Dengan tewasnya Merlin, Gudako hanya bisa mengandalkan Mash untuk pertahanan… sehingga Hijikata yang main YOLO menyusul keTakhta Pahlawan. Kini, hanya tersisa Mash (sekarat), Nobunaga, dan Okita. Kedua orang yang belakangan itu tak terlalu berguna karena lawannya Demon Pillar yang memiliki pertahanan lebih terhadap Knight class

"Wa-hahahaha! Lihat kan, kakak?! Ternyata tante kuat banget!" Nobukatsu berlagak dirinya sudah menang. Dia menepuk-nepuk badan raksasa Andras.

"Walaupun tantemu ada di dalamku, jangan memanggilku begitu! Aku ini laki-laki!" protes sang Pillar.

"Eeeeh? Memangnya Demon Pillar punya jenis kelamin?" tanya Nobunaga.

"Tentu saja! Namanya saja 'pilar'!" komentar Merlin dari alam baka. Lebih tepatnya, dia kini menyaksikan pertarungan lewat communicator di Chaldea.

"Simpan guyonan mesum itu, hei orang yang mati duluan!" Gudako membentaknya.

"Aku hanya menghindari serangan tentakel, Master. Ini kan fic dengan rate T…"

Sang Master menepuk dahinya. Di saat situasi gawat seperti ini pun, para Servant masih sempat-sempatnya bercanda… apa mereka tidak sadar betapa krusialnya singularity ini?!

"Hmph. Kau benar, Master. Situasi ini tak bisa dibiarkan begitu saja," Nobunaga bangkit dan membersihkan jubahnya yang terkena jelaga. Gudako menolehinya dengan mata berkaca-kaca karena akhirnya ada yang menganggapnya serius. "Mau ditaruh di mana mukaku ini kalau tetap kalah, meskipun sudah berikrar keren-keren tadi?!"

"Dasar karakter gag! Kembalikan kekagumanku!"

Nobunaga mengacuhkan sang Master, dan membalikkan badan, jubahnya berkibar-kibar. Ia lalu menghampiri Okita, yang tengah bersandar pada katana, mulutnya berlumuran darah karena TBC-nya kambuh.

Dengan wajah lembut yang tak pernah terlihat darinya, Nobunaga menjulurkan tangannya.

"Bangkitlah, Souji."

Okita menerimanya, dan bangkit perlahan. Entah kenapa wajahnya memerah, yang pasti bukan karena kepayahan, "No-nobunaga-sama, wajahmu itu… apa kita akan melakukan itu?"

"Apa boleh buat kan! Situasi sekarang amat buruk! Ayo, Souji, kita tunjukkan hasil latihan kita!"

Nobunaga memegang dagu Okita, dan mendekatkan wajahnya…

Dan tanah di sekitar menumbuhkan bunga lili putih.

Gudako berusaha menahan darah yang mulai mengucur dari hidungnya berkat adegan tak pantas buat fic rate T di depannya itu. Merlin bersiul kagum.

"A?! E? I? O? U?!" da Vinci, yang ikut menonton pertarungan itu bersama Merlin, hanya bisa mengeja huruf vokal.

"Ini sih bukan Garden of Avalon lagi, tapi Garden of Lillies!" komentar Merlin, menggebu-gebu, "Lebih cocok buat NP diriku yang versi wanita!"

"Yang benar?!" teriak Nobukatsu. "Kakak, ternyata kamu… dengan musuh kita…!"

"Tante itu masih doyan daun muda?" komentar Andras.

Kedua orang yang bersatu itu memancarkan cahaya kemerahan, dan meledak. Lalu, muncullah kobaran api di sekitarnya… Reality Marble, "Dai-roku Ten Maou" milik Nobunaga telah diaktifkan. Kobaran api itu berubah warna menjadi hitam, lalu membentuk sebuah pilar yang melingkupi kedua orang itu.

BAMM!

Setelah mencapai langit, pilar api itu terurai, dan tampaklah sesosok manusia di dalamnya. Ia berkulit gelap dengan rambut putih yang kontras, berpakaian zirah serba hitam dari atas ke bawah. Sebuah katana dan rifle tergenggam di masing-masing tangannya.

Wajahnya mirip Okita, tapi ekspresinya bengis seperti Nobunaga…

"Hmph. Hasil latihan selama 300 hari, terbayar sudah."

"…"

"… he?"

