A Round Trip to Love

Chap 2

Karena cinta ini, aku tak akan perrnah melepaskanmu Tetsuya.

Kau yakin itu cinta, Akashi-kun?
Bukannya itu hanya egomu semata?

..

Sejak hari itu sikap Akashi mulai berubah pada Kuroko. Ciuman yang dulu murni hanya kecupan, kini lebih dalam dengan selipan lidah. Tak jarang gigitan turut berdominan. Memang mereka belum sampai pada tahap sex, karena Kuroko telah mendeklarasikan ketidak siapannya. Akashi pun tak memaksa dan, mau menunggu sampai batas kesanggupan si biru. Namun sampai kapan?

Malam ini adalah bulan ke 3 mereka berpacaran, dan menjadi minggu terakhir mereka sekamar, karena pembangunan asrama telah selesai. Kuroko dibantu oleh Akashi membereskan barang yang akan dipindahkan.

Sampai Kuroko tak sengaja menjatuhkan tumpukan buku Akashi di samping lemari dan menemukan sebungkus barang asing menyelip disana. "Akashi-kun ini apa?"

Bola mata Akashi melebar, terkejut dengan barang yang ditunjukan Kuroko. "Darimana kau menemukannya, Tetsuya?" Kuroko menaikan bahu, "Sepertinya menyelip diantara bukumu."

Menghela nafas, Akashi menjawab, "Itu kondom." Mendengarnya, seketika wajah Kuroko pias. Bagaimanapun ini kali pertama dia melihat benda ini.

"Ah, begitu. Maaf, aku harus menaruhnya dimana?" Kelabakan tak tahu harus bagaimana, Kuroko kembali menjatuhkan setumpuk buku yang tadi sudah ditatanya. Tak hanya buku, diapun ikut terjatuh. Bahkan menimpa Akashi yang tak jauh didepannya.

Pandangan Kuroko dan Akashi sejajar lurus dengan jarak kurang dari sejengkal. Membuat mereka berdua sama-sama bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Mengikat tatapan lawan tanpa memberi spasi.

Tangan Akashi menarik kepala Kuroko hingga bibir mereka saling bersentuhan. Melumatnya, lalu menyelipkan lidah untuk merasakan bibir yang selalu menjadi candu. Mengapsen gigi dan mengusap langit-langit hingga Kuroko berasa melayang. Tak sadar jika posisi mereka telah bertukar. "Akashi-kun..." Desah Kuroko, setelah bibirnya lolos dari ciuman maut Akashi.

"Panggil namaku dengan benar Tetsuya." Bisik si merah, hingga bulu kuduk Kuroko ikut meremang.

"Se-seijurou.." Kembali kecupan menjadi hadiah Kuroko.

Dengan gaya bridal style Akashi membawa Kuroko diatas ranjang, tanpa melepas tautan bibir mereka. Menyentuh setiap titik yang membuat Kuroko mabuk kepayang. Mengecup leher hingga tulang pelikat dan kembali ke bibir. Melepas satu persatu kancing kemeja Kuroko. Hingga Kuroko sadar akan kemana ini berlanjut dan mendorong pundak kekasihnya. "Hentikan, Akashi-kun!"

Tak mau mendengarkan. Akashi kembali membungkam bibir Kuroko. Satu tangannya menghentikan pergerakan kedua tangan si biru. Sedangkan tangan yang lain berusaha melepas kait dan menurunkan zipper celana Kuroko.

"Tidak! Akashi-kun!" Kembali bersuara, Kuroko kembali memberontak saat Akashi berusaha meninggalkan kissmark pada lehernya. "Kumohon, berhenti!" Kuroko mulai terisak karena rasa takut. Dia masih belum siap mental untuk ketahap ini. Mata Akashi yang gelap menatap Kuroko yang menitihkan air mata. Ini mengingatkan si biru dengan Akashi yang sama di Kyoto waktu itu.

