[Chapter 1]

Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki

Rated : T

My first fanfic ^^

Enjoy…!

Senin pagi yang mendung (mendung cuacanya tentu saja—bukan mendung suasana hati) dan salju turun dengan intensitas yang masih relatif kecil.

Hari ini sekolah masih libur musim dingin. Jadi, tak ada salahnya apabila bangun siang, 'kan?

Oh, tidak.

Aomine si raja dari segala rajanya tukang tidur ternyata sudah bangun pada pukul 8 pagi. Sebuah rekor luar biasa yang bisa ia capai pada saat liburan. Bukan, dia tidak ingin jogging atau main basket jalanan, kok. Bukan juga karena Satsuki yang masuk menyelonong begitu saja ke kamarnya. Ia bangun pagi murni karena keinginannya sendiri.

Ya, walaupun sekarang ia masih berbaring di ranjang empuknya, sih.

Gelisah. Semalam, mantan ace Kiseki no Sedai ini bermimpi buruk—buruk sekali malah. Apa isi mimpinya? Ia berada di sebuah lorong sekolah yang ia kenal sebagai koridor di SMP-nya dulu; Teikou. Di belakangnya, Akashi Seijuurou mengejar dengan gunting teracung.

'Hiii...' Aomine bergidik ngeri. Sampai sekarang masih merinding.

3 detik kemudian, ponselnya berbunyi. Ada sebuah undangan grup baru, grup Kiseki no Sedai plus Kagami, minus Akashi. Tanpa pikir panjang, ia menerima undangan itu. Rupanya, ia adalah yang terakhir bergabung—memang, semalam ponselnya non aktif.

Tak lama kemudian, ada group call yang dimulai oleh Midorima. Jadi, ini adalah alasan mengapa Aomine bangun pagi, ya. Agar ia tak tertinggal akan hal ini.

"Kuharap kalian semua sudah siap mendengarkan-nodayo.'"Di ujung, sana Midorima membuka percakapan.

Tak ada yang membalas. Midorima pun melanjutkan. "Semalam, Akashi menelponku-nodayo."

Aomine menelan ludah, dan ia yakin teman-temannya yang lain melakukan hal sama.

"Aku ada rekamannya-nodayo." Si Megane berdeham. "Akashi minta—Akashi memerintah kalian untuk mendengarnya baik-baik."

Tak lama, sebuah file rekaman muncul di halaman chat mereka.


Kuroko Tetsuya adalah seorang anak baik yang tetap bangun pagi di kala liburan. Ia membantu orang tuanya membenahi rumah dan menyiapkan makan pagi. Lalu, ia berencana untuk lari pagi dan latihan shoot. Dia sedang ganti baju ketika Midorima memulai percakapan dan mengirim sebuah file percakapannya dengan Akashi.

Sesuai dugaan Aomine, ia pun menelan ludahnya sendiri.

Percakapan dimulai, dibuka dengan suara Akashi yang menduga bahwa Midorima merekam percakapan mereka—dan memang itu yang diinginkan Akashi. Lalu sesuai kata Midorima, Akashi menyuruh Kiseki no Sedai plus Kagami untuk mendengarkan kata-katanya. Ngomong-ngomong, Midorima tidak berucap satu katapun, hanya mendengus.

'Akan aku mulai. Pertama-tama, aku ingin bertanya pada Tetsuya yang kukira bisa memberiku jawaban jujur—tidak seperti yang lain. Bukankah tadi siang kalian berkumpul? Ah, tidak. Tidak semua dari kalian kurasa. Tentu saja Shintarou malas karena diajak Ryouta, dan Atsushi yang rumahnya kejauhan.'

Kuroko membulatkan matanya. Dia masih tidak mengerti dengan Akashi yang 'ini', kenapa bisa seakurat itu?

'Sudah kubilang sejak dulu, Tetsuya. Berhentilah berpikir dan bertanya seperti itu. Tidak ada gunanya terus menerus bingung akan hal ini.'


Rekaman yang dikirim Midorima menginterupsi makan pagi seorang Kagami Taiga. Serakus-rakusnya dia makan, tetap saja jika mendengar ocehan-ocehan sok absolut dari Akashi, nafsu makannya menurun drastis. Alisnya bertaut serius—tampangnya jadi garang.

'Sudah kubilang sejak dulu, Tetsuya. Berhentilah berpikir dan bertanya seperti itu. Tidak ada gunanya terus menerus bingung akan hal ini.'

Kagami ingat, Akashi pernah mengucapkan kalimat itu dari cerita Kuroko, ketika mereka masih di SMP, ketika Akashi yang 'itu' baru muncul. Masalahnya, tau darimana bahwa Kuroko sedang memikirkan hal itu? Mungkin jawaban yang akan ia dapat adalah jawaban yang serupa untuk Kuroko.

