Chapter 2

Not Real

Author: Lee Rana17

Cast:

Kim Mingyu (15 tahun)

Jeon Wonwoo (GS) (16 tahun)

Lee Chan (GS) (14 tahun)

Choi Hansol (15 tahun)

(You will find the other cast)

Pairing: Meanie, Chansol, Jiwon(?), Soonchan(?) (You will find the other pairing)

Rate : T/T+

Genre: Romance, Drama, Fantasy, Family(?)

Warning! It's was a Genderswitch fanfic. Don't Like Don't Read. Don't be a plagiator! Crack pair. Typo everywhere. OOC. Hogwarts AU. Wizard AU. Garing. Seventeen belong to God, Their parents, Their self, and Pledis. Hogwarts and Harry Potter belong to J.K Rowling, The Story belong to Lee Rana17. There had same place, magic, and others with Harry Potter.

This fanfic dedication for Meanie shipper, Chansol shipper, Jiwon Shipper, and little SoonChan Shipper.


"Hoshi Hyung!" panggil seorang remaja laki laki, lalu berjalan menuju mereka. Soonyoung menoleh kearah orang yang memanggilnya. Chan dan Wonwoo hanya menatap bingung sang sepupu. "Tak kusangka, kita akan bertemu disini, Hyung. Apa yang kau lakukan disini, Hyung?" tanya orang itu. Chan melihat kearahnya, lalu menatap kagum kearah hidung laki laki itu yang terlihat semancung perosotan yang dulu ia naiki bersama Wonwoo.

"Aku juga tak percaya bisa bertemu dengan kuda jadi jadian sepertimu disini." Ujar Soonyoung yang diiringi kata 'Sialan kau, Hyung' dari laki laki tersebut. "Aku sedang mengantar kedua sepupuku yang manis dan cantik ini untuk membeli barang barang keperluan sekolah nanti." Lanjut Soonyoung sambil menunjuk kearah Wonwoo dan Chan.

"Eh, murid baru? Perkenalkan aku Lee Seokmin atau Dokyeom, terserah kalian ingin memanggilku apa. Murid tahun ke 2 asrama Gryffindor." Ujar pria bernama Seokmin itu ramah, sambil menjulurkan tangan ke arah Chan dan Wonwoo secara bergantian.

"Aku Jeon Wonwoo, dan ini adikku Jeon Jeongchan atau Jeon Chan." Sahut Wonwoo memperkenalkan diri sambil tersenyum tipis. Chan tersenyum ramah kepada Seokmin sambil berkata 'Kau bisa memanggilku, Chan saja' . Seokmin menganggukan kepala, lalu berkata "Apa aku boleh menemani kalian dengan Hoshi Hyung? Aku sendiri kesini, dan kebetulan aku juga akan pergi ke Diagon Alley. Bagaimana? Boleh ya?" Tanya Seokmin yang disambut dengan Soonyoung yang memutar kedua bola matanya.

"Ya, ya kau boleh ikut kuda. Dan tolong panggil aku Soonyoung ketika diluar sekolah, kedua sepupuku bingung siapa itu 'Hoshi'" kata Soonyoung, yang sddari tadi melihat kedua sepupunya mengerenyitkan alis bingung ketika nama 'Hoshi' muncul, bahkan Chan beberapa kali melihat kearah kiri dan kanan Seokmin untuk melihat apakah ada orang lain selain dirinya yang mengenal Soonyoung. "Chan berhenti menoleh kekiri dan kanan, yang Seokmin maksud sebagai Hoshi adalah aku, disekolah aku lebih sering dipanggil dengan nama Hoshi dibanding Soonyoung." Jelas Soonyoung, yang disambut dengan 'oh' dari Wonwoo, dan anggukan pelan dari Chan.

