[Chapter 2]
Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki
Rated : T
Enjoy…! ^^
"Akashi-kun menyakitiku-ssu..."
Kuroko menautkan alis. "Menyakiti bagaimana, Kise-kun?"
Aomine menyadari sesuatu. "Akashi...kun?"
Bukannya menjawab, air mata Kise tambah deras. 'Ini tidak main-main.' Batin Kuroko, Midorima, dan Aomine kompak. Tak lama, Kagami datang dengan camilan dan tampak kebingungan dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Ia duduk di samping Kise.
"Hei, Kise. Kau kenapa, sih? Datang-datang kok nangis."
Aomine men-death glare Kagami karena tak tahu situasi. Kagami yang menangkap glare itupun berdeham. "O-oke. Ada apa?"
Kise menyeka air matanya, menenangkan diri sendiri. Ia mulai bercerita dengan suara yang sangat pelan—untuk ukuran Kise. "Semalam, aku pergi ke mini market-ssu. Ya, pokoknya aku pulang ke rumah sekitar jam setengah 8 malam. Dan, dan..."
Jeda. Kise kembali menyeka air mata yang akan keluar, dan yang sudah keluar lagi. "Dan di tikungan terakhir menuju rumah, ada yang menyerangku."
Kise membuka maskernya, menampilkan pipi kirinya yang dibalut kapas dari dekat mulut sampai menuju ke telinga. Lalu Ia membuka sedikit kapas yang berdekatan dengan mulut, dan menampilkan sebuah goresan mengerikan yang cukup dalam.
Iris biru tua, biru muda, merah, dan hijau dibuat melebar. Sementara yang ungu berhenti mengunyah.
"Ki-Kise..." Kagami tidak melepas pandangannya dari pipi yang sekarang sudah kembali dibalut masker.
"Selain itu, Kise-kun baik-baik saja, 'kan?" Nada bicara Kuroko terdengar panik.
"Disakiti Akashi, ya..." Kuroko dan Kagami menoleh ke arah Aomine. "Berarti yang menyerangmu itu si Akashi?"
Kise mengangguk pelan. "Akashi-kun bilang itu peringatan buatku dan buat kalian-ssu." Kise menunduk lagi. "Terus kenapa aku yang harus diserang langsung?"
Midorima berdeham, meminimalisir drama di hadapannya. "Karena kau model-nanodayo."
Semua mata tertuju pada Midorima yang sekarang mengangguk kalem. "Wajah itu aset utamamu, 'kan? Ya tentu saja orang yang paling afdol dilukai wajahnya adalah kau-nodayo."
"Benar juga, Midorima-kun." Kuroko beralih pada Kise. "Lalu bagaimana ini, Kise-kun?"
Kise menarik napas dalam-dalam, upaya menenangkan dirinya sendiri. "Aku bisa cuti beberapa minggu atau beberapa bulan. Kalau menurut orang-orang disekitarku ini terlalu parah, ya mungkin akan ada operasi-ssu." Semua yang ada disana menatap Kise takjub. "Yang penting, setelah ini tidak ada korban nyata dari ucapan Akashi-kun lagi-ssu."
"Tentu saja. Ini harus diselesaikan!" Kagami mengepalkan tangan ke udara.
"Tapi Aka-chin sudah memperingati, lho —krauss krauss— kalau diteruskan, bisa bahaya."
"Oi, jadi sekarang kau dukung siapa, Murasakibara?!" Aomine menggeram kesal pada makhluk ungu di samping kanannya.
"Tenanglah, Aomine!" Midorima berkata dengan kalem. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan?"
Semua terdiam. Tidak ada ide sama sekali.
"Gimana kalau," Aomine berkata pelan, lantas melanjutkannya dengan ragu, "tanding basket six on one?"
"E-eh? Benar juga, ya?" Kagami tampak setuju. "Sehebat apapun Akashi, masih bisa dikalahkan kalau kita bersatu, 'kan?"
"Apa yang kalian pikirkan? Tentu saja kita bisa mengalahkan Akashi. Tidak perlu enam orang pun," Midorima mendelik tajam ke arah Aomine dan Kagami. "Pikirkan yang lain selain basket-nanodayo."
"Maksudnya, Akashi-kun belum tentu berubah walaupun kalah, 'kan-ssu?" Kise menenangkan emosi Midorima. "Atau malah dia akan menolak tawaran itu sejak awal."
