Assassination Classroom (c) Matsui Yūsei
A/N: Ya ampunnn, baru nyadar kelupaan ngasih warning OOC HAHAHAHA maafkan! #ditampar
Ini OOC, kawan2... meski sesungguhnya kita tidak tahu posisi nganu seperti apa yang bikin Shuu lahir ke dunia #ditamparulang
Playing Pretend
Warning: Newlyweds!AU. Boy x boy. PWP. Uniform fetish. Roleplaying.
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
.
[03/05]
Lokasi : bedroom
Okupasi : dokter dan pasien
17:27
PIIIP
"Tiga delapan koma dua derajat."
Gumam itu datang dari Yuuma yang memandang termometer di tangannya tidak senang. Bisa-bisanya suaminya sakit di saat seperti ini; tepatnya di genap sebulan ulang tahun pernikahan mereka berdua.
Sebenarnya tanda-tanda semacam batuk kering dan sedikit pusing sudah (diakui) Gakuhou dari dua hari sebelumnya. Tapi kemarin sore masih saja ada yang gegabah menembus hujan demi mencari dekorasi romantis di kawasan bebas kendaraan.
Hhh. Sekarang yang repot siapa coba?
Desah panjang dibuang cuma-cuma. Yuuma tidak bisa menyalahkan siapapun selain pasangan hidupnya yang ceroboh. Itupun dia tidak tega dan akhirnya tetap memberi perawatan intensif dengan sabar semenjak Gakuhou tumbang di ruang makan saat sarapan.
"Yuuma, maaf..."
Gelengan ringan, "Istirahat dulu, aku akan menyiapkan bubur dan obat."
Dibalas juga dengan gelengan, plus tangkapan pada pergelangan tangan. Bisa saja Yuuma melepasnya karena cengkeraman itu terlampau lemah. Tapi masih dengan sumbu sabar yang seakan tidak pernah habis, anak itu tersenyum manis, "Kau ingin sesuatu, Gakuhou?"
"Maaf..."
Napas Gakuhou terdengar lebih cepat dan berat dari biasanya. Rasanya sedikit iba melihat pria yang biasanya penuh determinasi dan pesona kini terkapar tak berdaya.
"...Padahal aku sudah berjanji untuk merayakan sebulan pernikahan kita."
Senyum Yuuma memudar, disalurkan melalui sentilan tidak bertenaga pada dahi korban demam, "Kita bisa merayakannya lagi. Masih ada bulan kedua, ketiga, bahkan satu tahun anniversary."
"Padahal aku juga punya niat mulia untuk tidak membuatmu tidur malam ini dan membuatmu tidak bisa berjalan setelah—"
"A-aku memang tidak mungkin tidur malam ini, oke!?" Yuuma gelagapan, dia tahu betul maksud Gakuhou tidak jauh-jauh dari urusan ranjang, "Mana bisa tidur kalau harus mengganti pakaianmu yang penuh keringat setiap beberapa jam sekali."
"Maaf," diucap lagi, "Kalau begitu... coba buka lemari baju paling bawah."
Yuuma mengernyit tapi tetap menurut, "Sudah mau ganti baju? Memangnya keringatmu sudah sebanyak itu?"
Buka. Tarik. Angkat. Pipi putih kenyal sontak dipenuhi merah pekat mendapati seragam putih bersih (bersama perangkat pendukung lainnya, ditumpuk bersama-sama) sukses menyapu fokus matanya.
"APA INI, GAKUHOOOU!?" Yuuma menjerit tujuh oktaf.
"Aku ingin kau merawatku sambil memakainya. Aku pasien yang butuh dokter."
"TAPI INI P-PAKAIAN SUSTER." lihat, bahkan sampai ada stetoskopnya segala.
"Dokter kok," pengalihan yang terlalu jelas dibuat-buat, "Hanya tidak ada bawahannya, jadi terlihat seperti itu. Lagipula siapa yang butuh bawahan kalau nanti akan dilepas juga, hm!?"