Seokmin dan Soonyoung berjalan kearah halaman belakang bangunan yang kata Seokmin namanya adalah 'The Leaky Cauldron' yang membuat Chan mengernyitkan dahi ketika mendengarnya pertama kali karena ketika berusaha menyebutkannya secara cepat lidahnya rasanya terbelit belit. Soonyoung mengeluarkan tongkatnya lagi lalu mengetuk 3 bata dibagian atas dan 2 dibagian samping. Lalu, tembok bata dihadapan mereka membelah menjadi dua. Wonwoo dan Chan sudah cukup terbiasa sekarang dengan 'Bangunan Terbelah' sekarang.

Disana terlihat seperti jalan yang mana disetiap sisinya ada bangunan, yang mayoritas adalah toko. "Emm, jadi kita akan mulai dari mana? Oh, Tongkat! Ya tongkat. Kalau begitu ayo kita ke Ollivanders, kuharap disana masih banyak persediaan tongkat." Saran Soonyong, sambil bergumam pada dirinya sendiri. Wonwoo dan Chan tak henti hentinya melihat kekiri dan kanan takjub dengan berbagai hal 'aneh' seperti pena yang terbuat dari bulu yang bergerak menari nari diatas selembar kertas tanpa ada yang memegang nya, walau menurut mereka pena bulu itu terlihat 'kuno sekali'.


Mereka berjalan kearah sebuah toko dengan papan bertuliskan "Ollivander's" Lalu, masuk kedalam toko tersebut satu persatu. Disana terlihat sepi karna tak ada seorang pun sampai bunyi 'bruk' keras dari belakang lemari besar tempat berjejernya beratus ratus tongkat. "Demi merlin, ini sangat menyusahkan!" terdengar eluhan dari belakangnya. " Mr. Olivander? kau sedang sibuk?" tanya Seokmin yang mengintip kebelakang lemari. Yang disambut dengan suara ramah orang yang dipanggil 'Mr. Olivanders ' tersebut.

"Mr. Lee! Kupikir baru setahun yang lalu kau mendapatkan tongkatmu, dan apakah sekarang tongkatmu sudah patah? Kupikir tongkatmu pantas untuk patah, kau menggunakannya untuk menjahili guru guru disekolahmu bersama partnermu yang sipit itu! Oh, Mr. Kwon! Baru saja aku menyebutkan dirimu, dan siapa ini? Murid baru?" suara semangat yang terdengar sedikit jengkel tadi memunculkan wujud sang pemilik. Pria yang sudah paruh baya atau sudah tua? Menyapa mereka. Wonwoo tak percaya ada orang yang lebih cerewet dari Granny nya dan sepupu Kwon-nya.

Chan tersenyum ramah, sedangkan Seokmin dan Soonyoung menggaruk tengkuk mereka yang sama sekali tidak gatal. "Jeon JeongChan, Imnida" ujar Chan sambil membukukkan tubuhnya, ia suka dengan kepribadian pria tua didepannya, yang memiliki suara yang penuh dengan semangat, dan mata yang bersinar jahil, namun ada bentuk kebijaksanaan disana. Sedangkan, Wonwoo baru saja tersadar dari kekagumannya terhadap 'kecerewetan' orang yang ada didepannya lalu memperkenalkan diri "Jeon Wonwoo, sir. Aku kakaknya Chan." Sambil sedikit merendahkan kepalanya,

Pria itu tersenyum, lalu mengangguk anggukan kepalanya. "Keluarga Jeon? Sudah 2 generasi mereka tidak kembali ke dunia sihir. Ah, aku Ollivander. Senang bertemu dengan keluarga Jeon yang akhirnya kembali. Jadi, nona nona, siap mencoba tongkat kalian?" Pria itu terlihat dengan gesitnya mengambil beberapa tongkat untuk dicoba. "Miss Wonwoo, tak apa kan aku memanggilmu begitu? jika kusebut Miss Jeon nanti tertukar jadi lebih baik seperti itu. Coba ayunkan tongkat ini." Ujarnya sambil menyerahkan sebuah tongkat kearah Wonwoo. Wonwoo menerima dengan ragu lalu mengayunkan kearah satu tumpukan kertas. Dan, wushh tumpukan kertas itu menghilang tak tahu kemana dan tiba tiba muncul diatas kepala Seokmin, membuat sang empunya mengaduh sakit karna tertimpa kertas yang cukup berat.

