Not Real
Author: Lee Rana17
Cast: Kim Mingyu (15 tahun)
Jeon Wonwoo (GS) (16 tahun)
Lee Chan (GS) (14 tahun)
Choi Hansol (15 tahun)
(You will find the other cast)
Pairing: Meanie, Chansol, Jiwon(?), Soonchan(?) (You will find the other pairing)
Rate : T/T+
Genre: Romance, Drama, Fantasy, Family(?)
Warning! It's was a Genderswitch fanfic. Don't Like Don't Read. Don't be a plagiator! Crack pair. Typo everywhere. OOC. Hogwarts AU. Wizard AU. Garing. Seventeen belong to God, Their parents, Their self, and Pledis. Hogwarts and Harry Potter belong to J.K Rowling, The Story belong to Lee Rana17. There had same place, magic, and others with Harry Potter.
This fanfic dedication for Meanie shipper, Chansol shipper, Jiwon Shipper, and little SoonChan Shipper.
Pulang pulang dari tempat itu, Mrs. Jeon terkejut setengah mati melihat Sang anak pertama yang pendiam, sopan, santun, ramah dan baik hati menyeret Soonyoung yang notaben-nya sebagai sepupu satu satunya yang sudah terlihat setengah hancur karena rambutnya yang ditarik Wonwoo. Diikuti anak keduanya yang masuk kerumah sambil menghentak hentakan kaki, berjalan menunduk, wajah memerah, dan berlari kekamarnya secepat mungkin. Lalu, terdengar suara teriakan dari kamar Chan "AKU BENCI KWON SOONYOUNG!" yang semakin membuat bingung, karena setahunya anak keduanya itu sangat menyayangi sepupu Kwon mereka. Lalu, Mrs. Jeon menyuruh para pelayan untuk mengambil barang yang ada di mobil Soonyoung sambil memijat dahinya yang pening bukan kepalang, melihat tingkah laku anak dan sepupunya itu.
Perpustakaan pribadi keluarga Jeon (Tempat eksekusi mati KSY)
"Jadi, bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan pada adik ku. Kwon-keparat-Soonyoung?" Tanya Wonwoo setengah mengumpat. Jika si sipit Kwon itu bukan sepupunya bisa dipastikan Wonwoo akan dengan senang hati mengambil pisau daging didapur, serta gunting rumput di halaman belakang, lalu mencabik cabik tubuh si Kwon sialan, menjadi 'Malaikat Mautnya' merendam tubuhnya kedalam panci besar berisi air panas yang sedang dimasak, dan membuang mayatnya kekolam piranha yang bercampur dengan buaya. Oke, Wonwoo sukses berubah jadi psikopat sekarang.
"Apa?" tanya Soonyoung sok polos, sambil menatap mata Wonwoo seakan akan dia tak bersalah. Wonwoo geram, setengah mati ia ingin mencabik tubuh Soonyoung dengan gigi nya sendiri namun berhasil ia tahan amarahnya. 'Si sipit ini cari mati rupanya' batin Wonwoo sambil mengadu giginya. Soonyoung sih santai, walaupun dia melihat maut didepan mata. Kalau dia takut nanti si Iblis Jeon akan merasa menang dan akan terus menindas dirinya.
Soonyoung akui, Wonwoo itu manis, cantik, kalau sedang belajar dia terlihat imut ketika pakai kacamata bulatnya. Tapikan tetap saja, dia itu punya penyakit sister complex. Tidak, Wonwoo tidak menyukai Chan. Wonwoo itu sayang pada Chan, dia juga suka Chan tapi dalam arti saudara. Wonwoo tak suka adiknya disentuh orang lain yang tidak dikenalnya, mau itu teman Chan yang berkunjung, Orang yang Chan suka, apalagi Sasaeng fans nya Chan (Chan itu anggota klub dance juga disekolahnya). Bisa habis mereka didamprat Wonwoo, bahkan kalau sifat bar barnya muncul Wonwoo tak segan segan menjambak, bahkan menggunting rambut orang itu.
Wonwoo berbeda jauh dengan Chan. Chan itu luar bar bar, dalamnya polos, bersih, masih takut berbuat dosa selain memarahi sepupunya, melawan orang tua? Chan akan berpikir 50x sebelum berbuat. Walau tak bisa masak, Chan rela melukai tangannya demi membuat nasi goreng buat sepupu kesayangannya, Kalau Chan tidak suka pada seseorang ia akan menghindari melihat wajah orang itu. Beda sama Wonwoo yang langsung main ceramah atau jambak.
