[CHAPTER 3]

Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki

Rated : T

Enjoy…! ^^

"Hoo... Mau kemana? Tak ingin menyambutku, eh?"

"Lari." Midorima berkata dengan peluh menetes. "Cepat lari."

Tanpa dijelaskan, enam pemuda bersurai pelangi itu berbalik arah dan menuju tangga di ujung koridor satunya. Kepanikan melanda, sampai-sampai 5 tubuh besar saling berhimpit, dan untunglah 1 yang mungil dapat selamat. Kagami yang berada paling belakang masih sempat melirik Akashi sebelum ia menuruni tangga. Orang itu sedang tersenyum—menyeringai.

Kurang dari semenit, mereka sudah tiba di parkiran bawah. Midorima sempat beradu tatap dengan Akashi yang melihat mereka dari lantai 3 apartemen itu sebelum Akashi berbalik dan menuju tangga. Aksi kabur mereka pun dilanjutkan dengan berjalan cepat—setengah berlari—menuju Majiba, tempat teraman untuk saat ini. Setelah dikira situasi aman, barulah percakapan dibuka.

"Aku tak mengerti," Kagami menyeka peluh di dahi. Padahal musim dingin, tapi keringat tetap meluncur—alasannya adalah adrenalin berpacu setelah melihat Akashi— "Kenapa kita lari begitu, ya?"

"Kau mau cari mati, hah?!" Aomine membuang napas kasar. "Tapi, bukankah kita bisa mengeroyokinya ramai-ramai, ya?"

"Kau sama cari matinya dengan Kagami." Midorima sudah terlihat tenang. "Tadi, tak ada yang kupikirkan selain lari-nodayo."

"Aku juga-ssu." Kise meneguk ludah. "Tak ada yang tahu maksud Akashi-kun datang, 'kan?"

"Maksud Kise-chin, akan ada kejutan, ya?"

"Bisa jadi, Murasakibara-kun." Kuroko tampak semakin pucat. "Tapi, kejutannya mungkin sesuatu yang buruk."

"Dan ternyata aku tak bisa meninjunya, Tetsu."

"Iya. Sudah hilang satu kesempatan kita." Kagami mengeluh, menatap Aomine. "Kau benar ada rencana meninjunya?"

Aomine mengangguk. "Ada, sih. Setelah batas kesabaranku habis sepertinya."

"Hmm... Aku tertarik bergabung." Kagami nyengir.

"Mou, Kagamicchi jangan begitu-ssu." Kagami menoleh ke arah Kise. "Kagamicchi yang paling terancam disini. Jadi, jangan pancing-pancing masalah lagi."

Kagami mengangkat satu alis. "Tapi ini tak bisa dibiarkan, Kise."

"Aku tahu-ssu." Kise memejamkan mata agak lama, lalu membukanya kembali. "Dan kurasa malam ini Kagamicchi harus menginap di salah satu rumah kami. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu-ssu."

Tak lama, ponsel Midorima berdering dan menampilkan nama Akashi disana.

"Ya Tuhan... Jangan bilang, dia tahu kita lari ke Majiba dan sekarang dia ada di kursi belakang kita?" Kagami menepuk dahi.

Ponsel berdering cukup lama seiring Midorima yang berpikir akan mengangkatnya atau tidak.

"Angkat saja, Midorima-kun. Daripada nanti kau pulang tidak aman." Kuroko memberi saran yang sangat cerdas.

Dan Midorima mengangkatnya. Tak lupa dengan pengeras suara.

"Lari adalah pilihan yang bagus, Midorima. Kalau kalian memaksa, mungkin sudah ada satu korban nyawa karena aku membawa pistol. Setidaknya, aku sudah berhasil menahan serangan itu tadi, dan sekarang aku membajak ponselku sendiri. Selanjutnya, berkumpullah. Jangan ada yang sendiri karena—"

Sambungan telpon diputus Akashi. Enam pemuda itu saling tatap.