KENAPA AKU BISA MENIKAHI PRIA MESUMMM!?
"Aku harus membuat bubur!" Yuuma beranjak dengan setumpuk barang anu di tangannya, "Sekalian membuang semua ini ke tempat sampah!"
"TUNGGU! TAPI, YUU—"
BUKKK
Gakuhou pasrah dilempar bantal dan dihadiahi bunyi pintu yang ditutup kencang. Pria itu mendesah panjang sesudahnya, menikmati pusing yang menyerang bertubi-tubi saat sepasang kelopaknya terpejam.
Padahal kostum dan perlengkapan itulah alasannya nekat hujan-hujanan tempo hari. Hampir dua minggu lalu setelah melewati adult shop di alun-alun kota, matanya terpikat pada display kostum malaikat yang sangat menarik perhatian. Membayangkan betapa indah Yuuma-nya memakai kostum tersebut sambil merawatnya kala dia jatuh sakit.
Sial. Baru berimajinasi sebentar saja, Gakuhou menyadari isi celananya mulai memberontak.
Desah lagi.
"Ah, dasar aku bodoh!"
Dahinya kembali panas, efek sentilan.
"Iya, kau memang bodoh. Ayo makan dulu."
Gakuhou mengerjap cepat. Mungkin selain flu sekarang matanya terjangkit katarak. Pemandangan Yuuma menunduk cemas dalam balutan jas putih pendek berkalung stetoskop sambil menaruh nampan berisi makanan benar-benar memukau. Persis seperti fantasinya selama ini.
"Yuu...ma!?"
"Hanya supaya kau cepat sembuh," meski mati-matian menahan malu, senyum terbaik Yuuma tetap mengembang, "Kalau bukan karena kau sedang sakit dan ini bukan hari yang spesial, aku benar-benar sudah membuang—AAAAHH!"
Entah tenaga darimana yang membuat Gakuhou mampu menarik dan mengangkat Yuuma naik mendudukinya. Sepasang paha putih semakin terekspos karena terpaksa mengangkang lebar.
"Kenapa masih memakai celana dalam?"
KOK PERTANYAANNYA BEGITU?
"Kenapa aku seperti menduduki sesuatu yang keras?" anak itu bertanya balik.
"Ini salahmu membuatku terangsang, Suster Yuuma."
"Dokter."
"Baiklah, Dokter. Aku pasti pasien yang sangat bahagia bisa membuat dokter seksi sepertimu menunggangiku. Tempelkan stetoskop itu ke dadaku lalu dengarkan, jantungku pasti sedang siap untuk meledak." tangan Gakuhou mengelus gemas paha itu makin ke dalam.
Cubitan ringan menghentikan aksi jari-jari nakal. "Gakuhou. Kau harus makan dulu." lagipula stetoskop yang dipakainya juga hanya mainan.
"Aku ingin memakanmu lebih dulu."
"Memang bisa?! Kau bahkan tidak punya tenaga."
"Di lemari ada lotion dan pengaman, Dokter. Ini mendesak! Adikku dalam bahaya!"
KAU KAN ANAK TUNGGAAAL!
Lelah batin, lelah jiwa. Asano Yuuma mulai paham kenapa pekerjaan dokter begitu mulia.
"Ahh!"
Cekatan, jari-jari Gakuhou sudah menyusup. Menembus pertahanan terakhir. Berusaha melebarkan liang ketat Yuuma semampunya sembari memakai pengaman untuk dirinya sendiri. Di sini, Yuuma mulai mempertanyakan apa suaminya itu sungguhan sakit atau hanya pura-pura karena kalau menyangkut urusan ranjang sepertinya gesit sekali. Begitu sialan.
Seringainya itu, loh. Bikin merinding.
"J-jadi... aku yang... di atas?" ini pertama kalinya Yuuma memegang kendali, di posisi yang cukup memalukan pula. Sementara ereksi yang telah siap tempur terlihat besar dan panas, Yuuma tidak pernah menyangka untuk memasukkannya sendiri membutuhkan usaha ekstra, "Ahhnn, su-sah... tidak mungkinn, nhh!"