Kalau diberi veritaserum mungkin Soonyoung akan mengakui seberapa seram Wonwoo, tapi Wonwoo bahkan tak tau apa itu veritaserum. Jadi Soonyoung memilih diam. Ntah, kenapa dirinya yakin kalau dia tidak akan mati ditangan sepupu Jeon yang ini, karna sepupu Jeon yang lain pasti akan datang menolongnya. Dan benar saja, firasat Soonyoung tak salah. Tiba tiba Chan dengan wajah yang masih cemberut datang, "Wonwoo eonnie, aku baik baik saja. Tadi, aku yang mau mencium Soonyoung oppa, tapi tiba tiba Soonyoung oppa menoleh jadi terkena bibirku" ujar Chan. Apa Soonyoung bilang, Chan itu polos. Mana tau dia kalau itu bukan kebetulan saat Soonyoung menoleh, tapi memang sudah disusun baik baik oleh otak bejat Kwon.
Jujur, kadang Soonyoung dan Wonwoo khawatir dengan sifat Chan yang polos. Dimana tipe idealnya itu laki laki dari kartun Disney. Padahal Soonyoung rasa dirinya 300x lebih tampan dan setelah itu dia pasti dapat cubitan kecil dari Wonwoo.
"Jadi, Chan yang mau mencium Soonyoung?" tanya Wonwoo tak mengerti, Chan mengangguk malu, dia disini hanya berusaha menyelamatkan nyawa sepupu kesayangannya."Benarkah? tapi mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi, Chan?"
"A..aku terlalu malu untuk mengakuinya eonnie, dan aku sendiri terkejut akan itu." Chan menunduk lagi setelah mengatakan itu. Soonyoung berpikir jika dalam film Twilight, Chan akan menjadi seorang Omega yang baik, dan Wonwoo adalah Alpha, sedangkan dia akan menjadi Alpha didepan Chan dan Omega didepan Wonwoo. Berperibadian ganda, eoh?
Kalau bukan karena Chan datang mungkin Wonwoo sudah mengikat Soonyoung dikursi yang ia duduki sekarang, dan membakar ruangan itu agar Soonyoung mati terpanggang, atau mati terbakar? Soonyoung meringis kecil, kalau diurutkan dia, Wonwoo, dan Chan seperti batu, gunting, kertas. Dimana dia adalah gunting, Wonwoo adalah batu, dan Chan adalah kertas. Oke, cukup perumpamaannya. Soonyoung hanya ingin bertanya pada Wonwoo, kapan dia akan meperlakukan Soonyoung sama seperti adik perempuannya.
"Okay, Young kau selamat hari ini. Jika ciuman, tidak, sentuhan dibibir tadi disebabkan oleh mu. Ku jamin, masa depanmu akan hilang ditanganku" ujar Wonwoo sambil tersenyum. Lalu, mulai mengusir Soonyoung, untuk menyiapkan barang barang yang akan dia bawa ke sekolah besok . Setelah itu, dia mengantar Chan tidur. Ini masih cukup sore untuk dikatakan telah malam. Wonwoo hanya tak ingin adik dan sepupunya kelelahan nanti.
Keesokannya, Soonyoung sudah datang pukul 6 pagi bersama keluarga Kwon. Setelah menyapa nenek Jeon dan Mr. Jeon, Soonyoung berlari kedapur, mengambil beberapa buah strawberry lalu menyengir tampan (ini kata Soonyoung sendiri) ketika bertemu dengan Mrs. Jeon. Dan ikut makan sarapan bersama dengan Wonwoo dan Chan. Hari ini mereka tampak berbeda, dimana Wonwoo (yang sudah kembali kemode normal) terlihat diam sambil membolak balik buku Transfigurasi, dan Chan yang terus menerus mengayunkan tongkatnya ke benda benda disekitarnya. Membuatnya melayang. Anehnya, mereka terlihat sangat antusias. Berbeda dari awalnya, ketika mereka dinyatakan akan pindah kesekolah sihir.
Sekitar jam 8 lewat, mereka berangkat kestasiun kereta. Chan terlihat tertarik dengan burung hantunya, berkali kali ia mencoba melebarkan kelopak matanya seperti burung hantu itu, namun tentu saja gagal "Kalau sipit, terima kenyataan sist." Kata Soonyoung, dan sukses membuat Chan cemberut. Wonwoo memutar bola matanya malas, sedangkan nenek Jeon (tadi dia memaksa ikut, agar bisa melihat cucunya masuk ke sekolah sihir). Merogoh tasnya, lalu mengambil 2 buah kantung.