'Dan untuk Kagami Taiga.'

Tubuh Kagami menegang, rahangnya mengatup rapat. Akhirnya namaku dipanggil, batinnya.

'Jangan sombong dulu kau, orang lewat. Siapa kau yang berani-beraninya menyombongkan diri karena sudah berhasil mengalahkan Kiseki no Sedai? Perlu kau ketahui, kalau kau tidak satu tim dengan Tetsuya, kau tidak akan bisa lolos seleksi sekalipun.'

Kagami menggeram. "Sesombong apa diriku, Akashi?!"

'Jangan bertanya dimana letak kesombonganmu. Bukankah kau merasa terlalu percaya diri karena bisa mengalahkan Ryouta dan Shintarou di awal? Kau pun menantang Daiki, dan, heh? Untung saja kau kalah. Lalu sekarang, kau ingin ikut-ikutan mengembalikanku, ya?'

Kagami menggebrak meja. Ingin ia membalas semuanya, tapi apa gunanya? Yang ada di hadapannya hanyalah sebuh rekaman.

'Aku yakin kemarin Reo menghubungi salah seorang dari kalian dan setelah kuinterogasi, ternyata dia menghubungi Ryouta. Apa saja yang ia bicarakan? Dan apa yang kalian rencanakan, heh? Lalu untuk apa kalian mengajak si Kagami Taiga juga?'


'Lalu untuk apa kalian mengajak si Kagami Taiga juga?'

Kise mulai mengkhawatirkan keadaan. Jelas-jelas, Akashi sudah tahu semuanya seolah-olah kemarin ia ikut mendengarkan. Apalagi keadaan memanas karena Akashi mulai menyalahkan Kagami atas apa yang Kise tidak terlalu pahami. Baginya, Kagamicchi adalah orang yang berhasil menyadarkannya dan mengembalikan kemurnian niatnya bermain basket.

'Ryouta.'

Kise tersadar dari lamunan ketika mendengar namanya dipanggil. Keringat dingin menetes di dahinya, sungguh ia terlihat sangat ketakutan mengetahui dirinyalah yang selanjutnya akan dieval oleh Akashi.

'Kau yang dicurhati oleh Reo, 'kan? Bagus sekali kau, termakan oleh semua curhatannya tentang aku. Tak salah Reo memilihmu, ya? Dan apa maksudmu menyebarkan kembali percakapan itu pada yang lain? Bukankah Reo hanya menghubungimu untuk dimintai bantuan, Ryouta?'

I-iya, sih-ssu. Ucap Kise dalam hatinya yang polos. Setelah ia termakan omongan Reo untuk memulihkan Akashi—kata si Akashi, sekarang ia termakan omongan si iblis merah itu sendiri.

'Sekarang kau mau mengakui kesalahanmu, Ryouta? Jangan sok perhatian padaku. Apalagi membagi keperhatianmu itu pada yang lain. Ternyata semua sikap sok peduli kalian dimulai dari mulutmu, Ryouta.'

Kise mulai berpikir bahwa mengajak Kiseki no Sedai + Kagami berkumpul itu salah. Apa seharusnya hanya dia yang mencoba menghibur Akashi sesuai kata Mibuchi, ya? Akashi tidak mungkin meneror mereka dengan rekaman ini kalau ia tidak membocorkan masalah ini pada yang lain. Bagaimanapun, Kise juga memikirkan teman-temannya.

' Apa perlu kusobek mulutmu, Ryouta?'


' Apa perlu kusobek mulutmu, Ryouta?'

Murasakibara tersedak mendengar omongan Akashi yang ditujukan untuk Kise itu. 'Menyobek mulut Kise-chin?' Lalu ia meraba mulutnya sendiri yang masih diisi oleh keripik. 'Terus Kise-chin makannya pakai apa, dong?'

Sebelumnya Murasakibara tidak terlalu peduli saat Akashi mengeval teman-temannya, ia tetap makan saja karena ia pikir omongan itu bukan untuknya. Baru satu kalimat Akashi yang berhasil membuatnya tersedak. Tak lama setelah itu pun ia kembali tenang karena Akashi memberi jeda. Sampai—

'Atsushi.'

Murasakibara masih memakan keripiknya. "Ya, Aka-chin?" Jawabnya, padahal Akashi tidak akan dengar.

'Dengarkan aku dengan serius karena aku berbicara pada kalian semua. Apa kau hanya akan berhenti maka jika aku mengucapkan kalimat seperti kalimat terakhirku untuk Ryouta tadi?'

Murasakibara mengangguk. "Mungkin begitu, Aka-chin. Habisnya, itu seram banget, sih."

'Kau anak yang baik, Atsushi. Apa karena itu, kau akan ikut misi untuk mengembalikanku? Padahal kau tahu bahwa aku tidak akan mau digantikan.'

