Assassination Classroom (c) Matsui Yūsei

A/N: Chapter kali ini dipersembahkan untuk Kenzeira karena mbaknya paling rajin nagih di PM :""""))
Btw, kalau Gakuhou posisinya sebagai suami, Isogai apa ya? Suamini? Suami mini? #terdengarpenting


Playing Pretend

Warning: Newlyweds!AU. Boy x boy. PWP. Uniform fetish. Roleplaying.

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

.

.

[02/05]

Lokasi : garasi
Okupasi : polisi dan tahanan

23:07 PM


"GAKUHOU! ADA APA INI!?"

Yuuma mengabaikan langkahnya. Dua kali terantuk ujung tangga dan sekali sikunya menabrak kenop. Dia bahkan lupa memakai alas kaki untuk menghambur begitu saja ke arah garasi, tempat limusin kebanggaan suaminya biasa terparkir.

"Gaku...hou?"

Nama sang kepala keluarga diucap lagi dengan nada lebih ragu. Sembari tercenung di depan pintu mobil patroli yang baru saja dibuka—menyambut seorang pria gagah berseragam lengkap dengan atribut negara. Astaga, bahkan topi berhias kelopak sakura pun tidak ikut ketinggalan.

"Aku pulang, Yuuma."

Sapaan itu seperti hari-hari biasa. Seperti tidak menyadari keanehan yang dibawa. Kerut di pusaran alis Yuuma semakin menjadi, "...Bisa kau jelaskan apa ini maksudnya, Gakuhou?"

Pria itu mendengus geli mendapati wajah yang seratus dua puluh persen tidak mengerti. Kemudian mencium dua kali kening Yuuma yang masih tertutup lembaran poni hitam halus, "Temanku yang polisi ingin mengajak pacarnya berkencan dan dia meminjam mobilku. Sebagai jaminannya, aku membawa mobilnya pulang."

"Juga meminjamkan setelan jas-mu?"

Gakuhou tertawa lepas, sedikit mengendurkan sesak di lehernya dengan membuka dua kancing kemeja teratas. Insting istrinya memang selalu tajam.

"Jangan tertawa begitu!" pipi Yuuma yang digembung sengaja selalu menggiurkan untuk dihujani cubitan beruntun, "Aku sempat panik dari balkon atas saat melihat mobil asing melintasi pagar. Kupikir kau terlibat masalah sampai harus berurusan dengan polisi. Menyebalkan! Ini sama sekali tidak lucu!"

"Shhht, Yuuma,"

Heran.

Sihir apa yang selalu Gakuhou gunakan padanya sampai belaian lembut di kepala saja bisa sebegini menenangkan. Yuuma menunduk perlahan, menarik napasnya dalam-dalam supaya urat-urat bahunya melemas.

"Kupikir kau terlibat kasus konyol lalu ditangkap. Aku... aku takut sekali..." karena mana mungkin Yuuma rela menyandang status suamini dari seorang terpidana padahal umur pernikahan normal mereka bahkan belum genap satu bulan.

"Aku memang tertangkap."

Terkesiap, dagu Yuuma terangkat cepat.

"—hatiku sudah tertangkap olehmu."

IDIH!

"Sudah, sana ganti baju! Aneh rasanya melihatmu dengan kostum mencolok begini." meskipun sangat menggairahkan sekali. Yuuma hanya kesal kalau harus membayangkan Gakuhou versi polisi pasti akan banyak dikerubuti polwan-polwan cantik bertubuh subur.

"Kostumku sudah benar, kau yang harus ganti baju."

Eh?

Dalam sekejap kerah piyama Yuuma ditarik kemudian diganti paksa dengan sebuah kaos longgar bercorak sederhana. Hanya dengan dua buah garis vertikal berulang; hitam dan putih. Bahannya tidak terlalu nyaman dan anak itu harus protes tiga kali karena perlakuan kasar, tidak puas, juga meminta penjelasan karena sekarang kancing pakaian tidurnya lepas dua buah (atau tiga).

"Apa ini? Ukh... seperti baju narapidana..."

KLIK.