"Ini uang untuk kebutuhan kalian nanti. Pakai seperlunya, jika habis kalian bisa meminta Soonyoung untuk mengambilkan uang di Bank Gringotts." Kata nenek Jeon sambil menyerahkan kantung itu ke Wonwoo dan Chan yang langsung mengucapkan 'Terima kasih'. Soonyoung menatap kearah neneknya lalu nyengir "Jadi Nanny, apakah aku dapat uang saku juga?" tanyanya penuh harap, yang dibalas dengan geplakan dikepala dari sang Nenek "Heh, kau itu sudah ada kunci Bank keluarga Jeon. Buat apa aku memberimu uang saku?" kata sang nenek jengkel. Soonyoung cemberut, Wonwoo dan Chan tertawa, Nenek menggumam kesal.
Setengah jam kemudian mereka telah sampai di Stasiun. Soonyoung bergegas untuk segera mengambil trolinya, yang diikuti oleh Wonwoo dan Chan. Merasa ketiga cucunya bisa melakukan semua hal sendiri, Nenek Jeon memilih pulang bersama supir keluarga. Lalu, Soonyoung menyuruh Wonwoo dan Chan mengikutinya dari belakang, mereka pun menurut. Baru berapa langkah, Soonyoung berhenti sambil berdesis 'sialan!'. Wonwoo menoleh kearah Soonyoung, dan mendapati sang sepupu sedang memandang tak suka kearah 3 orang laki laki yang sedang berjalan dengan santai. Dengan gerakan cepat, Soonyong mengamit tangan Wonwoo dan Chan lalu berbisik "Kumohon, berjalanlah lebih cepat. Jika bisa sesuaikan dengan kecepatanku." Pintanya, yang diikuti dengan anggukan dari kedua sepupunya itu. Dan, detik berikutnya Soonyoung berjalan super cepat, diikuti Wonwoo yang mencoba melebarkan langkahnya, dan Chan yang setengah berlari mengikutinya. Setelah berjarak cukup jauh dari posisi awal, mereka berhenti didepan sebuah dinding pembatas yang berada diantara peron 9 dan peron 10. Soonyoung hanya memberikan intruksi bahwa mereka harus mengikuti dirinya, yang sudah hilang ditelan dinding dihadapannya. Chan takut, sedangkan Wonwoo ragu. Tapi, sesuai perintah sepupu Kwon, mereka berlari kearah dinding tersebut dan menghilang.
"Jihoon noona!" panggil seseorang, yang rupanya adalah Seokmin. Penampilannya berbeda dari yang kemarin. Sekarang, ia menggunakan kemeja putih, yang dibalut jubah berwarna hitam yang dibagian dadanya terdapat gambar gryffin berwarna emas dan latar merah, dan dasi berwarna merah bergaris kuning, khas gryffindor. Seseorang yang merasa dipanggil oleh Seokmin menoleh. Terlihat seorang gadis dengan tinggi yang terpaut jauh dari Seokmin, mengenakan seragam yang sama dengan murid gryffindor lainnya, bermata sipit, namun berkulit seputih susu, berjalan sendiri di stasiun lalu menoleh sambil mendelik tajam.
"Tolong jangan membuatku malu disini, Lee Seokmin. Aku bahkan belum melangkahkan kaki ku kedalam kereta, dan kau sudah memanggilku layaknya aku seorang buronan." Ucap gadis, yang disebut Jihoon tadi sambil mendengus tak suka. Seokmin nyengir, ia heran mengapa gadis yang membenci hal hal berisik ini bisa masuk keasramanya, yang notabennya adalah asrama paling heboh diHogwarts, sekolahnya. Jihoon itu pendiam, pintar, dan jarang mengganggu orang lain. Lalu, mengapa topi seleksi memilihnya masuk keasrama yang berisi orang orang dari rumah sakit jiwa, ini? Karena, Jihoon kalau sudah kesal barang sedikit saja habis semua orang diumpatnya, belum ditambah amukannya yang seperti ketua dari seluruh gadis bar bar didunia.
"Ehehehe, mian noona. Aku hanya terlalu bersemangat untuk menyapa gadis gryffindor yang sedang berjalan sendiri."Kata Seokmin sambil mengedipkan sebelah matanya,mencoba menggoda Jihoon. Jihoon memutar mata malas, nyaris tas jinjing kecil yang ia sampirkan dibahu melayang kearah wajah tampan, coret menyebalkan Seokmin. "Ya ya, berhentilah menggangguku Kyeom, sebaiknya kau mencari tempat duduk terlebih dahulu. Oh, dan ucapkan selamat dariku kepada Tuan Kwon itu." Ujar Jihoon, lalu ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Seokmin yang masih bingung ditempat.