Mr. Ollivander mengerenyitkan alis. Lalu, memberi Wonwoo tongkat yang lain. Kali ini Wonwoo mengayunkannya kearah sebuah lilin, dan ajaibnya langsung muncul api diatasnya. Mr. Ollivander terlihat puas. Lalu, meminjam sebentar tongkat Wonwoo "Hmm, kayu pohon ek, 30 centi, kaku tapi sangat kuat, dan apa ini? Rambut veela? Sangat bagus, Miss Wonwoo. Nah, bagaimana denganmu Miss. Chan? Mau mencoba?" Tanya pria tua itu, sambil menyerahkan tongkatnya kearah Wonwoo. Chan mengangguk antusias, dia tertarik dengan kayu yang bisa mengeluarkan hal hal aneh itu, melihat Wonwoo mencoba tadi membuatnya penasaran.

Pria tua itu menyerahkan sebuah tongkat kearah Chan, dan langsung diambil oleh gadis itu tanpa ragu, lalu menatap seakan akan bertanya 'aku harus mengayunkannya?' dan dibalas anggukan oleh . Chan mengayunkan arah tongkatnya kearah sebuah gelas namun, sepertinya tongkat tersebut tidak cocok dengannya sehingga gelas kaca itu retak. Chan meringis, lalu menoleh kearah . Sedangkan pria itu sudah mencari tongkat yang lain, dan menyerahkan lagi kearah Chan. Chan menerima tongkat tersebut lalu mengayunkan kekaca, yang malah membuat kaca itu berderit nyaring. Dengan gerak cepat gadis itu melepaskan genggamannya dari tongkat itu, karna tak tahan dengan bunyinya, bukan dia saja. Namun, semua orang yang ada ditoko juga mengerenyit tak senang dengan bunyinya.

Chan menatap bingung, 'mengapa tak ada tongkat yang cocok?' pikirnya. Padahal dia baru mencoba 2 tongkat, tapi kan tetap saja. Dia dan Wonwoo bukan gadis yang suka berbelanja lama lama ditoko, dan memilih belajar untuk olimpiade. Anak Akselerisasi, mah beda. Matanya melirik kearah sebuah tongkat. yang melihatnya langsung menyerahkan tongkat itu kepada Chan. Gadis itu menerima dengan ragu, takut menimbulkan bunyi berderit lagi, lalu mengayunkan pelan kegelas retak tadi. 'karena sudah retak, sekalian pecah saja' pikirnya. Namun, kali ini gelas retak itu malah kembali seperti semula. "Great, Miss Chan. Tadinya aku takut akan menahanmu lebih lama, untuk mencari tongkat yang lain. Tapi, rupanya sudah ada tongkat yang pas untukmu. Boleh kupinjam sebentar, tongkatmu?" Tanya Mr. Olivander

Chan memberikan tongkat itu lalu matanya bersinar semangat untuk mengetahui apa yang ada ditongkat tersebut. "Kayu Hawthorn, panjang 27 centi, isinya adalah... Jantung naga. Kayunya lentur, dan kuat. Kau mendapat Jackpot Miss Chan" seru Mr. Ollivander. Soonyoung tersenyum, jujur saja ia sedikit kebosanan untuk menemani perempuan berbelanja. Andai ia tidak diancam sang Ibu untuk menemani sepupunya, atau namanya dihapus dari kartu keluarga (Ibu dan Neneknya benar benar mirip sifatnya). Mungkin, sekarang ia masih bermanja manja dengan kasurnya dan menikmati hari terakhir sebelum masuk tahun pelajaran yang baru.

