"Pak, kita mau keluar" Seonho yang terkenal dekat sama pak satpam penjaga gerbang ditugaskan oleh kedua temannya untuk minta ijin biar gerbangnya dibukaiin.
"Mau kemana nak malam-malam gini, lebih baik nonton dangdut lagi aja bareng bapak" ucap pak satpam yang lagi bukain pintu gerbang.
"Mau makan pak, lain kali aja lagi kita nonton bareng" si Hyeongseop yang ketagihan sama acara dangdut pun bersuara.
Lalu mereka bertiga mulai berjalan melewati gerbang, namun langkah mereka terhenti karna kehadiran beberapa sosok lain disamping mereka.
"Eitss, kalian mau kemana? Udah ada ijin dari asrama?" tanya pak satpam pada genk Woojin yang baru datang.
"Yaelah pak, kayak gak tau kita aja. Mau dapat ijin atau enggak toh kita juga tetap bakal keluar" Ucap Woojin santai kayak dipantai.
"Minggir lo, gue yang duluan disini" itu ucapan Daehwi yang lagi rebutin jalan sama Samuel, maklum pak satpam bukaain gerbangnya cuma setengah.
"Mood gue langsung anjlok liat tampang-tampang kayak mereka disini" tunjuk Hyeongseop kepada wajah tampan ketiga orang itu.
"Kenapa? Tampang gue ganteng yah." itu si Woojin yang telah selesai bernegosiasi bersama pak satpam.
"Duh, mau muntah gue dengarnya"
"Akuin aja kali kalau gue ini emang ganteng" ucap Woojin pede.
"Gantengan gue kemana-mana"
"Bhaks,. Muka uke kek gini dibilang ganteng" Si Woojin udah ngakak duluan.
"Udah ah malas gue debat sama orang gak waras kayak lo, yuk guys kita cabut"
"Hyung, tolongin gue" ucapan Seonho berhasil menghentikan langkah Hyeongseop dan Daehwi.
"Lo kenapa?" tanya Daehwi heran.
"Gue ditawarin makan gratis sama dia, gue bingung mau nerima apa iyain?" Seonho menunjuk guanlin sebagai orang yang menawarinya.
"Harus banget yah lo pake laporan segala." kesal Guanlin karna niat 'baik' nya malah terpublikasi dihadapan orang banyak.
"Lo pilih makanan apa sahabat?" tanya Hyeongseop.
"Tergantung kondisi, kalau sekarang sih milih sahabat yang punya makanan." padahal mah always and everything makanan selalu di nomor satu kan diberbagai kondisi apapun.
"Yaudah pergi lo sana sama genk kuker mereka." usir Hyeongseop kesal.
"Yaudah deh, makasih hyung udah ngasih saran" lalu Seonho dan Guanlin berjalan pergi dan itu berhasil membuat Hyeongseop makin kesal.
"Wah, cepat juga si Guanlin. Gue juga deh" lalu Samuel berjalan kearah Daehwi dan menarik tanganya untuk berjalan dengannya "ikut gue kuy, makan bareng kita." dan pergilah mereka meninggalkan Hyeongseop dan Woojin berdua.
"Apa lo liat-liat?" Hyeongseop melampiaskan kekesalanya pada Woojin.
"Dih geer banget nih"
"Udah sana jauh-jauh"
"Emang ini jalan punya nenek moyang lo"
"Tau ah bodo" lalu Hyeongseop kembali berjalan sendiri menuju warung bakso langgananya.
"Yaelah seob, masih marah nih sama gue?" Woojin mengikuti langkahnya lalu mereka jalan berdampingan.
"Menurut lo?"
"Udah seminggu loh, gak kangen?"
"Enggak tuh"
"Marahnya awet banget sih"
"Suka-suka gue dong"
"Yaudah gue minta maaf lagi nih untuk yang ke seratus satu kali"
"Gak mempan"
"Ntar gue teraktir bakso deh, sepuasnya"
"Gak butuh" tuh kan Si Hyeongseop emang suka jual mahal padahal dalam hati udah kesenangan dianya.
"Pacarku tersayang jangan marah lagi dong"
"Kita udah putus seminggu yang lalu"
"Kan udah gue bilang itu dibajak ama kakak gue, kak Jisung. Gue gak pernah kirim sms minta putus sama lo"
"Oh"
"Ahn Hyeongseop" Woojin menghentikan langkahnya lalu turut menghentikan langkah Hyeongseop dengan menahan pergelangan tangannya.
"Maafin gue, oke"
#TBC...
Jinseob