"Kwon? Kwon siapa? Apa Jiyong sunbae? Atau Soonyoung hyung? Lagi pula selamat untuk apa?" Seokmin mengerutkan alis, namun dengan segera ia tersadar lalu berjalan menuju kompartemennya tadi. Tanpa menyadari sepasang mata sipit dari gadis Gryffindor yang berjalan terlebih dahulu itu memerah.
Soonyoung menguap malas, ia baru saja memasuki sebuah kompartemen kosong bersama kedua sepupunya. Lalu mulai menyusun koper kecil miliknya dan sepupunya diatas tempat duduk. Wonwoo sudah duduk manis diatas tempat duduk yang berrhadapan dengan tempat duduk Soonyoung dan Chan, sembari membuka lembaran lembaran buku Rune Kuno yang ia pilih sebagai pelajaran tambahannya. Wonwoo tak tertarik, benar benar tak tertarik dengan dunia sihir, sekolahnya nanti, tongkat, dan buku buku pelajarannya itu. Hanya saja ia sedang penasaran, apa yang akan ia pelajari nanti.
Chan sendiri masih asyik menatapi kegiatan yang sedang dilakukan Soonyoung. Sesekali matanya melirik kejendela, melihat orang orang yang berlalu lalang diluar kereta. Ketika ia melihat Soonyoung lagi, ia terkejut dengan baju yang dikenakan sepupu sudah berbeda dari yang tadi ia lihat. Seragam sekolah Hogwarts.
Soonyoung sendiri menatap kearah sepupunya, ia baru teringat jika Wonwoo dan Chan adalah Penyihir (yang terbiasa dengan hal hal normal berbau muggle) yang masih belum menguasai satu mantra pun. Tangan Soonyoung bergerak mencari tongkatnya, dan bibirnya mulai merapalkan mantra 'Chagges' seraya mengayunkan tongkat kearah Chan. Wonwoo melirik sejenak, sedangkan Chan terperangah ketika melihat dirinya sudah berganti pakaian dalam sekejap mata.
Ketika Soonyoung mengarahkan tongkatnya kearah Wonwoo, ia menolak dan berkata "Aku bisa melakukannya sendiri" lalu menaruh buku yang tadi ia baca dan mengayunkan tongkatnya kearah dirinya sendiri. Sama seperti Chan. Dalam hitungan detik pakaiannya sudah berganti. Soonyoung mengerjapkan matanya tak percaya. Hell, Wonwoo itu penyihir baru jadi. Tapi, ia sudah bisa merapalkan sebuah mantra. Chan yang melihatnya hanya bertepuk tangan dan bersorak antusias. Matanya berbinar binar penasaran.
"Ah! Aku tahu satu mantra!" ucap Chan, lalu mengambil tongkat yang ada disakunya. "Accio coklat" ucapnya sambil mengayunkan tongkatnya. Tiba tiba kopernya terbuka sendiri dan muncul sebuah coklat yang ia bawa dari rumah, terbang kearahnya. Soonyoung melongo, sekarang ia sadar perbedaan orang jenius dan biasa itu bagaimana. Kedua sepupunya benar benar belajar dengan cepat. Sebenarnya, Soonyoung itu pintar, buktinya ia terpilih menjadi prefek saat berada ditingkat 2. Kalau Soonyoung yang pintar saja bisa menjadi prefek, bagaimana dengan sepupunya? Jadi ketua murid?
Tak lama dari kejadian itu, seseorang membuka pintu kompartermen mereka. "Ah, maaf mengganggu. Bolehkah aku duduk disini? Kompartemen yang lain mungkin sudah penuh." Tanya orang itu penuh harap. Chan tersenyum lalu dengan senang lalu, menarik tangan orang itu. Orang itu menurut walaupun masih bingung. Dia duduk berhadapan dengan Chan dan Hoshi, dan bersebelahan dengan Wonwoo yang masih fokus pada bukunya. "Hai! Aku Jeon Chan, murid baru. Dan itu, kakak perempuanku Jeon Wonwoo dan yang sipit itu, sepupuku Kwon Soonyoung." Sapa Chan sambil menyodorkan tangannya, kearah orang yang bergender laki laki itu. Anak itu menyambut hangat uluran tangan Chan. " Aku Choi Seungcheol, murid Slytherin tingkat 4. Dan, soal Soonyoung aku kenal dengan dia." Ucapnya memperkenalkan diri seraya tersenyum kecil.
"Hai hyung, kenapa kau ada dikompartemen gryffindor? Apakah kompartemen slytherin sudah penuh?" sapa Soonyoung sekaligus bertanya penasaran.