Baru berhasil ditembus setengahnya namun anak itu sudah kepayahan. Gakuhou menarik paksa kedua kaki Yuuma dari atas kasur sehingga gravitasi hanya bertumpu pada pantat sang submisif, membuat penisnya melesak tanpa peringatan.
"AAAAAAHHH! TERLALU DALAM! LEPAS, LEPASSS!" tanpa penyangga, Yuuma merasa tubuhnya seperti dihujam stalakmit. Sakit.
"Gerakkan tubuhmu, Yuuma... ahh," Gakuhou mulai keenakan, ikut mendorong semampunya selagi menikmati remasan dari lubang ketat Yuuma, "Cukup maju dan mundur saja dulu. Rasakan beda sensasinya."
Yuuma baru mengerti ketika mencoba memajukan tubuhnya sedikit. Rasanya seperti dihantam palu besar karena isi kepalanya mendadak putih.
Dan luar biasa enak sekali.
"Ga-kuhou... ahh... ahhn..." kristal bening memenuhi sudut-sudut mata, jatuh akhirnya. Mukanya panas dengan mulut yang setengah terbuka. Baru bergerak maju-mundur sebentar tapi Yuuma sudah ingin keluar, tidak masuk akal, "A-apa ini... mhh, kenapa r-rasanya... berbeda dari biasa—"
"Enak, Dokter? Coba gerakan lain lagi. Diputar seperti ini, misalnya."
"Ahhhn! Ahh!"
Gerakan pantat Yuuma semakin liar, mencari sendiri area yang diinginkannya. Terus dan terus bergerak. Nafsu sudah menguasainya penuh, dia bahkan menarik kasar kerah Gakuhou dan melancarkan ciuman tanpa diminta. Gakuhou menerima perlakuan agresif Yuuma dengan senang hati. Lidah keduanya beradu sengit. banjir liur tidak terelakkan, tidak ada yang peduli. Desakan organ intim mereka lebih membutuhkan perhatian ekstra.
"A-aku sudah ingin..."
"Keluarkan saja, Dokter." Gakuhou merengkuh tengkuk mungil di atasnya, menghadiahi beberapa gigitan yang membuat teman bercintanya kepayahan efek diberi rangsangan terus menerus. Ditambah salah satu tangan bebas yang memilin ujung dadanya, Yuuma sudah tidak mampu bertahan lagi.
Tubuh berbalut jas putih itu mengejan sekuat tenaga di puncak birahi, juga sperma yang turut membanjiri selangkangannya dan bagian depan piyama Gakuhou. Perlahan tapi pasti, gerakan Yuuma sepenuhnya berhenti, merasakan denyut keras yang masih menyisa di seputaran analnya.
"Kalau bisa begini terus. Aku ingin... sakit selamanya..." Gakuhou yang terengah-engah di bawah menutup kedua pelupuk dengan punggung tangan. Sekilas memuji dirinya yang sudah berhasil nekat menembus hujan demi membeli properti bercinta yang efeknya dirasa luar biasa.
"Kau... belum keluar semua, Gakuhou... nhh," Yuuma masih berusaha mengatur napas, "Tidak apa-apa?"
Yang menjawabnya hanya dengkuran tipis dari sang suami. Maklum saja, karena kegiatan mereka kali ini terlalu menyita banyak tenaga. Membuat pria dewasa itu segera jatuh ke alam mimpi.
Sementara, Yuuma sangat malu untuk memutuskan melakukan ini—untuk bertahan dalam kostum memalukan, untuk membiarkan benda tumpul dalam tubuhnya tetap bersarang, untuk ikut tertidur di atas dada yang bidang—tapi...
"Kau bahkan belum makan obat dan apapun... ukh! Payah!"
...biarkan saja Gakuhou mendapati mereka masih tetap bersatu sampai dia bangun nanti.
END