Hanya itu yang muncul dari mulut semua orang di medan pertempuran. Otak mereka tak mampu memproses apa yang barusan terjadi. Penggabungan… Servant?! Apa-apaan-?!

Wanita itu tampak senang menjadi objek yang membuat semua orang kebingungan. Ia menyeringai, dan mengibaskan rambut putihnya.

"Aku adalah Majin Saber, datang untuk mengakhiri Type-Moon!" teriaknya.

"Kamu memanggil villain yang lebih buruk, Master!" teriak da Vinci.

"Eh, ini kan fic yang nggak serius. Aman lah," Gudako mengangkat bahunya, santai.

"Sungguh Master yang tak bertanggung jawab!"

Sementara itu…

"Oi, kenapa nama kita jadi Saber?! Mana bagian namaku?"

"Majin itu bukan? Kamu kan Maou, Raja Iblis."

"Tapi tetap saja aku nggak terima kelasku jadi Saber! Saber sudah terlalu banyak! Para pemain butuh SSR Archer yang mumpuni, tahu!"

Karena suara mereka juga gabungan Nobunaga dan Okita, Majin Saber jadi berdebat dengan dirinya sendiri.

"Kalian meremehkanku!" teriak Nobukatsu. "Andras, musuh kita hanya dia! Habisi!"

Sang Demon Pillar pun menyerbu dengan puluhan tentakel raksasa. Namun, Majin mengibaskan katana-nya, dan memotong semuanya dalam sekali serang!

"Wha-?!"

"Hmph. Jangan samakan aku dengan Servant SSR lain. Aku ini Servant *6!" koar Majin Saber.

"Umm, rata-rata dari *4 dan *5 itu *4.5…" komentar Mash.

"Jangan samakan ilmu matematika dunia modern dengan Jepang kuno!"

Meskipun serangannya ditangkal semudah itu dan dia dicincang, Andras tidak gentar. "Kau hanya menggertak!" dia berteriak marah. Semua mata di tubuhnya menyala, dia siap melancarkan jurus terkuat!

Majin Saber menolehinya, dan tersenyum dingin. Dalam sekejap puluhan katana dan rifle muncul, melayang-layang di sekitarnya. Sekujur tubuhnya memancarkan aura merah.

"Mumyou…!"

Ia melangkahkan kaki. Sekali, dua kali, tiga kali… dan wujudnya muncul begitu saja di depan Nobukatsu dan Andras, lengkap dengan senjata-senjata itu.

"Sandan Uchi!"

Ah… Nobukatsu bisa melihatnya. Sungai Sanzu…


44. End of Nobu

Akhirnya, kedamaian di era Bakumatsu berhasil dipulihkan. Kini, tim Gudako tengah berada di kastil klan Oda, menanti reyshift dan kembalinya sejarah pada alur semula. Nobunaga dan Chacha mengadakan pesta ucapan terimakasih atas bantuan mereka, tapi semua orang hanya bisa terkapar di atas tatami…

"Entah kenapa event ini membuatku amat lelah," kata Gudako.

"Benar…" komentar Musashi, Kintoki, dan Waver kompak.

"Aku sih, masih belum puas… kapan lagi, bisa menghajar sapi itu dengan danna tersayang?" komentar Shuten, yang duduk dengan santainya di selangkangan Kintoki, sembari menuangkan sake ke cawannya. Posisi yang sangat riskan, seperti biasa darinya.

"Ukh, aku bahkan nggak punya tenaga untuk menyingkirkan dia…" komentar Kintoki.

Sementara itu, Okita dan Hijikata sedang minum teh sembari membicarakan apa saja yang telah terjadi (banyak). Sejak awal, sang ahli pedang Shinsengumi itu sebenarnya juga ingin merekrut bosnya ke Chaldea, tapi pria itu selalu menghindarinya. Mungkin karena suasana hatinya sedang jelek akibat peperangan dengan klan Oda. Kini, saat mereka sudah menang, Okita hendak merekrutnya lagi.

"Hijikata-san…" panggil Okita tanpa menoleh. "Kamu tak mau ikut kami?"

Sang bos meletakkan cangkir tehnya, mendengar pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya itu. Dia mendesah.

"Souji-kun. Sudah kubilang kan, aku harus memimpin Shinsengumi yang tersisa."

"Tapi, singularity ini akan hilang dan sejarah akan kembali ke alurnya. Itu berarti, Hijikata-san dan Shinsengumi yang di sini juga akan menghilang!"