"Terima kasih, . Kami harus pergi sekarang, untuk mencari kebutuhan sekolah yang lain." Ucap Soonyoung bergegas, ia melirik jam ditangan yang menunjukan jam 10. Seokmin dan yang lain menunduk sopan lalu keluar dari toko tersebut. "Jadi kalian lebih suka burung hantu atau kelelawar?" tanya Soonyoung.

"Ku sarankan burung hantu, karna itu yang terbaik!" sahut Seokmin. Wonwoo terlihat bingung tak jauh beda dengan Chan yang hanya mengerjapkan mata. "Baiklah, 2 burung hantu. Seokmin kutitip sepupuku sebentar. Bawa mereka ketoko buku, Wonwoo akan memasuki tahun ke 3 bersamaku, sedangkan Chan akan memasuki tahun ke 2 sama denganmu. Carikan bukunya, ya!" pinta Soonyoung sambil berlalu pergi. Seokmin mengangguk sambil berkata "Ayo, ikut aku. Jangan sampai tersesat, nanti habis aku diceramahi oleh Hoshi Hyung" lalu merangkul Wonwoo dan Chan.


Seokmin berhenti disebuah toko buku dengan Wonwoo dan Chan yang masih mengikutinya seperti anak ayam. "Wonwoo Noona, bisa tunggu disini dahulu? Aku harus mencari buku sekolah untuk tingkatan ku dan Chan. Tak akan lama, aku janji." Tanya Seokmin. Wonwoo mengangguk patuh, lalu duduk diatas sofa yang disediakan. Seokmin menggenggam tangan Chan, agar gadis kecil nan mungil itu tak hilang ataupun tersasar (atau Seokmin sedang modus?) ia membawa Chan kederetan buku tingkat 2 lalu mulai memilah buku satu persatu, mana yang benar benar diperlukan mana yang hanya jadi cadangan.


Chan POV


Seokmin oppa sedang mencari cari buku, yang aku tak tahu namanya namun aku mendengar dia sempat bergumam 'Herbologi' tadi. Jujur, aku sedikit gugup ketika berada bersamanya. Aku baru mengenalnya 2 jam lalu dan kini aku hanya ditinggal berdua dengannya. Mataku bergerak tak tentu arah, mencari objek menarik bagiku. Kurasakan genggaman Seokmin oppa masih belum lepas, dan aku tak berniat melepasnya. Bukan! Bukan karena aku menyukainya, Seokmin oppa jauh dari tipe idealku, mungkin bagian ceria, ramah, dan baik hatinya masuk. Tapi, tidak aku sama sekali tidak 'menyukainya'. Walau senyumnya lucu dan hidungnya mancung, tetap tidak.

Oke, kita sudah lewat dari topik pembicaraan. Aku melakukannya untuk manner. Kata ibu, tak sopan menepis ataupun melepas tangan orang yang memegang tangan kita. Jadi kubiarkan saja. Apa? Masih mau menggodaku? Padahal aku tak bohong loh. Aku menoleh kearah Seokmin oppa, wow, lihat dia membawa sekitar 14 buah buku tebal (yang paling tipis mungkin 20 centi) melayang disampingnya. Lalu ia melihat kearahku "Kita sudah selesai, apakah kau tertarik dengan beberapa buku?" tanyanya, sambil terus menggenggam tanganku. Mungkin dia takut aku hilang karena tubuhku terlalu kecil. Tingginya mungkin berkisar antara 177-179 cm. Tinggi Wonwoo eonnie sekitar 168-170 cm. Dan Soonyoung oppa sekitar 174-177 cm. Sedangkan aku hanya 164-167 cm. Aku tau aku pendek, sudah tak usah dibahas lagi.