"Itu... Akashicchi?"

"Iya itu, eh, Akashicchi. Sekarang kau punya dua panggilan untuknya, Kise." Aomine nyengir. Satu sisi karena lega bahwa isi telpon tadi bukan berisi ultimatum pemendekan umur mereka.

Midorima mendengus. "Kurasa sebaiknya kita ikuti saran itu-nodayo. Siapapun bisa mati setelah ini."

Dan akhir dari pertemuan singkat di Majiba itu adalah, mereka akan menginap di rumah Kuroko dan menyusun rencana disana.

.

.

.

Keesokan harinya pada pagi yang dingin.

Empat pemuda bersurai warna-warni makan pagi bersama di ruang makan keluarga Kuroko. Kemana dua orang lagi? Oh tenang saja, mereka masih hidup, kok. Murasakibara mengambil barang-barangnya di rumah bibinya yang ia singgahi selama di Tokyo, ia akan datang sebentar lagi. Dan Kise yang rumahnya lumayan jauh, baru bisa bergabung pagi ini.

Rumah Kuroko memang sederhana, dihuni oleh Kuroko, ayah, ibu, dan neneknya. Jangan lupa si anjing unyu yang mirip dengan Kuroko, Tetsuya Nigou. Dan seperti yang sudah diketahui, anjing unyu ini sangat dekat dengan Kiseki no Sedai dan kini ia terlihat bahagia karena kedatangan empat cowok itu di rumah Kuroko. Jika dibandingkan dengan Akashi, rumah Kuroko hanyalah ¼ rumahnya (kejauhan gak sih, perbandingannya? -_-). Ngomong-ngomong soal rumah dan Akashi, ingatkan mereka untuk mengajak kapten merah itu ke rumah Kuroko agar ia bisa merasakan kehangatan ini nanti ketika misi ini berhasil.

Pukul 9 pagi, semua sudah berkumpul di halaman rumah Kuroko untuk melaksanakan misi pertama. Misi yang mana? Ya, yang lapor kepada Shirogane Eiji, pelatih Rakuzan, bahwa anggota-anggotanya tak sanggup menanggung beban kekejaman Akashi. Semalam, Midorima sudah bernegosiasi dengan pria paruh baya itu untuk bertemudi tempat yang kira-kira aman tanpa ganggu gugat Akashi. Nomor telepon Shirogane didapat dari Koutaro Hayamakarena Mibuchi Reo tidak bisa dihubungi mungkin sedang dicurhati atau dieval Akashi.

Mereka akan menuju Rakuzan di Kyoto. Tempat pertemuannya adalah di ruang kerja Shirogane. Diduga aman karena mungkin pasukan Kiseki no Sedai minus Akashi akan tiba disana ketika siang atau sore hari dan disaat itu, latihan klub sudah selesai. Jangan tanya kenapa di libur musim dingin ini masih ada latihan klub di sekolah.

Peron tempat mereka menunggu cukup lengang, menemani mereka terdiam, membantu mereka berpikir. Beberapa kereta yang lewat dan pemberitahuan dari pusat informasi diabaikan, karena mereka menganggap keberadaan itu sedang mencemooh mereka, seolah mengatakan 'Semoga berhasil dan kembali dengan selamat.'

Di menit ke-13 mereka menunggu, kereta cepat yang akan mereka tumpangi tiba. Warnanya putih, seputih niat mereka menjalankan misi ini"tidak begitu-nodayo!" dan mereka segera menaikinya. Midorima, Murasakibara, dan Kise duduk berjajar. Di hadapannya, Aomine, Kagami, dan Kuroko duduk dengan manis. Perjalanan dimulai.

Midorima memulai percakapan dengan berdeham, meminta atensi. "Ayo kita bagi kelompok-nodayo."

Kagami yang tadi sempat menunduk memperhatikan sepatu barunya, menaikkan kepala menghadap Midorima. "Buat apa?"