"Dia bisa menerima tawaran itu kok —nyam— habis itu, kita mati tergunting di lapangan."
"Apaan, gak sportif banget."
"Sstt, nanti Aominecchi beneran digunting sepertiku, lho."
"Hentikan pembicaraan basket yang tak terarah ini-nanodayo!" Midorima menghembuskan napas berat. "Ya, aku tahu semua ini terjadi —dengan sengaja atau tidak— karena basket. Dan kalian berpikir untuk mengembalikannya dengan basket pula, 'kan? Aku tahu, tapi tidak semudah itu-nodayo."
Semua terdiam, menyetujui yang paling jenius disana.
"Memangnya kita punya skenario apa lagi? Hubungan kita berawal dari basket, masalah-masalah muncul karena basket. Maka itu, kupikir bisa kita selesaikan dengan basket juga." Aomine berargumen.
"Itu karena otakmu isinya cuma basket-nanodayo."
"Tapi Mine-chin benar. Memangnya kita punya skenario apa lagi?"
"Ya... Yang lain. Selidiki dulu pokok masalahnya. Seperti... Kenapa Akashi jadi seperti itu?" Kagami berkata dengan tidak yakin.
"Kita bukan psikolog, Kagamicchi."
"Ngomong-ngomong soal pokok permasalahan," Aomine menatap Midorima. "Awalnya bagaimana, sih? Jujur saja, pertama kali Akashi berubah 'kan aku tidak ada di tempat."
"Itu waktu Aka-chin hampir kalah dariku, Mine-chin." Murasakibara membuka bungkus pocky. "Tiba-tiba jadi begitu, deh."
"Tiba-tibanya itu bagaimana?" Aomine bertanya lagi.
"Akashi yang 'itu' muncul kalau ia merasa dirinya terdesak-nodayo. Saat itulah emperor eye bangkit." Midorima membetulkan letak kacamata. "Tapi yang itu bukan pertama kalinya."
Semua yang ada di ruangan itu menatap Midorima makin intens.
"Aku merasakan 'dia' hadir waktu Akashi berbicara padaku tentang 'menyarankan' Haizaki untuk keluar dari tim-nodayo."
"Jadi, Shougo-kun keluar karena..."
"Bukan karena keinginannya sendiri?" Kuroko menyambung ucapan Kise. Alisnya bertaut. "Akashi-kun sampai-sampai menyuruh Haizaki-kun keluar?"
"Pantas saja aku dan Mine-chin dibiarkan gak latihan."
"Untung kita gak diusir dari tim juga, Murasakibara." Si ungu menyetujui perkataan si biru dengan anggukan.
"Tentu saja, karena kalian dibutuhkan untuk menang-nodayo. Mana mungkin disuruh keluar?"
"Kalau sesederhana itu, sih, walaupun tidak ada Aomine dan Murasakibara dan yang ada hanya Haizaki, kalian tetap menang, 'kan?" Kagami menyaut.
"Untuk menghancurkan lawan lebih parah lagi-ssu. Aominecchi dan Murasakibaracchi 'kan lebih kuat dari Shougo-kun."
Semuanya menghembuskan napas lelah.
"Kalian sendiri," Kagami membuka pembicaraan kembali. "Kenapa menuruti semua kata-kata Akashi yang 'itu' dulu?"
Kuroko mendelik ke arah Kagami dan segera diacuhkan. Kise melebarkan bola mata dan Aomine mengangkat satu alis. Murasakibara berhenti makan dan Midorima mengatupkan rahang dengan keras.
"Topik yang sensitif sekali, Kagami." Midorima meminum air putih di hadapannya sebelum melanjutkan. "Kami —ah, bukan— mereka ini," Midorima melirik Aomine, Kise, dan Murasakibara satu persatu. "Seolah-olah telah 'dicuci otak' oleh Akashi-nodayo."
"Mido-chin berkata begitu seperti Mido-chin adalah orang luar."
"Kau juga ikut-ikut saja, Midorimacchi." Kise tidak setuju.
"Sudah kubilang aku hanya melakukan yang kubisa-nodayo. Lagipula, melawan Akashi yang 'itu' sama saja bunuh diri. Dan saat itu, kupikir-pikir, tak ada ruginya."
