Assassination Classroom (c) Matsui Yūsei
A/N: Kembali setelah sekian lama hibernasi, APA KABAR KALIAN?
Author belum move on dari pair GakuIso loh, mohon dukungan untuk ff ini yang tinggal satu chapter lagi yaa~ #ngeeeng
Playing Pretend
Warning: Newlyweds!AU. Boy x boy. PWP. Uniform fetish. Roleplaying.
.
by Ratu Obeng (id: 1658345)
.
.
[04/05]
Lokasi : yard
Okupasi : atlet dan pemandu sorak
08:34 AM
Isogai Yuuma—ups, sekarang nama sah-nya Asano Yuuma—sering dengar tentang prestasi suaminya semenjak jaman sekolah dulu.
Misalnya sebagai jawara lomba renang nasional ketika sekolah dasar, atau menjuarai turnamen sepak bola (taraf nasional juga) di tingkat menengah pertama, atau jenjang berikutnya saat berhasil bergabung dengan tim bisbol dan maju ke Koshien.
Dari semua pencapaian itu, hanya ada satu tropi yang selalu dibangga-banggakan. Benda indah menjulang yang tidak pernah absen menghiasi ruang tamu; tentu saja piala dari kejuaran basket NBA junior semasanya kuliah di Stanford, Amerika.
Maka, sudah jadi kegiatan rutin bagi Gakuhou di minggu pagi untuk berlatih basket sendirian di pekarangan rumahnya ala-ala film Air Bud. Apa boleh buat, pria itu tidak ada waktu bermain dalam tim dan Yuuma tidak memungkinkan untuk menjadi lawan serius karena perbedaan kekuatan dan jam terbang yang terlalu curam.
Shoot. Drabble. Three Point. Celana pendek. Otot perut bak roti sobek. Keringat yang diusap dengan ujung kaos lengan buntung. Kalau ingin, Gakuhou pasti sudah punya kekasih seorang pemandu sorak yang ukuran dadanya persis buah melon matang.
"Tentu. Aku memang pernah ingin punya pacar cheerleader seksi di jaman-jaman kuliah."
"Aku kagum dengan kejujuranmu—" daripada menghiraukan perempatan segitiga imajiner yang mampir di pelipisnya karena cemburu, Yuuma lebih ingin memaki semilir tidak tahu diri yang menyusup seenaknya ke dalam rok mini yang dia kenakan sekarang.
"—TAPI KENAPA AKU HARUS PAKAI KOSTUM CHEERLEADER LENGKAP BEGINI!?"
Ditambah rambut pendek yang dikuncir dua gagal, namun tetap manis (padahal dari pagi buta Gakuhou memaksa untuk mendatangkan hairstylist terkemuka namun langsung ditolak mentah-mentah). Tidak lupa properti pompom menggelikan di kedua tangan, rasanya Yuuma ingin lompat ke dalam sumur dan tidak pernah ke luar lagi.
"Karena sebuah pertandingan tidak seru tanpa pendukung." alasan logis.
"BERTANDING BASKET ITU LIMA LAWAN LIMA, BUKANNYA SENDIRIAN!" alasan lebih logis.
"Tidak apa-apa... pakaian itu membuatmu lebih imut kok. Apalagi kalau mengangkat tangan kaki tinggi-tinggi sambil meneriakkan namaku."
Dasar sinting.
Mengabaikan kata-kata gombal, Yuuma berjalan ke sisi lapangan lalu mendudukkan diri di kursi taman, "Cepat selesaikan latihanmu. Aku ingin ganti baju dengan pakaian yang lebih normal."
Gakuhou, di sisi lain, malah tidak konsentrasi dengan permainannya yang satu arah, terutama ketika dihadapkan dengan paha mulus yang tidak dilindungi celana kain biasanya. Jangan lupa pria itu juga berhasil membuat Yuuma memakai dalaman bercorak helokiti nan menggemaskan sebagai bonus visual.
Bagai magnet berkekuatan tinggi, Gakuhou malah mengabaikan sesi latihannya dan berjalan menuju (spesifik; PAHA) pasangan hidupnya. Memasang senyum mesum mencurigakan.
"Oh, lanjutan yang tadi," Gakuhou berdehem dibuat-buat, "Aku juga punya impian untuk memerkosa pacar cheerleaderku di tengah lapangan, di antara ribuan pasang mata penonton."
Itu tanding basket atau upacara penyerahan grammy awards?
"GAKUHOU, BERHENTI!" mana mungkin anak itu tidak panik mendapati celana dalam helokiti-nya tiba-tiba dilepas paksa dan dilempar begitu saja entah ke mana. Lagipula lantai lapangan basket outdoor disinyalir memakai bahan dasar beton, bukannya bahan parket. Punggung Yuuma bisa-bisa hancur akibat gesekan serupa roda pada rel kereta.
(Meski sepertinya tidak akan terjadi karena Gakuhou mengangkat Yuuma beserta kursi taman portable yang didudukinya ke spot yang diinginkan. Ah, wow, tenaga.)
Sesampai di mid line, si helai kemerahan berlutut lalu menyusup ke dalam rok yang dikenakan Yuuma. Dilihat dari manapun adegannya benar-benar ultra mesum. Yang menjadi korban pelecehan hanya mampu berteriak dan menggeliat, berusaha menjauhkan suaminya yang kini menjilat basah kemaluannya di bawah sana hingga ada bagian yang terpaksa bangun.