"Begitukah?" wakil komandan tersenyum tipis. "Taka pa. Meskipun semua akan menghilang, asal aku masih ada di sini," dia menolehi Okita, yang kedua matanya berkaca-kaca, "Selama kamu masih mengingatku di sini…"

Hijikata mengatakan itu sambil memegang dada Okita.

"… ah, maaf."

PLAKK.

"Ya, maksudku, selama kamu masih menyimpan ingatan tentang aku di hatimu, Shinsengumi takkan hilang!"

Kesan serius dan haru itu hilang karena ada bekas telapak tangan di pipi Hijikata.

"Souji-!" Nobunaga tiba-tiba muncul sambil berlari. Tapi, begitu melihat Okita yang menutupi dadanya dengan wajah merah, ekspresinya berubah. Muncullah puluhan rifle di sekitarnya. "Kenapa kau mengundang amarah Raja Iblis di saat dia sedang senang, Serigala Mibu?!"

"Whoa, whoa, tenanglah, Oda Nobunaga. Jangan salah paham. Aku tidak memandang Souji-kun seperti itu, hubungan kami sebatas atasan dan bawahan. Profesional," Hijikata mengangkat kedua tangan. "Seleraku lebih kepada Miyamoto-dono. Niten ichi-nya itu… luar biasa," katanya sembari memegangi dadanya.

"Hijikata-san parah!"

Saat mereka bergumul seperti itu, Gudako akhirnya mendapat kabar dari da Vinci bahwa reyshift sudah siap dan singularity ini akan hilang dalam beberapa menit. Ia pun menyuruh para Servant-nya bersiap, sementara ia sendiri menghampiri trio itu.

Melihat Okita yang menimpa Hijikata sambil berusaha melayangkan tamparan, dan Nobunaga yang membidik kepala sang wakil ketua Shinsengumi, ia hanya bisa menepuk dahi.

"Um… aku tak ingin tahu apa yang terjadi di sini, tapi bisakah kalian mendengarkan aku sejenak?" katanya sang Master.

Mereka bertiga pun saling melepaskan diri, sementara Nobunaga menarik Okita ke sisinya, posesif.

"Uhm, Hijikata-san, mungkin kamu sudah tahu dari Okita-san kalau singularity ini akan segera hilang. Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"

"Aku ingin tetap…" Hijikata menolehi Okita, yang tampak amat kecewa. "Ah, apa-apaan. Aku jadi merasa bersalah kalau kamu melihatku seperti itu kan."

Dia menggaruk kepalanya, dan bangkit menghadap Gudako.

"Aku merasa terhormat kamu undang untuk bertarung demi umat manusia… tapi, maaf. Aku memutuskan untuk tinggal di sini."

"Hijikata-san…!" suara Okita bergetar.

"Umat manusia… itu terlalu tinggi buatku. Aku hanya ingin menyaksikan sendiri akhir dari singularity ini, dunia di mana Shinsengumi bisa bertahan sampai pertarungan terakhir," dia membungkukkan badannya. "Terima kasih atas segalanya, Fujimaru Ritsuka dan Chaldea."

Gudako menghela napas panjang.

"Baiklah… aku juga tak bisa memaksamu menanggung beban seberat 'umat manusia'. Bagaimana denganmu, Okita-san?"

Sang ahli pedang melepaskan diri dari Nobunaga, dan berlari mendapatkan wakil ketua kesayangannya itu. Ia memeluknya erat, dan kali ini membiarkan sifat gadisnya mengambil alih.

"Meskipun singkat, aku sangat senang bisa bertemu denganmu kembali, Hijikata-san," Okita mengangkat wajahnya yang berurai air mata. "Dan, selamat tinggal."

Hijikata menepuk kepala bawahannya itu, menunjukkan ekspresi kalem yang jarang mampir di wajah kerasnya. "Selamat tinggal, Souji-kun," dia menatap Nobunaga yang menyilangkan lengannya, "Oda-dono, jagalah dia baik-baik. Dia anak buah kesayanganku."

"Tentu saja! Kau pikir siapa aku?!"

Hijikata tersenyum dan melepaskan Okita dengan lembut.

"Teruslah bertambah kuat, Souji-kun. Kini, tinggal kamu seorang yang mengibarkan bendera dan seragam Shinsengumi."

"Un!" Okita mengangguk sembari mengusap air matanya.


- to be continued? -