"Sebenarnya, kompartemen adikku masih cukup untukku sendiri. Tapi, kau tahukan tingkah adikku dan teman temannya. Aku sendiri tak tahan, apalagi denganmu yang sering berurusan dengan mereka." Jawab Seungcheol sembari meringis malu. Soonyoung menatap maklum. Memang adik dari sunbae-nya ini, kelewatan bertingkah. Awalnya sih tak Soonyoung hiraukan, tapi ketika pertandingan Quidditch tahun keduanya dimana Seokmin dan adiknya Seungcheol itu masih ditingkat pertama pada semester kedua mereka, ada sebuah insiden yang bikin Soonyoung geram setengah mati. Bukan hanya Soonyoung saja sih, tapi seluruh penghuni asramanya. Yang membuat asrama gryffindor dan slytherin perang dingin selama 4 bulan lebih 3 minggu. Walaupun sebenarnya para prefek dari slytherin sudah mencoba minta maaf berhari hari sebelumnya, tapi para anggota asrama gryffindor malah menutup mata dan telinga lalu mulai berjalan dengan dagu terangkat. Berpura pura tuli dan buta, atas permintaan maaf para prefek slytherin (perlu diketahui, kalau Seungcheol juga termasuk dari orang yang meminta maaf pada mereka)
Chan hanya menatap bingung dengan pembicaran kedua anggota prefek itu. Wonwoo sendiri terlihat acuh tak acuh mendengarkan. Mereka mulai mengobrol bersama, sambil sesekali Seungcheol menanyakan tentang Wonwoo ataupun Chan. Chan sendiri cukup tertarik dengan cerita cerita dari Seungcheol, mulai dari menjahili guru kelas ramalan, sampai hewan yang ia pelihara disekolah. Soonyoung sendiri menimpali dengan beberapa lelucon dan sedikit kisahnya.
Beberapa saat kemudian muncul seorang wanita paruh baya yang membawa sebuah troli penuh makanan manis, menawarkan dari kompartemen satu kekompartemen lainnya. Ketika tiba dikompartemen milik mereka (Soonyoung cs), Seungcheol berdiri untuk membeli satu bar coklat susu ukuran sedang, dan beberapa permen jagung, sedangkan Soonyoung membeli coklat kodok, jellybean berbagai rasa, dan permen lemon. Wonwoo dan Chan masing bingung dengan apa yang akan mereka beli, karena mereka belum pernah merasakan cemilan aneh dari dunia sihir. Sehingga, Soonyoung mengambil inisiatif untuk membeli setoples kecil permen lemon juga permen jagung, lalu setoples kecil permen coklat caramel, sebuah coklat susu ukuran sedang, sebuah dark coklat ukuran sedang dan sebuah permen apel berbalut caramel. Oh, dan tentu saja ia menggunakan uang yang diberikan Nanny kepada Wonwoo dan Chan (Usut punya usut sang nenek memberikan 5,000 Galleon untuk masing masing dari mereka. Dan Soonyoung pikir itu sangat-lebih dari cukup untuk digunakan mereka selama beberapa tahun kedepan tanpa perlu meminta uang lagi.) mana sudi Soonyoung menggunakan uangnya sendiri untuk membeli cemilan sebanyak itu.
Wonwoo mengedip cepat ketika melihat makanan yang dibeli Soonyoung, dia khawatir. Tidak, dia tidak khawatir dengan uang saku yang bisa saja habis karena Soonyoung membeli banyak permen. Namun, dia khawatir dengan 'bagaimana cara menghabiskan semua makanan manis itu dalam sekejap'. Apakah Soonyoung punya dendam terpendam pada mereka hingga ingin menyebabkan gigi dia dan Chan bolong atau ingin menyebabkan mereka terkena diabetes karena makan makanan yang manis terlalu banyak. Chan sendiri tak perduli dengan hal itu, ia hanya tertarik dengan permen apel-karamel lalu mulai mengulum permen yang diberikan Soonyoung kepadanya itu. Tentu saja tidak sekaligus, bibir Chan terlalu kecil untuk mengulum apel yang besarnya sama dengan satu kepalan tangan Soonyoung.
Seungcheol menawarkan coklat yang ada ditangannya kepada Wonwoo, dan disambut dengan gelengan kecil darinya. Soonyoung lalu mengambil 6 botol kecil yang ukuranya rata rata setengah dari ukuran toples permen yang tadi ia beli. Lalu, ia memindahkan 3 toples permen yang berbeda itu ke 6 botol kecil tadi dan menyerahkannya pada Wonwoo dan Chan yang menatap bingung. "Ini untuk kalian makan ketika diasrama nanti. Berbagilah dengan teman sekamarmu. Karena kalian tak bisa setiap hari pergi keluar hogwarts, kecuali memang ada keperluan mendesak." Ujar Soonyoung sambil menyesap permen lemonnya. Wonwoo mengangguk mengerti, lalu ia memasukan 3 botol permen yang Soonyoung berikan tadi kedalam kopernya dan setelah itu, ia membuka dark coklat miliknya. Soonyoung membantu Chan memasukan 3 botol permen tadi karena satu tangan Chan sedang mengenggam tangkai permennya. Masih sekitar empat jam lagi untuk sampai di Hogwarts, dan itu dimanfaatkan oleh mereka dengan cara tidur selama 2-3 jam. Satu jam terakhir mereka gunakan untuk bermain beberapa permainan, dan bercerita tentang guru guru diHogwarts.