"Iya, soalnya aku lebih suka Aka-chin yang dulu. Yang sekarang rasanya kejam sekali."

'Jangan berpikir aku yang sekarang itu kejam, Atsushi. Aku begini juga karena kalian.'

Murasakibara mengingat adegan dimana ia hampir mengalahkan Akashi saat one on one di SMP, dan saat itulah, Akashi berubah.

'Lalu, kalau kau sudah tahu bahwa aku tidak mau digantikan, kenapa kau tidak menghentikan teman-temanmu, Atsushi? Kau tahu juga, 'kan, resiko jika menentangku?'


'Kau tahu juga, 'kan, resiko jika menentangku?'

Aomine menatap sengit layar ponselnya—dan ia berandai-andai bahwa yang ditatapnya adalah si cebol Akashi. Ups, dia tidak dengar, 'kan? Tapi, si Akashi selalu berbicara seolah-olah itu adalah jawaban dari yang mereka pikirkan sekarang. 'Cih.'

'Daiki.'

'Hei?! Dia tidak dengar apa yang aku pikirkan, 'kan?' Aomine berjengit, meneguk ludah lagi, entah sudah yang keberapa kali setiap Akashi mengeluarkan ultimatum-ultimatum pada teman-temannya.

'Jaga mulutmu. Kau yang paling tak bisa mengendalikan kata-kata. Kau pasti berpikir—malah mengatakan bahwa aku yang ini merepotkan dan menyebalkan, 'kan?'

Aomine membenarkan dalam hati. Memang itu kenyatannya, tambahnya.

'Aku belum sempat meng-evalmu, ya? Oh, sungguh ini waktu yang tepat.'

'Eval apaan?' Sahutnya dalam hati.

'Ace macam apa kau sampai-sampai bisa dikalahkan oleh Taiga dan Tetsuya?'

Aomine memejamkan matanya dalan-dalam. Sungguh ia sudah—berusaha melupakan hal yang menyakitkan itu. Ia sekarang sudah dapat menerima kekalahannya, biarlah itu menjadi pelajaran untuknya. Kagami pun adalah lawan yang bisa ia berikan predikat 'setara' dengannya walau masih ada Tetsu disana.

Dan sekarang, Akashi menyalahkan dirinya?

'Kukira, kau bisa mempertahankan kemenanganmu di Winter Cup, tapi nyatanya sayang sekali, kau gagal. Bahkan, skor kekalahanmu itu lebih rendah dari kekalahan Shintarou dan aku.'

'Lalu memangnya kenapa?!' Oh sungguh Aomine ingin melempar meja ke muka Akashi yang sayangnya, tidak ada di hadapannya saat ini.

'Tidak ada gunanya bicara panjang lebar dengan orang bebal sepertimu, Daiki.'

Braaakk!

"Daiki, apa itu?!"

"Bukan apa-apa, kaa-san! Satu kardus terjatuh!"


'Tidak ada gunanya bicara panjang lebar dengan orang bebal sepertimu, Daiki.'

Midorima bisa memprediksi apa reaksi Aomine ketika ia mendengar kalimat Akashi barusan. Aomine yang mengamuk, menyalak, dan melontarkan kata-kata yang lebih kasar lagi pada Akashi adalah kemungkinan terbesarnya, mencapai 90% malah.

Midorima menaikkan kacamatanya, lalu mematikan rekaman yang ia dengar. Ia hapal betul apa yang sudah Akashi katakan padanya semalam

'Shintarou.'

Sepanjang percakapan itu, Midorima tidak mengeluarkan sepatah pun kata. Dia tidak mungkin membantah Akashi yang sedang marah, pun ia tak diberi kesempatan untuk berkomentar.

'Jawab aku, Shintarou. Dari tadi kau tidak berkata-kata. Kuharap kau tidak kabur selama ini.'

Mana bisa aku jawab kalau kau ngomong terus-nodayo, ucap Midorima dalam hati saat itu.

'Ya, Akashi? Aku dengar dari tadi-nodayo.'

'Bagus. Sekarang tinggal menunjukkan kekecewaanku padamu. Ternyata kau tidak bisa menjadi wakil yang baik untukku.'

Kala itu Midorima mendengus. 'Aku sudah bukan wakilmu-nodayo. Dan aku tidak memiliki sifat yang sama denganmu sehingga aku harus menegakkan aturanmu disini-nodayo.'

'Dan kau malah membantu mereka.'

'Karena semuanya ingin kau kembali seperti yang dulu-nodayo.'

'Bisa kumengerti. Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Pasti kau yang akan memimpin pertemuan selanjutnya, 'kan?'

Jeda sebentar seiring Midorima yang berpikir. Tentu Akashi sudah tahu bahwa mereka akan mengadakan pertemuan lagi. Ia harus mendiskusikan hal ini lagi.