"Berhenti? Kau ingin berhenti?!" Teriak si merah. Benar saja, warna mata kiri Akashi sudah tak merah lagi. "Lebih baik kau jangan melawan, Tetsuya!" Kuroko menggelengkan kepalanya cepat. Dia tak mau melakukannya, terlebih dengan Akashi yang tak ia kenal. Ini salah!

"Aku tak mau Akashi-kun! Aku masih belum siap melakukannya."

"Belum siap? Lalu kapan, hah?" Akashi mendengus, meremehkan. "Aku sudah berusaha diam sampai hari ini. Dan kau bilang masih belum siap? Jangan buatku tertawa, Tetsuya!" Sekali lagi tangan Kuroko ditahan kuat. "Jangan banyak memberontak atau kuikat kedua tangan dan kakimu nanti!" Ancam Akashi final.

Namun Kuroko tetaplah Kuroko Tetsuya yang keras kepala.

Saat Akashi lengah dalam melepaskan kaos yang ia kenakan. Dengan sekuat tenaga Kuroko mendorongnya hingga terjatuh berguling dari kasur. Lalu tanpa jeda, berlari secepat yang ia bisa untuk keluar dari kamar. Tanpa sempat membenarkan kemeja dan celana yang dipakai. Untungnya mahasiswa yang tinggal di asrama kebanyakan pulang karena libur semester baru ini. Jadi tak akan ada yang melihat keadaan Kuroko yang terhitung mengenaskan.

Setelah lelah berlari tanpa arah, Kuroko terhenti di halte depan kampus. Memperbaiki pakaiannya, karena bagaimanapun ini sudah jam 10 lewat. Angin malam tentu membuatnya kedinginan. Duduk terdiam, karena tak tau harus kemana. Kuroko memegangi perutnya yang berbunyi nyaring. Seharian ini dia belum sempat makan apa-apa kecuali susu pagi tadi. Masih belum dia juga tak membawa dompet ataupun hp. Bahkan alas kakipun dia tak pakai. Semoga saja tak sampai ada orang yang salah mengira dia gelandangan karena penampilannya yang kacau ini.

"Dingin.." Bisik kuroko lirih. Padahal ini sudah masuk bulan april, tapi kenapa sedingin ini? Hingga tanpa sadar air mata Kuroko kembali menetes. Mungkin karena dingin dan lapar. Atau.. karena sikap Akashi yang menakutkan?

Mendengar langkah kaki mendekat, Kuroko menoleh. Disana ada Akashi yang memandangnya dengan sorot mata yang tajam. Tapi Kuroko sudah tak peduli lagi. Toh dia sudah kehabisan tenaga dan tak tahu juga harus pergi kemana. "Kenapa hanya duduk disini?"

"Aku tak punya uang." Jawab Kuroko diikuti dengan perutnya yang berbunyi nyaring.

Akashi memandang tak percaya. "Yang benar saja! Dan kau lebih memilih diam disini? Padahal kau jelas kelaparan dan kedinginan seperti itu?!"

"Aku lebih memilih kelaparan dan kedinginan disini, dibandingkan harus diserang room mateku."

Geram, Akashi menarik tangan Kuroko. "Kau ikut kembali denganku ke asrama!"

Menolak, Kuroko balas menarik tangannya. "Aku tak mau! Tinggalkan aku sendiri!"

"Kau ini sebenarnya kenapa, hah?!"

"Akashi-kun itu yang sebenarnya kenapa?!" Kuroko balas teriak. "Aku memang mencintai Akashi-kun, tapi apa itu artinya aku harus melakukan apa yang tak kumau? Kenapa Akashi-kun terus menerus memaksaku seperti ini? Memang apa salahku?" Kembali Kuroko terisak.

Akashi yang mulai sadar akan sikapnya, berusaha menekan egonya. Memeluk Kuroko, berusaha menenangkan. "Sudah jangan menangis. Maaf, aku yang salah, Tetsuya. Jadi berhentilah menangis.