Setelah sampai diHogwarts mereka bertemu dengan Mr. Wu, guru asal cina yang mengajar tentang satwa satwa sihir. Kabarnya, ia memelihara seekor naga dirumahnya. Ia mengantar para siswa kearah gerbang sekolah sambil menceklis kertas data yang ada di tangannya. Matanya melirik tajam ketika melihat 3 orang murid asrama Slytherin yang sedang mengganggu seorang murid perempuan asal Hufflepuf.
"Demi Merlin." Keluhnya, ia menghela nafas panjang sebelum- "KIM MINGYU! CHOI HANSOL! WEN JUNHUI! 2 DETENSI SETELAH MAKAN MALAM DIAULA BESAR!"-meneriaki 3 berandalan didepannya. Laki laki yang disebut Choi Hansol hanya mendengus, sedangkan yang bernama Kim Mingyu memutar kedua bola matanya malas. Hanya Wen Junhui yang menyahut dengan suara acuh tak acuh "Yaa, saem." Jawabnya. Lalu, 3 pria asal asrama ular itu berjalan santai sambil sesekali tertawa atau berbisik bisik. Mr. Wu yang melihatnya hanya memijat pelan dahinya, pusing bukan lagi hal yang baru untuk dikatakan jika ia sudah bertemu para berandalan muda itu, ia bisa merasakn jika ia terkena darah tinggi setiap bertemu dengan mereka.
Soonyoung membantu Wonwoo membawakan kopernya, sedangkan Seungcheol dengan baik hati membawa kopernya sendiri dan koper Chan kearah kereta kuda. Lalu, mereka menyapa Mr. Wu yang baru saja bergumam tak jelas dan dibalas dengan senyuman diwajah guru muda itu. Mereka berjalan sambil sesekali berbincang bincang, lalu mulai menaiki kereta kuda yang disiapkan. Wonwoo menggerutu pada Soonyoung ketika buku yang ia baca diambil oleh sang sepupu bermata sipitnya itu, dengan dalih bahwa mungkin Wonwoo nanti akan merasa pusing karenanya. Seungcheol terkekeh ketika melihat calon adik kelasnya yang mengerucutkan bibir tak suka kearah Soonyoung sambil terkadang mencibir prefek asal Gryffindor itu.
Sekitar 10 menit mereka telah sampai di gerbang depan Hogwarts. Soonyoung dan Seungcheol harus memisahkan diri dari Woonwoo dan Chan, tidak lupa dengan nasihat pendek dari Soonyoung. Wonwoo sendiri sedang menarik lengan Chan sambil menenteng koper miliknya, diikuti dengan Chan. Mereka berjalan kearah ruang kepala sekolah untuk mengkonfirmasi kepindahan mereka, lagi pula mereka bukan masuk sebagai murid tingkat satu. Setelah beberapa kali nyaris tersesat, Wonwoo menemukan ruangan kepala sekolah. Tapi, dia dan Chan hanya mematung disana. Karena seharusnya Wonwoo tahu, bahwa sekolah sihir bukan sekolah biasa, dimana ruangan kepala sekolah biasanya terdapat pintu didepannya.
"Eoh? Apa yang kalian lakukan disini?"Tanya seorang gadis berambut coklat yang sedang berhenti diruangan yang sama dengan Wonwoo dan Chan berada, dibelakangnya terdapat gadis imut berambut krim lembut. Wonwoo mengedip lucu, Chan tersenyum kecil lalu memberanikan diri untuk bertanya.
"Um... Kami harus mengkonfirmasi kepindahan kami disini." Chan menjawab ragu, matanya melirik kesana kemari. Gadis dihadapanya menaikan alisnya "Lalu?" tanya gadis itu. "Dan disini tak ada pintu untuk masuk keruangan kepala sekolah?" Chan bertanya sekaligus menyatakan kebingungannya. Gadis dihadapan mereka tersenyum.