"Kau bahkan memakai parfum dengan wangi yang kusuka, sengaja menggodaku?"
Yuuma punya tendensi untuk membela diri—kalau suaminya sendiri yang menyuruh memakainya—tapi suara yang ditranslasi oleh lidah itu hanya racauan tanpa arti persis anak balita baru mulai belajar alfabet, "Gaku...unhh, anghh, ohh!"
Yang dipanggil namanya menahan tawa, "Suaramu lucu sekali." hanya menyesali posisi yang membuat ekspresi Yuuma tidak sepenuhnya terlihat.
Gakuhou seperti mendapat sarapan keduanya ketika menjilat kemudian melumat habis alat vital Yuuma dalam isapan berkala. Ditambah cita-citanya yang kini kesampaian meski hanya dalam bentuk image play. Maka nikmat Tuhan mana yang harus dia dustakan?
"Berhen...ti, ahhn! Jangan diterus...kan, MNNGH~"
Kalau Asano Gakuhou benar-benar seorang pemain NBA profesional, perbuatan anonoh ini pasti sudah mengundang paparazzi internasional.
Tangan Yuuma belum menyerah untuk mendorong bahu bidang suaminya yang permukaannya dipoles keringat. Bukannya tidak nikmat, tapi ini pengalaman pertamanya melihat Gakuhou memberikan felatio, sungguh pemandangan yang terlalu berbeda jika angle-nya menggunakan bird view.
"!?"
Selama Yuuma sibuk dengan pikiran yang dipenuhi rasa malu, Gakuhou telah berhasil menyusupkan jari dan menerobos ke dalam anusnya. Jeda hingga ketiganya masuk tidak begitu jauh sehingga anak itu hanya bisa merintih di balik dua telapak tangan. Belum ditambah panas karena ereksinya masih terperangkap dalam mulut yang dominan, rasanya hampir tidak tahan.
"Be-berhenti, tolong... mhhn, L-LEPAAA—"
Cairan cinta Yuuma tumpah tak terkendali, Gakuhou menyambutnya dengan senang hati.
Momen Yuuma berjuang mencuri oksigen dimanfaatkan dengan memasang kondom cekatan lalu mengangkat salah satu kaki pihak lawan, membuat punggung anak itu terpaksa menghimpit bagian senderan. Diciumnya bagian paha dalam dan ditaburi dengan bekas-bekas gigitan nakal.
"Throw in, Yuuma."
NGOMONG APA SIH!?
"ARGGHHH!" terobosan langsung itu membuat Yuuma menjerit panjang. Belum sempat menyesuaikan, tubuhnya tiba-tiba diajak bergerak dalam tempo ekspres. Kalau niat mulia Gakuhou benar-benar memerkosanya, artinya pria itu sukses besar karena rasanya benar-benar menyakitkan, "P-pelan, pelann! AHHHN, GAKUHOUU!"
Permintaan yang sungguh mustahil jika memandang paras Yuuma sekarang yang serupa sapih kelopak mawar dengan mata sayu dan liur mengalir deras di penghujung bibir ranum, Gakuhou hanya bisa menelan ludah.
"Yuu...ma..."
Ada lima jari mampir ke area dada untuk menyentuh tonjolan sensitif di sana, memberi gerakan menarik dan memuntir. Kostum pemandu sorak benar-benar media ideal untuk dijadikan sumber pelecehan. Siapapun yang menciptakan dan mengembangkan idenya, Gakuhou benar-benar berterima kasih dari lubuk hati terdalam.
"A-aku... ahhn, ahh!" Yuuma memberi tanda-tanda akan klimaks lagi.
"Tunggu aku... sebentar lagi... Hkk!"
Mereka berpelukan erat sambil klimaks bersamaan. Gakuhou menyambut mulut Yuuma yang terbuka, mencuri kesempatan untuk memperdalam ciuman. Matahari belum terlalu terik tapi rasanya hawa di sekitar keduanya terlihat panas sekali.
Tubuh Yuuma mendadak hilang tenaga, "Ahh... hh..."
"Tadi itu luar biasa..." setelah jeda ringan sejenak, pria itu mencium kening partnernya lembut, "Terima kasih karena sudah mengabulkan semua impianku."
"Kh, impian mesum...hh, haah..." si rambut hitam masih ngos-ngosan. Pinggang dan punggungnya sakit semua karena baru mengalami posisi bercinta yang paling tidak nyaman.
Eh, semua?
Apa saja tadi? Punya pacar cheerleader seksi. Memerkosanya di tengah lapangan. Ditonton ribuan penonton. Ini hari minggu khusus dan semua pelayan hingga koki tengah diliburkan. Penonton? Mana ada Penonton?
"Jangan cemas, yang menyaksikan langsung dari CCTV hanya klien-klienku yang terpercaya. Nanti aku akan meminta testimoni dan evaluasi membangun juga dari mereka. Kalau perlu, ketikan laporannya sekalian."
CTAK. Urat amarah putus.
"GAAAKUUUUHOOOOOOOU!"
Arena basket berubah menjadi ring tinju. Yuuma menggampar pipi Gakuhou keras-keras sampai yang bersangkutan tersungkur K.O.
END
*mid line: garis tengah lapangan
** Throw in: lemparan ke dalam