'Mungkin begitu-nodayo.'

Jeda sebentar, Akashi maupun Midorima terdiam lumayan lama. 'Kalau begitu, semoga berhasil memperbaiki semuanya, Midorima.'


Keesokan harinya, pertemuan tetap diadakan di apartemen Kagami, salah satu alasannya adalah Murasakibara sudah jauh-jauh datang ke Tokyo dari Akita. Alasan yang lainnya adalah, karena sebagian orang tidak menerima apa yang Akashi ucapkan, dan sebagiannya lagi murni karena ingin mengembalikan Akashi yang dulu—walau dengan kemungkinan yang sangat kecil.

Waktu yang ditetapkan adalah pukul 10 pagi, sudah dengan toleransi oknum-oknum tertentu yang biasanya bangun kesiangan. Tapi masih sekitar jam 9, Kuroko sudah duduk manis di ruang tamu Kagami.

Kagami membawakan vanilla shake hangat buatannya untuk Kuroko. "Hei, apa bisa kukatakan bahwa kau adalah yang paling tertekan?"

Kuroko menoleh. "Entahlah, Kagami-kun. Yang lain mungkin saja sama tertekannya denganku."

Kagami duduk berseberangan dengan Kuroko. "Iya, ya. Apalagi si Kise, sampai diancam begitu." Kagami menunjukkan reaksi merinding. "Aku jadi ingat saat pembukaan Winter Cup. Dia benar-benar melukaiku, lho."

"Entahlah, Kagami-kun."

Ting-tong. Ada yang datang. Kagami bangkit dan membukakan pintu.

"Ahomine? Kau datang pagi sekali."

"Cepat biarkan aku masuk, Bakagami."

Jadilah sekarang sudah ada dua tamu. Aomine mengambil duduk di samping Kuroko. Anehnya, ia hanya diam dengan alis yang sangat berkerut. Kelihatan sekali bahwa dia banyak pikiran.

"Apa kau sangat tidak terima dikatai Akashi dengan 'bebal', eh?" Ucap Kagami yang niatnya meledek, tapi ternyata tidak ditanggapi oleh lawan bicara. "Hmm. Apa kau tidak bisa tidur gara-gara kepikiran semua kata-kata Akashi?"

Aomine menghembuskan napas berat. "Keduanya bisa kujadikan jawaban."

Kagami mengangguk. "Baiklah. Mau minum apa, Aho?"

"Kopi saja." Jawab Aomine santai dan Kagami segera menuju dapurnya.

"Aku punya firasat kalau kita akan bertemu Akashi-kun." Kuroko membuka percakapan. "Jika saat itu tiba, kuharap Aomine-kun menahan diri untuk tidak meninju atau menghina-hina Akashi-kun."

Aomine melirik Kuroko dengan tampang sengit. "Kenapa harus begitu juga?"

"Urusannya akan tambah panjang, Aomine-kun." Kuroko menyeruput minumannya. "Nanti Aomine-kun dikatai bebal lagi, lho."

"Oi, Tetsu!" Aomine menggebrak meja. Membuat Kagami berteriak 'Jangan menggebrak mejaku, Ahomine!' dari dapur. "Itu semua tergantung situasi, tahu!"

Ting-tong. Bel kedua berbunyi bersamaan dengan Kagami yang mengantarkan pesanan Aomine. Begitu dibuka, yang datang adalah Kise. Kagami mempersilakannya untuk duduk dan Kise duduk di hadapan Kuroko juga Aomine. Lalu, Kagami kembali ke dapur setelah Kise memesan air putih saja—yang menurut Kagami itu agak aneh, dan karena tamunya sisa dua orang lagi, Kagami membuat camilan juga.

Seperti Aomine, Kise pun hanya duduk terdiam, ditambah dengan padangan yang tertunduk memperhatikan meja.

"Oi, Kise. Kau lagi kena demam musim dingin, ya? Sampai pakai masker begitu."

"Kise-kun tidak perlu memaksakan diri untuk datang. Bisa lewat telpon, 'kan?"

Kise tidak menjawab sampai suara bel menginterupsi. Kuroko membukakan pintu dan hadirlah Murasakibara bersama Midorima. Kuroko menawari apa yang ingin mereka minum dan segera menuju dapur membantu Kagami.

Murasakibara mengomentari hal yang sama dengan Aomine terhadap Kise. Lagi-lagi Kise terdiam sampai Kuroko datang membawa minuman.

Setelah Kuroko duduk, Kise menaikkan pandangannya, langsung menusuk mata Kuroko. "Kurokocchi..." Air mata mulai menuruni pipinya. "Akashi-kun menyakitiku-ssu..."


Yak updated wkwk :v

Ini chapter 1 nya yaaa,, thanks for read ^^

Review please, hehee

Kiryuu