"Kalian muggle? Atau kalian tidak tahu kata sandi masuk keruangan kepala sekolah?" tanya gadis itu. Wonwoo menganggukan kepala atas kedua pertanyaan itu, 'sialan, si sipit itu tak bilang kalau disini ada sandinya untuk masuk' batin Wonwoo mengumpati Soonyoung. Gadis dihadapannya mengangguk mengerti. "Ah, kalau begitu kata sandinya adalah 'permen lemon'." Ujarnya sambil mengayunkan tongkatnya lalu mengucapkan kata sandinya yang dikatakannya tadi. Tiba tiba tembok bata dihadapan mereka terbelah dan menunjukan sebuah patung Gryffin yang dilingkari oleh tangga menuju keatas. "Ayo ikut aku!" ujar sang gadis.
Gadis berambut coklat itu berjalan menaiki tangga dan dikuti oleh Wonwwo, Chan, dan gadis yang bersamanya tadi. Ketika sampai dipuncak tangga, terlihat seorang pria paruh baya yang sedang meneliti beberapa laporan. "Permisi sir, Aku membawa 3 murid pindahan." Kata gadis itu kepada pria paruh baya didepannya. Pria itu melirik mereka, dan detik berikutnya ia tersenyum. "Aigoo, aku lupa kalau ada murid pindahan tahun ini. Aku Joo In Sung, kepala sekolah kalian. Panggil aku sir Joo atau Joo saem, okay?" Ujar kepala sekolah sambil menaikan alis, 3 orang siswi dihadapannya hanya mengangguk kecil.
"Jadi, Miss Xu dan Miss Jeon's, bukan?" Tanya Pria itu yang masih disambut oleh anggukan dari para siswinya. "Baiklah, kalian hanya perlu berganti pakaian. Untuk sementara gunakan kamar mandi prefek terlebih dahulu. Lalu, jangan lupa untuk datang ke Aula Besar untuk makan malam bersama. Kalian harus diseleksi. Kupikir cukup itu, terimakasih Miss Yoon karna telah mengantar mereka." Ujarnya lagi. Setelah mengatakan terimakasih, keempat gadis itu pamit keluar dari ruangan itu.
"Kita belum berkenalan bukan? Aku Yoon Jeonghan, prefek Hufflepuf tahun keempat" Gadis yang dari tadi mengantar mereka mengenalkan diri sambil tersenyum ramah. "Aku Jeon Wonwoo, tingkat tiga. Dan ini, adikku, Jeon Jeongchan, tingkat dua. Imnida." Kata Wonwoo ambil sedikit menundukan kepalanya, Chan lagi lagi hanya tersenyum. "Emm.. Ni Hao, eh, Halo. Xu Minghao tingkat kedua." Sapa gadis berambut krim dengan wajah imut itu, bahasa Koreanya masih belum terlalu lancar. Terdengar dari aksen Cina yang kental, namun terdengar lucu ketika ia gunakan.
Jeonghan mengantar mereka ke kamar mandi prefek yaang lumayan jauh dari ruang kepala sekolah. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Jeonghan mengantarkan mereka ke Aula Besar. Lalu, ia memisahkan diri dari Wonwoo, Chan dan Minghao. Ia berjalan menuju meja makan Hufflepuf, sebelum itu ia meminta mereka untuk menunggu dikursi yang sudah disiapkan untuk menyeleksi murid. Wonwoo mengajak Minghao dan Chan untuk duduk bersama, sambil menunggu nama mereka dipanggil.
"Jeon Wonwoo!" panggil salah satu guru, meminta Wonwoo untuk maju agar bisa segera diseleksi. Wonwoo melangkah maju dengan sedikit ragu, ia meminta Minghao untuk menjaga adiknya. Wonwoo mulai menduduki kursi yang telah disediakan didepan lalu merasakan ada benda yang menutupi rambutnya.
"Keluarga Jeon?" kata benda itu, Wonwoo tersentak kaget. Ia memang melihat ada lukisan yang bergerak disalah satu lorong tadi, adapula hantu yang berkeliaran dilorong lorong, bahkan diAula besar ini pun ada. Tapi ia tak tahu kalau topi juga bisa berbicara disini. "Tak usah terkejut, aku topi seleksi. Keluargamu telah terlalu lama meninggalkan dunia sihir, ya? Sampai kau terlihat kebingungan." Tanya topi penyeleksi. Wonwoo terdiam, ia mulai berfikir bahwa topi ini cukup cerewet. "Heh, tidak sopan sekali. Aku sama sekali tidak cerewet, namun itu memang tugasku. Jadi kau mau masuk asrama mana?"Tanya topi itu lagi. Wonwoo bergumam 'mana kutahu'dengan nada yang acuh tak acuh yang menimbulkan erangan kesal dari sang topi.
