[Chapter 4]
Disclaimer : Tadatoshi Fujimaki
Rated : T
Enjoy…! ^^
"Mayuzumi-san?"
Mayuzumi tidak menanggapi, ia hanya melanjutkan langkah sehingga sekarang ia berada di antara Aomine dan Kuroko serta Murasakibara. Aomine mendekat, dengan takut-takut.
"Ada apa, Mayuzumi-san? Ada yang ingin kau bicarakan?" Kuroko bertanya dengan matanya yang mencoba menyelidiki manik kelabu Mayuzumi —mencari apa yang terpancar disana. Tapi nihil.
"Aku akan membantu kalian." Jawab si kelabu datar. "Menaklukan Akashi yang sok absolut."
Aomine dan Murasakibara saling pandang. Ada orang yang tiba-tiba datang dan bilang bahwa ia ingin membantu mereka menaklukan Akashi. Tak masalah sih, berhubung Mayuzumi Chihiro juga mantan anggota tim basket Rakuzan—sudah keluar karena dalam hitungan bulan ia akan lulus dari sekolah tersebut.
"Ano… Mayuzumi-san, bagaimana kau tahu—"
"Tentu." Mayuzumi menatap lurus ke arah Kuroko. "Akashi sendiri yang memintaku membantu kalian."
Aomine beradu tatap dengan Murasakibara. Kuroko melirik sejenak ke arah dua temannya itu, kemudian kembali menatap Mayuzumi.
"Mayuzumi-san tahu dimana Akashi-kun sekarang?"
"Dia sedang berhadapan dengan teman hijau berkacamata kalian." Mayuzumi menjawab santai. "Tak perlu kau tanya lagi seharusnya."
Kuroko mengangguk sekali, memaklumi jawaban dari pernyataan retorisnya.
"Kuharap kalian memiliki rencana untuk ini." Mayuzumi menajamkan matanya. "Jangan sampai ruang Shirogane-san menjadi tempat pembantaian enam orang remaja."
.
.
.
"Dan lihatlah apa yang mereka lakukan, Shintarou. Daiki mem-bubar-kan semua ekskul yang sedang berlatih dengan seenak jidatnya." Akashi terlihat sedang duduk di atas meja Shirogane seraya menaruh satu kakinya di atas kaki yang lain, tangannya bersedekap dengan salah satunya memainkan sebuah benda tajam —diduga cutter yang ia temukan dari laci meja yang ada disana.
Di sisi yang berseberangan, Midorima menggertakkan giginya, mata hijaunya melotot galak ke arah Akashi, tak lupa segaris luka memanjang di pipi kanan. "Tidakkah itu bagus, Akashi? Kau yang tidak manusiawi!"
"Hoo… Tidak manusiawi, eh?" Sebuah seringaian lebar hadir di hadapan mata Midorima, Kise, dan Kagami. "Haruskah aku membiarkan mereka bersantai-santai jika ingin menang?"
"Tapi bukan begitu, Akashi!" Kagami maju selangkah demi selangkah, dengan tangan terkepal dan emosinya yang hampir lepas dari belenggu. "Kau cuma kapten keparat yang mementingkan kemenangan tanpa memikirkan rekanmu!"
Akashi memicingkan matanya pada Kagami sambil menaikkan kepala dengan segenap harga dirinya—yang sayang sekali tak bisa Kagami raih. "Rekan? Maksudmu pion?"
Dan kepalan tangan Kagami sedang dalam perjalanan menuju wajah pongah Akashi—
Buagh!
—namun Akashi dengan mudah menghindari serangan dadakan itu, tak lupa menambahkan tendangannya yang telak mengenai tengkuk Kagami.
"Kagamicchi!" Kise yang melihat Kagami jatuh dengan posisi yang sungguh merendahkan diri—seolah-olah bertekuk lutut di hadapan sang kaisar—memanfaatkan kesempatan untuk meringkus sang mantan kapten yang sedang dalam masa menegakkan tubuhnya.
Kise mengincar cutter yang ada di tangan kiri Akashi, namun sayang Akashi bereaksi lebih cepat dengan meninju wajah Kise—oh, tepat di luka mengerikan itu, membuat Kise terpental jauh—dengan penambahan berlebihan ala Kise Ryouta.
"Ouch!"
Dua orang tumbang dalam sekejap.
'Dia benar-benar harus dibawa ke rumah sakit jiwa, nodayo!'
"Tidak ikutan, Shintarou?"
Midorima meneguk ludah untuk menenangkan dirinya. 'Tak ada gunanya melakukan serangan fisik-nodayo. Kagami dan Kise yang tubuhnya jauh lebih besar dari Akashi saja tumbang.'
Akashi terlihat berjalan menuju balik meja yang tadi didudukinya. Lantas menarik lacinya dan mengambil sesuatu dari sana.
