Cast : Find by yourself
WARNING! 18+
.
.
.
Pagi itu tubuh Mingyu terasa panas. Keringat di lehernya mengalir membasahi bantalnya. Tidak biasanya seperti ini. Tubuhnya pun juga terasa berat untuk bangun. Mingyu berpikir mungkin ia kecapekan karena mengurus Jeonghan kemarin. Mingyu membuka matanya perlahan. Namun ketika ia ingin meregangkan otot-ototnya, ia kaget. Melihat Jeonghan yang sedang tertidur di atas dadanya. Pantas saja tubuhnya terasa berat. Mingyu merasa risih. Mingyu memandang wajah cantik Jeonghan yang masih terlelap.
"Mama sangat cantik kalau sedang tidur." Gumam Mingyu dalam hati sambil menyentuh lembut rambut Jeonghan agar terbangun dari tidurnya. Karena Mingyu sangat kasihan dengan keadaan jiwa Jeonghan saat ini.
"Eeungh.. hoooaahhm~" Jeonghan terbangun. Tangan Jeonghan memukul keras dagu Mingyu ketika hendak meregangkan ototnya.
DUGGG!
"AAW!" Mingyu kesakitan. Bibirnya berdarah karena giginya terlalu keras mengenai bibirnya.
"Eungh?! Papah? Papah kenapa? Kepukul tangan ya? Maafin mamah pah." Jeonghan menyentuh bibir Mingyu.
"Kenapa mamah masih saja memanggilku papah? Aku kira setelah mamah bangun, mamah akan sembuh. Tapi masih saja seperti ini. Kapan mamah sem_" Lamunan Mingyu terpecah.
"Papah kenapa memandang mamah seperti itu?"
"Ah! Emm.. Aw sakit!" Suara Mingyu agak kurang jelas karena bibirnya yang atas akan terasa sakit jika bersentuhan dengan bibir bawah.
"Maafkan mamah ya pah. Mamah gak sengaja." Mingyu hanya mengangguk.
"Ya Tuhan sembuhkanlah mamah. Aku tidak tega melih_" Lagi-lagi lamunan Mingyu terpecahkan karena Jeonghan.
"Eungh! Emm! Sakit!" Jeonghan mencium bibir Mingyu yang terluka. Ia bermaksud untuk menyembuhkan rasa sakit di bibir Mingyu.
"Aaaarrgghhh! Mamah!" Mingyu mendorong tubuh Jeonghan menjauh darinya.
"Apa yang mamah lakukan! Kenapa mamah jadi seperti ini! Hah!"
"Apa papah sudah nggak sayang lagi sama mamah!" Mingyu hanya diam memandang heran ke arah Jeonghan.
"Tidak! Tidak mungkin! Seumur hidupku aku tidak pernah melihat mamah marah. Bagaimana ini!" Gumam Mingyu dalam hati.
"Jawab pah!" Mingyu masih diam. Ia bingung bagaimana ia harus menjelaskan kepada Jeonghan bahwa dia bukanlah Seungcheol. Ia merasa bahwa dirinya sudah hina meskipun ia sudah pernah melakukan aktivitas yang tidak seharusnya bersama Wonwoo.
"Kenapa papah tidak seperti biasanya! Kenapa papah menghindar disaat mamah cium! Kenapa pah!"
"Aku benci papah!" Jeonghan keluar meninggalkan Mingyu.
"Mamah! Tunggu mah!"
BLAAAMM! Jeonghan menutup pintu dengan keras.
Di kampus, Mingyu tampak ceria seperti biasa. Tidak ada aura kesedihan di wajahnya. Ia memang jago jika harus bermuka dua.
"Hai Gyu!" Sapa salah satu teman kampusnya.
"Oh hai bro!" Keduanya salam ala anak hits.
"Ditungguin Wonwoo tuh di kelas."
"Ok. Thanks bro!"