"Jadi, Aka-chin itu tukang hipnotis, ya? Sampai kita bisa dicuci otak begitu?"
"Dan kata-kata itu membuat kami seolah-olah tidak bisa berpikir sendiri."
"Memang begitu, Aomine. Akashi membutakan kita dengan kemenangan-nodayo."
"Kurasa bukan cuma Kiseki no Sedai, Midorima-kun. Seluruh management tim basket Teikou juga kena efeknya."
"Pelatih juga 'kan-ssu?"
Midorima mengangguk. "Apa kalian pikir tidak aneh, kita selalu menjadi tim reguler dan starter sampai tahun terakhir masa SMP? Aku tidak ingat kita pernah diganti-nanodayo."
"Tentu saja karena kalian selalu menang, 'kan? Tidak ada pihak manapun yang menurunkan kekuatan tempurnya selama kekuatan itu masih ada pada mereka." Kagami menjawab dengan selogis-logisnya.
"Dengan konsekuensi junior kita tidak pernah merasakan yang namanya turnamen resmi. Mereka hanya bermain di latih tanding-nodayo." Tak ada yang menyaut. "Basket Teikou hancur setelah kita tinggalkan."
Beberapa mata melebar kaget, beberapa tetap cuek karena sudah menduga.
"Lalu, kenapa Akashi bisa jadi kapten Rakuzan padahal baru masuk? Dia juga dipercaya —sangat— oleh pelatihnya-nodayo."
"Ya tentu karena dia kapten Kiseki no Sedai, 'kan? Alasannya mudah begitu, Midorima." Aomine memutar bola mata malas.
"Kemana calon kapten sebelum Akashi dipastikan masuk Rakuzan? Setelah itu pun, mereka tak banyak protes-nodayo."
"Karena Akashi-kun kerjanya bagus-ssu, tidak ada yang kecewa. Rakuzan menerimanya begitu saja."
"Selama mereka menang-nodayo."
Kagami menyadari sesuatu. "Dan setelah Rakuzan kalah...?"
"Aka-chin tetap jadi kapten."
"Dan dia malah tambah jadi diktator-ssu."
Helaan napas yang kesekian kalinya.
"Aku baru menyadari si Akashi ternyata begitu." Aomine mengusap mukanya.
"Akashi yang 'itu' doang, sih."
"Jadi, apa langkah selanjutnya-ssu? Dari tadi kita hanya membicarakan keanehan-keanehannya saja."
"Mungkin kita bisa lapor ke management Rakuzan untuk mencopot jabatan Aka-chin."
"Ya, dan saat kita tiba di Rakuzan, Akashi sudah menunggu kita di gerbang."
"Tapi bisa dicoba ide itu-nodayo. Bilang saja, cara melatih Akashi membuat pemain-pemain lain cedera." Midorima mengangguk sekali. "Masalahnya, kenapa yang lapor adalah kita?"
"Nah."
"Bilang saja itu adalah sindrom yang diderita Akashi waktu kepribadian yang satu lagi kumat sadisnya. Tinggal tambahkan bahwa kita dulu pernah mengalaminya." Aomine menyesap kopinya yang sudah mendingin.
"Kalau gitu, kenapa tidak jujur saja, sih-ssu? Katakan bahwa Akashi-kun sedang 'tidak stabil' untuk memegang jabatan penting itu."
"Kenapa terdengar bahwa kita sedang melakukan kudeta, ya?" Tanya Kagami polos.
"Hah..." Aomine mengeluh, lantas berdiri. "Aku pinjam toilet, Bakagami." Dia berlalu.
Masing-masing terdiam tak melanjutkan percakapan. Jam menunjukkan pukul 10.40, semakin mendekati makan siang dan mereka belum memastikan apa yang akan dilakukan.
Tak lama, ponsel Aomine yang ada di samping gelas kopinya bergetar, ada telpon masuk.
"Dari Momoi-san." Ucao Kuroko yang paling dekat posisinya. "Angkat?"
Midorima mengangguk. "Bilang Aomine sedang hang out bersamamu dan Kagami. Jangan menyeret Momoi ke masalah ini-nodayo."
Kuroko mengangguk dan mengangkat telponnya. Baru saja percakapan teesambung—
"Dai-chaaaan! Kau kemana? Tumben tak ada di rumah. Jangan-jangan sedang kencan, ya? Sampai tak memberitahuku begitu. Aku 'kan—"
"Momoi-san," Kuroko memotong. "Ini aku, Kuroko."