Setelah Kuroko mulai tenang, Akashi pun menggendong Kuroko dipunggungnya. Mengantarnya kembali ke asrama dalam diam. Hingga Akashi mulai berbicara, berusaha mencairkan suasana. "Tetsuya.. Semua orang tentu ingin melakukan sesuatu yang mereka suka dengan orang yang mereka cintai. Akupun tak terkecuali. Aku ingin melakukan sex denganmu, tapi kau menolaknya dengan keras, hingga aku merasa jika kau menolakku." Ungkap Akashi. "Aku tak ingin memaksamu, tapi sisi lain diriku tak senang dengan penolakanmu. Hingga akhirnya aku malah menyakitimu. Jadi kumohon, agar kau mau mengerti."

Kuroko tak membalas. Hanya saja pelukannya pada Akashi yang semakin menguatlah yang menjadi jawaban.

..

Kini Kuroko tak lagi sekamar dengan Akashi, karenanya pertemuan mereka jadi berkurang. Jikapun ingin berjumpa mereka harus bisa melaraskan waktu mereka yang padat, terlebih Kuroko yang harus punya alasan untuk keluar dari kamar tanpa jadi pertannyaan room matenya.

"Malam ini kau keluar lagi Tetsu?" Tanya Aomine yang memainkan bola basketnya diatas tempat tidur.

"Begitulah, Aomine-kun. Aku ingin mengembalikan buku Akashi-kun."

"Akhir-akhir ini kau sering keluar dengannya. Padahal kalian sudah tak sekamar lagi."

Jeda sejenak. Membuat pria bermarga Aomine itu melirik si biru yang berdiri di ambang pintu dengan buku ditangan.

"Bukannya karena sudah tak sekamar lagi, makannya wajar untuk bertemu?" Kuroko beralasan, berlalu meninggalkan pemuda dim itu.

Selama perjalan Kuroko sudah tak sabar. Pada pasalnya sudah satu minggu ini Kuroko tak berjumpa dengan kekasihnya. Belum sampai dikamar sang kekasih, tiba-tiba dari belakang ada yang menutup kedua matanya. Terkejut. Hampir saja Kuroko berteriak sampai mendengar suara yang familiar baginya.

"Ini aku, Tetsuya." Ujar Akashi tanpa melepaskan mata Kuroko.

Kuroko menghela nafas lega. "Akashi-kun membuatku kaget saja. Kenapa harus menutup mataku begini?"

"Aku ingin membuat kejutan. Jangan buka matamu sampai kuperbolehkan." Kuroko menganggukan kepala dan mengikuti Akashi yang kini menuntunya. Meski tak tau kemana arah tujuan kekasih merahnya ini menuntunnya. Yang ia tahu ini bukan arah menuju kamar Akashi dan ini terlalu jauh masuk kedalam kawasan asrama.

"Baiklah, kau sudah boleh membuka matamu, Tetsuya."

Perlahan Kuroko membuka matanya. Menemukan dirinya dikelilingi lilin berbentuk hati. Seperti biasa, Akashi selalu bisa mengejutkannya. "Ini, indah sekali Akashi-kun." Kuroko terkagum.

Akashi tersenyum lalu mengeluarkan kota kecil dari sakunya. "Ini untuk Tetsuya. Bukalah."

Menerima kotak pemberian Akashi, Kuroko melepas ikatan pita pada kotaknya. Menemukan sepasang cincin indah didalamnya. "Ini.." Tak bisa berkata, Kuroko memandang akashi dengan tak percaya.

"Mungkin sudah terlambat, tapi aku ingin Tetsuya menerimanya." Akashi mengusap lembut pipi Kuroko. "Maukah sebelum memakainya, kita mengulang sumpah kita dulu, Tetsuya?"

Masih dalam keadaan terkejut Kuroko mengangguk, menyanggupi.