"Hai sayang!" Mingyu menuju tempat duduk Wonwoo. Tapi Wonwoo bersikap cuek pada Mingyu. Mingyu tidak peduli, ia berpikir mungkin Wonwoo sedang PMS, jadi ia tidak mau mengganggunya. Ia langsung duduk di kursinya.
"Jun-a, apa ada tugas dari dosen Lee?" Jun tidak menjawab. Ia mencoba berbicara dengan teman-temannya yg lain, tapi semuanya tidak menjawab. Mingyu bingung apa yang sebenarnya terjadi. Ia berjalan menuju depan kelas.
"Yak! Kenapa kalian semua diam saja!"
"Apa aku melakukan kesalahan pada kalian? Hah?" Teman-temannya masih saja diam. Bahkan tidak memperhatikan dirinya. Semuanya sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
"Jawab!" Mingyu meninggikan volume suaranya yang sudah tinggi itu. Serentak semua temannya kaget. Mereka memandang ke arah Mingyu, tapi masih tetap tidak mau mengeluarkan suaranya. Mingyu melihat keseluruh tempat duduk. Ada 2 tempat duduk kosong. Yang 1 sudah pasti itu tempat duduknya. Dan yang 1 lagi, tempat duduk Minghao. Ya, dia belum melihat Minghao dari tadi, teman paling bodoh yang sering ia bully.
"Dimana Minghao?! Aku belum melihatnya dari tadi." Tidak ada jawaban.
"Baiklah aku akan mencarinya, mungkin dia bisa menjelaskan semua ini."
Ketika Mingyu hendak melangkah keluar, tiba-tiba Wonwoo menahannya.
"Mingyu-ya.."
"Apa?"
Tiba-tiba muncul seseorangdari ambang pintu.
"Saengil chukka hamnida. Saengil chukka hamnida. Saranghaneun Mingyu-ssi. Saengil chukka hamnida." Minghao menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain. Sambil membawa kue ulang tahun ukuran kecil.
"Ah apa-apaan ini.. astaga." Mingyu sangat tidak menyangka teman-temannya melakukan semua ini demi ulang tahunnya. Dirinya sendiri malah sama sekali tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Mungkin karena ia terlalu sibuk mengurus Jeonghan.
"Terima kasih teman-teman." Senyum Mingyu terlukis lebar di wajahnya.
"Baiklah. Buruan make a wish dan tiup lilinnya." Ucap Wonwoo yang setia berada di samping Mingyu.
Mingyu memejamkan mata. Menangkupkan kedua tangannya, dan memulai harapannya. Hanya satu harapannya saat ini. Ia berharap Jeonghan cepat sembuh dari halusinasinya dan ia tidak dipanggil dengan sebutan papah lagi.
Mingyu membuka matanya dan mulai meniup lilin itu.
"Yeeeyy!" Tepuk tangan teman-temannya ikut meramaikan suasana di dalam kelas.
"Kau tau Gyu, ini semua adalah ide Wonwoo. Dia lah yang bekerja keras untuk semua ini. Kami semua hanya menjalankan tugas dari Wonwoo agar terlihat mengesankan." Ucap Minghao yang sedari tadi memegang kue ulang tahun tersebut.
"Benarkah?"
"Terima kasih sayang. Terima kasih hao. Terima kasih teman-teman."
"Selamat ulang tahun Mingyu-ya." Wonwoo mencium pipi kanan Mingyu. Mingyu tertarik dengan pengorbanan Wonwoo terhadapnya. Ia tak henti-hentinya memandangi Wonwoo. Namun pandangan itu buyar saat Wonwoo mengoleskan sedikit krim kue di hidung Mingyu.
"Yak! Kau lihat apa? Hahaha" Wonwoo memulai.
"Hei! Dasar! Jangan lari Wonwoo-ya" Mereka berlarian keluar kelas. Mingyu merasa inilah hari ulang tahunnya yang paling mengesankan di sepanjang hidupnya.
.
.
.
Next?