Jadi kemungkinan besar Seokmin oppa takut aku hilang, kesasar, diculik, atau memang dia sedang modus jaga jaga saja?. Baiklah, abaikan beberapa kata terakhir. Aku hanya melirik asal sebuah buku dengan judul 'Rune Kuno tingkat dasar' lalu mengambilnya. Seokmin oppa terlihat terkejut, lalu berkata "Wah, selera belajarmu tinggi ya? Seharusnya kita belajar itu tahun depan, tapi kau sudah tertarik sekarang ya?" ujarnya terkekeh pelan, lalu mengelus rambutku. Tangan sebelahnya mengambil buku yang kupegang tadi. "Baiklah, kalo begitu ayo kita jemput kakakmu, Chanie." . Demi semua boneka Eddy (teman rubahnya pororo) yang ada dikamar Wonwoo eonnie, kuharap muka ku tak memerah sekarang. Oh, jangankan muka sekarang aku bahkan dapat merasakan telinga ku memerah, tanganku bahkan terasa dingin. Kuharap Seokmin oppa tak merasakannya


Chan POV off


Normal POV

Wonwoo menunggu dengan bosan disofa, ditangannya sudah ada daily prophet yang disediakan disana. Matanya bergerak malas ketika membaca koran tersebut. Tiba tiba, ia merasa ada seseorang yang berdiri didekatnya. Ia menoleh, disana terlihat seorang laki laki yang sedang berdiri didekatnya, mungkin sedang mencari tempat duduk untuk membaca.

"Em, permisi. Apa aku boleh duduk disini?" tanya orang itu, Wonwoo tersenyum tipis lalu menganggukan kepala. Lalu laki laki itu duduk disebelah kiri Wonwoo, Wonwoo terus melanjutkan membaca koran dengan gambar bergerak itu sambil sesekali menghela nafas.

"Wonwoo noona!" Ia mendengar suara Seokmin (yang pada dasarnya nyaring) berseru kepadanya sambil berjalan kearahnya bersama adiknya (dengan pipi dan telinga yang bersemu merah) serta 14 coret 15, yang satunya dipegang Seokmin. "Maaf lama, tadi ada banyak buku yang dibutuhkan." Kata Seokmin dengan nada menyesal. Wonwoo menganggukan kepala, mungkin tadi dia bosan tapi kalau melihat buku yang dibawanya, Wonwoo yakin, Seokmin memang mencari buku untuk Adiknya dan untuk dirinya sendiri. Jadi Wonwoo berdiri dan menyuruh Chan duduk, ia yakin kaki sang adik sudah pegal.

Tiba tiba Soonyoung muncul, bersama dengan sebuah troli yang penuh. Mulai dari 2 sangkar burung hantu, 4 kantong kertas yang entah isinya apa saja, 3 sapu terbang (karna Soonyoung bilang sapu terbangnya rusak, jadi dia ingin yang model baru. Sama seperti kedua sepupunya) dan 1 kantong penuh 'barang' untuk digunakan disekolah bersama Seokmin.

Dan, tolong jangan tanyakan dimana Soonyoung dapat membayar semua itu. Hell, Keluarga Jeon kan kaya, didunia sihir ataupun didunia muggle. Mana mungkin harta mereka habis begitu saja, bahkan untuk 7 generasi kemudian juga pasti tak akan habis. Lagipula, nenek Jeon sempat berpesan kalau ia boleh membeli semua barang yang ia inginkan, sebagai bayaran karena telah membantu Wonwoo dan Chan. Sebagai informasi, Soonyoung adalah satu satunya cucu laki laki nenek Jeon, jadi tentu ia juga sangat dimanja. Walau neneknya kerap kali menyebut nama Chan, ketika ditanya siapa cucu favorit-nya.


TBC


Sebenarnya aku sudah berniat untuk mempostnya 2 hari lalu, namun ada masalah dengan jaringan disini. Jadi aku lakukan sebisa ku.

Dan ini mungkin sedikit panjang, karena rasa terimakasihku untuk para readers, walaupun itu silent readers. Tapi sungguh aku ingin minta pendapat kalian tentang beberapa pairing kedepan. Dan maafkan aku jika ini terlalu sedikit atau terlalu panjang. Aku tahu jika chapter ini sedikit membingungkan, Jujur aku juga cukup bingung. So, mind to review?