Menggenggam tangan Kuroko, Akashi berucap, "Saya, Akashi Seijuurou bersumpah akan menemani Kuroko Tetsuya dalam sedih maupun senang. Dalam kaya maupun miskin. Selamanya hingga akhir hayat."

Dengan suara bergetar Kuroko membalas, "Saya, Kuroko Tetsuya bersumpah akan menemani Akashi Seijuuroi dalam sedih maupun senang. Dalam kaya maupun miskin. Selamanya hingga akhir hayat."

Akashi pun mengambil cincin digenggaman Kuroko. Memasangkannya pada jari kelingking1 tangan kanan kekasihnya. Lalu berlanjut dengan Kuroko yang memasangkan pada jari kelingking tangan kiri Akashi.

"Terima kasih Tetsuya, karena telah mencintaiku." Akashi menyatukan bibirnya dengan Tetsuya lalu memeluk tubuh mungil sang kekasih. "Aku tak akan mengingkarinya dan tak akan pernah meninggalkanmu. Jadi kumohon, janganlah juga kau meninggalkanku."

..

..

PLAKKK

Suara tamparan keras menggema di ruang kerja Akashi Seijiro. Anak tunggalnya lah yang menjadi pelampiasan emosinya. "Apa-apaan dengan sikapmu yang mulai brengsek ini, Seijuurou?! Membatalkan pertunanganmu dengan Akari? Kau pikir seberapa besar kerugian yang akan didapat perusahaan dengan sikap egoismu ini, hah?!"

"Bagaimanapun, sejak awal saya telah menentang pertunangan ini Otou-sama. Tentang kerugian yang Otou-sama maksud, tak perlu khawatir. Akan kuusahakan tak ada sepersen pun yang berkurang dari saham Otou-sama." Terang Akashi Seijuurou dengan tenang. Seakan telah merencanakan semua dengan matang.

Seijirou tersenyum meremehkan. "Begitu, kau memang putraku. Jadi wajar untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau begitu bagaimana penjelasanmu dengan ini Seijurou?"

Sebuah amplop berisi foto Akashi dan Tetsuya ada disana. Bahkan foto saat mereka berciuman diruang kosong kampus pun tak terkecuali. Dengan ini Akashi tak bisa mengelak lagi. Senyuman Seijiro membuat Seijuurou muak. "Jadi apa yang Otou-sama mau?"

"Aku tak akan mengusik bocah biru itu, dengan syarat." Seijiro menghentikan kata-katanya dengan memberi amplop lain. "Bereskan barangmu dan bawa kopermu ke Amerika. Kau akan melanjutkan kuliah disana dan menjalankan cabang baru perusahaan." Didalam amplop terdapat sebuah brosur universitas ternama di Amerika dan tiket pesawat untuk penerbangan minggu depan. "Aku tak memaksamu untuk meninggalkan bocah biru itu. Tapi kupastikan kau tak akan bisa bertemu dengannya jika berani mengecewakanku."

Akashi memandang ayahnya dengan mata mengkilat. "Ah, dan juga.." Seakan teringat sesuatu, Seijiro melanjutkan. "Tentu jangan berharap kau akan mempunyai waktu untuk memikirkan apa lagi menghubungi bocah itu, Seijuurou." Ujar Seijiro penuh kemenangan.

"Jadi Otou-sama sudah merencanakan semua? Lalu untuk apa gunanya tamparan diawal tadi?" Sebenarnya Seijuurou sudah bisa menebak apa jawaban ayahnya.

"Tentu saja." Berjalan kembali menuju kursinya. "Sebagai pembukaan yang dramatis."

Dengan geram, Akashi meninggalkan ruang kerja ayahnya. Bagaimanapun dia harus bertemu Kuroko sekarang. Jika Ayahnya sudah mengetahui keberadaan bocah biru itu, tentu dia dalam bahaya.

..

"Tetsuya!" Aomine sedang membaca majalah Mei-chan terkagetkan oleh kedatangan Akashi yang tiba-tiba. Hampir saja dia jatuh dari kursi karenanya. "Woy, ngapain dating kayak orang kesetanan gitu, Akashi?"