"Mmm.. kau ini pintar, tapi terkadang galak, walaupun lebih banyak diamnya. Tipe tipe orang yang lebih suka membawa buku kemana mana dibandingkan membuat ramuan cinta keseseorang. Bagaimana kalau dengan Ravenclaw?" Topi seleksi mulai bergumam tak jelas, Wonwoo sendiri hanya memutar bola mata bosan. Hell, ia bahkan tak tahu ada berapa asrama disini dan dia disuruh memilih satu.
"RAVENCLAW!" Topi seleksi meneriakan salah satu nama asrama tanpa persetujuan Wonwoo. Wonwoo bingung, ia tak tahu asrama Ravenclaw itu yang mana.
Ia baru sadar. Dari 4 meja makan yang ada, salah satu meja makan yang berisi orang orang yang mengenakan aksesoris serba biru, bertepuk tangan dengan meriah. Ada yang tersenyum, ada juga yang berdiri dari tempat duduknya. Siapa yang tak senang kalau ada gadis cantik, yang juga cerdas masuk keasramanya? Mungkin hanya orang buta. Wonwoo melangkah turun dari kursi, lalu berjalan kearah kumpulan orang orang itu dengan senyuman yang tersemat diwajahnya.
Chan menatap kakaknya. Ia terlihat senang ketika melihat anggota asrama yang akan kakaknya tempati terlihat sangat ramah. Matanya melirik kesemua sisi ruangan, ia dapat melihat Soonyoung yang berada disekitar anak yang mengenakan aksesoris merah maroon sedang menyesap minumannya dan mendapat kedipan lucu saat ia tersenyum kearahnya. Chan juga dapat melihat Wonwoo yang sedang makan sebuah puding sambil tersenyum kearahnya. Ia melirik kearah meja makan disebelah asrama Wonwoo dan mendapati Jeonghan sunbae yang tadi mengantarnya sedang bertepuk tangan, antusias. Chan dapat mengetahui bahwa murid lain yang baru saja diseleksi pasti masuk ke asrama Huffelpuf. Lalu tatapan matanya jatuh pada meja makan paling ujung dengan anggota yang memakai dasi hijau bergaris silver, ia dapat melihat Seungcheol sunbae yang tadi berada dalam satu kompartemen dengannya sedang makan dengan tenang, sesekali bercanda dengan pria disamping atau mengedip genit kearah gadis gadis yang berbeda asrama dengannya.
Chan tertawa kecil, sambil terus menelusuri meja makan tempat Seungcheol berada. Tak sengaja matanya bertemu dengan bola mata Light Brown yang rupanya juga melihatnya, Chan mengeluarkan senyum meringisnya lalu mengalihkan perhatiannya kearah Minghao yang baru saja dipanggil. Ia mendengar bahwa gadis yang lebih tua setahun dengannya itu, mendapatkan asrama Hufflepuf sebagai rumahnya untuk 4 tahun kedepan. Tiba tiba ia merasakan bahwa namanya dipanggil. Chan segera bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan keatas podium yang ada.
TBC
Jadi? Hai! apa ada yang menunggu ff abal abal ini?. Hohohoho, maaf.
Aku sedang sibuk sibuknya sekarang, dan mungkin ini update terakhirku sampai bulan mei nanti. Kemarin banyak yang meminta chapnya dipanjangin bukan? Kupikir ini cukup panjang sekitar 3k nyaris 4k hanya kurang 100word saja. tapi kalau ditambah cuap cuap ku mungkin lebih/?
Aku berpikir apakah ada yang menunggu fanfic ini?
Ah, aku juga ingin meminta saran, siapa saja yang menjadi roomate Wonwoo dan Chan. Aku butuh 4 untuk dua duannya. Mohon bantuannya/bow/
Dan, siapa yang menunggu Hansol dan Mingyu? ^-^" mereka sudah muncul sedikit. aku berpikir bukan kah sebaiknya mereka memiliki saingan untuk mendapatkan Chan dan Wonu, ada yang ingin memberi saran? aku berpikir untuk menambahkan sanha astro dan karry wang tfboys sebagai saingan hansol.
Apakah ini bertambah aneh? aku baru berpikir sekarang, karena aku membuat umur mereka terlalu tua untuk tingkatannya, jadi kuputuskan untuk membuat 1 semesternya = 3 bulan, ote? hanya pada tingkat 6 dan 7 mereka akan bersekolah 6 bulan= 1 semester. Aku benar benar butuh saran, dari para reader
Jadi intinya, aku meminta saran kalian. boleh? dan juga mari berteman denganku, silahkan kirimi aku pesan pada PM. Review juseyo