Sebuah pistol—yang Midorima yakini Akashi bawa saat insiden di apartemen Kagami.
Sandera pertama Akashi adalah Kagami. Dengan gaya ala penjahat dalam film, ia menaruh satu kaki di atas punggung Kagami yang masih menunduk sambil merintih, dan tangan yang memegang pistol menarik pelatuknya sedikit, diarahkan ke kepala belakang Kagami.
"O-oi Akashi, kau bisa ditahan jika membunuh-nodayo!"
Akashi memberi tatapan mengejek. "Siapa yang bisa menahanku, Shintarou?"
Sedetik kemudian Kagami memaksa tubuhnya bangkit—membuat Akashi sedikit terjengkang ke belakang dan dengan sigap ia menangkis tangan Akashi ke atas—satu peluru lepas, membuat sebuah lampu pecah dan serpihan kaca menghujani ruangan itu.
Kagami menubruk tubuh Akashi hingga tubuh yang lebih kecil itu terbanting ke lantai, lantas mengunci gerakan si emperor. Wajahnya buas seolah ingin memangsa Akashi, dan kilatan amarah membuatnya terlihat seperti sedang dalam mode zone. "Kau pikir bisa membunuhku dengan mudah, hei kau yang membuat semuanya berantakan?!"
Kise berlari dan menerjang cutter yang kini bisa lebih mudah ia dapatkan, lalu segera ia amankan dengan genggaman tangannya. Midorima pun maju untuk merebut satu benda berbahaya lainnya. Kagami masih mempertahankan posisi guna menjaga Akashi tetap dibawah kendali, sementara Akashi hanya mendengus pelan tanda mengejek ke tiga orang disana.
"Sudah selesai meringkusku? Apakah orang-orang rumah sakit jiwa sedang dalam perjalanan?"
Akashi menolehkan kepalanya ke kiri—ke arah Midorima berdiri—tidak, lebih tepatnya ke arah pintu masuk yang masih senantiasa tertutup.
"Bantuan kalian belum datang rupanya."
Kemudian Akashi memalingkan matanya tepat ke mata Kagami—menghipnotisnya, atau apalah yang ia lakukan seperti saat final Winter Cup beberapa waktu lalu, sukses membuat anggota Seirin kewalahan kehabisan tenaga entah karena apa.
"Kagamicchi bergeraklah-ssu!"
Satu dorongan paksa dari Akashi berhasil membalikkan keadaan, Kagami kehilangan diri dan kekuatannya secara mendadak. Dengan kelincahannya, tak ada tiga detik ia butuhkan untuk mengambil satu pecahan lampu. Tak perlu yang besar, serpihan kecil pun cukup untuk merobek bahu kiri Kagami Taiga.
Sasaran selanjutnya adalah cutter yang Kise tahan. Merasa dirinya dalam bahaya, Kise berjalan cepat menjauhi Akashi—mendekat ke Midorima yang sedang berada dalam pergelutan batin apakah sebaiknya ia manfaatkan pistol di tangannya atau tidak.
Seringaian terlukis kembali, Akashi bahagia lawannya berdiri memojok.
Kembali melihat peluang, Akashi membelah ruangan ini dengan berlari—langsung menuju pistol di tangan Midorima.
Midorima memberi pistol pada Kise dan sedetik kemudian, ia harus membentuk tameng untuk perlawanan Akashi.
"Akhirnya kau bergerak, Shintarou."
Pertarungan one on one antara Akashi melawan Midorima dimulai. Kise yang menonton memasang wajah cemas. Sejak kapan dua temannya itu jago bela diri? Dan bukan itu saja, Akashi mengambil serpihan kaca lagi dan terus mengacungkannya pada Midorima—terutama ke arah mata yang terlapisi kacamata itu.
Ide muncul di otak sederhana Kise Ryouta. Ia membuka pintu yang ada di belakangnya dan membuang pistol serta cutter itu keluar, setidaknya ia menjauhkan kedua benda itu dari kemungkinan berpindah ke tangan Akashi lagi.
Lima menit menegangkan bagi hidup Kise, menyaksikan secara langsung adegan berbahaya dan yang ia sesali adalah, ia tak melakukan apapun. Sungguh ia sebenarnya ingin membantu Kagami yang merintih karena bahunya yang terus mengeluarkan darah, tapi apa daya, di tengah-tengah ruangan adalah zona berbahaya.
"Akashicchi hentikan-ssu! Kau hanya terus melukai kami!"
Kise membulatkan matanya tidak percaya. Buat apa dia mengeluarkan kalimat itu? Toh Akashi tidak mempan fisik, apalagi kata-kata.
"Kami tau kau kesepian, Akashi!"
Giliran macan sekarat yang menyaut ucapan Kise. Kise balas memandang tak percaya pada Kagami.