Tak menggubris, Akashi membalas pertanyaan Aomine dengan pertanyaan lain. "Dimana Tetsuya?"

"Oh... Dia baru saja keluar. Kenapa?"

Tanpa menjawab pertanyaan Aomine, Akashi langsung pergi. Memutari asrama hingga menemukan pemuda biru sedang mengobrol dengan seorang pria paruh baya berpakaian serba hitam. Dengan segera Akashi menghampiri Kuroko. Menarik pundak pemuda itu dan menyembunyikannya di belakangnya.

"Akashi-kun..." Terkesiap, Kuroko tak menyangka jika Akashi akan muncul dihadapannya.

"Pergi dari sini dan jangan dekati Tetsuya lagi!" Perintah Akashi pada pria tak dikenal itu.

"Ah.. sakit Akashi-kun." Tanpa jeda mencengkram tangan Kuroko dan membawanya pergi. Sampainya di kamar si merah, Akashi melepaskan cengkramannya. Meninggalkan bekas merah disana.

"Apa yang kalian bicarakan tadi?"

Bingung, Kuroko menjawab, "Kami belum sempat mengobrol sampai Akashi-kun datang. Memang ada apa?" Tanya Kuroko.

Menghela nafas lega, Akashi berkata, "Dengar baik-baik! Jangan sekali-kali kau mau bersama orang asing seperti tadi! Jika orang seperti tadi muncul, jangan kau gubris. Jika bisa, kau lari jauh-jauh dari mereka! Mengerti?" Tegas Akashi tanpa memberi waktu Kuroko untuk menyela.

"Beri aku alasan. Kenapa aku harus melakukan itu?"

Akashi menjelaskan. "Dia orang suruhan ayahku. Baru saja aku menemui beliau, ternyata ayah sudah tahu kita berpacaran."

Kuroko terkejut, "sudah tahu?"

Akashi menganggukan kepala. "Yang jelas ayahku tak senang mengetahuinya, maka dari itu dia akan melakukan berbagai macam cara untuk memisahkan kita. Jadi berhati-hatilah." Tubuh Kuroko gemetaran mendengarnya.

Kuroko takut, sekarang apa yang sebaiknya ia lakukan? Ada yang mengetahui hubungan mereka, berarti cepat atau lambat ibunya juga akan mengetahui ini. Dia harus mengatakan apa pada ibunya? Ibunya tak akan senang. Bagaimana jika ibunya akan mengurungnya seperti dulu? Bagaimana jika-

"Tetsuya!" Mengguncang tubuh si biru untuk mengambil perhatian, Akashi lanjut berkata. "Kau tak perlu khawatir. Ayahku telah membuat perjanjian denganku, jadi dia tak akan berani menyakitimu. Hanya saja.. Aku harus melanjutkan kuliah di Amerika untuk mendapat persetujuan beliau." Mata Kuroko membulat.

"Jadi Akashi-kun tak akan ada disini sampai lulus nanti?"

"Entahlah, aku juga tak tahu. Karena tak hanya berkuliah, aku harus mengurus cabang perusahaan disana. Jadi kemungkinan akan lebih lama."

"Apa itu artinya aku dan Akashi-kun.. harus selesai sampai sini?"

"Apa maksudmu! Tentu saja itu tak benar! Meski terpisah jarak, kita masih bisa menggunakan surat untuk berhubungan."

Pesimis, Kuroko berujar, "tapi sampai kapan Akashi-kun? Kau saja tak tahu berapa lama disana."

Sejenak, Akashi berfikir. Menimang waktu, situasi, dan kemungkinan selama di Amerika nanti. "Kalau begitu aku berjanji 4 tahun! Aku akan kembali 4 tahun lagi! Tunggu aku di Narita 4 tahun kedepan dengan tanggal yang sama dengan keberangkatanku nanti."