Belum diberi penjelasan aksi yang satu, Gakuhou sudah beraksi yang lain. Pergelangan Yuuma mendadak dingin terbungkus oleh borgol, mendapati punggungnya ditekan paksa hingga hidungnya nyaris mencium kap mesin bagian depan mobil. Insting meronta paksa dibungkam sempurna oleh sepasang tangan yang mengunci pergerakannya dengan tenaga.

"GAKUHOU!"

"Asano Yuuma, kau ditangkap atas tuduhan pencurian hati salah seorang direktur perusahaan Kunugigaoka."

"HAH!?"

Di belakang punggung Yuuma—yang seketika mematung—mungkin tengah berjuang mencerna kalimatnya barusan—Gakuhou menahan gemas mati-matian. Juga menahan sesak karena celana depannya terlanjur sempit. Yuuma yang memberontak dalam pakaian narapidana ditambah borgol menghiasi kedua tangannya bukanlah pemandangan setiap hari.

"Mungkin aku perlu menyalakan sirine agar lebih mencekam."

Mungkin suaminya kurang banyak piknik ke rumah hantu semasa mudanya, Yuuma yakin.

"Gakuhou! Lepas! Kap mobilnya masih panas! POLISIII, TOLONGGG!" Yuuma ikut-ikutan stres.

"Apa gunanya memanggil polisi kalau kau akan diperkosa oleh inspektur kepala polisi."

Harusnya sekalian saja Gakuhou menyebut dirinya komisaris jendral.

Yuuma meneguk ludah mendapati udara dingin perlahan menyapa pinggang, perlahan-lahan turun ke bawah. Gakuhou tengah asik melucuti celana panjang dan celana dalamnya. Membiarkan fabrik-fabrik itu bertahan di bagian lutut. Akan jatuh sendiri jika pemiliknya lebih banyak bergerak.

Dua sampai tiga jari beraksi sesudahnya untuk melebarkan pintu surgawi yang selalu menggiurkan untuk dijelajahi. Keluar dan masuk, diputar berulang kali.

"Gak...uho... AKHH!"

Jari-jari itu ditarik. Kekosongannya diganti dengan sesuatu yang sangat dingin menggesek belahan pantat, mendesak di sekeliling anus yang kemudian mengisinya sangat sedikit dan perlahan.

"Jangan bergerak. Pelatuknya bisa saja tidak sengaja kutarik,"

Yuuma pucat seketika menyadari sesuatu yang sedang mengoyak lubangnya adalah sebuah pistol. Ketakutan hebat yang menggerogoti membuat air matanya leleh beruntun tanpa disadari. Mengikuti insting, tubuhnya gagal untuk bergerak apalagi melawan.

"Gakuhou... lepaskan aku. Ini... sudah keterlaluan,"

"Membebaskanmu? Apa pembelaanmu pada inspektur ini, Asano Yuuma!?"

Tidak ada penolakan sama sekali, ketika kaki sang tawanan dibuka lebih lebar, sebatas celana yang masih membelenggu pergelangan kakinya. Yuuma terisak, semakin parah. Tremor. Dia tidak pernah menghendaki seks seburuk ini. Sudah cukup alasannya untuk meminta cerai jika dirinya selamat selepas kegiatan panas menakutkan ini selesai.

Ujung pistol ditekan semakin dalam, meloloskan jeritan. Sakit dan dingin. Meskipun larasnya yang tidak begitu panjang sudah cukup untuk menekan titik prostat hingga rasa nikmat menjadi lebih dominan setelahnya.

"Hentikan, Gaku—Inspektur! C-cukup... berhenti, nhh! Ahh!" kalau dengan mengikuti permainan suaminya bisa membuat nyawanya selamat, Yuuma bersumpah akan melakukan apapun.

"Katakan," bisikan sensual itu menggelitik telinga, "Kau ingin orgasme dengan pistol yang mana? Dengan baton stik pun tidak masalah... aku bisa membantunya untukmu."

Helaian hitam menggeleng cepat. Ngeri membayangkan tongkat ekstra panjang dan menyala memasuki tubuhnya dengan gerakan liar. Hanya membayangkannya saja membuat napas sang resesif semakin tersengal.

"Dengan... pistol... Inspektur... hhahhn! Mhh!" Yuuma belum lupa masih ada ujung senjata api yang masih bersarang dalam tubuhnya.

"Pistol yang mana, Tuan narapidana manis?" Gakuhou mengisap keras tengkuk Yuuma, meninggalkan jejak mencolok.