Midorima memejamkan mata. "Salah satu kelompok memastikan Akashi tidak akan mengganggu negosiasi ini-nodayo."

"Apa harus begitu, Mido-chin? Kita seperti maling saja."

"Hanya untuk berjaga-jaga, Murasakibara." Midorima menggeleng pelan dan melanjutkan, "ya kalau diperlukan, sekalian menghadang Akashi-nodayo."

Kuroko mengangguk dan menyetujui usul Midorima. Begitu pula dengan Kise. Dan mau tak mau, sisanya menyetujui perkataan kapten sementara mereka.

"Kelompok yang ikut denganku adalah yang menemui Shirogane-san." Beberapa orang terdengar mengeluh, karena itu artinya, kelompok yang satu lagi akan berhadapan langsung dengan musuh utama di cerita ini. "Kagami, Kise, ikut aku-nodayo."

Kagami dan Kise mengangguk. Sementara Aomine bersiap meninju Midorima, Murasakibara membelalak sampai makanannya nyangkut di tenggorokan. Kuroko masih kalem.

"Apa-apaan itu Mido"

"Pasti Midorima-kun punya alasan. Tenang dulu, Aomine-kun." Yang dari tadi diam pun bersuara.

"Tentu saja-nodayo." Midorima meninggikan kepala pongah. "Kurasa Kuroko adalah yang paling mengerti perasaan Akashiperasaan kita semua juga. Lalu, Murasakibara defense, sementara Aomine offense."

"Ini mau main basket, ya?"

"Tuh, 'kan, otakmu juga isinya basket, Midorima."

"Kalau aku dan Kagamicchi, kenapa ikut denganmu-ssu?"

"Karena Kagami kurasa bisa membuka pikiran Akashi—mudah-mudahan. Dia juga bisa offense kalau dibutuhkan. Sementara Kise, aku butuh bakat actingmu-nodayo."

"Midorimacchi hidoi-ssu…"

Mereka tiba di Kyoto pada pukul 3 sore. Selepas itu, mereka mulai mencari dimana Rakuzan berada karena jujur saja, belum ada yang pernah bertandang kesana. Ada, sih ada. Tapi yang bersangkutan sama sekali tidak ingat jalan menuju kesana.

"Kalau lupa, gak usah ngomong, Murasakibara."

Dan akhir dari pencarian mereka adalah suasana Rakuzan yang ternyata masih hidup: kegiatan ekstrakurikuler masih berjalan. Bukan hanya klub basket, klub baseball dan football masih terlihat berkeliaran di lapangan outdoor. Segera, kelompok yang dipimpin Midorima menuju bangunan utama SMA Rakuzan.

Sekolah ini mewah dengan arsitektur klasik. Wajar, bangunan ini menunjang siswa-siswanya yang juga terkenal berprestasi. Jangan tanya alasan Akashi masuk sekolah ini. Sudah begitu, jadi ketua OSIS pula.

Gedung bagian dalamnya sepi. Ruang untuk masing-masing klub pun kosong, menandakan tak ada aktivitas klub yang berjalan di dalam bangunan utama. Siapa yang mengatur ini? Akashi kah? Tapi, kenapa yang berjalan hanya klub olahraga? Spekulasi Midorima adalah; Akashi menuntut kemenangan pada tiap klub olahraga yang notabene mengikuti ajang-ajang kejuaraan paling banyak dan terpandang daripada klub-klub yang beraktivitas di dalam ruangan—aktivitasnya relatif santai. Sampai-sampai, klub olahraga harus tetap berlatih pada hari libur.

Setelah melihat-lihat isi gedung utama—mencari keberadaan ruang guru—akhirnya plang nama ruangan itupun tampak. Ruang guru berada di lantai 2, satu-satunya ruangan yang diyakini hidup di lantai ini. Midorima, Kise dan Kagami berjalan mendekat dan mereka—

Braakk!

—harus berhenti beberapa senti dari muka pintu.