Memandang Akashi tak percaya, lalu Kuroko menggukan kepala. "Baiklah, aku mengerti. Memang kapan Akashi-kun berangkat?"

"Minggu depan."

Akashi dan Kuroko sama-sama terdiam. Minggu depan dia harus berpisah dengan si merah untuk waktu lama ya.

Kuroko memeluk kekasihnya. "Jika begitu kita harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama, Akashi-kun." Ujar Kuroko.

Akashi menganggukan kepala membalas pelukan kekasihnya. "Tentu, itulah maksudku."

..

Sejak hari itu Aomine jarang sekali menemukan Kuroko di kamar mereka. Pria dim itu hanya berjumpa dengan Kuroko saat dia ingin mengambil baju atau buku pelajaran. Membuat si dim khawatir, jika ini ada sangkut pautnya dengan kabar Akashi yang akan keluar dari universitas.

"Tetsu, malam ini kau tak tidur di kamar lagi?" Tanya Aomine, yang melihat Kuroko mengemasi beberapa lembar pakaian.

"Iya, aku akan menginap di kamar Akashi-kun."

Aomine menghela nafas. "Kau tau apa yang sudah anak-anak bicarakan dibelakangmu, karena tingkahmu akhir-akhir ini?"

Kuroko mengangkat bahu, acuh.

"Mereka bilang kau wanitanya Akashi." Kuroko menghentikan gerakannya. "Pertemuan kalian yang tidak wajar, juga cincin yang kalian pakai itu membuat semua orang beranggapan seperti itu. Terlebih mereka sudah tahu semenjak bersamamu Akashi membatalkan pertunangannya dengan cucu perdana mentri itu."

"Aomine-kun percaya?"

"Hah?" Pertanyaan Kuroko membuat Aomine bingung.

"Semua orang, yang Aomine-kun bilang itu apa juga termasuk Aomine-kun?"

Aomine menghela nafas. "Aku tidak sebegitu bodohnya untuk tidak menyadari sikapmu ini kita sudah berteman dengan sejak kecil."

Dengan suara bergetar, Kuroko bertanya. "Aomine-kun, jijik denganku?"

Menepuk jidatnya sendiri, Aomine mendekati Kuroko yang masih berdiam diri didepan lemari pakaian. "Apapun pilihanmu, jika kau menyukainya dan yakin tak akan menyesal nantinya, maka aku akan tetap berada dipihakmu, Tetsu." Mengusap rambut biru muda, Aomine melanjutkan. "Meski begitu aku tetap merasa takut jika kau melanjutkannya, apa kau mampu menghadapi konsekuensinya? Kau yang paling tahu seberapa besar kekuatanmu sendiri. Dan aku juga tahu kau tak sekuat itu untuk menghadapi hal tabu seperti ini, Tetsu."

TBC

1. Jari kelingking atau Mercury mewakili segala sesuatu tentang hubungan karena jari ini sangat berkaitan dengan kekuatan kejiwaan seseorang. Jari ini adalah semua tentang asosiasi kita dengan dunia luar yang artinya ini adalah kebalikan dari ibu jari. Mengenakan cincin di jari ini akan membantu seseorang untuk meningkatkan hubungan dengan sesama, baik dalam bersosial, percintaan maupun dalam dunia bisnis.

Hisashiburi...

Maaf sebesar-besarnya untuk Reader tachi akan lamanya saya buat lanjutin cerita ini. Karena kendala kesibukan dan efek bingung mau bikin alurnya harus gimana. Biar nggak terkesan maksa sebagaimana filmnya, tapi nggak terlalu rumit kayak novelnya. Karena nggak yakin bisa namatin cerita yang terlalu banyak chapter. Jadi baru sekarang bisa posting kelanjutan fic ini.

Maaf kalalu banyak perubahan didalam cerita yang mungkin nggak sesuai harapan. Semoga masih ada yang nunggu kelanjutan fic ini.

Akhir kata..

Review please...