"Pistolmu, nhh! Inspektur... lakukan, cepat!"

Dada Yuuma ditekan kembali menghimpit kap mobil. Mempertontonkan liang ketat di antara bongkahan pantat mulus yang sudah memerah karena sempat diperlakukan kasar.

"Aku tidak menyangka kau akan sangat ketakutan. Memang kau percaya pistol tadi ada isinya?" pria itu tergelak tipis kemudian mengeluarkan kejantanannya dari balik celana dinas, "Bersiaplah. Aku akan masuk sekaligus."

"Kau! Brengse—AAAAAAHHHHNN!"

Berbeda dari benda statis dingin sebelumnya, sekarang lubang itu diterobos sesuatu yang panas dan jauh lebih panjang.

"Sakitt... ah, AH! Inspektur! Nhhh!"

Yuuma ingin sekali mencakar windscreen atau mematahkan wiper sekalian karena rasa perih yang menyiksa, namun borgol di tangan menghalangi semua keinginannya. Hanya bisa samar-samar menatap pantulan dirinya sendiri melalui kaca depan mobil. Bersimbah peluh, liur dan air mata.

Dalam posisinya, Yuuma benar-benar terlihat seperti buronan lepas yang tengah digagahi aparat masyarakat tidak bertanggung jawab. Imajinasi berbahaya itu membuatnya sangat terangsang sehingga alat vitalnya berdenyut keras.

Tidak mungkin. Rasanya hampir tidak sanggup lagi.

"Aku akan... ke...luar, mmh!"

"Tunggu aku... sebentar lagi," mempercepat gerakannya, Gakuhou berkonsentrasi menstimulus dirinya di dalam. Merasakan kejantanannya seperti akan meledak, "Y-yuuma... Yu—"

"Ahhhn, Gakuhoooou!"

Keduanya klimaks bersamaan. Sperma Yuuma menyembur deras mengotori plat mobil. Sisanya mengalir perlahan searah gravitasi. Membanjiri area selangkangan, mengotori bagian paha dalam. Dan area tersebut semakin kotor saja saat Gakuhou mencabut ke luar miliknya.

"Tadi itu... luar biasa," Gakuhou mengatur napas dengan dahinya menempel pada punggung Yuuma. Mengikuti alur napas pasangan hidupnya yang perlahan semakin stabil.

"...aku benci kau,"

Bagaimanapun nikmatnya hubungan intim yang baru saja mereka lakukan, Yuuma harus ingat kalau nyawanya sempat menjadi taruhan, "Aku benci sekali padamu, Inspektur kepala polisi Asano Gakuhou! Aku mau bebas!"

Tubuh Yuuma dibalik. Kini punggungnya yang merebah di atas kap mesin. Saat madu dan ungu bertemu, Gakuhou melenyapkan jejak-jejak tangis lalu mengecup bibir Yuuma berulang kali. Menggantikan prosesi maaf secara verbal yang sekiranya mampu meluluhkan.

Menyebalkan.

Karena siapa yang tidak larut dipandangi paras rupawan berkostum ilegal? Yuuma tidak sudi menjawab apa-apa. Hanya mengalihkan pandangan ke samping. Gakuhou tersenyum, mencium pipi Yuuma-nya dengan sayang lalu menariknya dalam pelukan.

"Aku sudah susah-susah meminjam properti bagus. Setidaknya beri aku dua ronde lagi."

JADI MEMANG KAU YANG MEMINJAM DULUAN DAN MERENCANAKAN SEMUA INI KAN!?

KLIK.

Lagi-lagi bunyi asing entah darimana. Disinyalir dari tangan kiri Gakuhou yang sedang memegang tombol bukaan otomatis.

"T-tunggu! Jangan bilang kita akan melakukannya lagi di—"

Pintu mobil terbuka, bersamaan dengan tubuh Yuuma yang dihempas mengisi jok belakang. Mukanya pucat pasi babak dua melihat Gakuhou menyeringai setan dengan baton stik teracung di depan mata. Yuuma benar-benar harus serius meminta cerai! SEKARANG!

"POLISIII! TOLONGG!"

Malam itu lampu garasi kediaman Asano menyala lebih lama dari biasanya.


END