"Apa itu?" Kagami berbisik. Pertanyaannya hanya dijawab gelengan oleh Midorima.

Kemudian, terdengar suara-suara yang saling berdebat—Midorima yakin itu adalah suara dari guru-guru penghuni ruangan ini yang sedang berselisih pendapat.

"Lalu apa yang didapat dari latihan tiap hari, bahkan di hari libur?!"

Oh, sedang mempermasalahkan itu rupanya.

"Yang latihan tiap hari saja tidak menang, apalagi yang tidak tiap hari?!"

Segera, pemikiran si hijau, kuning, dan merah bersatu. 'Pasti kekalahan tim basket di Winter Cup.'

Hening beberapa saat yang membuat suasana tak nyaman. Midorima dan yang lain menjauhi pintu karena mereka dengar ada suara langkah mendekati pintu, ingin keluar ruangan tentu saja. Tak lama setelah itu, pintu menjeblak terbuka dan keluarlah satu—dua, lalu tiga pria paruh baya dari ruangan itu dan dua dintaranya memasang muka galak. Mereka hanya lewat—melewati Midorima dan kawan-kawan.

Memastikan tak ada aktivitas menegangkan lagi di dalam, Midorima memberanikan diri mendekati pintu duluan dan membukanya lebih lebar. Kagami dan Kise di belakangnya berjalan sangat pelan, lalu terdiam ketika pintu terbuka sepenuhnya.

"Mencari Shirogane-san, Shintarou?"

.

.

.

Tepat ketika rombongan Midorima meninggalkan mereka, Aomine, Murasakibara dan Kuroko menelan ludah kompak. Sungguh, mereka akan menjalani tugas yang mulia, yaitu memastikan dan menghadang Akashi (kalau perlu) agar tak merusuh di negosiasi kali ini. Bukannya mereka takut, mereka hanya ingin ikut membujuk si pelatih Rakuzan untuk mencopot jabatan Akashi, kok.

"Ya sudahlah, ayo kita menuju gym." Aomine berjalan memimpin menuju ke arah gym yang sudah ia yakini adalah gym untuk tim basket. "Mudah-mudahan tugas kita hanya sebatas 'memastikan'."

"Mine-chin takut kalau Aka-chin ngamuk, ya?"

Aomine berhenti berjalan dan berbalik menghadap titan ungu. "Apa katamu? Akashi doang tak mungkin aku takut! Apalagi kita bertiga, dan sudah lebih siap!"

"'Akashi doang' ya, Aomine-kun? Padahal waktu Akashi-kun datang ke apartemen Kagami-kun, kau yang paling panik dan larinya paling depan."

"Tetsu—"

"Sudah, ayo cepat. Nanti Mido-chin marah, lho." Murasakibara berjalan mendahului Aomine. Dan tak lupa, ia membuang dahulu bungkus keripiknya di tempat sampah. Dia anak yang baik.

Tiga makhluk itu berjalan mendekati gym, dan jangan lupa, mereka menggunakan teknik gerilya agar tak diketahui orang-orang yang sedang latihan (berjalan menunduk, mengendap-endap mengintip dari celah pintu).

Alis Kuroko mengerut. "Ini berlebihan. Wajah mereka terlihat sangat kelelahan."

Murasakibara mengangguk. "Pasti dipaksa terus-terusan dengan istirahat yang sangat minim." Tumben Murasakibara nyambung.

"Inikah salah satu harga mutlaknya si Akashi?" Aomine menggeram. "Mereka diperlakukan bukan seperti manusia."

"Hei, lihat." Kuroko dan Aomine menoleh pada Murasakibara yang sebenarnya tak menunjuk apapun. "Gak ada Aka-chin disini."

Disaat itulah, duo kepala biru baru menyadari.

"Gawat! Akashi sudah keluyuran sebelum kita sempat menghadang!" Aomine menepuk dahinya. "Bisa-bisa, dia mengganggu negosiasi."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Mine-chin?"