"Kesepian, eh?"
Baku hantam di tengah ruangan berhenti sekejap. Midorima mengusap ujung bibirnya yang sobek. Akashi menundukkan kepala.
"Kau benar, Kagami. Aku kesepian, aku butuh kalian. Dulu aku tak ingin Kiseki no Sedai meninggalkanku karena aku yang paling lemah. Maka 'aku' yang lain muncul."
Tiga pasang mata berbeda warna memandang Akashi terkejut. Tubuh bersurai merah itu berganti pengendali.
"Akashicchi seharusnya tak perlu begitu -ssu. Akashicchi 'kan tetap kapten kami." Kise mencoba menggunakan nada bicara bahagia, mencairkan suasana.
"Y-ya, Kise benar-nodayo."
"Jadi," Akashi menegakkan kepalanya. "Kalian mau menemaniku dan tetap menerimaku sebagai kapten?" dan terlihat matanya yang masih berbeda warna—pertanda bahwa tak ada pergantian pemegang kendali, Akashi yang ini masih Akashi yang gila.
Merasakan tensi udara kembali meningkat, Kagami berusaha bangkit, alih-alih ia kembali memasang kuda-kuda untuk menghadapi Akashi. Midorima menajamkan pandangan. Di pihak Akashi pun gunting sudah berada di tangannya, entah ia dapat darimana, mungkin stok di sakunya.
Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, membuat semua pandangan tertuju kesana.
Aomine, Kuroko, dan Murasakibara sudah tiba—tanpa Mayuzumi Chihiro.
"Akashi-kun hentikan!" Kuroko memaksakan suaranya untuk berteriak, menyimbolkan amarah. "Lihat, kau melukai banyak temanmu!"
Seringaian baru kembali muncul tatkala melihat mangsa baru. "Tetsuya…"
"Aomine!"
Koneksi yang cepat antara telinga dan gerakan Aomine sangat menguntungkan dalam kondisi ini —baru saja ia berhasil menangkis gunting Akashi yang melesat tepat ke arah Kuroko. Beruntung saja Midorima sudah mewanti-wanti gerakan spontan Akashi—yang pastinya melibatkan gunting.
"Oi, kau gila, Akashi?!"
Murasakibara maju perlahan dengan mode siaga penuh. "Akachin sudah melukai banyak orang. Sekarang giliranku menangkap Akachin."
"Tidak, jangan."
Seisi ruangan dibuat hening lagi. Tiga orang yang baru datang terlihat lega karena berpikir bahwa Akashi sedang berganti kepribadian, sementara tiga orang yang sudah lama di ruangan itu belum menunjukkan reaksi yang berarti—siapa tau mereka kena tipu lagi.
"Semuanya, dengarkan aku. Pergi dari sini sekarang juga. Maaf, usaha kalian hari ini belum berhasil—malah membawa luka di sekujur tubuh. Sekali lagi, pergilah. Sesungguhnya—"
Akashi menepuk dahinya dengan keras, membuat semua dilanda tanda tanya.
Kemudian si surai merah berjalan menuju laci meja Shirogane dan mengangkat persediaan senjatanya lagi.
"Ya Tuhan."
Aomine menarik tangan Kuroko untuk segera berlari dari ruangan itu, Murasakibara yang selanjutnya keluar, diikuti Kise. Midorima mengiyakan wajah penuh tanya dari Kagami—memberi kode apakah benar mereka harus lari. Segera Kagami berlari keluar—tak lupa memungut pistol serta cutter Akashi yang Kise lempar tadi—dan yang terakhir meninggalkan ruangan itu adalah Midorima.
Cukup semenit untuk mereka kembali tiba di halaman SMA Rakuzan, dan disana Mayuzumi Chihiro menunggu.
"Ka-kau? Mayu—"
Ucapan Kagami terpotong dengan suara senjata api—pasti ulah Akashi di atas sana—diikuti dengan suara kaca pecah—diyakini kaca jendela ruangan Shirogane.
"Ayo ikut ke rumahku. Hari sudah menjelang malam. Kurasa aku tak akan membiarkan kalian jatuh dalam kecelakaan kereta menuju Tokyo akibat ulah Akashi."
.
.
.
Yap dan akhirnya ff ini update setelah bertahun-tahun lamanya :"
Saya gak nyangka ada yang nungguin ff ini loh, terharu bangett, plus ngingetin saya akan keberadaan ff ini /slap
Daaaan makin kesini makin gajee,, gomen gomeeen
Ohya, saya bakalan jarang update ff gara-gara kesibukan rl /halah
Tapi tetep diusahain kokk so makasih banyak ya yang mau nungguin ff ff saya ^^
Akhir kata, review, fav, dan follow readertachi sangat berharga ^^ Makasih banyaak
Kiryuu