"Tetsu-kun? Sedang bersama Dai-chan?"
"Ya, begitulah. Ada apa, Momoi-san? Aomine-kun sedang di toilet. Biar kusampaikan pesanmu padanya."
"Baiklah, Tetsu-kun. Pesan ini juga boleh kau ketahui, kok." Momoi memberi jeda. "Baru saja Akashi-kun datang kesini mencari Dai-chan, dan Dai-chan tidak ada. Tapi Akashi-kun menebak Dai-chan sedang ada di apartemen Kagamin. Dan ternyata bersama Tetsu-kun? Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Hanya kumpul, Momoi-san. Dan apa yang dikatakan Akashi-kun?"
Mendengar nama Akashi, orang-orang yang ada di ruangan itu kecuali Kuroko mengerutkan kening.
"Akashi-kun menyusul kalian. Sudah berangkat lima menit yang lalu. Aku tidak boleh ikut, katanya urusan lelaki. Sayang sekali~"
Kuroko terkejut dan dalam beberapa saat, otaknya mengalami korslet. "Baiklah Momoi-san, kami harus mempersiapkan kedatangan Akashi-kun. Kututup telponnya, ya. Sampai jumpa, Momoi-san."
"Kuroko..." Kagami melongo dan wajahnya menyiratkan kepanikan.
"Kita harus pergi sebelum Akashi tiba-nodayo." Midorima berdiri disusul yang lain.
Kagami segera menuju kamar mandi dan menggedor pintunya. "Oi, Ahomine! Cepat keluar karena kita harus pergi!"
Tak lama, Aomine keluar dengan tampang kusut. "Kenapa, sih?"
"Akashi akan kemari."
Persiapan mereka meninggalkan apartemen Kagami hanya tiga menit. Itu sudah cukup untuk mematikan peralatan listrik, dan keluar serta mengunci pintu. Mereka bergegas menuju tangga yang ada di ujung koridor sebelah kanan pintu Kagami dan menemukan—
"Hoo... Mau kemana? Tak ingin menyambutku, eh?"
YAY Chap 2 nya udah update...!
Tapi lebih pendek dari yang sebelum2nya -_- gomeeenn dan juga ini isinya dialog doang -_- tapi chap depan saya kembangin narasinya kokkk
Oke, saya bales review buat yg gak pake akun disini yaa wkwkwk
ArcSa Reiyu :
Sebelumnya, makasih udh review yaa! Wkwkw,, jgn tulis nama Akashi di death note dong ya, nanti yg main fic ini siapa? -_- oh jangan mulai dulu ship2annya wkwwk
Saya update kilat gara2 mumpung libur hehee.. Dan saya maunya di tiap new story emang bakal langsung 2 atau 3 chap berdekatan jarak publish nyaa,, dan btw apalah fic ini, masih abal banget -_-
Ini ya udah saya jawab Ryouta diapain (?) dan selamat tebakannya bener wkwkw,, dan lagipula saya terinspirasi dr anime eps 38 yg pipinya Kagami dicolok gunting sama Akashi (?)
Keep read this abal fic yay! ^^
Buat seorang Guest :
Makasih udah baca dan review yaa ^^ ulalaa ini gak bagus ah wkwk,, hohoo Akashi cocok buat genre ini ya? Padahal Akashi kan diktator (?)
Sippp ini udh lanjut wkwkw,, keep read yaa!
Kagura Harukaze :
Iya benerr, dr jarak Winter cup ke extra game mungkin si bokushi abis diceramahin sama oreshi wkwkwk padhal terakhir di final WC, si bokushi masih ngamuk loh (?) btw saya suka kata2 Kuroko yg itu lho hehe
Iya, saya juga jarang nemu Rakuzan main fanfic (?) dan disini mereka kena sial gara2 bokushi :(
Makasih udah review yaa apalagi sampe di favv ^^ keep read!
Saya juga lupa jelasin yg prologue kenapa si Kise ditraktir Haagen dazs sama Aomine, soalnya di CD drama 1, Aomine bakal traktir Kise klo Kise menang :v
Sekian buat chap ini, update soon ^^ Review lagi yaa
Arigatou Gozaimasu!
Kiryuu