"Jangan tanya aku, dong! Aku bukan kapten kelompok ini, tahu!"

"Kurasa sebaiknya kita berikan mereka istirahat." Kuroko bersuara. "Ayo kita masuk dan hentikan latihan neraka ini. Bilang saja ini perintah dari Akashi-kun."

"Oi Tetsu, kau berani sekali."

"Lagian, kita siapa yang tahu-tahu muncul disini, Kuro-chin?"

"Kita adalah Kiseki no Sedai, Murasakibara-kun. Semua pemain basket SMA pasti mengenal kita—setidaknya Aomine-kun dan Murasakibara-kun."

"Dan, kita… Akan menggunakan itu?" Aomine tampak berpikir. "Ya, boleh, sih. Mumpung tidak ada Akashi."

Anggukan muncul di kepala Kuroko dan Murasakibara. Mereka memasuki gym itu dan segera menuju panggung yang ada di ujung gym —yang biasanya untuk sambutan di kala penerimaan atau pelepasan siswa. Sejak berjalan menuju kesana pun, sudah banyak mata yang memandangm tapi mereka berhasil menghiraukan. Maka sampailah mereka di atas panggung. Aomine menepuk tangannya, meminta atensi.

Suara kasak kusuk terdengar di seluruh penjuru gym. Beberapa yang Aomine tangkap adalah yang membicarakan bahwa Kiseki no Sedai datang kesini, lalu itu si ace generasi keajaiban yang berdiri gagah di atas panggung, dan yang lainnya adalah ace generasi keajaiban ternyata lebih buluk daripada yang mereka lihat di majalah.

"Aku ingin memberitahukan kalian—semua pemain tim basket Rakuzan, bahwa latihan hari ini sudah selesai. Aku, sudah menerima mandat dari Akashi Seijuurou atas hal ini. Akashi sendiri sedang ada urusan." Aomine berdeham. "Terima kasih atas kerjasamanya!"

Tepuk tangan menggema, seolah-olah menyambut pahlawan yang membebaskan mereka dari penderitaan. "Sampaikan juga pada klub-klub yang lain!" Seru Aomine.

Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit hingga semua orang selesai membereskan gym dan keluar hingga gym ini kosong melompong. Aomine dan Kuroko tersenyum puas.

"Jadi, apa sekarang kita akan mencari Akashi-kun?"

"Sudah pasti Aka-chin ada di tempat Mido-chin berada. Aka-chin 'kan suka muncul tiba-tiba."

"Berarti, dia bisa tiba-tiba datang kesini dong?" Aomine mengedarkan pandangan ke seluruh gym, memastikan tidak ada Akashi. "Eh, tapi, dia tidak ada disini."

"Kalau begitu, kita susul ke tempat negosiasi? Siapa tahu Midorima-kun butuh bantuan kita."

"Bantuan moral kayaknya."

Segera, mereka keluar dari gym dan menutup serta mengunci pintunya. Kunci gym menjadi tanggung jawab mereka sekarang. Tujuan mereka adalah ruang guru, sekalian mengembalikan kunci ini. Aomine mengeluarkan ide iseng, apa mereka harus menyita kunci ini agar gym tidak bisa digunakan lagi. Tapi sayang, tak ada yang tertawa.

Baru saja melewati belokan pertama dari gym, ada yang memegang pundak Aomine dalam diam yang membuat pemuda dim itu terhenti. Haruskah ia menengok? Haruskah? Harus —

"Kenapa berhenti Mine—"

Kuroko ikut menengok ke arah Aomine.

"Mayuzumi-san?"

.

.

.

Yappp udah update yay! ^^

Saya tahu dari chap2 kemaren kebanyakan ngomongnya -_- jadi disini saya coba buat kembangin narasinya (?) dan saya usahain ada hurt2nyaa,, dan gomenn kalo gagal -_-

Sekian dulu dari saya, keep read yaa! Jangan lupa review hehee

Kiryuu